"Nafisha bangun sayang, " ucap seorang pria paruh baya, sembari membuka pintu kamar anak gadisnya siapa lagi dia jika bukan ayahnya Nafisha yaitu Narendra.
"Eeeeunghhh." Terdengar suara lenguhan Nafisha dengan nyaring yang membuat Narendra geleng-geleng kepala.
"Bangun sayang, sebantar lagu kita akan kedatangan tamu istimewa, dia itu teman lama ayah," lanjut Narendra kepada Putrinya mengelus kepalanya dengan pelan.
"Trus apa hubungannya sama Nafisha ayah, ini juga masih siang,belum sore,"jawab Nafisha dengan suara parau khas bangun tidur.
Dia beberapa kali menggesek matanya dengan kedua tangannya dengan pelan sebelum dia benar-benar membuka matanya dengan sempurna.
" Cepet bangun sayang terus mandi ya, jangan lupa dandan yang cantik, nanti ayah tunggu di ruang tamu," ucap Ayah Narendra kepada Nafisha setelah itu dia langsung keluar dari kamar putri semata wayangnya.
Nafisha Azzahra adalah anak dari pasangan Narendra Kusuma dan juga Anjani Maharani, ibunya meninggal dunia saat melahirkan Nafisha, dia mempunyai satu kakak yang begitu menyayanginya Rafael Rahardian Kusuma.Nafisha begitu beruntung telah lahir dari keluarga Kusuma, meskipun ibunya meninggal akan tetapi Nafisha tidak kekurangan kasih sayang dari ayahnya maupun kakaknya, karena Nafisha adalah putri satu satunya maka dirumah dirinya di perlakukan seperti seorang ratu.
Tak
tak
tak
Suara langkah kaki Nafisha terdengar dari arah tangga dia berjalan menuruni tangga menghampiri ayah dan kakak nya yang sudah siap dan rapi untuk menyambut kedatangan tamu. Nafisha mengernyitkan dahinya dengan heran, menatap kakak dan ayahnya yang begitu sangat gelisah sembari menunggu kedatangan tamu.
"Emangnya siapa sih yang datang? Sampai membuat ayah dan kakak terlihat begitu gelisah bagaikan cacing kepanasan," gumak Nafisha dalam hati.
Waktu yang di tunggu tunggu pun tiba mobil Dion Alexander memasuki gerbang utama kediaman Kusuma bisa terlihat didepan sana Narendra Kusuma dan Rafael Rahardian Kusuma sedang menyambut kedatangannya.Tepat di depan pintu masuk rumahnya Dion Alexander beserta keluarga di sambut hangat oleh keluarga Narendra Kusuma dengan senang hati.Mereka semua bercengkrama dengan hangat saling melepaskan rindu yang sudah lama mereka lewatkan.
"Apa kabar Narendra?" tanya Dion Alexander sambil memeluk Narendra.
"Aku baik Bro, Wah ternyata anakmu sudah besar Ion," ucap Narendra antusias. Menatap ke arah seorang Pria muda yang berdiri di tengah-tengah nya bersama dengan istrinya.
"Iya dia sudah besar, sebentar lagi dia menginjak Dewasa Naren."
"Ekh mbak Arini apa kabar," Sapa Narendra kepada Istri Ion saat matanya tidak sengaja melihat wanita itu di samping anaknya.
"Aku baik Naren,"
"Ayah udah dong ngobrolnya masa tamunya gak di ajak masuk sih," ucap Rafael yang sedari tadi hanya diam saja menyaksikan dua laki laki yang berbeda generasi itu saling melepas rindu.
"Ekh iya mari masuk," ajak Narendra sambil membukakan pintu dengan lebar. Mempersilahkan mereka masuk berjalan dengan pelan diikuti oleh
Dion Alexander dan keluarganya mengikuti Narendra dari belakang.
"Silahkan duduk." Narendra mempersilahkan mereka untuk duduk dan memperlakukan mereka seperti raja.
"Kak panggil adek kamu untuk berkumpul di sini,bilang tamunya sudah datang," ucap Narendra kepada Rafael.
"Baik ayah," jawabnya sambil berlalu meninggalkan ruangan tersebut menuju tempat dimana adeknya berada sekarang, sedangkan Narendra dan Dion ngobrol hangat kesana kemari menceritakan tentang kisah masa lalu mereka sewaktu muda bahkan hingga seperti ini, sudah mempunyai keluarga masing-masing dan tentunya sudah punya anak.
"Ayah," panggil Nafisha saat dia baru saja masuk ke ruang tamu bersama dengan Kakaknya.
