“Habis menjual diri di mana kamu?”
Thalia menoleh ke sumber suara. Ia baru sampai di ruang tamu. Sosok tinggi menjulang itu kini menatapnya dengan tatapan menusuk. Rahangnya mengetat. Perlahan pria yang sudah lima bulan ini resmi menjadi suaminya melangkah menghampirinya.
“Aku capek. Lagi nggak mood berdebat sama kamu.” Thalia berkata jujur. Meski rasa lelahnya tertutupi dengan wajah tenang itu, tetapi sorot matanya benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang enggan menghadapi pria itu.
Bhumi Satya Dirgantara - pria berusia 35 tahun itu terkekeh. Senyum tipisnya itu terkesan meremehkan wanita mungil di hadapannya.
“Capek melayani para pria itu?”
Thalia tidak terkejut lagi dengan beragam tuduhan Bhumi padanya. “Terserah kamu mau berpikir apa. Aku mau ke kamar.”
Namun, langkah kaki Thalia kalah cepat dengan cekalan tangan Bhumi. Pria itu menarik tangan Thalia hingga membuat tubuh mungil itu menabrak dadanya. Tangannya juga dengan erat merengkuh pinggang Thalia. Matanya menatap netra lelah wanita itu dengan tajam.
“Jangan sekarang, Bhumi. Aku sedang-mppht!” Tangan Thalia terus mendorong dada Bhumi agar pria itu melepaskan ciumannya.
Namun, bukannya melepaskan itu, Bhumi semakin gencar menyentuh bibir Thalia. Ia benci cara Thalia memanggilnya dengan nama seperti itu. Wanita keras kepala ini harus diberi pelajaran agar berhenti memancing emosi Bhumi.
Saat melihat Thalia sudah mulai kesulitan bernapas, barulah Bhumi melepaskan pagutannya. Bhumi kembali tersenyum tipis saat melihat kemarahan di mata Thalia. Ia benci Thalia yang tenang.
“Brengsek!” umpat Thalia sembari mengatur napasnya.
“Jangan memancing emosi saya, Thalia,” sahut Bhumi tenang. Namun, matanya menyiratkan betapa ia menyukai cara Thalia menatapnya.
Angkuh dan penuh amarah. Bagaimanapun, Bhumi tidak akan membiarkan Thalia hidup tenang. Wanita berambut cokelat gelap ini harus membayar apa yang sudah terjadi lima tahun yang lalu.
Lima tahun yang lalu, untuk pertama kalinya harga diri Bhumi terasa ditelanjangi oleh Thalia yang saat itu masih menginjak bangku kuliah.
Bhumi tidak bisa memaafkan itu. Terlebih saat mengetahui Thalia dengan tenang menyatakan sudah menghilangkan seseorang yang Bhumi nantikan kehadirannya.
“Kamu memang brengsek! Kamu gila!” umpat Thalia lagi sembari mengusap bibirnya dengan kasar.
Tangan besar Bhumi menahan tangan Thalia. Ia kemudian kembali mengecup bibir Thalia, kali ini lebih lembut. Setelah itu, ibu jarinya mengusap lembut bibir mungil Thalia yang memerah karena ulahnya.
“Jangan memperlakukan kesayangan saya sekasar itu, Thalia. Ingat. Apa yang ada pada dirimu itu sudah menjadi hak saya. Bahkan tubuhmu ini. Jadi, jangan membiarkan mereka terluka sedikit pun.”
Kedua tangan Thalia mengepal di kedua sisi tubuhnya. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak meludah tepat di wajah Bhumi saat ini.
Bhumi mengusap rahang Thalia. Mata tajamnya itu memindai wajah Thalia. “Saya akan bermurah hati kepadamu malam ini. Istirahatlah sekarang.”
Setelah mengatakan itu, Bhumi segera melangkah menjauh. Kakinya terayun lebih dulu menuju anak tangga. Meninggalkan Thalia yang masih berdiri menatap Bhumi dengan penuh kebencian.
