Bismillah
***
“AKKH ...!” jerit Lidya begitu kencang, saking terkejutnya. Wajah gadis itu membeku saat menyibakkan bed cover yang menutupi tubuhnya. Matanya yang semula terbelalak, kini mulai tergenang air mata. Apalagi ada pria yang sangat ia kenal, kini satu ranjang dengannya.
“El, kenapa pakai teriak segala sih, Sayang,” gumam pria itu dengan matanya yang masih terpejam.
“Ya Allah ... apa yang telah aku lakukan di sini?” Suara Lidya bergetar hebat, tubuhnya mulai gemetaran saat menatap pria yang berbaring di sampingnya.
Dan, yang membuat tubuhnya kembali terguncang, tangan pria itu menarik tubuhnya dan membawa ke dalam dekapannya. “El, semalam kamu begitu nikmati sekali, Sayang. Mas sangat menyukainya. Punyamu buat aku melayang hebat kali ini,” bisiknya begitu menggetarkan jiwa yang selama ini mengaguminya. Ya, hanya mengaguminya saja, tidak bisa ia miliki.
Lidya memejamkan matanya, menahan rasa pusing yang masih mendera di kepalanya. Namun ia harus menyadari pria yang mulai bergerak mencium pipinya.
“K—Kak Arjun, aku ... bukan Kak Eliza,” ujarnya begitu pelan.
Arjuna yang belum sepenuhnya membuka matanya, langsung melebarkan matanya.
“Ka ... mu! Lidya! Kenapa bisa ada di sini?! Kamu menjebakku ya! Wajah Arjuna menegang, bahkan sempat mendorong tubuh Lidya seolah-olah tak sudi menyentuhnya.
“Buat apa aku menjebakmu, Kak! Aku tidak terima ... Kak Arjuna menuduh aku seperti itu. Aku masih punya akal dan hati nurani!” Hati Lidya terasa sesak.
Lidya tersenyum getir. Dengan masih menahan bed cover di tubuhnya yang polos, ia berusaha duduk, begitu juga dengan Arjuna yang baru menyadari jika ia pun tidak menggunakan sehelai kain pun.
“Aku pun juga ingin bertanya, kenapa kita bisa begini, Kak?” jawabnya masih dengan suara bergetar. “Tapi, Kakak malah menuduhku.”
Arjuna meraup wajahnya dengan kasar, sembari mencoba mengingat apa yang terjadi setelah mereka selesai meeting dengan relasi bisnis sebelum kembali ke kamarnya.
“Yang aku ingat, waktu selesai makan ... kepalaku sedikit pusing saat mau mengantarkan berkas meeting ke kamar Kakak. Setelah itu, aku coba rebahan di sofa sebelum kembali ke kamar,” jelas Lidya pelan.
“Arrgh!!” Arjuna geram, ia pun baru teringat bahwasanya sebelum ke kamar, sekretaris relasi bisnisnya menyajikan wine untuknya.
“Pasti ini kerjaan Pak Tommy! Kita kena jebak, Lidya! Agar aku mau deal kesepakatan kerja dengan perusahaannya," tebaknya, tampak yakin.
Lidya mendesah pelan, ia mencari kaca matanya dan langsung mengenakannya. Hatinya mencelos karena akhirnya masuk dalam permainan busuk bisnis kakak iparnya. Ia yang selama dua tahun ini menjadi sekretaris suami kakaknya, sudah bertahan menjaga marwahnya. Hari ini, akhirnya hancur seketika, ia merasa telah menjadi pengkhianat kakaknya yang paling jahat.
Arjuna menatap adik iparnya dengan segala pemikiran yang amat kacau. Apalagi saat melihat noda darah di kain sprei, itu pertanda dirinya memang sudah merenggut mahkota adik iparnya. Bahkan, ia masih teringat surga dunia yang begitu nikmat.
“Lidya, aku minta maaf kalau ... aku telah—“ Kata Arjuna menggantung bak hembusan udara.
