"Begitu pintu berhasil didorong terbuka, mata Rian langsung membelalak.
“ASTAGA…!”
Suara itu tercekat di tenggorokannya.
Di depan sana, seorang gadis berseragam SMA terlihat dalam posisi tergantung.
Kita kembali pada satu jam sebelumnya, sebelum Rian pada posisinya saat ini.
"Hei, Rian! Ada pesanan, sudah di bayar orang!" ucap Nafi, kawan akrab Rian di restoran cepat saji sambil berbicara dengan Rian.
"Siapp," ucap Rian sambil mengambil kotak pesanan berisi pizza yang sudah dibayar.
Ia lalu menaiki motor restoran yang tersedia khusus untuk pengantaran.
"Kok dingin ya?" pikir Rian dengan heran.
Udara siang ini terasa sangat aneh, sedikit dingin, tetapi juga panas banget.
Angin yang berembus membuat kulitnya merinding, sementara keringat terus bercucuran di pelipisnya.
Panasnya menembus jaket tipis yang ia kenakan, tapi entah kenapa, hawa sekitarnya justru terasa beku dan menekan.
Rian pun menghiraukan perasaan itu dan terus melaju ke arah pelanggan yang memesan.
Broom...
Suara motor meluncur membelah jalanan kota, meninggalkan hawa aneh yang masih menggantung di belakangnya.
Matanya fokus pada nota pengantaran yang bertuliskan alamat penerima.
“Jalan Burung Gagak No. 10, apartemen lantai 3, kamar 30,” gumamnya pelan.
"Jauh juga ya.." lanjutnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, ia berhenti di depan apartemen berlantai sepuluh yang tampak sepi di kawasan parkirnya.
Tak ada satu pun tukang parkir yang berjaga. Tempat itu terasa terlalu tenang untuk ukuran siang hari.
“Ih... tempat apaan nih, sepi amat. Udah dingin pula perasaan ini,” gumam Rian sambil mematikan mesin motor.
Ia melangkah masuk ke dalam gedung apartemen dengan langkah sedikit ragu.
Begitu pintu geser tua itu terbuka, hawa dingin langsung menyergap.
Lorong lobi remang, hanya satu lampu neon di sudut yang masih menyala, berkelap-kelip seperti mau mati.
Cat dinding mengelupas parah, menampakkan batu bata kusam di beberapa sisi. Bau lembap dan debu bercampur jadi satu.
“Serius ini apartemen? Kok kayak gedung udah ditinggalin...” Rian melirik sekeliling, menelan ludah.
Ia menatap papan lift yang tak lagi berfungsi,
"Lift Rusak"
"Huh..." rian refleks menghela napas pendek.
“...Jangan-jangan aku disuruh nganter pizza ke hantu...”
Rian tetap melangkah menuju tangga, suara langkahnya menggema setiap kali ia melangkah di lantai yang berdebu.
Udara makin dingin, tapi keringat malah menetes di pelipis nya.
“Uh... akhirnya sampai juga di kamar 30. Semoga aja yang kutakutkan nggak beneran kejadian,” gumam Rian, mencoba menenangkan diri nya sendiri.
Ia mengetuk pelan pintu itu.
Tok.. tok.. tok...
“Permisi... pizza.. Pizza delivery...” serunya.
Tak ada jawaban dari dalam ruangan.
Suara dari dalam hanya sunyi.
Tapi setelah beberapa detik, telinganya menangkap sesuatu ada suara tangisan pelan, nyaris tak terdengar.
Rian menelan ludah, bulu kuduknya berdiri.
“Jangan bilang... ini beneran ada hantunya,” gumamnya lirih sambil mendekatkan telinga ke daun pintu.
Tiba-tiba, bruk!
Ada suara kursi jatuh dari dalam kamar.
Refleks, Rian mundur setapak, jantungnya berdebar kencang.
