Hiaattt...
Nggak usah ikut campur urusan kami,
Oh... Tidak bisa, ferguso.
Membiarkan oranglain dalam kesusahan, itu sangatlah keterlaluan.
Halah... Nggak usah ceramah. Kita begini juga lagi kerja,
Cuihh...
Kerja kok jadi pencopet. Kasihan keluarga kalian yang dikasih makan dari uang haram,
Bacot...
Bugh...
Seorang perempuan muda dengan jas putih atau snelli khas seorang dokter, tengah melawan dua orang pencopet. Lebih tepatnya perempuan muda bernama Margaretha Arisya. Saat pulang bekerja, ternyata ada seorang wanita paruh baya dicopet dompetnya.
Suasana jalanan yang sepi membuat wanita paruh baya itu hanya bisa pasrah. Namun tak berapa lama, Arisya datang bak pahlawan. Mencoba membantu mengambil dompet milik wanita paruh baya itu kembali.
"Kembalikan dompet Ibu itu," seru Arisya sambil terus menangkis tendangan dan pukulan dari kedua pencopet itu.
Tolong...
Tolong gadis itu,
Bugh...
"Tidak akan. Nanti kami tidak bisa makan," seru salah satu pencopet itu membuat Arisya mendengus sebal.
"Lebih baik lo nggak usah sok jadi pahlawan. Lo bakalan selamat kalau tak menghalangi kami pergi," serunya lagi.
"Tidak akan. Membiarkan orang jahat berkeliaran dan mengganggu masyarakat, aku tidak akan tinggal diam." sentak Arisya dengan emosi.
Bugh...
Sialan...
Arisya menendang tulang kering dari salah satu pencopet sampai meringis kesakitan. Sedangkan wanita paruh baya pemilik dompet yang ditolong oleh Arisya, terus berteriak mencari pertolongan.
Brugh...
"Rasain, emangnya enak. Makanya jadi orang jangan jahat. Kan ada kerjaan yang baik, ngapain pakai nyopet segala?" gumam Arisya yang kemudian mendekati seorang wanita paruh baya itu setelah menumbangkan para pencopet.
Dua pencopet tumbang karena tendangan pada perut dan pukulan kepala bagian belakang oleh Arisya. Gadis itu segera mengambil dompet yang tergeletak di dekat kedua pencopet itu. Kemudian ia mendekati perempuan paruh baya yang terlihat lega karena Arisya baik-baik saja.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya bernama Ibu Nayra itu dengan raut wajah cemasnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini dompetnya, Bu. Lain kali hati-hati kalau lewat jalan sepi begini sendirian dan malam hari, banyak begal." Arisya terkekeh pelan sambil menyerahkan dompet Ibu Nayra.
"Iya, tadi mobil Ibu mogok di depan sana. Rencana mau cari taksi, jalan ke sini malah bertemu copet."
"Kamu dokter ya, Nak?" tanya Ibu Nayra setelah menjelaskan kronologi kejadiannya. Ibu Nayra penasaran dengan jas putih yang melekat pada tubuh Arisya.
"Iya, Bu. Dokter tapi masih pemula," Arisya menjawab sambil cengengesan. Bukan malu atas profesinya melainkan dia masih pemula tapi keluar tempat kerja memakai jas putih begini. Ia memang lupa melepasnya tadi karena keburu ingin pulang.
Margaretha Arisya adalah seorang dokter umum berusia 26 tahun di sebuah rumah sakit umum daerah. Ia hanya tinggal bersama Ibunya karena sang ayah sudah tiada. Hal ini juga yang membuat Arisya bekerja keras agar kehidupannya dan sang Mama tidak lagi kesusahan.
"Luar biasa. Kamu itu pintar berantem, eh dokter lagi. Calon menantu idaman ini mah," Ibu Nayra terus memuji Arisya membuat gadis itu sedikit malu.
Arisya menemani Ibu Nayra menunggu taksi yang lewat agar tak lagi diganggu oleh begal atau pencopet. Keduanya asyik berbincang setelah berkenalan, sampai tak menyadari adanya bahaya yang mengintai.