“Kalau bukan karena Om Danu. Aku tidak akan sudi menginjakkan kaki di sini dan menberikan diriku kepada manusia seperti Bhumi,” gumamnya pelan. Tali tasnya sudah ia remas sekuat mungkin.
“Jangan terlalu lama di sana, Thalia. Istirahat sekarang. Kecuali kalau kamu memang ingin saya menyentuhmu saat ini juga.”
Suara berat penuh ejekan itu menyadarkan Thalia. Wajahnya terangkat dan tepat di atasnya, Bhumi sedang tersenyum penuh kemenangan padanya. Setelah itu, barulah Thalia bisa melihat pria itu masuk ke ruang pribadinya.
Thalia tidak punya pilihan sekarang. Keputusan yang ia putuskan beberapa bulan lalu membuatnya harus rela terikat dengan Bhumi. Meski kenyataannya pria tampan itu tak lebih baik dari seorang bajingan. Ia hanya datang kepada Thalia saat dirinya minta dipuaskan.
...***...
Thalia merasakan ada yang aneh dari lehernya. Hembusan hangat dan sentuhan sesuatu yang kenyal itu membuat Thalia pun terbangun. Tidak hanya itu, ia juga bisa merasakan terdapat tangan lain yang sedang menyentuh tubuhnya.
Tanpa harus bersuara, Thalia mengenali aroma ini. Aroma memuakkan yang menjadi mimpi buruk bagi Thalia.
“Sekarang, Thalia. Saya sudah berbaik hati semalam. Sekarang puaskan saya,” ucap Bhumi dengan suara serak tepat di ceruk leher Thalia.
Pria itu tanpa peduli kemudian meninggalkan tanda kepemilikannya di leher putih Thalia. Sentuhan itu memang membuat Thalia benci setengah mati. Namun, kebencian dirinya pada Bhumi tak lebih banyak benci Thalia pada tubuhnya sendiri.
“Jangan di situ. Aku ada pemotretan hari ini.” Thalia hendak menghindar agar Bhumi berhenti memberi tanda di lehernya, tetapi tenaganya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan tenaga tangan Bhumi yang memeluknya erat.
“Kamu tidak berhak mengatur saya. Ingat, tubuhmu itu milik saya. Sudah saya beli dengan harga yang mahal pada papimu.”
Thalia terdiam. Mengingat fakta itu membuat hatinya dipenuhi dendam kepada ayahnya sendiri. Kenyataan itu juga yang membuat Thalia menerima saja perlakuan Bhumi padanya. Ia tidak lagi menolak sentuhan suami yang sangat ia benci ini.
Waktu terus berjalan. Beberapa jam kemudian, barulah Bhumi menjauh dari Thalia. Pria itu segera melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan Thalia dengan tubuh polos yang terasa remuk karena sentuhan gila Bhumi.
Thalia berusaha menggapai pinggiran selimut untuk menutupi tubuhnya. Jika begini, rasanya tidak mungkin ia sanggup melakukan pemotretan hari ini. Thalia lalu berusaha menggapai ponsel yang berada di nakas. Tidak berada jauh dari tempat tidur.
Namun, sebelum ia berhasil mendapatkan ponselnya, Bhumi lebih dulu menggapai ponsel itu. Ia kemudian memberikannya kepada Thalia.
“Mandi dulu. Bukannya ada pemotretan hari ini?”
Thalia mendengus kesal. Ia mengabaikan Bhumi yang masih memakai handuk itu. Thalia tidak menjawab apapun. Jemarinya fokus memberi tahu asistennya bahwa ia mungkin akan sedikit terlambat.
Saat Thalia sedang fokus, tiba-tiba ia merasa tubuhnya terangkat. Matanya terbelalak karena terkejut. Kini ia sudah berada dalam gendongan Bhumi.
“Turunkan, Bhumi!” pekik Thalia memukul pundak Bhumi agar menurunkannya.
“Kamu harus bersih-bersih sekarang. Biar saya bantu.” Bhumi menjawab tenang.
