Indonesia
NovelToon NovelToon

CEO Dalam Tubuh Gadis Terlupakan

1. Perubahan Anggun memberi firasat buruk

Sinopsis ...

CEO paling disegani meninggal dan bangun di tubuh Anggun, putri yang sudah dilupakan semua orang.

Bagaimana bisa Anggun mendapatkan kerja sama dengan Alvin?

Dari mana kemampuan bahasa inggris,, oh, dia juga bisa bahasa arab?

Gawat!

Beberapa orang merasa terancam!

Happy reading...

Clek!

Seorang pelayan membuka sebuah pintu kamar yang berada di dekat tempat pembuangan sampah keluarga Baraya.

"Ck,, ck,, pemalas! Seperti babi saja! Bisa-bisanya kau hanya duduk duduk disini dan diantarkan makanan? Bahkan seekor anjing masih lebih tahu cara mencari makanan daripada kau!" Ucap sang pelayan sambil melemparkan makanan ke arah Anggun yang duduk meringkuk di sudut ruangan, menyembunyikan wajahnya di pelukan kedua lengan.

Sudah satu minggu Anggun dikurung di ruangan tersebut, tidak diijinkan kemana-mana oleh ibu tirinya dan hanya diantar makanan seadanya.

Bahkan jika makanan seadanya, yang dilemparkan pelayan barusan hanyalah tulang-tulang ikan dan juga nasi basi yang telah berjamur.

Melihat Anggun yang tidak bergerak, sang pelayan pun menggertakan giginya, dia harus memastikan perempuan itu masih hidup sehingga pelayan itu berjalan menghampiri Anggun dan dengan enggan menggunakan kakinya menggoyang tubuh Anggun.

"Bangun! Dasar Babi malas!" Geram pelayan penuh rasa kesal melihat Anggun yang tampak lusuh dan bau.

Tetapi karena Anggun masih belum bergerak, pelayan itu akhirnya mengambil sebuah gagang sapu bekas dan menggunakan ujungnya menggoyang tubuh Anggun.

"Bagunlah bodoh! Jangan membuang-buang waktuku di sini, aku masih punya banyak pekerjaan!" Bentak sang pelayan.

Pada saat itu, Anggun akhirnya mengangkat kepalanya menatap sang pelayan yang terlihat merendahkannya membuat Anggun geram dan dengan cepat mengulurkan tangannya menarik gagang sapu membuat sang pelayan terkejut.

Brak!

Sekali dorongan, pelayan yang tidak siaga itu tersungkur ke surut ruangan dan Anggun dengan cepat berbalik menutup pintu dan mengunci nya.

Suara kunci yang diputar dari luar membuat sang pelayan terkejut, dia dengan cepat berdiri meraih handle pintu, "buka! Buka! Anggun! Buka pintunya!" Teriak pelayan itu sangat panik kini terkunci menggantikan Anggun.

"Dasar sialan! Kau pikir kau siapa berani berani nya merendahkan ku?" Kata Anggun sambil menggertakkan giginya.

Beberapa menit sebelumnya dia entah bagaimana bisa berpindah ke dalam tubuh perempuan yang bernasib malang ini.

Padahal sebelumnya dia adalah seorang CEO dan meski telah jatuh sakit karena di racun oleh salah satu pesaing bisnisnya, tetapi sekarang dia masih memiliki kesempatan untuk hidup, meski di dalam tubuh perempuan yang telah dilupakan oleh semua orang.

Anggun kemudian berbalik, dan berjalan untuk meninggalkan tempat itu, ia menghentikan langkahnya ketika melihat dua pelayan di dapur saling berbincang satu sama lain menggunakan bahasa perancis.

Anggun menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan kedua pelayan itu sangat menarik dan memutuskan untuk diam diam menguping mereka.

"Sudah 7 hari Nyonya mengurung Anggun si Babi itu di kamarnya, apakah perempuan itu masih hidup?" Ucap seorang pelayan.

