Pagi hari yang cerah, dimana matahari hangat menyinari bumi dan burung berkicau dengan merdu di langit. Asap polusi kendaraan membumbung tinggi, menandakan kepadatan jalur transportasi.
Seorang wanita cantik dengan wajah di tekuk berada di dalam mobil mewah, terjebak macet cukup lama. Wajahnya sangat cantik, tapi ekspresinya sangat unik dan aneh.
"Haduuhhh lama banget sih, jalan kaki aja lah udah." Gerutunya frustasi.
"Mohon bersabar nona, jalur ini memang sering terjebak macet di jam kerja." Supir menjawab dengan sopan.
Wanita cantik itu hanya mendesah kesal, mengambil ponsel mahal dan canggih lalu menghubungi seseorang untuk memenuhi perintahnya.
Tuttt...
Tutt..
"Helikopter!! jemput aku dengan helikopter sekarang!!." Teriaknya.
"Maaf nona, tidak ada tempat untuk mendarat di tengah jalan." Jawab orang di seberang telepon dengan kikuk.
"Tidak usah mendarat, kau ulurkan saja tangga tali ke bawah. Aku yang akan naik, berhenti beralasan!!." Teriak wanita itu.
"Baik."
Tut.
Sambungan terputus, wanita itu menunggu sambil melihat ke langit. Dia sudah hampir matang terjebak macet, menggunakan kekayaan dengan sebaik-baiknya itu harus.
dugudgudgudug~~
Helikopter benar-benar datang, wanita itu dengan senyum cerah keluar dan naik ke atas mobil tanpa malu menjadi pusat perhatian.
Helikopter menurunkan tangga tali dengan hati-hati, wanita itu melepas heels nya lalu manjat dengan senyum bahagia. Ini lah kebebasan yang sesungguhnya, kekayaan memang segalanya.
"HAHAHAHAHHAHAHAHA." Wanita itu tertawa seperti orang gila.
"Nona, mohon pasang sabuk pengaman dengan benar." Ucap pilot.
"Iyaiyaiya, cepat bawa aku pergi dari sini." Wanita itu tersenyum puas.
Helikopter pergi menuju gedung pencakar langit yang sangat tinggi. Helikopter mendarat di atap gedung, wanita itu turun dengan anggun dan menawan. Dia tersenyum lebar merasa hidupnya penuh keberkahan.
"Selamat datang Nona Ruby, ada masalah mendesak yang membuat saham perusahaan turun. Anda harus segera melakukan rapat darurat, sepertinya ada musuh kuat yang ingin menyabotase keamanan perusahaan." Ucap seorang pria paruh baya.
"Apa? siapa yang berani bermain-main dengan orang gila?!!! Segera kumpulkan semua orang di ruang rapat Paman Sam." Wanita bernama Ruby itu merasa kesal.
Paman Sam buru-buru turun untuk melaksanakan perintah, Ruby segera pergi menuju ruangannya. Menghela nafas karena hidupnya tidak juga tenang padahal sudah kaya raya.
"Apa yang salah? aku kaya, cantik dan baik hati. Kenapa masalah selalu datang padaku?!." Keluhnya kesal.
Meskipun mulutnya sangat blak-blakan dan terkesan seperti orang gila, saat diam Ruby terlihat sangat anggun, polos, dan sangat menawan sekali.
"LAMA SEKALI SIH, KATANYA RAPAT DARURAT." Teriak Ruby kesal.
Sembari menunggu paman Sam datang memanggilnya, Ruby mendekat ke arah rak buku di dalam kantornya. Dia membuka sebuah album foto, dimana ada banyak foto dirinya saat kecil hingga besar bersama orangtuanya.
Orangtua Ruby meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat sudah sejak 12 tahun yang lalu. Ruby mewarisi perusahaan raksasa sendirian, karena keadaan membuatnya menjadi seperti orang gila meskipun kekayaan selalu menghampirinya.
"Ayah, Ibu apa di surga itu enak?." Gumam Ruby lirih.
Dor
Dor
Dor
Ruby menegang, mendengar suara pistol menggema begitu keras dan teriakan histeris banyak orang. Ruby buru-buru mengambil pistol miliknya dan bersiap untuk bahaya yang akan datang.
"Apa-apaan? kenapa ada serangan di siang bolong begini?." Batin Ruby Terkejut.
Ruby meraih telepon untuk memanggil polisi, sayangnya saluran komunikasi sudah terputus. Dia membuka ponselnya, anehnya tidak ada jaringan. Merasakan firasat buruk, Ruby buru-buru mengambil surat penting dan membakarnya.
