Di puncak Gunung Lembah Sunyi, sebuah gubuk tua berdiri tegak, tampak kokoh meski hanya terbuat dari kayu dan bambu kuning.
Seorang pemuda, usianya sekitar dua puluh lima tahun, duduk di atas dahan pohon. Pandangannya lurus ke kejauhan, menembus kabut lembah di bawah sana.
"Guru."
Menyadari gurunya mendekat, pemuda itu segera melompat turun. Ia menghampiri sosok pria tua yang telah merawatnya selama dua puluh tahun itu.
"Uhuk!"
"Uhuk!"
Tiba-tiba, pria tua itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Gu-Guru, apakah Guru baik-baik saja? Kenapa Guru keluar?"
Kekhawatiran langsung merayapi wajah pemuda itu. Baru beberapa bulan lalu ia tahu bahwa gurunya menderita racun dingin yang telah bersarang selama puluhan tahun. Ia menyesal karena gurunya sengaja menyembunyikannya, baru terungkap saat pria tua itu tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Guru, biarkan aku memeriksa."
Pemuda itu sigap membantu gurunya duduk bersila. Ia mulai mencoba mengalirkan energi untuk menahan racun agar tidak menyebar lebih jauh.
Setelah beberapa saat, ia menatap gurunya dengan tekad membara. "Guru, izinkan aku turun gunung mencari obat penawar racunmu."
"Anak bodoh," timpal pria tua itu, suaranya serak. "Racun di tubuhku adalah racun dingin bawaan turun-temurun. Hanya Bunga Teratai Giok berusia seratus ribu tahun yang bisa menawarnya."
Pria tua itu tersenyum pahit. "Di zaman ini, butuh keajaiban untuk menemukan harta berharga seperti itu."
Sejujurnya, ia telah berumur ribuan tahun, satu-satunya ahli kultivasi yang berumur panjang berkat sebuah kitab misterius yang ia temukan. Kitab itu memberinya metode memperpanjang umur hingga ia bisa bertahan sampai era modern ini.
Namun, pada akhirnya, metode itu pun tak sanggup menghentikan racun dingin bawaan dalam tubuhnya.
"Guru, meski harus keliling dunia sekalipun, aku pasti akan menemukannya untuk menyembuhkanmu!" Pemuda itu meyakinkan dengan wajah tegas.
"Anak bodoh. Kalau pun kamu pergi mencarinya, hanya mayatku yang akan kamu temui saat kamu kembali." Pria tua itu menggeleng. "Sudahlah. Suatu keberuntungan bagiku bisa bertahan sampai saat ini."
"Uhuk!"
"Uhuk!"
Ia kembali memuntahkan seteguk darah.
"Guru, apa yang Guru bicarakan? Bagaimana kalau kita turun gunung dan mencari seseorang yang bisa mengobati Guru?" Dengan wajah memelas, pemuda itu memohon agar ada jalan untuk menyelamatkan gurunya.
Pria tua itu menggelengkan kepala, lalu sedikit memukul kepala pemuda itu. "Bodoh. Di zaman ini, selain aku, siapa lagi yang menguasai keahlian penyembuhan sehebat ini?"
"Tap-tapi, Guru...?"
Pemuda itu terdiam. Ia tidak meragukan keahlian gurunya. Selama dua puluh tahun, ia telah menyaksikan kehebatan gurunya yang sebagian besar telah diturunkan kepadanya. Menurut gurunya, keahlian yang ia pelajari—yang berasal dari zaman ribuan tahun lalu, di mana orang-orang hebat menjunjung tinggi kultivasi—tidak akan ada yang bisa menandingi di masa sekarang, kecuali gurunya sendiri.
Awalnya, pemuda itu sulit mempercayai bahwa gurunya berasal dari zaman dulu dan berumur ribuan tahun. Namun, seiring dengan keahlian luar biasa yang diajarkan padanya, yang awalnya ia anggap di luar nalar, ia perlahan mulai percaya.
"Mendekatlah," ucap pria tua itu.
Pemuda itu segera mendekat.
"Guru, ini..."
Rayan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah sang guru menyentuh keningnya. Seketika, serangkaian kenangan—ingatan yang dulu diambil gurunya dari jasad ayahnya, bercampur dengan ingatan sang guru selama ribuan tahun hidup—berputar cepat di kepalanya.
