Suatu malam ketika hujan lebat sedang berlangsung, di dalam rumah berdinding dari anyaman bambu, terletak di dekat sungai besar serta hutan jati, nampak dua orang pria duduk bersama, nampak seperti sedang menunggu seseorang.
Selang tak lama kemudian, muncul sosok pria lain yang terlihat lebih tua dari dua pria itu, datang dan memilih duduk di kursi yang letaknya di seberang meja. Dua pria tadi girang dan ada sorot tak sabar dari sikap yang mereka tunjukan.
"Gimana, Mbah? Apa pesenan saya sudah siap?" tanya salah satu pria tak lama setelah pemilik rumah itu duduk
Pria tua itu tersenyum dan tangannya meletakan sebuah plastik yang dia tenteng ke atas meja. "Tentu," jawab pria tua itu. "ini ramuan yang kamu minta."
Pria yang lebih muda serta rekannya seketika saling pandang dan tersenyum senang. Salah satu dari mereka meraih kantung plastik itu dan mengeluarkan isinya.
Wah, mantap" pujinya. "Akhirnya, aku menemukan ramuan pelet yang aku butuhkan." Pria yang dipanggil Mbah nampak tersenyum penuh keangkuhan.
"Ini cara pakainya gimana, Mbah?" tanya pria yang sama sambil memperhatikan benda yang lebih menyerupai botol parfum dalam ukuran kecil, lengkap dengan isi cairan di dalamnya.
Pria tua itu mengembukan asap rokok yang baru saja dia hisap. "Cara pakainya sama seperti kalian memakai parfum pada umumnya. Tapi usahakan, ramuan ini semprotkan di area ketiak saja."
"Hanya di area ketiak saja, Mbah? Kalau misal ke area badan gimana?" tanya salah pria yang mengenakan jaket biru.
"Kalau bisa jangan," jawab pria yang dipanggil Mbah. "Pelet ini akan sangat ampuh pada wanita yang senang memandang atau mencium bulu ketika pria. Kalian pasti tahu, banyak wanita yang lebih suka bau asem ketiak suaminya daripada bau wangi. Nah, bulu ketiak itu yang akan menjadi daya tarik kalian untuk menaklukan semua wanita yang kamu inginkan."
"Oh begitu," pria berjaket biru nampak mengerti "Tapi Mbah, misalnya kan aku ngincer satu cewek, berarti ada cewek lain yang tertarik sama aku, gara-gara melihat bulu ketiakku, itu gimana, Mbah? Apakah pelet ini nggak akan bekerja?"
"Tentu saja pelet itu akan tetap bekerja," balas si mbah sangat yakin. "Siapapun cewek yang melihat bulu ketiak kalian nanti dan dia menyukainya, pasti bakalan bertekuk lutut setelah kalian mengenakan ramuan itu."
"Wuihh, mantap," seru salah satu pria. "Makasih banget, Mbah, memang benda seperti ini yang kami butuhkan," ujarnya dengan senang hati. "Kalau boleh tahu, pantangan pelet ada nggak, Mbah?"
"Ah iya benar," seru rekannya. "pelet ini ada pantangannya, Mbah?"
"Tentu saja ada," balas si mbah. "Kalian hindari segala jenis hidangan dari organ dalam binatang berkaki empat."
"Organ dalam binatang berkaki empat?" tanya pria berjaket hitam. "Berarti kita nggak boleh makan jeroan sapi, Mbah?"
"Bukan hanya sapi," balas si mbah. "Pokoknya hewan apapun yang berkaki empat, jangan sampai kalian makan jeroannya."
"Wah, mudah bangat kalau itu," ujar pria berjaket biru penuh percaya diri. "Kalau makan dagingnya gimana, Mbah?"
"Kalau dagingnya sih nggak apa-apa," balas Si mbah. "Yang penting itu jeroannya, jangan sampai sekalipun kalian makan."
"Baik, Mbah, baik," jawab pria bejaket hitam dengan antusias. "Terus ini cara pakainya gimana, Mbah? Apa tiap mau beraksi baru pakai apa gimana?"