Narendra yang mendengar suara putrinya pun langsung menoleh. Menatap ke arah Nafisha sembari tersenyum.
"Nafisha kenalin ini temen Ayah yang waktu itu Ayah ceritakan kepada kamu," kata Narendra memperkenalkan secara resmi sahabat terbaiknya dulu.
Nafisha yang mengerti ucapan ayahnya pun langsung berjalan mendekat kearah Dion dan keluarganya untuk memperkenalkan diri sembari mencium tangan mereka semua.
"Nafisha om tante," ucapnya lembut dengan sopan sembari tersenyum ke arah semua keluarga Alexander.
Arini yang melihat Nafisha langsung tertegun dan di buat kagum dia terpana dengan sifat dan sikap Nafisha yang begitu lemah lembut sopan santun serta mempunyai etitute yang baik.
"Cocok nih di jadiin mantu," ucap Arini dalam hati matanya dari tadi tidak lepas dari pandangan Nafisha. Membuat Nafisha menjadi sedikit malu dan canggung.
Devano yang melihat interaksi keluarga Alexander dengan keluarga Narendra dia tidak banyak berbicara dia hanya diam menunggu acara ini cepat selesai. Beberapa kali menghela nafas kasar karena sudah merasa bosan di ruangan itu.
Devano menoleh ke arah Nafisha menatapnya dengan lekat. Memperhatikan setiap detail dari cara berpakaian wanita di hadapannya ini.
"Dasr wanita aneh, kenapa harus pakai penutup wajah coba, bagaimana gue bisa lihat dia cantik atau enggaknya," ucap Devano dalam hati.
"Narendra boleh nggak Nafisha aku bawa pulang," kata Arini dengan nada bergurau sambil tersenyum ke arah Nafisha
"Hah kamu apa apaan sih mah,jangan bercanda," ucap Dion yang sudah tidak heran dengan tingkah Istrinya itu.
"Ikh papa diam aja pokoknya,"jawab Arini menatap tajam Dion suaminya.
Lalu menoleh kembali menatap Narendra dengan mata berbinar."Jadi gimana Naren?" tanya Arini kepada Narendra dengan serius.
"Mbak serius?"
Narendra tidak menyangka kalau ternyata ucapan istri sahabatnya itu ternyata serius.
"Ya nggak lah Narendra.Tapi, kalau serius juga dengan sennah hati aku membawa anakmu pergi," ucap Arini sambil memutar bola matanya dengan malas.
"Jadi mau mama apa?" tanya Papa Devano yang kesal dengan tingkah Istrinya.
"Mama mau Nafisha jadi mantu mama," jawab Arini dengan santai seolah yang dia bicarakan itu hanyalah hal biasa.
"APA," ucap Devano dan Nafisha bersamaan.
" Hah." Sedangkan Rafael, Dion dan Narendra hanya bengong dengan milut menganga mendengar ucapan Arini.
"Kalian kenapa sih kok pada kaget gitu?" tanya Arini dengan muka tanpa dosanya.
"Ya kaget lah mba orang mbak tiba-tiba mjnta Nafisha jadi calon mantumu,lagian ya Mba Nafisha itu masih kecil masih sekolah," jawab Narendra dengan kesal.
"Lah emangnya anakku juga enggak sekolah? Mereka itu sama, sama-sama masih sekolah Narendra."
"Terserah mbak saja lah." Narendra benar-benar kalah telak jika berbicara dengan Arini kaum perempuan ras terkuat di dunia.
"Jadi gimana, boleh apa enggak?" tanya Arini lagi.
" Kalau aku sih gak masalah tapi aku gimana Nafisha, jika dia mau ya silahkan, tapi jika tidak jangan marah loh mbak," kata Narendra di selingi candaan menatap Arini sambil terkekeh pelan.
"Gimana Nafisha maukan?" tanya Arini dengan muka malas kepada Nafisha.
"Hah, Ekh Tante," ucap Nafisha sambil Garuk tengkuknya yang tidak gatal.Dia bingung harus menjawab apa kepada Arini karena menurutnya pertanyaan itu begitu sangat tiba-tiba.
"Ma, udah dong kasihan tuh orangnya, kaget begitu," Devano yang tadinya diam saja angkat suara, bukan dia mau caper atau peduli pada Nafisha akan tetapi Devano begitu malas jika sudah seperti ini.
"Lagian mama mau jadiin Nafisha mantu mama buat siapa kak Arjuna," sambungnya.
Devano Alexander adalah anak bungsu dari keluarga Alexander dia mempunyai kakak laki-laki yang umurnya tidak beda jauh dengannya hanya selisih dua tahun saja dengan dirinya, dia adalah Arjuna Alexander.
