Indonesia
NovelToon NovelToon

DIA SUAMIKU BUKAN MILIK MU

Chapter 01

“Sayang, jaga diri baik-baik ya, jangan banyak pikiran, harus makan tepat waktu, tak boleh capek apalagi sampai kurang tidur!” pintanya dengan nada suara begitu lembut, lalu mengecup lama kening sang istri yang tengah mengandung buah hatinya.

“Tia tak suka bila Abang cakap macam itu, seolah akan pergi lama saja, padahal cuma 4 hari telah kembali lagi,” protesnya, tapi tangannya tetap melingkar kuat di pinggang kekasih hatinya, meskipun terhalang perut buncit.

Ikram Rasyid, suami dari Meutia Siddiq, tersenyum hangat, sekali lagi melabuhkan kecupan sayang di pucuk kepala istri tercinta yang tertutup hijab.

“Sebetulnya berat bagi Abang meninggalkan kalian, tapi apa mau dikata – semua ini tuntutan pekerjaan, dan jua ingin menambah wawasan.” Melerai pelukan hangat mereka, menatap penuh cinta yang sama sekali tidak pernah dia tutupi.

Pria berumur 34 tahun itu kemudian menekuk sebelah lututnya, berjongkok menyamakan tinggi badan dengan kedua bidadari kecil yang sangat ia sayangi.

“Intan Rasyid, putri kebanggaan serta permata hati Ayah, boleh tak Ayah meminta sedikit bantuannya, Nak?” Ikram mengelus lembut pipi bulat berona kemerahan putri sulungnya.

“Boleh, tapi jangan banyak-banyak. Soalnya kegiatan Intan sudah padat, mengurus Landak, Monyet, menyusui anak Kambing, apalagi ya ….” Jari kurusnya mengetuk pelipis, berusaha mengingat hewan apa saja yang dia pelihara.

Tak pelak hal tersebut mengundang tawa sang Ayah, begitu gemasnya sampai tubuh mungil gadis kecil berumur jalan 10 tahun didekap erat, dikecupnya bertubi-tubi pucuk kepala putrinya yang sama seperti sang istri, tertutup hijab sempurna.

“Ayah pun tak tega membebani tugas sulit, cuma mau minta tolong – sayangi selalu adik Sabiya, Mamak, dan calon adik yang sekarang sedang tumbuh diperut Mamak. Kalau bisa, jahilnya dikurangi sedikit ya Nak! Biar bertambah anggun anak Ayah ini.” Ditatapnya penuh sayang putri pertamanya, setelah mendapatkan anggukan, dirinya beralih ke putri bungsu yang sudah genap berumur 7 tahun.

“Sabiya Rasyid, putri kesayangan Ayah.” Ikram mengecup dalam kening si bungsu yang sebentar lagi tidak jadi anak terakhir.

“Ayah cepat kembali, jangan lama-lama perginya, nanti Biya rindu,” lirihnya, dengan linangan air mata membasahi pipi.

“Insya Allah,” ucapnya kurang yakin, dalam hati terus berdoa, semoga Tuhan segera mempertemukannya kembali dengan para orang terkasih.

Intan, Sabiya, masing-masing menggenggam tangan sang ibu, sebelah tangan mereka yang kosong melambai mengucapkan salam perpisahan sementara.

Ikram melepaskan pegangan pada koper berukuran kecil, lalu merentangkan tangan seolah hendak memeluk, jaraknya sudah dua meter dari para wanita yang dicintainya dengan segenap jiwa dan raga. “Ayah sayang kalian semua!”

“Kami juga!” teriak Meutia dan kedua anaknya.

Pria yang sudah akan masuk ke dalam Bus besar itu tiba-tiba berbalik menyeret kopernya, kemudian berjongkok di hadapan permata hatinya, merengkuh mereka seraya mengecup perut buncit sang istri yang tengah hamil 5 bulan, mengandung anak ketiga.