"Ah iya, Mbah, benar, ini gimana cara pakainya?" pria berjaket biru langsung menimpali. "Apakah pelet ini akan hilang jika keesokannya kita mandi?"
Si mbah lantas tersenyum. "Tentu saja tidak," jawab si mbah tanpa ragu. "Cukup sekali semprot, pengaruh pelet ini akan bertahan sangat lama dan pengaruhnya akan hilang jika kalian makan pantangan yang tadi saya sebutkan."
"Oh gitu? Wah, bagus sih kalau memang kaya gitu, Mbah," ucap pria berjaket biru.
"Tapi kok ini kaya nggak ada bau harumnya sih, Mbah?" tanya pria berjaket hitam. "Apa Mbah nggak salah ngasih?"
Si Mbah sontak terkekeh. "Itu bukan parfum seperti yang di toko-toko. Cairan itu nggak ada bau harumnya karana dirancang khusus untuk menambah dan menguatkan bau asam di ketiak kamu. Bau asam itu lah yang menjadi tambahan daya pikat bersama dengan bulu ketiak yang kamu miliki."
Kedua pria itu pun mengerti dan mereka kembali menunjukan senyum bahagianya karena apa yang mereka inginkan sebentar lagi akan terwujud.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya dua pria itu memutuskan pamit karena sudah tidak sabar ingin menggunakan benda yang mereka yakini bisa menaklukkan wanita yang mereka inginkan.
"Hujannya masih deras, Wo," ujar pria berjaket biru. "Kita mampir dulu ke mini market aja yah, sekalian cari rokok," pintanya kepada sang rekan sambil mengenakan mantel.
"Baiklah," sang rekan pun setuju. Dia yang memegang botol berisi ramuan pelet memasukan botol tersebut ke dalam saku jaket sisi kanan, lalu setelah itu dia mengenakan mantelnya
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka berhenti di depan sebuah minimarket yang nampak sepi. Mungkin karena diguyur hujan, mini market serta beberapa tempat jualan yang mangkal di sisi kanan kiri jalan raya terlihat sepi.
Setelah memarkirkan motor dan melepaskan mantel, dua pria itu segera masuk ke dalam mini market dan mereka terpisah sejenak untuk membeli barang lain selain rokok. Pria berjaket hitam memilih minuman dan beberapa roti, lalu mendatangi kasir.
Setelah barang belanjaannya dihitung termasuk sebungkus rokok dan sebuah korek api, pria itu mengeluarkan dompet yang kebetulan letaknya satu tempat dengan botol parfum yang dia bawa. Karena botol parfum itu terbungkus dalam kantong plastik, pria itu meletakkan sejenak kantong itu di pinggir meja kasir agak ke condong ke kana sedikit sehingga berada tepat di belakang layar komputer, lalu dia segera mengambil dompet.
Tanpa pria itu sadari, pria itu meletakan bungkus plastik persis didekat kantung plastik yang sama, dengan kantung plastik milik seseorang yang sedang memilih barang tak jauh dari tempat pria itu berdiri.
Setelah melakukan pembayaran, pria itu tanpa melihat keadaan, langsung mengambil kantung plastik yang dia yakini milik pria itu dan segera keluar menuju kursi yang ada di depan mini market.
Sedangkan sosok pengunjung lain juga segera keluar setelah selesai melakukan pembayaran sambil meraih kantung plastik yang dia yakini miliknya.
Tak lama kemudian, pria berjaket biru juga keluar dan dia menghampiri rekannya yang sedang bersiap untuk menikmati sebatang rokok.
Mereka pun terlibat obrolan sambil menunggu hujan reda. Mereka kembali membahas rencana besar yang mereka susun demi sebuah ambisi yang cukup berbahaya.
Namun ketika salah satu dari mereka hendak mengecek kembali barang yang mereka dapatkan dari seorang dukun, betapa kagetnya pria itu ketika mengetahui barang yang dia bawa sudah berubah menjadi barang lain.
"Kenapa jadi botol obat batuk begini?" ucapnya terperangah.