Gadis itu tampak sibuk mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai tanpa mengucapkan sepatah kata pun, namun hatinya sedang menangis.
“Bersihkan 'lah badanmu, setelah itu ... baru kita selesaikan masalah ini,” pinta Arjuna pelan, tidak meninggikan suaranya seperti hari-hari biasanya sebagai atasan Lidya.
Tak ada anggukan dari gadis itu, lagi-lagi hanya diam sebagai jawaban kalau hati dan raganya telah hancur. Bahkan ia berjalan pun terseok-seok, menahan rasa perih dan sakit di bagian intinya.
***
Begitu masuk ke dalam kamar mandi, barulah Lidya menangis sejadi-jadinya di bawah aliran shower. “Mengapa ... mengapa harus terjadi! Aku memang suka dengan Kak Arjuna, tapi tidak pernah bermimpi ingin seperti ini. Tolong, jangan bikin aku jadi orang jahat,” gumamnya lirih.
“Aku harus bagaimana? Apakah aku harus ikhlas keperawananku hilang oleh kakak iparku sendiri?” tanyanya lebih kepada diri sendiri.
Selama lima tahun, sejak jumpa pertama kali dengan Arjuna Adiwongso beserta kedua orang tuanya di saat berkunjung ke rumah orang tuanya. Lidya Calista, yang baru saja lulus sekolah sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi, gayung tak bersambut. Pria tampan itu rupanya naksir dengan Eliza Fadhila, kakaknya, yang memang memiliki paras yang cantik. Ketimbang ia yang terlihat sederhana dengan kacamata bulat dan tebalnya, tubuhnya pun agak gemuk. Jadi, wajar saja Arjuna memilih Eliza.
Alhasil, setelah dua bulan Arjuna dan Eliza melakukan pendekatan, akhirnya mereka resmi menjadi suami istri. Sementara Lidya, hanya bisa memendam rasa sukanya dalam hatinya. Tapi, tak disangka sebelum ia lulus kuliah, mamanya Arjuna menawarkan ia untuk bekerja sebagai sekretaris Arjuna, apalagi ia adalah mahasiswa berprestasi di kampusnya.
Ia pun menerima tawaran tersebut, dari pada mencari pekerjaan yang sekarang sangat sulit didapatkan.
Namun, bukan berarti ia semakin dekat dengan Arjuna. Pria itu sangat menjaga jarak dengannya, dan Lidya pun bisa merasakannya, ia pun turut bersikap profesional sebagai sekretaris CEO.
Kini, apakah kejadian ini akan mengubah sikap mereka berdua? Atau justru membuat jurang pemisah yang semakin dalam?
***
Setengah jam kemudian, Lidya keluar dari kamar mandi dengan pakaian kerja semalamnya, matanya tampak sembab. Arjuna sekilas meliriknya, sedangkan Lidya memalingkan wajahnya.
“Aku sudah pesankan sarapan. Makanlah selagi aku mandi. Dan, jangan kembali ke kamar dulu,” perintahnya begitu dingin.
“Mmm,” gumam Lidya sambil lalu menuju ruang tamu.
Beberapa menu sarapan sudah tersaji di meja makan, andaikan hari ini di antara mereka berdua tidak terjadi sesuatu hal. Mungkin Lidya sedang menikmati sarapan enak di restoran hotel. Kegiatan yang paling Lidya sukai selama mendampingi Arjuna ke berbagai kota, maka dari itu tubuhnya tambah semok ketimbang Eliza yang sangat langsing.
“Bicara butuh tenaga juga, kan? Jadi sebaiknya kalian semua harus aku makan,” gumamnya dengan menahan rasa ngilu di hatinya. Satu persatu hidangan ia makan, sampai tidak menyadari kakak iparnya sudah duduk di hadapannya.
Arjuna sengaja membiarkan gadis itu makan, sedangkan ia menikmati kopi yang masih hangat. Setelah beberapa menit kemudian, barulah ia buka pembicaraan.
“Lidya, aku akan bertanggung jawab atas kejadian kita semalam. Tapi, bukan menikahimu.”
