Indonesia
NovelToon NovelToon

Ini Bukan Ragaku

Luka Yang Tak Pernah Di Pahami

Terlihat seorang gadis cantik tengah tertidur lelap di atas ranjangnya. Sebuah buku tebal menutupi sebagian wajahnya, sementara napasnya yang teratur menandakan betapa pulas ia terlelap. Cahaya matahari menembus tirai kamar berwarna krem, menari lembut di wajahnya. Namun tak cukup kuat untuk membuat gadis itu terbangun. Kipas angin di sudut ruangan berputar pelan, mengusir rasa gerah yang menggantung di udara.

Lyara Elvera. Gadis itu terlihat begitu damai dalam tidurnya, hingga suara ketukan pintu tiba-tiba memecah keheningan pagi.

Tok! Tok!

“ARAAAAA! ARAA, BANGUN! UDAH SIANG INI! NANTI KAKAKMU BISA TELAT!”

Suara seorang wanita dari balik pintu terdengar keras dan penuh nada kesal.

Lyara terlonjak kaget. Matanya terbuka setengah, rambut panjangnya berantakan ke segala arah. Buku di wajahnya jatuh terhempas ke bawah ranjang. Dengan gerakan malas, ia meraih buku itu, meletakkannya di atas meja kecil di samping kasur, lalu bangkit sambil menguap lebar.

Cklek!

Pintu kamar terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh omelan. Tangannya bertolak pinggang, memandang anak bungsunya dengan ekspresi sebal.

“Kamu mau bikin kakakmu telat lagi, hah? Ayo cepat, bersiap!” katanya dengan nada tinggi.

“Ya udah sih, Ma. Suruh Kakak berangkat sendiri aja,” gumam Lyara kesal, lalu kembali masuk ke kamarnya tanpa peduli.

Wanita itu, Anindya Rose terlihat mendengus keras, menatap punggung putrinya dengan jengkel.

“Bener-bener kamu ya, Lyara! Awas kalau sampe kamu lambay bersiap,” serunya, lalu berjalan menuju ruang makan sambil menggeleng pelan.

Beberapa menit kemudian, Lyara sudah bersiap. Mandi sekadarnya, rambut dikuncir asal, tanpa riasan sama sekali. Ia memasukkan buku-buku ke dalam tas secara acak—beberapa bahkan setengah keluar dari resleting. Lalu berlari keluar kamar.

Sebelum berangkat, perutnya yang kosong menuntut sarapan. Ia berlari kecil menuju ruang makan.

“Pagiii!” serunya ceria, meski nafasnya masih terengah.

Kedua orang tuanya menatap sekilas tanpa banyak reaksi. Di meja makan, kakaknya, Viola Renaya, duduk anggun sambil menyuap roti dan telur. Berbeda dengan Lyara, Viola tampak rapi dan tenang, rambut hitam panjangnya dijepit rapi, seragamnya licin tanpa kusut, dan aroma parfum lembut menguar darinya.

Lyara menatap kakaknya dengan sedikit iri. Mereka hanya terpaut satu tahun, tapi dunia memperlakukan Viola jauh berbeda.

“Pa, nanti antar aku ke sekolah dulu ya. Sekolahku kan lebih dekat. Nanti aku telat,” pinta Lyara sambil menarik kursi.

Ayahnya, Damar Hardian, meletakkan koran dan menatap anak bungsunya sebentar. “Salah sendiri, kenapa bangun telat? Papa udah bilang jangan begadang. Sekali-kali tuh tiru kakakmu.”

Sekujur tubuh Lyara terasa menegang. Ia terdiam, memandangi kedua orang tuanya bergantian. Sudah biasa. Kata-kata seperti itu sudah sering ia dengar. Namun tetap saja, rasanya seperti pisau kecil yang terus menggores hatinya.

Ia tahu, orang tuanya tak bermaksud jahat. Mereka hanya terlalu khawatir pada Viola—kakaknya yang sempat berhenti sekolah satu tahun karena penyakit ginjal. Sejak itu, perhatian keluarga seolah berpusat pada satu nama saja, Viola.

Lyara mencoba menelan perasaan getir itu. Ia tersenyum hambar. “Ya udah deh ... Papa sama Mama jangan lupa datang ya nanti. Ada pertemuan wali murid.”

Ia meraih sepotong roti di piring besar, tapi tangan Anindya langsung menepuknya cepat.

Plak!

“Apa sih, Ma?!” protes Lyara sambil meringis.

