Sinar mentari mulai muncul dari persembunyiannya. Seorang gadis cantik terbangun, Ia menggeliat meregangkan ototnya.
"Ya ampun.." Gadis itupun mulai duduk dan bersandar di sandaran ranjang seraya mengatur nyawanya yang belum terkumpul. Matanya juga masih terasa begitu lengket untuk terbuka.
"Ini udah jam berapa sih?" Gadis itu meraih benda pipihnya yang terletak di atas meja. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi lebih beberapa menit.
Gadis itu mulai beranjak, Meraih ikat rambutnya dan mencepol asal surai lurus tersebut.
Gadis itu keluar dari kamarnya yang begitu sederhana. Pergi ke belakang karena memang kamar mandi nya berada di sana.
Waktu masih panjang, Cukup cuci muka saja sudah cukup. Di lanjutkan dengan memasak menu pagi ini.
Gadis itu adalah Davina Anggraini Abraham. Putri bungsu dari seorang konglomerat kaya raya Sanjaya Nalendra Abraham dengan seorang desainer ternama Ayra Zalwa Aryani.
Sejak usianya masih dini yaitu sepuluh tahun. Davina dan Kakak kembarannya yang bernama Davin Anggara Sanjaya punya bakat dari sang Daddy yaitu menjadi seorang model.
Mereka berdua masih aktif hingga sekarang sebenarnya. Namun sejak masuk sekolah menengah atas. Davin dan Davina memilih untuk vakum terlebih dulu dari dunia modelling. Alasannya sangat sederhana, Karena mereka masih ingin fokus dengan pelajaran mereka.
Hidup di lingkungan yang penuh dengan kemewahan sejak lahir. Atau bisa di sebut kaya sejak masih menjadi zigot. Davina merasa jengah dengan kehidupan yang penuh dengan kemewahan itu.
Selain di jaga yang begitu ketat, Davina sering kali di manfaatkan oleh para teman-temannya. Mungkin karena dia kaya dan bisa memberikan segalanya.
Maka dari itu, Davina ingin merasakan hidup yang sederhana. Dia keluar dari rumah dengan tinggal di sebuah kost-an. Dia juga ingin melihat mana orang yang benar-benar tulus padanya.
Dalam kehidupannya yang sekarang Davina pergi kuliah dengan menaiki motor, Pakaian yang sederhana. Tak ada Bodyguard, Tak ada larangan ini dan itu. Dia nyaman hidup seperti ini..
Meski awalnya Daddy dan Mommy nya melarang. Tapi siapa yang bisa menolak permintaan seorang anak bungsu. Davina baru di izinkan asal dengsn syarat di larang bekerja. Uang tetap mengalir sehingga Davina tak perlu khawatir tentang kekurangan uang.
Penampilan Davina sungguh sangat sederhana sekali. Tak ada yang tahu kalau gadis yang penuh dengan kesederhanaan ini adalah seorang putri orang yang namanya begitu tersohor di negeri ini.
Seorang mantan artis dan model terkenal pada masanya. Selain itu, Seorang Nalendra adalah pewaris tetap dengan harta kekayaan yang tidak akan habis hingga beberapa turunan.
Tak hanya di situ saja, Tuan Nalendra juga membeli sebuah universitas yang sekitar lima belas tahun silam hampir di tutup karena beberapa dosennya melakukan kecurangan sampai terjadi demo besar-besaran.
Banyak yang keluar dari universitas tersebut. Hingga, Universitas yang hampir tutup itu kembali di hidupkan oleh Tuan Nalendra. Dan sekarang Universitas tersebut menjadi Universitas paling besar dan terkenal di kota itu.
Menjadi Universitas dari kalangan elit yang tak sembarang anak bisa masuk begitu saja kecuali mendapatkan beasiswa.
...****************...
Davina menjalani hari-hari nya dengan sangat nyaman sekali. Hidup menjadi gadis yang sederhana nyatanya tidak terlalu sulit.
Jika dulu saat Davina masih sekolah, Dia jarang punya teman. Sekalinya punya teman tapi malah memanfaatkan nya.
Bagi mereka yang hidup sederhana, Mereka selalu menghindari saat Davina mendekat. Merasa insecure dengan Davina yang jauh berada di atas mereka.
Pernah Davina mendengar pembicaraan mereka bahwa mereka takut mengganggu Davina karena dia anak orang kaya. Mungkin karena kebanyakan anak orang kaya itu sok berkuasa, Atau suka bully dan menindas yang berada di bawah. Tapi Davina bukan gadis yang seperti itu kan?