"Hidup atau matipun bukan urusan kita, yang penting pekerjaan kita selesai. Lagi pula nyonya dan putrinya sedang sibuk untuk perayaan ulang tahun Nona Berlin malam ini, jadi dia pasti tidak mau diganggu untuk sekedar bertanya tentang Si Babi," ucap pelayan yang lain.

"Hah,,, Aku jadi kasihan pada Anggun, dia sebenarnya pewaris rumah dan kekayaan di keluarga ini, tapi sekarang semuanya dikuasai oleh ibu tiri dan saudara tirinya," ucap sang pelayan.

"Ya,, tidak ada yang tahu bahwa ayahnya akan jatuh sakit, hanya setelah satu tahun pernikahan mereka. Aku dengar hari ini juga bertepatan dengan ulang tahun Putri nyonya, mantan tunangan Anggun akan melamar putri tiri itu."

"Benarkah? Kasihan sekali Anggun, dia pasti akan sangat terpukul setelah mengetahuinya nanti, ternyata semua orang telah menghianatinya. Ya tapi mau bagaimana lagi, itu semua karena dia bodoh. "

"Hm,, itu karena dia terlalu manja sejak kecil, sekarang jadi sulit bergerak sendiri."

 Anggun menghela nafas mendengar ucapan kedua pelayan itu, "di mana perayaan ulang tahunnya?" Tanya Anggun mendekati kedua pelayan tersebut membuat kedua pelayan terkejut.

"Anggun,, bagaimana bisa kau,,," dua pelayan di sana tak menyangka Anggun akan muncul di hadapan mereka, padahal perempuan itu disekap di dalam kamar dan sudah 7 hari hanya diberi makanan basi, tapi masih memiliki tenaga untuk melarikan diri?

"Aku tanya, di mana perayaan ulang tahunnya?" Tanya Anggun sekali lagi dengan nada yang tegas membuat dua pelayan di sana terkejut bahwasanya selama ini Anggun memiliki sifat yang sangat lembut, berbicara pun dengan suara yang begitu pelan, tapi sekarang.... Sungguh berubah!

"Di,, di hotel keluarga. Tapi,, kau,, kau bisa bahasa Prancis dan itu--" sebelum pelayan itu menyelesaikan ucapannya, Anggun sudah mengambil sepotong Sandwich yang diletakkan di atas meja dan sebotol susu lalu pergi dari sana sambil menggigit sandwich tersebut.

"Kau mau ke mana? Tolong jangan mencari masalah, Saya takut Nyonya mungkin akan sangat marah dan akhirnya akan merugikan dirimu sendiri," salah seorang pelayan berlari mengikuti Anggun, tetapi Anggun tidak memperdulikannya dan memilih naik ke lantai atas menuju kamarnya yang kini telah menjadi kamar milik saudara tirinya.

Begitu membuka pintu, Anggun yang sedang menikmati sandwichnya menjadi tidak berselera makan, dia melemparkan sandwich dan sebotol susu ke atas meja dan melangkah mendekati meja rias yang ada di sana.

Seluruh perhiasan Anggun yang sebelumnya merupakan hadiah dari ibu dan ayahnya kini telah dimiliki oleh saudara tirinya dan fotonya yang sebelumnya diletakkan di atas meja rias kini diganti menjadi foto adik tirinya.

"Lancang sekali!" Ucap Anggun mengambil foto di atas meja dan melemparkannya ke sudut ruangan hingga foto tersebut hancur berantakan di lantai.

Sang pelayan sangat terkejut, mereka dalam masalah besar!

"Apa yang kau lakukan? Nyonya akan sangat marah, tolong berhenti--"

"Diam!" Perintah Anggun sambil mengambil beberapa perhiasan dan beberapa uang cash di meja, lalu dengan cepat memasukkannya ke dalam kotak perhiasan besar di sana dan pergi dari tempat itu.

