Indonesia
NovelToon NovelToon

Hidden Desire

Malam Gemerlap yang Terasa Sunyi

Hujan turun ... mengguyur kota Arkana, kota metropolitan yang juga merupakan ibu kota dari negeri Nusantara.

Pusat pemerintahan sampai pusat hiburan. Semuanya ada di kota ini. Orang baik sampai penjahat kelas kakap berkeliaran. Crazy rich super kaya sampai orang miskin yang tinggal di kolong jembatan pun menghirup udara yang sama.

Berbagai golongan masyarakat, suku, dan budaya tertumpuk menjadi satu dalam kota ini.

Tak ada yang lebih semarak di banding gemerlapnya malam di kota Arkana. Bahkan di jam delapan malam hingar bingar kehidupan seakan baru saja dimulai. Padatnya aktivitas pekerjaan dan kemacetan membuat mereka selalu kehabisan waktu dan baru bisa keluar rumah di malam hari.

Bahkan deras Hujan malam ini tidak menghalangi warga kota untuk keluar dan menikmati keindahan malam di kota Arkana. Arkana selalu menjadi kota yang tak pernah tidur.

......................

Apartemen mewah di pusat kota Arkana, Lyra Mall, Hotel and Residance.

Suara dencitan sofa dan gemericik hujan di balkon apartemen menjadi musik indah yang mengiringi percintaan Mira malam ini. Wanita berkulit putih mulus dengan rambut panjang hitam berkilauan itu tengah mendesah pelan dalam kungkungan sang suami. Ia mencengkeram erat bantal sofa saat hentakan demi hentakan terasa semakin cepat.

Keringat menetes ke anak rambut di sisi telinga, membuat Mira semakin terlihat seksi dan menggairahkan. Bulu mata yang lentik berkedip menggoda tiap kali Mira membuka mata. Bibirnya yang ranum tak berhenti mengeluarkan helaan pelan, membuat gairah sang suami melesat naik sampai ke puncak.

"Damn it's good!!" ucap Ardan Putra Mahendra, suami Mira saat ia sudah berhasil keluar. Ardan memejamkan mata untuk menikmati luapan hormon kebahagiaan yang menjalar ke seluruh tubuh. Ledakan yang hebat, mengucur hangat ke dalam perut sang istri.

Wanita cantik itu terkulai lemas, terengah engah, dada sekalnya naik turun mengikuti alunan udara yang masuk. Keringat mengkilap melumuri tubuh bak gitar spanyol itu. Rambut hitam bergelombang indah terjuntai sampai ke lantai. Mira benar benar gambaran dari Dewi Aprodite bila ia turun ke Bumi.

Sayang sekali, kecantikan seperti bidadari dan tubuh indah tanpa cela bak pahatan patung tidak membuatnya mendapatkan cinta yang utuh dari sang suami. Mira masih harus berbagi.

Padahal bagi Mira Sarasvati, dia seorang wanita yang ingin dicintai dan mencintai dengan sepenuh hati. Benar, tak ada yang jauh lebih Mira dambakan selain cinta dari suaminya.

"Jam tujuh malam, aku harus bergegas."

Mira masih terengah, ia menatap punggung Ardan yang telah kembali terbalut dengan kemeja putih dan celana bahan. Ardan terburu buru merapikan pakaiannya, ia harus segera pulang karena sudah ada janji.

"Apa kau akan langsung pergi? Kau baru satu jam di sini," tanya Mira, ia bangkit dan duduk di sofa.

"Ya, Jenna ingin merayakan ulang tahun pernikahan di hotel ini." Ardan mengeluarkan ponselnya, ia mengetik kalimat singkat.

Aku sudah sampai di hotel Lyra, tunggu ya, Sayang.

Jenna adalah istri sah Ardan, sementara Mira hanyalah istri siri yang Ardan nikahi enam tahun lalu. Ardan sengaja meminta Jenna memesan hotel Lyra untuk malam ulang tahun pernikahan mereka karena hotel itu berada satu komplek dengan apartemen Mira. Ardan bisa menghemat waktu mengunjungi dua wanita sekaligus.