Davina memang baik, Tapi dia tidak suka di usik oleh siapapun. Davina memang lemah lembut seperti Mommy nya, Namun jangan lupa Davina bisa saja melawan siapapun yang berani mengusik ketenangannya.
Seperti beberapa bulan ini. Davina masih bersabar dengan sikap Gio sang kekasih yang sudah hampir dua tahun menjalin hubungan dengannya.
Gio adalah pemuda yang baik, Keduanya kenal saat pertama kali sama-sama masuk kampus. Hingga perlahan Keduanya dekat dan akhirnya menjalin hubungan.
Awalnya semua baik-baik saja, Akan tetapi semua berubah saat seorang gadis yang bernama Caca hadir.
Dan katanya Caca adalah sahabat masa kecil Gio yang baru datang dari luar kota. Caca juga pindah ke kampus dan tinggal di kelas yang sama dengan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tin..
Tin..
Davina meraih tasnya. Suara klakson itu adalah suara mobil yang biasa di bawa oleh Gio. Sebuah mobil sedan sederhana yang baru beberapa waktu yang lalu di beli.
Gio memang lahir dari keluarga yang sederhana. Tidak seperti Davina yang memang kaya sejak masih berada di dalam kandungan.
Dari dulu keluarga Gio adalah orang tak punya. Namun sekarang keluarga pemuda itu lebih mendingan karena ayah Gio bekerja pada salah satu pengusaha.
Gio bisa tinggal di tempat yang nyaman, Kuliah juga mendapatkan beasiswa karena pria itu memang pintar. Sayangnya meski Gio pintar, Kepintarannya masih kalah dengan kepintaran Davina.
Dengan senyum yang merekah Davina menghampiri Gio yang masih berada di mobil. Saat hendak membuka pintu depan, Kaca terbuka.
Senyum yang merekah itu luntur bersamaan dengan senyum seorang gadis yang duduk di kursi yang biasa Davina duduki.
"Gio?" Davina menatap sang kekasih seolah meminta penjelasan.
"Maaf ya, Vin.. Tadi Caca gak ada yang mau nganter. Terpaksa aku mampir dulu ke rumahnya.." Kata Gio pada Davina. Gadis mengepalkan tangannya.
"Davina aku di depan lagi ya?
"Iya Vin.. Kamu ngalah lagi sama Caca. Dia mabuk kendaraan kalo duduk di belakang.." Davina menghela nafas panjang. Mengalah? Sudah berapa kali dia mengalah dengan gadis ini. Dan Gio hanya diam saja..
Davina tersenyum penuh arti. Dia mengitari mobil kemudian membuka pintu kemudi.
"Vin..
"Aku mau duduk di depan. Kalau dia gak mau pindah, Biar kamu aja yang pindah.. Aku yang nyetir.." Gio menoleh ke arah Caca, Gadis itu menggelengkan kepalanya. Davina yang sudah tak sabar langsung melepas paksa seatbelt Gio. Menarik pacarnya tersebut hingga benar-benar turun.
"Pindah!
Mau tak mau Gio duduk di belakang. Davina tersenyum sinis. Akan dia buat gadis ini kapok berurusan dengannya. Davina mulai menyalakan mesin mobil itu, Dan..
Bluuuuss!!
Davina menginjak gas, Mengendarai mobil sedan milik Gio itu dengan kecepatan yang tinggi.
"Davina! Kamu apa-apaan! Kita bisa celaka kalau kamu nyetirnya gini!" Di belakang, Gio sampai ombang ambing karena gaya Davina menyetir sangat menakutkan.
"Ini hanya sebagian Gio.. Bosan kan kalau cuma gitu-gitu aja.. Benarkah Caca?" Davina tertawa kencang. Caca berpegang sangat erat, Dia takut sekali di ajak kebut-kebutan seperti itu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?
Davina mampu menyalip kendaraan lainnya. Sepertinya bakat balap Opa nya mengalir di dalah tubuh cucunya yang satu ini.
Ciiiiit!
Mobil berhenti di parkiran kampus. Caca langsung keluar dari sana dan seketika mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Gitu aja mabok! Dasar kampungan.." Davina menepuk nepuk tangannya, Dia menatap sinis Gio dan berlalu pergi sana meninggalkan Gio yang lagi lagi peduli dengan Caca.