Lidya mengangkat wajahnya, alisnya terangkat sebelah. “Tanggung jawab?” ulangnya.
“Ya, aku akan bertanggung jawab padamu, tapi bentuknya bukan menikahimu. Kejadian kita semalam adalah kecelakaan semata, bukan hal yang disengaja. Aku tidak ingin mengkhianati istriku, dan kamu pun pasti tidak ingin menyakitkan hati kakakmu sendiri, kan? Jadi aku akan mengambil jalan tengah. Dengan perjanjian, kita harus merahasiakan kejadian ini seumur hidup kita.“
Bersambung .... ✍️
Assalammualaikum, halo Kakak semuanya, ketemu lagi dengan Mommy Ghina dengan cerita barunya. Mohon dukungannya dengan cara: mengikuti cerita setiap babnya, tanpa di-skip, jangan lupa like, dan komentar setiap babnya. Dukungannya ini agar retensi babnya tercapai.
Buat yang suka nabung bab, alangkah baiknya menunggu sampai tamat aja ceritanya, karena akan merusak retensi alhasil naskah tidak dapat reward. Jadi mohon kerja sama dari kakak semuanya, berkaca dari karya sebelumnya yang sangat nyesek rasanya 😭. Makasih banyak sebelumnya 🙏.
Tanggung jawab? Dalam bentuk apa? Kalau memang tidak bisa menikahinya.
Lidya menatap lekat kakak iparnya seraya otaknya berpikir mencari sebuah ide. Mau bagaimana pun ia punya harga diri yang harus dijaganya, meski berhadapan dengan pria yang sangat ia sukai.
“Katakan Kak, dalam bentuk apa tanggung jawabnya, jika tidak bisa menikahiku?” Suara Lidya agak tercekat.
“Aku akan memberikan uang sebanyak 300 juta. Cukup, kan, sebagai ganti rugi?”
Mata Lidya mengerjap berulang kali, ada sedikit kekehan pelan dari bibirnya yang cukup menggoda. “300 juta?” ulangnya, senyumannya seakan mengejek.
Bagaimana Lidya tidak mengejek Arjuna, ia tahu berapa profit perusahaan milik keluarga Adiwongso yang menguasai bisnis retail, properti hampir di seluruh Indonesia, setiap bulannya. Kemudian, harga dirinya hanya diganti sebanyak 300 juta. Namun, bukan berarti ia menilai harga dirinya dengan sejumlah uang.
“Kamu menertawakan aku, Lidya?” Sorot mata Arjuna menajam. Jika biasanya Lidya langsung sungkan, sekarang rasa sungkannya lenyap begitu saja.
Gadis itu tersenyum sembari membetulkan gagang kaca matanya. “Harga diriku yang selama ini aku jaga baik-baik untuk suamiku kelak, telah Kak Arjun ambil, dan itu pun tidak bisa tergantikan oleh uang sebanyak apa pun. Ya ... walau kita sama-sama dalam pengaruh obat, tetapi tetap saja sudah Kak Arjun hisap madunya. Kakak pikir aku bisa menerimanya? Kakak pikir aku tidak sakit ... mmm? Aku sudah hancur, Kak Arjun. Masa depanku, mimpiku untuk membangun rumah tanggaku langsung terhempaskan begitu saja.” Lidya berusaha bicara dengan tenangnya.
“Aku tahu Kakak tidak akan bisa menikahiku, dan aku pun sendiri tidak akan minta Kak Arjun menikahiku. Karena aku tidak ingin menghancurkan rumah tangga kakakku sendiri. Aku tidak ingin disebut atau dapat gelar sebagai adik ipar adalah maut,” lanjutnya.
Arjuna mendesah pelan sembari meletakkan cangkir kopinya. “Sudah, tidak perlu bertele-tele, Lidya. Aku tidak ingin mendengar curhatanmu. Pada intinya kamu tidak mau menerima uang sebanyak 300 juta itu, kan. Jadi, berapa yang kamu minta? Tapi, jangan lagi kamu mengungkit-ungkit kejadian ini,” desaknya dengan aura dinginnya.
