"Mbah, buat wanita ini mencintaiku. Buatlah dunianya hanya menatapku, siang malam terbayang-bayang wajahku. Buat dia melupakan apapun kecuali aku! Bila perlu, buat suaminya mati!"
Seorang wanita paruh baya tercengang mendengarkan permohonan pria muda yang baru saja datang itu.
Sedangkan suaminya yang duduk bersila di sampingnya tersenyum sinis. "Apakah kamu sanggup menerima akibatnya?"
"Ya! Apapun itu." jawab pemuda itu cepat, keringat masih mengucur menelusuri pelipisnya yang putih di tumbuhi anak rambut yang ikut melepek.
"Le, Mbah rasa ada banyak gadis yang menyukai mu. Mengapa harus istri orang?" sela istri dukun sakti memandangi wajah tampan si pemuda.
"Aku hanya ingin dia." jawabnya.
Mereka bertatapan tanpa berkedip, saling menyiratkan niat dan keyakinan atas keraguan istri dukun yang di datanginya dengan susah payah.
Pemuda itu telah melewati hutan dan tersesat cukup jauh, berputar di area yang sama hingga lelah letih, sakit lututnya. Dia tidak menyerah bahwa sempat bertemu kuntilanak dan mengikutinya hingga. sampai di gubuk tua sang dukun sakti.
"Aku sudah memikirkannya sejak lama. Aku juga tidak akan main-main, aku ingin menikahinya."
Pria tua itu mengangguk, sedangkan wanita paruh baya yang merupakan istrinya itu menggeleng, gelisah menatap pria muda yang begitu nekat karena cinta.
"Baiklah."
Dukun sakti itu mulai berkomat-kamit sambil memejamkan matanya. Selembar foto yang di berikan pria muda itu mulai di letakkan memutar diatas asap dupa yang berbau menyengat. Dia begitu fokus Hingga beberapa saat kemudian, ritual yang dilakukannya usai, asap yang menyeruak pun kini menyusut dengan sendirinya.
"Bawalah kelopak-kelopak bunga ini, campurkan dengan air ini dan siramkan ke sekitar rumah perempuan yang kau cintai itu." Memberikan botol berisi air dan kelopak bunga di dalam kantong hitam terbuat dari kain.
"Baiklah Mbah." pemuda itu menyimpan botol plastik dan kelopak bunga ke dalam tasnya.
"Bantulah dia, dan bersabar."
Pria bernama Dion itu terdiam, mencerna ucapan dukun sakti yang didatanginya atas rekomendasi temannya itu.
Bukankah dia datang ke sana lantaran tidak sabar ingin mendapatkan wanita pujaannya?
Dion pun mengangguk. "Kalau begitu saya permisi." Dia menyelipkan amplop cukup tebal ke tangan istri Mbah dukun, lalu berpamitan meninggalkan rumah sederhana itu.
"Pak?" panggil istri si dukun, ia terlihat gelisah memandangi pria muda yang terus berjalan menuju jalan raya yang lumayan jauh.
"Biarkan saja." kata suaminya, menoleh istrinya dengan lembut.
"Tapi, perempuan itu punya suami."
Mbah dukun bernama Suropati itu mengelus jenggotnya yang panjang sambil memandangi jalan setapak yang telah kosong di depan rumahnya.
"Biarkan takdir yang bekerja, perempuan itu sedang kelelahan menghadapi serangan tak kasat mata. Lahir batinnya sedang di tindas, orang terdekatnya adalah musuh yang sebenarnya. Aku kasihan. Dan pemuda itu...."
"Kenapa Pak?" tanya perempuan itu lagi.
"Dia tidak akan mampu melupakan perempuan itu meskipun kita menolak niatnya. Dia telah mencintai perempuan yang memiliki pengasihan alami, hatinya sudah terkunci. Perempuan itu adalah pemilik weton Wage, Tibo Loro."
Sang istri pun tersentak hingga matanya terbelalak. Ingatannya menerawang jauh ke masa lalu. Mata tuanya mendadak berkaca-kaca.
***
27 tahun yang lalu.
*
*
*
Oweee....
Oweee....
Oo, oowe...