Jleb...
Aaaa...
Arisya...
Bugh...
Jleb...
"Bu Nayra, lari dan cari bantuan." teriak Arisya di sisa-sisa kesadarannya.
Ternyata ada salah satu pencopet yang sadar dari pingsannya kemudian menusuk punggung Arisya. Arisya memejamkan matanya sedikit untuk menetralkan rasa sakitnya kemudian menarik pisau yang menancap pada punggungnya. Ia membalas menusuk pencopet itu dan menghajarnya. Ibu Nayra begitu terkejut melihat kejadian yang ada di depan matanya.
"Kamu terluka, Arisya. Ayo ke rumah sakit saja. Pencopetnya juga udah pingsan itu," seru Ibu Nayra saat melihat Arisya masih terus memukuli pencopet yang menusuknya.
"Tidak..."
Brugh...
Arisya...
"Mungkin ini akhir dari hidupku,"
"Maafkan Arisya, Bu. Belum bisa membahagiakan Ibu," gumamnya sebelum dirinya jatuh tak sadarkan diri.
Arisya...
Arisya...
Tolong...
"Mama..."
"Bawa Arisya ke rumah sakit, Nak. Punggungnya berdarah karena ditusuk oleh pencopet dompet Mama," teriak Ibu Nayra pada seorang pemuda yang baru saja datang. Dia adalah anak dari Ibu Nayra.
Ia mendapatkan kabar dari sopir, jika Mamanya sedang mencari taksi untuk pergi menjemputnya ke Bandara. Namun sudah hampir satu jam ia menunggu, sang Mama tak kunjung datang. Alhasil... Pemuda itu memilih pulang saja dan tak menyangka jika bertemu sang Mama di tepi jalan. Bahkan Mamanya menangis di samping seorang gadis muda.
Tanpa kata, pemuda itu segera mengangkat Arisya dan membawanya ke dalam taksi. Diikuti oleh Ibu Nayra yang begitu tampak linglung karena shock. Sedangkan untuk urusan dua pencopet, anak dari Ibu Nayra sudah menghubungi polisi.
Cantik...
***
Aaaa...
"Sakit banget," gumam seorang perempuan yang baru saja bangun dari pingsannya. Dia adalah Arisya sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Dimana ini?" Arisya merasa asing dengan tempat yang dilihatnya. Rumah dengan atap seng dan dinding dari anyaman bambu. Terlihat kumuh dan sedikit bau kotoran hewan. Bahkan Arisya rasanya ingin muntah.
Hueekkk...
"Tempat apa sih ini? Apa jangan-jangan Bu Nayra buang aku ke tempat pembuangan sampah kali ya? Bukan di rumah sakit," Arisya terus mengucek matanya kemudian menutup hidung karena bau menyengat.
Arisya mengumpati Ibu Nayra yang malah membawanya pergi ke tempat tidak layak. Padahal ia sudah membantu Ibu Nayra, seharusnya dibawa ke rumah sakit. Apalagi tempat tidurnya hanya dari bambu yang ditata.
"Udah ditolong, nggak tahu terimakasih. Bukannya ke rumah sakit, ini malah dibawa ke gubuk reyot begini." Arisya memeriksa punggungnya sambil menggerutu. Namun dia merasa aneh, pasalnya tak merasakan sakit sama sekali pada punggungnya.
"Lho... Kok nggak ada perban? Nggak sakit juga ini punggung," gumamnya yang merasa aneh dan bingung.
"Kan aku ditusuk pakai pisau beneran, bukan mainan lho semalam itu. Kok nggak ada yang sakit? Masa iya bisa sembuh beneran dalam waktu semalam," Arisya menatap ke arah sekitarnya dan matanya melotot saat melihat cermin di lemari.
Aaaaa....
Siapa itu?
Plak...
Plak...