Sementara itu di tempat lain, masih satu kota dengan dua pria yang baru saja kehilangan barang istimewanya, nampak seorang pria muda mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Sosok pria itu melajukan motornya menuju ke sebuah rumah setelah tadi sempat mampir sejenak ke sebuah minimarket untuk membeli barang.
Begitu sampai tempat tujuan, sosok tersebut segera melepas mantel lalu masuk ke dalam rumah sambil menenteng barang yang dia beli.
"Nih, Pak, obat batuknya," ucap sosok pria muda itu kepada pria tua yang dia pangil Bapak sambil menyodorkan kantong plastik hitam.
Pria yang dipanggil bapak mengalihkan pandangannya dari televisi yang dia tonton dan menerima kantung plastik yang disodorkan anak lelakinya. "Ini obat apaan, Sur? Kok bukan obat batuk yang tadi bapak bilang," ucap bapak begitu mengecek isi kantung plastik.
"Hah!" anak muda yang akrab dipanggil Surya nampak kaget sampai dia menghentikan langkah kakinya menuju kamar. "Obat yang Bapak minta kan?" balas Surya heran.
Si bapak lantas mengeluarkan isi kantung plastik tersebut dan betapa terkejutnya Surya begitu melihat benda yang dimaksud. "Loh, kok jadi botol parfum?" ucapnya heran dan dia mendekat. "Serius, Pak, tadi aku beli obat batuk yang bapak pesan."
"Lah ini buktinya apaan," balas Bapak agak kesal. "Masa bisa isinya berubah kaya gini? aneh kamu," pria itu meletakan kembali botol itu ke kantung plastik. "Coba cari lagi di apotik, mungkin ketuker.
Surya lantas mendengus. Dengan berat hati anak muda itu menuruti permintaan orang tuanya.
Sepanjang perjalanan, Surya hanya bisa menggerutu. Begitu masuk ke dalam apotik yang tadi dia datangi, Surya langsung mengatakan tujuannya datang ke apotik.
Dari mulut pengaja apotik, sedari tadi yang datang cuma Surya saja sejak satu jam yang lalu. Surya pun semakin bingung dan dia kembali berpikir.
"Apa tadi ketuker di mini market ya?" Gumamnya. Dia sadar, kerena setelah dari apotik, Surya memang mampir ke minimarket. Anak muda itu pun bergegas kembali menuju minimarket yang sama.
"Bungkusan plastik hitam? Tadi ada dua orang yang ngasih laporan katanya barangnya ketuker," ucap seorang petugas minimarket yang berjaga di meja kasir begitu Surya datang dan menemuinya.
"Waduh, sekarang orangnya mana, Mbak?" tanya Surya lagi.
"Nggak tahu," jawab snag kasir. "Mungkin orangnya sudah pergi. Katanya itu barang penting banget."
"Ya ampun, kok malah pergi sih," gerutu Surya. "Aku harus mengganti obat batuk milik bapak dong," anak itu mengeluh dan dengan berat hati dia kembali ke apotik untuk membeli obat batuk pesanan bapaknya.
####
"Benda penting apaan ini," gerutu Surya begitu dirinya berada di dalam kamar, setelah kembali ke rumah dan menjelaskan semuanya ke orang tuanya. "Bentuknya sih mirip parfum, tapi kok nggak ada baunya?" gumam anak muda itu sambil terus memperhatikan botol yang kini ada di tangannya.
"Aku coba dikit, nggak masalah kali ya?" gumam Surya lagi. "Toh, yang punya juga nggak tahu orang mana."
Surya pun membuka penutup botol tersebut dan menyemprotkan isi botol tersebut ke arah ketiaknya.
"Benar-benar nggak wangi sama sekali," ucap anak itu setelah menghirup aroma dua ketiaknya sendiri. Surya lantas meletakan botol itu di atas lantai dan dia memutuskan untuk bermain ponsel.
Hingga beberapa jam kemudian, ketika hari sudah berganti lagi.
"Sur! Surya!" teriak seseorang dari luar kamar sambil menggedor pintu, membuat sosok yang masih terlelap jadi terganggu.
"Iya, Mak," jawab si penghuni kamar tanpa membuka matanya.