Susah payah Meutia berusaha membungkuk, setelah berhasil disematkannya kecupan sayang pada pucuk kepala sang suami yang sedang menciumi putri mereka.

“Abang, tolong lihat Tia!” Pintanya, sambil membingkai wajah Ikram. “Abang janji akan kembali ‘kan? Berkumpul lagi bersama kami?”

Tanpa melepaskan rangkulannya, yang mana Intan serta Sabiya memeluk erat pundaknya. Ikram mencium pucuk hidung mancung Meutia Siddiq, wanita yang sudah dinikahinya selama hampir 11 tahun lamanya. “Iya. Abang janji!”

Kata janji itu bagaikan angin penyejuk di musim kemarau, wanita cantik yang sudah genap berumur 31 tahun tersebut tersenyum lembut, dalam hati menyakini bila sang suami tak mungkin mengingkari.

Kembali mereka saling melambaikan tangan, kali ini tidak ada lagi adegan mengharu biru. Ikram benar-benar masuk ke dalam kendaraan yang akan membawanya ke ibukota provinsi – mengikuti seminar ikatan dokter Indonesia.

Meutia menggandeng kedua tangan putrinya, berjalan keluar dari area terminal di kota kabupaten.

Sang sopir bergegas membuka pintu penumpang, setelahnya memutari badan mobil dan masuk ke jok kemudi. “Langsung pulang, Kak?” tanyanya sopan.

"Singgah dulu di taman, Pakcik. Intan dan Sabiya ingin jalan-jalan dan juga sudah memasuki waktunya makan siang, lebih baik kita cari makan di sana," beritahunya.

Mobil pun melaju ke taman tidak terlalu jauh dari terminal bus pusat.

.

.

Dua jam kemudian, mobil yang dikemudikan oleh sopir, sampai di kota kecamatan, tinggal satu jam lagi akan tiba di kampung mereka, wilayah transmigrasi – kampung Jamur Luobok.

Tiba-tiba ponsel Meutia berdering, tapi si empunya seolah tidak mendengar, netranya terus menatap keluar jendela. Entah mengapa sedari keluar area terminal pusat, jantungnya terus berdegup kencang, serta hatinya pun tak tenang.

“Mamak! Ayamnya teriak-teriak itu!” Intan menepuk lembut lengan sang ibu, menunjuk tas yang mana masih terdengar suara nada dering.

Meutia membuka tas, lalu menekan tombol hijau, meletakkan gawai tepat ditelinganya.

“Tia, sudah sampai mana?” pertanyaan nada khawatir sang Abang mampu mengembalikan fokus seorang Meutia.

Sebelum menjawab, Meutia mengedarkan pandangannya. “Ini telah sampai di masjid raya seberang rumah sakit kota kecamatan. Ada apa Bang?”

“Tunggu saja di area masjid! 10 menit lagi Abang sampai situ. Tolong teleponnya berikan kepada Pakcik!” pinta suara tegas diseberang sana, Agam Siddiq.

Pakcik menerima uluran ponsel, entah apa yang dibicarakan, tapi raut sang sopir terlihat pias.

Mobil pun berbelok memasuki halaman masjid raya.

“Apa yang dikatakan oleh bang Agam, Pakcik?” tanya Meutia, keningnya mengernyit berusaha berpikir keras seraya menerka.

“Cuma disuruh menunggu di sini, Kak. Lebih baik kita ke teras masjid saja, disana lebih teduh,” beritahunya tanpa berani menatap, lalu bergegas membuka pintu.

‘Ada apa sebenarnya? Mengapa debar jantung ini tak jua mereda, seolah tengah menerima kabar duka.’

“Astagfirullah.” Meutia beristighfar, memegang dadanya, menggelengkan kepala guna mengenyahkan pikiran yang tidak-tidak, lalu keluar bersama putrinya dan berjalan ke teras masjid.

