Indonesia
NovelToon NovelToon

TEROR PARAKANG

Malam Petaka

"Sayang, jangan main diluar, waktu sudah Maghrib," teriak seorang wanita pada anak laki-lakinya yang berusia tiga tahun, sedangkan ia masih sibuk didapur. Ia masih memasak untuk makan malam mereka, sebab suaminya baru saja pulang memancing dan membawa ikan yang banyak.

Sementara itu, suaminya masih mandi disumur belakang, dan tidak memperhatikan apa yang terjadi.

Bocah laki-laki itu tubuhnya gempal, dan pipinya juga cubby membuat rasa gemas bagi siapa saja yang melihatnya. Ia sedang bermain diteras rumah yang berpagar kayu dan sepertinya sang ibu lupa membawanya masuk ke dalam rumah karena sibuk dengan pekerjaannya.

"Meeeeong,"

Terdengar suara kucing mengeong saat langit mulai temaram, dan semakin menggelap.

Kucing itu berbulu hitam dan lebat. Kakinya hanya tiga, tetapi ia dapat berlari dengan kencang, dan kedua matanya berwarna merah, disertai taring yang mencuat keluar dari sudut bibirnya.

"Meong," ucap sang bocah yang menirukan bunyi kucing tersebut. "Meong." bocah itu beranjak dari tempatnya, ia membawa mobil-mobilan berukuran kecil ditangannya, dan bergegas keluar halaman mengejar kucing hitam tersebut.

Sang kucing berlari, dan bocah itu kegirangan untuk mengikutinya, seolah melihat kucing yang sangat menggemaskan.

Semakin lama, kucing itu membawanya jauh masuk ke dalam hutan dan suasana semakin gelap.

"Meong, sini," panggil sang bocah dengan nada menggemaskan.

Sang kucing berhenti, dan ia memutar tubuhnya, lalu menatap sang bocah yang saat ini sedang mendekat kearahnya.

Saat bersamaan...,

Wuuuussss

Craaaash

Kucing itu mencakar wajah korban, lalu menghisap darahnya hingga habis, dan dalam hitungan detik, ia merobek dada korbannya, dan memakan oragan tubuhnya, lalu melesat menghilang, meninggalkan korban yang sudah tergeletak tak tak bernyawa.

Sementara itu, ayah dari sang bocah baru selesai mandi, dan saat akan menuju kamar, ia melihat pintu depan terbuka dengan lebar.

"Bene, kamu lihat Upe--kah?" tanya pria itu pada sang istri yang baru saja selesai memasak.

Sang wanita mengelap tangannya yang berminyak pada ujung pakaiannya. "Tadi saya taruh itu anak didepan sini, tetapi kenapa bisa pintu terbuka?" ia tampak keheranan dan mulai cemas.

Sang suami bergegas masuk ke dalam kamar, dan mengenakan pakaiannya, sedangkan sang istri keluar ke halaman mencari puteranya.

"Upe, Upe, kamu dimana, Nak?" teriaknya dengan suara yang terdengar bergetar. Oa mulai merasa khawatir saat puteranya tak mendengar teriakannya.

Sedangkan sang suami sudah keluar dari rumah, membawa sebilah parang ditangannya. "Lakkai, anak kita tidak ada, sang istri mengadu dengan wajah pucat.

"Aku akan mencarinya, dan meminta bantuan tetangga," jawab pria tersebut.

Pria yang kerap disapa Puang itu bergegas menuju rumah warga untuk meminta bantuan, sedangkan istrinya sudah menangis dalam kesedihan.

Tak berselang lama, warga sudah berkumpul dengan membawa lampu senter dan juga obor untuk menyisir hutan. "Apakah dibawa ular sanca?" salah seorang warga mulai menduga.

"Huss, jangan kata seperti itu, tak baik, kita doakan yang baik," mereka terus berjalan menuju hutan, dan pencarian mereka berakhir, saat lampu senter menangkap satu sosok tubuh yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Tubuhnya sudah tak bergerak, dadanya robek dan organ tubuhnya sudah habis dengan darah yang mengering.

"Upe, Upe!" pekik Puang dengan wajah terkejut dan berlari menghampiri jasad tersebut.