Namun pikirannya langsung teringat pada berita-berita yang sering muncul pada berita panas saat ini,
“Pemuda 22 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Apartemen, Polisi Selidiki Dugaan Bun*h Diri”
KOTA ZUANA – Tetangga menyebut korban sering mengurung diri dan jarang berinteraksi. Polisi tidak menemukan tanda kekerasan dari pihak ketiga.
“Kasus Dugaan Bun*h Diri Kembali Muncul, Karyawan Ritel Ditemukan Tak Bernyawa di Gudang Terbengkalai”
KOTA NAUNA – Rekan kerja mengungkapkan korban mengalami tekanan finansial dan emosional selama beberapa bulan terakhir.
“Mahasiswi 20 Tahun Dilaporkan Meninggal Dunia, Indikasi Awal Mengarah ke Dugaan Bun*h Diri”
KOTA UTARA – Pihak kampus menolak berkomentar. Teman-teman dekat menyebut ia sedang menghadapi tekanan akademik dan biaya kuliah yang menumpuk.
“Pria Paruh Baya Ditemukan Tewas di Halte Bus, Otoritas Sebut ‘Indikasi Bun*h Diri Sangat Kuat’ ”
KAWASAN TIMUR, KOTA BAGHA – Saksi mata menyebut korban sering terlihat duduk sendirian berjam-jam di halte tersebut sebelum kejadian.
“Kasus Bun*h Diri di Kota - Kota Besar Tercatat Meningkat dalam Satu Bulan Terakhir”
LAPORAN KHUSUS – Data sementara kepolisian menunjukkan lonjakan kasus kematian terkait tekanan ekonomi, masalah pekerjaan, dan isolasi sosial sudah berjumlah lebih dari 5.
---
“Jangan-jangan...”
Tanpa berpikir panjang, Rian langsung menghantam pintu itu dengan bahunya.
BRAK!
Pintu terbuka keras, menyingkap pemandangan yang membuat darahnya seketika berdesir.
"ASTAGA…!” Suara itu tercekat di tenggorokannya.
Hal yang di takutkan nya memanglah terjadi di depan matanya.
Seorang gadis berseragam SMA tergantung di tengah kamar, tali menjerat lehernya.
Rian tak sempat berpikir lebih lama.
Ia berlari dan langsung memeluk tubuh gadis itu, mengangkatnya sekuat tenaga untuk melepaskan dari jeratan tali yang semakin menegang.
Namun kakinya terpeleset oleh sesuatu yang licin di lantai, mungkin bingkai foto yang pecah.
“—Aduh!”
Tubuh mereka kehilangan keseimbangan dan terhempas ke belakang.
DUAK!
Mereka jatuh keras ke atas kasur usang di sudut kamar.
Gadis itu menimpa Rian, tubuhnya lemas dan dingin, napasnya tersengal seperti baru ditarik kembali dari ambang.
Bekas merah jeratan di lehernya masih terlihat jelas.
Rian lbangkit setengah duduk, panik namun fokus.
Tangannya bergerak cepat memegang pergelangan tangan gadis itu, mencari denyut nadi.
Beberapa detik terpanjang dalam hidupnya berlalu…
“uhh…” Rian mengembuskan napas lega.
“Masih ada… untung belum telat…”
Ia menatap gadis muda yang kini terbaring di pangkuan nya.
Wajahnya pucat, matanya setengah tertutup, bibirnya bergetar kecil seolah mencoba bernapas.
Rian menepuk pipinya pelan.
“Hey… hey… kamu denger aku?” Ucap Rian, suaranya menurun, lembut, tapi penuh kecemasan.
Belum ada respon, Hanya napas tipis yang naik turun perlahan yang terlihat.
Rian akhirnya memilih diam sejenak. Ia menarik napas panjang, menahan getaran di tangannya, lalu membiarkan kepala gadis itu tetap bersandar di pangkuannya.
Sambil duduk begitu, Rian melirik sekeliling ruangan.