Sang pelayan berusaha menghentikan Anggun, tetapi dia tidak berhasil dan hanya bisa melihat Anggun pergi meninggalkan rumah.

"Kita harus menghubungi nyonya!" Ucap sang pelayan buru-buru kembali ke dalam rumah untuk menghubungi Nyonya mereka.

Sementara itu, Anggun yang meninggalkan rumah kini duduk di dalam mobil yang mengantarnya ke sebuah villa yang terletak di sebelah timur ibukota.

Setelah tiba di villa, Anggun dengan cepat memesan beberapa paket kilat yang langsung diantar ke villa dalam waktu 2 jam.

Setelah membongkar semua paket itu, Anggun pun dengan cepat berganti pakaian, menggunakan perhiasan dan tak lupa menghias diri dengan cantik.

Setelah semuanya selesai, Anggun berdiri di depan cermin, memandangi wajahnya yang baru yang terlihat muda dan bersemangat.

Anggun tersenyum, "tenang saja Anggun, hari ini kita akan memulai pembalasanmu," ucap Anggun pada dirinya sendiri meski ucapan itu sebenarnya ditujukan untuk Anggun yang lama.

Setelah selesai bersiap-siap, Anggun pun turun ke bagasi villa dan mendapati sebuah mobil mewah yang terparkir di sana.

Villa ini memang tidak diketahui oleh ibu tiri Anggun karena villa tersebut tercatat atas nama ibu kandung Anggun.

Brooommm.....

Anggun memanaskan mobil sport mewah di sana, memeriksa kondisi mobil tersebut sebelum melesat meninggalkan villa untuk pergi ke hotel keluarga tempat acara ulang tahun saudara tiri Anggun dilaksanakan.

Setelah tiba, Anggun memarkirkan mobil mewahnya lalu berjalan memasuki hotel dengan langkah penuh percaya diri

Pegawai hotel langsung mengenali Anggun karena dari dulu Anggun sering bermain di hotel tersebut sehingga para pegawai yang telah lama bekerja langsung memperlakukan Anggun dengan sangat baik.

"Nona Anggun, ternyata anda sudah pulang dari luar negeri ya?" Ucap salah seorang petugas hotel yang kemudian membantu Anggun memasuki lift VIP.

Anggun tersenyum, dari ingatan yang ia dapatkan, memang ibu tirinya bersama dengan saudara tirinya telah mengarang cerita bahwa Anggun menghabiskan waktunya untuk berlibur di luar negeri, sementara ayahnya terbaring lemah di rumah sakit.

Intinya, ibu tirinya telah mengarang cerita yang sangat buruk tentang Anggun yang menjadikannya terlihat seperti seorang perempuan yang durhaka terhadap orang tuanya. Meninggalkan ayahnya saat sedang sakit dan memilih bersenang-senang di luar negeri.

"Aku ingin menghadiri pesta ulang tahun saudara tiriku," kata Anggun dengan santai.

"Ya,, Saya akan mengantar Nona muda ke sana," ucap sang perempuan sambil mengigit bibir bawahnya.

Sepertinya akan ada sesuatu menarik yang terjadi karena ada rumor bahwa saudara tiri Anggun telah menjalin hubungan dengan tunangan Anggun, lebih tepatnya dikabarkan sebagai mantan tunangan.

Mereka dengan segera tiba di lantai tujuan dan sang pegawai hotel dengan cepat menunjukkan ruangan tempat ulang tahun digelar.

Anggun dengan cepat meninggalkan pelayan itu memasuki tempat acara, sementara sang pegawai hotel memandangi Anggun dengan mata menyipit.

"Sepertinya rumor yang beredar itu benar, dia meninggalkan ayahnya yang sedang sakit untuk berlibur di luar negeri karena tidak mau repot mengurus orang sakit. Sekarang auranya jadi sangat berbeda," ucap sang perempuan.

