"Saudara Rezky Raditya bin Ahmad Bashir, saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan putri saya yang bernama Raisha Anindya Hartanto binti Muhammad Hartanto dengan mas kawin berupa perhiasan mas 100 gram, dibayar tunai." Suara Pak Hartanto terdengar lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Raisha Anindya Hartanto binti Muhammad Hartanto dengan maskawin tersebut, dibayar tunai." Rezky Raditya menjawab tak kalah lantang.
"Sah, para saksi?" Pak Hamid sebagai penghulu bertanya kepada saksi.
"Sah, sah." Jawab saksi serentak.
Raisha menatap layar ponselnya yang mengabadikan pernikahannya 2 tahun yang lalu. Dia menyeka air matanya. Saat itu, dia sangat bahagia karena dipinang oleh lelaki pujaan hatinya, yang sebenarnya teman masa SMAnya. Namun sejak kuliah, mereka lost contact, bertemu kembali saat reuni akbar yang diadakan sekolahnya.
"Icha, malah bengong di situ, cepat angkat jemuran, hujan akan segera turun!' Bu Aina_mertuanya berkata sambil menatap tak suka pada Raisha.
"Iya Bu." Raisha menjawab sambil berdiri, dia masukan gawainya ke saku."
"Setelah angkat jemurannya, langsung setrika. Jangan ditumpuk."
"Iya Bu." Raisha menjawab dengan malas.
Semenjak ayah mertuanya meninggal setahun yang lalu, Raisha dan suaminya tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Sejak itu, kehidupan pernikahan yang awalnya terasa manis bagi Raisha, kini terasa sangat menyiksa. Bu Aina terkenal dengan mulutnya yang pedas, semua hal yang dilakukan Raisha dikomentarinya.
"Pakeeeeeettt."
"Cha, jangan ngabisin uang suamimu terus lah, tiap hari ada aja paket yang datang. Seorang istri itu harus bisa menyimpan uang suami, jangan malah menghambur-hamburkannya. Lihat nih ibu, waktu muda itu hemat, makanya bisa punya rumah sebagus ini. Ini tiap hari, ada aja paket yang datang."
"Itu endorse Bu, jadi gratis."
"Alaaaah, alasan aja. Mana ada toko yang tiap hari kirim paket gratis."
"Kan itu beda-beda yang ngasihnya, Bu. Bukan dari 1 toko aja." Raisha masih menjawab.
"Sudah, gak usah menjelaskan segala macam, ambil tuh paketnya."
Raisha keluar rumah menemui kurir yang sudah agak lama berdiri.
"Dengan Mbak Raisha ya?" Kurir bertanya ramah.
"Iya betul Pak."
"Ini lumayan banyak paketnya, Mbak."
"O iya, lagi banyak yang endorse, Pak."
"Wah, mbaknya selebgram ya? Pantesan kayak familiar wajahnya. Akunnya apa Mbak? Nanti saya follow."
"Duh terimakasih ya." Raisha tersenyum sambil menyebutkan akun media sosialnya.
"Ichaaaaa, malah ngobrol sama laki-laki yang bukan muhrim, ingat kamu itu sudah bersuami, jaga harga dan martabat suamimu. Jangan berramah tamah kayak gitu."
"Lah Bu, Icha kan tidak ngapa-ngapain. Cuma menjawab pertanyaan kurir itu tidak akan menjatuhkan martabat suami."
"Jawab aja." Bu Aina mendelik tak suka.
"Kamu, juga sebagai kurir tidak usah ngajak ngobrol kayak gitu, bekerjalah yang baik." Bu Aina berpaling pada kurir yang baru saja menyerahkan paket kepada Raisha.
"Ya Bu, mbaknya kan selebgram, jadi wajar kalau saya beramah tamah. Siapa tahu diajak ngonten, ya kan Mbak?" Kurir melirik Raisha sambil tertawa kecil. Raisha tak menanggapinya, dia hanya tersenyum simpul.
"Sudah sana, gak usah jawab." Bu Aina murka saat kurir itu menjawab.
"Makasih ya Mbak." Kurir tersebut menatap Raisha yang masih mematung.
"Iya sama-sama, Pak." Raisha menjawab ramah.