Mira tertunduk lesu, bohong bila ia tidak merasa sakit hati akan hal ini. Istri pertama namun seakan akan justru dirinyalah yang menjadi si pelakor karena tak pernah di nikahi secara resmi oleh sang suami. Ardan selalu menyembunyikan keberadaan Mira dari siapa pun.

"Jangan ngambek, bukankah aku sudah bilang, hanya kau lah satu satunya wanita yang aku cintai. Jenna hanyalah wujud baktiku pada orang tua." Ardan menelusupkan jari telunjuk di bawah dagu Mira untuk mengangkat wajahnya.

Mira mengangguk pelan, ia hanya bisa pasrah. Mira tak pernah bisa membantah apa pun perintah dan permintaan Ardan karena takut kehilangan pria itu. Bagi Mira, Ardan adalah satu satunya sandaran dan juga keluarganya.

"Aku akan datang besok pagi sebelum ke rumah sakit. Kita sarapan bersama." Ardan mengecup kening Mira dan turun ke bibir, mendarat singkat namun dalam.

Setelah terlepas dari bibir Mira, tentu saja Ardan pun melangkah keluar dari apartemen mewah itu. Saat hendak membuka pintu, ia berbalik badan dan tersenyum manis pada Mira.

"Jangan lupa minum vitaminnya, Mira."

"Iya," jawab Mira.

"Good Girl!" Senyum terkembang di wajah tampan Ardan yang dingin. Ia membetulkan kaca matanya sebelum keluar dari sana.

Mata Mira berkaca kaca saat melihat punggung Ardan menghilang di balik pintu.

Apartemen mewah itu kini kembali sepi. Sesekali keclapan kilat membuat ruangan gelap itu menyala terang, memperlihatkan wajah Mira yang suram. Suara guntur yang menggelegar membuat kesunyian membuyar. Kesunyian yang memilukan, sepilu hati Mira.

Aku membeli beberapa baju dan juga perhiasan untukmu, Sayang. -- tulisan di kartu ucapan saat Mira melirik sekilas.

Mira menyapu semua paper bag berisi barang barang branded mahal yang dibeli oleh Ardan sebagai hadiah untuknya. Mira tak mau semua ini, ia hanya ingin cinta Ardan, waktu Ardan, dan juga hatinya.

Mira berdiri, berjalan dengan tubuh polos ke arah jendela balkon. Dia bisa melihat hiruk pikuk kota Arkana di malam hari. Kota padat penduduk itu tetap ramai meski pun hujan turun dengan deras, suara klakson klakson kendaraan tak berhenti terdengar. Lampu lampu menyala indah. Ratusan kendaraan terlihat seperti taburan bintang di lautan awan.

Ramai sekali, namun entah kenapa Mira merasa sangat kesepian. Ia terpenjara di dalam sangkar emas. Apartemen mewah dengan harga milayaran itu seakan menjadi penjara yang sempurna. Mengekang, membuat Mira sesak.

Mira mengusap perutnya lembut sambil memejamkan mata. Air mata meluruh turun.

Deretan foto foto pernikahan di dinding apartemen seakan menjadi saksi atas pernikahan mereka yang sudah berjalan selama enam tahun.

Sudah enam tahun menikah, tapi ia bahkan tidak memiliki seorang anak pun. Sementara Jenna, empat tahun menikah ia sudah memiliki dua orang anak dari Ardan. Mira sangat iri dengan pencapaian Jenna.

"Hidup benar-benar tidak adil," pikir Mira.

Bagaimana Mira bisa menjadi istri seorang pria bernama Ardan??

......................

Ruang ICU yang Dingin

Enam tahun lalu...

Deretan piala di rak kayu usang menjadi bukti akan prestasi gemilang dari Mira Sarasvati.

Mira terlahir dari keluarga yang kekurangan, namun ia tak pernah mengeluh. Mira tak pernah berucap kata 'lelah' meski pun ia harus bekerja di minimarket setelah pulang sekolah.