"Pengkhianatan rupanya, tidak akan aku biarkan kau mendapatkan sepeserpun bajingan." Gumam Ruby.
Ruby mengambil kunci brangkas miliknya, dia berpikir dan melihat sekitar. harus dibuang kemana agar tidak mudah ditemukan? Ruby mencoba berpikir secara cepat, dia tidak akan pernah membiarkan pengkhianat memenangkan pertarungan ini.
"Memangnya orang gila bisa berpikir?!." Kesal Ruby, dia membuang kunci brangkas ke jendela begitu saja.
Kunci itu jatuh dari lantai 50 hingga ke bawah, entah jatuh dimana tidak tahu. Sebenarnya Ruby sudah memperkirakan adanya pengkhianatan, dia sudah memberikan wasiat jika semua harta benda yang dirinya miliki akan di berikan kepada panti asuhan, panti jompo dan sekolah disabilitas.
BRAKKK
"Nona Ruby, terjadi penyerangan. Mohon segera ikut saya keluar dan pergi dari sini." Paman Sam datang, jas nya sudah berlumuran darah.
"Kau bisa melepas topengmu disini, Paman Sam." Ucap Ruby santai.
"Hahahaha rupanya nona sudah tau? kalau begitu semuanya akan berakhir dengan cepat, jangan terlalu dendam padaku karena dari awal perusahaan ini seharusnya menjadi miliku." Ucap Paman Sam, mengacungkan pistolnya.
"Paman.. paman... seandainya aku tidak menghormati mu karena kau adik dari Ayahku. Apakah kau bisa hidup seperti ini sekarang? ambil saja." Ujar Ruby.
"Kau anak yang polos dan bodoh, aku akan mengantarmu kepada orangtuamu dengan cara yang sama." Ujar Paman Sam.
"Oh astaga, apa Paman yang membunuh Ayah dan Ibu? aku sudah menebaknya sih, tapi apa kau tau paman?...... aku orang gila." Ucap Ruby nyengir menakutkan.
"Apa yang bisa dilakukan orang gila, matilah dengan tenang jalang kecil." Ucap Paman Sam menarik pelatuk.
Dor
Dor
Ruby tersenyum, darah keluar dari mulutnya tapi dia tetap tersenyum dengan menakutkan. Seolah kematian bukan apa-apa baginya, dibanding itu Paman Sam kini melotot Terkejut, dia tidak menyangka jika Ruby bisa menembak di waktu yang sama dengan dirinya.
Benar, bukan hanya Ruby yang tertembak tapi Paman Sam juga tertembak di dada. Pada akhirnya pengkhianatan tidak akan pernah menang, Ruby adalah wanita gila dimana dia tidak akan pernah melakukan hal yang bisa di prediksi. Keduanya tewas dengan menyedihkan, semuanya terjadi hanya karena sebuah harta dan kekuasaan.
Di sebuah rumah reyot berdinding kayu lusuh, terbaring seorang wanita kurus kering di atas ranjang. Wanita itu menggeliat karena cahaya matahari menyilaukan matanya.
"Ugh... hoaamm, di surga ada matahari juga ya." Gumamnya.
"AAAKKKHHHHH APA APAAN INI, KENAPA DI SURGA AKU JADI MISKIN!!!!." Teriaknya histeris.
"Tidak-tidak..... tanganku yang mulus, TIDAK!!!!!." Ujarnya lagi, berteriak seperti orang gila.
Benar, wanita itu adalah Ruby yang telah mengalami Transmigrasi jiwa di dunia antah-berantah. Bukan hanya menjadi orang miskin, dia juga harus menjadi gadis jelek, kurus, kering menyedihkan.
Tidak ada yang lebih menakutkan bagi Ruby selain kemiskinan. Dia benar-benar frustasi, tidak mau menerima kenyataan yang baru saja menimpanya.
"Jangan bersedih, minta satu permintaan sebagai permintaan maafku."
Tiba-tiba suara asing menggema di kepala Ruby, Ruby celingukan berusaha mencari keberadaan sumber suara. Tapi anehnya tidak ada siapapun, dia sendirian disana.
"Apa maksudnya permintaan maaf?." Ruby memicing curiga.
"Aku salah mencabut nyawa mu, seharusnya kau belum waktunya mati. Karena itu aku memberikan kehidupan kedua padamu, ini terpilih secara buru-buru."
"Memangnya malaikat maut sebodoh ini ya? aku tidak masalah menjadi siapa saja, asalkan Kekayaan dan kecantikan ku saat menjadi Ruby harus dibawa!." Teriak Ruby marah-marah.
