"bu, aletta pulang! ", ucap gadis remaja yang baru saja pulang dari sekolah. ia berjalan kedalam setelah membuka sepatunya dan menyimpannya di rak sepatu.
" bu..., " teriaknya seraya berjalan ke arah dapur mencari sosok wanita paruh baya yang ia sayangi.
"letta... kenapa teriak-teriak, " sahut ibunya yang tengah berkutat dengan adonan kuenya.
aletta berjalan menghampiri. ia berdiri disamping sang ibu tunggal yang menghidupi keluarga kecilnya dari berdagang kue setelah kepergian suaminya.
"ada pesanan bu? "tanya aletta sambil mencomot sebuah gorengan di atas meja.
"iya, nak. lumayan banyak dari kantor sebelah."
"letta ganti pakaian dulu ya bu. nanti letta bantu, "ujarnya yang berlalu meninggalkan ibunya di dapur menuju kamarnya.
sementara sang ibu terdiam. ia teringat akan kedatangan tamu yang tiba-tiba tadi. dan memperlihatkan sebuah kertas perjanjian antara almarhum suaminya dengan keluarga konglomerat, sahabat suaminya dulu sewaktu masih anak-anak hingga ke perguruan tinggi.
ia bingung dan merasa kasihan dengan putri semata wayangnya. tapi ia juga bersyukur kalau putrinya menikah dengan anak orang terpandang dan hidupnya akan terjamin.
" aku harus bagaimana, Tuhan? rasanya aku menyakiti perasaan putriku yang harapan dan cita-cita nya setinggi langit. tapi kalau tidak bagaimana dengan perjanjian itu." ia merasa dilema. tapi ia harus berbicara dengan putrinya nanti diwaktu yang tepat.
...****************...
"bu..., " aletta berjalan ke dapur setelah mengganti seragam sekolah putih abu-abu nya dan kini mengenakan kaus hitam longgar dan celana baggy pants selutut. aletta terkesan gadis yang tomboy tapi wajahnya sangat cantik kontras dengan kulitnya yang putih mulus dan body bak model dengan tinggi 170cm. rambutnya yang emas kecoklatan sepanjang pinggang nya mengayun lembut ketika ia berjalan. wajahnya yang seperti boneka hidup dengan hidung mungil dan mancung serta Irish matanya yang bening keabu-abuan membuat siapapun pria merasa tertarik. tapi dasarnya aletta si gadis yang acuh, ia seringkali menolak pria-pria yang selalu mendekatinya.
begitu aletta sampai disamping sang ibu, ia langsung meraih adonan dan membentuk nya bulat-bulat.
"eh.. kamu makan dulu sayang. jangan langsung membantu ibu. "
"gak apa-apa bu. letta masih kenyang. tadi di sekolah makan banyak soalnya ditraktir sama si Amoy, " sahut aletta menyebutkan nama sang sahabat kentalnya disekolah.
"si Amoy itu baik banget ya sama kamu. dia gak pernah perhitungan, " ucap bu mimi, ibu aletta.
"namanya juga orang kaya bu. apalah kita ini yang rakyat jelata, " sahut aletta terkekeh kecil mencairkan suasana.
"andai saja ayah kamu masih hidup.., " raut wajahnya bu mimi berubah sendu.
"sudahlah bu. gak baik seperti itu seakan ibu belum rela atas kepergian ayah. cukup kita doakan saja agar ayah tenang di surga."
bu may tersenyum tipis mendengar penuturan putrinya sendiri yang sudah dewasa.
"letta gak mau lihat ibu sedih lagi. kita bahagia sama-sama ya bu. "
tapi ada satu hal yang mengganjal dipemikiran bu mimi. bagaimana caranya dia menyampaikan pesan dari almarhum ayahnya. ia takut membuat sang putri kecewa padanya.
sudahlah. nanti malam saja akan kukatakan pada aletta, pikir bu mimi yang sudah melanjutkan membuat olahan tepung di baskom menjadi kue bulat-bulat.
