Indonesia
NovelToon NovelToon

ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

BAB 1. DIA GILA

Hujan turun deras malam itu, mengguyur halaman rumah besar keluarga Wattson. Dari balik jendela ruang makan yang luas, Elena duduk sendirian di kursi panjang, menatap meja yang sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan hangat yang kini mulai dingin.

Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit. Suaminya, Raven Wattson, belum juga pulang.

Tiga tahun pernikahan. Dan setiap kali hujan turun seperti ini, Elena selalu menunggu. Dulu, Raven selalu pulang membawa senyum dan seikat bunga mawar putih. Tapi malam ini, yang datang hanya dingin dan sepi yang menggigit.

Elena menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di jendela. Wajahnya masih muda, cantik, lembut, tapi di matanya, tampak semburat lelah. Sudah lama ia merasa jarak antara dirinya dan Raven kian melebar.

Pekerjaan Raven di perusahaan besar miliknya memang menyita waktu. Tapi lebih dari itu, Elena mulai merasa Raven tidak lagi memandangnya dengan cara yang sama seperti dulu.

"Dia pasti sibuk," gumam Elena pelan, berusaha menenangkan diri. "Atau mungkin masih rapat dengan dewan."

Namun hatinya tetap gelisah. Ia mengambil ponselnya di meja, menatap layar kosong tanpa notifikasi. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, bahkan tidak ada tanda Raven mengingat kalau malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga.

Ia menelan ludah, menahan getir yang tiba-tiba muncul di tenggorokannya.

Tiga tahun menikah, tapi sepertinya Raven sudah lupa pada semua janji yang pernah ia ucapkan dulu di depan altar.

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari luar. Elena berdiri spontan, hatinya sedikit lega. Ia buru-buru merapikan rambut dan gaun sederhana berwarna krem yang dikenakannya, lalu bergegas ke pintu.

Begitu pintu terbuka, udara dingin bercampur aroma hujan langsung menyapa. Di depan sana, Raven Wattson berdiri di bawah payung hitam, mengenakan jas abu-abu yang masih rapi. Wajahnya tampan seperti biasa, tapi malam ini, matanya tidak memancarkan kehangatan. Hanya dingin, seperti malam yang menelannya.

"Raven ...," suara Elena bergetar halus. "Kau baru pulang? Aku sudah-"

"Masuk dulu," potong Raven datar sambil menutup payungnya. Ia masuk tanpa menatap wajah Elena.

Elena mengerutkan kening. "Aku sudah menyiapkan makan malam. Sup favoritmu, dan-"

"Aku tidak lapar," katanya lagi, dingin.

Langkah Raven menuju ruang tamu terasa berat, tapi tegas. Ia menaruh jasnya di sandaran kursi, lalu menatap sekeliling ruangan seakan sedang menimbang sesuatu.

Ada keheningan yang menegangkan. Elena bisa merasakan sesuatu yang aneh dari suaminya malam itu.

"Raven?" suaranya mulai pelan. "Ada apa? Kau terlihat-"

"Duduklah," ucap Raven yang terdengar seperti perintah.

Nada suara Raven membuat Elena menelan ludah. Ia menatap pria itu dengan bingung, tapi akhirnya duduk di kursi seberang.

Raven menatapnya lama. Sorot matanya dingin, tajam, dan penuh sesuatu yang Elena tak bisa definisikan, mungkin amarah, atau justru kebencian.

"Aku ingin kita bicara serius malam ini," ucap Raven tanpa ekspresi.

Jantung Elena berdetak cepat. "Tentang apa?"

Raven menarik napas dalam, lalu berkata pelan namun tegas, "Aku akan menikah lagi."

Dunia Elena seakan berhenti berputar.

Kata-kata itu jatuh begitu saja, menampar keras seluruh kesadarannya. Ia sempat berpikir ia salah dengar, tapi tatapan Raven terlalu serius untuk itu.

"Kau ... apa?" konfirmasi Elena nyaris tak terdengar.

"Aku akan menikah lagi, Elena," ulangnya dengan nada datar. "Dengan seorang wanita yang bisa memberiku keturunan."

Elena menatap Raven tak percaya. Tubuhnya membeku, bibirnya bergetar. "Keturunan? Apa maksudmu?"