"Apa kau hanya ingin semua yang kau miliki saat menjadi Ruby?."
"Ya, cepatlah berikan aku kekayaan dan kecantikan yang luar biasa!!!." Teriak Ruby.
"Ingat baik-baik ini kesempatan terakhir bagimu untuk meminta, setelah ini apapun yang terjadi padamu bukan urusanku."
"Iya malaikat maut bodoh, berikan saja aku kekayaan biar ku nikmati hidupku dengan baik disini." Jawab Ruby, tidak sabar.
Cling~~
Sinar biru bersinar begitu terang hingga membuat Ruby memejamkan matanya, angin berhembus dengan kencang bahkan membuat Ruby vertigo. Saat mual mulai mendera, dia merasa angin dan caranya mulai memudar dan dia bisa membuka matanya.
Huekkk~~
Ruby muntah karena merasa dunia berputar-putar, dia muntah dan merasa pahit. Sepertinya pemilik tubuh sebelumnya mati kelaparan.
Ruby melihat tangan nya yang putih dan lentik, lalu meraba wajahnya yang terasa kenyal dan halus. Senyum puas terpatri di wajahnya, seringai puas yang menyeramkan.
"Aku sudah mengabulkan permintaan mu, semua hartamu ada di dalam kalung yang kau pakai. Cukup mengadahkan tangan dan menyebutkan apa yang kau perlukan, barang itu akan muncul."
"Uang!!." Teriak Ruby, mengadahkan tangannya.
Tiba-tiba muncul kantung kain aneh, ternyata itu berisi koin emas. Ruby Mengkrenyit heran, kenapa malah jadi koin? perasaan dia tidak pernah mengumpulkan koin.
"Apa? mana uang nya?." Heran Ruby.
"Di zaman ini tidak ada uang, hanya ada koin emas, perak dan tembaga."
"Sebenarnya di zaman apa kau membawaku Hah!!!!." Teriak Ruby marah.
"Sudah waktunya aku pergi, kau bebas ingin hidup seperti apa. Masalah kita sudah selesai, sampai jumpa di maut yang sesungguhnya Ruby."
"AKU TIDAK AKAN MATI DASAR MALAIKAT MAUT SIALAN." Teriak Ruby keras.
Merasa sudah tidak ada jawaban, Ruby pun keluar dari rumah reyot itu. lokasinya ada di dalam hutan, ada air terjun dan sungai yang mengalir, udaranya sejuk dan ada hamparan bunga yang indah.
"Padahal se indah ini, kenapa rumahnya reyot begitu, dia hidup di hutan tapi kelaparan? sepertinya dia bodoh ya." Gumam Ruby.
Ruby berlari entah kemana, dia naik pohon dan mencari sumber kehidupan yang sebenarnya. Dia tidak tahan dengan baju lusuh miliknya ini, dia harus segera mengganti pakaian dan memperbaiki rumah.
Setelah melihat adanya kehidupan ramai di arah timur, Ruby turun dan hendak berjalan ke sana melewati hutan dengan percaya diri. Namun suara seseorang membuatnya diam mematung.
"Ibu mau kemana?."
Deg.
Ruby menoleh, keduanya sama-sama Terkejut hingga tersentak. Ruby terkejut melihat ada anak remaja laki-laki di hadapannya, sedangkan remaja itu terkejut melihat wajah cantik Ruby.
"M-maaf, saya mengira anda Ibu saya." Ucapnya melangkah mundur.
"Tunggu, siapa nama mu? aku terbangun di dalam rumah itu." Ucap Ruby, mencari identitas diri.
"Itu rumah saya, Ibu saya sedang sakit dan terbaring diatas tempat tidur. Saya baru saja kembali setelah mencari tanaman obat, saya mengira anda ibu saya karena pakaian yang anda kenakan sangat mirip dengan pakaian milik Ibu saya." Ucapnya.
"Alamaakkk, udah beranak ternyata? punya suami ngga? jangan bilang gue janda?!." Batin Ruby berteriak frustasi.
"Aku mengerti sekarang, jadi kau putraku." Ucap Ruby.
"Ya?." Kaget remaja itu.
"Begini, ada satu hal yang sangat rahasia telah terjadi pada Ibumu. Jadi, sebenarnya Ibumu telah melakukan kontrak perjanjian dengan malaikat maut." Ucap Ruby, mengarang cerita.
"Apa?!." Kaget remaja itu.
