13 November 2025, kota Perawang-Riau.
Xxxxxx
Jam menunjukkan pukul 17:20 menit, di mana matahari sudah condong ke barat. Alga sang nelayan pulang dengan wajahnya sedikit cemberut karena tangkapan ikannya hari ini sangat sedikit dan hanya bisa di bawa pulang dan tidak bisa di jual.
Saat ia sampai di depan rumah, ia melihat putri kesayangan yang berusia 5 tahun sedang duduk di teras sambil menangis.
Melihat itu, ia langsung berlari ke arah Grisha. "Grisha, kenapa kamu menangis, Nak? Di mana Mama?" tanya Alga mengendong anak semata wayangnya itu.
"Hu hu hu, Mama pergi sama O'om," jawab Grisha sambil menangis.
Alga menekuk alisnya. "O'om? Siapa?" tanya Alga bingung.
"Nggak tau... Grisha mau ikut Mama, Grisha di marahin... " jawab Grisha sambil terisak.
"Ya udah, Grisha. Kita tunggu Mama pulang saja ya, mungkin Mama ada urusan. Papa masakan ikan bakar untuk Grisha ya," kata Alga menenangkan anaknya itu.
Baru saja Alga ingin masuk ke dalam rumah, sebuah mobil mewah berhenti di rumahnya, Alga bertanya-tanya siapa pemilik mobil tersebut.
Saat itu, Alga terkejut karena sang istri, Nita, keluar dari mobil tersebut dengan seorang pria yang memakai jas hitam, dan pria itu adalah bos tempat istrinya bekerja.
Nita mengambil sebuah kertas dari tasnya lalu memberikan Kepada Alga secara mendadak. "Tolong tanda tangani surat cerai ini, aku ingin bercerai denganmu," ucap Nita dengan nada datar tapi menekan.
Alga terperanjat, kenapa tiba-tiba istrinya minta cerai? "Sayang, apa maksudmu?"
"Jangan panggil aku Sayang!" sergah Nita, "Aku bukan lagi istrimu! Cepat tanda tangan surat ini segera! Aku sudah malas hidup denganmu!" kata Nita dengan suara merendahkan.
Alga langsung menangis terisak. "Nita... kenapa kau lakukan ini? Kau ingin kuliah, ku kuliahkan hingga kau S2. Aku rela uang ku berikan semua, aku rela tidak beli baju dan tahan selera demi kamu, tapi kenapa kau lakukan ini? Kita masih punya seorang putri, apa kau tega meninggalkan kami?" tanya Alga dengan suara parau.
"Jangan bicara sembarangan! Aku kuliah di sekolahkan oleh orangtua ku! Tidak ada campur tanganmu! Enak saja kau mengaku-ngaku hasilmu? Emangnya nelayan kaya kamu bisa biaya kuliah ku yang mahal apa? Mimpi aja kau!" ucap Nita dengan kasar.
Dengan air mata terurai, Alga terpaksa menandatangani surat cerai itu setelah itu memberikan kepada Nita dengan hati yang hancur.
Istri yang sudah ia nafkahi dengan hasil laut, sampai kuliah S2 dan mendapatkan pekerjaan menjadi sekretaris dan telah mengangkat derajatnya, kini hancur lebur seperti tepung yang jatuh ke tanah.
"Mama! Jangan Tinggalin Grisha!" rengek Grisha menarik baju Ibunya itu, tapi Nita menipisnya.
"Jangan panggil aku Mama lagi! Aku bukan Mama mu! Aku dan kamu tak punya hubungan lagi! Tidak sudi aku memiliki anak dari pria miskin!" ucap Nita memarahi Grisha dengan kasar.
"Mama! Grisha sayang Mama," ucap Grisha memeluk Nita, tapi Nita mendorongnya dengan kasar hingga Grisha terjerembab ke tanah dan menangis.
Alga langsung memeluk Grisha dengan hatinya luluh lantak, ia ikut menangis tersedu-sedu dengan prilaku istrinya itu yang kini akan menjadi mantan.