“Enggak! Aku nggak mau.” Thalia reflek memeluk selimut yang menutupi tubuh polosnya. “Sana pergi!”
Bhumi tidak bereaksi apapun. Lagipula tangan mungil Thalia itu tidak akan memberi efek sakit pada tubuhnya. Bhumi memilih abai dengan Thalia yang masih memberontak.
Sesampainya di kamar mandi, Bhumi segera menurunkan Thalia. Ponsel yang tadi masih digenggam Thalia pun ia letakkan di atas meja dekat wastafel. Saat tangan pria itu hendak melepas selimut yang membungkus tubuh Thalia, tangan mungil itu menepis tangan Bhumi.
“Aku bisa sendiri. Kamu bisa pergi.” Thalia memalingkan pandangannya ke arah lain.
Bhumi bisa saja memaksa Thalia. Namun, pagi ini Bhumi harus menjemput Adelia di bandara. Berdebat dengan Thalia akan membutuhkan waktu yang lama.
“Baiklah. Saya pergi dulu. Nanti Aji akan mengantarkan kamu ke studio.” Bhumi kemudian mengecup kening Thalia dengan lembut “Jangan lupa minum pil kontrasepsinya,” bisiknya kemudian.
Thalia memilih diam. Meskipun keinginan untuknya menyumpah serapah Bhumi begitu kuat.
“Tetap menurut seperti ini, Thalia. Saya suka.”
Thalia mendengus kesal. Begitu Bhumi keluar kamar mandi, Thalia segera mengusap kasar keningnya.
“Aku tidak peduli kamu suka atau tidak Bhumi sialan.” Thalia menatap kesal bayangan dirinya dari cermin. Bahunya langsung lemas saat melihat banyaknya tanda merah di leher dan sekitar dadanya. “Bhumi sialan! Aargh…!”
Tiba-tiba deringan ponselnya membuat Thalia menoleh. Wanita itu menahan rasa sakit di bagian inti tubuhnya. Kakinya terayun pelan. Tangannya segera meraih ponsel yang berdering tersebut.
Barulah Thalia menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga, suara riang dari seberang langsung menyambutnya.
“Mama, Jemia kangen….”
*
*
*
Hai hai, kembali lagi dengan aku. Semoga gak bosan ya. Kali ini mungkin agak berat ya dari yang biasanya.
Mohon dukungannya ya, Kakak-kakak :)
"Akhir pekan Mia ikut pentas di sekolah. Mama datang ya...."
Thalia duduk tenang di mobil. Percakapannya dengan Jemia beberapa waktu yang lalu membuat kerinduan Thalia pada putrinya semakin kuat. Sosok kecil yang menjadi penghiburannya semenjak lima tahun ini, kini harus tinggal berjauhan dengannya.
Putri kecilnya yang di dalam tubuhnya terdapat sebagian darah pria yang paling ia benci.
Jemia Prameswari- sosok yang Thalia sembunyikan kehadirannya dari Bhumi dan keluarganya yang lain. Jemia-nya yang fisiknya ibarat Bhumi dalam bentuk perempuan. Jemia adalah satu-satunya alasan Thalia bertahan selama ini. Kini Thalia hanya bisa melihatnya dari ponsel saja dan mendengar suaranya dari rekaman yang dikirimkan pengasuhnya.
"Paper bag biru itu hadiah dari Pak Bhumi untuk Nona Thalia." Suara lembut Aji-asisten pribadi Bhumi menyentak kerinduan Thalia pada Jemia. "Hadiah ulang tahun Nona Thalia."
Thalia menoleh ke samping kanannya. Paper bag bertuliskan nama serta logo brand perhiasan mewah itu membuat Thalia tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak berminat menerima hadiah itu. Lagipula Thalia sendiri telah melupakan tanggal kelahirannya semenjak kehadirannya membuat maminya meninggal dunia.
"Itu Mas Aji yang beli, ya?" Thalia mengalihkan pandangannya. Ia benar-benar menolak hadiah itu.