"Itu Nona Anggun? Sekarang Dia terlihat sangat berbeda, tidak seperti Nona Anggun yang dulu biasa datang bersama dengan ayahnya," kata pegawai yang lain saat memperhatikan Anggun.

Dengan segera, para pegawai hotel menggosipkan Anggun di tempat mereka.

Sementara Anggun, dia yang memasuki tempat acara memilih duduk di kursi pojokan, mengamati situasi di sekitarnya.

Setelah beberapa saat dan acara belum dimulai, Anggun meninggalkan tempat acara dan memilih pergi kesebuah ruangan yang sudah 100% ia duga menjadi tempat istirahat saudara tirinya.

Benar saja, begitu tiba di ruangan tersebut, dilihatnya saudara tirinya yang bernama Berlin sedang di rias oleh 4 orang penata rias.

"Siapa kau?" sala seorang penata rias bertanya dengan bingung karena sebelumnya Berlin telah memerintahkan agar tidak ada satupun orang yang masuk ke tempat itu.

Berlin yang mendengar pertanyaan sang penata rias pun dengan cepat berbalik untuk melihat Siapa yang datang dan betapa terkejutnya ia ketika melihat kehadiran Anggun di sana.

Berlin secara spontan berdiri melihat Anggun, tak percaya perempuan yang telah dikurung di kamarnya kini berdiri di hadapannya dengan penampilan yang tak pernah ada di bayangannya.

Dari mana Anggun mendapatkan semua barang-barang yang dikenakannya?

Juga riasan perempuan itu, dan semuanya, terasa begitu mustahil!

Entah kenapa Berlin tiba-tiba merasakan firasat tidak enak.

%%%Sebelum lanjut, tekan tombol like dulu kaliya....

2. Tamparan dari Anggun

Entah kenapa Berlin tiba-tiba merasakan firasat buruk.

"Tolong tinggalkan kami sebentar," ucap Anggun dengan suara yang tegas.

Para penata rias berpandangan satu sama lain lalu menatap Berlin untuk melihat reaksi perempuan itu.

"Keluarlah!" Perintah Berlin yang tentunya tidak ingin percakapan mereka didengar oleh para penata rias itu.

Para penata rias tidak berkomentar apapun, mereka dengan cepat meninggalkan Berlin dan Anggun.

"Kau terkejut?" Anggun berbicara setelah pintu tertutup, menatap Berlin dengan ekspresi penuh kemenangan.

Gertakan gigi dari Berlin langsung terdengar dan dengan kesal dia berkata, "bagaimana kau melakukannya? Di mana kau mencuri barang-barang itu?"

"Heh,,," Anggun tersenyum kecut lalu dia mengeluarkan sebuah catatan kecil dari tasnya dan meletakkannya di atas meja, "aku rasa kau dan ibumu sudah puas bersenang-senang selama ini, jadi mulai hari ini aku akan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku!" Tegas Anggun.

"Jangan harap! Memangnya apa yang bisa kau lakukan?! Tidak ada! Akulah yang memutuskan nasibmu!" Tegas Berlin sebelum akhirnya dia menampar pipinya sendiri.

Plak!

Tamparan itu langsung membuat jejak tangan terukir di wajah Berlin dan dengan cepat Berlin membuka pintu ruang rias dan menjatuhkan dirinya keluar.

Brak!

"Akhh,,, tolong!" Teriak Berlin dalam ketidakberdayaannya.

"Apa yang terjadi?"

"Siapa yang melakukan ini?"

Orang-orang dengan cepat menyelamatkan Berlin, sementara Berlin berpura-pura menjadi korban yang tidak berdaya.

Anggun terpukau dengan akting perempuan di hadapannya, hal seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Anggun, jadi saudara tiri yang jahat ini bisa dengan mudah menyingkirkan Anggun.

Tapi untungnya sekarang Anggun yang lama telah menghilang dan sekarang Anggun yang baru telah muncul, dan tidak mungkin kalah begitu saja dari seorang rubah kecil.