Raisha masuk rumah, hatinya masih kesal. Ini bukan kali pertama dia diteriaki di depan orang, bahkan pernah di depan teman suaminya yang saat itu main ke rumah mertuanya. Berkali-kali dia mengadu pada suaminya, namun jawaban yang di dapatnya hanya ucapan "sabarlah Cha, ibu emang gitu."
Tapi sampai kapan dia harus bersabar? Semua yang dilakukannya selalu salah di mata ibu mertuanya.
"Cha, kamu jangan bohong lah, masa paket sebanyak itu, kamu bilang dikasih orang?"
"Iya Bu, ini dari beberapa toko."
"Kok ibu gak percaya ya, sepertinya itu hanya alasan kamu aja."
"Ya gak apa-apa kalau ibu gak percaya." Raisha menjawab sambil melangkahkan kaki ke kamarnya.
"Jangan dulu ke kamar, gak sopan kamu diajak bicara malah mau ngeloyor pergi. Buka paketnya, pengen tahu ibu apa isinya!"
"Tapi Bu."
"Jangan tapi-tapi, cepat buka!"
Raisha membuka paketnya dengan malas.
"Wah, itu mukena yang lagi hits ya? Siniin buat ibu."
"Gak bisa Bu, Icha kan harus pakai foto dulu. Lagian Icha udah janji sama mama, untuk memberikan mukena ini padanya."
"Eeehh, kamu ini ya, kamu tinggal di rumah siapa? Kok mendahulukan mama kamu? Saya dong yang setiap hari ngasih makan kamu dan membuat hidup kamu nyaman, karena tinggal di rumah ini."
"Rumah kontrakan Icha dan Mas Rezky juga nyaman Bu. Malah lebih nyaman dibandingkan di sini." Raisha sudah hilang kesabarannya.
"Rumah kontrakan kan harus bayar mahal. Ini gratis tis tis." Mulut Bu Aina terlihat manyun.
"Gratis sih iya, tapi tetep kan semua keperluan di rumah ini Mas Rezky yang bayar?"
"Alaaaah bayar segitu aja perhitungan, lagian Rezky itu anakku, anak yang paling kusayangi. Sudah jangan banyak ngomong, siniin mukenanya"
"Ya gak bisa sekarang lah Bu, kan Icha belum foto pakai mukena itu."
"Pakai aja mukena lain, tuh banyak di lemari."
"Ya gak bisa gitu lah Bu, kan Icha diendorsenya dengan mukena ini."
"Mana aku peduli." Bu Aina menjawab sambil merampas mukena yang masih dipegang Raisha."
"Bu, pliiissss, jangan gitu. Setelah difoto nanti Icha kasihkan."
"Gak mau, nanti teman-teman ibu tahu kalau mukenanya hasil endorse."
"Tapi kan emang iya, Bu."
"Aku gak peduli." Bu Aina melenggang masuk kamar dengan santai.
Sementara itu Raisha menahan amarahnya dengan sangat, dia membereskan beberapa paketnya yang belum sempat dibuka.
"Ya Allah, bukankah posisi ibu mertua itu sama dengan ibu kandung yang harus aku hormati? Tapi kalau ibu mertua seperti ini, bagaimana aku dapat menghormatinya?. Sabar Icha, ini ujian rumah tangga yang harus kamu hadapi." Raisha berkata dalam hati sambil mengelus-elus dadanya.
Dia melangkahkan kakinya gontai menuju kamarnya. Dia berpikir bagaimana caranya meminjam mukena tersebut untuk dipakai foto, karena jadwal upload fotonya besok, tidak akan sempat kalau harus membeli dulu.
"Jangan lama-lama di kamar, itu jemuran yang baru diangkat kan belum disetrika." Terdengar Bu Aina berteriak sambil menggedor pintu.
"Bu, bisa gak jangan sambil teriak ngomongnya, Icha juga denger kok."
"Kamu kan kalau gak diteriaki mana sat set."
"Kalau gak sat set, biasanya karena Icha lagi edit video Bu."
"Edat edit edat edit, kalau menghasilkan uang mending, ini masih ngerepotin suami kamu aja."