" Bukan tapi buat kamu Devano Alexander,"
"APA ?AKU?" tanya Devano sembari menunjuk ke Arah dirinya sendir. Devano terkejut, bagaimana bisa mamanya mencatikan calon menantu untuknya memangnya dia mau nikah muda apa.
"Iya kamu Trus siapa lagi?" tanya Arini sembari menaikan sebelah Alisnya menatap Devano sembari tersenyum miring. Arini tidak habis fikir dengan putra semata wayangnya itu sudah bagus dia mencarikan istri yang baik untuknya tap Devano justru malah bersikap seolah-olah tidak tahu.
"Kenapa aku,kok bukan Arjuna saja?" tanya Devano dengan tidak habis pikir jalan pikiran mamanya.
"Lah iya kamu emannya siapa lagi Devano? lagian kalau kakakmu Arjuna, itu normal masih suka sama wanita lah kamu kalau nggak di cariin sama Mama kamu bisa-bisa belok Devano, dasar kulkas," ucap Mama Arini.
"Ck, Mama," timpal Devano sembari mencebikan bibirnya dengan kesal.
Setelah pertengkaran Alot antara ibu dan anak akhirnya Ayah Devano menengahi di antara keduanya.
"Sudah-sudah, Devano yang mama kamu katakan itu benar bahkan ayah sangat setuju jika Nafisha menjadi mantu kita, benarkan ma?" tanya Dion kepada istrinya seolah meminta persetujuan kalau mereka berdua telah sepakat untuk menjadikan Nafisha menjadi menantu keluarga Alexander.
"Denger tuh, kata orang tua Devano,"
Devano hanya menghela nafasnya dengan lelah, dia tidak banyak bicara karena dia tahu jika ayahnya sudah berbicara seperti itu maka keputusannya tidak bisa di ganggu gugat. Perkataan ayahnya itu perintah bukan sebuah pilihan jadi percuma saja jika dia ngomong panjang lebar jika akhirnya hasilnya akan tetap sama.
"Ck, Terserah ayah sama mama aja dekh kalau begitu Devano ngikut kalian saja, yang terpenting kalian bahagia," ucap Devano dengan pasrah sembari menundukan wajahnya.
"Jadi gimana Nafisha???" tanya Arini kembali.
"Emmm aku terserah ayah saja jika ayah setuju maka aku ngikut saja karena Ridho orang tua adalah Ridhonya Allah,"jawab Nafisha dengan lembut sembari menundukan pandangannya. Kedua tangannya saling tertaut memainkan jari tangannya dengan pelan seolah itu adalah penenang dari rasa grogi yang melandanya.
"Masyaallah mantu mama solehah banget," puji Arini kepada Nafisha.
"Hmm baiklah sekarang kita sepakat Nafisha dan Devano akan secepatnya menikah," ucap Dion kepada semua orang yang berada di sana
"Me-Ni-Kah," kata Nafisha dengan gugup.
"Apaan sih Pa aku tuh masih sekolah, yang benar saja, itu ilegal ma menikahi anak di bawah umur," kata Devano tidak setuju dengan ucapan Papanya itu.
"Lah siapa yang bilang kalian sudah lulus sekolah, toh jika kalian di nikahkan cepat juga nggak akan ada halangan kok asal kalian jangan bocor aja sama teman kalian, toh nikah nya juga hanya kita aja yang hadir, jadi gak masalah kan? Mama sama papa akan pastikan bahwa pernikahan kalian legal sah secara agama dan negara."
"Hmm terserah," Devano Pasrah.
" Baiklah jika sudah setuju kalian akan menikah minggu depan," ucapan ayah Nafisha begitu menggelegar membuat Nafisha dan Devano begitu syok melototkan matanya ke arah ayah Nafisha.
"APA???"
Setelah pertemuan waktu itu di rumah Narendra akhirnya Devano dan Nafisha sering bertemu hanya untuk fighting baju dan keperluan menikah lainnya meskipun Devano sedikit di paksa oleh orang tuanya.Dan hari yang di tunggu -tunggu pun tiba dimana Devano mengucapkan ijab kobul dengan lantang suara terdengar bergetar dan juga sedikit serak.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nafisha Azzahra Kusuma Binti Narendra Kusuma dengan Devano Alexander Bin Dion Alexande dengan maskawin 100 gram logam mulia dan uang 1milyar di bayar tunai," jawab Devano dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi sah,"
"Sah"
"Sah"
"Sah"
Kata Sah menggema di dalam rumah tersebut dengan bersahutan meskipun tidak banyak orang yang di undang namun tidak mengurangi rasa khidmat dalam ijab kabul itu.