Suara tangisan bayi terdengar nyaring membelah kegelapan, suara jangkrik dan burung berbisik samar, tidak mengencangkan suara seperti malam sebelumnya. Cahaya rembulan tampak remang dari arah barat, menyinari rumah panggung sederhana berdiri di tengah perkebunan kopi. Dua hektar lahan itu di kelilingi belukar dan hutan, deru sungai pun tak ketinggalan menjadi nada di setiap malam terdengar terang.
"Anak kita perempuan Dek."
Suara seorang pria terdengar bergetar menahan kebahagiaan atas kelahiran sang putri.
"Huh! Aku lelah, Mas." jawab istrinya, sempat membelai wajah bayinya, lalu memejamkan mata sejenak.
Suaminya itu mengangguk, membiarkan sang istri beristirahat setelah ibu mertuanya membersihkan bagian bawahnya. Sedangkan bayi mereka langsung di selimuti dengan kain dan di bawa ke sudut ruangan untuk di bersihkan di dalam baskom berisi air kelapa.
"Mau dimandikan Mbok?" tanya perempuan paruh baya itu mendekati dukun bayi, meletakkan lampu teplok lebih dekat, agar jelas melihat cucunya yang menggeliat.
"Dibersihkan sedikit." jawabnya, mengusap-usap tubuh bayi mungil itu dengan hati-hati. "Sebentar lagi subuh, mandinya setelah ada sinar matahari saja, Adem."
Dukun beranak itu, segera mengangkat bayi mungil itu kemudian menggulung tubuhnya dengan kain jarik, jadilah bayi mungil itu seperti kepompong yang nampak hanya wajahnya saja.
"Sini Mbok, biar saya peluk. Dia pasti kedinginan." pinta Bu Lasmi.
Belum juga di berikan kepada sang nenek, bayi mungil sudah menangis kencang.
"Cup-cup-cup. Sayang, ojo nangis Cah ayu... Jangan nakal ya." begitulah suara sang nenek menghiburnya.
Satu Minggu sudah berlalu, Syukuran kecil-kecilan di laksanakan meskipun hanya dengan bubur merah putih dan nasi bakul berisikan telur beserta bacem tempe, Tak lupa sepotong ayam kampung hasil peternakan sendiri ikut di goreng dengan bumbu khas asin manis.
"Kamu bagikan pada tetangga." titah sang ibu mertua.
Pria bernama Rudy itu mengangguk, meraih beberapa besek nasi yang sudah di tata ke dalam tas besar dari bambu. Ia pun pergi menuju sungai, mengantarkan besek-besek berisi makanan itu kepada tetangga yang berada di seberang sungai.
"Alhamdulillah, dapat rezeki dari cah ayu." sambut seorang ibu menyambut gembira besek berisi makanan itu.
"Mohon doanya, semoga putriku menjadi anak pinter Bude." ucap Rudy dengan wajah sumringah bahagia.
"Pasti, Bude doakan yang baik-baik. Jenenge sopo Le?" tanya ibu tersebut.
"Wulan, Bude. Lahirnya subuh Minggu kemarin." jawab Rudy.
"Minggu kemarin?" tiba-tiba suami Bude Mar itu keluar dan menyela.
"Injeh Pak." jawab Rudy, menyalami pria paruh baya yang baru keluar itu.
"Seng sabar, Selalu berdoa kepada yang maha kuasa. Anakmu istimewa." ucap pakde menepuk-nepuk pundak Rudy.
Sepanjang perjalanan pulang ia memikirkan ucapan pakde yang terasa ambigu. "Maksudnya istimewa itu bagaimana? Apakah anak ku bisa melihat hantu?" gumamnya di dalam hati.
Dia mengait-ngaitkan ucapan pakde Suryo dengan kejadian beberapa malam ini, Wulan selalu menangis di malam hari. Tidur di siang hari dan hanya bisa nyenyak kalau di gendong.
Belum juga sampai di anak tangga, terdengar suara istrinya mengeluh karena Wulan tidak mau tidur di kasur. Lalu tangisan Wulan pun terdengar semakin kencang setelahnya.
"Ada apa Dek?" tanya Rudy kepada istrinya, terburu-buru.
"Wulan tidak mau tidur Mas. Sudah lah semalam terus-terusan menangis, siang juga gak mau lepas. Terus aku istirahatnya bagaimana?" keluh Ratih.