Meski miskin, Mira tak pernah mengabaikan tugasnya sebagai seorang pelajar. Mira terus menerus belajar dan berusaha menjadi siswa terbaik. Apalagi saat ini Mira kelas tiga SMA, ia harus mengejar nilai supaya bisa berkuliah di universitas impiannya.

"Kok belum tidur?" Ibu Ratih masuk ke dalam kamar, ia duduk di ranjang besi tua yang bahkan berderit tiap kali terkena tekanan.

"Besok Mira ujian, Bu." Mira tersenyum hangat.

"Ah ya ampun, benarkah?? Aduh, ibu sampai tidak tahu anak Ibu akan menghadapi ujian." Ratih terlihat panik, ia bergegas bangkit ingin membuat kudapan dan teh manis sebagai penyemangat belajar.

"Nggak usah, Bu! Mira masih kenyang."

"Maafin Ibu ya, Nak. Ibu benar benar tidak ingat kalau kau sudah masuk masa ujian." Ratih meluruhkan bahunya. Ia bekerja di dua tempat sebagai ART dan pelayan restoran. Ia bekerja sampai malam supaya bisa mengumpulkan dana untuk putrinya kuliah. Namun bodohnya ia justru melupakan saat saat ujian sang putri.

"Sudah, Ibu di sini saja, temani Mira belajar." Mira kembali fokus dan tekun.

Ratih berbaring di ranjang Mira, beberapa saat kemudian ia tertidur karena lelah. Mira yang melihatnya merasa terharu.

"Ibu pasti sangat lelah," lirih Mira, ia pun bangkit, mengambil selimut dan menyelimutkannya pada tubuh Ratih yang kurus.

Pukul sebelas malam, sudah saatnya Mira juga tidur. Mira tidur di samping Ratih. Ia menatap wajah ibunya yang mulai digerogoti oleh usia. Keriput, bintik hitam, dan juga dahi yang mengerut karena sering digunakan untuk memutar otak.

Mira mengambil tangan sang ibu dan meletakkannya di atas pipi. Tangan wanita itu sangat kasar karena terus bekerja keras. Tapi di sisi lain, tangannya terasa begitu hangat.

Sejak kehilangan sang suami dalam sebuah kecelakaan kerja, dunia mereka terasa runtuh. Ratih harus bekerja keras untuk membesarkan Mira seorang diri. Hujan badai, letih sakit, dan bahkan saat demam sekali pun Ratih akan berangkat bekerja.

"Mira pasti akan membuat Ibu bahagia." Mira mengecup punggung tangan ibunya sebelum memejamkan mata.

......................

Satu minggu kemudian.

Sebuah restoran BBQ di kota Arkana, Ratih tengah sibuk menggosok alat alat pemanggang penuh arang sisa pembakaran daging. Ia berdua dengan temannya, mereka bekerja sambil bercakap.

"Kau bekerja begitu keras, apa tidak lelah?"

"Ya lelah, tapi kalau tidak begini Mira tidak bisa kuliah." Ratih menggosok dengan penuh semangat. Ia tetap ceria meski pun beban di pundaknya berat.

"Bukankah ada beasiswa. Mira juga anak yang sangat pintar kan? Lagi pula Mira bisa bekerja sambil kuliah." lanjut rekannya.

Ratih terdiam sesaat, lalu kembali menggosok alat alat panggangan. Sebenarnya Ratih bekerja semakin giat bukan hanya demi uang kuliah Mira, ia juga menabung untuk biaya hidup anak gadisnya. Beberapa bulan yang lalu dokter memvonisnya dengan kanker hati stadium tiga.

Sudah mulai menjalar sampai ke empedu dan limpa, perut sebelah kanannya mengeras seperti batu. Efek dari kelelahan yang ia jalani sepanjang kisah hidupnya. Dunia memang kejam bagi orang-orang miskin sepertinya.

Namun Ratih tidak ingin melihat anak semata wayangnya menderita. Ia mengumpulkan uang untuk hidup Mira alih alih untuk biaya operasi yang belum tentu bisa menjaminnya tetap hidup.

"Kau itu cerewet sekali, namanya orang tua wajar kan mencari uang untuk anaknya." Ratih bangkit sambil membawa beberapa tumpuk panggangan yang berat.