"Bangun!" teriak sosok yang biasa dipanggil emak. "Udah ditungguin Mas Rusdi itu! Katanya kamu ada job!"
"Astaga!" mata Surya langsung melebar dan dia sangay terkejut sampak bangun dari tidurnya. "Kanapa aku bisa lupa gini," gerutunya sambil meraih ponsel untuk memeriksa petunjuk waktu. "Gila, udah jam sebelas, benar-benar telat aku."
Surya langsung bangkit dan bergerak menuju ke arah pintu kamar. "Mana Mas Rusdi, Mak?"
"Di warung, udah nungguin kamu dari tadi," balas emaknya nampak kesal. "Kebiasaan kalau tidur nggak ingat waktu," Emak langsung memaki anak laki-lakinya.
Si anak sendiri malah cengengesan dan tak peduli. Surya justru bergegas menuju kamar mandi dan dia hanya mencuci muka serta gosok gigi saja lalu kembali ke kamar untuk bersiap-siap pergi.
"Aduh, Mas, maaf, aku kesiangan," ucap Surya merasa tak enak hati begitu menemui sosok pria bernama Rusdi yang sudah menunggu di warung nasi milik ibunya Surya
"Nggak apa-apa, Sur," jawab Pria yang tadi disebut dengan nama Rusdi. "Ni aja aku baru selesai sarapan."
"Mau kerja kok pakaiannya kaya gitu si, Sur," protes Emak begitu melihat penampilan anaknya. "Mbak ya pakai baju yang rapi loh."
"Ya elah, Mak, cuma dekor pelaminan doang," balas Surya membela diri. "Lebih nyaman pakai kaya gini lah."
Si Emak langsung mendengus. "Emang ada job dimana, Rus?" tanya wanita itu.
"Di desa sebelah, Mak, anaknya juragan sapi," balas Rusdi. "Aku pikir Surya nggak bisa ambil ambil pekerjaan ini?"
"Ngapain nggak diambil," balas Emak. "Dari pada ni anak nganggur dan begadang terus kerjaannya. Mending kerja yang ada dulu kan?"
"Kemarin aku dengar, katanya Surya mau ikut kerja dikreditan harian? Kenapa nggak jadi?" tanya Rusdi.
"Malas, Mas, gajinya kecil," balas Surya. "Belum lagi, gajianku tergantung dari orang-orang yang ambil barang. Kalau setorannya lancar sih masih mending. Tapi kalau setoran macet, bikin malas kan?"
Rusdi lantas mengiyakan hingga akhirnya mereka pun sepakat untuk berangkat menggunakan mobil yang dibawa Rusdi ke lokasi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, dua pria itu akhirnya sampai di tempat tujuan. Mereka pun langsung bergabung dengan tim lain yang sudah datang terlebih dahulu.
Surya memang sudah kenal dengan tim yang di pimpin oleh Mas Rusdi. Jadi begitu dia datang, Surya langsung menyapa akrab dan menanyakan tugas yang harus dia kerjakan.
Seperti biasa, Surya kebagian mendekor panggung pelaminan. Setelah diberi petunjuk apa saja yang harus dikerjakan Surya langsung turun tangan tanpa basa basi. Dengan cermat dan teliti, Surya mengerjakan tugasnya sesuai dengan keahliannya.
Karena tempat yang akan dijadikan pelaminan berada di dalam gedung dengan udara yang cukup panas, para pekerja di sana termasuk Surya dengan sangat terpaksa melepas pakaian yang mereka gunakan meski di sana sudah ada kipas angin untuk meredam panas.
Tak lama kemudian ada beberapa wanita masuk sambil membawa nampan berisi makanan serta minuman untuk para petugas dekorasi sambil mengecek keadaan di tempat itu.
"Anak itu siapa? kok aku baru lihat?" gumam sosok wanita kala matanya menangkap sosok bernama Surya yang sedang mengangkat tangan karena memasang sesuatu di atas kursi pengantin. "Gila, bulu ketiaknya seksi banget," ucap sosok itu dengan mata berbinar.