Rudy mengambil Wulan yang digeletakkan istrinya di kasur, lalu menggendongnya.
"Mbok ya, cuci tangan sama kaki dulu, biar Ndak sawan." si Mbah muncul dari belakang, mengambil alih Wulan dari tangan Rudy.
"Maaf Mbah." ucap Rudy, namun ia tak kunjung pergi, malah menatap bayinya yang mulai tenang di gendong si Mbah.
"Mbah." panggil Rudy, sedikit melamun karena terngiang ucapan Pakde Suryo.
"Ono opo?" tanya si Mbah.
"Tadi aku bertemu dengan pakde Suryo." Rudy menjeda ucapannya, melirik wajah dukun beranak itu sejenak. "Katanya, Wulan ini lahir di hari istimewa. Dia istimewa, maksudnya bagaimana?" tanya Rudy.
Si Mbah pun menatap pria yang sudah dianggap anaknya tersebut. Perempuan itu mendesah berat, lalu duduk menyandar di samping pintu.
"Apakah anak ku... Berbeda?" tanya Rudy lagi, tak sabar.
Mbah menggeleng, lalu tersenyum tipis namun penuh makna. "Anakmu lahir di hari Minggu, hari yang lebih tua dari hari-hari yang lain. Dan memiliki weton yang istimewa, Wage.
Rudy tercengang, namun kebingungan masih melanda karena dia tidak mengerti. "Maksudnya, Mbah?"
"Dia istimewa dari berbagai sisi kehidupan, baik yang nyata maupun kebatinan. Dia memiliki hati yang tulus, simbol keberuntungan dan keindahan. Di sukai banyak orang, tapi juga dibenci. Selain itu, dia banyak disukai oleh yang tidak nyata. Tapi...."
"Tapi apa?" potong Rudy.
"Ujiannya juga luar biasa." jawab Mbah sambil menghela nafas berat, ia menunduk memandangi wajah mungil di dalam dekapannya.
"Ujiannya Mbah?" lirih suara Rudy bertanya.
Si Mbah mengangguk, lalu melanjutkan ucapannya. "salah satu ujiannya adalah kamu."
Rudy semakin tercengang mendengarnya.
Lima tahun sudah berlalu, kini Ratih kembali melahirkan anak laki-laki. Kekhawatiran Rudy akan Wulan pun tidak begitu terasa, karena hari-hari yang mereka lalui pun tampak biasa saja.
Saat itu Wulan sudah mulai belajar menulis dan menghapal angka-angka persiapan masuk sekolah. Namun beberapa hari ini Wulan demam tinggi sehingga membuat orang tuanya khawatir.
"Mas, tolong jemput Mbah Mirah, aku takut Wulan kenapa-napa." ucap Ratih khawatir, mengelus kening Wulan yang terasa panas. Tapi tak bisa maksimal mengurus Wulan karena Dia baru saja melahirkan.
"Baiklah Dek, kamu jaga Jaka dan Wulan. Aku akan segera kembali bersama Mbah Mirah."
Ratih mengangguk, dan berangkatlah Rudy menjemput Mbah Mirah, dukun beranak yang sudah dianggap sebagai orangtuanya sendiri.
Tak berapa lama kemudian, tibalah si Mbah di rumah panggung itu. Perempuan tua itu menenteng kantong plastik hitam di tangannya.
"Mbah!" Wulan bangkit, duduk di ranjangnya melihat Mbah Mirah datang.
"Nduk, kamu kenapa? Demam?" si Mbah memeluk gadis kecil itu, erat sambil mengelusnya.
Wulan mengangguk, wajahnya pucat.
"Minum dulu ya Nduk." Mbah Mirah membuka tutup botol yang di keluarkan dari kantong plastik.
"Dingin Mbah, langu." kata Wulan, setelah meneguknya beberapa.
Mbah Mirah tersenyum, sambil meminta Wulan kembali tidur dan menyelimutinya. "Ini air temu hutan yang Mbah ambil di dekat jembatan, supaya Wulan Ndak demam lagi, panasnya hilang." ucap Mbah Mirah.
Wulan mengangguk, kemudian kembali memejamkan matanya.