Namun yang membuat rayan langsung berlinang air mata, ketika sebuah kejadian yang menimpa keluarganya jelas berputar di kepalanya, apalagi ketika melihat apa yang di lakukan oleh salah satu bajingan itu pada ibunya,
Rayan menggeretakan giginya, mengepalkan tangannya.. Dan bersumpah akan mencari dalang dari perampokan dan pembantaian di desanya itu,
"Itu adalah ingatan yang dulu aku ambil dari jasad ayahmu, juga ingatanku selama hidup ribuan tahun. Sekarang, pergilah cari beberapa buruan untuk makan malam."
Pria tua itu diam sejenak, lalu berbalik dan masuk kembali ke dalam gubuk.
"Guru, aku...?"
Pemuda itu memandangi punggung gurunya, perasaannya bercampur aduk. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia urungkan. Dengan langkah berat, ia segera memasuki hutan untuk berburu seperti biasa.
*******
( FLASHBACK: 20 TAHUN YANG LALU )
Di sebuah desa terpencil, terjadi perampokan besar-besaran. Kekejaman para perampok mengakibatkan banyak penduduk menjadi korban. Siapa pun yang mencoba melawan atau mempertahankan harta mereka langsung dibunuh, dan rumah-rumah dibakar habis tanpa terkecuali.
"Siapa kalian?"
Rahengga setyo , seorang pria berusia tiga puluh tahun, keluar dari rumah sederhananya, terkejut mendengar keributan di luar. Tiga sosok tak dikenal baru saja mendobrak pintu rumahnya.
"Jangan banyak bicara. Cepat serahkan semua harta berhargamu, atau kami akan membakar gubukmu ini!" ucap salah satu dari ketiganya, masing-masing membawa kapak di tangan.
..........
"Tolong! Tolong! Ada pembunuhan!"
..........
"Akkhhhh.... Anakku? Bajingan! Kenapa kalian membunuh anakku?!"
..........
"Tidak! Tolong, ada perampokan!"
..........
Teriakan histeris terdengar dari segala arah. Rahengga terpaku, seketika menyadari bahwa tiga sosok di hadapannya bukanlah orang baik.
"Kalian perampok tidak bermoral! Beraninya membuat kejahatan di desa ini!"
Marah Rahengga memuncak, niat membunuh terpancar di matanya. Ia memiliki sedikit keahlian beladiri.
"Terlalu banyak bicara!" Pria yang bicara tadi memberi perintah. "Kalian berdua, cepat geledah semua harta di dalam rumahnya!"
"Bajingan! Berani kalian melangkah, aku pastikan akan membunuh kalian!" raung Rahengga. Ia tak menyangka perampokan sebesar ini terjadi di desa terpencil. Lima tahun lalu, ia diusir keluarganya karena menikahi gadis desa dan terpaksa tinggal di sini, tempat asal istrinya.
"Tidak tahu diri!"
Kedua pria itu langsung menerobos masuk, tetapi dengan cepat dihalangi Rahengga. Pertarungan pun pecah.
"Oh, sepertinya kamu seorang ahli beladiri," ucap pria botak, melihat kedua rekannya berhasil mundur.
"Kalianlah yang tidak tahu diri! Beraninya kalian melakukan kejahatan tak manusiawi di desa ini!" balas Rahengga.
"Hahah... bagus-bagus! Aku pikir di desa ini semua penduduknya lemah," ejek pria botak. "Hanya saja, hanya mengandalkan keahlian beladiri bawaan tingkat tiga sepertimu, memangnya kamu bisa apa?"
Pria botak itu menyeringai. Dengan sekejap, ia bergerak cepat, tak memberi Rahengga sempat bereaksi.
Bam!
Brak!
Uhuk!
"Ce-cepat sekali..." lirih Rahengga, menatap pria botak itu dengan terkejut. Sementara itu, kedua pria lainnya berhasil menerobos masuk ke dalam rumah.
"Akhhhh... si-siapa kalian?" Teriakan perempuan terdengar dari dalam.
"Kalian bajingan!" raung Rahengga. Ia tersadar dua orang itu sudah masuk dan sepertinya membangunkan istri dan anaknya yang sedang tidur.