Apartemen itu… Sangat memprihatinkan.
Dindingnya yang dulunya mungkin pink muda kini berubah menjadi pink gelap kusam, ditambah cahaya lampu redup yang berkedip pelan di tengah ruangan.
Beberapa bagian dinding ditumbuhi lumut, seolah tempat itu sudah lama tak disentuh manusia.
Di depan sana, sebuah TV 14 inci model lama bertengger di atas meja kayu yang sudah lapuk, layar tabungnya memantulkan bayangan samar-samar tubuh mereka.
Pemandangan itu membuat Rian merasakan sesuatu mendorong dadanya, campuran iba, heran, dan kemarahan yang tak bisa ia jelaskan.
Ia menunduk lagi pada gadis yang terbaring di pangkuannya, rambut hitamnya tergerai kacau.
Perlahan ia mengusap rambut gadis itu, gerakannya hati-hati, sama seperti ia lakukan untuk menenangkan adiknya saat demam atau ketakutan.
“Udah… udah… kamu aman sekarang…” gumamnya, walau gadis itu belum benar-benar sadar.
Gadis itu mengerjap perlahan.
Matanya yang sembab menatap kosong ke arah langit-langit, sebelum tiba-tiba tubuhnya menegang.
KENAPA?! KENAPA AKU GAGAL LAGI?!” teriaknya, kedua tangan kecilnya memukul-mukul kaki Rian tanpa arah.
Rian tersentak, tak sempat berkata sepatah kata pun ketika gadis itu tiba-tiba bangkit setengah sadar dan berputar panik, seperti sedang melawan bayangan yang hanya dia sendiri yang bisa lihat.
Tubuhnya langsung miring dari tepi kasur springbed tipis itu. Rian cepat bergerak, menangkapnya sebelum ia sempat jatuh ke lantai.
“HEY, pelan, pelan…!” ucap Rian sambil menahan badan nya, mencoba menstabilkan tubuhnya.
Namun gadis itu makin histeris.
“AKU MAU MATI!! AKU MAU MATI!! AKU MAU MATI!!! AKU MAU IKUT MEREKA!!!” jeritnya, suara pecah hingga menggema di kamar redup itu.
Tanpa peringatan.
"KREK.."
Terdengar suara tangan.
Gadis itu langsung menggigit tangan kanan Rian yang berada di dekat wajahnya.
“Aw....!” Teriak Rian.
Tanpa peringatan.
"KREK.."
Terdengar suara tangan.
Gadis itu langsung menggigit tangan kanan Rian yang berada di dekat wajahnya.
“Aw…!” Rian teriak pendek, tubuhnya menegang karena kaget dan sakit.
Namun ia tidak menarik tangannya. Justru, dengan tangan kirinya ia meraih badan gadis itu, menariknya kembali agar tidak terjatuh dari kasur springbed lama.
Gadis itu melepas gigitan nya cepat, terengah dengan mata yang merah dan kacau.
Rian menahan rasa perih di tangannya, pura-pura seolah itu tidak masalah sama sekali.
“Hm… ada apa nih…?” ucap Rian lembut, seakan yang terjadi barusan tidak membuatnya kesakitan.
“Ceritain ke kakak, ya…”
Gadis itu menggeleng pelan, air mata kembali berkumpul di sudut matanya.
Rian tetap sabar. Tangannya terulur untuk mengusap rambut siswi itu, pelan dan menenangkan.
“Gak boleh gitu dong,” ucapnya perlahan membujuk.
“Kalau ada masalah, kamu harus ngomong. Kakak gak bakal ninggalin kamu kok.” Ucapnya.
Ia menunduk sedikit, menatap mata gadis itu walau yang ditatap masih ketakutan.
“Apa pun yang kamu rasain… kamu gak harus tanggung sendirian. Bilang ke kakak… biar kakak bantu, ya?” Lanjutnya, sambil perlahan Rian mengangkat tangan kanan nya dan mengusap air mata yang mengalir dari kedua mata gadis itu.