Setelah sepuluh menit penantian yang mendebarkan, sebuah mobil hardtop memasuki area masjid, turunlah sosok gagah, berwajah khas Indonesia, dirinya tidak sendirian ada sang istri. Mereka melangkah lebar dengan raut tegang bercampur kalut.

“Ada apa Bang? Mengapa kami dipaksa menunggu di sini?” tanya Meutia, dia yang duduk di pinggir teras sedikit tinggi, langsung berdiri.

Lidah Agam keluh, tak mampu merangkai kata, apalagi menatap perut buncit Meutia, dia hanya mampu menatap sendu, lalu memeluk erat adiknya.

“Abang! Cepat katakan ada apa?!”

Dengan berat hati, Agam menyampaikan kabar duka. “Bus yang ditumpangi oleh Ikram, suamimu. Kecelakaan dan masuk jurang, saat ini_”

“TAK MUNGKIN!!” Meutia melerai pelukan mereka.

"Abang bohong 'kan?!" begitu mendapati gelengan, ia kembali histeris, berusaha melepaskan cekalan tangan saudaranya.

"Lepaskan, Bang! Tia mau menyusul Bang Ikram! Hendak menagih janjinya yang mengatakan akan pulang! Lepas, Bang!"

"Meutia tolong tenang, Dek!" Agam tetap menahan tubuh yang berusaha memberontak.

"Macam mana nak tenang? Dia Suamiku! Bapak dari anak-anakku! Bila dirinya tak ada, lalu bagaimana dengan kami?!"

Tubuh Meutia melemas, dirinya tak sadarkan diri dalam dekapan Agam Siddiq.

"Tia! Bangun Dek!"

“MAMAK!!”

.

.

Bersambung.

Setting tahun 2000. Wilayah transmigrasi.

Chapter 02

Agam Siddiq langsung membopong sang adik, melangkah hati-hati dikarenakan Meutia tengah mengandung.

“Nak, sini Bunda gendong!” Nur Amala mengulurkan tangannya pada Sabiya, sang keponakan.

“Mamak kenapa, Bun?” Sabiya menangis lirih, netranya menatap punggung sang paman yang sedang membopong ibunya.

“Mamak baik-baik saja, Nak. Kita bantu doa ya.” diusapnya lembut punggung Sabiya.

Intan sendiri hanya mampu menangis tanpa suara – jemari kurusnya menggenggam erat ujung hijab panjang tantenya. Langkahnya terseok-seok, pikirannya berkelana dan hatinya menangis. Jelas dirinya paham arti kecelakaan, berarti hal buruk telah terjadi kepada ayahnya.

.

.

“Tolong adik saya, Dokter!” Agam membaringkan tubuh Meutia di atas ranjang pasien, lalu dirinya dipinta keluar oleh seorang perawat, tim dokter begitu sigap menangani, memeriksa dan memberikan pertolongan.

Derap langkah kaki begitu nyaring di lantai ber keramik putih, anggota keluarga Meutia mulai berdatangan, raut mereka pias, kalut.

“Mala!” Wahyuni mendekati sahabat sekaligus iparnya yang sedang memangku Sabiya, dan merangkul Intan. “Tia, baik-baik saja ‘kan?” tanyanya cemas.

“Sedang diperiksa oleh dokter.” Dagunya menunjuk ruangan dimana Meutia berada.

“Intan, mau tak Ibuk pangku, Nak?”

Gadis kecil itu memundurkan tubuhnya, menoleh melihat tante yang dia panggil Ibuk, lalu menggeleng. “Aku mau ke mushola saja, mau meminta kepada Allah, supaya Ayah dilindungi serta diberikan keselamatan.” Cepat-cepat kaki kecilnya yang berbalut sepatu flatshoes menjejak lantai.

Tanpa suara Wahyuni mengikuti dari belakang.

“Biya ikut, Kak!” Sabiya pun turun dari pangkuan bundanya.

Intan langsung menggandeng erat tangan adiknya, bersama mereka menuju ruang wudhu, setelahnya memasuki mushola rumah sakit, mengenakan mukena diperuntukkan bagi anak-anak.