Lidya meneguk minumnya terlebih dahulu, samar-samar ia tersenyum licik saat idenya terbesit. Mungkin hari ini ia harus memanfaatkan kakak iparnya demi masa depannya sendiri, bukan berarti ia perempuan matre. Hanya saja, hari esok tidak akan pernah ada yang tahu akan terjadi apa.
“Uang sebanyak 2 milyar, dan saham Grup Adiwongso 5%.”
Mata Arjuna semakin menajam, sudut bibirnya tersenyum miring. “Wow, tak disangka, ternyata kamu termasuk wanita matre juga,” sindirnya.
Lidya menarik napasnya dalam-dalam, tanpa melepas tatapannya pada pria yang kini berusia 32 tahun.
“Aku rasa wajar ya kalau perempuan itu agak matre, lagi pula aku hanya minta sedikit dari apa yang Kak Arjun miliki. Kalau merasa keberatan ... ya—“ Gadis itu tersenyum sinis, sembari berdiri. “Kak Arjun, sudah tahu jawabannya, tidak perlu aku jelaskan lagi.”
“Aku tidak mau hancur sendiri.”
Rahang Arjuna mengeras, giginya menggertak menahan emosi yang baru saja disulut oleh adik ipar sekaligus sekretarisnya. Baru kali ini ia melihat sisi Lidya yang sangat jauh berbeda.
“Aku harus kembali ke kamar, mau menyiapkan berkas yang harus Kak Arjun bawa ke tempat proyek jam 10 nanti,” pamit Lidya yang masih menunjukkan sikap profesional dalam bekerja.
Arjuna bergeming, menatap punggung gadis itu hingga menghilang dari pintu.
“Sialan!! Arjuna merutuk diri sendiri. Dibalik geramnya, ternyata ia pun tersulut gairah yang seharusnya tidak muncul lagi.
“Arrgh! Kenapa kamu menginginkannya lagi! Ingat lah ... dia adik iparmu!”
Arjuna tidak bisa menutupi dirinya kalau kejadian tadi malam membuat tubuhnya bereaksi sangat berbeda pada Lidya.
***
Di balik pintu, Lidya mengusap ujung matanya yang kembali berair. Ia menarik napas panjangnya sedalam mungkin, meredam gejolak sakit hati yang masih menguasai dirinya. Gadis itu tak menyangka, se-rendah itu kakak iparnya memandang dirinya.
Pada dasarnya apa yang ia minta, bukan karena ia matre. Bahkan uang sebanyak itu tidak bisa mengembalikan kehormatannya, tapi setidaknya ia memiliki tabungan untuk masa depannya sendiri.
“Kamu harus kuat, Lidya. Kamu ... harus menerima apa yang telah terjadi,” gumamnya seorang diri.
Beberapa menit kemudian, Lidya mengganti pakaiannya dengan baju santainya, bukan memakai baju resmi untuk menemani Arjuna ke proyek yang ada di Yogyakarta. Ia butuh waktu, ia butuh sendiri. Setelah berkas yang dibutuhkan Arjuna siap, ia kembali ke kamar sebelah.
“Ini berkas yang harus Kak Arjuna bawa. Point penting yang harus dicek sudah aku tandai biar Kak Arjuna tidak bingung,” tunjuknya ke map file.
Arjuna yang sudah rapi menelisik penampilan adik iparnya yang tampak santai. “Kamu ke tempat proyek, yakin pakai baju kaya orang mau tidur?” Suaranya yang dingin terdengar ketus.
Lidya mengangkat wajahnya. “Mohon maaf Kak Arjun, hari ini aku ingin istirahat. Badan rasanya remuk ... kayak orang habis dihajar orang se-RT. Kalau mau dipotong gaji juga nggak pa-pa. Asal aku sudah dapat kepastian sebelum kita kembali ke Jakarta,” sindir Lidya dengan santainya.