Gerakannya hati-hati, lembut, seolah menyentuh sesuatu yang bisa pecah kapan saja.
Siswi SMA itu menelan ludah, napasnya tersengal.
Ia memandang Rian dari bawah, matanya basah dan bergetar.
“Ja… ja-nji ya…” suaranya pecah, seperti baru belajar bicara lagi setelah lama tenggelam.
“Kakak… gak ninggalin…” Ia menarik napas tajam, bahunya naik turun.
“…seperti me–mereka…”
Kata “mereka” keluar dengan suara yang hampir tidak terdengar, lebih mirip luka yang terucap daripada sebuah kata.
“Iya… janji, Yuna.”
Rian mengangkat jari kelingkingnya, menatap gadis itu dengan ketegasan yang hangat.
“Kakak gak akan ninggalin kamu karena apa pun.” Ia mengatakannya pelan namun mantap, sebuah janji yang benar-benar ingin ia tepati.
Rian tau itu sebelumnya ia menunduk sedikit, memperhatikan seragam putih-abu yang dipakai.
Di dada kiri seragam itu, tepat di atas logo sekolah swasta, tertulis nama bordir kecil,
“Yuna Naura.”
Siswi itu berambut hitam panjang dan kulit putih pucat itu tampak ragu sesaat.
Matanya masih sembab, tapi pupilnya bergetar seperti tidak percaya ada seseorang yang memintanya membuat janji… bukan untuk menyakitinya, tapi untuk tetap tinggal.
Perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat tangan kirinya.
Jari-jarinya bergetar sebelum akhirnya satu kelingking kecil itu terjulur, menyentuh kelingking Rian.
“…Ja-jangan… bohong, ya…” bisiknya lirih.
“Kalau kakak ninggalin… aku gak tau harus ke mana lagi…”
Rian mengaitkan kelingkingnya lebih erat.
“Iya beneran. Kakak gak pergi. Kakak di sini. Kakak akan selamanya denganmu.” Lanjut nya.
Gadis itu menunduk, bahunya mulai bergetar pelan karena untuk pertama kalinya selain orangtua nya… ada seseorang yang memandangnya bukan sebagai beban.
“…k-kak…” suaranya pecah kecil.
“Aku ceritain… ya…”
Rian mengangguk lembut.
“Hmm. Kakak dengerin. Pelan-pelan aja.”
Yuna menggenggam baju seragamnya, menguatkan diri.
Lalu, dengan suara yang masih bergetar, ia mulai berbicara.
“K… kejadian itu… sekitar setengah bulan lalu, Kak…”
Yuna menelan ludah, suaranya pecah.
“Aku baru pulang sekolah… masih pakai seragam… belum sempat buka sepatu.”
Ia mengusap bawah matanya, lalu melanjutkan.
“Tiba-tiba… tante aku datang ke rumah dan teriak…”
Bahunya sedikit naik turun mengingat amarah tantenya.
"Hei jalang! Tinggalkan rumah ini! Ini rumah milik kami!’
Saat menirukan itu, suara Yuna mengecil lagi, kepalanya menunduk makin dalam.
“Aku bingung, Kak… Kenapa aku harus keluar dari rumah orangtuaku sendiri?"
"Aku cuma bilang…”
‘Kan ini rumah milik ayah dan ibu… dari kerja mereka…’
Jari tangan Yuna saling meremas.
Matanya menerawang kosong, seperti melihat kejadian itu lagi.
“Terus… tante aku ketawa… katanya rumah itu… rumah dia juga… karena ayahku saudara kandung nya.”
Yuna menggeleng kecil, nafasnya tersendat.
“Kak… aku masih inget… caranya lihat aku kayak… aku barang nggak berguna…”
Ia lanjut pelan, terbata-bata.
