Tania Az-zahra, seorang gadis cantik berusia 20 tahun yang hanya hidup sebatang kara di dunia ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Paman dan bibi yang merawatnya pun meninggal. Ia tinggal di rumah kecil peninggalan paman dan bibinya. Tania harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah dunia yang penuh dengan lika liku ini. Kecerdasannya membuat dirinya mendapatkan beasiswa mulai dari sekolah SMP sampai ia kuliah saat ini. Tania sudah duduk di semester 5 fakultas pendidikan. Lebih tepatnya jurusan Matematika. Cita-cita nya untuk menjadi guru sudah ia tanamkan dalam dirinya sejak lama. Tidak hanya itu, Tania saat ini juga sambil bekerja jaga counter untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia biasanya menjaga counter samosi siang. Setelah itu ia berangkat kuliah sampai sore. Tania biasa makan seadanya. Kadang dua kali kadang ia pun sering berpuasa untuk mengirim uangnya. Tidak ada yang bisa ia andalkan, selain dirinya sendiri.
Hari ini, Tania dan Shasa baru pulang dari kampus. Mereka janjian untuk main. Tentu saja mainnya di rumah Shasa. Shasa adalah satu-satunya sahabat Tania yang sangat tulus dan mau menerimanya apa adanya. Meski Shasa terbilang anak orang berasa, namun ia tidak pernah sombong. Shasa bahkan sering mentraktir Tania. Tania sampai tidak enak hati karena hal itu. Orang tua Shasa juga sudah mengenal Tania cukup baik.Kadang mereka pun memberi Tania uang jajan yang titipkan kepada Shasa. Ia sangat bersyukur memiliki teman seperti Shasa.
"Tania, malam ini tidurlah di rumahku! Kan kamu besok pagi libur jaga counternya."
"Malu aku, Sha."
"Kenapa mesti malu? Kan kamu sudah kenal sama orang tuaku."
"Ya, justru itu."
"Pokoknya nginep, titik! Dari dulu kamu banyak alasan."
Kalau sudah begitu, Tania tidak bisa menolaknya. Meski sudah berteman cukup lama, baru hari ini Tania menginap di rumah Shasa.
Mobil Shasa, sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Pak satpam membukakan pintu gerbang untuknya.
"Makasih, pak."
"Iya neng."
Shasa memarkirkan mobilnya di bagasi. Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Jawab sang bunda yang sedang duduk di ruang tengah. Bunda sedang murojaah Al-Qur'an. Bunda adalah seorang tahfidz dan kepala sekolah SMP islam.
Tania dan Shasa menghampirinya dan mencium punggung tangan bunda.
"Apa kabar kamu Tania? Lama nggak main ke sini?"
"Alhamdulillah baik, Bunda."
Tania memanggil orang tua Shasa dengan sebutan yang sama atas permintaan mereka sendiri. Mereka merasa kasihan melihat Tania yang hidup sebatang kara.
"Dia lagi sibuk kerja bun. Tapi malam ini dia mau nginep di sini. Boleh kan bun?" Sahut Shasa.
"Wah, tentu saja boleh. Bunda senang banget."
"Ayah mana, bun?"
"Sedang keluar."
"Kami ke kamar dulu, bun."
"Iya, sana."
Shasa menarik tangan Tania untuk masuk ke dalam kamar. Seperti biasa mereka akan bercerita tentang dosen di kampus dan teman kuliah mereka yang resek dan menyebalkan. Shasa juga sering bercerita tentang cowok yang dia sukai. Hanya sekedar suka, karena ia tidak mungkin pacaran.
Di rumah itu, hanya ada Ayah, Bunda, Shasa dan dua asisten rumah tangga. Sedangkan abangnya Shasa tinggal terpisah dari orang tuanya sejak menikah. Begitu pun dengan mbaknya Shasa. Setelah memiliki anak, mbak Dini dibawa pindah ke rumah suaminya. Jadi sebenarnya Bunda dan Ayah merasa kesepian.
Sudah adzan Maghrib, Shasa dan Tania keluar dari kamar menuju musholla yang berada di ruang belakang. Mereka ikut shalat berjama'ah bersama Ayah dan bunda.
Setelah selesai shalat, Ayah dan bunda saling simak bacaan al-Qur'an. Tania dan Shasa ikut mendengarkan sambil menunggu adzan Isya'. Tania sangat kagum melihat kedua orang tua Shasa yang begitu harmonis dan agamis.