Wus!
Bam!
Pria botak itu menyeringai, mendengar Rahengga berusaha bangkit untuk menghentikan kedua rekannya.
"Akhh..." Rahengga kesakitan. Kekuatan pria botak itu jauh di atasnya.
"Hahah, bukankah aku sudah bilang? Hanya mengandalkan kekuatanmu saja memangnya bisa apa?" Pria botak itu menyindir. "Lebih baik kamu diam saja dan biarkan kedua temanku mengambil apa yang seharusnya kami ambil. Dengan begitu, kamu akan tetap hidup."
Rahengga menggeretakkan giginya, berusaha bangkit. Namun, pria botak itu kembali menghantamnya hingga tubuhnya terlempar masuk, menghantam meja yang ada di dalam.
"Su-suamiku..."
Seorang wanita, Danira, terkejut melihat suaminya. Ia baru saja dikejutkan oleh dua sosok yang menerobos kamar, dan ia bergegas lari keluar sambil menggendong putranya untuk mencari suami. Kini, ia melihat suaminya terlempar masuk dari pintu depan.
"Ibu..."
Anak berusia lima tahun itu ketakutan, menangis melihat wajah menyeramkan para perampok.
"Kalian bajingan! Aku akan membunuh kalian semua!"
Melihat istri dan putranya ketakutan, Rahengga langsung bangkit, hendak menerjang kedua orang tersebut.
"Daniraa! Cepat pergi dan bawa Rayan lari dari sini!"
Bam!
"Dasar sampah, masih ingin melawan rupanya." Pria botak kembali menghantam tubuh Rahengga.
"Akhhh... ap-apa yang kalian lakukan? Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian masuk dan memukuli suamiku?" Danira histeris. Ia segera menghampiri suaminya, tanpa sadar melepaskan genggaman tangan putranya yang ketakutan.
"Ckck... Aku tidak menyangka ada sosok wanita cantik di desa ini," lirih pria botak, matanya penuh nafsu melihat Danira.
"Uhuk! Hiks hiks... Su-suamiku, ap-apakah kamu baik-baik saja?" Air mata mengalir deras melihat keadaan suaminya yang penuh luka.
"La-lari! Cepat lari!" Dengan sisa kesadarannya, Rahengga berusaha bangkit dan menyuruh istri dan anaknya lari.
"Tidak! Apa yang kamu katakan? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?" Danira tidak tahu harus berbuat apa. Kejadian ini terlalu mengejutkan dirinya.
Pria botak itu geram. "Masih tidak tahu diri? Bunuh dia!" Ia memerintahkan kedua rekannya.
"Tidak! Tidak! Kalian mau apa?!" Danira berusaha melindungi suaminya melihat dua orang itu mendekat dengan seringai.
"Lariiiiii!"
Dengan sekuat tenaga, Rahengga mendorong istrinya menjauh dan menerjang kedua orang itu.
Bam! Bam! Bam!
Beberapa serangan saling beradu, namun pada akhirnya, Rahengga terkena sabetan kapak di kepalanya oleh salah satu dari mereka. Darah langsung mengucur deras. Teriakan histeris Danira menggema.
"Akhhh.... Tidak........."
Plak! Sebuah tamparan keras dari pria botak membuat kesadaran Danira langsung hilang.
"Ckckck... Sungguh wanita yang cantik." Pria botak itu meneteskan air liur melihat tubuh Danira dalam balutan baju tidurnya.
"Kalian berdua, cepat ambil semua benda berharga di dalam rumah ini. Aku akan bermain dengan wanita ini sebentar," ucap pria botak itu, langsung mengangkat tubuh Danira .
"Bagaimana dengan bocah itu?" tanya salah satu rekannya. Pria botak itu menoleh ke arah sudut ruangan, mendapati sosok bocah lima tahun, Rayan, berdiri terpaku, seolah linglung menyaksikan semua yang terjadi.
"Bodoh! Kenapa harus bertanya lagi?" geram pria botak itu. Ia adalah salah satu pemimpin dari organisasi gelap, datang ke desa itu bersama seratus bawahannya untuk merampok.
Usai berkata, pria botak itu langsung membawa tubuh Danira ke dalam kamar. Satu orang berjalan mendekati Danira, sementara yang lain menggeledah barang berharga.