“Terus dia bilang kalau semua harta udah di alihin sebelum ayah dan ibu meninggal…”
Saat berkata “meninggal”, suara Yuna langsung retak. Rian melihat jari-jarinya gemetar hebat.
“A-aku jadi curiga mendengar nya, jadi aku tanya… apa tante yang nyebabin ayah dan ibu… meninggal…”
Ia menutup mata sendiri sambil meringis, seperti masih takut pada jawabannya.
“Tapi… tante aku panik… terus dia langsung marah besar…”
“Koper aku dilempar, Kak… buku-buku aku… berantakan semua di lantai…”
Napasnya memburu.
Tangan kirinya terangkat ke lutut, menekan pelan seakan lutut itu masih terasa sakit.
“Aku mau ambil buku aku… tapi tante tendang koper aku… aku kedorong… jatuh… lutut aku berdarah.”
Rian menatap titik darah samar di lutut Yuna bekas luka kecil yang masih ada.
“Mereka kasih aku uang… cuma dua ratus ribu…”
“Terus… aku diusir… anggep aku kayak sampah.”
Bahunya bergetar keras.
Dan kalimat terakhir keluar hampir seperti bisikan.
“Aku… cuma bisa bawa koper itu, Kak… sambil seret pelan… jauh dari rumah ku sendiri…”
Yuna menahan mulutnya agar tidak menangis keras, tapi air mata jatuh tanpa henti.
Napasnya sesak, suaranya hampir hilang ketika ia melanjutkan:
“A-aku… bingung harus tinggal dimana, Kak…”
Ia menunduk, menarik lututnya dekat ke dada.
“Jadi aku ke tempat nenek. Dulu aku pernah sering main di sini waktu kecil…”
Matanya melirik sekeliling ruangan yang kusam cat pink gelap mengelupas, lampu redup, TV tua dengan bayangan hitam di sudutnya, lantai lembap penuh bekas jamur.
“Tapi… ternyata rumah nenek udah ditinggalin… kayak begini…”
Suaranya runtuh di akhir.
“A-aku pikir… gak apa-apa… yang penting ada tempat buat tidur…”
Ia menarik napas tersengal.
“E-eu… tapi makin lama aku tinggal… aku ngerasa sendiri banget, Kak…”
Matanya kembali berkaca-kaca.
“Aku bangun tiap pagi… cuma liat tembok lembab… suara tetesan air dari toilet rusak…”
Bahunya gemetar.
“Gak ada siapa-siapa… gak ada yang nunggu aku pulang sekolah… gak ada yang peduli denganku…”
Ia kembali menutup muka nya.
“Aku... capek begini…”
Rian menatap Yuna yang menutup wajahnya dengan kedua tangan—tapi dari sela-sela jari itu, air mata tetap jatuh perlahan, menetes tanpa bisa dihentikan.
Perlahan, ia menarik napas panjang dan mengusap rambut gadis itu dengan lebih pelan, lebih penuh empati. Gerakannya seperti seorang kakak yang menemukan adiknya dalam kondisi hancur.
Dalam hati, ia gumam getir,
Umur anak SMA sekitar… 16–18 tahun. Umur segitu tuh lagi gede-gede egonya, haus perhatian, butuh tempat pulang.
Dan dia harus nanggung semua ini sendirian?
Pikirannya makin panas.
Anak seusia ini harusnya ribut soal nilai ujian, tugas sekolah, drama pacaran labil, gosip murahan di kelas bukan soal kematian orang tua, perebutan warisan, dan diusir dari rumah.
Rian mengepalkan tangan satunya tanpa sadar.
“Hush… udah… kamu udah cukup kuat buat bertahan sejauh ini,” ucapnya dengan suara lembut namun tegas, nada yang tidak menghakimi.
Yuna menggigit bibir, menahan tangis yang mulai pecah lagi. Bahunya bergetar halus.
Rian melanjutkan, suaranya semakin dalam, tulus,
“Umur kamu masih muda, Yuna. Wajar kalau kamu kesepian… wajar kalau kamu ngerasa dunia gak adil.