“Itu roti khusus buat kakakmu! Jangan diambil! Ambil yang lain, kan masih banyak,” omel Anindya.

Lyara mengembungkan pipinya kesal. Ia mengambil roti lain dan menggigitnya tanpa bicara. Mulutnya mungkin diam, tapi d4danya sesak.

“Kalian itu pilih kasih banget, tahu nggak? Aku sekolah di sekolah biasa, sementara Kak Viola di sekolah mahal. Kamarku kecil, kamarnya gede. Aku ini anak tiri, ya?” gumamnya setengah pelan, setengah kesal.

Anindya menatapnya tajam. “Udah deh, jangan ngelantur. Wajar Kakakmu di sekolah bagus, dia pinter! Nggak buang-buang uang kayak kamu. Dari SD aja selalu peringkat terakhir!”

“Itu kan dulu, Ma! Sekarang aku udah naik peringkat!” seru Lyara, matanya berkaca.

“Dek,” suara Viola memotong ketegangan. Lembut, tapi tegas.

Tatapannya menenangkan, tapi juga seolah menuntut Lyara untuk berhenti ribut. Namun Lyara tak tahan lagi. Ia bangkit berdiri dengan suara kursi yang berdecit keras. Semua menatapnya, tapi ia tak peduli. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah.

“Kamu mau jalan ke sekolah?” tanya Viola dengan nada agak tinggi.

“Ada Mike!” jawab Lyara cepat tanpa menoleh.

Viola menoleh ke arah jendela. Dari sana, terlihat seorang pria berseragam putih abu menunggu di depan pagar rumah, menyandarkan tubuhnya pada sepeda motor dengan wajah santai. Viola menatapnya lama, ada sesuatu di sorot matanya. Entah cemburu, cemas, atau mungkin rasa ingin tahu yang dalam.

“Adikmu itu makin kurang ajar. Pokoknya kamu jaga pergaulan, jangan sampai ikut-ikutan,” kata Anindya kepada putri sulungnya.

Viola hanya terdiam. Ia menatap piring sarapannya yang kini dingin, sementara pikirannya melayang entah ke mana. Mungkin pada adiknya, mungkin juga pada sosok bernama Mike yang kini membawa Lyara menjauh dari rumah itu.

.

.

.

.

Hari itu, Lyara Elvera merasa menjadi gadis paling bahagia di dunia. Tangannya menggenggam erat rapor yang baru saja diberikan gurunya. Di pojok kanan atas kertas itu tertulis angka 1 besar—peringkat kedua di kelasnya. Untuk pertama kalinya, ia mampu menembus deretan siswa terbaik. Bahkan, ia dinyatakan berhak mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliah.

Langkahnya ringan, hampir seperti melayang. Ia berjalan di belakang sang ayah yang baru saja berbincang dengan wali kelasnya. Sinar matahari sore menerpa wajah Lyara, membuat matanya berkilat penuh harap. Dengan langkah cepat, ia menyusul ayahnya.

“Papa lihat kan? Aku juara satu, Pa!” serunya riang. “Aku bisa lanjut kuliah! Papa nggak perlu keluar biaya banyak, aku bisa pakai jalur beasiswa. Iya kan, Pa?”

Namun, langkah Damar tiba-tiba berhenti. Suasana mendadak terasa berat. Ia menatap anak gadisnya sejenak, lalu mengembuskan napas panjang.

“Kuliah?” suaranya datar, tapi tegas. “Lyara, kamu pikir kuliah cuma soal biaya semesternya aja? Buku, kegiatan kampus, biaya tambahan, semua itu tetap butuh uang. Papa ini cuma karyawan biasa. Gaji Papa pas-pasan, buat makan aja kadang harus hemat.”

Kata-kata itu menghantam hati Lyara seperti palu berat. Senyum di wajahnya perlahan pudar. Matanya bergetar, tenggorokannya tercekat.

Sebuah luka yang tak terlihat terasa mengoyak d4danya—seakan semua kebahagiaan yang baru saja tumbuh kini diremukkan begitu saja.

“Pa ... aku udah berusaha keras buat ini,” katanya lirih, hampir berbisik. “Aku belajar sampai malam, Papa tahu sendiri. Aku ingin kuliah, Pa. Aku ingin buktiin kalau aku bisa ...,”

Damar menatap wajah putrinya lama, sebelum akhirnya berkata pelan, “Udah, kamu tunda dulu kuliahmu. Biarkan kakakmu dulu yang kuliah. Setelah kakakmu lulus, baru giliran kamu. Papa nggak bisa biayain kalian berdua sekaligus. Lagian, Kakakmu nggak dapat beasiswa, Ara.”

