Tak..tak..tak..tak...
Suara ketukan heels terdengar begitu nyaring ketika bergesekan dengan lantai granit di dalam sebuah rumah mewah bak Istana. Semua orang yang ada di dalam ruang keluarga langsung menoleh pada Si pemilik sepatu heels dengan tinggi dua belas senti meter itu.
Mereka yang ada disana, tidak ada yang menatap wanita cantik dengan rambut panjang dan tumbuh tinggi ramping itu dengan terpesona, terkejut, atau dengan senyum kekaguman sama sekali. Mereka yang ada di sana sebagian besar menatapnya dengan sengit, penuh kebencian dan seolah tidak menginginkan keberadaannya di sana.
Kecuali, dua orang wanita yang kini menatapnya dengan tatapan lega dan senyum tipis di bibir mereka.
"Rose, akhirnya kamu pulang juga. Kami semua menunggumu sejak tadi!" Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski rambut bagian depannya sudah berubah warna menjadi putih itu, tampak menyambut Rose dengan lembut.
"Kak, ayo duduk di sini!" Wanita dengan gurat wajah mirip seperti wanita paruh baya tadi, berdiri dan menujuk sofa di sampingnya untuk memberi tempat pada wanita yang kini masih berdiri tanpa menatap ke arah mereka semua.
"Sudahlah Kak, tidak usah pedulikan dia. Biarkan dia berbuat semaunya. Di sini juga tidak ada yang menginginkan keberadaanya!" Celetuk wanita yang selalu saja menatap Rose dengan sengit sejak tadi. Ah, bukan sejak tadi, melainkan sejak dulu.
"Tidak boleh seperti itu Grace, Rose adalah bagian dari keluarga ini. Dia juga putriku, jadi tolong bersikap baiklah kepadanya!" Tegur wanita tadi.
"Benar Bibi Grace, Kak Rose adalah Kakakku. Dia juga harus di sini untuk merayakan ulang tahun Ibu. Iya kan Ayah?" Wanita yang mirip dengan Ibunya itu meminta persetujuan pria paruh baya yang sejak tadi hanya diam.
"Terserah!" Jawab pria paruh baya dengan postur tubuh yang masih begitu gagah diusianya yang kini menginjak lima puluh lima tahun.
Wanita yang bernama Rose tadi hanya tersenyum kecut tanpa sudi menoleh sedikitpun. Dia seperti sudah menebak akan jawaban pria yang juga berstatus sebagai Ayahnya itu.
Merasa tak ada lagi yang perlu ia lakukan di sana, kaki jenjangnya yang cantik itu kembali melangkah, meninggalkan ruangan yang penuh dengan orang-orang naif dan munafik menurutnya.
"Lihatlah Kak Hilda, sudah ku bilang tidak usah menunggunya. Dari dulu dia seperti itu, dan semakin hari semakin menjadi. Dia itu tidak penting!" Grace melirik Rose yang kini sedang menaiki tangga.
Terlihat dari lirikannya itu, dia sangat membenci keponakannya itu.
"Benar Kak, seharusnya kita merayakan hari ulang tahun mu dengan bahagia seprti tadi. Sekarang mood ku jadi buruk karen melihat wajahnya!" Imbuh Lidya, adik dari Grace.
"Kamu juga Karina, sudah berapa kali Bibi bilang. Jangan pedulikan dia. Biarkan dia berbuat semaunya sendiri. Lagipula tidak akan ada yang peduli kepadanya!" Lidya kembali memperingatkan keponakannya karena masih saja peduli pada Rose.
"Sudahlah sayang, duduklah lagi. Jangan pikirkan wanita itu!" Arsen merasa kesal karena niat baik kekasihnya selalu saja tidak disambut baik oleh Rose.
"Ayo, lebih baik mulai saja acaranya!" Pinta Dean, suami dari Grace.
Kini, di ruang keluarga yang sempat terasa begitu tegang kembali terasa begitu hangat dengan tawa dan ucapan selamat ulang tahun untuk Hilda Istri dari Leo Martinez.