"Hati-hati, Mbak!!" Temannya khawatir, Ratih berjalan gontai dengan beban berat.

......................

Sepulang dari restoran, Ratih berjalan kembali ke rumahnya. Demi menghemat biaya, ia tak pernah naik ojek atau angkot. Lagi pula jalan kaki juga sehat, ia bisa sekalian berolah raga. Ratih benar benar wanita yang kuat.

Malam itu hujan turun, gerimis sedang, Ratih melihat Mira yang juga baru saja pulang dari minimarket tempatnya bekerja. Ratih terlihat semeringah. Ia pun memanggil manggil Mira dan melambaikan tangan. Mira yang ada di seberang jalan ikut melambaikan tangannya bahagia.

"Ayo kita makan mi kuah untuk merayakan kelulusanmu! Ibu baru saja gajian!" teriak Ratih.

"Asikk!! Tunggu lampunya dulu, Ibu!!" teriak Mira.

Keduanya menunggu lampu menyebrang jalan berubah menjadi hijau sebelum menyebrang jalan.

TING! Lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Ratih dengan wajah ceria bergegas menyeberang untuk menghampiri putrinya. Namun naas, sebuah mobil melaju dengan sangat kencang dan melanggar lampu lalu lintas yang saat itu menyala merah.

Pengendara itu merasa jalanan malam hari sepi tidak akan ada yang menyebrang. Dia juga sedang menggunakan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Konsentrasinyan terpecah, dengan kecepatan tinggi ia sangat sulit mengendalikan laju kendaraannya dan menabrak Ratih.

"IBUUUU!!!" jerit Mira.

"TIDAK!!! IBU!!!"

Mira menggoncangkan tubuh ibunya agar tetap sadar, namun pandangan Ratih semakin kabur. Darahnya menghambur keluar dari kepala. Ia merasa sangat ringan dan pening, rasanya seperti berada di ambang antara hidup dan mati.

......................

Dunia Mira kembali runtuh saat melihat kondisi ibunya di balik jendela kaca. Ia terpisah dari tubuh lemah Ratih. Mata Mira tertutup oleh genangan air. Tetesan kristal bening itu tak kunjung berhenti mengalir.

Ia meratapi nasib ibunya, dokter bilang, Ratih hanya mengalami luka di kepala, gegar otak ringan dan lecet lecet. Penabrak juga langsung di bebaskan begitu ia memberikan sejumlah uang pada polisi sebagai tanda damai. Ia juga membayar biaya rumah sakit Ratih.

Namun, yang membuat Ratih tak kunjung membaik adalah kanker yang bersarang di hatinya. Benjolan ganas itu pecah, menyebar ke seluruh tubuh Ratih, membuat tubuh tua itu mengalami syok.

"Ibumu harus segera di operasi." Dokter bedah yang menangani Ratih keluar dari ICU. Udara dingin yang menguar dari ruang ICU membuat tubuh Mira gemetar, udara dingin itu seakan bisa merenggut manusia yang paling ia cintai di dunia ini.

"Hiks ... tolong Ibu saya, Dokter. Tolong ..." Mira berlutut di bawah kaki dokter bedah dengan name tag, dr Ardan Putra Mahendra, spesialis bedah pencernaan.

"Saya pasti akan menolong Nyonya Ratih, Mira. Tapi, kau harus membayar deposit untuk pengobatan lebih dahulu." Ardan membantu Mira untuk bangkit berdiri, suster memberikan rincian biaya operasi Ratih berikut biaya obat dan rawat inap pada Mira.

"Berapa pun biayanya pasti akan saya bayar, Dok. Pasti." Mira mengusap air mata, ia membuka amplop itu dan melihat perincian biaya dengan seksama.

Mata Mira membulat sempurna, dua ratus lima puluh juta dan harus memberikan deposit sebesar dua puluh persen, berarti ia harus menyetor uang lima puluh juta lebih dahulu. Gila... uang yang ia kumpulkan untuk kuliah paling hanya ada sepuluh juta. Dari mana ia bisa mencari sisanya??