Arjuna berdecak, lalu menarik kasar map file dari tangan gadis itu. “2 miliar, saham 5%. Apa bisa menjamin rahasia kita tidak akan kamu bongkar pada keluarga atau siapa pun itu?” Arjuna balik sindir.
“Aku rasa Kak Arjun bukan orang yang bodoh, kan? Kita bisa melakukan perjanjian di atas hukum. Aku siap,” tantangnya dengan seulas senyum pahitnya.
Pria itu lagi-lagi berdecak, hatinya mengakui di balik wajah adik iparnya yang tidak secantik kakaknya, otaknya sangat berguna.
“Kamu tidak bermaksud memanfaatkan aku, kan?”
Lidya memutar malas bola matanya. “Apakah Kak Arjun merasa dimanfaatkan sama aku? Ia balik bertanya.
Arjuna tak menjawab.
“Lebih tepatnya, aku hanya minta ganti rugi. Karena aku yang rugi, sedangkan Kak Arjun sudah menikmatinya. Bahkan, tidak ada barang Kak Arjun yang hilang, kan. Jadi ... sesuai permintaan Kak Arjun, aku akan kerja sama dengan baik,” jawabnya santai tapi serius, sembari mengerlingkan salah satu matanya.
“Aku permisi Kak Arjun, selamat bekerja,” pamitnya sebelum berbalik badan.
“Kamu yakin tidak menginginkan aku menikahimu sebagai tanggung jawabku?”
Langkah kaki Lidya berhenti.
“Apakah aku harus menjawabnya, Kak? Setelah sejak awal Kak Arjun menegaskan padaku untuk tidak menuntut minta dinikahi?”
“Aku hanya memastikan saja sebelum kita melakukan kesepakatan. Agar kedepannya, kamu tidak menuntut lebih,” tegas Arjuna.
“Jangan khawatir Kak Arjun, aku tidak akan meminta Kakak untuk menikahiku dalam keadaan apa pun. Aku menghormatimu sebagai kakak iparku. Dan, aku pun sadar diri ... dengan keadaanku yang sangat jauh berbeda dengan Kak Eliza,” ungkapnya begitu lirih. Lidya kembali berjalan dan pintu kamar itu kembali tertutup.
“Biarlah rasa ini aku simpan sedalam mungkin. Dan, hanya aku seorang yang tahu akan perasaanku padamu, Kak Arjun,” batinnya.
Bersambung ... ✍️
Hari itu, Lidya memanfaatkan waktu untuk beristirahat, memulihkan dirinya hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wib. Sedangkan Arjuna yang masih memantau proyek pembangunan apartemen tampak gelisah. Pikirannya mendadak bercabang ke mana-mana, terutama memikirkan Lidya yang seharusnya tidak ia pikirkan.
“Huft.” Arjuna menghela napas sembari mendongak ke langit-langit.
“Pak Arjuna, mau saya siapkan makan siang di sini atau bagaimana?” tanya Syamsul—mandor proyek.
Arjuna menoleh, “Saya kembali ke hotel saja. Pak Syamsul, saya tunggu laporan anggaran proyek yang telah digunakan, secepat mungkin. Dan, bahan-bahan tolong diperhatikan kualitasnya.”
“Baik Pak, segera akan saya siapkan. Nanti akan saya kirim email lewat Mbak Lidya.”
Arjuna melepas helm proyek, dan bergegas ke parkiran mobil. Tanpa menunggu waktu lama mandor proyek mengantarnya kembali ke hotel.
Begitu sampai di hotel yang tidak terlalu jauh jaraknya dari tempat proyek, ia langsung menuju lantai lima.
“Lidya! Lidya!” Berulang kali Arjuna memanggil, mengetuk pintu, dan memencet bel kamar, tapi tetap aja tidak ada jawaban dari dalam.
“Ke mana dia? Tidur ‘kah? Atau pergi?” gumamnya sendiri.
“Lidya!” Arjuna kembali memencet bel, sembari mengeluarkan ponselnya.
“Lidya, kamu ada di mana? Kamu ada di kamar, kan?” cecar Arjuna begitu panggilan teleponnya dijawab.