Nita melihat surat itu sambil tersenyum karena sudah di tanda tantangin. "Bagus, tunggu beberapa hari lagi, kita sudah resmi bercerai, dan kalian berdua jangan pernah menganggap kenal denganku!" kata Nita dengan sinis.
"Ayo sayang, kita pergi," ajak Nita sambil menggandeng tangan kekasih barunya itu, seorang CEO perusahaan.
Nita pergi tanpa menoleh ke arah Grisha yang sedang memanggilnya itu, isak tangis Grisha terdengar pilu, Alga hanya bisa memeluk. sang putri yang ingin menggapai ibunya, tapi ibunya sudah menjauh meninggalkannya.
Alga hanya bisa memeluk Grisha dengan kesedihan mendalam, putus asa, seperti jatuh ke dalam lubang yang dalam, karena tak ada angin tak ada hujan, Tiba-tiba ia di ceraikan istri yang telah ia perjuangan selama ini.
"Grishaaaa, jangan menangis lagi, ada Papa di sini, Papa berjanji akan menjaga mu dengan baik, akan menjadi sosok ayah yang suatu saat nanti akan mengangkat derajatmu, Papa Janji, Nak," ucap Alga memeluk Grisha erat.
Grisha meronta dalam dekapan ayahnya, tangisnya pecah saat mobil yang membawa ibunya kian mengecil di ujung jalan. "Mamaaaa! Mamaaaa! Jangan pergi!" Suaranya parau, penuh kepedihan seorang anak yang merasa dunianya runtuh.
Alga memeluk erat tubuh mungil Grisha. Dadanya sesak oleh kemarahan dan kekecewaan, namun ia berusaha tetap tegar demi putrinya. "Sudah, Nak," bisiknya lirih, "biarkan saja ibumu pergi bersama pilihannya. Ada Papa di sini. Papa akan menemanimu."
Namun, Grisha tak menghiraukan. Ia terus meronta, memanggil ibunya hingga akhirnya lelah dan tertidur dalam pelukan Alga.
Alga menatap wajah polos putrinya yang basah oleh air mata. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia merasa bersalah karena tak mampu mempertahankan rumah tangganya yang membuat Grisha kehilangan ibunya.
Malam semakin larut, namun Alga masih terpaku di ruang tamu, memeluk Grisha yang tertidur terlelap. Pikirannya kacau balau, mencoba mencari jawaban. Mengapa istrinya tega meninggalkan mereka? Apa yang salah dengan dirinya?
Dengan hati-hati, Alga membaringkan Grisha di tempat tidur. Ia menyelimutinya dengan lembut, lalu mengecup keningnya. "Papa janji akan menjagamu, Nak," bisiknya pelan.
Setelah memastikan Grisha tertidur pulas, Alga beranjak menuju dapur. Ia ingat jika mereka belum makan malam. Tapi, nafsu makannya telah hilang karena kesedihan. Ia hanya membuatkan susu hangat untuk Grisha, berharap putrinya itu bisa tidur nyenyak dan membiarkan ia melupakan sejenak tentang kesedihan ini.
Saat kembali ke kamar, Alga melihat Grisha menggeliat dalam tidurnya. Ia menghampiri putrinya dan menggenggam tangannya erat. "Maafkan Papa, Nak," gumamnya lirih. "Papa akan berusaha menjadi ayah sekaligus ibu untukmu."
Malam itu, Alga berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memberikan seluruh kebahagiaan hanya untuk Grisha. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan putrinya, meskipun hatinya sendiri masih terluka.
Ia tahu mereka saat ini dalam keterpurukan. Tapi, ia yakin, dengan keteguhan hati, mereka akan mampu melewati semuanya.
Malam itu, di tengah kesunyian, Alga memeluk erat Grisha yang terlelap. Tubuhnya terasa lelah, namun pikirannya masih kacau, tentang bayangan kepergian istrinya. Ia memejamkan mata, mencoba melupakan kesedihan walau sejenak.