"Benar, umur ibumu telah melewati masa kontrak karena itu jiwaku yang dari masa depan di tarik paksa, untuk menggantikan nyawa Ibumu." Ucap Ruby.
Remaja itu mundur, merasa Ruby aneh dan sedikit gila. Ruby yang tau tatapan itu merasa muak, dia memang gila tapi setidaknya dia harus percaya ucapannya.
"Uang." Ucap Ruby mengadahkan tangan, muncul sekantong besar koin emas.
Remaja itu terperangah tidak percaya, menatap takjub dan juga sulit mengerti. Meksipun di zaman ini ada sihir dan kultivitasi, tetap saja ini mengejutkan karena bisa memanggil uang.
"Apa itu semacam batu penyimpanan?." Ujar remaja itu.
"Bukan, ini kekuatan ku. Lagian mustahil kan ibumu punya uang? ini harta miliku, kau percaya sekarang?." Ujar Ruby, anak itu masih menggeleng.
"Astaga, intinya Ibumu itu meninggal dunia dan raganya di rasuki nyawaku dari masa depan. Bahkan sekarang fisiknya juga mengikuti ku, intinya aku Ibumu meksipun bukan Ibu kandung tapi raga ini tetap yang melahirkan mu." Ruby pusing sendiri menjelaskannya.
Remaja itu nampak murung, matanya terlihat rumit dan banyak pikiran. Ruby menghela nafas, sepertinya remaja ini kehilangan ibunya setelah hidup bersama di hutan seperti ini.
"Jadi Ibuku sudah tiada?." Gumamnya.
"Hey____
"Syukurlah." Remaja itu tersenyum.
"Lah? gila juga ternyata dia." Batin Ruby melongo.
"M-maksudmu?." Ruby syok.
"Maaf, Ibuku selalu memukul dan membentakku sejak kecil. Aku bersyukur karena dia tidak akan memukulku lagi." Lirih remaja itu.
"Kenapa Ibumu seperti itu? kemana Ayahmu?." Heran Ruby.
"Ibuku di hamili orang gila, Ibuku selalu mengatakan aku anak orang gila sambil memukuliku. Aku tidak tau siapa Ayah ku yang katanya orang gila itu, hidup bersama Ibu disini sangat menyiksa." Ujarnya lirih.
"Astaga, aku mengerti perasaan mu. Kau menderita, Ibumu juga menderita, kalian benar-benar telah hidup dengan berat selama ini. Tenang saja, setelah ini ayo cari Ayahmu itu." Ucap Ruby.
"Untuk apa?." Bingungnya.
"Ya, supaya kau tau siapa Ayahmu. Kita tidak tau cerita aslinya, siapa tau Ibumu mengatakan kau orang gila karena sedih dicampakan, ayo kita cari Ayahmu itu." Ucap Ruby tersenyum smirk.
"Bibitnya aja seganteng ini, gimana bapaknya ya... sepertinya lezat." Batin Ruby.
"Jadi siapa namamu?." Tanya Ruby.
"Xui." Jawabnya.
"Hanya itu?." Bingung Ruby, setahunya China itu kental dengan marga.
"Ibuku tidak punya marga, dan marga Ayahku entah apa." Jawab Xui.
"Astaga anak yang malang, apa kau sudah makan?." Tanya Ruby, merasa kasihan.
"Belum." Xui menggeleng.
"Ini, aku memetik mangga tadi. Makan ini dulu, setelah ini kita pergi ke pasar." Ucap Ruby.
"Pasar?." Kaget Xui.
"Ya? kenapa? kau tidak mau?, aku akan membelikan banyak pakaian bagus dan mencoba merenovasi rumah ini." Ucap Ruby.
"Apa... apa anda ingin menjadi Ibu saya?." Ujar remaja itu.
"Bukankah aku memang Ibumu?." Ruby jadi bingung.
Deg.
"Tapi... tapi anda terlihat sangat muda, bahkan mungkin seumuran dengan saya." Ucap Xui kikuk.
"Astaga, memangnya berapa umurmu?." Tanya Ruby.
"16 tahun." Jawab Xui.
"Tenang saja, di kehidupan pertama usiaku sudah 28 tahun. Umur kita terpaut cukup jauh, jadi tidak masalahkan jika aku jadi Ibumu?." Ucap Ruby, dia juga butuh teman di dunia antah-berantah ini.
"Baiklah, terimakasih banyak." Xui tersenyum tipis, sambil memakan mangga.
"Apa kau punya impian? apa impianmu?." Tanya Ruby.
"Saya... ingin pergi dari sini." Lirihnya.
Deg.