"Hah! Siapa yang sudah membunuhnya?" warga ikut terkejut, xan ketika melihat bagian lehernya terdapat bekas dua taring yang menghisap darahnya, membuat mereka terkejut dengan wajah ketakutan.

"Parakang, ini ulah Parakang!" sebut salah seorang diantara mereka.

"Parakang? Siapa pula yang memiliki ilmu parakang?" warga tampak cemas, sebab desa mereka mulai tak aman dan ini sangat mengerikan.

Puang mengangkat tubuh puteranya dengan rasa hancur yang berkeping-keping, dan ini adalah duka yang cukup mendalam baginya.

"Ayo, kita makamkan jasadnya, dan sepertinya kita harus mulai waspada, ada hal yang sangat tidak beres dikampung kita," ucap salah satu warga menginggatkan.

Iya, kampung kita sudah tidak aman," sahut yang lainnya, dan mereka terlihat sangat cemas.

Sedangkan Puang masih dalam kedukaan yang tak dapat ia gambarkan dengan ungkapan kata, sebab rasa sakit saat kehilangan puteranya dengan cara yang cukup sadis.

****

Kreeeeek

Suara pintu kamar terbuka, dan saat bersamaan, seorang wanita cantik yang sedang berbaring diatas ranjang membuka matanya.

Ia menoleh ke arah pria yang saat tadi baru saja selesai pulang bekerja. "Daeng Cenning, kamu sudah baikan?" tanyanya dengan nada khawatir. Ia bergegas memasuki kamar, lalu memeriksa kondisi sang istri dan ternyata suhu tubuhnya sudah turun, dan malam tadi ia mengalami deman.

Wanita itu hanya tersenyum dengan sangat tipis, dan beranjak bangkit. "Andi mau makan--kah?" tanyanya dengan penuh semangat.

"Tidak usah repot-repot, Sayang. Iaq' sudah membawa makan malam, tadi beli itu ditempa orang jual coto Makassar, rasanya sangat enak sekali, ayo, kita makan." ajak sang suami bernama Enre.

"Iya, Sayang, terimakasih banyak." wanita itu beranjak bangkit dan mengikuti suaminya yang sudah keluar dari kamar.

Wanita cantik itu mengikuti sang suami pergi ke dapur.

Tampak sang pria mempersiapkan semuanya. Sebuah hidangan yang menggiurkan, membuatnya mengeluarkan air liur.

"Makanlah, Sayang. Saat selepas sakit, makan seperti ini pasti sangat segar sekali," ucap pria bernama Enre tersebut.

Daeng Cenning menganggukkan kepalanya, lalu mengaduk soto Makassar yang isiannya daging sapi, jeroan berupa hati, babat, paru, jantung, dan sebagainya.

Wanita itu makan dengan sangat lahap.

Sesaat Enre merasakan indera penciumannya mengendus aroma anyir yang mirip darah.

"Sayang, muleba'i bau anyi' dara? (Kamu ada cium aroma anyir darah,)" tanya sang pria, sembari mengenduskan hidungnya.

"Aku tidak mencium adanya bau darah, Sayang," ucapnya dengan tenang, tetapi lidahnya tak dapat dipungkiri, jika air liurnya tertumpah pada kuah soto tersebut, dan ia menyantap isiannya dari makanan itu dengan sangat lahap.

"Iya, ya, mungkin saja hidungku yang sedang sensitif.

Ucap Enre menyetujui jawaban dari sang istri.

Keduanya adalah pasangan pengantin yang sudah menikah sekitar enam bulan yang lalu, tetapi belum dikarunia keturunan.

Karena faktor keluarga yang tidak menyetujui hubungan pernikahan mereka, Enre membawa sang istri merantau ke kampung orang.

Ia tidak tahu apa yang menyebabkan ibunya tidak menyukai sang istri. Bahkan rela mengusir mereka saat malam gelap, dan memaksanya untuk bercerai dengan Daeng Cenning.

Karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap sang istri, maka Enre rela meninggalkan keluarganya dan membawa Daeng Cenning pergi jauh.

Kini kehidupan mereka jauh lebih bail tanpa adanya campur tangan keluarganya. Apalagi sang adik perempuannya yang sedang mengandung, jelas-jelas memperlihatkan kebenciannya pada sang istri.