Tapi, air mata tak bisa dibendung. Butiran-butiran bening itu mengalir deras membasahi pipinya, bahkan saat ia sudah tertidur, air mata itu tetap mengalir dari ujung matanya.
Dalam tidurnya, Alga melihat istrinya tersenyum padanya, namun kemudian perlahan menjauh dan menghilang begitu saka. Ia berusaha mengejar, namun kakinya terasa berat dan tak mampu bergerak. Ia berteriak memanggil namanya, tapi suaranya tak terdengar.
Alga terbangun dengan napas terengah-engah, jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh ke arah Grisha yang masih tertidur pulas di sampingnya. Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut, mencoba menenangkan diri.
"Ini bukan mimpi. Ini kenyataan." bisiknya lirih
Tapi, ia tak boleh menyerah. Ia harus kuat demi Grisha. Ia harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi putrinya. Ia harus memberikan seluruh cintanya untuk menggantikan kasih sayang yang hilang separuh.
Alga kembali memeluk Grisha erat-erat. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan putrinya.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...
...Happy reading...
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...
Mentari pagi belum sepenuhnya terang ketika Alga terbangun. Udara dingin menusuk kulitnya, mengingatkannya pada hari-hari sebelumnya, saat ia masih bisa merasakan kehangatan pelukan istrinya. Namun, kini hanya senyap sepi.
Dengan langkah gontai, Alga menuju dapur. Ini hari pertamanya tanpa sang istri, dan ia harus memulai semuanya dari awal.
Ia membuka lemari es, mencari bahan untuk sarapan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggoreng ikan, menu sederhana namun cukup bergizi untuk Grisha.
Saat menggoreng ikan, pikirannya kembali teringat pada mantan istrinya. Ia teringat saat istrinya selalu menyiapkan sarapan untuknya dan Grisha setiap pagi saat istrinya masih kuliah. Ia merindukan senyumnya, canda tawanya, dan semua hal kecil yang dulu terasa biasa saja, namun kini terasa begitu berharga.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Alga membangunkan Grisha. Ia tersenyum lembut pada putrinya, berusaha menyembunyikan kesedihannya. "Selamat pagi, Sayang. Ayo kita sarapan."
Grisha mengucek matanya, lalu memeluk Alga erat-erat. "Papa, Mama mana?" tanyanya dengan suara serak.
Alga terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan putrinya. "Mama sedang pergi jauh, Nak," jawabnya akhirnya. "Tolong jangan ingat itu lagi ya."
Setelah sarapan, Alga mulai memikirkan pekerjaannya. Sebagai seorang nelayan, ia harus tetap pergi ke laut untuk menjaring ikan. Tapi, ia tak mungkin membawa Grisha bersamanya. Angin laut bisa membahayakan putrinya, dan ia tak ingin mengambil risiko.
Namun, ia juga tak bisa meninggalkan Grisha sendirian di rumah. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya. Ia merasa takut jika Grisha tinggal sendiri.
Alga berdiri di depan rumahnya yang sederhana itu, ia terlihat lelah. Di sampingnya, Grisha, putri kecilnya berusia lima tahun dengan mata bulat yang polos, menatapnya.
"Grisha, hari ini kamu libur dulu ya, Nak. Ikut Papa menjaring ikan," ucap Alga, suaranya agak beban.
Grisha mengangguk, meski ia sedikit kecewa. "Tapi, Pa... Grisha kan mau belajar menggambar sama Ibu Guru," sahutnya dengan nada polosnya.
Alga hanya bisa menghela nafas, Grisha seharusnya bermain dan belajar di taman kanak-kanak, bukan ikut dengannya yang di mana di laut ombak yang mungkin membahayakan mereka.