Ruby tersentak tapi dia mengerti, alasan Xui tidak mau disini karena dipenuhi luka dan kenangan buruk. Membeli rumah baru juga tidak masalah baginya, dia kaya dan dia bisa membangun usaha untuk menyambung hidup nantinya.
"Baiklah, ayo kita pergi dari sini dan membeli rumah baru." Ajak Ruby.
"Apa anda serius?." Kaget Xui, namun matanya berbinar.
"Ya, tapi ada syaratnya." Ujar Ruby.
"Syarat?." Kaget Xui.
"Betul, panggil aku Ibu dan anggap aku sebagai Ibumu. Ingat umur kita terpaut jauh dan kau lahir dari tubuh ini, aku adalah Ibumu secara biologis." Ucap Ruby menegaskan.
"Saya mengerti." Xui mengangguk.
"Memangnya bahasa anak dan Ibu sekaku itu ya?." Ruby mendengus.
"Maaf... Ibu, saya ... aku hanya merasa canggung." Ucap Xui.
"Hilangkan kecanggungan itu jauh-jauh, kau itu anakku. Kau keluar dari tubuh ini, ingat itu baik-baik." Tegas Ruby.
"Aku mengerti, Ibu." Xui mengangguk.
Setelah makan mangga, keduanya pergi dari sana tanpa membawa apapun karena memang tidak ada yang perlu dibawa. Keduanya berjalan berdampingan dengan hening, tinggi Xui sekitar 175cm sedangkan tinggi Ruby 173cm. Mereka nyaris sama, untuk ukuran wanita di zaman ini Ruby sangatlah tinggi.
"Ibu.. kita bisa beristirahat dulu jika Ibu lelah." Ucap Xui.
"Apa kau lelah? aku masih kuat berjalan." Ujar Ruby.
"Tidak juga, pasar sebentar lagi terlihat. Akan ada banyak orang." Ucap Xui.
"Apa kau malu?." Ruby tersenyum.
"Aku... tidak pernah berinteraksi dengan mereka, aku merasa canggung dan tidak nyaman." Jujur Xui.
"Itu wajar, ayo kita cepat membeli pakaian lalu, makan makanan enak dan membeli rumah baru." Ucap Ruby dengan semangat.
"Bagaimana jika uang Ibu habis?." Xui khawatir.
"Tenang saja, kita bisa mengemis bersama-sama." Jawab Ruby.
"Pfttt hahahaha, benar juga." Xui tertawa, dia terlihat tampan dan manis.
"Ya ampun imutnya, wajahnya kaya anak penurut dan berprestasi gitu. Pasti bapaknya menggoda banget ini, harus gue bawa pulang dan gue kekep sampe mati." Batin Ruby, menyeringai lebar.
Tidak lama berselang, mereka akhirnya sampai di pasar yang padat dan ramai. Bau keringat dan panas matahari membuat Ruby merasa puyeng, apalagi kondisi perutnya sedang keroncongan.
"Ayo kita makan dulu." Ajak Ruby.
Ruby dan Xui makan bakmi di kedai kecil, mereka makan dengan lahap. Mengisi perut yang sudah kelaparan, mereka menghabiskan masing-maisng tiga mangkok.
Wajah Ruby yang cantik jelita menjadi pusat perhatian, Xui yang menyadari itu menatap dengan tajam. Merasa tatapan tidak senonoh itu sangat tidak sopan.
Setelah makan, keduanya masuk ke sebuah butik Hanfu jadi. Mereka membeli dengan cepat, semua yang pas dengan tubuh mereka akan dibeli. Setelah membawa banyak pakaian baru yang lumayan mahal, mereka pergi ke balai pemerintahan setempat.
Mereka di oper ke kantor satu ke kantor yang lain, hingga akhirnya mendapatkan pilihan paviliun bekas bangsawan lengser. Ruby mengamati satu demi satu, ingin membeli rumah yang nyaman untuk ditinggali.
"Xui, menurutmu bagaimana dengan Paviliun ini?." Tanya Ruby.
Ruby menunjukan sketsa gambar Paviliun yang terletak cukup jauh dari hiruk pikuk pasar kota, berada di tempat yang asri dan nyaman. Ada air terjun dan terasa sangat sejuk sekali, entah kenapa Ruby ingin memilih rumah itu.
"Ini bagus, tapi apa tidak terlalu jauh dari sini?." Ujar Xui.
"Jauh, meskipun tempatnya asri seperti di gunung. Lokasinya ada di dekat Ibu kita meksipun tidak di pusat kotanya, kita bisa naik kereta kuda kesana besok." Ucap Ruby.