Nafisha yang sedang berada di kamarnya setelah mendengarkan kata Sah luluh sudah hatinya bahkan Nafisa langsung meneteskan air matanya.
"Ya allah statusku sekarang telah menjadi istri Devano, semoga pernikahan ini adalah pernikahan yang engkau ridhoi," ucap Nafisha dalam hati.
Pintu kamar di buka oleh Rafael.Dia menatap kearah adiknya berjalan mendekat ke Arah Nafisha yang sedang duduk di ujung ranjang. Dia tersenyum lembut menatap lekat adiknya dengan sangat dekat.
"De, Jangan nangis masa Princes kakak nangis," ucap Rafael, tangannya terangkat dengan pelan mengusap pipi Nafisha yang lembut, menyapu air mata yang membasahi pipi itu.
"Aku terharu kak, ternyata secepat itu aku sudah menjadi milik orang lain bukan lagi milik kakak ataupun ayah," jawab Nafisha. Tangannya memeluk tubuh kakaknya dengan sangat erat. Menumpahkan rasa bahagia yang tidak bisa dia jabarkan bersama sang kakak.
"Iya de,bahkan kakak sangat sedih ketika kamu akan meninggalkan kakak dan ayah.Tapi,kakak tidak bisa egois sayang, yang terpenting kamu harus janji bahagia bersama dengan Devano." Rafael membatin dalam hati, dengan perasaan campur aduk antara sedih dan bahagia.
Ketika Nafisha dan Rafael sedang berpelukan, mama Arini datang, menghampiri mereka berdua. Memanggil mereka untuk segera turun.
"Nafisha, Rafael, ayo kita turun sekarang, semua orang sudah menunggu kehadiran Nafisha," kata Arini kepada Nafisha dan Rafael.
"Sudah kalian jangan nangis, kalian tetap masih bisa ketemu kok,dia masih tetap adik kecil kamu Rafael." Arini menenangkan Rafael.
"Makasih tante," jawab Rafael sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Nafisha.
Rafael menatap Nafisha dengan lekat." Ayo sayang kita turun," ajak Rafael menggandeng tangan Nafisha.
Mereka bertiga berjalan menuruni tangga, di gandeng oleh kakak dan juga ibu mertuanya berjalan dengan anggun untuk menemui semua orang di bawah yang sudah menunggunya.Sesampainya di bawah semua orang terpana dengan kecantikan Nafisha, padahal Nafisha itu masih memakai cadar akan tetapi kecantikannya terpancar bak dewi turun dari langit. Apalagi jika sudah melihat wajahnya mungkin Devano akan terpana.
"Duduk sayang," kata Arini kepada Nafisha. Memerintahkannya duduk di samping Devano.
Tubuh Nafisha bergetar dia sedikit grogi saat duduk bersebalahan dengan Devano. Nafisha menoleh menatap ke arah Devano menatapnya dengan lekat.Dia mengangkat tangan mengulurkan tangannya ke arah Devano.
Melihat uluran tangan Nafisha, Devano langsung saja menerima uluran tangan itu dan menjabat tangannya dengan lembut. Nafisha menundukan kepalanya mencium punggung tangan Devano dengan lembut. Lalu Devano dia mencium kening Nafisha secara perlahan dengan khidmat.
Cup
Saat bibir Devano menyentuh kening Nafisha, entah kenapa ada rasa hangat yang menyelimuti hati Devano dan juga Nafisha yang tanpa mereka berdua sadari.
"Rasanya begitu sangat tenang dan hangat," ucap Bathin Devano dan Nafisha secara bersamaan.
Setelah itu Nafisha di perintahkan untuk membuka cadarnya di depan suaminya, akan tetapi Nafisha menolak jika bukan Devano sendiri yang membukanya.Akhirnya mau tak mau Devano membuka cadar Nafisha meskipun dengan tangan yang bergetar dan hati yang sedang jedag-jedug tak karuan.
"Sial kenapa bisa grogi gini sih malu-maluin aja," gerutu Devano dalam hati.
Saat tangannya sudah sampai di belakang kepala Nafisha Devano berusaha membuka tali cadar Nafisha dengan tangan yang
bergetar. Dia menarik cadar yang menghalangi wajah Nafisha selama ini.Terpampang sudah wajah Nafisha yang begitu cantik bak dewi yang turun dari khayangan dengan mata yang besar dan bulat matanya berwarna hezel, bulu matanya sangat lentik dan juga panjang,
kulitnya putih seputih susu , hidung yang mancung bagai perosotan, bibirnya tipis kecil mungil , tak lupa pipi yang cuby menambah kesan keimutan Nafisha. Nafisha bak bayi yang baru lahir, padahal umurnya sudah 18 tahun.