Raven menegakkan punggungnya. "Kau tahu keluargaku. Mereka selalu menuntut penerus, pewaris untuk perusahaan. Aku sudah menundanya terlalu lama. Dan aku tidak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja."

"Pura-pura?" Elena nyaris tertawa getir. "Kau bicara seolah aku yang menipu. Aku sudah berusaha, Raven. Aku sudah melalui pemeriksaan, pengobatan, tapi masalahnya-"

"Dan hasilnya nihil!" potong Raven, suaranya meninggi. "Tiga tahun, Elena. Tiga tahun aku menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda kita akan punya anak!"

Elena menggigit bibirnya. "Jadi itu alasanmu? Karena aku belum bisa memberimu anak, kau mau menikah lagi?"

"Aku tidak 'mau'. Aku harus," kata Raven tegas. "Ini bukan hanya tentang aku. Ini tentang keluarga Wattson. Tentang nama dan masa depan perusahaan. Aku tidak bisa membiarkan segalanya berakhir hanya karena kau ... mandul."

Kata itu menusuk jantung Elena seperti belati.

Mandul.

Elena menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Kau tega mengatakan itu padaku? Kita sudah bersama sejak lama, bahkan saat kita masih belasan tahun. Dan sekarang kau ..."

"Aku hanya bicara kenyataan," jawab Raven dingin. "Kau sendiri yang bilang kalau kemungkinannya kecil "

Elena berdiri dari kursinya. "Tapi kita bisa mengadopsi! Kita sudah bicarakan itu, Raven!"

"Dan orang tuaku tidak akan pernah setuju," balasnya cepat. "Mereka tidak mau penerus Wattson berasal dari darah orang lain."

Air mata mulai jatuh di pipi Elena. "Jadi kau rela menghancurkan rumah tangga kita hanya demi darah dan pewaris?"

"Ini bukan soal rela atau tidak," ucap Raven, suaranya rendah tapi tegas. "Ini kewajiban."

Elena menatapnya lama. "Siapa dia?"

Raven terdiam sesaat, lalu berkata pelan, "Namanya Jessy."

Elena merasa dadanya sesak. "Sejak kapan kau bersamanya?"

"Tidak penting."

"Jawab aku, Raven!" bentak Elena. "Sejak kapan?!"

Raven menatapnya tajam, kemudian berkata dengan nada penuh kejijikan terhadap situasi, "Setahun."

Satu tahun.

Elena memundurkan langkah, nyaris kehilangan keseimbangan. "Kau ... kau berselingkuh selama satu tahun, di belakangku?"

Raven mengalihkan pandangan. "Jangan buat ini semakin sulit, Elena. Aku sudah cukup menahan diri."

"Menahan diri?!" Elena hampir menjerit. "Kau tidur dengan wanita lain dan menyebut itu 'menahan diri'? Tuhan, Raven, aku tidak percaya-"

"Cukup!" Raven menepuk meja keras. "Aku tidak mau membahas hal ini dengan emosi."

"Terlambat," kata Elena dengan air mata deras. "Kau sudah menghancurkan semuanya."

Raven mendengus, lalu berkata tanpa ekspresi, "Wanita itu mengandung anakku."

Elena terpaku. Waktu seolah berhenti di detik itu.

"Apa ... yang kau katakan?" suaranya serak.

"Jessy sedang mengandung anakku," ulang Raven, matanya dingin dan tak terguncang. "Jadi pernikahan ini bukan hanya keinginanku. Ini tanggung jawab."

Elena menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Rasanya seperti seluruh dunia runtuh menimpanya sekaligus. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Napasnya terengah.

"Jadi saat aku menunggumu pulang setiap malam ...," suaranya bergetar. "Kau ada di pelukannya?"

Raven tidak menjawab. Hening lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

"Dan sekarang kau datang, mengatakan akan menikahi dia karena dia sedang mengandung anakmu?" Nada Elena meninggi. "Kau pikir aku bisa menerima itu begitu saja?!"

"Aku tidak meminta persetujuanmu," balas Raven dingin. "Aku hanya memberitahumu."

Elena menatapnya dengan amarah dan kesedihan yang campur aduk. "Kau kejam."

"Aku realistis."

"Tidak, kau pengecut!" Elena menunjuk Raven dengan tangan gemetar. "Kau berselingkuh, lalu bersembunyi di balik alasan keluarga dan keturunan untuk membenarkan pengkhianatanmu!"