“Ya Rabb, kami tak mengharapkan oleh-oleh dari Ayah, cukup Ayah pulang saja, berkumpul dengan kami. Kasihan Mamak ya Allah, kasihan juga adik kami. Tolong bawa pulang Ayah kami ya Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Bibirnya bergetar hebat, setiap bait yang dia ucapkan diiringi deraian air mata.

Sang adik, Sabiya. Ikut mengaminkan, dirinya belum begitu paham apa yang terjadi, tapi melihat ibunya tak sadarkan diri, tentu jiwanya terguncang.

‘Tia, kau harus kuat Dek! Di sini dua bidadari kecilmu sedang memanjatkan doa, merayu Yang Maha Esa.’ Wahyuni membatin pilu, sedari tadi air matanya terus mengalir.

Amala memeluk kedua keponakannya, tanpa kata mencium pucuk kepala mereka. ‘Ya Rabb, lindungi keluarga kecil ini. Hamba mohon, jangan patahkan hati mereka, tolong berikan mukjizat mu, ya Tuhan.’

.

.

Sementara di ruang tunggu depan UGD.

“Biar saya saja yang menuju ke lokasi, Bang! Mencari tahu dan bila diperkenankan membantu apa yang bisa dibantu.” Dzikri Ramadhan, sahabat rasa saudara menawarkan diri hendak ke wilayah titik lokasi kecelakaan. Diantara mereka, hanya ia yang belum memiliki buah hati, maka dari itu lebih memudahkan langkahnya.

“Baiklah, hati-hati ya Dzi! Kabar apapun itu, tolong beritahu kami!” pinta Agam Siddiq.

Hasan, suaminya Wahyuni – melangkah lebar mendekati abang iparnya, memberikan berita yang mampu memporak-porandakan hati mereka. “Barusan orang kita yang sudah di terminal, mengabarkan bahwa Ikram memang ada dalam Bus kecelakaan itu, Bang.”

“Keluarga pasien!” seorang perawat keluar dari ruang tindakan, memanggil wali Meutia.

"Ya, saya abangnya.” Agam mendekat ke suster.

“Mari ikut saya, Pak! Dokter ingin berbicara dengan keluarga Bu Meutia.” Perawat tersebut membukanya pintu, Agam langsung masuk.

.

.

“Maaf sebelumnya, tapi saya tetap akan menyampaikan kabar kurang baik ini. Ibu Meutia mengalami shock berat, bila berkepanjangan mengakibatkan stres, yang mana hal tersebut akan berdampak pada janin dalam kandungannya.” Dokter tersebut menghela napas berat, menatap iba pada sosok pria berekpresi datar.

“Apa yang harus kami lakukan disaat keadaan kacau seperti ini, Dok?” tanyanya nyaris putus asa.

Sang dokter meletakkan kedua tangannya pada meja, dirinya sendiri mengenal keluarga Siddiq, juga kenal dengan Ikram, rekan sejawatnya di rumah sakit ini.

“Saya pun sama terkejutnya dengan Anda, dan lainnya. Benar-benar sulit untuk dipercaya, tapi semoga saja ada sebuah mukjizat. Dokter Ikram selamat, itu harapan kami semua yang sudah lama menjadi rekan kerjanya,” ujarnya tulus.

“Namun, hal ini jua tak kalah memprihatinkan. Keadaan Bu Meutia yang tengah mengandung, membutuhkan penanganan khusus, bagaimanapun caranya harus bisa menaikkan lagi semangat hidupnya, sebab ada sosok yang sedang tumbuh di rahimnya. Bila tak ada perubahan, ditakutkan pertumbuhan plasenta menjadi terhambat, bayi akan lahir dengan bobot di bawah normal, lebih fatalnya lagi, bisa terlahir cacat.”

Penjelasan dokter tadi seperti godam yang menghantam kepala Agam Siddiq, dirinya langsung menegakkan badan, rautnya pias.