Semua orang yang ada di sana sampai berdecak kagum dengan sosok pengantin wanita yang begitu imut dan menggemaskan.Sedangkan Devano begitu terkejut matanya melotot sempurna saat melihat wajah Asli Nafisha yang begitu cantik di balik cadarnya itu.
"Cantik," ucap Devano dalam hati sambil tersenyum menatap ke arah Nafisha.
"Pa lihat tuh anak kamu kayaknya sedang terpesona dengan mantu mama," Ucap Arini berbisik tepat di samping telinga Dion Alexander, Bahkan kakaknya Devano– Arjuna sampai berdecak kagum saat melihat wajah Nafisha.
"Lah jika perempuannya modelan kayak gini mah gue juga mau," ucap Arjuna dalam hati.
"Mau sampai kapan kalian saling tatap seperti itu Hmm."
" Dunia serasa milik berdua, yang lain mah ngontrak," ucap Rafael dengan nada candaan.
"Pa,sepertinya aku mau pindah ke Mark aja, gak tahan aku melihat keuwuan mereka berdua," ucap Arjuna dengan suara yang nyaring. Meskipun tak cukup keras tapi masih bisa terdengar oleh semua orang.
Sedangkan Nafisha dan Devano sudah menunduk mereka berdua menahan malu atas sindiran para tamu dan keluarga mereka berdua.
"Hahahahhahaha, Makanya cepat halalin tuh Hazel, biar Papa cepat-cepat dapat cucu dari kalian,"
"Ck, Papa," ucap Arjuna karena dirinya tak habis fikir dengan ayahnya yang suka ceplas ceplos itu.
"Hahahahah sudah Pa,sudah, lihat tuh muka anakmu sudah merah gitu menahan malu kan kasian mereka berdua," kata Arini kepada suaminya.
"Iya iya,"
Malam harinya Devano tidur di kamar Nafisha.Mereka tidur bersebelahan di atas ranjang tanpa melakukan apapun. Menatap ke atas langit kamar sambil sambil berbicara dari hati.
"Elo kenapa mau aja sih menerima pernikahan ini ? " tanya Devano dengan ketus tanpa menoleh ke arah Nafisha.
" Ya emangnya apa yang harus Nafisha tolak, toh niatnya juga niat baik, ingat kak niat baik itu harus di segerakan," jawab Nafisha dengan tenang.
" Terserah lo dekh gue cape, tapi jangan harap kalau gue bisa menerima lo, gue juga terpaksa menerima pernikahan ini, jika bukan kemauan ayah dan mama mungkin gue mana sudi menikahi lo," kata Devano sambil membenarkan selimutnya.
" Ya Allah apakah aku salah menerima lamaran mama Arini, aku harus bagaimana? berikan Nafisa kekuatan ya allah," ucap Nafisa dalam hati.
"Ya sudah kak Devano tidur di ranjang saja, biarkan Fisha tidur di sofa," kata Nafisha sambil berdiri, berjalan ke arah Sofa.
"Terserah lo, gue capek,"
Malam ini Nafisha terpaksa tidur di sofa karena Devano tidak menginginkan tidur dengannya.Seharunya malam ini menjadi malam pertama yang begitu indah untuk mereka berdua, akan tetapi tidak dengan Devano dan Nafisha, bahkan mereka tidak tidur bersama.
♧♧♧♧
Di pagi harinya Nafisha dan Devano sedang bersiap untuk berkemas, karena Devano bilang bahwa dirinya akan tinggal di apartemen miliknya bersama Nafisha.Sebenarnya bisa saja Devano tidak memperdulikan Nafisha, tetapi keluarganya akan curiga dengan mereka berdua.
" Jika lo sudah beres nanti lo bangunin gue kita akan berangkat sekarang ke Jakarta," ucap Devano dengan nada ketus. Menutup matanya di atas kasur.
"Iya,"
Setengah jam kemudian Nafisha telah selesai berkemas.Dia mengangkat tangannya menyentuh tubuh Devano dengan lembut untuk membangunkannya.
" Kak Devano bangun Fisha sudah selsai," kata Nafisha.
"Hmmm." Hanya kata itu yang Devano ucapkan, dia mengerjapkan matanya beberapa kali unti menyesuaikan pecahayaan yang masuk kedalam matanya.Devano bangun dari ranjang dengan perlahan berjalan menuju Kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Setelah itu Devano dan Nafisha pun turun berdua dengan bergandengan tangan.Mereka berdua berperan bagaikan suami istri uang terlihat sangat romantis di depan orang tua mereka berdua.