Karena tidak tahan akan segala keributan yang terjadi, akhirnya Enre memilih mengalah untuk pergi.

Mata Tajam

Sementara itu, dikediaman rumah Puang terlihat duka yang mendalam. Jasad Upe sudah dimakamkan malam ini juga, sebab tak dapat juga dilamakan, karena kondisi yang sangat miris.

Warga mulai cemas dengan keadaan yang ada. Dimana, saat ini kampung mereka sudah tidak aman lagi, sebab pemilik ilmu hitam Parakang sudah kembali.

"Mungkin bukan parakang, bisa saja dimakan hewan buas, sebab kita temukan dihutan," salah satu warga mencoba menyangkal pendapat warga.

"Hewan buas apa yang ada di Sulawesi? Beruang kuskus, Anoa? Mereka herbivora, tidak makan daging. Sedangkan ular phyton, korban pasti dibelit dan ditelan." salah satu warga menyela.

"Kalau buaya, pasti jasadnya juga sudah didalam perut hewan tersebut, dan tidak juga menghisap darah, sebab buaya bukan drakula, maka hewan-hewan tersebut bukan menjadi pelakunya," ketua adat bernama Wellang menyahut.

"Tapi maaf, Datuk. Di sungai Saddang ini terkenal dengan buaya yang berukuran besar, bisa jadi Upe dimangsa buaya," berbagai pendapat dilontarkan, ada yang pro dan ada yang kontra, tetapi semua memberikan analisanya sendiri.

Seluruh warga semakin cemas. Mereka terlihat semakin gelisah, sebab isu parakang tentu membuat mereka tidak nyaman.

"Bagaimana kita harus melawannya?" warga yang lainnya tampak semakin gelisah.

"Kita adakan ronda malam secara bergiliran, kita harus menjaga kampung ini agar tetap aman," Wellang mengintruksikan kepada warganya.

"Baiklah, kita atur saja bagaimana baiknya," warga setuju dengan usulan sang ketua adat yang mereka anggap harus dipatuhi.

****

Hari terlihat sudah siang. Daeng Cenning keluar dari kamarnya. "Sayang, Iaq' pergi bekerja, ya." pria itu mengecup kening sang istri dengan lembut.

Ia membawa bekal yang dimasak oleh Daeng Cenning, dan kali ini ada sambal hati plus telur.

"Hati-hati ya, Lakkai," ucapnya dengan senyum semanis madu, dan hal itu pula yang membuat Enre tak dapat melepaskan Daeng Cenning, meskipun keluarganya tidak ada yang setuju dengan pernikahan mereka, ditambah lagi sang istri adalah seorang yatim piatu yang tidak tahu asal usul keluarganya.

Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju teras, tempat dimana ia memarkirkan motornya.

Ia akan pergi menambang pasir dan itu adalah pekerjaannya, yang mana mengambil upahan dari sang pemilik usaha, baginya dapat memenuhi kebutuhan hidup Daeng Cening adalah hal yang membahagiakan untuknya.

Setelah Enre pergi meninggalkan rumah, wanita itu menuju keluar teras, lalu menatap jalanan desa yang sangat banyak dilalui oleh warga. Ia sedang menunggu penjaja sayur mayur dan bumbu yang biasanya setiap pagi selalu lewat dari depan rumah.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dimana pedagang sayur yang telah lama ditunggunya datang melintas. Namun seorang wanita yang sedang hamil tua dan berada tepat diseberang jalan yang mendiami sebuah rumah mewah memanggilnya.

Mereka tak lain adalah penusaha tambang emas yang menambang sama disungai saddang, bersebelahan dengan tambang pasir tempat Enre bekerja.

Karena merupakan seorang saudagar kaya raya, wanita bernama Ella itu sangat jarang sekali keluar, dan Daeng Cenning juga baru kali ini melihatnya.

Wajahnya sedikit sinis dan tidak begitu mau bergaul, karena menganggap dirinya orang yang harus dihormati dan tidak selevel dengan para emak-emak yang ada disekitarnya, kecuali sesama penambang emas

Daeng Cenning berjalan menyeberang, ia juga ingin membeli sayur dan juga ikan segar.

Ella merasa tidak senang jika tetangga barunya itu harus ikut membeli didepan rumahnya, ia memasang wajah sinis.