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh juga. D4danya sesak, dunia seolah berhenti berputar. Semua perjuangan, semua malam tanpa tidur, semua harapan yang ia kirimkan, mendadak terasa sia-sia.

“Kak Vio, Kak Vio, dan Kak Vio! Selalu dia!” jerit Lyara tiba-tiba, suaranya menggema di halaman sekolah yang sudah sepi. “Aku kapan, Pa?! Aku kapan? Aku selalu ngalah, terus dan terus! Kalian kasih kamar yang nyaman buat Kak Vio, aku terima! Aku tidur cuma pakai kipas angin, aku juga terima! Kak Vio pakai AC, aku nggak protes! Tapi sekarang masa depanku juga kalian korbanin demi dia?! Aku ini anak Papa dan Mama juga, kan?!”

Suara Lyara pecah, tubuhnya bergetar hebat. Orang-orang yang masih tersisa di sekolah mulai melirik ke arahnya, tapi Damar hanya menatapnya dengan ekspresi jengkel bercampur iba.

“Kamu teriak-teriak di sini bikin malu, tahu nggak!” geramnya, lalu berjalan menuju motor yang terparkir di pinggir jalan.

“Paaaa! Aku cuma minta keadilan!” tangis Lyara pecah. “Aku susah payah dapetin beasiswa ini, Pa! Aku belajar sampai sakit kepala, sampai nggak tidur! Tapi kenapa semua yang aku bangun harus hancur cuma karena Kak Vio?!”

Damar berhenti sejenak. Bahunya naik turun menahan emosi, lalu ia berbalik. Matanya kini berkaca-kaca.

“Kakakmu sakit, Lyara! Kakakmu nggak sekuat kamu!” teriaknya dengan suara serak. “Sejak lahir dia cuma punya satu ginjal, dan sekarang ginjal satunya pun terancam rusak. Papa nggak tahu sampai kapan dia bisa bertahan. Kamu masih sehat, Ara. Kamu masih punya waktu, masih bisa kejar cita-cita kamu nanti! Papa cuma minta kamu ngertiin, satu kali ini aja!”

Lyara terdiam. Air matanya mengalir deras.

Kedua tangannya mengepal kuat. Ia tahu kakaknya sakit, ia tahu kakaknya rapuh. Tapi … apakah itu berarti ia tak pantas bahagia?

“Terserah, Pa ... Aku capek. Aku ... capek!”

Suara Lyara pecah di antara isaknya. Ia berbalik dan berlari pergi tanpa menoleh.

“LYARA! MAU KE MANA KAMU?!” teriak Damar, tapi gadis itu tak berhenti. Langkahnya semakin jauh, hingga suara ayahnya lenyap ditelan angin sore.

Damar mengembuskan napas berat. “Nanti juga anak itu pulang,” gumamnya pelan sebelum men-starter motornya dan pergi.

Sementara itu, Lyara terus berlari tanpa arah.

Air matanya membasahi wajahnya, napasnya tersengal. Langit mulai berwarna jingga, tanda senja hampir habis. Tapi, Ia tak peduli. Semua rasa sakit yang ia tahan selama ini pecah jadi satu.

“Kenapa, sih ... kenapa selalu Kak Vio?” isaknya di sela tangis. “Kenapa nggak ada yang nanya sekedar bertanya aku udah makan belum? Aku juga pengin ditanya, Pa ... Ma,”

Ia berhenti di tepi jembatan kecil, memandang air yang beriak di bawahnya. “Aku ini anak kandung kalian, atau anak pungut sih?” lirihnya, suaranya tenggelam oleh hembusan angin. Padahal dirinya tahu, ia sangat mirip dengan sang Mama.

Setelah lama menangis, tubuh Lyara mulai lelah. Ia memutuskan untuk pulang. Namun, langkahnya terasa berat, matanya sembab, dan seragamnya sudah berantakan.

Tiba-tiba, sebuah suara serak memecah kesunyian. “Mau ke mana, Cantik?”

Lyara terhenti. Dari arah depan, tiga pria bertubuh besar berdiri menghadangnya. Wajah mereka kasar, dengan senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia spontan mundur satu langkah.

“Ada apa, Bang?” tanyanya dengan suara gemetar.

Salah satu dari mereka mendengus. “Suruh bapak kamu bayar hutangnya. Udah enam bulan nunggak, tahu nggak?!”

“Hutang?” Lyara mengerutkan kening. “Papa punya hutang.? Aku nggak tahu apa-apa soal itu.”