"Ya namanya juga suami Bu, kan kewajibannya memang menafkahi.,"
"Sudah, jawab aja, bikin kesel. Ni, mukenanya cuci dan setrika dulu, besok mau dipakai shalat berjamaah di mesjid." Bu Aina melemparkan mukena ke arah Raisha. Raisha menangkapnya dengan sigap.
"Alhamdulillah, bisa ni dipakai dulu foto." Bisiknya sambil tersenyum simpul.
"Ibu mau ngafe dulu sama teman-teman, pas pulang nanti semua harus sudah beres, termasuk untuk makan malam." Bu Aina berkata sambil mengenakan high heels-nya.
Adzan Ashar baru saja berkumandang, Raisha cepat-cepat membereskan semua pakaian yang baru saja disetrika. Badannya terasa lelah, sejak Bi Murni pulang kampung seminggu yang lalu, semua pekerjaan rumah jadi dia yang kerjakan.
"Semoga bener Bi Murni besok kembali. Biar aku gak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah yang bikin melelahkan ini." batin Raisha.
Ting ting, tetiba gawainya berbunyi, pertanda ada panggilan masuk. Raisha mengambil gawainya, ternyata dari suaminya.
"Assalamu'alaikum" Raisha mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam." Terdengar jawaban dari seberang.
"Sayang, aku mau pulang ni, kamu mau dibelikan apa?"
"Gak usah, Mas, Icha lagi gak pengen apa-apa. Yang Icha pengenin sekarang hanya istirahat."
"Dari suaramu, kayaknya kamu capek ya?"
"Iya capek lahir batin, Mas. Bayangin aja, semua pekerjaan rumah Icha yang kerjain, mulai beres-beres, nyiram tanaman, nyuci piring, nyuci baju, jemur dan angkat pakaian, nyetrika, masak, dan masih banyak lagi. Mending kalau gak diomelin. Ini, udah ngerjain semuanya, eehhh malah diomelin pula."
"Yang sabar ya Sayang, besok juga Bi Murni kembali, kok."
"Tetep aja Mas, meskipun Bi Murni kembali, Icha harus ngerjain ini itu. Alasan ibu karena Bi Murni ART ibu bukan ART kita. Padahal kan Icha bilang, Icha mau bawa ART sendiri, tapi gak dibolehin, dengan alasan menghambur-hamburkan uang."
"Ya namanya juga orang tua, Cha, biasa selalu nyuruh kita hemat."
"Iya ibu takutnya menghabiskan uangmu, padahal dari uang Icha aja deh, gak akan ganggu uang kamu kok."
"Sudah ya Cha, nanti kita bahas di rumah. Assalamu'alaikum." Rezky menutup percakapan.
"Menyebalkan." Raisha melempar gawainya ke atas sofa.
"Siapa yang menyebalkan?" Tetiba Bu Aina masuk rumah.
"Eh ibu, kapan pulang?" Raisha balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan mertuanya.
"Ibu bertanya, siapa yang menyebalkan?" Suara Bu Aina meninggi.
"Keadaan yang menyebalkan Bu. Gegara Bu Murni pulang kampung, Icha harus mengerjakan semua pekerjaan rumah." Akhirnya Raisha menjawab.
"Kamu gak ikhlas mengerjakan semuanya?"
"Bukan gak ikhlas Bu, cuma kerjaan Icha jadi terbengkalai. Harusnya Icha upload foto beberapa produk hari ini, tapi jadi molor karena kerjaan gak beres-beres."
"Bukan kerja kantoran aja belagu." Bu Aina meninggalkan Raisha yang masih mematung.
"Sabar Cha, itu ibumu juga." Raisha mengusap dadanya, air matanya berlinang.
*****
Raisha masih duduk di atas sajadah ketika suaminya masuk kamar. Air matanya mengalir deras. Dia sudah merasa di titik nadir. Semua pengorbanan dia, tak ada arti di mata mertuanya.
"Cha, gimana kabarmu?" Rezky mendekati Raisha.
"Buruk." Raisha menjawab malas, tangannya terulur, dia mencium tangan Rezky, takzim.
"Sabar ya, Cha." Rezky mengusap kepala Raisha.