Raven terdiam beberapa saat sebelum berkata datar, "Kalau saja kau bisa memberiku anak, aku tidak akan melakukan ini."

Kata-kata itu seperti palu yang menghantam hati Elena berkali-kali.

Elena menangis tanpa suara, dadanya naik turun menahan isak. Selama ini, ia menyalahkan dirinya sendiri atas kegagalan mereka memiliki anak. Tapi mendengar itu langsung dari mulut Raven, menghancurkan seluruh harga dirinya sebagai perempuan.

"Jadi semuanya salahku, ya?" ucap Elena lirih. "Semua yang terjadi ... karena aku mandul?"

Raven mengangkat dagunya sedikit. Ada rasa iba di matanya. "Aku tidak bermaksud menyakiti-"

"Tapi kau sudah melakukannya!" teriak Elena. "Lebih dari siapa pun!"

Elena menatap pria di depannya yang kini tak lagi dikenalnya. Raven Wattson, suaminya selama tiga tahun, pria yang dulu mencium keningnya setiap pagi dan berjanji akan mencintainya dalam suka dan duka ... kini berdiri di hadapannya sebagai orang asing tanpa hati.

"Kalau begitu, kita bercerai," kata Elena dengan nada gemetar tapi tegas. "Aku tidak mau hidup dengan pria yang mengkhianatiku."

Raven menatapnya datar. "Tidak."

Elena tercengang. "Apa maksudmu 'tidak?"

"Aku tidak akan menceraikanmu," kata Raven dingin. "Aku akan menikahi Jessy, tapi kau tetap istriku secara sah. Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan Jessy. Kita akan mengurus bayinya, kau akan menjadi ibu."

Elena nyaris tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. "Kau gila! Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup dengan dua wanita seperti itu? Menjadi ibu dari selingkuhanmu? Aku tidak sudi."

Raven menatapnya dengan tatapan tajam. "Kau seharusnya bersyukur aku tidak menceraikanmu sekarang."

"Bersyukur?" Elena menatapnya dengan mata basah. "Atas apa? Atas penghinaanmu?"

"Atas kenyataan bahwa aku masih mau memertahankanmu," jawab Raven dingin. "Kau pikir banyak pria yang mau menerima perempuan mandul? Tidak ada, Elena. Tidak ada pria yang mau hidup tanpa harapan untuk punya anak."

Elena menampar Raven. Suara tamparan itu bergema keras di ruangan besar itu, diikuti isak yang pecah dari bibir wanita itu.

Raven memegang pipinya perlahan, tapi tidak membalas. Ia hanya menatap Elena dengan tatapan tajam yang dingin seperti baja.

"Kalau itu yang kau mau," kata Elena sambil menahan tangis, "aku akan menuntut cerai besok pagi."

"Silakan coba," kata Raven datar. "Tapi aku akan bicara pada orang tuaku terlebih dahulu. Mereka tidak akan membiarkan perceraian ini terjadi."

Elena melangkah mundur. "Kau benar-benar tidak punya hati."

Raven meraih jasnya, mengenakannya kembali dengan tenang. "Aku punya hati, Elena. Tapi bukan untuk hal-hal yang sudah tidak ada harapannya."

Raven berjalan menuju pintu, tapi berhenti sejenak sebelum keluar. Tatapan terakhirnya penuh dingin dan penghinaan.

"Kau harus bersyukur, Elena," katanya pelan. "Masih ada pria seperti aku yang mau bertahan di samping perempuan sepertimu. Karena di luar sana tidak ada satu pun pria yang mau menerima wanita mandul."

Lalu ia pergi. Pintu tertutup keras di belakangnya, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.

Elena berdiri terpaku di tengah ruang tamu, tubuhnya gemetar. Air mata terus mengalir di wajahnya, membasahi pipi dan dagunya. Ia menatap meja makan yang masih penuh hidangan ... simbol kesetiaannya, yang kini tampak begitu sia-sia.

Dalam diam, Elena menurunkan tubuhnya ke lantai. Tangannya menutupi wajah, isak tangisnya pecah begitu keras hingga menggema di seluruh ruangan besar itu.

Hatinya hancur. Seluruh dunianya runtuh dalam satu malam. Dan di balik tangisnya, Elena tahu satu hal dengan pasti; ia tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan itu.