Pria itu terkekeh kasar. “Dia bilang buat biaya pengobatan anaknya. Kamu anaknya, kan? Kalau dilihat-lihat, lumayan juga ya ... cantik.” Tangannya terulur, mencoba menyentuh dagu Lyara.

Refleks, Lyara menepis keras. “Jangan sentuh aku!” bentaknya dengan gemetar.

Tiga pria itu malah tertawa, suaranya menggema di jalanan sepi itu. Kanan kiri hanyalah lapangan kosong, tak ada satu pun orang lewat.

“Bang, kalau bapaknya nggak mau bayar, kita sikat aja anaknya, gimana?” kata salah satu dari mereka.

Tawa mereka semakin keras membuat wajah Lyara memucat. Ketakutan menyergap. Ia tahu ini bukan situasi yang bisa diselesaikan dengan kata-kata. Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga.

“KEJAR DIA!” teriak salah satu dari mereka.

Jantung Lyara berdetak cepat. Nafasnya tersengal, tapi ia terus berlari, menyusuri jalan sempit yang mengarah ke sebuah gedung yang tampak sedang dibangun. Ia masuk ke dalam, berharap bisa bersembunyi. Tangga-tangga besi ia panjat dengan tergesa, hingga mencapai lantai tiga, lantai tertinggi dari bangunan setengah jadi itu.

Namun si4l, tak ada tempat untuk bersembunyi. Hanya ruangan kosong dengan dinding belum diplester dan lubang besar di ujung lantai.

“Mau ke mana, Cantik? Pintar juga milih tempatnya.” Suara mereka terdengar dari belakang.

Lyara menoleh. Nafasnya terengah, pelipisnya basah oleh keringat. Ketiga pria itu kini semakin dekat. Ia mundur pelan, tubuhnya gemetar.

“Tolong, Bang ... nanti Papa saya pasti bayar. Lepasin saya, ya? Tolong ....” Suaranya pecah di antara isak.

“Lepasin? Udah dikejar sejauh ini masa dilepasin sih?” jawab salah satu dari mereka sambil tertawa. Yang lain menimpali, “Mending kamu nurut, daripada kami paksa.”

Langkah Lyara terus mundur. Sampai tak ada lagi lantai yang dapat ia pijak di belakangnya.

“Aaaaah!” Jeritannya menggema. Tubuhnya kehilangan pijakan dan terjatuh.

Waktu seolah melambat, semua kenangan berputar cepat di kepalanya. Wajah kedua orang tuanya, tawa Viola, perjuangannya di malam-malam sunyi, dan impiannya menjadi sarjana yang kini terhempas bersama tubuhnya.

Brakk!

Air mata terakhirnya jatuh bersamaan dengan tubuhnya menghantam tanah. Rasa sakit yang menjalar tak seberapa dibanding luka yang sudah lebih dulu ada di hatinya. Dalam detik terakhir kesadarannya, ia berbisik pelan, suara yang hanya didengar oleh angin.

“Demi Kakak ... kenapa aku yang harus dikorbankan, Pa? Sekali saja, perlakukan aku sepertinya,” batinnya lirih, sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.

_______________________________

Perhatian: Ini Cerita Fantasi, jadi maklum kalau gak masuk logikaaaaa😆 ambil faedah yang baik aja kawan, aku tahu kalian bijak dan cerdas😍

Raga yang Berbeda

Lyara membuka matanya dengan napas terengah, seolah jantungnya baru saja ditarik paksa dari d4d4. Ia terduduk tiba-tiba, menatap sekeliling dengan pandangan yang masih kabur.

Keningnya berkerut. Tubuhnya kini terbaring di atas hamparan rerumputan hijau lembut yang bergoyang pelan ditiup angin. Aroma bunga memenuhi udara, segar, manis, namun asing. Ia perlahan berdiri, jantungnya masih berdegup cepat, matanya menyapu pemandangan luas yang terbentang di hadapannya. Ladang bunga sejauh mata memandang, seolah dunia ini dibuat dari musim semi yang abadi.

Namun, ada satu hal yang membuat hatinya bergetar, semuanya terasa terlalu tenang.

Terlalu indah untuk menjadi nyata.

“Ara.”

Suara lembut itu terdengar di belakangnya.

Lyara menoleh refleks dan hampir terng4nga melihat sosok yang berdiri beberapa langkah darinya. Seorang wanita bergaun putih panjang, rambutnya berkilau bagai cahaya pagi. Kulitnya pucat bersinar, matanya teduh, namun dalam tatapan itu tersimpan sesuatu yang tak dapat dijelaskan, antara kehangatan dan kesedihan.