...****************...
malam harinya.
bu mimi sedang termenung di ruang TV. ia bolak-balik memencet remotnya dengan pikiran yang gusar. tapi ia harus secepatnya mengatakannya sebelum waktu yang ditentukan.
"letta.., " panggil bu mimi ke arah letta yang sedang di sebelahnya
"ada apa bu, " sahut aletta sambil memainkan gawainya.
"ibu ada permintaan menyangkut wasiat almarhum ayahmu, nak. "
letha menghentikan jarinya yang berselancar di gawainya. ia kemudian menoleh ke samping dan menatap wajah ibunya lamat-lamat.
"letta tau dari siang tadi ibu pasti memikirkan sesuatu. kelihatan dari raut wajah ibu. "sahut letta yang memandangi mimik wajah ibunya.
"ini penting nak. " bu mimi menarik napas kemudian menghembuskan kembali dengan pelan.
"ayahmu berwasiat bahwa kamu harus menikah dengan anak sahabat ayah kamu yang di Jakarta. dia seorang kapten pilot. "
aletta terkejut. ia begitu shok mendengar kalimat sakral yang terucap dari bibir ibunya.
"apa bu? menikah! "
"letta belum mau bu. lagian letta masih kecil dan masih sekolah juga kan. " jawabnya dengan lantang.
"tapi ini sudah bulat nak. kalau tidak ibu akan dipidana karena melanggar kontrak perjanjian dengan sahabat lama ayah kamu nak. " bu mimi memohon dengan wajah mengiba.
"tapi bu, letta masih mau kuliah dan memiliki karier. bagaimana dengan sekolah letta bu?"
" itu bisa dirahasiakan letta. sebentar lagi kamu juga lulus. hanya menunggu tiga bulan saja sampai kelulusan SMA kamu, " jawab bu mimi tegas.
"letta menolak bu, " tolak letta dengan wajah yang sudah berubah sedikit tegang.
"tak ada penolakan letta, " ujar bu mimi yang segera bergegas bangkit dan meninggalkan letta yang masih terpaku disana.
sedangkan letta, ia meraup kasar wajahnya. "bagaimana ini? aku tak mau menikah dengan om-om. " tubuhnya ambruk ke sofa.
****
hai.. hai... buat para readers jangan lupa tinggalin pesan, kritik dan sarannya ya. 🥰😘
"hoam..."
letta menguap dan mengucek-ngucek matanya.
pagi ini aletta bangun lebih pagi. ia bersiap-siap melakukan rutinitasnya seperti biasa.
letta menurunkan kaki jenjangnya ke lantai dan berjalan ke arah kamar mandi. ia hendak bersiap-siap pergi ke sekolah.
setelah selesai mandi. ia berjalan ke arah lemari. memakai seragam sekolahnya dan menyisir rambut panjangnya. setelah itu tak lupa ia memakai bedak baby dan liptint berwarna bibir andalannya.
ya.. aletta memang sudah cantik alami. keturunan dari sang ayah yang keturunan Jerman Arab dengan sang ibu nya berdarah Sunda.
"perfect. gue emang cantik banget emang, " sahutnya narsis. kemudian aletta berjalan keluar kamar.
aletta mencari ibunya di dapur. kemudian mendudukkan bokongnya di kursi. "masak apa bu? " sambil melirik kedepan. melihat bu mimi yang mengoseng wajan penggorengan.
"nasi goreng kampung, " jawab bu mimi singkat tanpa menoleh ke belakang melihat sang putri.
"aletta nanti habis pulang sekolah, kamu ada acara tidak? "
"kayaknya gak ada bu. paling kalau gak main sama yola ya langsung pulang bu. "
"baguslah. kamu jangan kemana mana. selesai pulang sekolah harus cepat kembali ke rumah, " ujar bu mimi yang masih saja mengaduk makanannya di wajan.
"ada apa bu? " tanya aletta yang ingin tahu.
"sudahlah.ruruti saja kata ibu. " kemudian bu mimi meletakkan sepiring nasi goreng dengan toping telur ceplok dan irisan tomat dan timun beserta kerupuk di hadapan aletta.