Apa pun yang terjadi, ia akan bercerai dengan Raven Wattson. Karena bagi Elena, pengkhianatan adalah hal paling keji yang tak bisa ditebus dengan alasan apa pun.

Dan di tengah tangis yang terus mengguncang tubuhnya, Elena bersumpah dalam hati bahwa ini akan menjadi malam terakhir ia menangisi pria bernama Raven Wattson.

BAB 2. MAMA?

Pagi itu, udara masih lembap oleh sisa hujan malam tadi. Langit kelabu, dan sinar matahari pun enggan menampakkan diri.

Di balik kaca mobil, Elena duduk diam dengan wajah tanpa ekspresi. Matanya sembab, tapi tidak ada lagi air mata yang keluar. Mungkin karena sudah habis semalam, semua tangisan, semua perih, sudah mengering bersama hati yang patah.

Elena menggenggam erat tas kecil di pangkuannya, jari-jarinya gemetar setiap kali kenangan semalam terlintas.

"Aku akan menikahi wanita lain."

"Kau mandul."

"Tidak ada pria yang mau menerima perempuan sepertimu."

Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepalanya seperti gema yang tak mau pergi.

Tiga tahun pernikahan, dan hanya dengan beberapa kalimat, Raven menghancurkan segalanya.

Mobil berhenti di depan rumah besar bergaya klasik di pinggiran kota. Rumah yang dulu selalu menjadi tempat Elena pulang setiap kali dunia luar terasa terlalu kejam.

Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya sebelum turun.

Begitu kakinya melangkah ke halaman, pintu rumah langsung terbuka. Dari dalam, Ibu Elena, Clara Alverez, muncul dengan wajah khawatir.

"Elena!" serunya, langsung berjalan cepat menghampiri putrinya. "Oh Tuhan, Baby. Wajahmu kenapa? Kau menangis semalaman, ya?"

Elena berusaha tersenyum, tapi senyum itu lebih mirip guratan luka. "Aku ... aku ingin bicara, Mom. Dengan Dad juga."

Clara menatapnya cemas. "Masuk dulu, sayang. Ayahmu sedang di ruang kerja."

Begitu mereka masuk, aroma kopi hitam langsung menyambut. Di ruang kerja besar di sisi kanan rumah, Mr. Gerald Alverez, ayah Elena, sedang membaca koran sambil mengenakan kacamata baca. Pria itu berwibawa, berumur lima puluhan, dengan rambut yang mulai memutih di sisi pelipis, tapi masih memancarkan aura kuat seorang pebisnis yang disegani.

"Elena?" suara sang ayah dalam, sedikit terkejut. "Kenapa datang pagi-pagi begini? Bukannya kau biasanya baru datang saat akhir pekan?"

Elena berdiri di depan pintu, menunduk, dan air mata kembali menggenang di matanya.

Gerald langsung menaruh korannya, berdiri, dan berjalan cepat mendekati putrinya.

"Sweetheart, ada apa ini?" suara sang ayah lembut namun tegas.

Elena menggeleng, mencoba menahan tangis. Tapi bibirnya bergetar saat berkata, "Dad ... Mom ... Raven ...."

Clara langsung memeluknya. "Astaga, apa yang dilakukan Raven? Katakan padaku, Elena."

Dan di ruang kerja itu, Elena menceritakan segalanya.

Tentang Raven yang pulang membawa kabar kalau ia akan menikahi wanita lain bernama Jessy, dengan alasan keturunan. Bahwa dia sudah berselingkuh dengan wanita itu setahun belakangan.

Tentang bagaimana Raven mengaku kalau wanita itu sedang mengandung anaknya.

Tentang bagaimana Raven menyebut dirinya mandul, dan bahwa tak ada pria lain yang akan mau menerima perempuan seperti dirinya.

Dan tentang bagaimana Raven dengan kejam menolak perceraian, seolah semua ini hanya keputusan bisnis.

Setiap kata yang keluar dari mulut Elena membuat wajah Gerald dan Clara semakin tegang.

Hingga akhirnya, setelah Elena selesai, keheningan panjang memenuhi ruangan.

Clara menatap suaminya, matanya memerah. "Gerald ...."

