Indonesia
NovelToon NovelToon

Kembalinya Ratu Gangster

Bab 1

“Nalea, apa kamu yang kamu lakukan, hah! Apa kamu tidak bisa berperilaku normal sehari saja, Lea? Jangan buat keluarga kita yang terhormat, malu karena perilaku kamu yang sangat liar dan tidak tahu aturan!”

Kepala Nalea Sahara berdenyut, bukan karena letih, melainkan karena getaran benci yang mengisi udara ruang keluarga megah Keluarga Hersa. Matanya yang tajam mata yang pernah menatap dingin saat memimpin ratusan anggota Black Rat, kini hanya menunduk pasrah. Setelah dua puluh dua tahun dibesarkan di jalanan sebagai Ratu gangster paling disegani, Nalea berusaha keras menjadi sosok yang 'pantas' untuk keluarga kandungnya, gadis lugu, lemah lembut, dan mudah diatur.

Namun, Sisilia Putri Hersa tidak akan pernah membiarkannya.

Di sofa tunggal, Sisilia duduk sambil menangis terisak. Pakaian kaus mahalnya robek di bagian bahu, memperlihatkan sedikit goresan kemerahan yang jika diperhatikan lebih dekat terlihat sengaja dibuat dangkal.

“Sisilia hanya ingin meminjam buku. Nalea langsung membentak, dan, dan dia mendorongku, Kak! Dia bilang aku anak pungut yang tidak pantas menyentuh barang-barang di rumah ini!” Sisilia terisak, membenamkan wajahnya di dada Azlan Putra Hersa.

Azlan, yang biasanya dikenal humoris dan penyayang, kini berdiri tegang, rahangnya mengeras. Di sebelahnya, Zavian Putra Hersa, si sulung yang dingin dan cuek, menatap Nalea dengan tatapan yang jauh lebih tajam daripada biasanya.

“Nalea,” suara Zavian terdengar berat, mengisi keheningan ruang tamu. “Katakan yang sebenarnya. Apa yang kau lakukan pada Sisilia?”

Nalea mengangkat wajahnya, menatap kedua kakak kandungnya. Harapan tipis agar mereka melihat kejujuran di matanya hancur saat melihat tatapan mereka.

“Aku tidak melakukan apa-apa, Kak. Bahkan aku tidak menyentuhnya seujung rambut pun,” jawab Nalea pelan, suaranya berusaha terdengar lembut. “Aku hanya mengatakan, buku itu bukan milikku, tapi-”

"Cukup!” potong Azlan, suaranya menggema penuh amarah. Azlan melepaskan Sisilia, melangkah mendekat ke Nalea dengan mata memerah.

“Kau dibesarkan di lingkungan yang kotor, tapi setidaknya, tunjukkan sedikit sopan santun! Sisilia adalah adikmu! Berapa kali kami harus memperingatkanmu agar berhenti bersikap seperti anak liar?”

Kata-kata itu menghantam Nalea. Anak liar. Mereka dengan mudah merangkai dua kata itu, mengabaikan perjuangannya selama dua bulan terakhir untuk beradaptasi.

Sisilia mendongak dari bahu Azlan, menyeringai tipis yang hanya bisa dilihat Nalea. Seringai penuh kemenangan.

“Nalea, tolong jujur. Mengakulah, demi kebaikanmu sendiri,” Sisilia merengek. “Kakak Azlan dan Kak Zavian hanya ingin kau menjadi gadis yang baik, seperti mereka ajarkan.”

Nalea menelan ludah. Ia memilih untuk diam. Membela diri hanya akan memperkuat citra 'anak liar' yang mereka percayai.

Zavian menghela napas panjang, kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.

“Kami sudah memberimu kesempatan. Tapi kau hanya membalasnya dengan kekerasan.”

Tepat saat itu, Ivander Zyan Hersa, sang Ayah, dan Mutiara Meisya Hadi, sang Ibu, memasuki ruangan. Raut wajah mereka menunjukkan campuran jijik dan rasa bersalah yang disembunyikan.

“Sudah selesai dramanya?” tanya Ivander dingin, tanpa menatap Nalea. “Nalea, kau keterlaluan. Kau melukai Sisilia. Papa tidak suka gadis yang tidak tahu aturan, bertindak kasar seperti preman.”