"makasih bu, " sahut aletta yang langsung menyantap makanannya dengan lahap.
setelah aletta selesai sarapan. ia pun bergegas mencuci piring bekas makannya. setelah itu ia meraih tas punggungnya dan menyalimi ibunya. "aletta pergi dulu ya bu. "
"hati-hati bawa motornya. jangan kebut-kebutan," sahut bu mimi memandang sendu putrinya. ia rasanya tidak tega tapi ia harus tegas dan sedikit keras agar aletta tidak berontak dan menyetujui wasiat itu.
aletta yang sudah berjalan keluar hanya mengacungkan jari jempolnya ke atas.
"dasar...anak itu. "
bu mimi berdiam diri menatap kepergian putrinya,"maafkan ibu aletta kalau sudah menyakiti hati kamu. itu semua demi kebaikan kamu nak. " ucapnya ketika aletta sudah menghilang dari pandangannya.
...****************...
SMANSA JAYA BANGSA
brum.. brum.... ckitt..
aletta memarkirkan motor sport merahnya di parkiran. hadiah ulang tahunnya ke 17 empat bulan lalu dari sang ayah sebelum meninggal dunia.
"hai ale, " sapa mona sang sahabat kentalnya aletta.
"hai mon, " balas aletta sambil tersenyum tipis menampilkan lekukan manis di pipi bulatnya. membuat wajahnya semakin terlihat manis dan cantik bersamaan.
"kantin yuk, " mona langsung menarik lengan aletta berjalan menuju kantin.
aletta pun mau tak mau mengikuti sang sahabat yang masih menarik lengannya dengan erat.
tiba di kantin. mona segera duduk dan melepaskan cekalan tangannya. "loe duduk disini. jangan kemana-mana, oke! gue mau pesen makanan dulu, " titah mona pada aletta.
aletta menatap malas. "hm... oke! " sahutnya memberikan jari jempol.
tak lama mona pun sudah duduk disamping aletta. ia menyenggol lengan temannya. "heh.. kenapa loe? lemes banget. biasanya udah petakilan. ada masalah?, " tanya mona menatap wajah aletta dengan serius.
"loe emang sahabat gue banget ya. emang tau kalo gue punya masalah? "
"taulah dari wajah loe yang cemberut kayak jeruk purut itu udah ketebak, kelesss. "
"gue dijodohin, mon. sama om-om tua, " sahut aletta dengan wajah sebal.
"WHAT!! " pekik mona spontan. membuat banyak pasang mata yang disana menatap mereka heran.
aletta mengeplak belakang kepala mona.
plakk
"biasaan lu. gak bisa pelan apa? "
mona mengelus kepalanya yang ditabok aletta, "heheh... maaf ale gue kelepasan. kaget aja gitu seorang primadona sekolah yang banyak menolak pria tiba-tiba dikawin paksa, " ucap mona yang langsung tertawa terbahak-bahak.
"gak lucu, " aletta mendengus. "puas lo melihat gue sengsara. "
"ya kali... seorang elo yang banyak penggemar harus soldout. gimana ya reaksi para fans garis keras lo kalo tau idola mereka dimiliki pria lain, mana om-om pula, " sahut mona sembari terkekeh.
"udah ah. kelas yuk. " ajak aletta yang sudah bangkit berdiri meninggalkan area kantin.
...****************...
"assalamualaikum, bu. letta comeback. "ucap letta yang sudah memarkirkan motor sport nya di samping halaman.
letha mengernyitkan dahi melihat sebuah mobil hitam mewah sudah terparkir di halaman rumah nya.
"ibu ada tamu ya. kok ada mobil mewah disini, "lirih letta yang bergegas masuk ke dalam rumah. ia ingin mengetahui siapa tamu ibunya. dilihat dari mobilnya yang edisi terbatas saja aletta sudah bisa menyimpulkan bahwa tamunya kali ini bukan orang sembarangan.
" bu, " panggil letta yang berjalan menuju ruang tamu. ia menyalimi sang ibu kemudian bergantian ke tamu ibunya yang ada tiga orang itu satu persatu. tapi ketika ia menyalami pria yang duduk di tengah, tangannya diremas kencang membuat letta sedikit meringis namun ia berusaha menutupinya.