Aji mengangguk. "Tapi Pak Bhumi yang pesankan khusus. Beliau sibuk akhir-akhir ini. Jadi minta saya yang mengambilkannya di toko perhiasan."
Thalia duduk tenang dengan melipatkan tangannya di depan dada. "Dia sibuk setiap hari. Tapi selalu meluangkan waktu untuk menemani perempuan itu. Saya bingung, kenapa atasan Mas Aji tidak menikahi perempuan itu saja daripada saya? Kan di darah kami berdua sama-sama terdapat darah Prasetyo Hakim."
Aji terdiam. Dari kaca spion depan, ia bisa melihat wajah tenang istri atasannya itu menyimpan banyak kebencian dan dendam pada orang-orang terdekatnya.
"Hari ini atasan Mas Aji itu pasti menjemput perempuan itu di bandara, kan?" tanya Thalia memecahkan keheningan di mobil itu.
"Saya tidak berhak menjawab itu, Nona. Pak Bhumi tidak mengatakan apapun selain memberi perintah untuk mengantarkan Nona Thalia hari ini."
Thalia menghela napasnya. Ia jelas tahu bahwa suaminya pasti sedang bersama perempuan itu. Namun, memaksa Aji untuk bicara sama saja bohong. Pria di depannya ini sangat setia pada suaminya. Entah apa yang diperbuat Bhumi sehingga Aji bisa sesetia ini pada Bhumi.
"Adik Mas Aji apa kabarnya? Sudah lama sekali Mas Aji tidak membicarakan dia." Tiba-tiba Thalia teringat dengan gadis muda yang pernah ditemui Aji di rumah sakit dulu.
Gadis muda itu juga yang pernah memberikan syal untuk Thalia yang sakit dulu.
"Dia baik. Nona Thalia ingat dia?"
Thalia mengulum senyum, lalu mengangguk. Dua bulan ini Aji lebih banyak diam dan menunduk saat berhadapan dengannya. Tentu saja itu membuat Thalia penasaran. Bisa dikatakan ini kali pertama Aji memberi pertanyaan seperti itu padanya. Di luar membahas Bhumi.
"Ingat. Dia pernah memberikan saya syal cantik sebagai hadiah. Kok bisa perempuan seceria itu punya kakak seperti Mas Aji yang pendiam?"
Aji tertawa pelan. Hal itu membuat Thalia tercengang. Asisten suaminya itu terlihat lebih manis saat tertawa. Tidak, Thalia tidak menyimpan perasaan apapun pada Aji. Perempuan itu hanya murni ingin berteman dengan Aji.
"Mas Aji tampan kalau tertawa seperti itu." Tanpa basa-basi Thalia memuji Aji dengan terang-terangan.
Wajah Aji pucat seketika, seiring dengan berhentinya tawa Aji.
"Oh iya, hadiah ini berikan saja ke adik Mas Aji." Thalia mengabaikan wajah Aji yang semakin tegang. "Jangan khawatir. Pun jika atasannya Mas Aji marah, itu menjadi tanggung jawab saya. Lagipula hadiahnya sudah menjadi hak saya. Seharusnya dia tidak perlu marah."
Aji tanpa sadar menghela napas berat. Akhir-akhir ini ketenangannya memang sedang diuji dengan pasangan suami istri ini.
Sedangkan Thalia tanpak begitu tenang. Menjahili Aji sejenak bisa membuat pikirannya lebih ringan. Tampaknya tidak melibatkan Bhumi dalam hal apapun itu jauh lebih baik untuk kesehatan mental Thalia.
...***...
"Gila! Hasil fotonya bagus banget, Mbak!" seru Indah penuh semangat. "Kenapa nggak dari dulu aja ya Mbak Thalia kerja di sini. Akhir-akhir ini penjualan juga lagi naik-naiknya."
Thalia sedang menyesap minumannya dengan tenang. Ia hanya terkekeh saat melihat Indah-asistennya yang banyak membantunya selama menekuni dunia modeling tiga bulan ini. Lebih tepatnya saat dirinya ditawari oleh sahabatnya untuk menjadi brand ambassador produk kecantikan miliknya.