“Papa, Mama, jangan hukum Nalea terlalu keras! Dia tidak sengaja, mungkin dia hanya cemburu padaku,” Sisilia buru-buru menimpali, air mata buayanya semakin deras, membuat keluarga Hersa semakin yakin betapa baik dan polosnya putri palsu mereka ini.

Mutiara Meisya Hadi, sang Ibu, menatap Nalea dengan kebencian. “Kau tidak pantas disebut putri keluarga Hersa. Zavian, Azlan, bawa dia ke gudang belakang. Aku tidak mau dia merusak citra keluarga ini lagi. Dia butuh pelajaran yang keras.”

Mutiara berbalik, tangannya menarik Sisilia untuk dipeluk.

Gudang belakang itu lembap, berbau apek, dan penuh debu. Inilah 'kamar' tempat Nalea, putri kandung keluarga Hersa, tinggal.

Azlan dan Zavian berdiri di hadapan Nalea. Di tangan Azlan, ada sebatang kayu keras yang biasa dipakai untuk penyangga tanaman.

“Kami tidak ingin melakukan ini, Nalea,” kata Azlan, suaranya sedikit bergetar, namun tatapannya tetap tegas. “Hanya ini cara agar kau mengerti.”

"Aku mohon, Kak. Aku tidak salah," pinta Nalea, untuk pertama kalinya ia memohon di hadapan siapa pun sejak ia meninggalkan dunia geng. Suaranya terdengar seperti bisikan, penuh keputusasaan.

Zavian menggeleng. “Kami percaya pada Sisilia. Berlutut, Nalea. Jangan mempersulit diri.”

Nalea berlutut di lantai semen yang dingin. Ratu Black Rat yang ditakuti, kini tunduk di hadapan dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya.

“Pegang dia,” perintah Zavian.

Azlan mencengkeram bahu Nalea. Cengkeraman itu kasar. Nalea memejamkan mata.

PRANG!

Batang kayu itu menghantam betis Nalea. Rasa sakitnya begitu tajam hingga terasa seperti tulang keringnya retak. Nalea menggigit bibir bawahnya, menahan erangan yang ingin lolos.

“Sakit?” tanya Zavian dingin. “Seharusnya ini setara dengan rasa sakit yang kau berikan pada Sisilia.”

“Aku minta maaf,” bisik Nalea, bibirnya gemetar. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tolong, Kak, hentikan."

DUGH!

Pukulan kedua menghantam tulang keringnya, kali ini lebih keras, lebih terarah. Nalea tidak bisa menahan diri lagi. Ia tersentak, air matanya menetes.

“Ampun, Kak Azlan… sakit… kumohon,” Nalea akhirnya mengeluarkan suara, memohon ampun, mengabaikan harga dirinya yang selama ini ia jaga.

Azlan melihat air mata dan kesakitan di mata Nalea, tangannya sedikit goyah. Tetapi bayangan wajah Sisilia yang terluka kembali muncul, menguatkan tekadnya.

“Jika kau tidak ingin dipukul, bersikaplah baik!”

Pukulan ketiga dan keempat datang bertubi-tubi.

PLAK!

DUG!

Rasa sakit itu membuat Nalea mual. Betisnya kini terasa mati rasa, diikuti oleh nyeri yang menyayat. Dia tidak bisa lagi menahan tangisannya, meskipun ia berusaha membuatnya tidak bersuara.

“Sudah cukup. Semoga kau belajar, Nalea. Jangan pernah membuat Sisilia menangis lagi,” ucap Zavian dingin, melemparkan kayu itu ke sudut ruangan.

Azlan dan Zavian pergi. Pintu gudang dihempaskan hingga menimbulkan debu.

Nalea ditinggalkan sendirian. Dia merangkak menjauh dari tempatnya berlutut, lalu meringkuk, memeluk lututnya, mencoba mengurangi nyeri yang mendera kakinya. Bau apek gudang, dinginnya lantai semen, dan denyutan di kakinya, semuanya bercampur dengan rasa sakit yang tak terlihat.

Isakannya tidak bersuara, hanya getaran di bahunya, dan air mata panas yang membasahi pipinya.