"Sampai kapan, Mas? Di mata ibu Icha selalu salah. Apa salah Icha? Semua yang ibu mau, Icha kabulkan, tapi balasannya apa? Gak pernah ibu mengucapkan terimakasih, minimal tidak teriaki Icha lah. Kadang Icha malu Mas, diteriaki di depan orang. Icha seperti gak ada harga dirinya. " Raisha mulai terisak.
"Cha, sabar ya, orang sabar disayang Tuhan."
"Kurang sabar gimana lagi Icha, Mas? Coba Mas bilang lah ke ibu, jangan perlakukan Icha seperti itu. Ini kan Mas gak pernah belain Icha, bisanya hanya bilang sabar, sabar, dan sabar. "
"Ya memang hanya itu yang bisa kita lakukan Cha, sabar."
"Besok Icha pulang ke rumah mama, karena banyak kerjaan yang belum diselesaikan gegara Icha harus ngerjain kerjaan Bi Murni."
"Jangan Cha, nanti ibu tambah murka."
"Icha pulang ke rumah mama dan nggak juga pasti ibu murka. Gak ada bedanya. Udahlah Mas, Icha lelah. Lelah lahir batin. Sejak kecil Icha disayang sama orang tua. Diperlakukan dengan baik, gak pernah dibentak apalagi diteriaki, tapi di sini? Icha dianggap apa? Bi Murni aja gak pernah diteriaki seperti ini, tapi Icha? Apa salah Icha? Apa karena Icha berasal dari keluarga sederhana? Bukan dari golongan yang sepadan dengan Mas?"
"Udah Cha, udah. Nanti Mas bilang deh sama ibu." Rezky memeluk Raisha. Raisha membenamkan wajahnya di dada bidang Rezky.
*****
"Makan malamnya ini beli ya?"
"Iya Bu."
"Siapa yang suruh beli? Menghambur-hamburkan uang saja."
"Soalnya Icha gak sempat untuk masak Bu, dari pagi Icha belum istirahat. Jadi ya beli pilihan praktis."
"Praktis sih, tapi itu menghambur-hamburkan uang suamimu."
"Icha gak pakai uang Mas Rezky, Bu. Icha juga punya penghasilan."
"Alah, penghasilan gak seberapa juga belagu."
"Sudahlah Bu, kita makan aja ya, dah laper ni. Apalagi ini makanan kesukaan kita, masakan Padang." Rezky menghentikan omelan ibunya.
"Ky, ajarin tuh istrimu, dari kemarin membantah aja omongan ibu. Kasih tahu posisi ibu mertua itu sama dengan posisi ibu kandung. Dosa melawan ibu mertua sama dengan dosa melawan sama ibu sendiri." Bu Aina berkata sambil menyendok nasi yang ada di hadapannya.
"Kalau gitu Ibu juga jangan terlalu keras lah sama Icha. Berarti kan posisi Icha juga kan sama dengan anak kandung ibu. Sama dengan Mba Lintang, sama dengan aku, juga sama dengan Rizal. Ya kan Bu?" Rezky berkata sambil menatap ibunya, terlihat Raisha tersenyum kecil mendengar perkataan suaminya."
"Sudah, kamu gak usah ngajarin ibu. Kamu juga sebagai suami jangan kalah lah sama istri, jangan takut. Kalau dia ngadu apa-apa gak usah didengerin. Kamu ngomong gitu karena istrimu ngadu kan?"
"Gak ngadu Bu, hanya cerita aja kalau dia lagi lelah. Kerjaan banyak yang gak beres."
"Kerjaan apa sih kayak punya bos aja, cuma upload foto-foto gitu aja, tapi kayak kerja di perusahaan multi internasional aja."
Raisha hanya diam mendengar ocehan ibu mertuanya. Dia mengambil potongan kikil buat suaminya.
"Ibu tadi dari mana? Kok pulangnya hampir berbarengan dengan aku?" Rezky mengalihkan pembicaraan.
"Biasa, nongkrong di cafe sama bestie-bestie. O ya, tadi Bu Anjar bawa cucunya, lucu dan cantik. Kalian kapan mau ngasih aku cucu? Dah dua tahun lho, kok istrimu belum kelihatan hamil?"