"Anja', bbéréka juku tellu banna sibawa kacang tellu banna (Bang, beri setengah kilo ikan dan kacang setengah kilo)," pesan Daeng Cenning pada sang abang penjual sayur.

"Iyye', Dik. aga bumbu laingngé maélo' nabeli? (Iya, Dik. Apa bumbu lain ada yang mau dibeli?" tanya sang penjual sayur dengan sangat ramah.

Daeng Cenning menganggukkan kepalanya. Lalu menarik beberapa kantong kresek yang digantungkan dengan beberapa bumbu dapur yang hampir memenuhi gerobak si penjual.

Sementara itu, Ella semakin kesal karena sang penjual sayur terlalu ramah pada Daeng Cening.

"Hitung punya saya, Anja'" Ella menyodorkan daging ayam yang dibelinya, dan beberapa bumbu lainnya dengan wajah tidak ramah, hal itu yang membuat pedagang sayur membatasi ucapannya pada sang pelanggan, sebab takut ada yang salah.

"Ya," sang pedagang lalu menghitung dengan cepat, dan menyebutkan nominalnya.

"Ini uangnya, Anja'. Tolong segera pergi dari depan pagar rumah saya!" ucap Ella dengan kasar, sembari melirik ke arah Daeng Cenning yang sedang memegang belanjaannya.

Seketika wanita itu merasa sangat tersinggung, sebab itu terlalu kasar.

Sesaat ia melirik ke arah perut Ella dengan tatapan yang tajam, ia tahu, jika disana terdapat sesuatu yang sangat begitu manis, dan tentunya membuat air liur Daeng Cenning seolah akan keluar.

Ella yang ditatap seperti itu membalas dengan tak kalah tajamnya. "Apa tatap saya seperti itu? Kamu orang pendatang jangan belagu dikampung orang!" ucap Elka dengan sangat kasar, lalu mengambil kembalian uangnya dengan cepat, dan bergegas pergi meninggalkan pedagang sayur, lalu mengunci pintu pagar rumahnya dengan sedikit bantingan yang menimbulkan suara berdenting.

Daeng Cenning dan pedagang sayur hanya saling pandang, dan keduanya mempercepat jual beli dan pergi meninggalkan depan rumah Ella yang terkenal.dengan angkuh dan sombong.

Setelah selesai, Daeng Cenning kembali ke rumahnya. Saat bersamaan, ia berpapasan dengan seorang warga desa yang sedang menggiring tujuh ekor sapi untuk dibawa merumput ke lokasi hutan, dan saat sore hari akan ia ambil kembali.

Sapi-sapi tersebut sangat gemuk dan juga segar, membuat Daeng Cenning tak lepas memandanginya hingga sang peternak itu pergi menjauh.

Wanita muda itu tersenyum misterius, lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.

Sementara itu, Enre sudah tiba dilokasi tambang. Ia bekerja dengan seorang penambang kaya raya, dan tugasnya adalah menaikkan pasir ke atas mobil yang sudah menunggunya.

Baginya, seberat apapun pekerjaannya, itu semua tak ia hiraukan, sebab membuat Daeng Cenning tersenyum setiap hari adalah obat yang paling mujarab untuk menghilangkan rasa lelahnya ditambah lagi sang istri yang sangat agresif saat diatas ranjang, hal itu membuat cintanya semakin besar dan bersemangat diatas ranjang.

Setelah selesai satu truk besar, Enre beristirahat sejenak, sembari menunggu mobil lainnya mengantri.

Ia menyulut sebatang rokok untuk menambah tenaganya yang hampir hilang.

Baru saja satu sesapan, tiba-tiba sang mandor datang dengan tatapan yang tak senang.

"Kamu itu Makkareko singkedde, aja' mumammekko! (Kamu itu kalau kerja yang benar, jangan kebanyakan santai!" hardik pria tersebut dengan kasar.

Sontak saja hal itu membuat Enre tersentak kaget. Ia beranjak bangkit, dan memilih untuk menahan emosinya, lalu menuju mobil yang baru saja datang.

Andai saja ia tak membutuhkan pekerjaan, maka sudah dipastikan ia akan menendang sang mandor saat ini juga. Ia memilih bersabar, sembari mencari pekerjaan lainnya.