"Kenapa?" bisiknya pada keheningan. Suaranya serak dan penuh kepedihan. "Kenapa kalian tidak percaya padaku? Aku memang dibesarkan di dunia hitam, di lingkungan yang kejam dan gelap. Tapi aku tidak jahat."

Ia terisak lagi, memeluk dirinya sendiri semakin erat.

"Aku hanya ingin merasakan kasih sayang keluarga. Kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan semasa hidupku," lanjutnya. "Ayah, Ibu, Kak Azlan, Kak Vian... apa kalian tidak sayang sedikit pun kepadaku? Untuk apa aku dibawa ke keluarga ini jika kalian hanya menganggap Sisilia sebagai keluarga kalian?"

Nalea memukul pelan dadanya yang terasa sesak.

"Bukan salahku dan bukan keinginanku untuk dibesarkan di dunia gelap yang kejam itu," suaranya bergetar. "Aku masih punya hati dan perasaan. Dan hatiku… sakit… sakit sekali di sini."

Dia terus menangis dalam diam. Rasa sakit fisik di kakinya kini tidak seberapa dibandingkan dengan luka menganga di jiwanya, akibat penolakan total dari keluarga kandungnya sendiri. Dia telah berusaha, dia telah meninggalkan dirinya yang lama. Tetapi sepertinya, tidak ada tempat baginya di rumah bangsawan ini.

“Jika saja aku tidak kembali….” Pikirannya kacau, diselimuti keputusasaan yang dalam. "Jika saja aku tetap menjadi Ratu Black Rat… setidaknya, aku tidak akan merasakan sakit separah ini.”

Nalea menutup mata, membiarkan tubuhnya yang lelah dan patah terendam dalam kegelapan.

Bab 2

“Ampun, Kak. Ampun! Jangan pukul Lea lagi, Lea mengaku salah, Kak!” 

Malam di gudang itu terasa dingin dan panjang. Nalea meringkuk di sudut, rasa nyeri di betisnya berdenyut hebat, mengalahkan rasa lapar yang seharusnya sudah merobek perutnya. Ia tidak menangis lagi, air matanya sudah habis bersamaan dengan harapan terakhirnya pada keluarga Hersa. Ia hanya terdiam, pandangannya kosong menatap dinding lembap.

Tiba-tiba, Nalea merasakan sentuhan dingin di dahinya. Sensasi yang asing, namun begitu akrab dengan naluri bertahan hidupnya. Matanya yang gelap terbuka lebar, langsung terpancar kewaspadaan seorang ketua gangster yang selalu siap menghadapi bahaya.

Siluet tinggi seorang pria berdiri di kegelapan, hanya diterangi seberkas cahaya rembulan yang masuk dari lubang ventilasi kecil.

"Siapa kau?" desis Nalea, suaranya rendah dan tajam, berbeda dengan suara 'gadis lemah lembut' yang ia tunjukkan pada keluarga Hersa.

Pria itu tidak menjawab. Hanya ada dengusan pelan dari arahnya.

Tanpa membuang waktu, tangan Nalea bergerak cepat. Dari tempat tersembunyi di balik pergelangan tangannya, sebilah pisau lipat kecil yang selalu ia sembunyikan keluar. Ia melompat maju dengan kaki yang sakit, namun nalurinya mengalahkan rasa nyeri.

SRING!

Pisau itu diarahkan ke tenggorokan pria asing tersebut. Gerakan yang mematikan, cepat, dan tanpa keraguan.

"Kau pikir, hanya karena aku di gudang, aku jadi bodoh, hah?" Nalea menggeram. "Kau pasti suruhan Sisilia atau… atau tikus bau dari Krayrock."

Pria itu tertawa pelan, tawa yang dalam dan familier. "Ratu Black Rat? Hebat. Sudah kuduga kau menyimpan mainan itu.”

Dengan gerakan yang mudah dan meremehkan, Kayzo Renand menepis pisau Nalea hingga terpental ke tumpukan kardus. Nalea tersentak, rasa sakit dari pergerakan mendadak itu langsung menyerang kakinya, membuatnya nyaris terjatuh. Kayzo dengan sigap menahan lengan Nalea, mencegahnya ambruk.

Nalea menepis tangan Kayzo kasar. Barulah ia mengenali bau kulit, parfum mahal yang khas, dan seringai di wajah pria itu.