Di saat semua orang sedang berbahagia karena perayaan ulang tahun wanita yang merenggut kebahagiaan Rose, dia hanya berdiri di ujung tangga dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Tidak ada gurat kesedihan yang terpancar dari wajah cantiknya itu. Tidak ada pula bulir air mata yang membasahi wajahnya yang seputih susu. Yang ada hanya wajah datar dengan aura begitu dingin.
Dia menatap satu per satu orang-orang di bawah sana. Ayahnya, kedua Bibi dan para suaminya, sepupu-sepupunya, semua berbahagia, bertepuk tangan merayakan ulang tahun wanita yang telah membuat dirinya kehilangan seorang Ibu untuk selamanya.
Rose berdiri di sana bukan iri karena tidak berada ditengah-tengah mereka. Tapi dia di sana ingin melihat tawa mereka, melihat wajah bahagia mereka yang terlihat begitu lepas tanpa beban sedikitpun. Karena hal itu lah yang akan memupuk dendam di dalam hatinya. Dia ingin rasa benci itu semakin menumpuk kala melihat kebahagiaan mereka semua.
Tanpa sengaja, mata dingin Rose bersinggungan dengan mata milik Arsen. Mata yang selalu saja menatapnya dengan tajam dan penuh ketidaksukaan.
Tidak ada rasa takut dari dalam diri Rose ketika mata itu seperti sedang mengulitinya. Rose justru tetap membalas tatapannya seolah sedang beradu belati, siapa yang menancap lebih dulu, dialah pemenangnya.
"Kak, sudahlah!" Arsen terpaksa memutus tatapan matanya ketika Karina menyentuh tangannya.
"Jangan seperti itu. Dia Kakakku!" Karina selalu saja mengatakan hal itu hingga membuat Arsen muak.
Arsen kembali melihat ke atas yang ternyata Rose sudah tidak lagi berdiri di sana.
"Aku hanya heran, kenapa ada wanita dengan hati yang begitu keras sepertinya!"
\*
\*
\*
Otor hadir lagi...🤣🤣🤣
Berhubung banyak yang pilih antara 1 dan 2, jadi otor munculkan pilihan nomor 2 dulu ya 🥰🥰
Semoga kalian sukaaa😘
Melihat tatapan kebencian dari seluruh keluarganya adalah hal yang paling bisa bagi Rose. Sampai-sampai dia sesudah tidak peduli lagi dengan itu semua.
Dia memang pantas disebut sebagai wanita berhati batu karena sama sekali tak terganggu dengan itu.
Rose duduk pada kursi paling ujung di meja makan berbentuk persegi panjang itu. Kursi yang selalu disisakan untuknya. Padahal dia adalah putri pertama dari Leo Martinez, kepala rumah tangga di rumah itu. Tapi dia bagaikan putri terbuang, tak dianggap dan tidak dibutuhkan sama sekali.
Melihat Ayahnya duduk di kursi kepala keluarga. Hinda, wanita yang sangat Rose benci duduk di samping Ayahnya, kemudian disusul Karin disebelah Hilda dan kedua anak Grace. Sementara di seberangnya terdapat Grace dan suaminya, kemudian Lidya dan suaminya, lalu disusul kedua anaknya pula.
Suasana di meja makan langsung hening begitu ia datang. Mereka semua yang ada di sana hanya saling menatap dan melirik Rose dengan sinis.
"Karin, bagaimana kabar proposal kamu ke perubahan Mr. Ramos? Apa kamu berhasil memenangkan tendernya?" Tanya Dean pada keponakannya itu.
"Belum ada kabar Paman, katanya hari ini mereka akan menghubungiku terkait keputusannya" Jawab Karin yang sangat berharap jika dia memenangkan tender kali ini.
"Semoga kamu berhasil kali ini Karin. Buktikan kalau kamu bisa memenangkan tendernya walau ada yang mencurangi mu!" Grace sesekali melirik Rose yang tampak begitu tenang tanpa tersinggung sama sekali dengan ucapannya.