.

.

“Abang pulang Bang! Jangan buat Tia khawatir, nanti dedek bayi pun ikutan sedih. Abang!” Meutia menangis, meratapi sang suami yang sampai sekarang belum ada kabar.

“Tia, Nak … tengok Nyak sebentar, bisa?” Sang ibu terus membelai puncak kepala putrinya, sebelah tangannya menggenggam tangan Meutia yang tidak di infus.

“Nyak …. Bang Ikram tak mungkin sejahat itu ‘kan? Dia pasti kembali ‘kan? Dirinya sudah berjanji akan pulang! Jadi, pasti nya balik, tak mungkin nggak 'kan?”

“Insya Allah, suamimu kembali. Selama ini kan dirinya selalu menepati perkataannya, kali ini pasti jua seperti itu.” Nyak Zainab, berusaha menguatkan putrinya, tetapi dalam hati ia meragu.

“Betul. Bang Ikram tak pernah ingkar. Dia selalu menepati janji, dan memegang teguh prinsipnya itu, menganggap janji adalah hutang yang wajib dibayar dan tepati.” Bibirnya bergetar kala mengulas senyum, lagi dan lagi air matanya mengalir.

Namun, sepertinya kali ini Ikram Rasyid tidak bisa menepati janjinya kepada sang istri dan juga buah hatinya.

Kabar duka itu benar adanya, dan telah disiarkan melalui siaran televisi lokal. Bus antar propinsi mengalami rem blong, saat ditikungan tajam lajunya oleng dan kehilangan kendali lalu terperosok ke dalam jurang.

Evakuasi tengah dilakukan, tim SAR sudah dikerahkan. Medan yang curam, licin, menyulitkan penyelamatan itu. Terlebih di dasar tebing ada sungai dengan arus deras.

.

.

Malam hari.

Keluarga besar Siddik, menemani si bungsu bermalam di rumah sakit kecamatan. Meutia belum diperbolehkan pulang, wajib menjalani rawat inap selama dua sampai tiga hari kedepan.

“Tolong nyalakan televisinya!” Meutia bersikeras ingin menonton berita terbaru, mencari tahu tentang kabar suaminya.

Begitu televisi tabung yang terletak di atas meja bersandar pada dinding tembok di hidupkan, langsung disuguhkan tayangan yang sedari pagi menjelang siang menggemparkan tanah air.

Seorang presenter membawakan berita terkini tentang kecelakaan Bus, lalu membacakan nama-nama penumpang yang menjadi korban, sampai di mana ada nama belahan hati Meutia Siddiq, yakni Ikram Rasyid.

Bersamaan dengan itu, ponsel Agam Siddiq berdering, ternyata Dzikri yang menelepon.

“Tolong loudspeaker!” pinta Meutia lemah, dirinya seperti raga tidak bernyawa.

“Assalamualaikum Bang. Tim BASARNAS, berhasil mengevakuasi korban_"

Semua orang menahan napas kala terdengar tarikan napas panjang Dzikri.

"Dari 57 penumpang termasuk kondektur dan sopir, cuma delapan orang yang selamat. Mereka mengalami luka ringan dan berat – sebelas orang dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian. Lainnya meninggal dunia, dan ... Ikram termasuk dalam daftar nama penumpang tidak ditemukan itu."

Hening, seolah bumi berhenti berputar, perlahan semua pasang mata menatap Meutia yang bergeming, hanya air matanya saja terus mengalir.

"Kau bohong Bang! Abang Pembohong!!"

“Meutia! Jangan!”

.

.

Bersambung.

Chapter 03

“Meutia! Jangan!” Wahyuni yang terkejut langsung berteriak.

Terlambat, Meutia lebih dulu berhasil menarik lepas jarum infus yang menancap di punggung tangan kanan. Darah mulai menetes membasahi baju dan seprei, dia tak peduli. Satu keinginannya – menyusul sang suami yang entah dimana sekarang keberadaannya.