"Kayzo Renand!" Nalea meludah. "Apa maumu, Tikus Bau? Bagaimana kau menyusup masuk ke sini?"

Kayzo menyandarkan tubuhnya di dinding, menyilangkan tangan di dada, matanya yang tajam menelusuri Nalea dari ujung kepala hingga kaki. Pakaian Nalea yang kotor dan wajahnya yang pucat.

"Dua bulan, Nalea. Dua bulan aku mengamati. Rasanya hampa tanpa dirimu. Kau menghilang, Ratu Black Rat berubah menjadi tikus kecil yang meringkuk di gudang dan mirisnya kamar pembantu jauh lebih mewah. Menyedihkan." Kayzo menyindir dengan nada datar.

Nalea mengepalkan tangannya, amarah membakar tenggorokannya. "Itu bukan urusanmu. Aku sedang mencoba hidup baru."

"Hidup baru? Di mana kau dipukuli oleh kakakmu sendiri, dan dicampakkan seperti sampah?" Kayzo mendengus sinis. Ia menjentikkan jarinya ke arah kaki Nalea yang bengkak. "Lihat dirimu. Kau bahkan tidak bisa berdiri tegak. Kau sudah lemah, Nalea."

Kayzo melangkah mendekat, auranya yang dominan memenuhi ruangan sempit itu. "Kau tidak pantas lagi menjadi Ratu Gangster. Aku akan menyerang Black Rat minggu depan dan merebut semua kekuasaanmu. Aku akan tunjukkan pada anak buahmu siapa bos sejati."

Wajah Nalea memucat, namun matanya memancarkan api. Ancaman itu menyentuh harga dirinya yang paling mendasar.

"Coba saja kalau berani, Kayzo," ancam Nalea, suaranya tercekat menahan nyeri di kakinya dan amarah di dadanya. "Kau akan tahu apa akibatnya berani menyentuh milikku. Black Rat tetap kuat meski tanpa sang Ratu. Jangan banyak berkhayal, Tikus Bau!"

Kayzo tertawa lagi. Kali ini tawanya terdengar lebih lembut, namun tetap mengandung ejekan. Ia lalu melemparkan sebuah bungkusan kertas cokelat ke pangkuan Nalea. Baunya langsung menyebar, roti gandum segar yang diolesi selai.

"Makan," perintah Kayzo. "Jangan sampai aku menghancurkanmu saat kau berada di titik terlemahmu. Itu tidak adil. Ratu yang kelaparan tidak akan bisa bertarung. Aku ingin kau pulih, lalu aku akan menghancurkanmu dengan tangan kosong."

Nalea menatap bungkusan roti itu dengan tatapan jijik. "Tutup mulutmu, Kayzo. Jangan ikut campur urusanku. Pergi!"

Kayzo menghela napas, ekspresinya sedikit melembut, tetapi Nalea terlalu marah dan sakit untuk menyadarinya.

"Pulang, Nalea. Tempatmu bukan di sini. Keluarga seharusnya menjadi tempat berlindung, bukan tempat penyiksaan," Kayzo berbisik pelan, sebelum melompat kembali ke ventilasi. "Jangan sampai anak buahmu memanggil gadis lain sebagai Madam Black Rat."

Kayzo menghilang secepat ia datang.

Nalea mengepalkan tangan, kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Dia tidak mendengarkan ucapan Kayzo. Dia hanya mendengar ancaman dan hinaan.

Ia kembali meringkuk, air mata kembali menggenang. Ia mengabaikan rasa lapar yang melilit. Bahkan saat seekor tikus kecil merayap mendekat dan menggigit sedikit roti pemberian Kayzo, Nalea hanya menatapnya kosong.

"Ini keluargaku," desisnya lirih, menahan rasa sakit di kakinya. "Mereka akan mempercayaiku suatu hari nanti. Aku hanya perlu bersabar hingga waktu itu tiba."

Keyakinan palsu itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap hidup di sini.

...***********...

BYUURRR!

Air dingin membekukan seluruh tubuhnya. Nalea tersentak, terbatuk-batuk, dan terhuyung-huyung di lantai semen yang basah. Rasa dingin itu menembus tulang, menyengat luka bengkak di kakinya.