"om.. tante. "letta tersenyum manis menyapa tamu ibunya.
" nak letta, duduk dulu sini. ada yang mau kami bicarakan. " sahut seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
letta pun duduk disamping sang ibu, tapi pandangan aletta sedikit aneh dengan pria tampan yang duduk ditengah-tengah pria dan wanita paruh baya tersebut.
'tuh cowok kok serem amat tatapannya. tampan sih tampan, banget malah kayak tokoh fiksi gak ngotak. tapi ngeri njir..., ' batin aletta yang sesekali melirik pria dengan sorot dingin tersebut.
"letta, " sapa pak davian.
"eh.. iya om. "
"apa ibu kamu sudah menceritakan tentang perjanjian almarhum ayah kamu dengan anak saya? "
'ohh...jadi mereka teman ayah' batin letta.
"sudah om. tapi...apa gak bisa dibatalkan om. letta masih sekolah dan juga masa depan saya masih panjang om, " ucap aletta dengan nada tegas tapi lembut.
"kami tidak mempermasalahkan nya nak. kamu juga akan merahasiakan dan akan membiayai semua kebutuhan kamu. termasuk cita-cita kamu untuk masuk ke universitas Pavorit kamu," ujar pak davian.
"dan yang disebelah saya ini adalah calon suami kamu namanya Lucien. "
aletta melotot lebar. ia terkejut melihat sosok pria yang akan jadi suaminya nanti.
"dia seorang kapten pilot nak. jadi kamu nanti akan sering di tinggal oleh putra saya untuk berdinas. kamu gak keberatan kan? " tanya pak davian.
"oh... tidak masalah, om. malah lebih bagus, " sahutnya keceplosan.
"letta...., " tegur bu mimi lirih yang mencubit paha putrinya pelan.
"heheh.. maaf bu. keceplosan, bisiknya ditelinga ibunya.
" maafkan tingkah putri saya ya bu sonya. letta ini memang bicara suka asal, " bu mimi merasa tidak enak pada tamunya.
" gak papa bu mimi. kami maklum kok. namanya juga letta masih remaja pasti sikapnya masih lucu-lucunya, " sahut bu sonya istri pak davian.
sedangkan Lucien menatap geram pada wanita pilihan kedua orangtuanya. 'masih bau kencur, gak ada sopannya sama yang lebih tua'. awas aja ntar jadi istri gue kerjain habis-habisan lu biar minta cerai' batin Lucien.
disisi aletta juga membalas tatapan sengit calon suaminya. 'apa lo lihat-lihat. pen dicolok biji kornea nya kayaknya. pikirnya gue takut sama modelan kayak gitu', batin letta mendumel.
calon pengantin itu saling beradu pandang dan saling membalas dalam tatapan mereka. seakan ada dua pedang yang sedang beradu. sedangkan para orangtua mereka tak mengetahui perang mata antar calon mempelai. mereka sibuk membicarakan tentang persiapan pernikahan anak-anak seminggu ke depan.
kurang 6 hari lagi letta akan resmi menyandang status istri dari Lucien Bryan. letta yang malam ini sedang berada di kamarnya merasa pusing dengan semua keputusan mendadak ini.
"oh.. ayah. kau tega sekali menikahkan aku disaat aku lagi ingin bebas bebasnya, " keluh aletta yang kemudian menjatuhkan dirinya diatas ranjang.
"menikah tak pernah terlintas dipikiran ku. apa ini karma ku karena terlalu banyak menolak pria yang menyatakan cinta padaku. ya ampun.... Amoy, mona, pusing gue, " letta mengacak-acak rambut panjangnya.
"ah... mumpung masih ada waktu enam hari lagi. gue puas-puasin deh main sama Amoy dan mona sebelum kebebasan gue direnggut oleh surat wasiat konyol itu, " ucapnya pelan. letta kemudian bangkit berjalan menuju lemari.
ia mengambil kaos oversize putih dengan celana jeans soft blue kemudian memberi bedak tabur diwajah dan dipoles sedikit pewarna bibir berwarna soft pink.
setelah selesai merias diri. letta mengambil gawainya dan sling bag nya kemudian keluar dari kamar.