"Ya belum dikasih aja, Bu. Nanti kalau sudah waktunya, pasti Allah kasih."
"Soalnya dari keluarga kita itu terkenal subur, gak ada tuh yang mandul. Beda dengan keluarga Icha, tantenya kan sampai sekarang belum punya anak, padahal sudah paruh baya."
"Kalau masalah itu, ibu tanya langsung ke Allah, kenapa dia belum ngasih kepercayaan kepada kita?"
"Lancang banget kamu ngomong kayak gitu sama ibu?" Bu Aina langsung naik pitam.
"Abis ibu nanya gitu terus, Icha jadi bingung jawabnya."
Brak Bu Aina memukul meja dengan keras, dia melemparkan sendok yang dipegangnya. Dia bangkit dari duduknya dan langsung masuk ke kamar. Raisha tertegun, dia gak menyangka ibu mertuanya akan semarah itu.
"Kamu sih, kok gak bisa jaga omongan? Harusnya bisa jawab dengan baik, bukan seperti itu."
"Jadi menurut Mas, aku yang salah? Aku kan cuma jawab pertanyaan ibu."
"Iya, tapi gak usah jawab seperti itu juga kali."
"Kalau saja Mas mau periksa ke rumah sakit, ibu tak akan mendesak terus agar kita segera punya anak. Ini semua gegara Mas."
"Kok jadi aku?"
"Ya iya lah, Icha kan sudah bilang, ambil cuti, biar kita bisa periksa ke rumah sakit, kenapa Mas nolak terus?"
"Kamu aja yang periksa, gak usah bawa-bawa aku. Seperti kata ibu, aku gak punya turunan mandul."
"Jadi Mas menuduh Icha yang mandul?"
"Pikirkan sendiri!" Rezky bangkit dari kursi, dan dia meninggalkan Raisha yang bingung.
Raisha menghela nafas dalam-dalam, hatinya hancur, perkataan Rezky sangat menusuk hatinya. Perlahan air matanya keluar, dia menangis tak bersuara di ruang makan yang cukup besar.
Di sebuah rumah sederhana kawasan Kota Kembang, Bu Ratna terlihat sedang membuat beberapa kue basah. Waktu masih menunjukkan pukul 05.05, tapi beberapa kue buatannya sudah rapi dipacking suami dan anak keduanya_Rico. Kebetulan hari itu sedang banyak pesanan. Beberapa pesanan dari teman kantor suaminya, beberapa lagi dari follower Raisha_putri sulung kesayangannya.
"Mama kok ingat Kak Icha terus ya Ric? Sakitkah dia? Soalnya sudah 3 hari Kak Icha gak nelpon, tumben. Biasanya kan setiap hari pasti nelpon."
"Nggak kok, kemarin masih aktif di media sosial, mempromosikan produk."
"Alhamdulillah, walaupun sudah nikah, endorse kakakmu masih laku ya Ric?"
"Iya Alhamdulillah, Ma. Malah makin rajin upload kok"
"Rezeki anak Sholeh."
"Sholehah, Ma, kan Kak Icha cewek."
"Iya, itu maksud mama." Bu Ratna tersenyum kecil.
"Sejak kecil kakakmu itu berprestasi, padahal hidup segini adanya, sederhana. Tapi itu tidak membuat dia minder, makanya ketika terjun ngonten, langsung banyak yang suka."
"Iya Ma Alhamdulillah, Kak Icha emang baik hati dan tidak sombong."
"Juga rajin menabung."
"Ih kayak lagu aja, Ma."
"He he, iya emang lagu itu. O ya, semoga aja cita-cita Kak Icha beli rumah yang lebih layak, biar bisa dipakai usaha juga segera tercapai ya Ric. Tabungannya tinggal dikit lagi kok."
"Aamiin."
"Sudah siap semuanya, Ma?" Pak Hartanto yang baru aja pulang dari mesjid bertanya, sambil menghitung box yang ada di dekat Rico.
"Alhamdulillah sudah, Pa."
"Alhamdulillah, akhir-akhir ini banyak sekali orderan ya Ma, hampir tiap hari ada aja."
"Iya Alhamdulillah, Pa."