Di depannya, berdiri Lidya Amira, pembantu keluarga Hersa dan ibu kandung Sisilia, dengan ember kosong di tangan. Wajahnya yang keriput dan penuh keculasan kini tersenyum puas.

"Bangun, Nona Shara. Sudah pagi, dan kamar ini kotor sekali," ujar Lidya, menekankan nama belakang Nalea dengan nada merendahkan.

Nalea bergetar kedinginan, air menetes dari rambutnya. Dia merasakan amarah yang murni, amarah seorang Ratu yang diperlakukan seperti budak. Jika bukan karena ia bertekad menjadi ‘gadis baik’, Lidya sudah pasti mati di tempat.

"Apa yang kau lakukan?" suara Nalea terdengar serak dan dingin, namun tidak lagi lemah. Rasa dingin air membuatnya kembali pada persona lamanya.

Lidya meletakkan ember itu dengan bunyi keras yang memekakkan telinga. Ia berkacak pinggang, menunjukkan kesombongan yang luar biasa.

"Melakukan tugasku, Nona. Membersihkan tempat ini. Tapi sepertinya yang paling harus dibersihkan adalah dirimu." Lidya tertawa remeh. "Seharusnya kamu tidak pernah masuk ke keluarga Hersa, Nalea. Keluarga ini tidak butuh dua putri."

Nalea mengepalkan tinju di samping tubuhnya, menahan diri untuk tidak mencekik wanita di depannya ini.

"Nona muda Hersa hanya milik Sisilia, anakku," Lidya melanjutkan, matanya menyipit penuh ancaman. "Dia dibesarkan dengan didikan terbaik, tahu etika, tahu sopan santun. Kau? Kau hanya membawa kekotoran dari jalanan."

Rasa dingin air yang membasahi tubuhnya beradu dengan panas amarah di dadanya. Nalea hanya menatap Lidya, lidahnya terasa kelu.

Lidya maju selangkah, mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya nyaris menyentuh telinga Nalea. Bisikannya kejam dan penuh venom.

"Aku akan membuatmu menyesal telah masuk ke keluarga ini. Jangan merebut apa yang menjadi milik anakku. Sekarang, bersihkan tubuhmu. Ada pekerjaan di dapur yang menunggumu. Jangan sampai Nyonya Mutiara marah karena kau terlambat, atau kakimu akan dipukul lagi."

Lidya tertawa puas, lalu berbalik dan meninggalkan Nalea yang terhuyung-huyung di tengah genangan air dingin.

Nalea berdiri kaku. Wajahnya pucat, air mata bercampur dengan air basahan di pipinya. Kedua kakinya terasa sangat sakit. Ia benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya.

"Sialan!" desis Nalea, menghentakkan kakinya yang sakit ke lantai. Tindakan itu hanya memicu nyeri yang menusuk.

“Ini belum berakhir. Kalian semua akan membayar.”

Nalea menyeret kakinya yang bengkak, mencari kain kering untuk membersihkan diri. Ia harus bertahan. Demi membuktikan dirinya. Demi mendapatkan cinta yang ia yakini ada di hati keluarga kandungnya, demi membuat Kayzo Renand menelan kembali kata-katanya.

Bab 3

“Walaupun hanya nasi dingin, tahu dan kerupuk sudah sangat nikmat. Apalagi jika bisa makan bersama papa, mama dan kakak.”

Pagi itu, Nalea sedang berusaha menelan sesuap nasi di dapur yang dingin. Setiap gerakan terasa menyakitkan. Luka pukulan di betisnya berdenyut, dan hatinya terasa kosong setelah penolakan yang ia terima. Dia menyantap makanannya dengan cepat, tidak ingin berlama-lama di sana dan berpapasan dengan anggota keluarga Hersa yang lain.

Tiba-tiba, bayangan elegan Sisilia muncul di ambang pintu dapur. Sisilia mengenakan dress rumahan yang lembut, rambutnya terurai rapi, dan di tangannya, ia membawa secangkir teh yang mengepul.

"Nalea?" Sisilia memanggil dengan suara manis yang sarat kepura-puraan. "Aku mencarimu. Kenapa makan di sini? Di meja makan saja."

Nalea hanya mendongak sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya.