Awal Pengusiran

"Bu, aga ripikkiranna Bang Enre'e, natega napilie makkurannu iyanaritu nasaba atong atong atongta keluargana? (Bu, apa yang ada difikiran Bang Enre? Sampai tega memilih perempuan itu dibanding kita keluarganya?)" ucap Anni yang saat ini sedang memotong kukunya.

Anni adalah adik bungsu dari Enre yang saat ini juga sedang hamil muda, dan entah mengapa ia merasa tak suka dengan kehadiran Daeng Cenning yang jika malam-malam tertentu mengeluarkan aroma anyir darah dan juga terkadang aroma busuk, seperti orang tidak pernah mandi.

"Ibu juga tidak tahu. Mungkin terlalu cintai mati terhadap wanita itu," sahut Andi Lalo dengan dengan perasaan yang resah.

Semarah apapun ia, pastinya ada rasa rindu dihatinya saat puteranya menegaskan tak akan lagi menginjak rumahnya, sebab memilih Daeng Cenning, dan dengan amarahnya ia pergi membawa wanita itu merantau.

"Bu, aku merasa ada yang aneh dengan istri bang Enre," tiba-tiba Anni mengingat sesuatu.

"Aneh bagaimana?" tanya Andi Lalo dengan rasa penasaran.

"Kak Cenning itu kalau liat perutku seperti berbinar-binar matanya, seperti mau dimakannya saja aku," Anni mengingat malam itu, dimana saat ia sedang ke kamar mandi, tanpa sengaja berpapasan dengan Daeng Cenning, dan wanita itu seolah menatap ke arah perutnya dengan tatapan yang sangat aneh.

"Mungkin perasaanmu saja," Andi Lola mencoba mengabaikan prasangka dari puterinya.

Ia tak menyukai Cenning karena berasal dari keluarga miskin, dan itu membuat cinta puteranya tak direstui, apalagi harus memberikan uang panai yang cukup besar saat akan nikahan, maka itu adalah sebuah kerugian besar. Ia tak sudi mengeluarkan uang panai, dan akhirnya membuat Enre berjuang sendiri, mengumpulkannya dengan bersusah payah, dan hanya dengan panai seadanya, mereka menikah secara sederhana.

Saat masih pengantin baru, ia menumpang tinggal dirumah ibunya, tetapi entah apa yang membuat Anni dan Daeng Cenning selalu berbuat cekcok.

Anni merasa tak nyaman saat berdekatan dengan kakak iparnya, ditambah lagi perasaan merinding jika berpapasan, dan juga tatapan yang menakutkan menurut Anni, dan itu membuatnya gelisah.

Ditambah lagi dengan suara lolongan anjing yang terus saja melolong tanpa henti sepanjang malam didepan rumah, membuat ia tak dapat tidur nyenyak.

Sehingga membuat iya merasa, jika iparnya sangat mengerikan.

"Apa yang sedang kamu pandangi, Daeng? Mengapa menatapku seperti itu'e? Seperti mau makan saja!" gerutu Anni saat melihat sang kakak ipar menatap perutnya yang tertutup pakaian longgar.

Daeng Cenning tak menjawab, hanya saja matanya begitu berbinar, dan hal itu semakin membuat Anni merinding.

Melihat sikap aneh sang kakak iparnya membuat Anni semakin tak menyukainya ditambah lagi rumahnya selalu bau busuk dan terkadang bau anyir darah hal itu terjadi semenjak kedatangan wanita tersebut.

Anni yang merasa kesal menghentakkan kakinya, lalu memilih masuk ke dalam kamar ibunya dan tak perduli jika didalam sana ada ayahnya juga.

"Ambo', tulung palaoi indo ipa'e polè ri bolaè, dè uwassuroi (Ayah, tolong usir ipar itu dari rumah ini. Aku tidak menyukainya,)" ucap Anni yang mana ia sangat tak suka denga Daeng Cenning.

Bahkan hingga saat ini, ia merasa jika punggungnya merasa menebal. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua Anni tersentak kaget

Bagi Andi Lola, Daeng Cenning memang sudah sangat lama ingin ia usir, tetapi suaminya sekalu saja menghalangi, sebab merasa kasihan pada anak lelakinya.