"Iya, seperti yang sebelum-sebelumnya. Kamu selalu saja ditikung, dicurangi sama Rose. Sudah tau kalau kamu menginginkan proyek itu, tapi dia malah merebutnya darimu. Kalian dalam perusahaan yang sama, bukannya membantumu, dia malah ikut bersaing bersamamu!" Lidya mengungkit kesalahan Rose yang selalu saja mengambil klien milik Karina.
Rose heran dengan kedua Bibinya itu, mereka wanita yang sangat baik jika berhadapan dengan semua orang bahkan terkenal dermawan, tapi kalau di hadapan Rose, kedua wanita itu terlihat menjadi wanita yang penuh kebencian.
Rose tidak pernah mencari gara-gara dengan mereka. Rose juga tidak pernah ada masalah dengan mereka. Dulu mereka juga sangat menyayangi Rose sewaktu Ibunya masih ada, tapi hanya karena Rose membenci Hilda dan Karina, mereka justru berbalik membenci Rose.
"Bibi, kami memang dalam perushaan yang sama. Tapi Ayah mempunyai dua tim di perusahaannya. Kami bebas bersaing memberikan yang terbaik untuk memenangkan tender. Jadi tidak ada yang salah dalam hal ini meski aku pun menginginkan proyek yang sama!" Rose menanggapi kedua Bibinya dengan begitu tenang.
"Ya tetap saja salah. Harusnya kamu bantu adik mencari klien sebanyak-banyaknya. Bukan malah merebutnya!"
Rose meletakkan pisau dan gapunya. Tatapannya berubah tajam pada Grace, adik dari Ayahnya itu. Dia tak langsung bersuara, dia sempat mengusap bibrinya dengan tisu terlebih dahulu.
"Apa Bibi lupa? Tujuan hidupku adalah merebut semua yang dia punya!" Mata Rose bergerak menuju wanita yang berusia satu tahun lebih muda darinya. Wanita yang menjadi sumber kehancurannya.
Brak...
Leo memukul meja dengan keras hingga membuat mereka semua terkejut kecuali Rose. Dia bahkan tak bereaksi apapun melihat Leo seperti itu.
"Jangan melampaui batas Rose. Ayah tidak pernah mengajarkan mu menjadi wanita serakah seperti mu!" Geram Leo.
"Cih" Rose memalingkan wajahnya dengan senyum kecut.
"Apa Ayah tidak pernah bercermin?" Rose membalas tatapan mata Ayahnya.
"Justru aku memiliki sifat serakah seperti ini dari Ayah!" Balasnya dengan senyum mengejek. Sekilas terlihat tatapan mata seperti orang jijik melihat sebuah kotoran yang ada di hadapannya.
"Kenapa Ayah? Bukannya Ayah juga laki-laki yang serakah? Ayah sudah punya istri dan anak, tapi Ayah justru menjalin hubungan dengan gundik sampai punya anak. Apa itu bukan serakah namanya?!"
Deg...
Hilda langsung memegang dadanya yang terasa nyeri. Rasanya sakit sekali saat Rose menyebutnya sebagai gundik. Dia memang salah, tapi Hilda tak menyangka jika sampai bertahun-tahun lamanya, Rose tidak bisa memaafkannya meski dia sudah berkali-kali minta maaf.
"Kau!!!!" Leo berdiri menunjuk putrinya yang duduk begitu jauh darinya.
"Tidak perlu bangun Yah, aku sudah selesai. Aku yang akan pergi!" Rose menyela lebih dulu sebelum Leo menceramahinya dengan begitu panjang.
Hal seperti itu sudah sering terjadi, makanya Rose seudah begitu hafal dengan apa yang akan Ayahnya lakukan setelah ini. Dia pasti akan didalah-salahkan oleh Ayahnya dan juga seluruh keluarganya.
Ahhh, keluarga. Bahkan Rose tidak pernah merasa punya keluarga lagi setelah Neneknya meninggal tiga tahun yang lalu.