•
•
•
TBC
Bismillah, Othor rilis Novel baru. Setelah Othor selesai merilis kisah para orang tuanya, Hari ini Othor merilis kisah para anak-anaknya. Kita mulai dari kisah Davina putri Nalendra dulu ya...❤️🍁
Davina langsung di sambut baik oleh kedua sahabatnya yaitu Vania dan Valia. Gadis kembar yang selalu ada untuk Davina. Mereka bertiga telah bersahabat sejak masih duduk di bangku SMP.
Hanya Vania dan Valia lah yang tahu siapa Davina sebenarnya. Dan ada pula beberapa mahasiswa/Siswi yang cukup mengenali siapa Davina. Jangan lupa, Davina dulu nya adalah model cilik.
Akan tetapi Davina berpesan agar mereka diam dan tidak mengatakan siapa dia sebenarnya pada siapapun. Alhasil, Mereka diam karena mereka juga takut kalau berani membongkar identitas Davina akan di keluarkan dari kampus ini.
"Eh, Kamu apain tadi si cicak itu.." Tanya Valia pada Davina tentang Caca yang sering kali di sebut cicak oleh Valia.
"Gak ada.. Aku cuma buat dia mabok doang.." Jawab Davina enteng.
"Emang dia ngapain kamu lagi?
"Ya habisnya aku kesel sih.. Semalem itu Gio udah janji sama aku. Dia mau jemput aku buat berangkat bareng kuliah. Dan pas tadi pagi, Dia datang bareng sama cewek mura-han itu.. Dia bilang katanya si Caca gak ada yang anterin itulah inilah bla bla bla.. Dan yang paling bikin aku jengkel ya.. Lagi lagi si Gio. nyuruh aku duduk di belakang. Aku suruh ngalah lagi sama itu cewek.. Jelas emosi akunya! Ya udah aku putusin aku ajalah yang nyetir.. Aku bikin dia mabok. Gak tahu aja kali aku jago balap malah main macem-macem.." Vania dan Valia justru tertawa mendengar itu.
Davina memang gadis yang baik tapi kalau kebaikannya di khianati, Sorry..
"Heran aku sama pacar kamu itu... Dulu dia tuh kayak sayang banget ya sama kamu. Cuma gara-gara ada si Caca itu sekarang Gio kayak yang lebih nge utamain itu cewek gak sih?" Kata Vania, Dia sama tak sukanya dengan Caca. Gadis itu selalu cari perhatian bahkan terkadang menjual kesedihan.
" Bukan kayak lagi tapi emang gitulah kenyataannya kan? Apa apa Caca.. Ini itu Caca. Eneg aku lama-lama.." Obrolan mereka berhenti saat Gio datang dengan memapah Caca. Wajah gadis itu pucat mungkin karena muntah tadi.
Davina tak peduli, Dia duduk di kursinya seraya memainkan ponselnya.
"Kamu duduk dulu.." Ucap Gio membantu Caca agar duduk dengan nyaman.
"Terimakasih ya Gio.. Kamu baik banget sama aku.. Maaf ya, Udah ngerepotin kamu.." Ucap Caca dengan lemas. Entah memang lemas atau hanya pura-pura tidak tahu. Vania memutar bola matanya malas. Begitupun dengan Valia yang mual dan hampir muntah.
"Kamu gak perlu minta maaf.. Ini juga udah jadi kewajiban aku sebagai sahabat kamu buat jagain kamu.." Balas Gio tersenyum.
"Hooeek.. Uhuk uhuk hampir mau muntah gue!
"Hadeuuh... Muak gue.." Davina melirik kedua sahabatnya itu. Sejak Gio lebih mengutamakan Caca di banding dirinya, Rasa cinta dan sayang Davina terhadap pemuda itu hilang secara perlahan.
Niat Davina yang ingin mengajak Gio bertemu dengan Daddy dan Mommy nya telah sirna. Usaha Davina untuk meraih hati ibu Gio pun juga hilang.
Karena meski hubungan keduanya berjalan selama hampir dua tahun. Davina belum pernah mengajak Gio untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Bukan belum pernah, Lebih tepatnya Gio yang selalu menolak.
Davina hanya ingin melihat saja apakah Gio adalah pria yang tepat atau bukan. Melihat sikap Gio yang baik selama ini Davina ingin berkata jujur. Untuk masalah Ibu Gio, Davina mikir belakangan.