“Oh, Kak Arjun. Aku lagi makan,” jawab Lidya dengan santainya.
“Makan di mana?”
“Makan di restoran, ya kali makan di toko buku.”
“Aku serius tanyanya, Lidya! Tidak sedang bercanda!” Suara Arjuna mulai meninggi.
“Aku juga lagi nggak bercanda, Kak Arjun. Aku makan ya di restoran lah, ya kali bisa makan di toko buku. Emangnya buku bisa dimakan. Lagian, aneh amat ... tumben-tumbennya nanya aku ada di mana,” jawabnya agak ketus.
Mata Arjuna mengerjap, agak sedikit terkesiap mendengar jawaban adik iparnya yang agak lain. Mana pernah Lidya menjawab seperti ini, pasti selalu sopan dan suaranya begitu lemah lembut. Apakah Lidya mulai menjelma seseorang, atau jiwa Lidya tertukar?
Arjuna menarik napasnya dalam-dalam. Dan itu terdengar di telinga Lidya. “Aku ada di depan kamarmu. Hampir 10 menit aku memanggil, mengetuk, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Sekarang, aku bertanya, kamu jawabnya seperti ini? Kamu ini tidak menghormati aku!” tegasnya.
Kini, giliran Lidya yang menarik napas, sampai suara dentingan sendoknya terdengar jelas. “Mohon maaf sekali Pak Arjuna, kalau karyawannya mendadak tidak sopan seperti ini. Suatu kehormatan bagi saya ... Bapak sampai mencari saya. Apakah ada yang bisa saya bantu sampai-sampai Bapak mencari saya? Bukankah seharusnya Bapak masih berada di tempat proyek?” Suara Lidya berubah menjadi formal seperti komunikasi yang biasa ia lakukan bila di kantor.
“Aku mau ada di tempat proyek kek, mau di tempat lain, itu urusan aku bukan urusan kamu!” Suaranya mulai meninggi.
Lidya terdiam. Ia menundukkan kepalanya memandang makanan yang baru saja ia nikmati.
“Aku sangat tidak suka dengan jawaban kamu seperti tadi. Dan, jangan mentang-mentang kita telah melakukan hubungan intim, kamu tidak lagi menghormatiku, dan bersikap semena-mena seperti ini! Ingat, posisimu, Lidya!” sentak Arjuna, tiba-tiba emosi sendiri.
Gadis itu mengusap ujung matanya yang mulai berair. Ia bukan perempuan yang mudah menangis, tapi sejak tadi pagi hatinya sedang tidak baik-baik saja, dan sekarang Arjuna menambahkan kembali luka yang masih menganga.
“Maaf.” Suara Lidya begitu pelan, lalu tak lama ia putuskan sambungan teleponnya, ketimbang ia juga ikutan tersulut emosi.
“Lidya ... Lidya!”
Arjuna mengeram sembari menatap layar ponselnya. “Berani sekali ia menutup telepon dariku!”
***
Gadis itu tak lagi bernafsu melanjutkan makan siangnya, padahal ia sengaja turun dari kamar ke restoran hotel karena perutnya sangat lapar. Sekarang rasanya ambyar gara-gara telepon Arjuna.
Sementara itu, Arjuna yang sudah terlanjur balik ke hotel, akhirnya memilih turun ke lobi menuju salah satu restoran yang ada di hotel tersebut. Untungnya saja bukan restoran yang sama.
“Lebih baik aku balik ke Jakarta saja, dari pada lama-lama emosi di sini,” gumam Lidya.
Setibanya di kamar, ia langsung mengemas baju dan barang-barangnya. Dan bergegas berganti pakaian, usai itu Lidya langsung turun ke lobi, padahal jadwal ia dan Arjuna akan kembali ke Jakarta esok hari.