Alga berjongkok, menggenggam tangan mungil Grisha. "Papa tahu, Sayang. Tapi, kalau kita tidak menjaring ikan, kita tidak punya uang untuk bayar sekolah kamu. Papa janji, nanti kalau ada rezeki lebih, Papa akan belikan kamu buku gambar yang paling bagus."
Alga sangat kekhawatiran membiarkan Grisha pergi sekolah sendiri. Akhir-akhir ini, ada berita tentang penculikan anak di sekitar kota. Jika ia membiarkan Grisha pergi dan pulang sekolah sendiri, bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Sementara itu, ia harus bekerja menjaring ikan di laut.
Grisha mengangguk pelan. "Baik, Papa," ucapnya sambil memeluk erat kaki Alga. Wajahnya polos.
Alga tersenyum getir, mengusap lembut kepala putri kecilnya. "Anak pintar," bisiknya, berusaha menyembunyikan rasa kesedihan yang masih ada di wajahnya.
"Ayo kita berangkat," ajak Alga, senyumnya dipaksakan namun penuh tegar. Ia meraih jaring dan ember kecil milik Grisha. Mereka berjalan menuju pantai, tempat di mana nelayan menjaring ikan.
Alga memperhatikan langkah kecil Grisha yang riang, melompat-lompat di atas pasir. Ia sangat bahagia melihat keceriaan putrinya.
"Papa, lihat! Ada kepiting!" seru Grisha, menunjuk seekor kepiting kecil yang berusaha bersembunyi di balik batu.
Alga tertawa kecil. "Iya, itu kepiting kecil. Dia juga mau bermain seperti Grisha."
Dalam hati, Alga bersyukur Grisha tidak lagi mengingat ibunya. Ia takut jika ingatan itu akan membawa trauma mendalam bagi putrinya.
Alga berusaha sekuat tenaga untuk menjadi ayah sekaligus ibu bagi Grisha, memberikan seluruh cinta dan perhatiannya agar putrinya tidak merasa kehilangan.
Namun, di balik senyumnya, Alga menyimpan kekhawatiran. Ia tahu, cepat atau lambat, Grisha akan bertanya tentang ibunya lagi. Dan saat itu tiba, ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya tanpa menyakiti hati putrinya.
Hari ini, laut terasa tenang dan tiba-tiba Alga mendapatkan tangkapan besar. Jaringnya terasa berat luar biasa.
"Berat sekali jaring ini? Ikan apa yang aku tangkap?" tanya Alga, otot-ototnya menegang saat berusaha menarik jaring itu. Sampannya mulai oleng, terombang-ambing karena tarikan kuat dari bawah laut.
Benda di dalam jaring bergerak liar, membuat Alga semakin kesulitan. Ia tak mampu lagi menahan tarikan itu. Tiba-tiba, tubuhnya terhuyung dan...
Byurrrr!
Alga tercebur ke dalam laut yang dingin.
"Papa!" jerit Grisha dari atas sampan, teriakan karena panik.
Alga tersentak. Ia berusaha berenang ke permukaan, namun sesuatu terasa aneh. Tubuhnya terasa berat, seolah ada beban yang menariknya ke bawah. Ia menoleh ke bawah, mencari tahu apa yang menghalanginya.
Namun, air laut yang keruh tidak memperlihatkan apa pun. Semakin ia berusaha berenang ke atas, semakin berat tubuhnya, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya.
Napasnya mulai sesak. Ia merasakan panik yang luar biasa. Grisha ada di atas sana, sendirian di atas sampan yang terombang-ambing. Ia harus menyelamatkan diri, demi Grisha.
Dengan sisa tenaga yang ada, Alga terus berjuang melawan tarikan misterius itu. Ia mencoba menggapai permukaan, berharap bisa menghirup udara segar dan kembali ke sampannya. Namun, semakin dalam ia berusaha, semakin kuat pula tarikan yang menahannya.
Oksigen di paru-paru Alga semakin menipis. Pandangannya mulai kabur, dan kepanikan semakin kuat. Namun, di tengah kegelapan yang mulai datang, ia seperti mendengar suara anaknya. Suara Grisha yang memanggilnya dari atas sampan.