Tapi kamu gak harus ngadepin semuanya sendirian.”
Pelan-pelan Yuna mendongak, matanya merah, berair, tampak seperti seseorang yang memohon sedikit saja alasan untuk bertahan.
Rian membalas tatapannya dengan sorot yang mantap, hangat, stabil, dan penuh kepastian yang selama ini Yuna cari dalam gelap.
“Sekarang… kamu gak akan sendirian lagi,” ucap Rian pelan namun tegas.
“Ada kakak di sini.”
Saat itu juga, sesuatu di dalam diri Yuna seperti patah sekaligus terselamatkan.
Tatapannya bergetar… lalu pecah.
Seolah tubuhnya bergerak sendiri, Yuna memeluk Rian dengan sangat Erat.
Sangat erat, seperti seseorang yang akhirnya menemukan daratan setelah berhari-hari terombang-ambing di laut.
Rian sempat terkejut sepersekian detik, tapi langsung membalasnya, memeluk balik gadis itu dengan lembut.
Di pangkuan nya, suara Yuna pecah, lirih, tercekik, tapi penuh luka yang tak pernah ia bagi pada siapa pun.
“Te.. Terima kasih..."
Tangisnya pecah lagi.
Tubuhnya bergetar hebat, seperti semua rasa takut, marah, rindu, dan kehilangan selama sebulan terakhir akhirnya keluar sekaligus.
Tangan Yuna mencengkeram badan Rian, seolah jika ia melepaskan sedikit saja, dunia akan merenggut satu-satunya orang yang menolongnya hari ini.
Tangisan nya makin lama, mulai melemah.
Pelukannya yang awalnya erat dan penuh rasa takut perlahan berubah menjadi lemas seolah seluruh tenaganya terkuras habis oleh tangis yang ia tahan selama ini.
Beberapa menit berlalu.
Napas Yuna mulai berat… terputus-putus… kemudian teratur.
Rian menatap Yuna yang akhirnya tertidur.
Wajahnya masih basah, bulu matanya masih menahan sisa air mata…
tapi ekspresinya jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Rian menghela napas panjang, menatap gadis itu dengan campuran iba dan tekad.
“Capek banget, ya…” gumamnya pelan sambil merapikan poni Yuna.
“Gak apa-apa. Sekarang istirahat saja. Sisanya… biar kakak yang urus.”
Dan di apartemen kecil itu, dengan cahaya senja menembus jendela, Yuna tidur untuk pertama kalinya tanpa rasa takut di pangkuan seseorang yang akhirnya berkata,
“Kamu gak akan sendirian lagi.”
Dan saat itu…
[Ding!]
Dan di apartemen kecil itu, dengan cahaya senja menembus jendela, Yuna tidur untuk pertama kalinya tanpa rasa takut di pangkuan seseorang yang akhirnya berkata,
“Kamu gak akan sendirian lagi.”
Dan saat itu…
[Ding!]
Panel biru itu muncul lagi tepat di depan wajah Rian tepat ketika Yuna sudah tertidur pulas di pangkuannya. Cahaya birunya memantul di pipi Yuna yang masih lembap oleh air mata.
Pelan, Rian mengangkat kepalanya untuk membaca nya.
[Sistem Berhasil Terhubung dengan Host]
[Selamat! Host telah berhasil menyelesaikan Misi]
[Deskripsi : Menyelamatkan Yuna di Jalan Burung Gagak No. 10, Apartemen Lantai 3, Kamar 30]
[Reward : Rp. 15.000.000 & Mata Emosi]
Rian memicingkan mata, menahan suara agar tidak membangunkan Yuna.
“…Mata Emosi? Apaan lagi itu…” gumamnya setengah berbisik.
Lalu ia melirik angka yang tertera.
Dia bahkan harus memastikan dua kali.
“…dan… lima belas juta? Seriusan?”