Wanita itu berjalan perlahan mendekat. Senyumnya lembut, dan dengan gerakan halus, ia membingkai wajah Lyara dengan kedua tangannya. Sentuhannya terasa nyata, hangat, tapi juga aneh … seperti angin yang berwujud.

“Aku ingin pulang,” lirih Lyara dengan suara bergetar. Ada ketakutan di matanya, ketakutan yang lahir dari ketidaktahuan.

Wanita itu menatapnya lekat. “Pulang? Kamu sudah tidak bisa pulang, Lyara.”

Lyara tertegun. Alisnya berkerut tajam. “Kenapa? Aku cuma mau pulang!”

Ia berlari tanpa arah, mencoba mencari jalan keluar. Tapi ke mana pun kakinya melangkah, yang ia lihat hanya hamparan bunga yang sama, langit yang sama, dan cahaya yang tak pernah berubah. Seolah ia berputar di dalam dunia yang tak memiliki ujung.

Ketika ia berhenti dan menoleh, wanita itu sudah berdiri di belakangnya lagi, tanpa suara, tanpa langkah. Tatapannya kini berbeda, lebih dalam dan lebih dingin.

“Ragamu ... sudah tidak bisa kamu tempati lagi.”

Lyara membeku. Suara wanita itu bergema di kepalanya. Perlahan, ingatan terakhirnya sebelum terbangun di tempat ini muncul, teriakan, bangunan setengah jadi, rasa takut, dan tubuhnya yang jatuh melayang ke udara.

Matanya membulat. “A-aku ... sudah mati?” suaranya nyaris tak terdengar. Wanita itu mengangguk pelan.

“Tidak! Aku nggak boleh mati! Aku ... aku belum siap! Aku masih punya mimpi! Aku ... aku belum bahagia!” Lyara menjerit histeris, memegangi kepalanya. Air mata menetes deras dari matanya. Napasnya tersengal, suaranya pecah di udara yang sunyi.

Namun tiba-tiba, tangan wanita itu menggenggam tangannya erat. Tatapannya menusuk dalam. “Apa kamu ingin kembali?”

Lyara terdiam. Suara itu menggema di telinganya. Kembali? Pikirannya berputar pada wajah papa, mamanya, dan Viola. Tapi bayangan kematian yang ia alami terasa terlalu menyakitkan. Ia memandang ke arah hamparan bunga yang berkilau di bawah sinar matahari.

“Sepertinya ... di sini lebih tenang,” gumamnya pelan.

Wanita itu tersenyum samar. “Yakin tidak mau membalas dendam?”

Lyara menoleh cepat. “Membalas dendam?” suaranya bergetar.

Wanita bergaun putih itu kini menatap ke arah jauh, ke arah horizon yang berwarna emas. “Kamu mati, sementara mereka masih hidup bahagia. Aku bisa melihat ... ada banyak hal yang belum sempat kamu selesaikan. Kamu akan tahu, setelah kamu kembali nanti.”

“Kalau aku kembali ... apa aku bisa?” tanya Lyara dengan lirih.

“Bisa,” jawab wanita itu datar, “tapi bukan dengan ragamu sendiri. Jiwamu tidak bisa kembali ke ragamu. Tapi kamu bisa ... meminjam ragaku.”

Sebelum Lyara sempat memahami ucapan itu, wanita tersebut menggenggam tangannya lebih erat. Sebuah cahaya putih menyilaukan meledak di antara mereka. Lyara berteriak keras, merasakan sengatan panas seperti petir yang menembus jantungnya, lalu segalanya kembali gelap.

Tok!

Tok!

Tok!

“Nyonya! Nyonya! Bangun, Nyonya!”

Suara itu membuat Lyara membuka matanya dengan terkejut. Ia menatap sekitar. Tubuhnya kini berada di atas lantai dingin, sebuah botol obat tergenggam di tangannya. Ia mengerutkan dahi, lalu menatap tulisan di botol itu.

“Obat apa ini?” gumamnya pelan, kemudian melemparkannya ke lantai. Kepalanya berat, tubuhnya lemas, tapi suara ketukan itu terus berlanjut. Dengan langkah tertatih, ia membuka pintu.

Cklek!

Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan wajah panik. “Nyonya nggak apa-apa? Dari kemarin Nyonya nggak keluar kamar! Saya takut ada apa-apa!”