"Eh... Kok gerakannya ngikutin aku sih?" Arisya menarik dan menampar pipinya saat melihat ada bayangan seorang perempuan di cermin itu.
Ada sebuah lemari dengan cermin setengah pecah membuat Arisya melihat ada bayangan seorang perempuan. Namun yang membuat dia bingung, bayangan perempuan pada cermin itu meniru gerakannya.
"Hei... Keluar kamu dari situ. Ngapain ikutin gerakanku sih?" seru Arisya sambil menunjuk-nunjuk ke arah cermin.
"Astaga... Kenapa dia masih juga ngikutin gerakanku?" gumamnya yang kemudian terdiam sebentar. Tak berapa lama, matanya membelalak terkejut.
"Berarti yang di cermin lemari itu bayanganku dong? Orang di belakangku juga nggak ada siapa-siapa,"
Arisya baru menyadari jika jiwanya kini berada di dalam tubuh seorang perempuan asing. Arisya ketakutan dan melihat ke arah sekitarnya. Dalam pikirannya, sudah bersarang segala dugaan mengapa dia bisa di sini.
"Apa dosaku sama Ibu terlalu banyak? Sampai aku bisa masuk tubuh perempuan ini. Mana mukanya kusam dan rumahnya tidak layak huni," Arisya yang terbiasa dengan rumah dan lingkungan bersih, sangat jijik melihat sekitar ruangan yang ditempatinya.
Belisik tali,
Tambah lapal tita dengal suala olang teliak,
Aaaaa...
Tuyul...
Mana? Mana tuyulnya?
Situ tuyul,
Butan ya,
Kalian siapa?
Masa sih bukan tuyul?
Mukanya kaya tuyul semua, cuma bedanya ini pakai baju. Ya walaupun bolong-bolong,
Kenapa baju kalian kumal sekali?
Wajah juga kusam, apa kalian nggak mandi?
Badan kalian juga kecil, seperti tidak pernah dikasih makan.
Arisya terus melontarkan kalimat menyebalkan dan pertanyaan beruntun yang membuat kedua bocah kembar itu kesal. Dua orang bocah kembar laki-laki itu merasa bahwa sosok perempuan di depannya ini seperti sedang hilang ingatan.
Keduanya bingung harus melakukan apa. Perempuan bernama Naura Arisya Maure yang berada di depan mereka itu sering mereka panggil Ibu. Saat ini Ibu mereka sampai tak mengenali keduanya.
"Kalian siapa? Kenapa perut kalian kecil sekali? Apa kalian tidak makan?" tanya Arisya lagi namun dengan tatapan lebih lembut. Apalagi sedari tadi mereka sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Arisya berpikir jika keduanya takut padanya.
"Matanan kami dimatan cama cacing di pelut matana ndak bica gemuk," ucap seorang bocah laki-laki dengan tatapan polosnya, dia adalah Gheovani Maure.
"Memang kami ndak dikacih matan cama ibu," ceplos seorang bocah laki-laki satunya yang berwajah sama dengan Gheo. Namun tatapannya sangat tajam dan ucapannya ceplas-ceplos. Dia adalah Theodore Maure.
"Ibu lupa cama kami? Ibu lupa talo belum kacih kita matan?" tanya Theo dengan tatapan bingungnya.
"Ibu? Aku belum punya..."
Aaaa...
Ibu...
Brugh...
Arisya memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Beberapa memori tentang pemilik tubuh ini masuk ke dalam ingatannya. Sedangkan dua bocah kembar laki-laki bernama Gheovani Maure dan Theodore Maure itu panik. Lebih tepatnya hanya Gheo saja, pasalnya Theo hanya diam menatap sosok yang biasa dipanggilnya Ibu itu.
"Astaga... Jahat sekali mereka. Awas saja, aku takkan membiarkan mereka bahagia di atas penderitaanku dan anakku." batin Arisya setelah mendapatkan ingatan dari pemilik tubuh aslinya. Namun ia sedikit sedih karena ternyata jiwa asli pemilik tubuh ini sudah meninggal dan digantikan olehnya. Entah sementara atau selamanya.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Gheo dengan pelan sambil mengelus lembut tangan Arisya. Arisya baru mengetahui jika perempuan yang anak kembar panggil Ibu itu mempunyai nama yang mirip dan panggilan sama.