Rose berjalan keluar dari istana megah yang bagaikan neraka baginya. Sampai saat ini dia masih bertahan di sana hanya karena dia tak ingin kluarga gundik menguasai semuanya. Dia bertahan karena tak ingin Hidan dan putrinya bahagia. Dia ingin menjadi membuat Hilda dan Karina seperti tinggal di neraka sama seperti dirinya.
Rumah itu adalah satu-satunya tempat tang menyimpan banyak kenangan antara Rose bersama Ibu dan Neneknya. Jadi meski hidup Rose tak tenang berasa di rumah itu, dia akan mencoba untuk bertahan di sana sampai Rose benar-benae sudah tidak tahan lagi.
Tepat saat kaki Rose sampai pada ambang pintu, dia berpapasan dengan Arsen. Pria yang menjadi kekasih adik tirinya itu.
Rose sama sekali tak peduli. Dia melewatinya begitu saja tanpa menyapa ataupun menoleh hingga membuat Arsen keterangan.
"Apa dia sudah gila?" Gumam Arsen karena Rose seolah tidka melihat dirinya meski mereka berpapasan di depan pintu.
Tak...
Bunyi heels Rose terdengar nyaring saat dia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap Arsen dari atas sampai ke bawah.
Arsen gang ditatap seperti itu mendadak menjadi gugup.
"Justru aku yang harus bertanya. Apa kau tidak punya pekerjaan sampai-sampai setiap hari harus mengantar-jemput kekasihmu itu?"
"Bukan urusan mu!" Balas Arsen dengan sinis.
"Kalau begitu, kenapa kau mengomentari sikap ku? Aku rasa kau yang gila, atau sebenrnya kau tertarik padaku?!" Rose tersenyum meledek pada Arsen.
"Kau!" Arsen tampak tak Terima namun Rose sudah lebih dulu menjauh darinya tanpa rasa bersalah sama sekali karena sudah menghina Arsen.
"Kenapa? Masih memikirkan Rose?" Leo mendekati Istrinya yang hanya diam melamun sejak tadi.
"Tentu saja. Biar bagaimana pun, akulah penyebab semua ini. Dia tidak akan jadi wanita yang keras seperti itu kalau bukan karena ku!" Hilda menunduk, air matanya perlahan-lahan mulai menitik di wajahnya hang mulai timbul kerutan halus.
"Andai saja dulu aku pergi jauh darimu, pasti sekarang tidak akan seperti ini. Melisa juga pasti masih hidup. Ini semua salahku!" Bertahun-tahun Hilda dihantui rasa bersalah. Setiap hari pula dia mencoba menebus kesalahannya itu dengan memperlakukan Rose selayaknya anak kandungnya sendiri. Tapi Rose sama sekali belum memaafkannya sampai detik ini.
"Ini bukan salahmu. Andai saja dulu aku lebih keras lagi menolak keinginan Ibu untuk menjodohkan ku dengan Melisa, pasti pernikahan itu tidak akan terjadi. Kita akan tetap sama-sama tanpa harus berpisah karena pernikahanku dengan Melisa!" Leo memeluk menarik istrinya untuk bersandar pada bahunya.
"Kamu tidak salah dalam hal apapun. Aku yang memaksa mu menjalin hubungan di belakang Melisa. Tapi dia juga salah karena dia datang ke dalam kehidupan kita. Dia yang memisahkan cinta kita. Jadi jangan lagi menyalahkan dirimu!"
Leo dan Hilda dulu menjalin hubungan semenjak kuliah. Mareka saling mencintai dan mempunyai impian untuk menikah. Tapi sayang, orang tua Leo Martinez tidak merestui hubungannya dengan Hilda karena mereka sudah menyiapkan jodoh untuk Leo, yaitu Melisa.
Wanita yang tidak disukai oleh Leo karena selalu mengejarnya. Leo tidak suka dengan Melisa yang menurutnya begitu murahan.