"Loh kalian mau kemana kok sudah rapih saja?" tanya Rafael.
"Ekh iya kak maaf aku lupa ngasih tahu kakak dan ayah, jadi hari ini tuh Devano sama Nafisha akan pulang ke Jakarta. Rencananya Nafisha akan melanjutkan sekolah di sana bersama dengan Devan ," Devano menjelaskan dengan hati hati dari A sampai Z.
"Hmmm baiklah jika itu kemauan kalian yang terpenting kakak titip Nafisha ya Devano, dan kebetulan juga siang nanti kami berdua akan berangkat ke Singapura untuk perjalanan bisnis ,jadi selama kami gak ada kakak titip Nafisha sama kamu ya,"jawab Rafaell sembari menghela nafas lega.
"Tenanglah kak Devano akan menjaganya dengan baik, karena bagaimana pun Nafisha sekarang sudah menjadi tanggung jawab Devano."
"Sukurlahlah kalau begitu, kakak lega meninggalkannya bersamamu."
Nafisha yang mendengar percakapan kakaknya dengan Devano merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan, tapi apa.
"Kakak, kenapa berbicara seperti itu, lagian kan kalian cuma pergi untuk berbisnis bukan untuk selamanya, nanti juga kita bakal bertemu lagi."
"Iya Fisha."
Nafisha menatap kakaknya dengan lekat. Dia merasa curiga ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kakaknya itu.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa aku merasa kakak sedang menyembunyikan sesuatu?"
Setelah perjalanan cukup lama akhirnya Devano telah sampai di Apartemen miliknya.
Devano langsung turun meninggalkan Nafisha di dalam mobil sendirian. Nafisha menghela nafas lalu mengikutinya turun. Dia berjalan menuju bagasi mobil mengambil koper miliknya di dalam sana.
"Dev apartemen kamu nomor berapa??" tanya Nafisha sambil berteriak dengan sedikit kencang.
"Sebelas," jawabnya dengan dingin. Setelah mengatakan itu Devano langsung pergi meninggalkan Nafisha, yang kesusahan membawa kopernya.
Ceklek
Devano masuk terlebih dahulu, kemudian di susul oleh Nafisha berjalan dengan langkah pelan sembari menatap setiap ruangan.
"Dev," panggil Nafisa.
"Duduk," jawab Devano dengan singkat menghiraukan panggilannya.
"Hmmm."
Nafisha sudah lelah hari ini dan sekarang dia harus menghadapi sikap Devano yang dingin itu. Dia lebih baik menuruti perintahnya daripada harus berdebat dengannya yang pasti tiada ujungnya. Nafisha berjalan mendekat ke arah Devano lalu duduk di atas sofa ruang tamu tepat di samping Devano.
"Nafisa ingat ya,gue gak mau lo atur kehidupan gue, meskipun lo udah jadi istri gue tapi lo gak berhak atur gue semau lo, mau gue pulang malam, pacaran, pokoknya lo jangan ikut campur. Urus saja kehidupan lo, jika di sekolah kita harus pura-pura gak kenal, dan satu lagi untuk biaya kehidupan kita, gue setiap bulan akan tetap memberikan lo uang, terserah lo uangnya lo mau pake apa yang penting gue udah memberikan lo uang sebagai nafkah buat Lo." Devano menjelaskan dari A sampai Z aturan pernikahan mereka berdua.
" Ini, uang nafkah lo bulan ini, segitu cukup kan?" tanya Devano sembari memberikan amplop putih kepada Nafisha, menyimpannya di atas meja.
"Di dalam amplop itu terdapat uang 10 juta rupiah," lanjutnya.
Dirasa urusannya sudah selesai Devano langsung saja bangkit dari duduknya, berjalan pergi meninggalkan Nafisha. Namun, saat Devano benar-benar akan pergi Nafisha akhirnya angkat bicara.
"Dev trus kamar aku dimana?" tanya Nafisha menatap lelah Devano.
"Di samping kamar gue," jawabnya datar sambil menunjuk tepat ke arah pintu berwarna coklat yang berada di tengah.
"Jadi, maksud kamu kita satu kamar?" tanya Nafisa kepada Devano.Dia menatap lekat pintu kamar itu tanpa ekspresi.
"Ck, menurut lo?"
Devano melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Apartemen, menuju parkiran.Devano langsung menjalankan mobilnya menuju bascam tempat dimana geng ARION berkumpul, kebetulan Devano itu adalah ketua dari geng itu, bersama dengan Arjuna kakaknya. Mereka berdua kakak beradik yang terjun di dunia Racing. Bersama ketiga sahabatnya, Aldino, Devan dan Deren, saat Devano datang semua anggota Arion sudah berkumpul di bescam hanya Devano saja yang baru datang.