"A ... apa tak ada jalan lain, Dok? Tak bisakah saya mencicilnya?? Lima puluh juta bukanlah jumlah yang sedikit." Mira menatap wajah dokter Ardan dengan mata berkaca kaca.

Dokter Ardan memberi kode pada perawat agar meninggalkan mereka berdua. Perawat mengangguk dan pergi.

Di depan ruang ICU yang dingin itu, Ardan mengambil tangan Mira dan mengusapnya lembut.

"Ada ... menikahlah denganku. Aku pasti akan menolong mertuaku tanpa imbalan apa pun," jawab Ardan.

Mira langsung menarik kembali tangannya dari genggaman Ardan. Apa dia sudah gila?? Mereka baru saja bertemu, tiba tiba dokter itu melamar Mira dengan embel embel akan menolong ibunya.

"Pikirkan baik-baik, Mira. Demi ibumu, tiap detik yang terbuang sangat berarti bagi nyawanya," bisik Ardan sebelum meninggalkan Mira di depan ruang perawatan.

Mira terhenyak di kursi tunggu, apa ia harus menyerah?? Atau memilih untuk menikah dengan pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya.

......................

Cinta Yang Datang Dengan Cepat

Bagi Mira mereka baru saja bertemu, tapi bagi Ardan mereka sudah lama saling mengenal.

Ardan kembali ke ruang prakteknya, ruangan itu kosong, malam sudah larut, tak ada pasien, dan seharusnya ia sudah pulang ke rumah. Kalau bukan karena kedatangan Mira dan Ibunya di UGD malam itu, mungkin Ardan sudah melangkah keluar dari rumah sakit.

Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu duduk di balik meja, membuka laci, mengambil sebuah plester bekas dengan gambar frozen. Senyum hangat terkembang di wajah tampan Ardan. Seluruh galeri ponselnya berisi foto foto Mira yang ia ambil diam diam.

Pria berwajah tenang dengan kaca mata itu memejamkan matanya mengingat masa masa ia bertemu Mira untuk pertama kali.

Ardan bertemu dengan Mira satu tahun yang lalu, saat ia baru saja menjadi dokter bedah. Operasi pertamanya gagal, bukan karena kurang ahli, tapi karena faktor usia dan ganasnya penyakit pasien. Namun sebagai seorang yang perfeksionis Ardan tetap merasa down dan kesal.

Di mana letak kesalahannya?

Kenapa harus gagal di operasi pertamanya??

Ardan yang terpukul berjalan gontai ke arah minimarket di dekat Rumah Sakit, ia mengambil sekaleng soda dari lemari pendingin. Setelah membayar, Ardan duduk di depan minimarket. Memang ada beberapa meja kursi yang sengaja di taruh bagi pelanggan yang ingin makan, minum, atau sekedar melepas penat.

Selain Ardan ada beberapa anak SMA yang juga nongkrong. Mereka pergi begitu Ardan datang, meninggalkan banyak sampah di atas meja sebelah. Tak lama Mira keluar, ia membawa lap dan langsung membersihkan meja.

Ardan tetap cuek, pikirannya masih melantur kemana mana. Ia berusaha mencari jawaban atas kesalahannya hari ini. Sepuluh jarinya sampai kapalan karena terus menerus belajar menggunakan forcep dan klep supaya hasil jahitannya bagus. Tangannya juga stabil dan tak pernah bergetar, tapi kenapa masih tetap saja tak berhasil??

"Akhh!" pekik Ardan, darah menetes. Jari telunjuk Ardan teriris oleh kaleng soda saat Ardan membukanya. Ardan terlalu sibuk melamun sampai tidak sadar kalau tangannya teriris.

"Ah ... Anda tidak apa apa??" tanya Mira dengan wajah cemas. Ardan bergeleng pelan.

"Ini, pakai plester. Maaf saya hanya punya yang gambar frozen. Abaikan saja gambarnya, bukankah yang penting itu fungsinya. Tangan Anda pasti sangat berharga, jadi jangan sampai terluka lagi." Mira berjongkok di depan Ardan sambil memasang plester.