Leo dulu sempat memberontak, dia sempat pergi dari rumah dan mengajak Hilda pergi jauh. Tapi sayang, Ibunya Leo berhasil menemukan Leo.
Dengan berbagai ancaman yang diberikan Ibunya untuk menyakiti Hilda dan keluarganya, akhrinya Leo menyerah. Dia menerima perjodohannya dengan Melisa. Di saat itu pula, Hilda sempat menghilang setelah pernikahan Leo dan Melisa.
Sementara hubungan yang tidak didasari dengan cinta membuat rumah tangga Leo dan Melisa bagaikan neraka. Leo memperlakukan Melisa dengan dingin dan acuh tak acuh meski Melisa sudah mencoba menjadi istri yang baik untuk Leo. Semua usaha Melisa itu hanyalah sia-sia.
Bahkan Leo tidak sudi menyentuh Melisa sampai akhirnya, Ibunya memberikan Leo obat perang*an. Di saat itu, Leo marah besar keesokan paginya. Dia menyalahkan Melisa atas apa yang terjadi pada mereka meski itu bukanlah salah Melisa sepenuhnya.
Hubungan keduanya pun semakin memburuk. Bahkan saat Leo mendengar kabar kehamilan Melisa, dia pergi menemui Hilda yang telah ia temukan keberadaannya. Mulai dari sana, hubungan Leo dan Hilda kembali terjalin tanpa Melisa dan Ibunya ketahui.
Hilda menggeleng dipelukan Leo. Apa yang Leo katakan itu hanya untuk membenarkan perbuatannya mereka yang salah di masa lalu. Padahal mereka tetap saja salah. Seandainya Hilda ada di posisi Melisa waktu itu, pasti Hilda juga akan merasakan sakit yang luar biasa.
"Sudah jangan pikirkan itu lagi. Semuanya sudah berakhir. Melisa juga sudah pergi, dan masalah anak itu, biarkan saja. Dia memang keras kepala seperti Ibunya!"
"Tapi tolong jangan terlalu keras kepadanya. Dia juga sangat membutuhkan mu. Dia juga anakmu, tolong perhatikan dia!" Pinta Hilda dengan tulus.
"Hmm" Jawab Leo hanya dengan bergumam. Sebenarnua dia sudah lelah menghadapi sikap putrinya itu. Meski Leo tau, apa yang Rose lakukan itu hanyalah bentuk pemberontakan.
🌺🌺🌺
Rose selalu menjadi pusat perhatian dimana pun dia berada. Selain karena parasnya yang cantik dan bentu tubuhnya yang sempurna, aura dingin dan tak tersentuh itu membuat Rose begitu misterius, sehingga banyak mata yang begitu penasaran kepadanya.
Semua itu seolah menutupi sikap angkuh dan serakah yang dimiliki Rose. Sudah menjadi rahasia umum jika Rose selalu saja menjadi pesaing untuk adiknya sendiri.
Mereka semua sudah tau kalau kedua saudara itu tidak akur, lebih tepatnya Rose yang selalu mencari gara-gara dengan Karina.
Rose tidak akan pernah membiarkan Karina mendapatkan apapun yang dia inginkan. Saat Karina sudah berjuang mati-matian pun, semua akan dirampas habis oleh Rose. Tak jarang Rose menggunakan cara curang demi mendapatkan apa yang seharusnya Karin miliki.
Karina yang tau alasan Rose memperlakukan dirinya seperti itu, tak jarang memilih mengalah demi hubungannya dengan Rose tidak semakin memburuk.
Tapi Rose tidak peduli akan hal itu. Yang ada di dalam pikiran Rose itu pertama, semua yang Karin inginkan adalah hal yang harus ia miliki. Kedua, Karin dan Ibunya tidak boleh bahagia. Ketiga, membuat hidup kedua wanita itu seperti berasa di dalam neraka.
Namun ada satu hal yang sampai saat ini belum bisa Rose rebut dari Karina, sesuatu yang menurut Rose paling berharga bagi Karin, yaitu Arsen.