Nur Amala, kakak ipar Meutia – berlari keluar kamar memanggil dokter.

"Kenapa, Nur?” tanya suaminya yang menunggu di depan ruangan bersama Hasan, duduk di bangku besi.

“Tia, Bang. Tia menarik jarum infus!”

Agam Siddiq langsung masuk ke dalam ruangan, sementara sang adik ipar berlari mencari pertolongan. Dikarenakan panik luar biasa, mereka melupakan adanya tombol darurat di kamar rawat inap Meutia.

“Nak, Nyak mohon jangan seperti ini, Tia. Istighfar Nak, istighfar.” Dipeluknya erat tubuh sang putri yang masih berusaha memberontak seraya menangis hebat.

Sekuat tenaga Wahyuni memeluk adiknya dari belakang. "Tia, ingat kau sedang mengandung, Dek! Ada Intan dan juga Sabiya."

“Hiks hiks … macam mana nak sabar? Kasih tahu Tia caranya! Hati ini sakit, remuk redam. Hari telah menggelap – bang Ikram pasti ketakutan seorang diri di dalam hutan maupun tempat asing. Bisa jadi dia sangat-sangat membutuhkan pertolongan. Tia mohon biarkan diri ini menyusul!” Jemarinya memukul pelan punggung sang ibu.

“Mamak!” Sabiya yang terbangun dikarenakan terkejut, berlari lalu berjongkok memeluk kaki ibunya yang menggantung. "Jangan nangis kuat-kuat, Mak. Nanti batuk dan muntah macam Biya."

Intan duduk bersandar pada dinding tembok kamar, memeluk lutut menyembunyikan wajah pada lipatan kaki. Bahunya naik turun, tapi suara tangisnya tak terdengar. Dia menggigit bibir guna meredam isakan. ‘Ayah. Ayah … pulang, Yah!’

Agam membungkuk menggendong sang keponakan. Dielusnya kepala Intan, tangis gadis kecil itupun pecah.

“Ayah besar, ayah Intan tak pulang ke sisi Tuhan, ‘kan? Cuma pergi sebentar lalu nanti kembali lagi ‘kan?” Disembunyikannya wajahnya pada leher sang paman yang dia panggil Ayah besar.

“Kita berdoa ya Nak. Semoga ayah Ikram cepat balek berkumpul lagi dengan kita.” Punggung kurus itu ia tepuk-tepuk pelan.

Sabiya menjerit kala mau digendong oleh Amala. Perasaan gadis kecil yang sedari siang ditahan-tahannya lepas sudah, dia tak lagi bisa berpura-pura baik-baik saja saat ibunya histeris.

“Tak mau! Biya mau dekat Mamak! Kata Ayah, kalau Mamak tengah menangis harus dipeluk biar cepat reda. Biar Sabiya saja yang menangis, Mamak jangan!” Ia masih mempertahankan memeluk kaki ibunya yang terbalut kaos kaki.

Suasana kamar rawat inap pun kian pilu, suara tangisan Meutia dan kedua anaknya mengoyak hati sang ibu. Nyak Zainab tergugu, sebisa mungkin menyalurkan semangat meskipun tidak berarti apa-apa.

Dokter umum masuk dengan seorang perawat, meminta pengertian ibu hamil itu demi kesehatan dirinya dan juga sang janin.

Setelah diberi kata-kata harapan yang sebenarnya cuma hiburan. Meutia menjadi lebih tenang, mempercayai kalau suaminya masih hidup.

Beberapa menit kemudian, suasana tegang sekaligus penuh air mata tadi usai sudah. Sang ibu hamil terlihat terlelap setelah diberi obat penenang dosis aman. Pakaiannya pun sudah diganti. Sesekali suara sedu-sedannya terdengar menyakitkan hati.

“Bagaimana kita memberi pemahaman, Agam?” Nyak Zainab bertanya kepada anak sulungnya.