"Aku tidak ingin mengganggu," jawabnya singkat, tanpa melihat Sisilia. "Pergilah. Aku akan selesai sebentar lagi."

Sisilia tidak bergerak. Ia justru melangkah mendekat, berdiri tepat di sebelah Nalea. Aroma teh melati yang kuat menusuk hidung Nalea.

"Aku, aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin," ujar Sisilia, suaranya terdengar tulus, padahal matanya berkilat dingin. "Aku tidak tahu Kak Azlan dan Kak Zavian akan melakukan kekerasan. Aku hanya mengadu bahwa kamu mendorongku, aku tidak menyangka mereka akan menghukummu sekeras itu."

Nalea meletakkan sendoknya, mendongak, menatap Sisilia dengan tatapan tajam yang tersimpan. Tatapan itu berkata, Aku tahu kau berbohong.

"Aku bilang, pergilah. Jangan berpura-pura baik di depanku," kata Nalea, nadanya pelan namun mengandung perintah.

Sisilia tersenyum pahit, pura-pura terluka. "Aku benar-benar tulus, Nalea. Aku ingin kita akrab. Ini, aku buatkan teh hangat untukmu. Agar kakimu bisa sedikit pulih. Kata Lidya, teh melati baik untuk menghangatkan tubuh." Sisilia menyodorkan cangkir teh yang masih mengepul.

Nalea tahu ada bahaya. Ia tidak ingin menerima apapun dari tangan Sisilia.

"Letakkan saja di meja," perintah Nalea datar. "Nanti aku minum."

"Ayolah, Lea," Sisilia memaksa, menyodorkan cangkir itu lebih dekat. "Minum selagi hangat. Ini tandanya aku minta maaf."

"Aku bilang letakkan di meja!" Nalea mulai kehilangan kesabarannya. Tubuhnya terasa tegang.

Saat Nalea mencoba menghindar, Sisilia mendesak. Sisilia pura-pura terhuyung dan…

BYURR!

Teh panas itu tumpah. Bukan hanya mengenai pakaian Nalea, tapi juga mengenai punggung tangan kirinya. Rasa panas yang menyengat dan membakar langsung menusuk kulitnya. Nalea menjerit tertahan, tubuhnya melonjak kaget karena rasa sakit yang tiba-tiba dan luar biasa.

"Panas!" Nalea berseru refleks. Tangannya yang refleks mendorong tubuh Sisilia, sangat pelan, hanya untuk menjauhkan Sisilia agar tidak terkena pecahan cangkir yang jatuh ke lantai.

PRANG!

Cangkir itu pecah di lantai.

Tangan Sisilia yang didorong Nalea segera melakukan aksi berikutnya. Ia sengaja melepaskan kontrol tubuhnya, mendorong dirinya sendiri hingga punggungnya membentur keras sisi lemari dapur.

DUG!

Suara benturan keras itu terdengar hingga ke ruang tengah.

Sisilia langsung menjatuhkan diri ke lantai, wajahnya panik luar biasa. "Aduh! Kepala Sisil sakit!"

Saat yang bersamaan, Lidya, yang entah dari mana, langsung berlari ke dapur.

"Astaga, Nona Sisilia!" Lidya panik, langsung berlutut di samping Sisilia.

Sisilia merengek, menunjuk Nalea dengan tangan gemetar. "Aku, aku hanya ingin memberinya teh, Bu. Tapi dia marah dan mendorongku, hingga kepalaku terbentur!"

Lidya melihat Sisilia. Di pelipis Sisilia, sudah ada memar merah keunguan yang muncul entah dari mana. Mungkin Sisilia sudah menyiapkan trik ini dari semalam. Lidya mendongak, wajahnya dipenuhi amarah yang membara, ditujukan sepenuhnya pada Nalea.

"Dasar kau anak kurang ajar! Kau mencelakai Nona Muda! Kau pikir kami tidak tahu kau tidak menyukai Sisilia!" teriak Lidya, suaranya melengking. "Kau ini kasar! Liar! Ingin membunuh Sisilia, hah!"

Nalea berdiri terpaku, terkejut dan bingung. Tangan kirinya terasa sangat perih, kulitnya mulai memerah dan melepuh.

"Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa!" Nalea membantah, tubuhnya masih menggigil akibat rasa sakit. "Dia menjatuhkan teh itu sendiri! Aku hanya mendorongnya pelan agar dia tidak terkena pecahan beling. Dia sendiri yang membenturkan kepalanya ke lemari!"

Lidya tidak mendengarkan. Ia menangkup wajah Sisilia. "Kepalamu memar, Nak. Dia pasti benci sekali padamu." Lidya kembali menatap Nalea dengan tatapan penuh kebencian. "Jahat! Kau anak iblis! Kami sudah tahu kau datang ke sini untuk mencelakai anakku! Kau tidak sudi dia menjadi putri di rumah ini!"

Keributan itu menarik perhatian Zavian. Pria sulung itu bergegas masuk ke dapur, raut wajahnya panik saat melihat Sisilia tergeletak di lantai dan Lidya yang berteriak histeris.

"Ada apa ini?!" Zavian berseru.

"Tuan Zavian! Nona Nalea! Dia mencelakai Nona Sisilia!" Lidya menunjuk Nalea yang berdiri gemetar, tangannya memegang luka bakar. "Dia mendorong Nona Sisilia hingga kepalanya terbentur lemari! Lihat, kepalanya memar!"

Zavian terkejut melihat memar di pelipis Sisilia. Ia memandang Nalea, kekecewaan mendalam kembali menyelimuti matanya.

"Nalea! Apa yang kau lakukan lagi! Sudah berapa kali kubilang, jangan bawa kebiasaan di jalanan ke rumah ini! Kenapa kau sekasar ini!" Zavian membentak, suaranya keras.

Nalea merasakan dadanya sesak. Nyeri di kakinya, nyeri di tangannya, dan kini nyeri emosional yang jauh lebih parah.

"Aku tidak salah, Kak Vian!" Nalea bersikeras, suaranya sedikit meninggi. "Dia yang menumpahkan teh panas itu ke tanganku. Aku hanya mendorongnya perlahan. Sisilia berbohong! Lihat tanganku, Kak! Aku yang terluka!" Nalea menunjukkan punggung tangannya yang sudah mulai melepuh.

Zavian hanya melirik sekilas tangan Nalea, lalu kembali menatap Sisilia. "Luka bakar ringan bisa diobati. Tapi memar di kepala bisa bahaya! Kau sudah keterlaluan!"

Nalea terdiam. Luka bakar ringan? Dia bahkan tidak peduli seberapa parah lukaku.

Sisilia, dengan air mata yang masih mengalir, memeluk kaki Zavian. "Kak Vian, jangan salahkan Nalea. Mungkin dia hanya tidak sengaja. Dia pasti lelah karena tinggal di sana…" Sisilia menggantung kalimatnya, merujuk pada latar belakang gangster Nalea.

Sisilia melakukan trik psikologis yang sempurna, pura-pura membela, tetapi pada saat yang sama, mengaitkan perilaku Nalea dengan latar belakang 'liar'nya.

"Aku tidak sengaja, tapi aku tidak salah," tegas Nalea. Ia bahkan tidak memedulikan rasa perih yang menjalar di tangannya.

Zavian sudah tidak tertarik mendengarkan. "Diam, Nalea!" Ia membungkuk, mengangkat Sisilia yang mungil dan'lemah ke dalam pelukannya.

"Bibi, suruh sopir siap-siap. Kita ke rumah sakit."

Saat Zavian berbalik, membawa Sisilia yang pura-pura lemah, Nalea melihatnya. Di atas bahu Zavian, Sisilia memutar kepalanya ke belakang, menatap Nalea dengan senyum licik. Senyum tipis, dingin, dan penuh kemenangan.

Sisilia berbisik, cukup keras hanya untuk didengar Nalea. "Aku akan menjaga apa yang sudah menjadi milikku. Termasuk seluruh harta keluarga Hersa, dan semua yang ada di rumah ini. Kau tidak akan pernah mendapatkannya. Apalagi kasih sayang dan cinta keluarga yang kamu dambakan, tak akan aku berikan setetes pun."

Nalea hanya bisa mengepalkan tangan kanannya, merasakan sakit yang luar biasa di tangan kirinya yang melepuh. Di mata keluarga Hersa, kini Nalea bukan lagi hanya anak liar, tapi juga calon pembunuh

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!