Swusssss!
Sebuah kabut putih tiba-tiba menyelimuti rumah itu, diiringi suara misterius.
"AKU TIDAK BERHARAP DI ZAMAN INI MASIH ADA MANUSIA TAK BERMORAL SEPERTI KALIAN!"
Suara itu penuh hawa dingin menyengat, membuat kedua pria perampok itu langsung terdiam, menggigil ketakutan. Tiba-tiba, sosok pria tua muncul, bagai hantu.
"Si-siapa kamu?" Salah satu dari pria itu bertanya, gemetar.
Pria tua itu hanya menatap mereka datar. Lalu, ia mengibaskan tangannya sembari berkata,
"Pergilah."
Wus!
"Kamu—!"
Bruuuss!
Tanpa sempat bereaksi, kedua pria itu langsung berubah menjadi kabut darah.
"Akhhh..."
Teriakan seorang wanita terdengar dari dalam kamar, membuat pria tua itu langsung menghilang.
Pria botak yang sedang menindih tubuh Danira sambil mencekiknya (karena Danira baru saja tersadar dan terus meronta) pria botak itu mencekik lestari hingga tak bernapas lagi, tetapi bejatnya dia justru masih memaju mundurkan sesuatu di bawah sana dalam ke adaan Danira yang tak bernafas lagi,
"TERNYATA MASIH ADA DI JAMAN INI MANUSIA YANG LEBIH BEJAT DARI PADA BINATANG "
Pria botak itu langsung terkejut dengan kemunculan tiba-tiba pria tua tersebut,
"Si-siapa kamu"
Wus!
Tanpa menjawab, pria tua itu mengibaskan tangannya. Dan Pria botak tersbeut langsung terlempar menghantam dinding dan tewas seketika.
Bruk!
Pria tua itu melirik sekilas ke arah Danira yang terbaring tak bernyawa,"Sayang sekali, takdirnya terlalu kuat."
Mendapati wanita itu telah mati, pria tua itu kembali menghilang dan muncul di hadapan Rayan, bocah lima tahun yang masih berdiri linglung.
"Bocah yang malang."
"Tapi kamu memiliki tubuh bawaan yang selama ini aku cari."
"Hm... Sepertinya Sang Pencipta Alam memberiku keberuntungan." lirihnya.
"Guru, aku sudah menyiapkan beberapa ekor daging kelinci untukmu."
Setelah berhasil berburu, Rayan langsung memanggang buruannya di depan gubuk. Tak berselang lama, aroma sedap masakan matang tercium mengikuti arah angin berembus.
"Guru," panggilnya.
Merasa tidak ada sahutan dari dalam dan gurunya tak kunjung keluar, Ryaan segera melangkah memasuki gubuk.
"Guru?"
Ia memanggil lagi. Dilihatnya sang guru tengah terbaring di atas tikar, matanya terpejam. Kondisinya tampak sangat lemah, dan rayan merasakan suhu di dalam gubuk itu turun drastis, diselimuti dingin yang menyengat.
"Guru!"
Panggilan itu tidak menghasilkan gerakan apa pun. Rayan segera mendekat, dan betapa terkejutnya ia saat menyentuh denyut nadi gurunya: kosong. Pria tua itu telah pergi.
"Guruuuu...!"
"Kenapa—kenapa Guru pergi begitu cepat?! Kenapa Guru tidak memberitahuku!"
Air mata langsung membanjiri wajah Rayan. Ia berulang kali menyentuh denyut nadi gurunya, berharap mukjizat masih ada.
"Hiks, hiks, Guru... bagaimana Guru tega meninggalkanku? Apa yang harus aku lakukan di masa depan?" lirihnya.
Hatinya hancur. Pria tua ini telah merawatnya selama dua puluh tahun, mengajarkannya banyak hal, dan menguatkan dirinya setelah tragedi yang menimpa kedua orang tuanya. Dan kini, satu-satunya sosok pelindungnya di dunia ini telah pergi—meninggalkannya saat ia bahkan tidak berada di sampingnya.
Rayan terus terisak di dalam gubuk. Tepat ketika ia sedang menangis, sebuah suara yang sangat ia kenali tiba-tiba menusuk telinganya.