"Baru nyampe lo Dev?" tanya Arjuna.
"Iya bang," jawabnya singkat berjalan masuk kedalam untuk berkumpul dengan teman-temannya.
Arjuna hanya menganggukan kepala tanpa bertanya lebih lanjut.
"Bos kemana aja lo dua minggu ini? Gak seperti biasanya Lo hilang tanpa kabar?" tanya Aldino penasaran.
"Sibuk," ucapnya malas.
"Ck, dasar kulkas, gini nih jika punya ketua yang gak banyak omong, giliran ngomong udah kayak es, Beku," Sahut Devan.
"Maksud Devano itu dia sedang sibuk." Deren menjelaskan perkataan Devano. Karena dia juga sama seperti Devano, tapi tidak seirit dan sesingkat itu seperti Devano.
"Devano menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada di Bescam, hatinya sangat kesal apalagi saat mengingat tentang Nafisha istrinya. Deru nafasnya naik turun merasa kehadiran Nafisha hanyalah beban untuknya.
"Argggggh,sialan," umpat Devano dengan kesal.
Semua orang langsung menoleh menatap ke arah Devano dengan tatapan berbeda- beda. Namun, Devano tidak peduli dengan mereka semua.
" Lo kenapa si bos baru saja datang udah teriak begitu?" tanya Devan.
"Setres Lo?"
"Berisik," jawabnya dengan ketus.
Semua geng Arion langsung terdiam tidak berani mengganggu ketuanya itu.Mereka saling tatap satu sama lain seolah bertanya-tanya tentang Devano.Sedangkan Arjuna dia begitu terlihat santai tanpa terpengaruh oleh mereka memainkan game di dalam ponselnya dengan khusuk.
Lebih gilanya karena mereka sangat penasaran dengan perubahan sikap Devano, mereka sampai menggosipkan Devano di grup anggota geng mereka. Namun, sebelum itu mereka sudah mengatur pengaturan supaya Devano tidak bisa melihat isi pesan chat mereka semua.
"Si bos kenapa sih tidak seperti biasanya, aneh banget?" tanya Devan.
"Lah gue juga heran, gue kira lo juga tahu?"
"Ck, dasar kalian kepo banget sih sama si bos mungkin lagi ada masalah dengan pacarnya." Deren selalu saja berpikiran positif dan juga dewasa karena bagaimana pun umur Deren lebih tua dari mereka semua.
♧♧♧♧
Setelah berbicara yang penuh drama dengan Devano akhirnya Nafisha memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya yang berada di samping kamar Devano,meskipun sangat kesal dengan keputusan sepihak dari Devano Nafisha tetap menerima perlakukan itu dengan baik.
"Kuatkan hamba mu ini ya Allah," lirihnya sambil memasukan barang barangnya kedalam lemari.
Setelah itu Nafisa berjalan menuju dapur untuk mengecek apakah ada bahan yang masih bisa di masak. Namun, Nafisha terkejut ternyata disemuanya sudah lengkap tertata rapi.
" Karena sudah ada bahan dengan lengkap, maka aku akan memasak untuk nanti makan malam," gumamnya dengan lirih sembari mengambil pisau yang berada di hadapannya.
Nafisha berkutat di dapur, memasak dengan lihat seperti kopi yang sudah terbiasa dengan semua hal itu.
Setengah jam kemudian.
"Akhirnya beres juga," ucap Nafisa sambil menghidangkan makanannya di meja makan.
Dia juga tidak lupa memberikan dapur, menjadi seperti keadaan semula. Lalu setelah itu dia pergi ke kamar untuk membersihkan diri sebelum Devano pulang.
Ceklek
Nafisa keluar dari kamarnya dengan badan yang sudah segar.
"Lebih baik aku tunggu saja dulu Devano pulang, dan nanti kita bisa makan malam bersama, " gumamnya dengan pelan. Berjalan keluar dari kamar menuju meja makan, menarik salah satu kursi lalu duduk di sana sambil menunggu Devano pulang.
Satu jam, dua jam, tiga jam, bahkan sampai lima jam berlalu Devano tidak kunjung pulang.Dia menoleh menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Astagfirullah, sebenarnya Devano kemana, kenapa jam segini dia belum pulang?"
Nafisa terus saja mondar mandir di depan pintu apartemen menunggu Devano yang tak kunjung pulang. Meskipun Devano selalu bersikap dingin kepada Nafisha tetap saja dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Devano apalagi saat ini hari sudah larut malam.