“Nyonya?” Lyara mengulang pelan. Ia menatap wanita itu bingung. “Apa mukaku setua itu?” gumamnya tanpa sadar.

Tatapannya beralih ke sekitar, ini bukan rumahnya. Dindingnya luas, langit-langitnya tinggi, dan perabotannya tampak mewah. Semua terasa asing dan menakutkan.

“Apa-apaan ini? Di mana aku?” bisiknya.

Namun saat pandangannya jatuh ke arah cermin besar di dekat kamarnya, tubuhnya kaku.

Wajah yang menatap balik darinya bukan wajahnya sendiri.

“A-Aaaa! Apa ini?!” teriak Lyara histeris, berlari mendekati cermin dan menyentuh pipinya. Tapi yang ia rasakan bukan kulit muda gadis SMA, melainkan wajah wanita dewasa dengan fitur halus dan elegan.

Namun ia ingat wajah itu ... wajah wanita bergaun putih yang tadi menemuinya!

“Nyonya Elvera, kenapa teriak-teriak begitu?” tanya wanita paruh baya itu, mendekat dengan cemas.

“Aku siapa?” tanya Lyara spontan, suaranya bergetar.

Wanita itu mengerutkan kening. “Nyonya Elvera Lydora, siapa lagi?”

Lyara mematung. Kata itu, menggema di kepalanya. Sama seperti nama belakangnya, dan ini terasa tak masuk akal.

“Nyonya masuk kamar lagi, ya. Nyonya kelihatan pucat banget,” ujar wanita itu lembut, membantu Lyara masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang.

Lyara menatapnya kosong. “Nama Bibi siapa?”

Wanita itu tampak ragu. “Saya Nina, Nyonya. Masa Nyonya lupa? Kan sering Nyonya marahin saya kalau salah masak.” Ia menutup mulutnya cepat. “Aduh, maaf, saya nggak bermaksud ngomong begitu, maaf ya Nyonya.”

Lyara hanya diam, menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Ia benar-benar bukan dirinya lagi. Wajah itu milik orang lain, wanita cantik pemilik tatapan tajam.

Bi Nina mengambil botol obat yang tadi tergeletak di lantai. Ia membaca labelnya dan bergumam dalam hati, “Apa gara-gara obat tidur ini, ya?”

“Sebentar, Nyonya. Saya ambilkan teh hangat dulu.” Bi Nina pergi, meninggalkan Lyara yang masih terpaku dalam kebingungan yang menyesakkan d4d4.

Lyara menatap sekitar. Ia berusaha mencari petunjuk dan menemukan dompet kulit di atas meja kecil. Ia membuka isinya.

Kartu identitas di dalamnya bertuliskan,

“Elvera Lydora ... 28 tahun?” gumam Lyara pelan.

Ia lalu menatap ponsel di meja, mengambilnya, mencoba membuka layar kuncinya.

“Wow, ponselnya bagus banget,” ujarnya kagum kecil, mencoba menebak sandi. “Tanggal lahir? 0101? 0212? Ck! Gagal terus!”

Namun matanya membulat ketika melihat tanggal di layar ... 4 November 2024.

“Dua ribu dua puluh empat?” Lyara tertegun. Sebelum ini, ia masih di tahun 2019.

Berarti ... ia sudah berpindah lima tahun ke depan.

“Astaga ... apa yang terjadi padaku?! Siapa Elvera ini?! Kenapa aku bisa di tubuhnya?! Kenapa aku nggak bisa tenang bahkan setelah mati?!” jeritnya frustrasi.

Tangannya gemetar, suaranya pecah. Ia berjalan menuju jendela kamar yang terbuka dan menatap langit malam dari balik jendela besar kamar itu. Cahaya rembulan menembus tirai lembut, menyoroti wajah barunya yang asing.

Lalu matanya menangkap sesuatu di bawah—seekor burung kecil yang terperangkap di sangkar. Refleks, Lyara menunduk.

“Eh, kenapa ada kamu di sini?” gumamnya pelan. Ada keanehan aneh di d4danya, perasaan iba. Ia sedikit memajukan tubuhny di tepi jendela, mencoba membuka kait sangkar itu.

Namun sebelum sempat menyentuhnya, sebuah suara berat memecah kesunyian.

“Elvera!”

Suara itu keras dan tegas. Lyara menoleh kaget—

dan tanpa sengaja tubuhnya condong ke depan.

“Aaaah!” teriaknya panik, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Namun, sebelum ia sempat jatuh, sepasang tangan kuat menarik pinggangnya dan memeluknya erat dari belakang.