"Haisssh. Bocah bodoh, mau sampai kapan kamu menangis seperti itu?"
Rayan terkejut hebat. "Guru, ka-kamu...?"
Ia memandangi wajah gurunya, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana."Aneh sekali, aku jelas mendengar suara guru," pikirnya, merasa aneh.
"Guru, maafkan aku jika selama ini aku selalu membebanimu. Aku berjanji akan selalu mengingat semua kebaikan dan pesan-pesan darimu." Rayan berusaha keras menekan kesedihannya.
"Bocah bodoh."
"Eh?"
Rayan tersentak. Suara gurunya terdengar lagi. Tanpa sadar, ia mendongak ke atas.
"Gu-Guru...?"
Ia akhirnya menyadari: suara itu berasal dari gumpalan energi jiwa sang guru yang melayang tepat di atas kepalanya.
"Bocah bodoh, kamu bahkan tidak menyadari kehadiranku," ucap gumpalan energi jiwa tersebut.
"Guru, aku... Guru, maafkan aku..." Rayan tak tahu harus berkata apa.
"Sudahlah, jangan bersedih lagi atas kepergianku. Semua ini sudah menjadi takdir dari Sang Pencipta. Dengarkan baik-baik, muridku. Memiliki murid sepertimu membuatku bisa pergi dengan tenang."
"Jagalah dirimu dengan baik. Manfaatkan semua ilmu yang aku ajarkan padamu untuk kebaikan. Lupakan kebencian dalam hatimu."
"Selama ini aku telah sangat lama hidup di alam ini. Semua tempat di negara ini telah aku jelajahi. Meski kedua orang tuamu telah meninggalkanmu lebih dulu, kamu masih memiliki seorang kakek dan beberapa saudara dari ayahmu yang kedudukannya cukup tinggi di kota. Temuilah mereka, dan mulailah perjalanan hidupmu yang sesungguhnya."
"Tapi Guru, aku—aku tidak mungkin menemui mereka," ucap Rayan. Dari ingatan ayahnya yang telah diberikan gurunya, ia tahu segalanya tentang asal-usul keluarganya, terutama sang ayah yang berasal dari salah satu keluarga terkuat di kota.
"Itu semua kamu yang memutuskan. Waktuku sudah habis. Kuburkanlah tubuhku di bawah air terjun dan ambillah warisan terakhir dariku di balik air terjun itu. Ingat, warisan yang aku tinggalkan itu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki orang lain di zaman ini."
"Dan jangan terlalu menunjukkan keahlian dan kekuatanmu. Karena di zaman ini, semua keahlian yang kamu miliki berada di luar nalar mereka."
"Meski begitu, jangan lupa untuk terus berlatih. Entah mengapa, aku punya firasat akan ada beberapa orang kuat dari alam lain yang datang ke dunia ini."
Ucapannya perlahan meredup. Gumpalan energi jiwa tersebut memudar..
"Aku—aku akan selalu mengingat pesan Guru."
Meskipun ada kebingungan tentang pesan terakhir gurunya, Rayan hanya bisa pasrah melepaskan kepergian gurunya. Air mata kembali mengalir saat ia memandangi senyuman gurunya sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.
"Guru.........?"
*******
Penemuan Warisan
Setelah menguburkan jasad gurunya, Rayan langsung melompat ke balik air terjun. Ia menemukan sebuah ruangan cukup besar. Ia tertegun. Terdapat banyak tanaman herbal, dan sebuah kolam yang di tengahnya terdapat daratan kecil, di mana di atasnya diletakkan sebuah peti berwarna emas.
"Guru benar-benar hebat," lirihnya. Gurunya bahkan bisa menciptakan sebuah ruangan tersembunyi di balik air terjun ini.
Rayan terus memandangi setiap sudut ruangan itu sambil berjalan mendekati kolam.
"Air ini bahkan mengandung banyak energi murni."
Air kolam itu tampak seperti air susu, memancarkan aura lembut.
Rayan melompat ke daratan kecil di tengah kolam tempat peti emas itu berada..
"Guru, sebenarnya aku tidak mengharapkan warisan apa pun lagi darimu. Semua ilmu yang kamu ajarkan sudah lebih dari cukup, dan takkan bisa aku membalasnya."