Namun sang ayah sudah menggertakkan rahangnya, menahan amarah yang meletup-letup. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Anak itu ... berani memperlakukan putriku seperti ini?" suaranya serak tapi penuh tekanan. "Setelah semua yang keluarga kita lakukan untuknya?"

"Gerald, tenang dulu," kata Clara cepat, takut melihat wajah suaminya yang memerah karena marah.

"Tenang?!" bentak Gerald. "Bagaimana aku bisa tenang, Clara?! Elena adalah putri semata wayang kita! Dan pria itu-" ia menunjuk udara, nadanya bergetar oleh emosi, "-pria itu anak dari teman baikku sendiri! Aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri sejak kecil! Dan sekarang dia menghancurkan hidup putriku!"

"Gerald ...." Clara mencoba menenangkan, tapi suaminya sudah berjalan ke arah pintu.

"Aku akan ke rumahnya sekarang! Aku akan ajarkan dia arti menghormati perempuan!"

"Dad?!" seru Elena cepat, menahan lengan ayahnya sebelum sempat melangkah keluar. "Dad, jangan!"

Gerald menatap Elena, matanya masih menyala oleh amarah. "Kau ingin aku diam saja melihat dia mempermalukanmu begini, Elena? Menghina kau mandul di depan wajahmu sendiri?!"

Air mata Elena jatuh lagi, tapi ia menggeleng kuat. "Dad, please. Aku tidak mau Dad marah-marah ke rumah Raven. Aku tidak mau orang tahu. Aku tidak mau keluarga kita ikut tercoreng karena orang sepertinya."

Gerald terdiam, menatap putrinya lama. "Tapi, Sweetheart-"

Elena menatap ayahnya dengan mata basah. "Harga diriku sudah hancur, Dad. Jangan biarkan harga diri Dad ikut hilang karena dia."

Kata-kata itu menampar kesadaran Gerald dengan halus tapi keras. Ia menatap Elena yang kini berusaha tegar, meski seluruh tubuhnya masih bergetar karena luka batin yang belum sembuh.

Perlahan, kemarahan di wajah Gerald mulai mencair menjadi kesedihan yang dalam.

Ia menghela napas panjang, lalu menarik Elena ke dalam pelukannya.

Anak perempuannya yang dulu ia gendong dengan penuh kebanggaan kini menangis di dadanya seperti anak kecil. Gerald memeluknya lebih erat.

"Maafkan Daddy, Sweety," ucapnya pelan, menahan emosi. "Aku tidak menyangka Raven ... anak itu ... bisa setega ini. Ayah benar-benar tidak menyangka."

Elena hanya menangis dalam pelukan ayahnya, tanpa suara, tapi air matanya tak berhenti.

"Tenanglah, Sweety," lanjut Gerald. "Ayah janji, Ayah akan bantu urus perceraianmu. Kau tidak perlu menghadapi ini sendirian."

Clara yang berdiri di samping mereka ikut menitikkan air mata. Ia kemudian berkata dengan lembut, tapi penuh ketegasan, "Dan mulai hari ini, kau tidak usah kembali ke rumah Raven. Kau pulang saja ke rumah ini. Rumah orang tuamu. Kau tidak pantas tinggal di rumah pria yang sudah mengkhianatimu seperti itu."

Elena menatap ibunya, suaranya serak. "Tapi, Mom ... semua barang-barangku masih di sana."

"Ambil yang perlu," jawab Clara cepat. "Tapi jangan pernah lagi kau menetap di sana. Kami tidak ingin kau menanggung malu di bawah atap yang sudah ternoda oleh pengkhianatan."

Gerald menatap istrinya lalu mengangguk setuju. "Ibumu benar. Kembalilah ke rumah ini, Elena. Mulai hari ini, kau bukan lagi istri yang menunggu di rumah besar itu. Kau adalah putriku, Elena Alverez, dan Daddy akan pastikan nama baikmu tidak ternodai."

Elena mengusap air matanya, mencoba tersenyum walau lemah. "Terima kasih, Dad, Mom. Aku janji, aku akan kuat."

Clara menggenggam tangan putrinya erat. "Kau selalu kuat, Baby. Hanya saja kali ini ... jangan terlalu menahan diri. Kalau kau ingin menangis, menangislah. Tapi jangan biarkan air mata itu membuatmu lupa siapa dirimu."

Elena mengangguk. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian.