***
Langkah-langkah Arjuna terdengar mantap saat memasuki restoran hotel siang itu. Napasnya terasa berat, pikirannya masih berputar tentang kejadian semalam yang membuat dadanya sesak. Ia tidak pernah menyangka akan terjebak dalam situasi yang begitu menjijikkan, tapi juga menikmatinya. Wajahnya muram, tatapan matanya tajam, seakan mencari sesuatu yang tidak kasatmata.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Di salah satu sudut restoran, duduklah seorang pria paruh baya dengan jas rapi, wajahnya penuh senyum puas sembari meneguk wine. Arjuna mengenali pria itu seketika—Tommy, relasi bisnisnya.
Darah Arjuna mendidih. Seluruh tubuhnya menegang, otaknya seolah meledak oleh ingatan semalam.
Dialah orangnya.
Tanpa pikir panjang, Arjuna menghampiri meja itu dengan langkah panjang, suaranya bergemuruh begitu ia membuka mulut.
“Berengsek!” Arjuna menggebrak meja hingga gelas bergetar dan sebagian minuman tumpah. “Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan?!”
Tommy hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak terkejut. “Arjuna, duduklah. Jangan membuat keributan. Kita bisa bicarakan ini dengan tenang.”
Namun ucapan itu justru menjadi bensin di atas api. Arjuna langsung mencengkeram kerah jas Tommy, wajahnya merah padam.
“Kamu menjebak aku! Semalam … semalam kamu—” Suaranya tercekat. Arjuna tidak sanggup melanjutkan, bayangan Lidya yang tak berdaya membuatnya semakin terguncang.
Tommy tertawa kecil, dingin dan penuh ejekan. “Kamu terlalu polos, Arjuna. Kamu menikmatinya, kan, bersama sekretarisku?"
Arjuna tidak bisa lagi menahan diri. Tinju kerasnya mendarat tepat di rahang Tommy. Brak! Suara dentuman membuat semua mata pengunjung restoran menoleh.
“Dasar iblis! Aku bunuh kamu!” Arjuna kembali melayangkan pukulan, kali ini lebih keras. Tommy terhuyung, namun dengan cepat membalas. Pertarungan sengit pun pecah di tengah restoran mewah itu. Kursi-kursi terbalik, piring pecah, suara teriakan para pengunjung bercampur dengan dentuman meja yang bergeser.
“Pak! Tolong hentikan!!” teriak beberapa waiter panik, mencoba melerai. Tapi Arjuna sudah dibutakan amarah. Baginya, hanya ada satu tujuan, menghancurkan pria yang telah merusak kehormatannya, dan—lebih parah lagi—kehormatan Lidya.
Tinju demi tinju saling bertukar. Tommy, meski tampak lebih tua, ternyata cukup gesit. Ia berhasil menendang keras ke arah perut Arjuna, membuat pria itu terhuyung beberapa langkah.
Sementara itu, Lidya yang sudah turun lobi dengan kopernya memperhatikan suara ribut dari sisi restoran. “Lho, bukannya itu.”
Lidya penasaran mencoba mendekat.
Sebelum Arjuna sempat bangkit lagi, suara yang begitu familiar menusuk telinganya.
“Kak Arjun …? Pak Tommy?!”
Arjuna menoleh cepat. Matanya terbelalak. Di lobi hotel yang terhubung langsung dengan area restoran, berdiri sosok yang begitu ia kenal—Lidya.
Tubuh gadis itu kaku, wajahnya pucat pasi, matanya melebar melihat kenyataan di depan mata.
Tidak … Lidya seharusnya tidak melihat ini.
“Kalian berdua … hentikan!” Lidya berlari mendekat, tangannya terangkat, seakan ingin menjadi penengah. Wajahnya penuh kecemasan, bibirnya bergetar menyebut nama keduanya.
Namun segalanya terjadi terlalu cepat.
Tommy, yang sudah kehilangan kendali, melancarkan tendangan keras ke arah Arjuna. Arjuna sempat menghindar, namun justru tubuh Lidya yang sedang berlari ke tengah pertarungan menjadi sasaran.
Bugh!
Tendangan itu mendarat telak di punggung Lidya.
Bersambung ... ✍️
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!