"Rud, ini di rendam saja pakai air matang yang dingin. Nanti kalau Wulan bangun bisa minum lagi." titah Mbah Mirah, menyerahkan potongan tumbuhan mirip bambu, namun seratnya seperti tebu itu kepada Rudy. Tumbuhan yang berkhasiat menurunkan demam.
"Iya Mbah."
Pasangan suami istri itu sungguh lega dengan kedatangan Mbah Mirah. Bukan pasal dia seorang dukun, tapi pengetahuannya tentang obat-obatan sungguh mumpuni.
Namun sepertinya ketenangan Ratih dan Rudy tak berlangsung lama.
"Mbah, jangan pulang." suara cempreng tapi lembut milik Wulan terdengar hingga keluar kamar, Ratih pun masuk ke kamar anaknya, ada apa gerangan hingga Wulan merengek kepada si Mbah.
"Mbah nginap saja malam ini." pinta Ratih.
Ternyata mbah Mirah sedang mengemas kain jarik, memasukkan ke dalam kantong plastik yang tadi di bawahnya.
"Mbah harus pulang Nduk. Perasaan Mbah Ndak enak, kepikiran Mbah Nang mu." kata si Mbah, memang sejak sore terlihat gelisah.
"Tapi ini sudah malam." kata Ratih.
"Nganu Nduk_"
Tiba-tiba suara pintu di ketuk beserta panggilan cukup keras.
"Rudy! Ratih! Buka pintunya!"
Ketiga orang dewasa itu saling pandang seketika, Ratih melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:50 Hampir jam sepuluh, siapakah yang datang?
Rudy segera beranjak dari duduknya, membukakan pintu. "Lho! Mas Anam?"
"Rud, apakah Mbah Mirah ada di sini?" tanya Anam.
"Ada Mas, ada." jawab Rudy, kemudian Mbah Mirah dan Ratih pun keluar melihat siapa yang datang.
"Anam, ono opo?" tanya Mbah Mirah.
"Itu Mbah! Si Wati Mbah." jawab Anam.
"Wati?" tanya Mbah Mirah heran.
"Iya Mbah, dia melahirkan di tengah jalan menuju rumah si Mbah. Tapi..."
"Tapi opo Nam?" desak Mbah Mirah, dia sungguh gugup dan khawatir, pastilah sudah terjadi hal tak baik sampai Anam mencari dirinya.
"Dia sudah meninggal." Jawab Anam.
"Inalillahi... Ya Allah." serentak ketiganya berkata.
"Ayo! Kita ke rumah si Mbah." kata Mbah Mirah.
"Aku antar Mbah." Rudy pun ikut bersama Mbah Mirah.
Perjalanan mereka cukup jauh. Rumput mulai berembun karena cuaca malam, sarung dan celana panjang tak lagi bisa menahan rasa dingin yang menyergap kaki mereka. Namun kaki tua Mbah Mirah tak mau kalah, bahkan jalannya begitu cepat setengah berlari.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketiga orang itu ketika sampai di rumah Mbah Mirah.
"Dar?" lirih Mbah Mirah menyebut nama seorang wanita yang memeluk Wati di teras gubuknya sambil menangis.
"Itu Dia! Perempuan tua yang sudah membuat anak ku mati!" teriak perempuan paruh baya itu menunjuk Mbah Mirah.
"Maksud kamu opo? Aku baru datang karena di jemput Anam?" jawab Mbah Mirah, Melihat sekeliling sudah banyak warga yang berkumpul. Padahal jarak rumah mereka masing-masing cukup jauh, mengingat mereka ada di area perkebunan dan hutan.
"Jangan percaya! Dia sengaja pergi karena tidak mau menolong anak ku. Dia berpura-pura tidak tahu, dia sengaja agar Wati anak ku mati!" perempuan bernama Darminah itu berteriak, menangis sejadi-jadinya.
"Dar! Koe ngomong opo? Mana mungkin aku menginginkan Wati mati! Dia itu keponakan ku!"
"Keponakan kata mu? Kenapa kamu tidak datang, Mas Rohman sudah memintamu datang sejak pagi!"
Mbah Mirah Semakin tercengang. "Rohman Ndak pernah datang! Tadi pagi aku ada di rumah." tegas Mbah Mirah.