Belum sempat otaknya memikirkan ini realita atau hanya bohongan, ponselnya tiba-tiba bergetar di kantong celana.
Rian langsung menggerakan tangannya pelan, takut Yuna kebangun.
Dengan hati-hati, ia merogoh ponsel, membuka layar di kecerahan serendah mungkin.
Satu notifikasi muncul,
Instan Bank
Berhasil Isi Saldo Rp. 15.000.000 ke rekening 79xxxxxx9
Rian sampai harus menahan mulutnya dengan tangan kiri agar tidak reflek bersuara keras.
“…ha… hah? Gila… ini beneran masuk…?”
Ia melihat saldonya lagi, memastikan itu bukan mimpi halu:
[Saldo Total : 15.300.000]
Tangannya gemetar sedikit bukan ketakutan, tapi campuran antara kaget, syok, dan… rasa lega yang datang begitu cepat sampai dia sendiri kewalahan menahannya.
Ia menatap layar ponselnya lagi, memastikan angka itu nyata.
Benar. Angkanya masih ada di sana.
[Saldo Total : Rp. 15.300.000]
Saldo itu Beneran masih ada!
Rian mengembuskan napas tak percaya.
“Gila… sistem ini beneran ternyata…” bisiknya pelan, seolah takut kalau suara keras bisa bikin angka itu hilang begitu saja.
Kepalanya langsung penuh bayangan kecil yang hangat ibunya, yang tiap hari cuma makan seadanya, pakai baju yang udah sedikit usang tapi tetap dipakai karena “sayang kalau beli baru.”
“Kalo begini…”
Suaranya merendah, hampir seperti gumaman.
“Aku bisa beliin ibu makanan enak di restoran, baju yang bagus… mungkin bisa renovasi rumah peninggalan ayah juga…”
Namun sebelum pikirannya melayang terlalu jauh, matanya turun menatap gadis kecil yang tertidur pulas di pangkuannya.
Yuna, siswi SMA.
Wajahnya yang basah, napas yang masih tersengal-sengal kecil habis menangis.
Tubuhnya yang sedikit kurus, memeluk dirinya bahkan dalam tidur… seolah ketakutan akan kehilangan sesuatu lagi.
Rian menatapnya lama lebih lama dari yang ia sadari.
“Apalagi…” katanya pelan, hampir tak terdengar.
“… Udah ada Yuna.”
Ia mengusap kepala gadis itu pelan, menyelipkan beberapa helai rambut agar tak menutupi wajahnya.
“Aku gak tega ninggalin dia… udah kayak…”
Ia menahan napas sebentar.
“…adik ku sendiri.”
Ada sedikit getaran hangat di dadanya, campur rasa protektif yang muncul tanpa peringatan.
“Mau gimana pun… aku gak akan biarin bocah ini ngadepin semuanya sendirian lagi.”
Rian bersandar ke dinding lusuh apartemen itu. Lampu kuning redup memantul di pipi Yuna, membuatnya tampak rapuh, seperti seseorang yang benar-benar harus dijaga.
Dalam hati, ia menghela napas panjang.
"Huh...Untung aja ada sistem…"
Kalimat itu melintas begitu saja, bukan sombong, tapi penuh rasa syukur.
“Jadi aku bisa nyekolahin Yuna kayak siswi SMA lainnya…” gumamnya lirih, tangannya masih mengusap rambut gadis itu perlahan.
“Soalnya biaya sekolah lumayan berat…”
Rian punya dua adik, satu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan satunya lagi baru masuk Sekolah Menengah Atas tahun ini.
Sejak ayah mereka tiada 4 tahun lalu , keadaan di rumah memang nggak pernah benar-benar mudah.
Ibunya bekerja serabutan membantu tetangga, mulai dari mencuci baju, menyetrika, sampai pekerjaan kecil apa pun yang bisa menghasilkan.
Pendapatannya pun tidak seberapa, hanya cukup untuk menjaga agar dapur tak benar-benar padam.