Jadi Anggun tetap berdiri dengan tenang, melihat pemandangan di depannya yang dipenuhi sandiwara.

Berlin pun terkejut melihat perubahan Anggun yang begitu luar biasa, bahkan masih tetap tenang dalam situasi seperti itu?

Padahal sebelumnya Anggun adalah gadis yang begitu lemah dan polos, tidak mungkin ekspresinya seperti itu setelah mengetahui dirinya dalam bahaya.

"Dia,,, dia menerobos masuk dan menamparku, hiksss" kata Berlin sambil meneteskan air matanya, memegangi pipinya yang telah bengkak karena ditampar.

"Kau!" Salah seorang staf terkejut, bisa-bisanya ada seseorang yang berani melakukan hal jahat seperti itu pada Anggun yang merupakan putri dari pemilik hotel.

Tetapi ketika orang-orang di sana melihat Anggun, mereka terkejut mendapati bahwa perempuan yang dimaksud oleh Berlin adalah anak kandung pemilik hotel.

"Nona Anggun?" Ucap salah seorang pegawai hotel dalam rasa bingung.

Sekarang harus membela Putri tiri atau Putri kandung pemilik hotel?

Berlin benar-benar kesal melihat orang-orang di sana tampak dilema, tetapi sebelum dia mengatakan sesuatu, seseorang sudah terlebih dahulu datang.

"Apa yang terjadi?" Suara seorang laki-laki berlari menghampiri Berlin.

"Kak Bryan," ucap Berlin langsung merebahkan tubuhnya ke dalam pelukan Bryan dan menangis tersedu-sedu, "hiks,, hiks,,, Aku tidak tahu apa salahku, tiba-tiba kak Anggun datang menamparku dan menganiaya aku," isak Berlin.

"Apa?" Bryan terkejut, setahunya Anggun berada di luar negeri setelah perempuan itu mencampakkan ayahnya yang sakit karena tidak ingin merawat sang ayah, namun sekarang tiba-tiba kembali di hari ulang tahun Berlin dan langsung menganiaya Berlin?

Bryan mengangkat kepalanya, menatap Anggun yang masih berdiri dengan tenang di sana, pria itu cukup terkejut saat melihat penampilan Anggun yang saat ini terlihat luar biasa, sangat berbeda dari Anggun yang sebelum-sebelumnya ia kenal.

Berlin pun terkejut melihat reaksi sesaat Bryan, jelas itu sebuah reaksi kagum.

"Kak Bryan, sakit sekali," kata Berlin kembali menarik perhatian Bryan hingga Bryan kembali menatap Berlin.

"Panggil dokter!" Perintah Bryan pada para staff hotel di sana sebelum akhirnya membawa Berlin ke gendongannya dan hendak pergi dari sana.

Tetapi saat itu Anggun dengan cepat berkata, "tunggu!"

Bryan menghentikan langkahnya dan kembali menatap Anggun dengan ekspresi marah, "apalagi yang kau inginkan? Setelah menelantarkan ayahmu dan juga tunanganmu, sekarang kau ingin menyakiti Berlin?"

Tatapan dingin dari sang mantan tunangan membuat Anggun tersenyum kecut, "kau percaya aku menamparnya?" Tanya Anggun membuat semua orang di sana terkejut.

Kenapa Anggun berkata seperti itu?

"Kak,, kenapa kau..." Berlin kembali terisak digendongan Bryan membuat Bryan semakin marah pada Anggun.

Bryan menatap Anggun dengan tatapan tajam, "hentikan omong kosong mu, memangnya ada orang lain yang akan menampar Berlin? Hanya kau yang akan melakukan hal rendah seperti itu!" Geram Bryan penuh amarah pada Anggun.