"Tidak boleh'e berkata seperti itu, kasihan itu anak sudah yatim piatu, dan pastinya ia sangat kesepian. Mungkin ingin mengajakmu bercengkrama," Ambo mencoba menenangkan hati puterinya yang saat ini sedang tertekan.

"Lakiak, kamu harus mendengarkan apa kata Anni, jangan sampai kamu menyesal karena terlalu membela menantumu itu," Andi Lola sudah sangat tidak tahan untuk memendam rasa jengahnya.

"Ambo harus apa? Ini sudah malam, tidak mungkin juga harus diusir malam ini, kalau memang tidak suka, ya tunggu sampai besok pagi," Ambo Uleng memberi pengertian pada kedua wanita tersebut.

Mendengar jawaban dari sang ayah, Anni semakin jengkel, ia memilih keluar dari kamar kedua orangtuanya, menuju ke dalam kamarnya sendiri.

Saat ia melintasi ruang tengah, ia tak melihat dimana sang kakak ipar, dan hatinya semakin merasa takut.

Dengan langkah terburu-buru, ia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dengan cepat.

Anni duduk ditepian ranjang. Ia ingin segera tidur, tetapi entah mengapa ia merasa sangat takut hanya untuk sekedar memejamkan mata.

"Kenapa aku tiba-tiba menjadi merinding, ya?" Anni mengusap tengkuknya, dan ia merasa punggungnya menebal.

Saat bersamaan, suara lolongan anjing terdengar sangat kencang, tepat berada didepan mereka, seolah sedang melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

"Ada apa, sih? Kenapa anjing itu terus saja melolong?" gumam Anni dengan perasaan yang semakin takut.

Ia bahkan merasa tak nyaman untuk tidur malam ini, apalagi sang suami belum pulang dari bekerja.

Auuuuuuuung... Auuuuung

Suara lolongan itu bagaikan teriakan ketakutan yang melihat satu sosok mengerikan sedang berada diatas atap rumah.

Satu sosok kucing berukuran besar, tepatnya sebesar manusia dengan bulu hitam, dan bola mata memerah, serta taring yang mencuat sedang merayap memasuki kamar Anni dan berhenti tepat diatas rabung kamar tanpa plafon.

"Kenapa bau busuk ya?" gumam Anni dengan mengenduskan hidungnya, ia mencari sumber bau yang sangat menyengat, bagaikan bangkai.

Sesaat indera penciumannya mengarah ke atas rabung kamar, dan seketika, kedua matanya membeliak saat menyaksikan satu sosok makhluk bertubuh besar, berbulu hitam dan bola mata merah menyala sedang menatapnya dengan seringai.

"Aaaaaaaa, Ammmboooo," teriak Anni dengan suara yang sangat kencang.

Sontak saja hal itu membuat Ambo Uleng dan juga Andu Lola yang ingin tertidur tersentak kaget.

Keduanya bergegas menuju kamar puterinya yang saat ink sedang hamil besar.

Braaaak

Pintu didobrak, dan mereka melihat Anni sedang meringkuk ketakutan ditepian ranjang.

"Anni, ada apa?" tanya Andi Lola dengan rasa khawatir. Ia mendekap puterinya yang ketakutan.

"A-ada parakang diatas sana!" tunjuknya tanpa.melihat le arah atas rabung rumah.

Ambo Uleng dan Andi Lola menoleh ke arah yang ditunjuk oleh puterinya, tetapi tidak ada apapun disana, hanya aroma busuk yang tertinggal bercampur anyir darah.

Keduanya saling pandang dan membuat mereka meyakini jika apa yang dikatakan puterinya adalah benar, sebab aroma itu masih sangat menyengat.

"Bau parakang, Andi," ucap Ambo Lola dengan nafasnya yang memburu.

"Ya, dimana Daeng Cenning?" Andi Lola semakin menaruh rasa curiga pada sang menantu.

"Aku akan melihatnya dikamar dan jika semua bukti mengarah padanya, maka sebaiknya kita mengusir ia malam ini juga!" Andi Lola tal lagi dapat memberi kesempatan apapun untuk sang suami dalam membela menantunya itu.

~Puang, Daeng Andi dan, Ambo adalah gelar bangsawan Bugis.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!