Beruntung saja masa-masa itu cuma berlangsung enam bulan. Setelah aku lulus, aku bisa ikut bantu keluarga.
Gaji Rian memang nggak besar hanya sekitar Rp1.600.000 per bulan tapi setidaknya makan siang di tempat kerja gratis, jadi gak perlu mikir makan siang lagi.
Karena itu… waktu Rian mikirin Yuna, perasaannya campur aduk banget.
Ia kepikiran buat ngerawat dia juga.
“Kalau aku bawa dia… apa itu nambah beban buat Ibu?”
Pertanyaan tersebut udah muter-muter di kepala Rian dari tadi.
Tapi… saat sistem muncul, hadiah yang jatuh kayak keajaiban… rasanya kayak ada batu besar yang akhir nya pecah dan rian pun tertidur pulas.
Dua jam lewat begitu saja.
Rian kebangun karena merasa ada cahaya tipis yang datang dari arah depan wajah nya. Ia mengedip-ngedip, ngangkat kepala dan sedikit kaget.
"Yuna..? "Dimana dia..?"
Yuna sudah tidak ada di pangkuan nya.
Refleks, Rian bangkit berdiri, napasnya naik turun sedikit panik.
Tapi cuma butuh sepersekian detik buat lihat pemandangannya.
Gadis itu ternyata ada tepat di depannya, jongkok sambil nunduk rapih-rapihin isi koper kecil.
Rian mengembuskan napas panjang.
“Huh… kirain kemana…”
Yuna seketika menoleh, lalu berdiri pelan. Matanya agak merah tapi senyumnya kecil kelihat rapuh.
Ia meraih sesuatu dari meja kecil di samping kasur springbed itu, mie instan cup yang masih ngebul halus, air panasnya bikin tutup styrofoam sedikit melengkung.
“Nih, Kak…”
Ia menyodorkannya dengan dua tangan.
“Aku udah masakin mie. Hehe… di makan ya…”
Ada getar lembut di suara Yuna campuran ingin berguna, ingin membalas sedikit kebaikan… dan rasa takut ditolak.
“Iya, kakak makan ya…”
Rian tersenyum kecil dan menerima mie itu dengan kedua tangan dan kembali duduk di kasur.
Matanya menoleh sebentar melihat Yuna, langsung terpaku pada sesuatu di atas kepala gadis itu.
♡ : 31
Rian mengernyit.
“…lah, apa itu?” Gumam Rian.
Belum sempat ia mikir panjang, panel biru muncul begitu saja di depan wajahnya begitu dekat sampai Rian refleks mundur sedikit.
[Ding!]
[♡ 10–30 : Putus Asa]
[♡ 31–40 : Takut]
[♡ 41–60 : Normal]
[♡ 71–100 : Ceria/Senang]
Rian menatap angka itu sekali lagi.
31.
Yuna berada di Level takut.
Dan pas ia lihat ke arah Yuna lagi… barulah dia sadar kenapa.
Gadis itu berdiri sambil meremas ujung bajunya, kepala sedikit menunduk, bahunya ragu, seolah sedang menunggu… sesuatu.
Kepastian? Reaksi? Atau Hal sekecil “dia suka gak ya yang kubuat?”
Rian menggaruk lehernya, menahan napas sebentar.
“Yuna,” panggilnya pelan.
Gadis itu mengangkat kepala perlahan, matanya masih menyimpan sisa takut yang bahkan angka ♡ : 31 itu gak bisa bohongin.
Rian tersenyum tipis, hangat senyum versi paling lembut yang dia punya.
“Makasih ya… kakak suka banget.”
Dan entah kenapa… angka itu berkedip pelan, ♡ : 31 »32» 34 … meningkat sedikit dan berhenti di angka 36.
Setelah beberapa saat,
♡ : 36 » 31
"Lah, Kok turun lagi?!" Gumam Rian.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!