Sebuah senyuman muncul di wajah Anggun, dia tahu bahwa selama ini Berlin telah banyak menjebak Anggun dan membuat Anggun terlihat selalu salah dan menjadi wanita jahat di hadapan Bryan, jadi tentu saja pria itu tidak akan mempercayainya.

Meski begitu, Anggun dengan percaya diri berkata, "Jadi kau percaya aku menamparnya? Semua orang bisa melihat bekas tamparan yang ada di wajah Berlin, di pipi kanannya tercetak bekas tangan kanan, tidak mungkin aku menampar pipi kanannya menggunakan tangan kananku 'kan? Hanya ada satu jawaban untuk itu, dia menampar pipinya sendiri!"

Berlin yang mendengar itu langsung menutupi pipi kanannya yang telah lebam.

Bryan pun dengan cepat memperhatikan pipi kanan Berlin, tetapi karena ditutupi oleh tangan kanan Berlin, maka Bryan tidak bisa melihatnya.

Berlin yang cemas pun pun dengan cepat meneteskan air matanya sambil terisak, "Kak Bryan, jangan percaya padanya, tidak mungkin aku melukai diriku sendiri, apalagi hari ini adalah hari ulang tahunku, pestanya akan segera dimulai. Tolong bawa aku pergi dari sini, Aku sangat takut melihat Kak Anggun, Dia mungkin akan menyerangku lagi."

Melihat keadaan Berlin yang tampak sangat menyedihkan, maka mau tak mau hati Bryan tersentuh, pria itu dengan cepat berkata, "jangan khawatir, aku pasti akan melindungi mu."

Bryan hendak pergi dari sana, tetapi kemudian suara Anggun kembali terdengar, "tidakkah aku mendapat kesempatan untuk membersihkan nama baikku dari sebuah fitnahan? Kalian sedih melihat Berlin yang kesakitan, tapi kalian tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku setelah difitnah olehnya!"

Diam-diam Berlin menggertakkan giginya mendengar ucapan Anggun, Kenapa Anggun tiba-tiba jadi sangat berubah seperti ini?

Bukankah sebelum-sebelumnya Anggun yang bodoh itu hanya akan meratapi nasibnya dan tidak memiliki pilihan selain terjebak dalam sandiwara yang dimainkan?

Tepat ketika Bryan merasa bahwa apa yang dikatakan Anggun itu benar, seorang perempuan paruh baya muncul, "Apa yang terjadi?" Tanya Agatha yang merupakan ibu kandung Berlin.

"Ibu,,," isakan Berlin semakin menjadi-jadi saat melihat kedatangan ibunya hingga membuat Agatha menjadi semakin kesal.

Perempuan paruh baya itu menatap Bryan, "bawa dia pergi," ucap Agatha lalu memindahkan tatapannya ke arah Anggun.

Agatha sangat terkejut setelah memastikan sendiri apa yang telah diceritakan oleh salah seorang pegawai hotel yang melaporkan kejadian di tempat itu padanya.

Ternyata benar, Anggun berada di sana dalam penampilan yang tak bisa dipercayai oleh akal sehatnya.

Berhari-hari yang lalu dia telah mengurung perempuan itu demi memastikan seluruh persiapan untuk ulang tahun Berlin berjalan dengan lancar, bahkan Bryan juga telah berbicara padanya tentang niat pria itu untuk melamar putrinya di hari ulang tahun Berlin, jadi dia dengan tegas menyuruh pelayan untuk mengurung Anggun di kamarnya.

Dia juga memastikan sendiri bahwa Anggun benar-benar dikurung di sana, namun sekarang sepertinya ada seseorang yang telah berkhianat di kediaman tersebut.

Tetapi lebih dari itu, dari mana Anggun bisa mendapatkan semua barang-barang mewah yang dipakainya?

Maka tanpa aba-aba, Agatha yang kesal melihat Anggun dengan cepat mengangkat tangan kanannya dan mendaratkan sebuah tamparan di pipi Anggun.

Plak!