"Lalu malam ini bagiamana?." Tanya Xui.
"Kita bisa menyewa penginapan untuk satu malam, tenang saja." Ruby tersenyum.
Setelah deal harga tanpa survei, Ruby menerima alamat lengkap dan surat kepemilikan. Meskipun sangat beresiko di tipu, entah kenapa tampang mereka seperti ketakutan.
"Apa ada rahasia di rumah itu?." Tanya Ruby.
"Tidak ada, rumah itu memang murah karena tidak berada dari pusat kota." Ucap pegawai pemerintahan.
"Ya ampun, begitu rupanya." Ruby tersenyum smirk.
Ruby menggandeng Xui keluar dari balai, mencari penginapan yang paling dekat dan memesan satu kamar untuk beristirahat. Ruby merasa lelah dan mengantuk, tapi dia tidak boleh istirahat sekarang, dia harus mencari tau Ayah Identitas Ayah biologis dari Xui.
"Xui, saat kau bertemu dengan Ayah kandungmu nanti. Jangan pernah mengatakan rahasia tentangku ya, aku ini memang Ibu yang mengandung dan melahirkan mu." Ujar Ruby.
"Iya, Ibu." Jawab Xui.
"Apa kau tau dimana kita bisa mendapatkan informasi rahasia?." Tanya Ruby.
"Itu sulit, selain harganya mahal biasanya akses masuknya ketat dan berbahaya." Ucap Xui.
"Kau tau darimana?." Heran Ruby.
"Pengetahuan seperti ini sudah menjadi rahasia umum." Jawab Xui.
"Begitu rupanya ya, apa ada semacam guild rahasia yang menjual informasi?." Ruby mengingat-ingat, apa saja yang ada di zaman ini.
"Biasanya di novel fantasi ada apa aja ya? guild, pasar gelap... terus apa sih? kayanya cuma itu deh." Batin Ruby.
"Xui, aku belum memberitahumu. Namaku Ruby." Ucap Ruby.
"Itu nama yang asing dan unik, seperti nama permata. Nama asli Ibuku entah siapa aku juga tidak tau." Jujur Xui.
"Ya ampun, sebenarnya kalian niat jadi Ibu dan anak ngga sih." Batin Ruby lelah.
"Xui, diam disana dan biarkan aku menggambar sketsa wajahmu." Ucap Ruby, mengambil kuas dan kertas di atas meja penginapan.
"Untuk apa?." Bingung Xui.
"Bagaimana caranya kita tau siapa Ayahmu? nama nya kan kita tidak tahu, setidaknya wajahmu pasti mirip dengannya kan. Kita coba saja bertaruh." Ucap Ruby.
"Untuk apa di gambar, bukankah aku bisa langsung memperlihatkan wajahku?." Heran Xui.
"Itu sulit, kau tidak akan ikut ke guild atau pasar gelap. Tetaplah disini dan tunggu aku kembali, aku tidak akan lama karena informasi pasti akan dicari minimal satu Minggu kedepan." Ucap Ruby.
"Apa Ibu akan baik-baik saja?." Xui khawatir.
"Ya, jangan khawatir. Aku cukup gila itu bertindak hati-hati." Jujur Ruby, membuat Xui semakin was-was.
Setelah sketsa wajah Xui tergambar dengan jelas dan mirip. Ruby mandi dan menggunakan Hanfu Hitam tertutup, tidak lupa mengenakan cadar hitam menutup identitas nya.
"Ibu pergi, jangan kemana-mana." Ucap Ruby tegas.
"Hati-hati Ibu." Ucap Xui.
Ruby melesat cepat di tengah malam yang gelap dan dingin, dia bergegas mencari tau dimana lokasi guild yang bisa menerima informasi. Setelah berusaha keras mencari bocoran di Bar, rumah bordil dan tempat haram lainnya akhirnya Ruby mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Nama Guild terkenal dan cara akses masuknya. Ruby berjalan ke sebuah stand bakpao milik Kakek tua renta yang kasihan, Ruby mendekat dengan ramah tamah.
"Aku ingin membeli bakpao daging, tiga porsi untuk malam ini." Ucap Ruby.
Itu adalah kalimat sandi, dimana pelanggan khusus meminta bookingan waktu untuk satu kali pertemuan di malam ini. Kakek tua itu membuka kotak bakpao, memberikan satu bakpao daging untuk Ruby.
Ruby heran tapi tetap menerimanya dan pergi, dengan kesal Ruby makan bakpao daging dengan lahap, kesal karena merasa dibohongi.