Sampai di detik inipun Ibu Gio merasa tak suka dengan adanya Davina. Entah apa alasannya, Davina juga tidak tahu..
"Davina kita harus bicara.." Davina meletakkan benda pipihnya di atas meja.
"Bicara apa? Penting kah?" Gio menghela nafas panjang. " Kalo cuma kamu mau bicara sama aku bahas dia.. " Davina menunjuk Caca yang diam. "Mending gak usah deh.. Aku gak tertarik.." Gio meraup wajahnya kasar. Sikap Davina berubah sejak adanya Caca. Padahal awal-awal mereka bertemu keduanya tampak baik-baik saja.
Memang! Awal Davina dan Caca bertemu di bandara. Saat itu, Gio mengajak Davina untuk menjemput temannya. Davina kira, Teman yang di maksud Gio adalah laki-laki. Tapi ternyata perempuan.
Semua berjalan dengan sangat baik, Tapi lama lama Caca seolah ingin menguasai Gio. Bersikap manja dengan Gio, Serta cari perhatian pada Gio. Gio pun juga begitu, Sejak adanya Caca pria itu jadi semakin lebih perhatian pada Caca ketimbang Davina yang katanya adalah kekasihnya.
Gio seakan akan tak punya waktu dengan Davina. Pemuda itu juga sering ingkar janji. Sayangnya Davina bukan gadis yang gampang menangis karena seorang pria. Di tindas ya, Tindas balik.
"Please Vin.. Aku gak suka sikap kamu yang kayak gini.."
BRAAAK!
Davina menggerakkan meja. Dia menatap tajam Gio.
"Aku juga gak suka sama sikap kamu yang lebih mementingkan sahabat kamu itu. Apa apa dia? Ini itu dia? Emang kamu pikir aku gak punya perasaan!!?
"Davina.. Aku cuma mau kamu minta maaf sama Caca. Gara-gara kamu bawa mobilnya kenceng dan ugal-ugalan dia jadi mabok.." Davina melipat kedua lengannya di dada. Davina maju satu langkah..
"Kenapa harus aku yang minta maaf? Bukannya duduk di depan itu kemauan dia ya? Dan kamu jangan salahin aku dong! Kamu salahin diri kamu sendiri. Kamu udah janji sama aku kalo kita akan berangkat bareng berdua. Dan lagi, Kamu ingkar janji demi dia!!!" Davina kembali menunjuk Caca.
"Dia duduk di depan, Dan kamu minta aku buat ngalah lagi.. Yang pacar kamu itu aku, Bukan si cicak ini! Harusnya kamu jadi cowo yang tegas dong.. Masa bela pacarnya aja gak bisa. Harusnya yang suruh ngalah itu dia bukan aku.. Giliran dia mabok nyalahin aku.. Sinting kamu ya, Jadi cowok!! ." Davina mengeluarkan unek-uneknya dan tak membiarkan Gio menyela pembicaraannya sama sekali.
"Iya ih.. Masa jadi cowok gal tegas. Dimana mana kalo pacar itu yang lebih di utamakan bukan orang lain.. Pakek dalil sahabat.. Sahabat apaan.." Ucap Vania yang jelas membela Davina.
"Gak ada istilah yang namanya sahabat antara lelaki dan perempuan. Bahaya itu emang.. Dan banyak kok buktinya.. Suami istri jadi rusak gara-gara Sahabat.." Valia ikut menimpali. Dia melirik tajam Caca yang sejak tadi menunduk.
"Aku cuma mau kamu minta maaf sama Caca udah itu aja Vin...Kenapa kamu malah ngelantur kemana-mana sih.." Davina maju satu langkah lagi.
"Minta maaf? Aku ke dia? Sampai kapanpun aku gak bakalan minta maaf.. Yang salah disini bukan aku tapi kamu!" Davina mendorong pelan dada Gio dengan jari telunjuknya membuat pemuda itu mundur satu langkah.
"Gio...
Suara itu terdengar manja sekali.
"Tuh, Sahabat baikmu memanggil.. Kayaknya dia butuh perhatian lebih deh.." Gio menatap Davina lalu beralih menatap Caca. Tanpa mengatakan apapun lagi, Gio keluar dari ruang kelas tersebut dan meninggalkan Caca yang berdecak kesal.