Agam memberikan kode melalui kedipan mata. Tak mungkin membahas hal sensitif disaat ada Sabiya dan juga Intan yang masih terjaga.

Kedua gadis kecil itu dihibur oleh para tante, yang khusus malam ini meninggalkan buah hati demi memberikan dukungan nyata kepada mereka.

Hasan masuk ke dalam kamar rawat, tangannya menjinjing rantang berisi menu makan malam masakan keluarganya dikampung, dan ada juga barang lainnya.

“Anak-anak bagaimana, Bang?” tanya istrinya.

“Aman. Dhien, Nirma dan juragan Byakta dapat mengatasi mereka. Ditambah Siron yang sudah besar, bisa diandalkan menjaga para sepupunya. Tadi, sewaktu Abang hendak bertolak ke sini – si kembar dan lainnya menitipkan ini!” Tas besar yang muat untuk barang 20 kilogram pun diletakkan pada lantai.

Intan dan Sabiya sama sekali tak berminat ingin melihat apa isinya. Biasanya mereka paling antusias bila para sepupu memberikan sesuatu.

Amala yang menggantikan keantusiasan para keponakannya. “Apa itu ya? Bunda tak sabarlah ingin mengetahuinya.”

Hasan membuka resleting, mengeluarkan isinya. “Astaga!”

Wahyuni terkikik, Amala terkekeh, dan Nyak Zainab mengulum senyum.

Seekor Landak babi diletakkan pada akuarium plastik berhasil mengejutkan Hasan. Ada Cicak dimasukkan toples yang sisinya dilubangi, tak ketinggalan mainan lebih manusiawi – boneka, gambar bongkar pasang milik Sabiya.

“Ada suratnya.” Amala membuka lipatan kertas dari koyakan lembaran buku tulis. “Oh untuk Intan, mau Bunda bacakan tak, Nak?”

Intan mengangguk pelan, sorot matanya tanpa binar cerah yang biasa selalu menghiasi netra indah. Sebelumnya dia langsung kesal bahkan mengamuk kalau ada yang berani mengganggu hewan peliharaannya.

“Hei kribo! Cepat pulang! Aku tak lagi sanggup mengurus para saudaramu ini, nanti tak lepas juga anak Monyet, dan bayi Kambing mau ku kurbankan untuk lebaran haji … dari Kamal Nugraha!”

Nur Amala memandang lekat wajah keponakannya, sedikitpun tak ada respon selain tatapan hampa. 'Nak, semoga semua ini cepat berlalu. Hati Bunda sakit melihat ekspresi tidak sesuai dengan umur mu itu!'

“Ada lagi dari Zain dan Zeeshan,” ia menyebutkan nama putra kembarnya. “Bunda bacakan ya, Nak?”

Lagi-lagi Intan mengangguk, enggan menatap fokus. Ia memandang ranjang dimana ibunya tengah terlelap.

“Adek cantek kesayangan abang kembar yang ganteng … tak perlu risau, mainan mu aman. Lanira, Hazeera, dan Nia … telah kami larang mengacak-acak nya! Cepat pulang ya Sabiya, kalau Intan biarkan saja dia! Daripada kami disuruh-suruh terus memandikan induk Kambing.”

Sabiya tersenyum tipis, tapi saat memandang wajah sembab ibunya – air matanya langsung terjatuh. Dia yang dipangku oleh tante Wahyuni, beranjak mendekati kakak kandungnya. “Biya mau dipeluk kak Intan, boleh?”

Intan berselonjor kaki meminta adiknya duduk dipangkuannya. “Sini!”

Sabiya duduk membelakangi sang kakak, memeluk erat punggung Intan. “Ayah pasti pulang kan ‘kak? Katanya cuma pergi empat hari, ini baru satu hari … kan masih ada tiga hari lagi. Lantas, mengapa Mamak nangis terus? Apa Ayah ingkar janji? Ayah baik-baik saja 'kan, Kak?”

.

.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!