"Ya, Ibu baik-baik saja. Mungkin efek kemarin Ibu jatuh makanya kepala sedikit kepentok dan sedikit lupa ingatan," jawab Arisya dengan sedikit gugup setelah sadar dari lamunannya.
"Pelasaan Ibu kemalin ndak jatuh. Olang Ibu hanya demam caja," ucap Theo dengan tatapan curiga.
"Astaga... Mukanya seram amat itu bocah satu. Mana sedari tadi nggak senyum dan sekali ngomong udah kaya penginterogasi handal," gumam Arisya yang kini harus lebih berhati-hati saat bicara dan bersikap.
"Sebelum demam, paginya Ibu jatuh dan kepentok kepalanya. Makanya sedikit lupa," Arisya memberi alasan sambil memegang kepalanya agar mereka berpikir jika ia memang sedang pusing.
"Theo, ndak ucahlah nuduh olang sembalangan. Lagi pula Ibu cedang cakit dan balu bangun. Nanti talo tidul lagi, kita ndak matan lho," Gheo membela sang Ibu agar kembarannya itu tak lagi membuat Arisya terpojok.
"Anak yang baik,"
Arisya mengelus lembut rambut Gheo. Ia sudah mendapatkan semua ingatan dari pemilik tubuh yang bernama sama dengannya itu. Ia akan membalas perlakuan kejam dari mantan suami dan mertuanya. Theo yang melihat kembarannya diusap rambutnya, hatinya merasa sedikit cemburu.
Naura Arisya Maure atau biasa dipanggil Arisya, dia adalah seorang single mom alias janda setelah resmi bercerai 2 bulan yang lalu. Usahanya habis dan bangkrut karena suami miskinnya yang tak becus mengurusnya.
Setelah usaha toko sembako dan furniture bangkrut, mantan suaminya berniat menjual rumahnya. Namun sampai saat ini belum laku karena Arisya tak mau menandatangi surat-surat pengalihan harta terutama rumah yang masih atas namanya itu. Arisya memilih kabur dan bersembunyi di salah satu rumah warga. Lebih tepatnya Arisya tinggal di gubuk samping kandang sapi milik tetangganya.
Kruk... Kruk...
"Eh... Suara apa itu?" Arisya sedikit melirik ke arah Gheo yang memegang perutnya.
"Aish... Pelutna ndak bica diajak tomplomi," gumam Gheo pelan sambil menepuk perut kecilnya.
"Kami belum matan cejak kemalin Ibu demam dan ndak banun-banun," Theo menjelaskan mengapa sampai suara perut Gheo terdengar.
"Astaga... Maafkan Ibu. Ayo kita cari makanan apa saja yang bisa dimakan," Arisya langsung bangkit dari posisi duduknya di atas ranjang rakitan bambu.
"Mau cali temana? Kita ndak puna uang buat beli matanan," tanya Theo menghentikan langkah dari Arisya.
Arisya menepuk dahinya pelan. Di tubuhnya saat ini, ia hidup sangat kekurangan. Semua aset dan harta yang tertinggal masih dikuasai oleh mantan suaminya. Bahkan untuk tidur dan sembunyi saja, mereka tinggal dari belas kasihan warga. Rencana apa saja yang akan dilakukan, dipikirkannya nanti. Yang penting dia dan kedua anaknya saat ini tidak kelaparan lagi.
"Beras? Nggak ada sedikit pun ya di sini?" tanya Arisya dengan pandangan kebingungan. Padahal ia sudah tahu kalau selama ini hanya bekerja serabutan. Bahkan kemarin tidak bekerja sehingga tidak mendapatkan uang.
"Ndak ada, Ibu." Gheo menjawab dengan muka memelasnya.