"Ya Allah sungguh sempurna keluarga ini. Andai saya dapat memiliki keluarga seperti ini, betapa bahagianya. Ayah, Ibu, Bibi, Paman, Tania rindu kalian." Batinnya.
"Tania, kok bengong."
"Eh tidak kok."
"Masih belum batal wudhu'nya, kan?"
"Belum."
"Bentar lagi isya'."
"Iya Sha."
Akhirnya adzan Isya' berkumandang. Mereka pun shalat Isya' berjama'ah.
Setelah selesai shalat Isya', mereka makan malam bersama. Meski ada kursi dan meja makan, namun di rumah itu mereka lebih nyaman makan di bawah.
"Ayo Tania, makan yang banyak. Jangan malu-malu."
"Iya, bunda. "
Menu malam ini cukup sederhana. Ada sambel terong, tahu dan tempe goreng, serta ayam kremes. Semua itu bunda yang masak dibantu oleh bibi bagian potongan-potong dan mengiris bumbu.
Setelah selesai makan, Tania membantu Shasa membawa perabotan bekas mereka makan ke dapur. Ia juga membereskan sisa makanan ke atas meja makan.
Setelah itu, mereka ngobrol santai di ruang tengah sambil nonton TV.
"Tania, bagaimana kuluahmu, lancar?"
"Iya, alhamdulillah lancar, yah."
"Tania dapat nilai A+ yah, kemarin."
"Alhamdulillah, bagus itu. Pertahankan ya."
"InsyaAllah."
Karena, sudah jam 9 malam, mereka akhirnya kembali ke kamar.
Namun di kamar, Shasa dan Tania tidak langsung tidur. Mereka masih berkutat dengan laptop. Keduanya nonton film horor dari laptop. Sampai tidak terasa, Shasa mulai mengantuk. Ia tertidur saat film akan berakhir. Tania pun mematikan laptop setelah film berakhir. Ia pun tidur menyusul Shasa.
Keesokan harinya.
Shasa dan Tania baru saja selesai shalat Shubuh. Mereka berniat untuk lari pagi. Shasa meminjamkan kaos dan celana olaraganya kepada Tania. Setelah pamit kepada Bunda, mereka pun berangkat. Mereka lari pagi di sekitar komplek.
"Tania, ada batagor. Ayo beli!"
"Aku nggak bawa uang, Sha."
"Aku bawa, nih 10 ribu. Cukup kali dua bungkus."
Mereka mendekati gerobak batagor.
"Bang dua ya."
"Oke neng."
Dua menit kemudian, batagornya sudah jadi.
Mereka pun melanjutkan untuk lari pagi sambil menenteng batagor.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.
Tin tin tin tin
"Astaghfirullah, siapa sih? Kan kita udah minggir." Ujar Shasa.
Tin tin
Shasa dan Tania menoleh ke belakang.
"Kayak mobil abang." Lirih Tania.
Mereka pun agak minggir lagi.
"Lho iya, abang."
Mobil tersebut berhenti. Orang sedang berada di dalam membuka jendela.
"Dek, ayo masuk!"
"Nanti lah, bang. Kan mau lari pagi."
"Masuk abang bilang!"
Tania menyenggol tangan Shasa memberi kode agar menuruti abangnya. Akhirnya mereka berdua masuk.
"Ini abangnya Shasa yang sering Shasa ceritakan itu? Ya Allah, kok lebih serem dari cerita Shasa. Amit-amit kalau punya pasangan macam dia. Bisa-bisa hidupku kaku juga." Batin Tania.
Meski sudah berteman lama dengan Shasa, namun Tania belum pernah bertemu dengan abangnya. Abangnya, Shasa memang tinggal di luar kota dan jarang pulang kalau tidak ada acara atau hati besar.
Bersambung....
...****************...
Hai kak selamat datang di novel baru othor. Terima kasih selalu support othor. Sudah bisa ketebak tidak, ini cerita dari keluarga siapa?
Selama dalam perjalanan, tidak ada obrolan di antara mereka. Abang fokus menyetir. Sedangkan Shasa dan Tania hanya bisa saling lirik saja. Abang Shasa memang lebih posesif dibanding orang tuanya. Itu karena ia tidak ingin adiknya salah pergaulan. Karena zaman sekarang memang harus lebih berhati-hati terhadap lingkungan sekitar. Bahkan orang terdekat pun bisa menjadi bumerang.