"bu... letta mau main ke rumah Amoy ya, " letta meminta ijin pada bu mimi.
bu mimi yang masih menonton siaran TV menoleh. "jangan pulang malam-malam! "
"siap kanjeng ratu, letta pulang pagi, " sahutnya dengan cengiran.
"letta....., " ibunya menggeram dengan wajah kesal.
"iya.. iya bu. letta pulang jam sebelas nanti, " letta berlalu ke arah pintu keluar.
"LETTA..!!" teriak bu mimi garang. ia sudah berdiri sambil bersedekap dada.
letta refleks berlari cepat, "ya udah kalo gak boleh, letta pulang jam satu malam, " sahutnya kencang yang langsung menghilang membuat ibunya geleng-geleng kepala.
"ya ampun mas.... bisa-bisanya kamu menurunkan ketengilan kamu sama letta. "
mimi mematikan siaran TV dan berjalan ke arah taman belakang. ia duduk termenung di kursi panjang dibawah pohon pinus.
"aku kangen kamu, mas. bisa-bisanya kamu malah menjodohkan anak kita dengan pria yang sudah dewasa mas. aku ragu dengan rumah tangganya nanti. bisakah suaminya nanti menghadapi keunikan sikap anak kita, " mimi berkata dengan lirih seorang diri sambil menatap pantulan bulan sabit diatas sana.
sementara aletta yang sudah berada di cafe sinar pelangi bersama dua sahabatnya sedang bercanda ria. ia melupakan permasalahannya sejenak.
"eh ta, BTW... calon suami lo tampan gak sih? " tanya Amoy sambil menyeruput segelas jus jeruk di tangannya.
"banget.....malah gak ada obat deh. Tapi ya gitu ekspresinya kaku kayak robot ai, " papar aletta yang menyenderkan punggung nya di badan sofa.
"sialan lu, robot ai gak tuh, " cibir mona yang sudah terkekeh.
"kalo sama regan, gimana ta. secara dia most wanted sekolah kita juga gak ada obat lho, " ucap Amoy.
"hm...., " aletta mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu nya. "ya... sebelas dua belas sama regan, tapi masih lebih tampan dikit calon suami gue. "
"cie.... berarti sudah mengakui nih, " goda Amoy menarik turunkan alisnya.
"regan buat gue ya. lo kan udah ada calon, " kata mona.
"syalan kalian. kapan regan jadi milik gue. aku tuh paling males sama cowok-cowok. ribet tau gak. eh taunya malah mau nikah dadakan. apes... apes..." letta menggelengkan kepalanya frustasi.
"tapi kalo suaminya tampan spek dewa Yunani gue juga mau letta. mau banget malah. biar ada temen bobok, " ujar mona yang lebih centil itu.
reflek aletta dan Amoy menggeplak belakang kepala mona. dan membuat mona mengerucutkan bibirnya.
"kejam kalian, " mona berpura-pura sedih. ia menghapus ujung matanya dengan jari telunjuknya yang tak basah.
"Moy... malam ini ada balapan gak? " tanya letta
"aku denger sih ada. tapi gak tau siapa yang main. " sahutnya sambil mengaduk-aduk isi piringnya yang tinggal sisa sedikit.
"cepet habisin makanan lo. habis itu kita cabut. " titah letta.
dan diangguki oleh kedua temannya.
...----------------...
dikediaman Lucien.
"ma... emang gak bisa dibatalin wasiat konyol itu ma. aku udah punya lupita ma. gak mungkin aku harus menikah dengan anak ingusan itu, ma, " Lucien merayu sang mama yang sedang santai di kamarnya sedang sang papa masih lembur di kantor.