Setelah proses photoshoot selesai beberapa menit yang lalu, Thalia langsung istirahat di kursi cukup jauh dengan posisi Indah dan beberapa kru yang lain.
"Bukan hasil fotonya yang bagus. Tapi memang modelnya aja yang cantik. Iya nggak, Tha?" Julian dengan sengaja mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Thalia.
Pria itu baru saja masuk dengan begitu santainya dan langsung duduk di kursi dekat Thalia.
Alih-alih tersipu dengan godaan Julian, Thalia justru berpura-pura merinding. Membuat Julian langsung memasang wajah masam.
"Happy nggak sekarang?" tanya Julian dengan lembut. Ia juga memberikan cardigan tipis untuk Thalia yang saat itu hanya memakai dress tanpa lengan.
"Thanks, ya. Seenggaknya aku punya kegiatan untuk mengalihkan pikiranku dari Bhumi," jawab Thalia dengan santai. Cardigan dari Julian langsung ia pakai.
"Aku bisa bantu kamu, Tha. Kamu nggak harus mengorbankan hidup kamu dan Jemia untuk Bhumi." Julian lalu duduk menghadap Thalia. Diraihnya tangan perempuan berwajah lembut itu. "Kamu punya aku, Thalia. Jangan semuanya dipendam sendiri."
Thalia tersenyum tulus pada Julian, sahabatnya sejak sekolah. Julian adalah orang yang mengetahui tentang Jemia. Sahabatnya inilah yang banyak membantunya saat ia memutuskan untuk pergi dari Bhumi lima tahun silam.
"Kamu itu harusnya sudah menikah, Jul. Jangan menyibukkan diri dengan mengurusiku terus. Bagaimanapun kamu juga berhak melanjutkan hidupmu sendiri."
"Masalahnya perempuan itu nggak menyadari itu."
Mata Thalia langsung membulat. Seingatnya sahabatnya ini tidak pernah bercerita tentang perempuan manapun selama lima tahun terakhir ini.
"Siapa dia?" tanya Thalia antusias. Thalia menarik tangannya yang digenggam Julian. Lalu sebuah tepukan pelan mendarat di bahu pria itu. "Pasti dia cantik banget, ya? Selera kamu kan pasti yang cantik-cantik. Minimal bisa mengalahkan kecantikan mantan-mantanmu yang dulu."
"Cantik. Cantik sekali." Julian menatap lurus ke arah Thalia. Namun, saat Thalia menatapnya begitu dalam, Julian buru-buru beranjak dari duduknya.
Matanya kemudian kembali menatap Thalia dengan begitu hangat. "Aku rindu Jemia. Mau menemaniku ke toko bunga? Setelah itu aku akan menemanimu bertemu dia."
Thalia termangu menatap tangan yang terulur di depannya. Lalu tanpa banyak berpikir lagi, Thalia segera menyambut tangan pria itu. Sama seperti Julian, ia juga sangat merindukan Jemia.
Thalia beruntung hari ini karena begitu ia keluar studio, mobil milik suaminya tidak terparkir di tempat itu. Mungkin Aji sedang menemui Bhumi saat ini. Thalia segera ikut bersama Julian untuk ke toko bunga. Biarlah nantinya ia menanggung kemarahan Bhumi karena pulang terlambat.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di sebuah toko bunga langganan Thalia. Sesampainya mereka di sana, Julian langsung menggandeng tangan Thalia. Sekilas mereka lebih terlihat seperti pasangan yang harmonis.
"Aku lihat bunga untuk Mama dulu, ya. Kamu bisa pilih bunga untuk Jemia."
Thalia mengangguk. Sementara Julian segera menuju deretan tanaman sudut kanan, Thalia pun mulai menyusuri toko bunga tersebut hingga sampai di deretan aneka kaktus, favorit putrinya.
"Aku mau yang ini saja, ya. Menurut Mas gimana?"
Deg!