Usai berkata demikian, rayan perlahan meneteskan darahnya pada peti emas itu. Detik berikutnya, peti itu terbuka, memancarkan sebuah cahaya menyilaukan mata selama beberapa saat.
"Sial, apa-apaan cahaya ini! Kalau saja aku tidak menguasai Mata Kebatinan, mataku pasti sudah langsung buta," gerutunya.
Tak lama setelah cahaya meredup, Rayan melihat isinya: sebuah kitab yang tampak tua, satu senjata berupa pedang, dan Cincin Penyimpanan milik gurunya. Namun, perhatian rayan lebih tertarik pada selembar kertas yang juga ada di dalamnya.
(Muridku, jika kamu membaca surat ini, itu artinya waktuku bersamamu telah habis, dan sudah saatnya kamu mengamalkan semua ilmu yang telah aku ajarkan padamu.)
(Jadilah orang yang bijak dalam menyikapi semua masalah yang akan kamu temui.)
(Aku meninggalkan beberapa harta untukmu. Salah satunya adalah kitab misterius yang membuatku memiliki umur yang panjang, meski pada akhirnya takdir berkata lain.)
(Jagalah baik-baik semua benda yang aku tinggalkan itu. Juga, akan ada rahasia yang kamu temui di kehidupan yang akan kamu jalani.)
(Dan lagi, rendamlah tubuhmu selama beberapa hari di dalam kolam itu. Aku telah mempersiapkannya untukmu.)
(Jaga dirimu baik-baik.)
Tes.
Air mata rayan kembali mengalir saat membaca isi surat itu. Ia tidak menyangka rupanya gurunya sudah mempersiapkan kematiannya sendiri.
"Guru, rahasia apa yang Guru maksud?" pikirnya, mengingat perkataan terakhir gurunya.
Kemudian, rayan mengambil Cincin Penyimpanan gurunya. Gurunya memang pernah mengatakan akan mewariskan cincin itu padanya, dan saat itu ia hanya perlu meneteskan darahnya agar bisa menggunakannya.
Tes.
Setelah darahnya terserap oleh cincin itu, seketika kesadaran rayan langsung memasuki ke dalam ruang cincin. Betapa terkejutnya rayan mendapati betapa luasnya dimensi di dalam sana.
Bahkan terdapat ribuan tanaman herbal mengapung di udara, juga beberapa ribu senjata tingkat rendah sampai tingkat atas tersimpan rapi. Bagaikan dunia lain di dalam cincin itu. Semua pertanyaan yang selama ini ada di benaknya akhirnya terjawab sudah—selama dua puluh tahun ini, gurunya memang sering mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin itu.
"Benar-benar benda yang aneh. Jika cincin ini dijual, aku tidak bisa membayangkan berapa harga pasarannya," pikir rayan. Ia bahkan melihat ada sebuah taman yang cukup indah, meski tak ada seekor pun binatang yang menghuninya.
Gurunya pernah berkata, bahwa selain bisa menyimpan benda mati, cincinnya itu dapat menyimpan makhluk hidup tak terkecuali manusia.
Usai kesadarannya kembali, rayan langsung menggerakkan tangannya, dan seketika peti berwarna emas itu lenyap begitu saja (disimpan ke dalam cincin).
Tak melupakan pesan gurunya, Rayan melepaskan pakaiannya dan melompat, merendamkan tubuhnya di dalam kolam yang tampak seperti air susu itu.
KREKK!
DUARR!
Suara terobosan kultivasi bergemuruh tajam di benak Rayan yang tengah berendam di dalam kolam.
Setelah berendam selama satu minggu penuh, menyerap setiap energi murni yang terkandung di air kolam, Rayan akhirnya berhasil menerobos ke Tingkat Kehampaan Tahap Pertama.
Berkat ajaran gurunya, ia tahu bahwa tingkatan kultivasi terdiri dari sembilan level:
Tingkat Qi pemula
Tingkat Bumi
Tingkat Langit
Tingkat Kesempurnaan
Tingkat Kehampaan
Tingkat Kesengsaraan
Tingkat Suci
Tingkat Imortal
Tingkat Dewa
Sebuah keberuntungan besar bagi rayan, di usia yang masih sangat muda ia berhasil melampaui Tingkat Kesempurnaan dan mencapai Tingkat Kehampaan—sebuah loncatan yang mustahil bagi kultivator biasa.