Anggun menutup matanya, merasakan rasa sakit di pipinya yang terasa membakar dan perih.

Dengan penuh amarah, Agatha berkata, "Berani-beraninya kau menyentuh putriku! Setelah mencampakkan keluargamu, kau datang untuk mengacaukan--"

Plak!

Agatha sangat terkejut ketika Anggun tanpa aba-aba menampar pipinya, bahkan para staf hotel di sana langsung menutup mulut mereka dengan kedua tangan setelah menyaksikan Anggun benar-benar berani menampar perempuan yang sudah resmi menjadi Ibu sambung Anggun.

3. Bukti kejahatan Agatha di tangan Anggun

Plak!

Agatha sangat terkejut ketika Anggun tanpa aba-aba menampar pipinya, bahkan para staf hotel di sana langsung menutup mulut mereka dengan kedua tangan setelah menyaksikan Anggun benar-benar berani menampar perempuan yang sudah resmi menjadi Ibu sambung Anggun.

Sebelum Agatha sempat berbicara, Anggun lebih dulu berkata, "Beraninya mulut kotormu berbicara! Justru aku penasaran bagaimana bisa ayahku yang sangat mencintai ibuku tiba-tiba menikah denganmu hanya selang 1 bulan kematian ibuku. Lalu hanya satu tahun setelah pernikahan kalian ayahku tiba-tiba jatuh dari tangga setelah kalian bertengkar hebat di malam peringatan kematian ibuku, menurutmu itu semua wajar? Kau bahkan berusaha menyingkirkanku dan menguasai harta keluarga kami dan memanipulasi segala hal demi membuat putrimu bisa mendapatkan tunanganku! Orang yang sebelumnya tidak memiliki derajat seperti kalian apakah benar-benar bisa dipercaya memiliki kemampuan untuk mendapatkan semua yang kalian miliki saat ini jika bukan dengan cara licik memanfaatkan keluarga kami?"

Para pegawai hotel terkejut mendengar ucapan Anggun, perempuan yang biasanya lemah lembut kini terlihat begitu berani!

Agatha yang ada di sana juga sangat terkejut, tak menyangka Anggun akan berbicara seperti itu padanya, bahkan terlebih yang tak bisa ia percayai bahwa barusan dia telah ditampar oleh Anggun.

Agatha dengan kesal melototi Anggun, "omong kosong Apa yang sedang kau katakan? Kaulah di sini yang mencampakkan ayahmu dan pergi ke luar negeri, bahkan mencampakkan tunanganmu sendiri, jadi jangan menyalahkan orang lain, aku sebagai ibumu hanya berusaha memperbaiki semuanya dan mendidikmu selayaknya putriku sendiri! Tapi hari ini kau berani menamparku, maka jangan salahkan aku berbuat kasar padamu!"

Dengan penuh kemarahan, Agatha berbalik menatap para staff hotel di sana, "kurung dia, jangan sampai dia membuat kekacauan di tempat ini!" Perintah Agatha.

"Eh?" Sang manager hotel yang ada di sana terkejut, tidak mungkin dia mengurung Anggun, Putri pemilik hotel itu sendiri.

Tetapi kemudian tetapan tajam dari Agatha kembali menekannya, "cepat lakukan perintahku! Kalian lupa siapa yang memiliki tempat ini?!" Geram Agatha melihat kebimbangan sang manager hotel.

Anggun tersenyum menatap para staf hotel yang tampak bimbang, "kalian tidak dengar? Siapa yang memiliki tempat ini?" Senyuman Anggun semakin lebar saat ia mendekat ke arah Agatha dan berbisik di telinga perempuan itu, "tunggu saja, semua milikku akan ku ambil kembali agar sampah bisa segera kembali ke tempatnya!"

Wajah Agatha dipenuhi amarah saat ia melototi Anggun, "kau..."