Namanya Surya Putra Atmaja, usianya hampir menginjak angka dua puluh dua tahun. Pemuda yang memiliki tinggai badan sekitar seratus delapan puluh tiga tersebut sudah dua tahun menekuni pekerjaannya sebagai tukang dekorasi pengantin.
Susahnya mencari pekerjaan membuat pemuda itu terpaksa menerima job yang datangnya tidak setiap hari ada. Bagi Surya yang penting dia tidak kelihatan menganggur dan menajadi beban orang tua sepenuhnya.
Surya memiliki dua kakak yang sudah menikah dan satu diantara dua kakaknya itu tinggal di ibu kota. Surya juga saat ini dalam status jomblo karena sejak dia lulus sekolah, anak muda itu justru males menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Sama seperti anak muda pada umunya, Surya juga suka bergadang dan gemar merokok. Apa lagi jika sudah berkumpul dengan teman-temannya, Surya bisa sampai lupa waktu. Mungkin karena dia masih sendiri jadi merasa tidak ada beban yang cukup berarti.
Seperti hari ini, anak muda itu nampak fokus dan teliti memperhatikan pekerjaan yang sedang dia lakukan. Dengan cermat dan penuh kehati-hatian, pria muda itu mengatur tempat yang akan menjadi bagian dari hari bersejarah untuk pasangan yang hendak memasuki hari paling bahagia bagi sepasang pria dan wanita.
Surya tidak sendirian memegang pekerjaan itu. Ada dua rekannya yang membantu. Namun Surya lah yang memegang kendali bagian itu.
Meski masih muda, Surya termasuk anak muda yang memiliki bakat cukup bagus dalam mendesain hingga dia dipercaya pemilik Wedding organizer untuk menjadi pendekor utama selama satu tahun terakhir ini.
"Mas, dia siapa? Kok aku baru lihat, " tanya seorang wanita yang baru saja datang, mengantar makanan untuk para pekerja dekorasi. Wanita itu bertanya sambil menujuk ke arah Surya. "Tadi pagi dia nggak ada kan?"
"Dia rekan kita, Mbak," jawab pria yang tadi dikasih pertanyaan sambil mengambil air minum.
"Oh, pantes, soalnya tadi aku nggal lihat" tanya wanita itu lagi. "Dia baru datang apa gimana?"
"Iya, Mbak, baru datang," jawab rekan Surya. "Dia kesiangan, jadi datang terlambat," lanjutnya. "Kenapa, Mbak? Mbak tertarik sama temanku itu?"
Seketika si wanita jadi tersipu. "Nggak, Maas, cuma penasaran aja," jawab sang wanita sedikit berbohong.
"Kalau tertarik juga nggak apa-apa, Mbak," balas rekan Surya. "Mumpung dia lagi jomblo tuh, lumayan ada kesempatan."
"Hah, jomblo?" wanita itu tak percaya begitu saja. "Nggak mungkin?"
Rekan Surya lantas terkekeh. "Ngapain aku bohong, Mbak, orang kita temenan udah lama," jawabnya nampak sangat meyakinan.
Seketika wanita itu jadi malu sendiri dan salah tingkah hingga wanita lain yang tadi datang bersamaanya mengajaknya untuk pergi.
Namun wanita itu menolak dengan alasan ingin melihat pengerjaan dekorasi itu yang menurutnya sangat bagus dan unik.
Sedangkan rekan Surya yang sedari tadi memperhatikan wanita itu hanya bsia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Pria itu pun dengan cueknya menikmati hidangan yang disajikan karena memang sekarang sudah waktunya para pekerja itu untuk makan.
Karena tidak mau menggangu waktu makan para pekerja, wanita itu memilih melangkah ke arah lain. Bukan menuju pintu keluar meninggalkan tempat itu, tapi dia malah memilih mendekati Surya yang sedang fokus dengan pekerjaanya.
"Mas, makan dulu," ucap wanita tersebut begitu jaraknya sudah sangat dekat dengan keberadaannya Surya.
Surya agak tersentak dan seketika itu juga, anak muda tersebut langsung menoleh. Kening Surya berkerut, menatap wanita yang tersenyum kepadanya. Tak lama setelahnya Surya pun membalas senyuman wanita itu.