Akhirnya mereka sampai di rumah. Abang memarkirkan mobilnya. Tania dan Shasa turun dan masuk ke dalam rumah. Disusul kemudian oleh Abang.
"Assalamu'alaikum." Ucap Shasa dengan lesu.
"Wa'alaikum salam. Lho kok sudah pulang?" Bunda heran.
Belum juga Shasa menjawab, abang sudah muncul dari belakang.
"Lho, bang. Tumben pulang nggak bilang-bilang?"
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Abang mencium punggung tangan bunda. Bunda melihat ada yang tidak beres pada putranya. Bunda sekarang tahu jika Shasa pasti ketemu sama abangnya di jalan. Makanya ia pulang cepat.
Shasa dan Tania pun pamit masuk ke dalam kamar. Mereka akan makan batagor di kamar.
"Sha, abang mu kaku banget ya?"
"Hu'um kayak kanebo kering, haha... "
"Kok abangmu pulang sendirian, Sha?"
"Hem... aku belum cerita sama kamu ya?"
"Cerita apa? "
"Abang dan istrinya sudah pisah lima bulan yang lalu."
"Apa? Yang benar kamu, Sha? Kenapa?"
Shasa menghela nafas panjang.
" Maaf bukan maksudku ingin mencampuri urusan orang lain. Tidak perlu kamu ceritakan, Sha."
Shasa pun urung menceritakan masalah pribadi abangnya kepada Tania. Meski Tania adalah sahabatnya, tidak semua privacy keluarganya harus diceritakan.
"Terima kasih atas pengertiannya ya, Sha. Do'a kan saja yang terbaik untuk abang. Sebenarnya abang itu meskipun pendiam tapi dia itu perhatian dan penyabar. Cuma ya menang gitu modelnya, hehe... "
'Iya, Sha. Apa pun masalahnya, semoga abang mendapatkan ganti yang lebih baik."
"Aamiin... "
Setelah menghabiskan batagornya, Shasa dan Tania pun bergantian mandi. Setelah itu, Shasa mengajak Tania untuk sarapan bersama keluarganya. Sebenarnya Tania agak sungkan, karena ada abangnya Shasa. Namun Shasa meyakinkannya.
Tania dan Shasa membantu bibi mengeluarkan makanan dari dapur. Mereka makan lesehan seperti biasa.
"Sha, panggil abangmu!"
"Di mana, bun?"
"Di kamarnya."
"Iya, bun."
Shasa beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar abang.
tok tok tok
Tidak lama kemudian, pintu terbuka.
"Ada apa, dek?"
"Sarapan dulu kata bunda."
"Hem, iya."
"Ya sudah."
Shasa kembali ke ruang tengah. Disusul kemudian abang.
Abang agak terkejut saat ada orang lain yang ikut makan bersama.
"Temannya Shasa tadi. Ikut sarapan juga. Apa anak ini nginep di sini?" Batinnya.
Abang memang sangat posesif kepada adiknya. Terlebih kepada Shasa yang selisih usianya delapan tahun dengannya.
"Ayo bang, duduk." Ajak Ayah.
"Iya yah."
Akhirnya mereka sarapan.
"Ayo Tania, jangan malu-malu tambah lauknya." Ujar Bunda.
"Eh iya, makasih bun."
Abang melirik Tania. Ia agak penasaran karena tidak biasanya teman Shasa seakrab itu dengan keluarganya. Tidak sengaja saat itu Tania melihat ke arah abang. Pandangan mereka bertemu sejenak. Tania pun langsung membuang muka. Begitu pun abang.
"Ya Allah, bisa-bisanya aku ngeliatin abang kanebo." Batin Tania.
Setelah selesai sarapan. Tania membantu Shasa membereskan perabotan ke dapur.
"Tumben bunda bolehi teman Shasa nginep." Ujar abang saat Shasa dan Tania tidak ada.
"Dia itu Tania, sahabat baiknya Shasa. Dia sering kok main ke sini. Cuma baru kali ini nginep, bang. Tania yatim piatu dan hidup sendirian. Anaknya baik kok. Pintar juga. Adikmu sering dibantunya kalau ada tugas kuliah."