"Papa! Papa di mana! Papa keluarlah!" teriak Grisha, suaranya pecah oleh isak tangis.
Hati Alga hancur mendengar tangisan putrinya. Ia ingin membalas, ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja, namun bibirnya terasa kaku. Ia tahu, ia tidak punya banyak waktu lagi.
"Maafkan Papa, Grisha," bisik Alga dalam hati, air mata bercampur dengan air laut di sekitarnya. "Papa tidak menepati janji Papa padamu untuk menjagamu. Papa gagal..."
Bayangan wajah Grisha yang tersenyum muncul di benaknya. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan, untuk selalu menjaga dan melindungi Grisha. Namun, kini ia akan meninggalkan putrinya sendirian.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, Papa tetap ingin kau menjadi anakku," ucap Alga dalam hati, kata-kata terakhir yang ia tujukan untuk putrinya tercinta.
Kesadarannya semakin menipis. Kegelapan semakin pekat. Alga pasrah. Ia membiarkan tubuhnya tenggelam semakin dalam, menyerah pada tarikan misterius yang sejak tadi menariknya.
Dan akhirnya, Alga pun kehilangan kesadaran. Tubuhnya lemas, terombang-ambing di kedalaman laut yang dingin dan gelap.
Ting!
Memuat...
Loading...
Menemukan Tuan...
Memindai...
Pengenalan Tuan...
Memproses....
Selesai...
Mengscan tubuh Tuan...
Selesai.
Nama: Alga Arond
Umur: 29 tahun.
Pekerjaan: Nelayan.
Jenis kelamin: Pria.
Status: Duda.
Memproses...
Selesai.
Perlahan-lahan mata Alga terbuka, ia melihat seperti dunia lain.
"Dimana aku?" tanya Alga kebingungan.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...
...Happy reading...
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...
WELLCOME
[Selamat datang di system teknologi canggih, System keberuntungan. Anda akan menjadi Tuan dari system ini, Anda mendapatkan kekuatan dan kejayaan. System akan membantu Anda menjadi orang sukses]
"Menjadi orang sukses? Sukses seperti apa?" tanya Alga sedikit takut, ia berputar-putar untuk mencari keberadaan sistem tersebut. Ia tidak bisa melihat siapa pun, tetapi suara itu terus berbicara kepadanya.
[Menjadi orang sukses di masa depan, menjadi orang yang memiliki kekuasaan, membangun usaha sendiri dan menjadi orang yang terkenal di dunia]
Alga merasa seperti sedang bermimpi, atau mungkin sedang dihadapkan pada suatu lelucon yang tidak lucu. "Ti-tidak mungkin! Aku... aku adalah orang miskin. Bagaimana aku bisa jadi orang sukses?" tanya Alga dengan kesedihan.
[Tidak perlu khawatir, sistem akan membantu Anda mencapai tujuan Anda. Anda hanya perlu mengikuti instruksi yang diberikan]
"Siapa kamu sebenarnya?! Ada di mana kamu?!" teriak Alga lagi, merasa frustrasi dan tidak sabar.
[Saya adalah sistem teknologi canggih. Saya ada di dalam tubuh Anda, silakan sentuh layar di depan Anda, jika Anda setuju untuk menjadi bagian dari sistem, maka sentuh tulisan [ya] untuk menerimanya]
Alga masih bingung dengan apa yang terjadi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan juga tak bisa kemana-mana.
Tiba-tiba, sebuah layar muncul di depannya, dengan tulisan
[Apakah Anda menerima sistem menjadi bagian dari Anda? Klik [Ya] jika Anda setuju].
Alga melihat ada dua pilihan, Ya dan Tidak. Ia merasa ragu-ragu, tetapi kemudian ia memutuskan untuk menyentuh tulisan Ya.