Piuuh.
rayan menghembuskan napas kasarnya. Ia sungguh tidak menyangka air kolam itu mampu mendorongnya menembus batas.
"Terima kasih, Guru," lirihnya, melompat ke daratan dan mengenakan kembali pakaiannya. rayan kolam yang awalnya berwarna seperti susu kini berubah menjadi bening, tak berenergi.
"Aku tidak tahu sebenarnya air apa ini. Jika saja di masa depanku bisa menemukan air seperti ini lagi, menerobos ke tingkat selanjutnya bukanlah hal yang mustahil," pikir rayan.
Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan tersembunyi, lalu memasukkan semua tanaman herbal yang ada di sana ke dalam Cincin Penyimpanannya.
Merasa tidak ada alasan untuk berlama-lama, rayan langsung keluar dari balik air terjun.
"Guru, semoga ada cara di masa depan untuk kita bertemu lagi," gumam rayan, lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Tujuan pertamanya sebelum pergi ke kota adalah mengunjungi desa tempat orang tuanya dulu tinggal.
(Dendam di Desa Lama)
Dengan kecepatan yang meringankan tubuhnya, tak butuh waktu lama bagi rayan untuk tiba di desa tersebut. Setibanya di sana, rayan melihat kondisi desa itu sangat menyedihkan.
Yang tersisa hanyalah puing-puing rumah penduduk yang hangus terbakar dua puluh tahun lalu. Tidak ada satu pun manusia, bahkan makhluk hidup lain yang tinggal di desa itu.
rayan berjalan perlahan, memasuki reruntuhan rumah orang tuanya.
Air mata rayan tak terasa mengalir, teringat kejadian mengerikan dua puluh tahun yang lalu.
"Ayah, Ibu... Aku berjanji akan mencari tahu dalang utama di balik para bajingan itu," lirih rayan, niat membunuh tak terbendung memancar dari tubuhnya.
Wusss!
Niat membunuh yang sangat kuat itu bahkan membuat puing-puing bangunan di sekitarnya terhempas ke segala arah.
Dengan memegang liontin berisi foto kedua orang tuanya, hati rayan dipenuhi kebencian. Gurunya memang pernah bercerita bahwa ia telah membunuh para perampok itu, tetapi juga mengatan ada seseorang yang besar mengendalikan mereka.
Sesuai pesan gurunya, meskipun zaman ini jauh lebih damai daripada ribuan tahun lalu, di balik kedamaian itu, orang-orang berkedudukan tinggi sering kali bertindak sewenang-wenang terhadap orang lemah.
Wus!
Adu langsung menghilang dari desa itu. Kecepatan menghilangnya sungguh di luar akal sehat manusia.
(Konflik di kota senja)
Di sebuah kota besar bernama Kota senja, di area pasar yang cukup ramai, terjadi kerumunan di sebuah kios kecil. Pusat perhatian adalah sosok pemuda yang sedang menawarkan barang-barang antik.
"Lihat! Ini adalah guci peninggalan kaisar zaman dulu. Jika kalian memilikinya, keberuntungan besar akan terus mengikuti kalian!" ucap pemuda pemilik kios itu, menciptakan bisikan-bisikan penasaran di antara orang-orang.
"Karena hari ini adalah hari baik bagiku, maka aku akan menjualnya dengan harga sepuluh juta rupiah!" lanjutnya.
Harga yang disebutkan itu sontak mengejutkan kerumunan.
"Hei bocah, jangan menipu banyak orang dengan barang palsumu itu!"
Seorang pria kekar tiba-tiba muncul dengan tiga pria lain di belakangnya. Dilihat dari penampilannya, jelas mereka adalah preman pasar setempat.
"Palsu pantatmu! Beraninya kamu, pria jelek, mengatai barangku palsu! Apakah kamu belum tahu siapa aku? Aku adalah Sabdi sutena, dari keluarga pedagang kuat di pasar ini! Beraninya kamu mengeluarkan kata-kata sampahmu terhadap barang daganganku!" Pemuda pemilik kios itu langsung naik pitam.