"Oh... abang ke kamar dulu, bun, yah."
Abang beranjak dari duduknya dan kembali ke kamarnya.
"Sudah bunda duga pasti jawabannya begitu, padahal bunda sudah cerita panjang lebar." Lirih bunda.
"Ya memang modelnya begitu, bunda." Sahut ayah.
"Anakmu itu, yah."
"Anak kita toh, bun. Haha...bunda, suka lupa kalau udah melahirkan dia."
"Apa mungkin sikapnya yang begitu sehingga membuat mantan istrinya tidak tahan ya? Kalau masalah keturunan, bunda yakin abang tidak masalah."
"Kalau memang iya, tidak mungkin mereka bertahan sampai tujuh tahun, bun."
"Anak itu tidak mau jujur tentang masalahnya, tiba-tiba pisah. Kalau abi tahu tentang ini, pasti abi langsung cari penyebabnya."
"Jadi bunda mau bilang kalau ayah ndak becus cari masalahnya abang, gitu toh?"
"Ndak juga. Toh, semua sudah berakhir. Mungkin jodohnya hanya sebentar. Semoga abang menemukan jodohnya kembali di waktu yang tepat."
"Aamiin... "
Agak siangan Tania pamit kepada Shasa untuk pulang. Namun, Shasa masih melarangnya.
"Sha, aku belum cuci baju. Cucian ku numpuk di rumah."
"Ck, nggak asik."
"Aku janji deh, kapan-kapan bakal nginep lagi."
"Beneran ya?"
"Iya."
"Terus kamu pulang dari sini naik apa? Aku pesenin gojek ya."
"Eh nggak usah, aku bisa naik lyn kok. Tinggal jalan bentar dari sini."
"Maaf ya, aku nggak bisa nganterin. Ada, abangku. Males aku nanti diinterogasi."
"Iya nggak apa-apa."
"Ayo aku antar sampai depan."
Mereka keluar dari kamar. Shasa dan Tania mencari keberadaan bunda dan ayah. Ternyata, mereka berada di taman belakang.
Shasa pamit pulang kepada mereka. Ia juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kasih atas kebaikan mereka.
"Jangan bosen main ke sini ya."
"Saya justru senang bunda. Maaf sudah merepotkan."
"Tentu saja tidak."
Bersamaan dengan itu, abang datang.
"Bunda, Ayah, abang mau ke rumah Opa."
"Ah kebetulan, ini Tania mau pulang. Kamu antar sekalian ya, bang."
"Tidak perlu, bunda. Saya bisa naik angkot."
"Iya bun, Tania udah biasa kok." Sahut Shasa yang ingin berusaha menyelamatkan sahabatnya dari abangnya yang seperti kulkas empat pintu. Ia tidak ingin Tania mati kutu saat duduk di mobil abangnya.
"Ndak apa-apa, ya kan bang?"
"Iya."
Shasa dan Tania saling lirik.
"Duh alamat jadi patung ini." Batin Tania.
Shasa ikut mengantar Tania sampai depan. Tania bingung mau duduk di mana. Saat ia membuka pintu belakang, abang angkat suara.
"Saya bukan sopir."
Tania menelan salivanya sendiri. Ia langsung menutup kembali pintunya, lalu membuka pintu depan dan duduk di samping kemudi.
"Dah... Tania." Shasa melambaikan tangannya. Tania membalasnya.
Di dalam mobil, Tania hanya bisa memainkan jari tangannya sendiri.
"Di mana rumahmu?"
"Jalan Tunjungan."
Tidak ada obrolan lagi. Atmosfer di dalam mobil itu terasa pengap. Padahal AC sudah menyala dengan volume tinggi.
Ketika hampir sampai, Abang kembali angkat suara.
"Sudah berapa lama berteman dengan Shasa?"
"Lima, lima tahun."
"Apa selama ini dia punya pacar?"
"Ti-tidak, mana mungkin dia pacaran. Shasa selalu ingat pesan Ayahnya."
"Baguslah."
"Ya Allah, kayak lagi sidang skripsi." Batin Tania.
Bersambung
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf kak upnya pelan karena othor beberapa hari ini kurang Vit. Terima kasih selalu mendukung karya othor. 🙏
Diam-diam Tania melirik ke samping. Dalam hatinya sedang memikirkan sesuatu.