Saat ia menyentuh tulisan Ya, sebuah cahaya terang muncul di sekitarnya, dan Alga merasa seperti sedang dihisap ke dalam suatu dimensi yang tidak diketahui. Ia merasa seperti sedang mengalami perubahan yang besar.
[Selamat, Anda telah menjadi bagian dari sistem. Sistem akan membantu Anda mencapai tujuan Anda]
Alga merasa seperti sedang berada di dalam suatu dunia baru, yang tidak pernah ia alami sebelumnya.
Ting!
[Hadiah perkenalan]
[Saldo 1.000.000]
[Penampilan:1%]
[Pesona:1%]
[Kekuatan:1%]
[Kecepatan:1%]
[Kelincahan:1%]
[Pertahanan:1%]
[Kecerdasan:1%]
[Keberanian:1%]
[Poin:10]
"Hadiah perkenalan? Hadiah apa ini?" tanya Alga kebingungan, memandang layar sistem dengan mata yang penuh pertanyaan.
[Ini adalah hadiah dari sistem, silakan di Terima]
"Bagaimana aku menerimanya?" tanya Alga kebingungan.
[Silakan sentuh layar di depan Anda, maka akan muncul secara otomatis]
Alga pun menyentuh layar tersebut, dan tiba-tiba muncul uang yang berisi uang 1.000.000. Alga terkejut dan senang, "Wah, uang 1.000.000! Apa ini benar-benar hadiah dari sistem?"
Alga merasa bersemangat dan penasaran, apa lagi yang bisa dilakukan dengan sistem ini. Ia mulai menjelajahi fitur-fitur sistem, mencari tahu apa lagi yang bisa dilakukan.
Tiba-tiba, sistem memberikan notifikasi lagi.
[Anda memiliki kesempatan untuk mendapatkan hadiah lain, silakan menyelesaikan tugas yang diberikan].
Alga merasa penasaran, apa tugas yang harus diselesaikan untuk mendapatkan hadiah lain.
[Baiklah, Anda dikembalikan ke dunia asal Anda.]
"Hey, tunggu!" teriak Alga, rasa penasarannya tentang sistem yang baru didapatkannya. Namun, belum sempat ia menggali lebih dalam, ia sudah ditarik kembali ke dunianya. Sebuah perasaan aneh, dan kesadaran Alga perlahan hilang.
Samar-samar, di tengah kegelapan, Alga mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Papa! Papa!" Isak tangis putrinya, Grisha, terdengar begitu jelas dari suatu tempat di atasnya. Suara tangisan Grisha membuat ia sadar.
Tiba-tiba Alga bernafas membuat mata Alga terbuka lebar. Ia terkejut mendapati dirinya berada di dalam air dan membuat ia panik.
Gluk! Gluk!
Air mulai memenuhi mulut dan hidungnya. Alga berusaha sekuat tenaga untuk berenang ke atas. Ia berusaha mencari-cari sosok putrinya yang tadi memanggilnya di atas sana.
D sebuah sampan kecil yang terombang-ambing, ia mendengar suara Grisha sedang menangis histeris. Tangannya terulur, mencoba meraihnya. "Papa! Papa!"
Dengan sisa tenaga yang ada, Alga terus berjuang melawan arus. Ia harus mencapai Grisha, menyelamatkannya dari bahaya yang entah dari mana datangnya ini. Ia berenang dan tubuhnya terasa berat di dalam air, tapi suara tangis putrinya menjadi sebuah kekuatan.
Dengan susah payah, Alga akhirnya berhasil meraih sisi sampan. Ia terbatuk-batuk, berusaha mengeluarkan air dari mulutnya. Grisha langsung menghambur ke arahnya, memeluknya erat-erat.
"Papa! Papa tidak apa-apa?" tanya Grisha dengan mata sembab.
Alga membalas pelukan putrinya, mencoba menenangkan Grisha dan dirinya sendiri. "Papa tidak apa-apa, sayang. Papa di sini."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!