"Bohong! Dia bilang, dia tidak mau datang. Dia bilang, dia tidak Sudi menolong Wati karena Wati itu wanita kotor! Dan hamil anak haram!" kata Rohman, suami Darminah.
"Man! Kamu jangan fitnah aku! Aku tidak pernah pergi dari rumah ini sebelum sore tadi Rudy menjemput ku." marah Mbah Mirah.
"Aku tidak fitnah! Aku saksinya!" jawab Rohman.
Jadilah semua warga berbisik-bisik marah, melirik Mbah Mirah dengan sinis.
"Tenang Pakde, tapi Mbah Mirah tidak mungkin seperti itu." bela Rudy.
"Halah! Kamu berkata seperti itu karena dia pilih kasih! Kamu tidak tahu saja, dia menyukai anakmu untuk di wariskan ilmu sesat suaminya!"
Semakin tercengang pula semua orang mendengar ucapan Rohman. Seolah mereka mengetahui rahasia Mbah Mirah dan suaminya yang selalu baik kepada keluarga Rudy selama ini. Semua itu tak lebih seperti kata pepatah, ada udang di balik batu. Meski ada kebaikan, tapi dengan maksud tertentu.
"Rohman! Tutup mulutmu!"
Suara bentakan terdengar memecah keributan, akhirnya suami Mbah Mirah datang. Pria itu baru saja pulang membawa seekor kijang kecil hasil buruannya.
"Nah! Ini dia pria berilmu sesat itu! Lihatlah tangannya penuh darah! Dia sudah membunuh anaknya Wati! Dia sudah menumbalkan anaknya Wati!"
"Benarkah itu?" tanya Pak De Suryo yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Diapun penasaran.
Suami Mbah Mirah tersenyum tipis, lalu melemparkan hewan hasil buruannya yang sudah tak berdaya itu ke Tanah.
"Tidakkah kalian lihat kalau aku baru saja menombak Menjangan muda ini?" ucapnya.
^^^Menjangan \= Kijang^^^
"Itu hanya alasan! Tadi ku lihat lampu rumah ini menyala! Lalu saat aku kembali sudah padam dan anaknya Wati menghilang. Tali pusarnya terputus seperti di potong orang yang sudah ahli. Padahal aku hanya memanggil Anam meminta bantuan. Jangan-jangan, dia berikan kepada hewan junjungannya!"
"Rohman!" teriak Mbah Suro itu mulai naik pitam, dia benar-benar tidak tahu perihal bayinya Wati. "Seburuk-buruknya penampilan ku, aku tidak pernah membunuh manusia!"
"Dia berbohong! Lebih baik bunuh saja dia! Bakar! Dia itu dukun sesat, Jangan sampai dia mengorbankan anak dan cucu kalian!"
Begitulah Rohman dan Darminah terus memprovokasi warga yang berjumlah 20an orang itu.
"Jangan! Suamiku tidak mungkin melakukan hal itu. Aku berani bersumpah!" bela Mbah Mirah.
Namun akhirnya warga yang sejak tadi diam sudah terprovokasi juga, walaupun sebagian tidak ikut memukuli Mbah Suro, tapi mereka hanya diam saja menyaksikan pemukulan dan penyiksaan itu tanpa berniat melerai apalagi menolong.
"Mas Suro, suamiku....! Jangan sakiti suamiku!" teriak Mbah Mirah menyaksikan suaminya mencoba melawan tapi akhirnya kalah dan di pukuli.
Perlawanan Mbah Suro tak mungkin bisa mengimbangi beberapa orang yang lebih muda dan bertenaga, meskipun dia memiliki ilmu bela diri.
Rudy dan Anam berusaha mencegah namun kalah jumlah. Keduanya ikut babak belur di hajar masa.
"Sekarang giliranmu!" ucap Darminah, dia mengangkat sebuah balok kayu lalu memukul Mbah Mirah hingga pingsan, dan terus memukulinya hingga berkali-kali.
"Sudah! Sudah! Mereka sudah tak berdaya." ucap Pakde Suryo, sedikit rasa kasihan menyelimuti hatinya, walaupun tak mampu mencegah lantaran dia sudah tua.
"Bakar! Ayo kita bakar agar ilmunya ikut mati!" seru Rohman.
"Ayo! Ayo! Ayo!"