Eh?
Ruby tertegun saat kertas yang berada di bawah bakpao berisi alamat yang perlu Ruby kunjungi. Ruby dengan cepat mencari alamat itu dengan hati-hati, setelah mendapatkan alamatnya dia pun masuk dan di sambut pria misterius dengan pakaian tertutup.
Setelah membayar uang muka sebesar 5 koin emas, Ruby dibawa masuk ke sebuah ruangan bercahaya redup. Di sana ada tempat duduk dan meja yang di batasi tirai hitam, menjaga rahasia pemilik guild.
"Apa yang kau butuhkan?." Ujarnya.
"Aku mencari orang ini, aku bertemu dengannya sekitar 16 tahun yang lalu. Saat itu wajahnya seperti ini, aku tidak tau namanya jadi bisa kah kau membantuku mencari tau siapa namanya dan tinggal dimana dia? aku meniliki hutang padanya." Ucap Ruby, menunjuk sketsa wajah Xui sebagai sketsa wajah Ayahnya di masa lalu.
"Ini akan mahal." Ucapnya.
"Aku akan membayar, semakin detil informasinya aman semakin besar bonus yang aku berikan." Ucap Ruby.
"Ini menarik nona, tapi memerlukan waktu lama." Ucapnya, menimang-nimang.
"Bagaimana jika satu Minggu dengan 100 koin emas?." Tawar Ruby.
"Anda memang pengertian, saya akan secepatnya memberi kabar." Ucap pemilik guild terdengar senang.
"Dasar mata duitan, mahal banget anjir." Batin Ruby.
Ruby memberikan sketsa wajah dan uang yang cukup banyak sebagai DP, setelah itu dia diantar keluar. Pintu keluarnya berbeda, dia berada di tengah pusat kota dimana ada air mancur disana.
"Loh kok beda, ini jalan ke penginapannya dimana?." Bingung Ruby.
Ruby berputar-putar mencari jalan keluar, setelah beberapa saat akhirnya dia menemukan penginapan itu, dia merasa kesal karena seperti di kerjai.
"Sialan, kampret, bisa-bisanya gue di bikin puyeng." Batin Ruby kesal.
Ruby masuk ke dalam penginapan dengan cepat, namun suasana terasa aneh. Terlalu sepi dan senyap padahal masih jam 10 malam, Ruby mengendap dengan hati-hati.
Mendengar suara gaduh dari dalam kamarnya, Ruby menerobos masuk ke dalam. Melihat Xui yang sudah terluka dan ada tiga orang berpakaian ninja bersenjata pedang di sana.
"Apa yang kalian cari?." Dingin Ruby.
"Serahkan semua yang kalian miliki." Desak mereka.
"Kalian rampok?." Heran Ruby.
"Berikan atau dia akan mati." Ancam salah satu dari mereka, mengarahkan pedang pada leher Xui.
Xui tidak punya senjata, tapi hebat sekali hanya mendapat luka sayatan tanpa ada luka tusukan yang parah. Ruby terdiam, berusaha memutar otak gilanya untuk keluar dari situasi ini.
"Kalian benar-benar membuatku emosi." Ucap Ruby.
"Cepat!!." Ancam mereka.
Whoshh
Bugh
Bugh
Duagh
Arggh
Ugh
Duagh
Bruk
Ruby melesat menendang mereka semua satu persatu. Dia memungut salah satu pedang dan menghunuskan ke arah salah satu dari mereka.
"Aarrggggghhhh."
"Pergi atau mati." Ancam Ruby mengerikan.
Ketiganya pergi sambil salah satunya di seret karena terluka, setelah perampok menyebalkan itu pergi. Ruby memeriksa Xui, takutnya ada luka parah yang tidak terlihat.
"Xui, kau baik-baik saja? tidak terjadi sesuatu padamu kan?." Ruby membolak balik Xui, membuka atasan Hanfu nya, memastikan tidak ada luka fatal.
"Aku baik-baik saja Ibu." Ucap Xui.
Greb
"Maaf, seharusnya Ibu tidak membiarkanmu sendirian tanpa senjata. Ini kesalahan Ibu, kau sudah bertahan dengan baik. Kau pasti sangat ketakutan ya, tidak apa-apa Ibu sudah datang." Ruby memeluk Xui, merasa sangat bersalah.
Xui membalas pelukan Ruby dengan kaku, melihat tubuh Xui yang bergetar samar sepertinya dia menangis dalam diam. Ruby merasa bersalah karena memberikan tambahan trauma dan luka dalam diri Xui yang sudah rapuh.