Berberapa saat kemudian, Tania sampai sampai di depan gang. Ia meminta Abang untuk berhenti.
"Maaf, berhenti di depan. Itu gang rumah saya, bang."
Abang pun meminggirkan mobilnya. Tania membuka sabuk pengaman lalu membuka pintu.
"Terima kasih, bang."
"Hem."
Tania menutupnya kembali.
Abang pun melajukan mobil menuju rumah Opa.
Tania mengelus dada seakan merasa lega karena sudah tidak berada dalam suasana kaku seperti tadi.
"Huf... alhamdulillah."
Ia berjalan ke dalam gang menuju rumahnya sambil bertegur sapa dengan beberapa tetangga. Tania tinggal di rumah kecil dengan berukuran 4x7 meter di dalam gang yang hanya cukup dikendarai sepeda motor. Hanya terdapat satu kamar, dapur, dan kamar mandi serta ruang tamu yang hanya bisa ditempati untuk duduk lesehan. Rumah tersebut adalah peninggalan bibi dan pamannya.
Sampai di rumah, Tania langsung mencuci pakaiannya yang sudah menumpuk karena sudah tiga hari ia tidak mencucinya. Tania menikmati kegiatannya sabil bersenandung ria.
Setelah selesai mencuci dan menjemur pakaiannya di depan rumah, Tania memasak mie instan untuk makan siang. Ia selalu menikmati rezeki yang ada setiap harinya. Ia sudah bersyukur masih dapat mengobati rasa laparnya. Ia makan sambil nonton video di salah satu aplikasi hiburan. Hanya handphone nya yang menjadi teman dan hiburannya setiap hari. Tania juga jarang keluar rumah, sehingga jarang berkomunikasi dengan tetangga. Ia tidak ingin ketularan jadi tukang gosip. Ia hanya berkomunikasi seperlunya saja dengan mereka.
Tidak lama setelah Tania selesai makan, ada telpon dari Shasa. Tania langsung mengangkatnya.
"Hallo, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Tania, kamu di mana?"
"Di rumah, Sha."
"Dari tadi?"
"Iya lah, kenapa?"
"Alhamdulillah, gimana tadi di jalan? Abang nggak bikin kamu takut kan?"
"Memang abangmu hantu? Haha... "
"Ye... maksudku itu aku takut kamu nggak nyaman. Dari tadi aku kepikiran tahu. Abangku itu memang overprotective orangnya."
"Aku kayak lagi sidang skripsi tadi. Abangmu itu benar-benar ya."
"Huf... sudah kuduga."
Setelah ngobrol sebentar, Shasa pun mematikan panggilannya karena dipanggil bunda.
Kita beralih ke abang.
Sudah satu jam yang lalu, abang sampai di rumah Opa. Tentu saja Opa dan Oma sangat senang melihat cucu tertuanya itu. Oma bahkan meminta menantunya untuk memasak makanan kesukaan abang. Opa dan oma memberikan nasihat kepada abang. Mereka yang baru tahu jika Abang sudah berpisah dengan istrinya itu sebenarnya merasa kecewa. Namun mereka tetap memberikan support dan mendo'akan yang terbaik untuk abang.
"Opa tidak mau mencampuri urusanmu. Opa juga tidak akan menyuruhmu rujuk. Opa tahu kamu tidak mungkin mengambil keputusan segampang ini. Kamu pasti sudah memikirkannya secara matang dan penuh pertimbangan. Allah memang membenci perceraian. Tapi kalau bertahan hanya dapat menyakiti hati untuk aka dipertahankan. Opa percaya kamu, if."
"Iya Opa. Saif sudah berusaha untuk bertahan, namun Maya... ah sudah lah. Tidak perlu diperjelas lagi. Intinya jodoh kami sampai di sini. Oma, Opa terima kasih sudah mendo'akan Saif selama ini."
"Sini, peluk oma."
Oma merentangkan tangannya. Saif memeluk sang oma dengan penuh kasih sayang.
Luka itu masih terasa perih di hati Saif. Bagaimana tidak? Istri yang dia cintai selalu menekannya untuk mengambil keputusan yang sangat sulit.