Suara itu begitu familiar di telinga Thalia. Benar saja, saat ia mengangkat wajahnya, matanya menangkap dua sosok yang ia benci di depannya.
"Mas? Kamu dengar aku?" Adelia-kakak tiri Thalia sedang menatap Bhumi dengan sibuk dengan ponselnya.
"Sebentar, Del, aku harus memastikan istriku tidak berulah hari ini."
Istriku? Thalia berdecih dalam hati. Kenyataannya, ia hanyalah istri yang Bhumi sembunyikan.
Thalia baru saja ingin sembunyi. Namun, mata tajam itu dengan cepat menemukan sosoknya. Raut terkejut begitu kentara di wajah tegas itu.
Bersamaan dengan itu, Julian datang lalu dengan santainya berkata, "Sepertinya ini cocok untuk putri kecil kita itu, Tha."
Saat itulah Thalia merasa wajah Bhumi berubah merah padam.
*
*
*
Mohon dukungannya, gaes :) Terima kasih
Jangan lupa kasih rating bagus juga, ya.
"Kamu di sini, Tha?" Adelia menyapanya dengan ramah. Ia lalu tanpa sungkan memeluk lengan Bhumi. "Sama Julian juga? Waah, kebetulan sekali."
Thalia sama sekali tidak memasang wajah ramah pada kakak tirinya itu. Alih-alih cemburu pada tingkah dua manusia yang ia benci itu, Thalia justru mengabaikan keberadaan mereka. Setelah mengambil satu pot kaktus kecil, ia segera menggandeng tangan Julian dan berjalan menuju kasir.
Di depan mereka terdapat beberapa orang yang ikut mengantri.
Julian lalu mendekatkan wajahnya ke Thalia, sembari berkata, "Kamu tunggu di mobil. Ini biar aku yang bayar."
Julian mengambil alih pot kecil tersebut. Senyum lembut pria itu membuat Thalia ikut tersenyum sebelum akhirnya mengangguk.
"Nanti aku transfer uangnya. Thanks, Jul." Thalia kemudian berjalan keluar dengan santai.
Ia benar-benar tidak menganggap keberadaan Adelia dan Bhumi. Namun, tepat saat ia akan segera membuka pintu mobil, lengannya lebih dulu ditarik seseorang dengan paksa.
Bhumi.
Sialan memang. Pria itu bahkan menarik Thalia menjauh dari mobil Julian dengan kasar.
"Jangan teriak kalau kamu nggak mau saya melakukan hal nekat di sini, Thalia!" katanya, rendah dan penuh penekanan.
"Bajingan!" umpat Thalia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bhumi.
"Berhenti mengumpat Thalia!"
Thalia berdecih. Menatap Bhumi semakin tajam. "Brengsek! Bajingan!"
Langkah Bhumi semakin cepat hingga akhirnya mereka sampai di sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari toko bunga.
"Masuk!"
"Nggak!"
Rahang Bhumi mengetat. Kemudian membuka pintu mobil dengan cepat dan mengangkat tubuh Thalia untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Bhumi memberi kode lewat matanya untuk Aji agar keluar lebih dulu.
"Aku mau keluar!" Thalia hendak membuka pintu sebelahnya, tetapi tubuhnya lebih dulu di tarik Bhumi hingga membuatnya terhuyung membentur sandaran kursi.
Bhumi segera mengukung tubuh mungil itu dengan tubuhnya yang besar. "Jangan bertingkah, Thalia! Kamu tahu sendiri bagaimana hukumannya jika kamu berani melawan."
"Bertingkah bagaimana maksudmu? Aku hanya pergi bekerja." Ingin rasanya Thalia mengumpat tepat di depan wajah Bhumi. Atau minimal berteriak di telinga pria angkuh itu bahwa ia tidak pernah macam-macam selama menjadi istri Bhumi.
"Bekerja? Pergi ke toko bunga berdua dengan pria itu kamu sebut bekerja? Ah, saya tahu. Kamu habis melayani dia. Iya, kan?"