Pandangan mata mereka bertemu, Mira yang polos dan manis memberikan senyum ramah sebelum ia kembali ke kasir. Ardan terpaku, senyuman Mira membuat dunianya seakan berhenti berputar.

Sejak saat itu, setiap hari, tanpa jeda, di jam lima sore sebelum ia praktek di Rumah sakit, Ardan selalu datang ke minimarket. Ia membeli kopi panas dari mesin penjual otomatis, lalu duduk di depan minimarket untuk mengamati Mira.

Gadis itu sangat ramah, lemah lembut pada siapa pun, pelanggan baik pria dan wanita menyukai sikapnya yang sopan dan bersahabat. Mira juga sangat rajin, ia selalu membersihkan kaca dinding dan lantai tanpa harus di suruh. Mira menikmati pekerjaannya, apalagi saat jam sepi pengunjung ia bisa membuka buku dan belajar.

Ardan selalu tersenyum tiap kali ia melihat senyum Mira. Meski hanya sepuluh menit setiap hari, namun kebiasaan singkat itu membuatnya begitu terobsesi pada Mira. Bila tak bertemu satu hari saja rasanya seperti ada yang kurang.

Uap panas dari kopi mengepul, menyebarkan aroma yang nikmat. Ardan menyeruput pelan, ia mengecap foam lembut dari bibirnya. Ardan mengangkat gelas itu dan menyandingkannya dengan Mira. Dengan mata tertutup satu, gelas kopi menjadi blur sementara gambaran Mira menjadi tajam.

"Cuma kopi mesin murahan tapi bisa seenak ini," ucapnya. Bukan kopi yang ia maksud, tapi Mira. Gadis miskin tapi kecantikannya luar biasa.

Ardan sering berfantasi, membawa pulang Mira, mendandaninya seperti boneka barbie. Kalau kumal saja begitu menawan, apalagi kalau ia memakai pakaian dan perhiasan mewah, ia pasti akan terlihat seperti dewi hidup. Bagi Ardan, Mira adalah Dewi Aprodite yang menjelma menjadi manusia. Tapi hanya Ardan saja yang boleh menikmati kecantikan sang dewi.

Sayangnya usia mereka terpaut cukup jauh, gadis SMA berusia 18 tahun dengan bujang tua yang hampir kepala tiga, sepertinya memang kurang pantas.

Sayangnya semakin ingin menyerah, perasaan Ardan justru semakin meluap tak terbendung. Ardan bertekat untuk mengajak Mira berkenalan begitu ia lulus SMA.

Dan entah bagaimana, hari ini semesta seakan membantunya. Takdir seakan memang berpihak pada Ardan.

Mungkinkah ketulusan hatinya menyentuh hati sang khalik?

Ardan berdecih, ia seperti baj*ngan yang bahagia di atas penderitaan orang. Kecelakaan itu membuat Ardan bisa menjalin hubungan dengan Mira, bahkan menikahinya.

"Satu ... dua ... tiga." Ardan selesai berhitung dan suara ketukkan pintu terdengar.

Tok Tok Tok ...

"Masuklah, Mira." Ardan berdiri menyambut Mira.

Mira membuka pintu pelan pelan, ia masuk dengan ragu. Menikah tentu saja bukanlah sebuah hal kecil apalagi bagi seorang gadis remaja sepertinya.

Ardan berdiri di depan meja, sedikit bersandar dengan pantat, kaki menyilang ke depan dan tangan bersedekap. Ardan mendorong bingkai kaca matanya naik sambil menunggu bibir Mira terbuka.

"Apa tidak ada jalan lain selain menikah?" tanya Mira.

Bagaimana ia bisa memutuskan hal besar itu tanpa berdiskusi lebih dahulu dengan sang ibu.

Dan pria ini, bagaimana mungkin dia dia mau menikah dengan Mira dengan sangat mudah? Apa dia orang c4bul yang hanya ingin memanfaatkan situasi Mira?

Ardan bergeleng, permintaannya tetap sama, Mira harus menikah dengannya, dan ia akan mengoprasi Ratih saat ini juga. Ratih bisa mati bila tidak mendapatkan pertolongan dalam waktu dekat.