Ruby memeluk Xui cukup lama, setalah Xui mulai tenang. Ruby mencoba mengobati luka luka yang di dapatkan Xui, hanya dengan obat seadanya dan ikat menggunakan kain. Setelah itu mereka bersiap untuk tidur, sebenarnya cukup takut dan was-was, tapi mereka butuh tidur saat ini.
Memutar otak dengan baik, Ruby dan Xui tidur di kolong ranjang. Di atas ranjang hanya menggunakan tipuan bantal, setidaknya jika ada penyusup lagi nyawa mereka tidak langsung terancam dan mati konyol.
Karena lelah, keduanya terlelap begitu saja. Selain lelah fisik mereka juga lelah secara batin, banyak hal yang terjadi dan banyak sekali orang jahat dimana-mana. Untuk tidur tenang pun terasa sangat sulit, mereka merasa beristirahat pun tidak bisa maksimal.
Pagi hari berikutnya, Ruby dan Xui merangkak Keluar dari kolong ranjang dengan hati-hati. melihat kondisi bantal diatas ranjang sudah acak-acakan, sepertinya semalam memang ada penyusup lagi.
Tanpa mandi, keduanya langsung pergi dengan cepat. Mereka langsung menuju tempat makan dan numpang cuci muka disana. Setelah makan, mereka pergi ke tempat transportasi umum di zaman itu.
Transportasi umum di zaman ini adalah andong sapi dan kereta kuda. Harganya berbeda karena kecepatan sapi dan kuda itu berbeda, Ruby memilih kereta kuda karena ingin cepat sampai.
Ruby dan Xui, tertidur di dalam gerbong kereta bersama para pedagang yang hendak berjualan di pusat kota. Lumayan bisa istirahat sebentar, hidup di zaman ini benar-benar mengerikan.
Delapan jam kemudian, mereka sampai di batas kota. Mereka harus mencari andong atau kereta kuda yang lain untuk menuju lokasi selanjutnya, Ruby dan Xui mampir untuk istirahat dan makan sebentar di penginapan besar.
"Ibu, jika kita berpindah-pindah begini bagaimana orang guild akan memberikan informasi?." Tanya Xui.
"Ibu sudah memberitahu alamat lengkap rumah baru kita, semoga saja semuanya lancar." Ucap Ruby, membuat Xui mengangguk.
Mereka istirahat dan makan, setelah tenaga sudah pulih dengan benar. Mereka pun naik kereta kuda sore menuju lokasi rumah baru mereka.
"Apa kau penghuni baru Paviliun itu?." Tanya Kusir.
"Benar, apa ada kisah rahasia?." Ruby merasa penasaran.
"Dulu, pemilik Paviliun itu adalah seorang bangsawan yang dekat dengan Kaisar. Mereka semua di hukum mati karena sudah menculik Pangeran Kekaisaran Fanglin, paviliun itu menjadi simbol pengkhianatan." Ucap Kusir.
"Wah itu mengerikan, apa Paviliun itu jadi angker?." Ruby takut hantu.
"Tidak, masih ada banyak pekerja seperti juru kebun dan pelayan bersih-bersih. Memang tidak ada yang mau membeli Paviliun itu, karena rumah cap pengkhianatan membawa nasib buruk." Ujar Kusir.
"Ibu..." Xui jadi ragu.
"Tidak apa-apa, niat kita hanya berteduh dari hujan dan panas. Tidur di rumah yang nyaman, masalah nasib kita pasrahkan saja pada yang maha kuasa." Ucap Ruby.
Perjalanan sekitar 2 jam akhirnya mereka sampai, ternyata lokasinya tidak terpencil karena masih memiliki tetangga dan dekat persimpangan parkir para andong dan kereta sapi.
Ruby dan Xui turun dan menuju Paviliun yang indah itu, setelah memberitahu surat kepemilikan. Mereka di perbolehkan masuk, Ruby merasa puas karena Paviliun itu sangat indah sekali.
"Bagaimana menurutmu Xui?." Tanya Ruby.
"Ini sangat indah Ibu." Xui juga puas.
"Kita gunakan kamar di Paviliun utama saja ya, Ibu akan berada di kamar utama sedangkan kamu di kamar sebelah." Ucap Ruby.
"Baiklah." Mereka masuk ke kamar masing-maisng, lalu beristirahat karena merasa lelah sekali.
"Udah punya rumah, punya keluarga, punya duit, tinggal cari suami sama tujuan hidup." Batin Ruby, sebelum terlelap ke alam mimpi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!