Tentulah sedikit kata dari Suryo tadi tak mengurangi amukan mereka. Seketika api menyala tanpa hambatan melahap gubuk kayu milik Mbah Mirah dan suaminya itu. Di dalamnya tubuh Mbah suro tergeletak tak berdaya, tak mungkin bisa keluar dari kobaran yang terus menyala karena kakinya sudah patah dan tidak sadarkan diri.
"Mbaaaaaaahh....!!!" Rudy bangkit dengan wajah lebam berdarah-darah, berusaha masuk ke dalam gubuk yang sudah terbakar namun beberapa orang memeganginya.
"Tidak! Jangan!"
"Dia bukan dukun sesat! Dia orang baik! Jangan pukuli Mbah Suro! Jangaaaaaannn!!!"
Bugh!
Sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk Rudy.
"Jangan! cukup kau buat dia pingsan!" Seorang pria lebih tua dari Rudy mencegah Rohman yang ingin menghabisi Rudy. ya, Rohmanlah yang memukul Rudy dan Anam hingga pingsan.
"Hemh!" Rohman mendengus, dia benci Rudy, tapi urusan Mbah Suro belum selesai.
"Biarkan dia mati bersama suaminya. Hahahhaha!" suara tawa Rohman menggema di puncak perbukitan itu, nyala api semakin tinggi, dan Rohman begitu menikmati moment tersebut hingga membuatnya tak henti tertawa.
*
*
*
Matahari mulai menampakkan cahayanya menggantikan cahaya api yang sudah padam. Gubuk kayu yang sudah berdiri puluhan tahun itu kini sudah tidak ada lagi. Berubah menjadi hamparan abu yang menyisakan cerita keji, penyiksaan, dan pembunuhan yang tidak tahu apakah penyebab sebenarnya, ataukah hanya fitnah yang kejam. Yang pasti Mbah suro sudah pergi, Mbah Mirah pun sempat sadar dan berusaha menyelamatkan suaminya, masuk kedalam kobaran api, sehingga keduanya terbakar habis tanpa pertolongan.
Bau sangit dan panas abu menusuk indera penciuman mereka,
"Ya Allah.... Maafkan aku ya Allah..." Rudy yang kini bangun dengan kaki di seret, mendekati abu yang lumayan banyak. ia mengorek abu yang bertumpuk itu, mencari sesuatu sosok yang selama ini begitu baik kepadanya. Namun hanya tumpukan tulang kering yang tersisa.
"Aneh, hanya tulang-tulang saja yang tersisa. Tidak ada tengkoraknya." kata Anam yang juga bangun dalam keadaan kesulitan.
Kedua pria itu kemudian menguburkan tulang-tulang yang bertumpuk itu dalam lubang yang mereka gali dengan cangkul yang tersisa karena terletak di kebun sayur.
"Nam." panggil Rudy, mereka berjalan gontai menuju jalan pulang.
"Ya, Rud." jawabnya.
"Aku merasa kami juga sudah tidak aman tinggal di sini. Bahkan aku tidak tahu keadaan anak dan istriku sekarang." kata Rudy.
"Kalu begitu kita harus cepat. Takutnya, terjadi sesuatu di rumahmu. Rohman itu lebih kejam dari binatang, bahkan yang ku dengar, Wati itu hamil anaknya Rohman." kata Anam.
Rudy terkejutnya mendengar ucapan Anam, namun Sudah terlambat karena Mbah Mirah dan suaminya sudah tewas.
"Andaikan kamu memberitahu aku sejak awal Nam." kata Rudy.
"Maaf Rud, ku kira jalan ceritanya tidak akan seperti ini. Tak ada hubunganya dengan Mbah Mirah dan Mbah suro."
Tapi, seketika Rudy dan Anam saling pandang, menerka-nerka kejadian semalam.
"Apakah Mbah Mirah tahu sesuatu?"
"Tapi, mengapa Mbah Mirah tidak bicara?"
Keduanya pun memutuskan segera pulang meskipun nafas terengah-engah. Dan tiba setelah hampir satu jam perjalanan.
"Rud, di rumahmu banyak orang." kata Anam, keduanya segera berlari mengerahkan sisa tenaga.