Setelah berbincang cukup lama, ia memutuskan untuk kembali ke rumah Raven sebentar, hanya untuk membereskan barang-barangnya.

"Aku tidak akan lama," katanya sambil berdiri. "Aku hanya ingin mengambil semua barangku dan pergi. Aku tidak akan menatap wajahnya lagi."

Gerald memegang bahunya. "Kau mau Daddy antar?"

Elena tersenyum lemah. "Tidak usah, Dad. Aku bisa sendiri."

Clara mengusap pipi putrinya lembut. "Hati-hati, ya. Dan kalau dia mencoba bicara atau menahanmu, jangan dengarkan. Kau tidak berutang apa pun pada pria seperti dia."

Elena mengangguk pelan, lalu berpamitan.

Sebelum keluar dari rumah, ia menatap kedua orang tuanya sekali lagi. Dalam hati, ia merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, kali ini ia tidak sendirian.

Perjalanan menuju rumah Raven terasa panjang dan menyesakkan. Setiap bangunan, setiap jalan yang mereka lalui dulu bersama terasa asing sekarang. Seperti kota yang sama sekali berbeda, karena cinta yang dulu menghiasi setiap sudutnya telah lenyap.

Begitu sampai di rumah, Elena masuk dengan kunci cadangan yang masih ia pegang. Rumah itu sunyi, hanya suara jam di dinding yang terdengar. Aroma parfum Raven masih samar di udara, membuat dadanya perih.

Tanpa membuang waktu, ia langsung masuk ke kamar. Ia membuka lemari dan mulai memasukkan pakaian ke koper. Beberapa foto pernikahan mereka masih tergantung di dinding, wajah mereka tersenyum bahagia dalam balutan jas dan gaun putih.

Elena menatap foto itu lama, lalu mengambilnya. Ia merobeknya perlahan, potongan demi potongan, hingga hanya serpihan kecil yang tersisa di lantai.

"Cukup sudah," ucap Elena. "Aku tidak mau mengingatmu lagi."

Ia menatap ruangan itu untuk terakhir kalinya, memastikan tak ada lagi barang penting tertinggal. Setelah semuanya selesai, Elena menutup koper dan menarik napas panjang.

Ini bukan rumahnya lagi.

Sebelum pulang ke rumah orang tuanya, perutnya tiba-tiba terasa kosong.

Elena sadar belum makan apa pun sejak malam sebelumnya. Kepalanya mulai pusing, dan perutnya terasa melilit. Ia tidak ingin tumbang. Tidak sekarang, ketika ia harus tetap kuat.

Maka ia memutuskan untuk singgah di sebuah kafe terbuka yang berada di pinggir taman kota. Tempat itu sederhana, dengan meja-meja kayu dan aroma kopi yang menenangkan.

Ia memilih duduk di sudut, di bawah payung besar. Pelayan datang membawakan menu, dan Elena memesan seporsi sup jagung dan roti panggang.

Sambil menunggu, ia memejamkan mata sejenak, mencoba menikmati hembusan angin yang lembut. Suara tawa anak-anak di taman terdengar samar, membuat dadanya terasa hangat, sekaligus perih.

Elena membuka mata, menatap ke arah taman kecil di depan kafe. Ada anak-anak kecil berlarian sambil membawa balon.

Salah satu dari mereka tersandung, lalu bangkit lagi sambil tertawa. Elena tersenyum tipis melihatnya.

"Menjadi ibu ... aku juga sangat ingin, Raven," gumam Elena.

Matanya mulai berair lagi, tapi sebelum air mata itu sempat jatuh, suara kecil memotong lamunannya.

"Mama?"

Elena terkejut. Suara tersebut lembut, polos, tapi cukup jelas untuk membuat Elena menoleh spontan.

Di samping kursinya berdiri seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun. Rambutnya pirang keemasan, kulitnya pucat, dan matanya biru jernih, memandang Elena dengan ekspresi bingung sekaligus senang.

Elena memandangnya heran. "A-apa? Kau bilang apa tadi, Kid."

Bocah itu tersenyum lebar, menatapnya tanpa ragu. Tangannya yang mungil memegang ujung mantel Elena dengan erat.

"Mama ...," kata sang bocah lagi, suaranya lembut tapi yakin.

Elena membeku di tempat. Seluruh tubuhnya terasa dingin seketika, jantungnya berdetak tak beraturan.