Bhumi selalu menuduhnya seperti jalang. Cukup aneh, sebab Bhumi bertingkah seperti tidak suka suka jika Thalia dekat dengan pria lain.
Thalia mendorong dada Bhumi dengan kuat. Namun, percuma, sedikit pun pria itu tidak menggeser dari posisinya. Thalia akhirnya pasrah terpojok di sudut kursi mobil dan jendela, sementara Bhumi berada di atas tubuhnya.
"Sudah tahu jawabannya kenapa malah bertanya lagi? Mau mendengar langsung dari mulutku kalau aku baru saja selesai mela-hmmph!" Mata Thalia membesar saat Bhumi membungkam mulutnya dengan bibirnya.
Bhumi brengsek!
Pria itu terus memaksa untuk mencumbu Thalia. Satu tangannya menarik tengkuk wanita itu dan satu tangan yang lainnya mengunci tangan Thalia agar tidak lagi berontak. Sampai akhirnya Bhumi merasa Thalia mulai kehabisan napas, barulah Bhumi melepaskan pagutannya.
Ibu jarinya mengusap lembut bibir Thalia yang membengkak. Dada wanita itu kembang kempis dengan mulut terkatup rapat. Sorot kemarahan netra pekat itu membuat Banyu terkekeh manis.
"Jangan menatap saya seperti itu. Amarahmu itu bisa membangkitkan gairah saya."
"Bangsat!" umpat Thalia dengan tajam.
"Kamu yang membuat saya seperti ini. Kamu yang memulai semuanya, Thalia. Dasar gadis kecil! Berani-beraninya kamu memainkan perasaan saya!" Banyu melonggarkan ikatan dasinya.
Tiba-tiba terdengar deringan dari tas kecil Thalia. Tanpa menghiraukan lirikan tajam Bhumi, Thalia segera meraih ponselnya.
"Iya, Jul. Tunggu ya. Sebentar lagi." Panggilan tersebut ia putuskan secara sepihak. Thalia pun segera merapikan penampilannya yang berantakan akibat ulah Bhumi.
Saat tangannya hendak menggapai handel pintu mobil, tangan Bhumi lebih dulu berada di sana.
"Kamu pulang bersama saya." Nada rendah nan tegas itu adalah isyarat bahwa keputusan itu sama sekali tidak bisa dinego.
"Gila! Yang ada selingkuhan kamu itu bakal ngamuk!" Thalia tersenyum tipis, begitu sinis dan terlihat angkuh. "Untuk sekarang, urus saja urusan kita masing-masing, ya, Tuan Bhumi yang terhormat."
Sial! Bhumi melupakan bahwa tadi ia datang bersama Adelia
Thalia kemudian mendorong tubuh Bhumi dengan mudah. Wanita itu jelas tahu bahwa Adelia adalah kelemahan Bhumi. Ah, pria itu bahkan tidak pernah membiarkan Adelia terluka sedikitpun. Sekalipun sosok berwajah malaikat itu memiliki sifat kejam seperti iblis.
Tapi mereka memang cocok. Iblis dengan iblis, pantas saja hubungan mereka awet.
***
"Are you okay?"
Thalia berdeham, lalu mengangguk. "Santai Jul. Jangan tegang begitu. Kayak nggak pernah lihat Bhumi ngamuk aja," kekehnya ringan.
Julia menghela napasnya. Matanya jelas menatap Thalia dengan cemas. Apalagi saat matanya menangkap bekas kemerahan di pergelangan tangan Thalia serta pakaiannya yang tidak serapi tadi. Apalagi bibirnya yang terlihat bengkak dan pucat.
Tiba-tiba Julian menginjak rem. Thalia menatapnya bingung seiring dengan tatapan Thalia yang kemudian menyapu area sekitarnya. Posisi mereka masih jauh dari tempat putrinya berada.
"Rapikan riasanmu. Jemia bisa khawatir Mamanya datang sepucat ini," saran Julian dengan nada cemas.