"Tapi kenapa? Kenapa menikah?! Dan kenapa harus saya?" Mira kembali bertanya, ia ingin tahu apa alasan Ardan melamarnya di depan ruang ICU yang dingin itu.

"Karena aku mencintaimu."

"Mencintaiku?? Dokter jangan bercanda, itu tidak mungkin," jawab Mira. Lucunya wajah gadis itu bersemu kemerahan saat mendapatkan ungkapan cinta yang pelum pernah ia dapati sebelumnya. Bukan karena kurang populer, namun waktunya yang begitu terbatas membuat Mira bahkan tak punya waktu untuk bergaul dengan siapa pun.

"Ya, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu." Ardan mendekat, ia memberikan plester frozen ke telapak tangan Mira.

"Eh ... plester ini kan..." Mira kenal, karena Ratih selalu membeli plester frozen sebagai pertolongan pertama saat terluka selama bekerja di restoran. Jadi Mira juga ikut membawanya kemana mana seperti sebuah kebiasaan.

"Ingat?" Ardan mengangkat dagu Mira hingga tatapan mereka bertemu. Mira tak lagi fokus dengan plester di tangannya.

Ingatan itu samar, tapi Mira memang merasa pernah memberikan plester pada seorang pria muda dengan tangan yang penuh kapal, tampak sekali bagaimana ia berusaha untuk menjadi dokter yang baik.

"Jadi ... pria itu ..."

Ardan memeluk Mira tanpa menunggu gadis itu menyelesaikan ucapannya. Mira terkejut, ia hendak memberontak namun dekapan Ardan justru terasa begitu hangat. Rasa itu terlalu nyaman untuk di sia siakan begitu saja. Tubuh kokoh Ardan seakan menjadi sandaran kuat pertama dalam hidup Mira yang penuh goncangan.

Rasa cinta ternyata jauh lebih mudah tumbuh dibandingkan dengan rasa takut. Hanya butuh sepersekian detik untuk mencintai seseorang.

Mendengar detak jantung Ardan yang berdebar dengan sangat cepat membuat jantung Mira ikut berpacu. Sama kerasnya, sama cepatnya.

Tangan kokoh Ardan mengangkat Mira naik ke atas meja kaca yang dipenuhi dengan manekin manekin kecil bergambar pencernaan manusia. Ardan mendekatkan wajahnya, membuat gadis polos itu memejamkan mata erat.

Apakah Ardan ingin menciumnya? Memberikan ciuman pertama kepadanya?

Bibir basah Ardan tak kunjung mendarat pada bibirnya, ternyata Ardan hanya memberikan kecupan ringan di kening Mira. Singkat, tapi berjuta rasanya. Wajah Mira memanas, jantung melaju semakin cepat, aliran listrik menjalar ke sekujur tubuh dan memberikan sensasi geli yang menggelitik perut.

Mira belum pernah berhubungan dengan lawan jenis, dan ia juga tak memiliki sosok ayah sebelumnya. Hingga tatapan teduh Ardan dan janji manisnya membuat hati Mira luluh dengan mudah.

"Aku anggap ini DP nya! Kita menikah setelah ibu sembuh." Ardan mentowel lembut hidung Mira.

Mira mengangguk malu, ia setuju dengan permintaan Ardan. Tanpa menunggu lagi, Ardan menghubungi bagian administrasi dan kamar operasi. Dokter anastesi bersiap, dan Ardan pun bersiap.

Mira melihat Ardan sudah berganti dengan baju hijau dan mengikat kepalanya. Ardan menyentuh pipi Mira dan menghapus air matanya.

"Jangan menangis, harusnya kau tersenyum dan memberiku semangat bukan?"

Mira tersenyum ... cinta pertama yang hadir secara tiba tiba. Menawarkan sebuah jalan keluar dari lubang nestapa, meski pun terasa seperti mimpi, namun nyatanya benar benar terjadi.

Musim hujan enam tahun lalu, di depan ruang ICU yang dingin, Ardan melamar Mira dan Mira menerimanya.

......................

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!