"Ini berkat kakakmu_Icha yang selalu mempromosikan jualan kita di media sosialnya." Pak Hartanto menatap Rico.
"Iya Pa, Kak Icha itu selalu humble, gak pernah gengsi walaupun kita hidup sederhana."
"Padahal uangnya sudah banyak ya Ma?"
"Alhamdulillah."
"O ya Minggu depan di kantor mau ada acara milad putrinya Pak Denis, moga pesen kuenya dari kita Ma, soalnya Linda sekretarisnya sudah nanya-nanya kemarin. Papa sudah kasih brosurnya juga."
"Ya moga aja Pa, rezeki keluarga kita."
"Iya, rezeki gak akan ke mana."
*****
"Icha jadi pulang hari ini, Mas." Raisha berkata tegas pada suaminya.
"Lah, kan Mas belum mengizinkan."
"Iya, makanya ini Icha minta izin."
"Kalau Mas gak mengizinkan?"
"Masa Mas tega gak mengizinkan Icha silaturahim sama orang tua?"
"Masalahnya Mas lagi banyak kerjaan di kantor, gak bisa ambil cuti."
"Gak apa-apa, nanti Icha naik angkutan online aja, asal Mas izinin."
"Ya sudah kalau gitu."
*****
"Kenapa sarapannya nasi goreng? Harusnya kamu tanya dulu ibu, mau sarapan apa? Jangan inisiatif sendiri." Bu Aina berkata sambil duduk di atas kursi makan. Tangannya langsung meraih gelas berisi jus mangga kesukaannya.
"Iya maaf, soalnya sayang nasi semalam masih banyak. O ya Bu, hari ini Icha mau pulang ke rumah mama dulu. Sudah lama gak pulang, jadi kangen."
"Terus kerjaan rumah siapa yang ngerjain?"
"Kan Bi Marni pulang hari ini Bu. Sekarang juga sudah di perjalanan kok."
"Ya terserah kamu aja lah. Dilarang juga pasti maksa." Bu Aina berkata sambil menyuapkan nasi goreng bikinan menantunya.
"Terimakasih Bu." Raisha berkata sambil menikmati sarapannya. Dia tak mau banyak kata, takut hatinya teriris lagi dengan perkataan tajam ibu mertuanya.
"Nasi gorengnya enak ya Bu?" Rezky menatap ibunya.
"Biasa aja, lebih enak bikinan Mbakmu_Lintang."
"Ah yang bener Bu?" Rezky terkikik.
"Kenapa ketawa?"
"Ya ibu ada-ada aja, masakan istriku disamakan dengan Mbak Lintang? Mana bisa Mbak Lintang masak?" Rezky tertawa ngakak.
"Sudah, lagi makan malah ketawa-ketawa gitu." Bu Aina melotot ke arah Rezky.
Selesai makan, Raisha langsung membereskan meja makan dan mencuci piringnya. Setelah itu langsung ke kamar, mau membereskan semua barang yang akan dibawanya. Sambil duduk di tempat tidur, dia mengambil gawainya, menghubungi adik laki-lakinya.
"Assalamualaikum Ric."
"Wa'alaikum salam Kak Icha. Tumben nelpon pagi-pagi gini?"
"Iya, bilangin mama, Kak Icha pulang hari ini."
"Wah seriusan Kak? Baru aja mama ngomongin Kakak, katanya mama ingat Kak Icha terus."
"Oh gitu, kakak juga udah kangen kalian. Pengen makan masakan mama juga."
"Mau dimasakin apa Kak, ayam geprek ya? Sama terong balado kesukaan Mas Rezky?"
"Kak Icha pulang sendiri Ric, Mas Rezky lagi banyak kerjaan."
"O gitu. Apa perlu Rico jemput?"
"Kamu emang lagi gak kuliah Ric?"
"Kebetulan aja hari ini kosong, Kak"
"Boleh deh kalau gitu, gak repot kan kamu?"
"Nggak lah, apa sih yang nggak buat Kak Icha?"
"Naga-naganya ada yang mau diminta ni."
"Nggak kok Kak, sudah cukup semua pemberian kakak bulan lalu. Ok kalau gitu Rico siap-siap ya?"