"Kita pinjam Bu Rahma dulu saja ya? Setidaknya hari ini kita bisa makan, habis itu biar Ibu yang pikirkan bagaimana caranya dapat uang."
Arisya memilih untuk meminjam beras atau apapun itu untuk makan kedua anaknya. Ia tak menemukan apapun untuk bisa dimakan di gubuk ini. Beruntung dia mendapatkan ingatan dari Arisya asli sehingga tahu mana orang baik dan tidak.
***
"Permisi, Bu Rahma."
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
"Eh... Arisya..."
"Bagaimana keadaanmu? Dari kemarin kamu dan anak-anak nggak kelihatan di sekitar sini. Ibu juga nggak sempat ke sana karena cucu ibu datang," tanya Ibu Rahma yang terkejut dengan kedatangan Arisya dan kedua anaknya.
"Baik, Bu. Tapi anak-anak..."
Emm...
"Nenet, kami lapal. Boleh minta belasna cedikit caja?" Gheo yang sudah terlanjur kelaparan langsung mengungkapkan tujuannya. Padahal Arisya sedang menyusun kalimat untuk meminta tolong pada Ibu Rahma.
Astaga...
"Maaf, Bu. Kemarin Arisya demam, jadi tak bisa bekerja. Jadi anak-anak belum makan dari kemarin. Saya ke sini mau minta tolong, pinjamkan beras atau kentang untuk makan Gheo dan Theo." ucap Arisya menjelaskan keadaannya saat ini.
"Kenapa kalian nggak ke sini kemarin? Theo, Gheo... Kalau butuh bantuan langsung ke sini."
"Ayo masuk, kalian bisa makan di sini sepuasnya." Ibu Rahma langsung menarik tangan Theo dan Gheo untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Arisya, kenapa diam saja di depan pintu? Kamu mau jadi satpam di rumah Ibu?"
"Eh... Iya, Bu."
Pakaiannya lusuh dan sedikit bau, bahkan ia belum mandi dari kemarin. Masuk ke rumah orang dengan kondisi begini, membuat ia risih dan tak enak hati. Saking paniknya mengetahui Gheo dan Theo belum makan, membuat ia lupa segalanya.
"Harusnya tadi mandi dulu. Masa seorang dokter, bau dan kumal begini sih?"
"Udah jadi janda aja nih aku. Padahal sebelumnya belum pernah nikah dan iya-iya. Tapi sekarang malah udah punya dua anak,"
"Gimana kabar Ibu ya? Ah... Aku udah mati apa belum sih sebenarnya?" gumam Arisya dengan berbagai pertanyaan dan penyesalan yang bersarang di dalam pikirannya saat memasuki rumah Ibu Rahma.
"Makan yang banyak, Arisya. Badanmu kerempeng begitu. Kamu juga butuh tenaga yang banyak untuk menjaga kedua anakmu dan melawan mokondo itu,"
Ibu Rahma terus membujuk untuk menambahkan nasi dan lauk kepada Arisya. Padahal Arisya hanya berniat meminjam beras saja dan akan memasaknya sendiri. Namun Ibu Rahma malah menyuruhnya makan juga bersama kedua anaknya. Sedangkan Gheo dan Theo kini tengah menikmati makanannya dengan tenang.
"Tidak baik makan terlalu kenyang, Bu. Yang ada malah perutnya begah dan tidak nyaman beraktifitas," Arisya menolak penawaran Ibu Rahma saat akan ditambahkan nasi ke dalam piringnya. Lagi pula ia sedikit malu menumpang makan pada oranglain.
"Kamu tidak makan dari kemarin, pasti sangat kelaparan. Puaskanlah makanmu di sini dulu. Nanti bisa bungkus juga buat makan malam. Nggak akan begah asalkan kamu makan dengan pelan. Jangan terburu-buru..."
"Mantan suami dan mertuamu itu takkan mungkin bisa menemukan keberadaanmu di sini. Jadi jangan takut keluar lebih lama dari persembunyianmu," ucap Ibu Rahma dengan sedikit berbisik saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
Deg...