"Apa aku telepon saja Devano, dan menanyakan bagaimana keadaannya sekarang," ucap Nafisha pada dirinya sendiri.
Dia berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas samping ranjang untuk menghubungi Devano. Namun, saat dia akan menghubunginya Nafisha menepuk jidatnya dengan pelan.
"Aish, aku lupa kan aku tidak punya nomor ponselnya Devano," gumam Nafisa dengan perasaan konyol.
"Apa aku Minta sama Mama aja ya, tapi bagaimana kalah mama nanti curiga," lanjutnya memikirkan solusi yang terbaik untuk menghubungi Devano.
"Tapi kalau tidak Fisha takut Devano kenapa, lebih baik aku minta sama mama, urusan mama curiga itu gimana nanti saja yang penting aku sudah mendapatkan nomor Devano."
Akhirnya Nafisa mencoba menghubungi mamanya meskipun hatinya di liputi rasa bersalah dan juga takut mengganggu istirahat mama mertuanya.
Tuttt tuttt tuttt
"Hallo ada apa Nafisha?" tanya mertuanya di sebrang sana.
"Ma maaf Fisha mengganggu waktu istirahat mama, Fisha boleh minta nomor Devano nggak ma, soalnya nomor ponselnya gak sengaja kehapus," ucap Nafisha berbohong sambil menggigit bibir bawahnya.
"Okh boleh nanti mama kirim nomernya kalau begitu mama tutup dulu,"
"Iya ma makasih, maaf menggagu mama,"
"Iya sayang santai aja." Setelah mengatakan itu Arini langsung saja menutup panggilan itu.
Tring
Suara pesan masuk kedalam handphone Nafisha yang berisikan nomor Devano dari mama Arini.Tanpa pikir panjang Nafisha langsung menghubungi Nomor Devano.
Tuttt tuttt tuttt tuttt
1 kali panggilan
Dua kali panggilan
hingga lima kali baru di angkat.
"Hallo, siapa?" tanya orang tersebut di sebrang sana.
Nafisha tidak langsung menjawab dia terdiam sesaat saat mengetahui kalau yang mengangkat panggilan itu bukan Devano.
"Kak Arjuna," ucap Nafisha dengan lirih.
Terdengar suara yang begitu sangat berisik dan bising di sebrang sana.Namun, yang membuat Nafisha mematung adalah suara Devano yang terdengar begitu jelas dengan seorang wanita di sana.
"Devano sayang Akh,"
Nafisha menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak di dadanya yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.
"Fisha," jawab Arjuna sambil berbisik.
"Kak mana Devano, kok jam segini dia belum pulang aku khawatir banget kak sama dia,mana hari sudah sangat larut malam?" tanya Nafisha dengan nada Khawatir.
Arjuna terdiam saat mendengar ucapan adik iparnya itu, dia merasa bersalah kepada Nafisha. Menoleh menatap ke arah Devano yang saat ini sedang bertumbuh mesra dengan pacarnya.
"Ada di sini bersama kakak,"jawab Arjuna.
"Syukurlah, kalau begitu fisha tutup dulu teleponnya kak,"ucapnya sembari menghela nafas lega.
"Oh ya Kak, jangan bilang sama Devano ya kak kalau Fisha menghubunginya,"sambungnya dengan suara sedikit bergetar.
"Emmm baiklah,kakak gak akan berbicara apapun." jawab Arjuna menyetujui permintaan Nafisha.
Tutttt
sambungan telpon di putuskan sepihak oleh Nafisha.
Hazel yang melihat Arjuna sedang teleponan pun langsung saja menatap ke arah Arjuna.
"Siapa sayang?" tanya Hazel kepada pacarnya Arjuna.
"Nafisha," jawab Arjuna lirih dengan tatapan sayu dan sendu menatap ke arah Hazel.
"Hah jangan bilang dia...." Hazel syok dengan apa yang baru saja dia dengar, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Iya Hazel, aku tidak tega kepada Nafisha, aku tahu kalau saat ini dia sedang tidak baik-baik saja, meskipun suaranya terdengar biasa saja tapi aku yakin kalau Nafisha mendengar semuanya. Aku sungguh tidak berguna sebagai kakaknya Devano tidak bisa menjaganya Hazel," kata Arjuna sambil memeluk Pacarnya Hazel.
"Adik gue memang brengsek, meskipun mereka menikah karena perjodohan akan tetapi setidaknya hargailah dia,"lanjutnya dengan nada yang menggebu-gebu.
"Sudah Juna ini bukan salah kamu,"
"Awas saja kamu Devano, sekali lagi kamu menyakiti Nafisha maka kita lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan kepada kamu,"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!