"Aku mohon jangan usik Ratih dan anak-anaknya, mereka tidak bersalah." ucap Pakde Suryo yang ternyata sudah ada di sana. Pria tua itu tampak pasang badan melindungi Ratih dan kedua anaknya yang menangis ketakutan.
"Dia adalah orang yang paling dekat dengan Suro, sudah pasti dia akan menuntut balas atas kematian mereka! Terutama dia, dia pasti sudah di tandai untuk mewariskan ilmunya!" Rohman menunjuk Wulan yang menangis tanpa suara di balik tubuh ibunya.
"Tidak! Itu tu benar!" jawab Ratih, memeluk Jaka, menutupi tubuh mungil Wulan dengan dirinya.
Tak selesai di rumah Mbah Mirah, di rumah Ratih pun pria itu masih tampak seperti preman yang ingin menghabisi semua orang, sudah pastilah karena Ratih adalah orang yang tidak di sukainya.
Bukan, sebenarnya bukan benci yang dia rasakan, dia sempat menyukai Ratih namun di tolak, rasa sukanya berubah menjadi dendam. Hingga akhirnya saat ini tiba untuk membalas. Terutama Mbah suro yang tidak mau memberikan ilmu pelet kepadanya. Begitulah awalnya, dan kematian sebagai balasan akhirnya. Pun yang diinginkan terhadap Ratih, dia tidak rela Ratih hidup bahagia.
"Sepertinya, kau yang harus lebih dulu ku habisi!" kata Rohman.
"Jangan!" pakde Suryo merentangkan kedua tangannya, melindungi Ratih dan anak-anaknya.
"Berani kau sentuh istriku, akan ku habisi kau!"
Rohman menoleh, sedikit sesal di hatinya, mengapa semalam tidak menghabisi Rudy juga.
"Kau pikir, bisa?" dia tersenyum sinis.
"Tentu saja bisa, nyawamu tak lebih berharga dari seekor Anjing. Hanya saja, aku tidak mau mengotori tanganku untuk membunuhmu."
"Kau!" Rohman semakin marah, matanya memerah dan siap mengangkat parangnya.
"Jangan sentuh anak dan menantuku."
Ternyata mertua Rudy datang bersama kedua menantunya yang lain, yaitu kakak iparnya Rudy.
"Ibuk..." Ratih menangis dalam pelukan ibunya.
"Kalau bukan karena mas Tomo semalam datang kesini, ibu tidak akan tahu kalian dalam bahaya." ucap Bu Lasmi.
Tuhan masih menyelamatkan keluarga Rudy. Sungguh pertolongan Allah itu nyata, dimana keadaan sedang genting dan Allah mengirim kakak iparnya Rudy itu datang ke perkebunan mereka karena saudaranya kehilangan sepeda motor, dan pencurinya bersembunyi di sekitar perkebunan itu.
Akhirnya, Rudy meninggalkan tempat itu dan pindah ke kecamatan yang lebih ramai daripada perkebunan. Tempat Ratih dulu berasal, dan mereka tinggal di rumah mertuanya untuk sementara.
Sejak saat itu, mereka sudah tidak tahu kabar orang-orang di perkebunan. Hanya sekilas kabar dari polisi bahwa Rohman sudah di tahan.
Dan Anam? Pria itu juga pergi merantau bersama istrinya selang beberapa hari setelah kepergian Rudy.
Kehidupan baru dimulai meskipun dengan perasaan masih dihantui kejadian mengerikan di perkebunan. Namun berusaha tetap baik-baik saja demi Wulan, demi Jaka, dan demi kehidupan mereka.
Rudy bekerja sebagai petani di ladang mertuanya, jika dulu ia petani kopi yang akan sukses lantaran kebunnya berbuah lebat, kini ia memulai menanam sayur, cabai dan tomat, agar kebutuhan dapur tak perlu membeli selain untuk di jual.
Tak perlu diingat lagi perkebunan kopi itu, pada akhirnya di jual dengan harga murah dan belum sempat menuai hasilnya.
Tahun-tahun berlalu, perlahan masa lalu yang buruk itu kini mulai terlupakan, namun hal yang buruk pula mulai terasa menghantui.
"Aaaaaa.... Ibu, bapaaakkkk...."
Rudy dan Ratih pun berlarian menuju kamar sang anak yang ada di depan.
"Wulan?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!