"Astaga, pantas saja aku merasa semua barang di kios pemuda itu tampak bagus. Ternyata dia adalah keturunan dari keluarga sutena!" seru salah satu pengunjung.
"Ya, aku pernah dengar bahwa keluarga sutena punya aset kekayaan puluhan miliyar rupiah. Kedudukan mereka di kalangan pedagang memang cukup tinggi," timpal yang lain.
"Tapi kurasa pemuda itu tidak akan bernasib baik. Meski keluarganya kuat, dibandingkan dengan kedudukan pemilik pasar ini, jelas dia tidak bisa dibandingkan," bisik seorang pengunjung.
Semua orang di sana mengenali sosok pria kekar itu. Mereka hanya bisa diam, merasa iba melihat situasi yang akan terjadi.
"Bagus. Tidak heran kamu berani berbicara seperti itu padaku, bocah. Cih... Memangnya kenapa jika kamu keturunan keluarga sutena? Apakah kamu tahu siapa aku?" Pria kekar itu menyeringai.
"Biar aku jelaskan padamu. Aku adalah Robert, orang yang memegang kendali pasar ini. Jika aku mengatakan barangmu palsu, tentu saja barangmu adalah palsu!"
Pemuda itu—Sabdi—cukup terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka pria jelek di depannya adalah Robert, preman pasar yang terkenal kejam.
"Sial, aku tidak berharap bisa bertemu dengannya secepat ini," pikir Sabdi. Meskipun belum pernah bertemu langsung, ia sering mendengar reputasi buruk Robert.
"Bocah, karena kamu berasal dari keluarga sutena, aku akan memberimu keringanan atas sikapmu padaku, dan juga barang palsumu itu. Tapi sebagai balasannya, kamu harus memberikan semua barangmu itu padaku, dan selama satu bulan, kamu tidak boleh berjualan di pasar ini." Robert menatap Sabdi yang terdiam.
Brak!
"Kamu pikir aku orang bodoh, hah?! Jelas-jelas kamu datang untuk mengacau dan mengambil keuntungan dariku!"
"Robert, jangan tidak tahu diri! Kamu hanyalah bawahan Tuan Paul. Beraninya kamu bersikap tak tahu malu dengan kedudukanmu sebagai bawahan!"
"Biar aku tegaskan padamu, barangku asli! Semua barang yang aku jual asli! Jadi, kamu jangan mengira aku bodoh dan takut padamu. Jika memang barangku palsu, tolong buktikan!" teriak Sabdi.
Semua orang menahan napas. Situasi tampaknya semakin tak terkendali.
"Hahah, bagus-bagus! Aku menyukai keberanianmu, bocah. Hanya saja, kamu tampaknya tidak mengerti situasi." Robert tertawa keras.
"Kalian bertiga, beri bocah ini pelajaran!" Robert memberi perintah kepada ketiga bawahannya.
Robert sengaja berkeliling mencari hadiah ulang tahun untuk Tuan Paul, bos yang memgang kendali atas pasar ini. Saat melihat Sabdi memamerkan guci, Robert langsung tertarik dan sengaja mengatakan benda itu palsu demi keuntungan pribadi. Ia tidak menyangka Sabdi akan seberani ini melawan.
"Ka-kalian, apa yang ingin kalian lakukan? Biar aku tegaskan sekali lagi, aku adalah Tuan Muda dari Keluarga sutena! Jika kalian berani macam-macam padaku, aku pas—"
Belum sempat Sabdi menyelesaikan kata-katanya, salah satu dari tiga preman itu langsung memotongnya.
"Memangnya kenapa dengan Keluarga sutena? Memangnya kenapa jika kamu seorang Tuan Muda? Berani melawan Bos Robert, hanya penderitaan yang akan didapat!"
"K-kalian...?" Sabdi langsung merasa putus asa. Keberaniannya langsung lenyap. Meskipun ia seorang ahli beladiri, tingkatannya hanya berada di level dasar.
"Maaf, aku baru saja mendengar kamu akan menjual guci itu seharga sepuluh juta. Apakah aku boleh memeriksa keasliannya?"
Tepat ketika semua orang terdiam, merasa iba melihat nasib buruk Sabdi yang akan segera terjadi, sebuah suara tiba-tiba memecah ketegangan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!