Arisya sedikit tersentak kaget saat mendengar bisikan Ibu Rahma. Ia lupa jika pemilik tubuh ini sedang sembunyi dari mantan suami dan mertuanya. Arisya yang dulunya lemah, memilih kabur dibandingkan melawan. Padahal ia punya hak penuh atas rumah dan semua asetnya itu. Bahkan ia bisa menggugat mantan suami dan mertuanya atas dugaan perampasan aset.
"Risya tidak akan lagi bersembunyi, Bu Rahma. Risya akan melawan mereka yang ingin mengambil hak anak-anak. Lagi pula itu rumah dan bangunan ruko masih atas nama Risya. Walaupun beberapa sertifikatnya dibawa mereka sih. Risya dulu bodoh, bisa-bisanya menyerahkan sertifikat rumah dan bangunan ruko sama mereka. Dengan dalih, lebih aman untuk disimpan." Arisya terkekeh pelan karena mengatai pemilik tubuh ini bodoh.
"Iya, secara hukum tuh kamu sangat kuat. Dulu Ibu juga sampai heran ngapain kamu kabur hanya karena didesak untuk menandatangi surat pemindahan aset. Kamu harusnya lawan dan ambil balik itu sertifikatnya," ucap Ibu Rahma sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu perlu lebih tegas lagi agar kedua anakmu tidak menjadi korban. Tahu sendiri kan bagaimana jahatnya mereka itu kaya apa? Menggunakan Gheo dan Theo sandera untuk mengancammu,"
Theo dan Gheo mendengar jika keduanya menjadi obyek pembahasan. Namun keduanya memilih diam. Mereka akan mengikuti apapun ucapan dari Arisya. Arisya tahu bagaimana mantan suami dan mertuanya mengancam akan melukai kedua anaknya agar ia mau menuruti kemauan mereka. Sehingga Arisya memilih kabur.
"Iya, Bu. Arisya juga mau belajar berantem sama preman biar bisa hajar itu dua orang tidak tahu diri," Arisya akan memulai rencananya dengan diawali belajar beladiri atau berantem. Pasalnya tubuh Arisya ini sedikit kurus hingga terasa lemah untuk berantem.
"Eh... Ja..."
"Theo ikut Ibu belajal belantem bial bica lawan Bapak demblung,"
"Gheo juga. Ndak like lho Gheo cama Bapak. Nyebelin cekali, macak celing pukul-pukul pantatna Gheo. Padahal Gheo ndak calah," timpal Gheo membuat Ibu Rahma dan Arisya terkejut.
Ha?
"Urusan Bapak dan Nenek, biar Ibu saja. Kalian jangan pikirkan itu," ucap Arisya yang kini tersadar dari keterkejutannya.
"Ndak, Ibu pelempuan. Ndak boleh lho belantem. Bial Gheo dan Theo caja yang belajal belantem. Kami akan melindungi Ibu dali olah-olang jahat," ucap Gheo dengan menggebu-gebu.
"Ndak ucah cok mau jada Ibu kamu itu, Gheo. Balu kelapalan caja cudah nanis, ini mau belantem. Nanti kena pukul itu tanganna, pasti langcung nanis." ledek Theo pada kembarannya.
Gheo sangatlah manja, berbeda dengan Theo. Bahkan Gheo sering merengek atau menangis hanya karena hal-hal kecil. Sedangkan Theo, sifatnya sangat tenang dan pintar melihat situasi. Walaupun terlihat galak dan tatapannya tajam, namun hatinya sangat lembut.
"Ish... Ndak cukalah Gheo sama Theo. Buka-buka aib olang," gerutu Theo membuat Arisya dan Ibu Rahma terkekeh pelan.
"Hentikan perdebatan kalian. Habiskan makanannya dan kita akan pulang," Arisya menghentikan perdebatan kedua anaknya itu agar bisa segera pulang. Tak enak juga dia berada terlalu lama di rumah Ibu Rahma.