Lyara terdiam, napasnya memburu. Detak jantungnya berpacu tak karuan. Ia menoleh perlahan. Di belakangnya berdiri seorang pria berwajah tampan, rahangnya tegas, matanya tajam bagai elang. Tatapannya menembus, penuh amarah dan kecemasan.

“Kamu memang ingin kita bercerai, Elvera,” suaranya berat dan dingin, “tapi bukan berarti kamu bisa mengancamku dengan cara seperti ini!”

Tatapan Lyara membeku. Bercerai? Elvera sudah menikah?

Tubuhnya lemas, sementara jantungnya berdentum keras. Kehidupan barunya baru saja dimulai dan sepertinya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

"Apa lagi ini?" batinnya frustasi.

Menempati Raga Elvera

Lyara menatap ke arah seorang pria yang kini tengah duduk di sofa. Kedua kakinya bersilang santai, sementara lengannya terhampar di sandaran dengan sikap tenang yang anehnya justru memancarkan wibawa kuat. Kemeja hitam yang dikenakannya terbuka di bagian atas, memperlihatkan sedikit kulit d4danya yang bidang.

Pandangan Lyara seolah terperangkap di sana, pada sosok itu. Pria tampan itu ... sungguh membuat jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.

"Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, tapi kenapa jantungku terus berdebar kencang? Apakah ini yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama pada suami orang? Atau ... ini perasaan si pemilik tubuh ini?" batin Lyara, mencoba berpikir jernih di tengah kegelisahannya.

“Rencana apa lagi yang sedang kau pikirkan, hah?” Suara berat pria itu memecah lamunan Lyara, membuatnya terlonjak kaget.

“Rencana apa? Baru juga bangun tidur,” balas Lyara asal, berusaha menutupi kegugupan yang merayap.

Pria itu mengerutkan kening dalam. Tatapannya tajam, seolah mencoba membaca isi kepala Lyara. “Ada yang salah dengan otakmu?”

“Enggak ada, aku masih waras Om,” jawab Lyara spontan.

“Om?” alis pria itu terangkat tinggi. “Om?! Elvera! Apa yang sedang kau rencanakan lagi, hah? Jangan bilang kamu jadi gila setelah bangun tidur!” Nada suaranya meninggi, memancarkan frustasi yang nyata.

“Masalah apa lagi yang kau buat kali ini?!”

Lyara hanya bisa terdiam. Ia menggenggam ujung dressnya erat-erat, tubuhnya menegang. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini. Semua terasa asing, bahkan tubuh yang ia tempati pun bukan miliknya sendiri.

Pria itu berdiri, langkahnya berat dan mendekat. Bayangan tubuhnya yang tegap menutupi cahaya lampu, membuat Lyara merasa terpojok. “Jangan buat aku semakin marah El,” bisiknya pelan tapi tegas, suaranya berat dan dalam. “Aku akan mengabulkan keinginanmu ... jika memang itu yang kamu mau.”

Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan pergi, meninggalkan Lyara yang masih terpaku di tempat. D4da Lyara terasa sesak, seperti direemas dari dalam. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi perasaannya kacau.

"Apakah pria itu benar-benar ... suami Elvera? Setampan itu ... tapi tutur katanya begitu tajam," gumamnya dalam hati, mencoba mencerna situasi yang tak masuk akal ini.

Sementara itu, pria bernama Theodore Lorenzo itu melangkah masuk ke ruang kerjanya. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap rembulan yang tergantung indah di langit malam. Tapi pikirannya jauh dari tenang. Wajahnya tegang, sorot matanya dingin namun menyimpan gejolak yang sulit dijelaskan.

Tok! Tok!

“Masuk,” ucapnya singkat, tanpa menoleh.

Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah ragu. “Tuan Theo, saya menemukan botol ini lagi di kamar Nyonya. Beliau belum keluar kamar sejak kemarin siang.”

Theodore menoleh perlahan, menatap pembantunya dengan sorot mata tajam. Ia mengambil botol itu dari tangan si wanita dan memperhatikannya. “Obat tidur,” gumamnya lirih. Genggamannya menguat. Rahangnya menegang.

“Jadi ini, El? Kau benar-benar tak akan berhenti menyakiti dirimu sendiri sampai aku menceraikanmu?”

Ia mengembuskan napas panjang, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Di sana, ia duduk dan menarik selembar berkas dari dalam map. Dengan tangan bergetar, ia mengambil pena, lalu menorehkan tanda tangannya pada kertas itu.