"keputusan sudah bulat, nak. lupakan lupita. aletta gadis yang baik buat kamu. dan kamu harus bisa menghargai dan mencukupi semua kebutuhannya nanti kalau menikah. "
"tapi, ma. aku tidak mencintainya. aku mencitai lupita ma. aku mohon... "
"tidak bisa Lucien. ini sudah kesepakatan dua keluarga. kita terhutang budi dengan ayah aletta nak. dia dulu mendonorkan sebelah ginjalnya untuk papa dan timbal baliknya papa akan mencukupi anaknya pak bara sampai sukses. makanya papa membuat surat perjanjian itu dan ditandatangani oleh bara, ayah aletta. tapi sayangnya bara tak sempat melihat anaknya menikah dengan kamu. pria tampan dan hebat yang sudah keliling dunia." sonya menatap kagum anak tunggalnya.
"sudahi keliling duniamu nak. kembalilah ke perusahaan bantu papa, " ujar sonya lembut. ia berharap Lucien luluh dan mau menerima permintaannya.
"tidak bisa ma. aku sangat mencintai dunia ku. mengoperasikan tombol-tombol di pesawat sudah menjadi keseharianku ma. kalau aku harus menikahi anak itu, baiklah. tapi jangan minta aku meninggalkan karier penerbangan ku ma, " sahutnya dengan wajah yang sudah berubah dingin. kemudian pergi berlalu meninggalkan ibunya seorang diri.
******
"sialan!! " umpat Lucien di dalam kamarnya. ia berbaring telentang menghadap langit-langit kamar. kedua tangannya dijadikan bantalnya dengan ditekuk ke belakang kepalanya.
"aku tidak bisa melupakan lupita dan memutuskan nya. kemi sudah menjalin kasih sejak tiga tahun lalu dan akan berencana menikah tahun depan. bagaimana aku harus menjelaskan padanya. " Lucien frustasi dan mengacak-acak rambutnya.
"kalau begitu, aku akan membuat pernikahan ini bagai neraka. dan dia akan pergi meninggalkan ku dengan sendirinya, " Lucien tersenyum smirk. ia sudah merencanakan sesuatu di awal pernikahannya dengan aletta.
kemudian tak lama pun Lucien perlahan-lahan terlelap dalam dunia mimpinya.
...****************...
"gawat... kemaleman lagi, " aletta mematikan mesin motor sport nya di ujung gerbang rumahnya. "semoga ibu sudah tidur." ia berjalan mengendap-endap sambil mendorong motor sport nya memasuki halaman dan memarkirkan nya di bagasi.
aletta berjalan jinjit dan perlahan tak menimbulkan suara.
cek lek
aletta membuka pintu perlahan dan melongok kan kepalanya kedalam rumah. ia memantau sekitar dan melihat ibunya tidak ada kuliah menghembuskan napas lega.
hufttt....
"aman.ternyata ibu sudah tidur. "ia mengelus dadanya.
aletta melangkahkan kakinya pelan didalam rumah. ia berjalan hati-hati. namun karena kakinya yang terpleset tak sengaja menyenggol vas bunga kecil di pinggir pintu sang ibu. alhasil bu mimi pun terbangun kemudian keluar.
" siapa? " mimi berjalan dan melihat suasana sekitar yang sepi.
"apa letta udah pulang ya. coba aku cek dulu ke kamar nya. " mimi pun berjalan menaiki anak tangga satu persatu ke lantai dua guna memastikan perasaan nya yang gusar.
sedangkan aletta sudah buru-buru berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di kasur serta menarik selimut sebatas dada lalu memejamkan matanya.
letta yang mendengar suara tapak kaki di lantai berpura-pura sudah tidur dengan nyenyak.
cek lek
kriett.... suara pintu didorong pelan. bu mimi memasuki kamar putrinya.
"syukurlah kamu sudah pulang. ibu khawatir sekali tadi. " bu mimi mengecup dahi letta yang licin itu kemudian keluar dari kamar letta.
"huh.... ",letta menghembuskan napas lega.
" untung aja gue tadi buru-buru ganti. kalo gak udah kena ajian semar mendem gue, " cicitnya sambil terkekeh kecil teringat kalau ibunya suka mengomel disaat ia pulang terlalu malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!