"Oh ya, sebelum melakukan sesuatu, sebaiknya kau lihat hadiah yang sudah kuberikan pada Putri mu, itu hadiah ulang tahunnya," ucap Anggun dengan santai, tidak memberi kesempatan bagi Agatha untuk berbicara lebih banyak lagi.

Alis Agatha berkerut, ia menatap Anggun yang menjauh darinya dengan rasa penasaran tentang apa yang dimaksud oleh Anggun.

Manager hotel yang ada di sana melihat arlojinya dan dengan hati-hati berkata, "Nyonya, para tamu sudah hadir semua, jadwal acara juga--"

"Tunda 10 menit," ucap Agatha sebelum melangkah meninggalkan tempat itu, ia segera pergi mencari putrinya.

Perempuan itu menemukan Berlin berada di kamar VVIP hotel tersebut dengan ditangani oleh seorang dokter kecantikan dan juga beberapa penata rias yang telah berpindah tempat ke sana untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

"Semuanya baik-baik saja? Ibu dengar kau ditampar perempuan jalang itu?" Tanya Agatha pada putrinya saat ia menarik kursi dan duduk di hadapan putrinya sambil memperhatikan wajah Berlin yang memiliki bekas tamparan di sana.

"Aku menampar diriku sendiri untuk memberinya pelajaran, ibu sudah mengusirnya kan?" Tanya Berlin membuat para perempuan di sana terkejut bahwa memang benar Berlin sendirilah yang menampar wajahnya, tetapi para perempuan yang bekerja sebagai dokter dan penata rias itu tentu saja tidak berani berbicara apapun dan hanya diam saja.

"Kau itu bodoh atau apa? Ini hari ulang tahunmu, tapi kau malah menampar wajahmu sendiri? Di mana Bryan?" Tanya Agatha yang cemas brain mungkin telah mengetahui bahwa sebenarnya Berlin menampar dirinya sendiri.

"Aku menyuruhnya pergi, tidak mungkin aku membiarkan dia melihat bekas tamparan ini. Tapi Ibu sudah memastikan perempuan itu dikeluarkan dari hotel ini kan?" Tanya Berlin.

"Ibu akan memastikannya, katanya dia memberikan sesuatu padamu, di mana benda itu?" Tanya Agatha.

"Sesuatu?" Berlin merogoh sakunya, mendapatkan sebuah catatan kecil dari sakunya dan membukanya.

Agatha mendekati arah sang putri dan ikut melihat Apa isi catatan tersebut.

Ternyata sebuah akun penyimpanan file dan sandinya membuat Agatha dengan cepat meraih laptop yang diletakkan di atas meja dan membuka internet.

Setelah memasukkan kode pada catatan, mulut Agatha terbelalak dan matanya melotot saat ia melihat isi file di dalam kotak tersebut.

"Ibu, jadi hari itu Ibu sengaja mendorong ayah dari tangga?" Berlin bertanya dengan wajah penuh ketakutan melihat isi file tersebut ternyata adalah rekaman CCTV di rumah mereka Saat kejadian ayah Anggun jatuh dari tangga.

"Ini tidak mungkin!" Suara Agatha gemetar ketika ia kembali memutar rekaman yang ada pada file tersebut.

Namun berapa kali pun Agatha memutarnya, tetap saja hasilnya sama, bukti kejahatannya terekam dengan jelas!

Berlin juga sangat cemas, ia menatap sang ibu sambil berkata, "Anggun memiliki rekaman itu, kalau begitu--"

"Tidak! Ini pasti direkayasa! Jelas-jelas hari itu Ibu telah mematikan semua kameranya!" Ucap Agatha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada kamera yang aktif di hari tersebut.

Tetapi rekaman yang ada di hadapannya ini membuat dirinya semakin cemas seolah-olah dia sudah tergantung di tepi jurang dan hanya berpegangan pada seutas tali yang rapuh!

Bergerak sedikit bisa langsung jatuh ke jurang tak berdasar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!