Rose sedang memikirkan bagaimana caranya untuk merebut Arsen dari Karina. Bukan karena Rose mencintai pria itu karena Rose tidak percaya cinta, hatinya sudah mati, tapi Rose melakukan itu karena dia yakin Arsen adalah hal yang paling bisa membuat Karin hancur.
Seperti yang Hilda lakukan dulu pada Ibunya, Rose ingin membuat Karin merasakan apa yang Ibunya rasakan.
"Kau sudah siap?"
"Siap Honey!" Jawab Boy, pria gemulai yang menjadi asisten sekaligus sekretaris Rose.
"Aku tidak sabar melihat wajah sok polosnya itu kecewa lagi!" Senyum miring tercetak dibibirnya yang dipoles dengan pewarna bibir berwarna merah.
Wajah cantiknya itu seharusnya semakin cantik jika berhiaskan senyum menawan. Tapi sayang, wajah itu sudah terbiasa begitu dingin tanpa senyum dan ekspresi lain.
"Itu akan jadi hal yang mengenakan honey!" Boy justru tertawa lepas membayangkan hal yang sama bersama Rose.
Rose dan juga Boy langsung memasuki ballroom di perusahaan Mr.Grey karena hari ini adalah hari pengumuman tender yang sedang Rose dan Karin perebutkan.
Seperti biasa, Rose datang dengan keyakinan penuh jika dia yang akan memenangkan tender itu. Orang-orang disekitar mereka pun banyak yang bertaruh kalau Rose yang akan memenangkan tender itu lagi.
Di dalam ruangan itu, Rose melihat Karin yang lebih dulu tiba. Adik tiri yang begitu ia benci itu datang bersama dengan Arsen dan juga asistennya.
Rose tersenyum sinis, rasanya Arsen tak ada gunanya berasa di sana. Pria itu bagaikan a*jing peliharaan yang mengikuti kemanapun Tuannya pergi. Padahal Arsen sendiri memiliki perusahaan, namun masih sempat menemani Karin saat ini.
"Baiklah, karena semua susah datang. Kami akan segera mengumumkan pemenang untuk tender kali ini!"
Semua mata sudah tertuju pada layar besar di depan sana. Termasuk Karin dan juga Arsen.
"Kamu tenang saja, kali ini aku yakin kamu pemenangnya!" Arsen menggenggam tangan Karin. Dia yakin seratus persen karena dia anak dari Mr. Grey adalah teman masa kecilnya dulu. Dia meminta bantuannya untuk meyakinkan Ayahnya agar mempertimbangkan proposal milik Karin.
"Aku sudah bilang sama kamu. Jangan pakai cara kotor. Walau aku kalah, tapi setidaknya aku tidak berbuat curang!" Karin memperingatkan kekasihnya.
"Aku tidak berbuat curang. Aku hanya meminta Mr. Grey untuk mempertimbangkan kamu. Tadi malam anaknya sudah memberitahuku kalau kemungkinan besar Ayahnya memilihmu"
Karin menghela nafasnya, tetap saja dia tidak suka kalau Arsen sampai membujuk kliennya untuk menerima proposal darinya. Dia ingin bersing secara bersih, bukan dengan hal kotor seperti yang biasanya Rose lakukan.
"Kita lihat saja, wanita angkuh itu tidak akan memang kali ini!" Gumam Arsen.
"Mr. Grey telah memutuskan untuk bekerja sama dengan Nona Roselina dari LM Corp!"
Suara tepuk tangan langsung menggema di dalam ruangan itu.
"A-apa? Kenapa bisa?" Arsen benar-benar terkejut. Dia tak percaya kalau Rose lagi-lagi berhasil mengambil apa yang Karin inginkan.
"Sudahlah sayang, mungkin aku masih perlu mengevaluasi proposal ku lagi!" Karin menerima semuanya dengan lapang dada.
"Tapi aku yakin dia pasti menggunakan cara kotor seperti biasanya!" Arsen menatap Rose dengan tajam yang dibalas oleh Rose dengan senyum mengejek yang begitu khas.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!