Tentang Saif
Syaifullah Rahman yang biasa dipanggil Saif adalah putra pertama dari pasangan Khumairah (Ira) dan Arif. Ira merupakan anak sambung dari Opa Tristan. Meski begitu Opa Tristan dan Oma Salwa sangat menyayangi Ira sama seperti anaknya sendiri. Saif saat ini berusia 28 tahun. Dan di usia 23 tahun Saif sudah menjadi seorang dosen di salah satu universitas di Jombang sekaligus sebagai kepala komite di yayasan keluarganya di Surabaya.Tidak hanya itu, Saif juga menggantikan usaha sang Ayah meskipun saat ini belum sepenuhnya. Dari pernikahannya bersama mantan istri, ia tidak dikaruniai anak. Mereka bukan tidak berusaha untuk mendapatkannya, tetapi memang beberapa kali gagal. Namun bukan hal itu yang membuatnya menceraikan istrinya. Justru istrinya yang selalu meminta Saif untuk menikah lagi atau menceraikannya. Sedangkan Saif tidak pernah mempermasalahkan Hal itu. Bahkan Saif sempat ingin mengadopsi anak, namun istrinya tidak mau. Hal tersebut membuat Saif sangat terpukul selama beberapa tahun ini. Sehingga puncaknya 7 bulan yang lalu istrinya nekat untuk mencarikan Saif seorang perempuan untuk dijadikan istri kedua. Saif marah sehingga mengeluarkan kata-kata kasar kepada istrinya. Dan saat itu juga maya meminta Saif untuk menceraikannya. Saif tidak serta merta menanggapinya. Ia sempat meninggalkan rumah beberapa hari untuk memenangkan diri dan berpikir. Sehingga akhirnya ia mendapatkan jawaban dari istikharahnya. Saif pun akhirnya menjatuhkan talak keoada Maya setelah ia kembali ke rumah. Dan sejak hari itu juga, ia membawa barang-barangnya pergi dan mencari kontrakan. Rumah tersebut ia berikan untuk Maya karena memang dari awal menikah Saif memberikan rumah itu sebagai hadiah. Sebagai laki-laki yang bertanggung jawab Saif juga memasrahkan Maya kepada orang tuanya secara baik-baik. Orang tua Maya sempat tidak terima dengan keputusan Saif. Mereka sangat menyayangkannya. Namun setelah Maya angkat suara, mereka pun dapat mengerti. Mungkin ini yang terbaik bagi mereka. Saif berharap Maya akan menemukan jodoh yang lebih baik darinya.
Saif pamit pulang kepada oma dan opa karena ia ada janji dengan seorang dosen. Ia berencana akan pindah mengajar di Surabaya dan sudah menyelesaikan kontrak dengan kampus di Jombang. Untuk sementara iaakan tinggal bersama orang tuanya lagi. Saif akan meninggalkan Jombang dan semua kenangan bersama Maya di sana.
Oma menitipkan makanan keoada Saif untuk diberikan kepada Bunda Ira.
"Hati-hati.Sering-sering main ke sini."
"Iya, Oma. Insyaallah."
Setelah pamit kepada oma dan opa, Saif juga pamit kepada om Fadil dan Tante Kamelia.
Saif pun masuk ke dalam mobil dan tancap gas menuju kampus. Meski kampus tersebut milik keluarganya sendiri, namun Saif tidak ingin memanfaatkan kesempatan demi kepentingannya. Ia tetap mengikuti prosedur. Setelah tanda tangan kontrak, Saif pun pulang ke rumah. Ia juga memberikan titipan dari oma kekada bunda.
"Bunda, ini dari oma."
"Wah, makasih ya. Nanti bunda mau telpon oma kalau begitu."
"Iya, bun."
"Eh bang, tadi kamu dari rumah opa langsung pulang?"
"Tidak bun, abang dari kampus."
"Ngapain?"
"Maaf bun, apa boleh abang tinggal di sini lagi untuk sementara?"
"Ya Allah, abang kok ngomongnya gitu. Tinggal seterusnya juga bunda senang banget kok."
"Terima kasih, bunda. Abang mau balik ke kamar dulu."
"Iya bang."
Setelah Saif pergi, bunda cepat-cepat menemui ayah untuk memberitahu kabar.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf kak kemarin tiba-tiba dpat kabar paman suami masuk ICU karena serangan jantung. Jadi gak sempat up. Mohon do'anya ya kak. Thanks 🙏
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!