•
•
•
TBC
👇 Davina Anggraini Abraham 👇
👇 Langit Samudra Arishandi 👇
👇 Areza Giovano 👇
👇 Caca Margareta 👇
👇 Andita Sari 👇
Visual hanya imajinasi Othor ya.. Kalau kalian kurang cocok atau kurang sreg bisa bayangin sendiri2 versi kalian ❤️🍁
Davina baru saja selesai membuang air di kamar mandi. Kini giliran gadis dua puluh tahun itu membasuh tangannya. Saat sedang fokus membasuh tangan, Seorang gadis masuk.
Davina menghela nafas panjang. Caca dengan senyumnya yang manis masuk dan ikut membasuh tangan.
Tapi jangan kira Davina tidak tahu tentang senyum itu. Senyum itu adalah senyum penuh ejekan untuk Davina.
"Aku dengar, Hubungan mu dengan Gio berjalan hampir dua tahun, Benar? Dan aku juga tahu kalau selama itu Bibi Ambar belum memberikan restunya untuk kalian.." Davina tak mendengarkan apa yang di katakan oleh Caca. Terserah lah mau bicara apa bagi Davina, Pantang mendengarkan kata kata yang tak penting sama sekali.
"Kau dengar aku tidak? " Davina yang hendak keluar itu menghentikan langkahnya.
"Sorry, Aku budek jadi aku tidak dengar ucapanmu yang tidak penting itu.." Davina keluar dari kamar mandi tersebut tanpa menghiraukan Caca. Tapi Caca tak mau tinggal diam, Gadis yang katanya sahabat kecil Gio itu mengejar Davina.
"Heh.." Caca meraih kasar tangan Davina hingga putri dari Daddy Nalendra itu memutar tubuhnya.
"Apa sih!?" Davina menyentak tangan Caca membuat gadis itu terhuyung. Kekuatan Davina nyatanya tak pernah main-main.
"Kau!"
"Apa? Apalagi yang ingin kau lakukan?" Tanpa ada takut-takutnya Davina menantang Caca. Dia bukan gadis yang lemah yang gampang di tindas. Kalau ada yang melapor, Silahkan..! Tak akan ada yang berani padanya. Semua dosen yang mengajar di kampus ini sudah tahu siapa Davina sebenarnya. Hanya saja Davina berpesan agar tidak membuka identitasnya.
"Dasar gadis udik, Gadis miskin.. Pantas saja Bibi Ambar gak setuju hubungan kamu sama Gio.. Karena kamu itu cuma gadis yang gak punya apa-apa. Kamu cuma tinggal di kost-an. Orang tua mu aja gak jelas.." Davina tersenyum sinis. Dia melipat kedua tangannya di dada.
"Kau pandai sekali ya, Menghinaku.. Aku jadi ingin tahu seperti apa hidupmu di luaran sana.." Caca terkekeh. Dia tertawa keras di lorong jalan ke arah kamar mandi itu.
"Jelas yang pasti, Ayahku bekerja di perusahaan paling besar di kota ini. Dia jadi HRD.. Dan tentu saja gajinya besar.. Kau lihat aku? Pakaian yang aku pakai ini adalah pakaian yang berkelas.. Aku anak orang berada, Jelas akulah yang lebih pantas bersanding dengan Gio.. Makanya aku ingin kau segera mundur dari hubungan ini.." Davina maju satu langkah, Dia menatap tajam Caca yang langkahnya semakin mundur.
"Tentu saja aku akan mundur.. Tapi tidak sekarang.. Dan satu lagi, Kau boleh menghina ku sekarang.. Tapi setelah ini apakah kau masih bisa menghinaku? Kau itu hanya orang baru.. Tapi sok disini. Pesanku jangan macam-macam.. Atau kau tidak akan selamat bit-ch.. " Setelah mengatakan itu, Davina segera pergi.
Davina pasti akan membuka jati dirinya tapi bukan sekarang. Dia akan menunggu waktu yang tepat.
...****************...
"Kaulmu di gangguin lagi sama tuh si cicak.." Vania langsung memberikan pertanyaan pada Davina yang baru saja datang dan duduk bergabung bersama dua sahabatnya di kantin.
"Kalian tahu?
"Ya, Tau lah.. Kita itu dari tadi nunggu kamu disini lama banget. Jadi Valia pergi buat nyusul.." Ujar Vania lagi.
"Tapi syukurlah, Kamu gak jadi samperin aku. Kalo gak yang ada dia akan semakin merasa tersakiti.. Aku cuma gak mau aja kamu terlibat dalam masalahku.. Jadi biar aku yang hadapi sendiri.." Davina sudah tahu dan paham dengan sifat Caca. Cukup dia saja yang berurusan dengan Gio, Kedua temannya jangan sampai ada yang terlibat.