"Aah, iya. Sebentar." Thalia kemudian merogoh lipstik dari tas kecilnya. Menggunakan cermin kecil yang selalu ia bawa, Thalia kemudian merapikan riasannya. "Gimana? Udah cantik belum?" Wanita itu menoleh ke arah Julian.
Julian hendak mengusap kepala Thalia, tetapi dengan cepat wanita itu menghindar. Julian tertawa pelan. Kemudian menggaruk kepalanya yang tak benar-benar gatal.
"Semenjak jadi istri Bhumi kamu menghindar kontak fisik denganku, ya?"
Mata Thalia menyipit ke arah Julian. Tangannya menepuk lengan Julian pelan.
"Baper banget sih Jul," gurau Thalia.
Julian pura-pura merajuk. Namun, tak urung ia kembali melajukan mobil membelah jalanan.
"Bhumi masih belum tahu tentang Jemia?"
Thalia menghela napasnya. Lalu menggeleng pelan. "Dia nggak perlu tahu. Toh dia sebenarnya nggak mau punya anak. Dia hanya mau pewaris keluarganya. Cukup aku yang dijadikan alat untuk harta dan kekuasaan. Anakku jangan. Jemia terlalu berharga untuk dijadikan alat Bhumi sebagai syarat dia naik tahta."
Bayangan tentang Bhumi yang menghibur Adelia lima tahun lalu masih begitu Thalia ingat. Tentang bagaimana niat licik pria itu untuk menjadikan calon anak mereka sebagai syarat Bhumi menjadi CEO perusahaan keluarganya. Kalau saja Thalia tidak mengetahui itu, mungkin Thalia tidak akan menciptakan skenario yang membuat Bhumi sangat membencinya hingga sekarang.
"Kamu tidak cemburu melihat Bhumi dengan Adelia? Yaa, terbersit sedikit rasa mungkin."
Thalia tertawa keras. "Jangan membual, Jul. Nggak ada cinta di antara kami berdua. Dia lebih cocok dengan perempuan ular itu daripada aku."
Akhirnya mereka pun sampai di rumah minimalis yang tampak asri. Di sekitar perkarangan, terdapat banyak tanaman yang begitu memanjakan mata. Thalia segera turun, begitu pula Julian.
"Mamaa!"
Thalia baru saja turun dari mobil saat mendengar suara riang anak perempuan memanggilnya dari dalam rumah.
Thalia segera berjongkok menyambut putri kecilnya itu.
"Mia kangen...." lirih anak itu sembari memeluk Thalia. Tangan mungilnya memeluk leher Thalia dengan erat.
Wajah sumringah Thalia mendadak pudar, bergantikan wajah cemas. Satu tangannya lalu mendarat di kening Jemia.
Tak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya ikut keluar dari rumah. "Non Mia sakit, Bu. Dari subuh badannya panas. Tadinya dia lagi istirahat, tapi pas dengar suara mobil dia langsung lari ke sini."
Julian ikut memeriksa kondisi Jemia. "Mau dibawa ke rumah sakit, Tha?"
"Mia nggak mau ke sana. Maunya disini aja. Tapi sama Mama." Anak dengan surai ikal panjang hingga pinggang itu menggeleng cepat. Dekapannya semakin mengerat di leher Thalia.
Thalia dan Julian saling melempar tatap. Saat Julian mengangguk, barulah Thalia ikut mengangguk.
"Mia dengan Bibi dulu, ya. Mama mau bicara dengan Om Julian."
Anak itu sebenarnya enggan. Namun, melihat kode dari Julian akhirnya ia mengangguk. Kemudian segera beralih ke dekapan Bi Asih.
Ponsel Thalia tiba-tiba berdering. Awalnya Thalia ingin mengabaikan itu. Namun, deringan itu semakin gencar terdengar.
Kontak dengan nama Pria Iblis muncul. Deringan itu berhenti. Namun, sebuah pesan muncul di notifikasi.
Pulang sekarang atau saya benar-benar akan mengurungmu di rumah setelah ini.
*
*
*
Mohon dukungannya ya. Menurut kalian, Bhumi bagusnya diapain? 🤣
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!