"Yah... Enatan di cini, Ibu. Ndak bau mbelek capi," Arisya meringis pelan mendengar ucapan Gheo yang asal ceplos.
"Gheo, ndak ucah banak mau. Macih untung kita ada tempat tindal. Ladian tempat itu yang paling aman buat cembuni dali Bapakmu," Kali ini giliran Theo yang menegur kembarannya.
Benar kata Theo, hanya tempat itu yang aman dari mantan suami dan mertuanya. Mereka pasti takkan menyangka jika Arisya bersembunyi di sana. Letaknya yang didekat perkebunan dan kandang sapi, membuat orang akan jarang pergi ke sana. Untuk saat ini, sepertinya dia memang harus bersembunyi sambil menyusun rencana.
"Bapakmu juda tali," seru Gheo tak terima.
"Hei... Dia bapak kalian berdua,"
"Cuamina Ibu tuh. Ndak pintal cali suami Ibu itu. Halusna cali yang taya dan ndak cuka pukul-pukul," Arisya sampai menganga tak percaya mendengar ucapan Theo. Memang benar, dia yang salah pilih suami. Eits... Maksudnya Naura Arisya Maure yang salah pilih suami.
"Sabar," bisik Ibu Rahma pada Arisya yang tampak kesal dengan kedua anaknya.
***
Breaking News...
Pelaku pencopetan terhadap Nyonya Nayra Agustina Nares, istri dari pengusaha Gautama Nares telah ditangkap oleh aparat kepolisian. Nyonya Nayra dalam keadaan baik-baik saja. Namun penolongnya, dikabarkan meninggal dunia semalam karena ditusuk pisau oleh salah satu pencopet.
Deg...
"Jadi aku udah meninggal? Lalu yang aku tolong semalam itu istri pengusaha?" Arisya begitu terkejut mendengar dan melihat tayangan berita yang ditayangkan pada TV di rumah Ibu Rahma.
"Hanya terkena tusukan pisau? Meninggal? Padahal niatnya bantu orang, malah celaka dan nyasar di tubuh ini." Arisya menghela nafasnya pelan setelah tersadar dari keterkejutannya.
Ternyata ia baru mengetahui jika tubuh aslinya juga berada di kota yang sama dengannya saat ini. Ia hanya mengalami perpindahan jiwa saja. Untuk waktu dan tempat, masihlah sama. Arisya menatap layar TV yang kini menampilkan Ibu Nayra dan seorang perempuan paruh baya yang dikenalnya. Ibunya yang bernama Adisti Narank menangis sesenggukan saat konferensi pers berlangsung.
Tes... Tes...
"Arisya, kamu menangis? Kenapa? Apa ada yang jahat?" tanya Ibu Rahma saat melihat Arisya menangis sambil menatap layar TV.
Eh...
"Arisya hanya sedih lihat berita itu. Niat bantu orang malah nyawa melayang. Kasihan Ibunya yang janda malah kini kehilangan anaknya," Arisya memberi alasan sambil menunjuk ke arah tayangan TV. Bahkan Arisya segera menghapus air mata yang mengalir pada kedua pipinya.
"Kacianna... Tapi Ibu tenang caja, kami ndak atan nindalin Ibu. Apapun yang teljadi," Gheo juga merasa sedih mendengar ucapan Arisya.
"Takdir, kematian sudah ditentukan Tuhan. Mungkin memang sudah takdir dari perempuan itu tiada, meninggalkan Ibunya. Takdir tidak ada yang bisa menolaknya," Ibu Rahma tersenyum tipis sambil mengusap rambut Gheo.
"Bukan kalian yang meninggalkan, tapi Ibu. Ibu kalian yang asli sudah tiada," batin Arisya dengan tatapan sendu mengarah pada Gheo dan Theo. Bahkan kini Theo menatap mata Arisya yang terlihat kosong.
Deg...
"Ada apa dengan Ibu? Tatapan itu telasa aneh dan acing," gumam Theo dengan pelan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!