"Iya, Mbak, sebentar lagi, tanggung ini," jawab Surya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Bagus ya, Mas, hasilnya," puji wanita itu dengan mata sesekali menatap pemuda yang sedang bertelanjang dada sambil berdiri. "Hasilnya cakep, seperti yang bikin dekor."
Surya sontak tertegun sampai pria itu kembali menatap wanita yang tersenyum kepdanya.
"Bisa aja Mbak ngomongnya," balas Surya agak salah tingkah.
"Aku ngomong fakta loh, Mas, bukan bohong," balas sang wanita membuat Surya makin salah tingkah.
Surya tidak membalas karena dia harus memasang sesuatu, hingga lagi-lagi dia haru memamerkan bulu ketiaknya yang cukup tebal.
Mata wanita yang mendekati Surya langsung menatap ketiak pemuda itu. Matanya berbinar dan penuh rasa kagum.
Entah apa yang ada dipikirkan wanita itu saat ini, yang pasti sepertinya dia tertarik dengan bagian tubuh yang berbulu lebat milik Surya sampai dia sengaja berada di sana dalam waktu yang cukup lama.
Mungkin kalau bukan karena dipanggil oleh seseorang, wanita itu akan terus berada di sana, untuk mengagumi pemuda bernama Surya.
"Kayanya cewek yang tadi, suka sama kamu, Sur," ucap salah satu rekan di saat Surya gabung dengah yang lain untuk istirahat dan menikmtai hidangan yang disedikan. "Dari tadi dia memanandang kamu terus."
Surya hanya membalasnya dengan senyuman sambil bersiap untuk menikmati hidangan.
"Wanita yang mana?" tanya rekan surya yang lain, yang mengenakan kaos merah. "Yang tadi, berdiri mendekati Surya?" tanya pria yang sama. "Dia janda loh."
"Hah!" rekan yang tadi pertama kali ngomong nampak kaget, begitu juga dengan Surya. "Janda? Serius?" tanya pria yang mengenakan kaos berwrna hijau. "Emang kamu kenal dia?"
Pria berkaos merah lantas mengangguk. "Dia kan dulu nikah dengan tetanggaku," jawabnya. "Baru satu tahun dia menjadi janda. Lagian siapa yang betah sih punya suami doyan main judol dan pinjol."
"Astaga," rekan berbaju hijau nampak syok. "Padahal masih muda banget ya kayanya? Kok sudah jadi janda sih?"
"Usianya kalau ngak salah baru dua puluh empat tahun, nikahnya juga cuma dua tahun doang tuh."
"Astaga! nikah kok kaya buat mainan."
"Yah, jaman sekarang emang gitu, nikah kaya ajang coba-coba. Padahal wanitanya itu termasuk hebat loh, dia nggak malu ikut cari duit. Tapi ya begitu, malah suaminya yang nggak tahu diri. "
Pria berbaju hijau nampak manggut manggut dan dia semakin merasa kagum dengan wanita tersebut.
Sedangkan Surya sendiri memilih lebih banyak diam dan hanya sebagai pedengar sambil menikmati hidangan yang ada.
Mereka masih lanjut berbincang sampai selesai makan. Tak lama setelah itu, para pekerja yang berjumlah lima orang itu kembali memegang tugasnya masing-masing hingga pekerjaan mereka benar-benar selesai.
"Sur, kamu jadi pulang naik ojeg?" tanya rekan kerja begitu mereka bersiap untuk pulang." Kalau nggak jad, ya ayo pulang sama aku."
"Naik ojeg aja, Mas," jawab Surya. "Soalnya aku mau mampir ke tempat lain dan mau langsung main juga."
"Oh, gitu? Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu ya," rekannya pun pamit dan satu persatu meninggalkan Surya.
Kini tinggal Surya sendirian yang masih berdiri di depan gedung pengantin. Setelah rekannya pada pergi, anak itu segera membuka aplikasi ojeg online.
Tanpa Surya sadari, ada seseorang yang memperhatikan anak itu dari seberang jalan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!