Namun, sesaat setelah tinta mengering di atas kertas, d4danya terasa berat. Ia menutup mata, menarik napas panjang seolah mencoba menenangkan badai di dalam dirinya.

“Tuan,” panggil Bi Nina pelan, “Nyonya ... tampak aneh setelah bangun tidur.”

Theo membuka mata. “Aneh? Maksudmu?”

“Iya, Tuan. Seperti kehilangan ingatan. Biasanya beliau marah kalau saya membangunkannya, tapi tadi ... beliau justru tampak bingung, seperti orang linglung. Apa mungkin beliau overdosis obat tidur?”

Theo menatap botol itu lagi, alisnya berkerut dalam. “Linglung? Bersikap aneh?” batinnya. “Tapi itu bukan efek samping obat ini,” gumamnya.

.

.

.

.

Keesokan paginya, Lyara memberanikan diri keluar kamar. Rumah itu begitu besar dan sepi, udara paginya terasa kaku dan berjarak. Ia melangkah menuju dapur, di mana beberapa wanita paruh baya tengah sibuk memasak.

Ketika ia berdehem pelan, ketiganya sontak menoleh dan seketika, suasana berubah kacau. Mereka tampak panik, seperti ketakutan akan sesuatu yang tak terlihat.

“Maaf, Nyonya! Sebentar lagi sarapan akan kami siapkan! Maafkan kami, kami terlambat bangun!” ujar salah satu dari mereka, suaranya bergetar.

Lyara melirik jam dinding. “Baru jam tujuh pagi, kok sudah panik begitu? Tenang saja. Apa yang bisa aku bantu?”

“JANGAN!” seru ketiganya serentak, membuat Lyara tertegun.

“Kenapa? Aku bisa masak, kok,” ucapnya bingung.

Bi Nina melangkah maju, menunduk takut. “A-aanuu .... nanti tangan Nyonya terluka. Kami akan siapkan semuanya, janji ... lima menit lagi.”

Lyara hanya menghela napas. Ia kemudian mendekati panci di atas kompor, mencicipi kuah sup yang baru matang. “Ladanya kurang,” gumamnya, lalu dengan spontan menambahkan bumbu lain, tangannya cekatan seperti seorang koki profesional.

Ketiga wanita itu mel0ng0 melihatnya. Biasanya, Elvera tak pernah menyentuh dapur, apalagi tersenyum seperti itu.

“Coba ini,” Lyara menyendokkan sup dan menyuapkannya pada Bi Nina. Dengan ragu, wanita itu mencicipinya dan matanya langsung membesar.

“Ini ... enak sekali!” serunya tak percaya.

Lyara tersenyum puas. “Benar, kan? Aku memang jago masak walau masih kecil eh, maksudku ... wanita cantik sepertiku harus bisa masak!” ujarnya, cepat-cepat meralat ucapannya. Ketiganya tertawa kecil, untuk pertama kalinya melihat sisi lembut sang Nyonya.

Tiba-tiba, terdengar suara lembut dari arah pintu. “Bi Ninaa ... cucu Eila mana? Kok belum di bawa ke kamal?"

Seorang gadis kecil muncul dengan rambut acak-acakan, mengenakan piyama kebesaran. Bi Nina segera menyerahkan botol susu padanya.

"Makacih," ucapnya. Namun, langkah kecil anak itu terhenti ketika sudut matanya melihat Lyara di dapur. Matanya membesar, wajahnya memucat. Ia langsung menoleh cepat menatap Lyara yang tersenyum gemas menatapnya.

“Mama lampiiil cudah tibaa,” gumamnya ketakutan, sebelum berlari sekencang mungkin ke arah kamar. Bahkan, ia hampir menabrak pintu.

Lyara tertegun. “Lampil? Apa itu artinya?” tanyanya bingung. Tapi ketiga wanita di dapur hanya terdiam, wajah mereka kaku.

Lyara membatin lirih sambil berlikir keras. “Segalak apa sih Elvera ini sampai semua orang di rumah takut padanya? Jangan-jangan ... dia psikopat?”

Ia menatap bayangan dirinya di permukaan sendok, wajah cantik dengan tatapan dingin memantul balik. “Atau mungkin ... srigala dalam wujud manusia? Tapi enggak ada taringnya kok,”

Sementara ketiga wanita paruh baya itu menatap bingung pada Lyara yang berkaca pada sendok sambil memegangi wajahnya dengan gerakan aneh.

_______________________________

Maaaap lama yah munculnya😆

Gimana perasaannya setelah sampai sini🤩

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!