"Ok." Raisha meletakkan gawainya di nakas.
"Jadinya Rico yang jemput?" Rezky melirik istrinya.
"Iya." Raisha menjawab singkat.
"Kamu masih marah soal semalam, Cha?"
"Nggak, biasa aja."
"Maafin aku ya, aku khilaf. Seharusnya aku gak ngomong sekasar itu sama kamu." Rezky memeluk Raisha.
"Iya gak apa-apa.."
"Gak apa-apa tapi masih murung dan cemberut gitu?"
"Terus Icha harus jingkrak-jingkrak gitu?"
"Ya nggak, senyum aja cukup. Karena senyummu mengalihkan duniaku."
"Ngegombal."
"Tapi kamu suka kan, kalau aku gombalin?"
****
"Ma, Pa, Kak Icha mau pulang hari ini. Nanti mau Rico yang jemput."
"Kok kamu yang jemput?"
"Iya, soalnya Kak Icha pulang sendiri, Mas Rezky lagi banyak kerjaan katanya."
"Ya udah, kamu siap-siap gih, jangan sampai telat, khawatir di jalannya macet. Setelah nganter papa ke kantor, langsung aja jemput, gak usah balik lagi ke rumah."
"Iya Ma, emang Rico juga niatnya gitu."
"Tapi papa heran, kok Kak Icha pulang sendiri? Sebelumnya kan gak pernah pulang sendiri, selalu sama Rezky. Moga gak ada apa-apa ya?"
"Ah papa, jangan berpikir yang nggak-nggak ah. Mama pikir memang Kak Icha sudah kangen sama kita. Pas dia mau pulang Rezky yang gak bisa."
"O ya, nanti sore setelah pulang kantor, sekalian aja kita ajak Icha melihat-lihat rumah yang akan dijual."
"Rumah yang dekat kantor papa itu?"
"Iya yang itu."
"Nanti aja, kita jemput papa ke kantor, sekalian lihat rumahnya. Hari ini kan papa gak pakai motor. Bagaimana kalau gitu?"
"Nah itu lebih baik."
"Ayo cepat Ric, keburu macet. Lagian itu kue -kue basah yang diorder sama teman-teman papa, kan dimakan pas sarapan. Kalau kita siang, keburu masuk kantor, mereka gak sempat sarapan lagi."
"Oke ayo aja Pa, Rico dah siap kok, tinggal ganti kaos aja. Mandi kan udah tadi. Restyyyy, buruan dandannya, kita dah mau berangkat ni." Rico berteriak memanggil adik bungsunya.
"Iya Kaaaa, aku sudah siap kok."
*****
"Jeng, jadi kita kumpul-kumpul di Cafe Rembulan siang ini?" Bu Aina menelepon temannya.
"Jadi, emang kenapa Jeng?"
"Nggak, nanya aja, khawatir gak jadi. Soalnya itu, mantu sialanku mau pulang pagi ini ke rumahnya. Mana Bi Murni baru nyampe rumah sore ini. Jadi kan aku harus beres-beres rumah dulu."
"Sebelum pulang suruh aja beresin rumah dulu Jeng, manfaatkan menantumu itu."
"O iya ya Jeng. Mumpung masih jadi menantu. Moga bentar lagi kalau anakmu yang di luar negeri pulang, kita kenalin sama Rezky, mudah-mudahan Rezky tertarik dan mau menceraikan isterinya yang kampungan itu."
"Maksud ibu apa?" tetiba Rezky sudah berada di belakang ibunya.
"Eh kamu Rez, sejak kapan kamu di situ?" Bu Aina gelagapan.
"Jeng Wati, sudah dulu ya, sampai ketemu nanti di Cafe Rembulan." Bu Aina menutup percakapannya.
"Bu, maksud ibu apa dengan perkataan tadi?" Rezky mendesak.
"Gak usah dijelaskan kalau kamu sudah mendengarnya."
"Aku mencintai Icha, Bu."
"Kamu bisa berkata begitu, karena belum melihat anaknya Jeng Wati. Sudah, gak usah dibahas dulu, tunggu aja tanggal mainnya." Bu Ratna memotong ucapan Rezky, dia langsung meninggalkan Rezky yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!