"Sekarang aku tanya? Apa kau masih kau melanjutkan hubunganmu sama Gio?" Davina terdiam, Dia tak langsung menjawab. Namun sedetik kemudian Davina menggelengkan kepalanya.
"Aku memang cinta sama dia.. Tapi aku bukan gadis bodoh yang mau-mau saja melakukan apapun demi cinta. Dia khianati aku ya buang lah.." Vania dan Valia mengangguk setuju dengan pemikiran Davina yang tegas.
"Yups.. Bener, Aku dukung kamu.. Cewek itu memang harus gitu.. Dan aku rasa Gio kayak emang gak peduli lagi sama kamu. Dia lebih mentingin di cicak itu..
"Hm, Mending buang aja cowok kayak gitu ke laut..
"Hahaha..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku pulang bareng kalian ya?" Ucap Davina pada kedua saudara kembar itu. Waktu mata kuliah sudah selesai, Dan Davina kini sudah siap-siap hendak pulang.
Baru saja selesai memasukan buku pentingnya ke dalam tas. Gio segera berdiri dan menghadang langkah Davina.
"Ada apa?
"Ikut aku.." Gio menarik pergelangan tangan Davina. Vania dan Valia hanya saling pandang. Keduanya mengangkat bahu pertanda tidak tahu apapun. Namun tatapan mereka beralih ke arah Caca yang diam. Mereka tahu pasti semua ini ada hubungannya dengan si Caca.
Gio membawa Davina ke lorong yang sepi. Gadis itu dapat merasakan aura tidak mengenakan dari kekasihnya ini.
"Ada apa? Kenapa kamu bawa aku kesini? Penting banget ya..??" Gio berbalik badan menatap sang kekasih yang menurutnya berubah akhir-akhir ini.
"Maksud kamu apa bilang ke Caca kalau dia seorang Bit-ch?" Davina memiringkan kepalanya, Senyum miring tersungging di bibirnya.
"Dia ngadu ke kamu? Bilang apa aja dia ke kamu? Dan kamu percaya?" Davina menggelengkan kepalanya, Tak habis pikir dengan Gio yang telah berubah sejak gadis yang katanya sahabat kecilnya itu datang. Semua ucapan dari Caca akan Gio percaya meski hanya sebuah kebohongan. Dan ucapannya akan pria itu anggap bohong walaupun sebenarnya jujur.
"Aku kenal Caca itu mulai dari dulu. Sejak kecil aku sama dia tuh udah bareng. Dia tuh gak pernah bohong sama aku.. Dia.
"Yaudah kalau kamu emang percaya sama dia.l urus aja dia.. Mulai sekarang aku udah gak peduli. Terserah!" Setelah mengatakan itu, Davina berbalik badan hendak pergi namun..
"Kamu berubah Vin.. Kamu bukan Davina yang aku kenal dulu.." Langkah Davina terhenti. Tanpa berbalik badan ia berkata..
"Bukan aku yang berubah Gio.. Tapi kamulah yang telah berubah. Sejak Caca datang sikap kamu ke aku berubah.. Kamu selalu ada waktu buat dia, Kamu lebih percaya dengan semua perkataannya. Sementara apa yang aku katakan kamu gak pernah percaya lagi.. Jadi jangan salahkan aku kalau aku bersikap begini.. Sikap ku yang seperti ini semua di mulai dari kamu. Aku hanya mengimbangi saja. Aku kecewa sama kamu.. Demi membela Caca kamu sampai seperti ini ke aku..
"Vin.. Aku..
"Dan ingat satu hal Gio.. Jangan pernah kamu macam-macam sama aku.. Karena kalau sampai itu terjadi dan semua itu demi sahabat kecilmu itu. Lihat saja, Kamu akan menyesal..." Davina pergi sana tanpa peduli lagi dengan Gio yang hanya mampu menatap nanar sang kekasih.
"Kenapa bisa jadi seperti ini.." Gumam Gio mengacak rambutnya kesal.
"Gio..." Caca berlari menghampiri Gio yang masih berdiri di tempat. " Gio kamu ngapain masih disini? Pulang yukk.." Caca menggandeng lengan Gio dengan manja..
"I..iya Ayo.." Gio menurut saja tanpa ada semangat sedikit pun.
•
•
•
Tbc
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!