"Mama?" ulang bocah itu sambil menarik sedikit mantelnya, seperti takut Elena akan pergi. "Kau ... Mama, kan?"

Elena menatap anak itu dengan mata membesar. Ia tidak mengenali wajahnya, tapi ada sesuatu dalam tatapan bocah itu yang anehnya terasa ... familiar.

"Kau siapa, Kid?” tanya Elena akhirnya, suaranya bergetar.

Anak itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, lalu menatap Elena dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. "Mama, aku kangen ...."

Elena terdiam, lidahnya kelu, tidak tahu harus berkata apa. Sementara angin siang berhembus pelan, membawa aroma kopi dan bunga yang tiba-tiba terasa begitu asing.

Dan di detik itu, Elena tahu ... hidupnya yang semula hancur karena pengkhianatan Raven, baru saja akan berubah arah, sekali lagi.

BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO

Elena meneguk air putih, mencoba menenangkan getar di dadanya. Ia harus kuat. Ia harus bercerai. Tidak ada jalan lain bagi seorang perempuan yang dikhianati seperti dirinya. Ia masih punya harga diri sebagai seorang wanita, tentu tidak akan menerima pengkhianatan kotor seperti itu ketika Elena dibesarkan dengan cinta dan kesetiaan kedua orang tuanya.

Baru saja ia meletakkan gelas di meja untuk menenangkan air mata yang mulai menggenang, sebuah tarikan kecil di ujung mantelnya membuat Elena terkejut.

Elena menunduk. Seorang bocah kecil, mungkin berusia lima tahun, berdiri di sebelah kursinya. Rambutnya pirang keemasan, matanya biru jernih seperti langit musim semi. Wajahnya tampan dengan pipi gembul kemerahan dan senyum kecil yang terlihat kikuk.

"Mama ...," ucap bocah itu pelan, suaranya serak karena menahan tangis.

Elena mengerjap, kebingungan. "A- apa yang kau katakan, Kid."

"Mama, aku kangen...." Bocah itu kini memeluk lutut Elena, seolah takut Elena akan pergi.

Elena tersentak, buru-buru menunduk. "Baby, kau salah orang. Aku bukan mama-"

Belum sempat kalimat itu selesai, bocah itu mulai menangis keras. Tangisnya tidak seperti rengekan manja anak kecil biasa, tapi tangis yang dalam, menyayat, penuh kehilangan.

Beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka, membuat Elena panik. Ia bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian, apalagi karena hal seperti ini.

"Hey ... hey, jangan menangis, Sayang," ucapnya lembut, berjongkok agar sejajar dengan si bocah. "Ssst ... jangan menangis ya. Mata dan tenggorokanmu akan sakit kalau menangis."

Namun tangisan itu justru semakin kencang. Bocah itu menunduk, air matanya menetes di atas sepatu kecilnya yang tampak kotor oleh debu.

Elena menghela napas. Ia tak punya hati untuk mengabaikan anak sekecil ini. Tanpa pikir panjang, ia menunduk, mengangkat bocah itu, dan mendudukkannya di pangkuan Elena. Ia menepuk-nepuk punggung mungilnya dengan lembut, seperti yang sering dilakukan ibunya dulu saat Elena kecil dan sedang menangis karena hal sepele.

"Sudah, jangan menangis lagi. Lihat, semua orang melihat ke sini," bisik Elena lembut.

Bocah itu masih terisak, tapi perlahan tangisnya mereda. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Elena, seolah merasa aman di sana.

Elena tak tahu kenapa, tapi pelukan kecil itu menimbulkan sesuatu dalam dirinya, rasa lembut yang menekan sakit hatinya untuk sementara waktu. Seakan bocah ini, dengan cara yang aneh, menenangkan jiwanya yang koyak.

Setelah beberapa saat, bocah itu mengangkat wajahnya. Pipinya masih basah, tapi matanya mulai cerah kembali.

"Namamu siapa?" tanya Elena lembut, menyeka air mata di pipi bulat itu dengan tisu.

"Theo," jawab bocah itu lirih.

"Theo?" Elena tersenyum samar. "Nama yang bagus. Jadi, kenapa kau memanggilku 'Mama', Theo?”

Theo menatap wajah Elena lama, seolah sedang mencari sesuatu di sana. "Papa bilang ... Mama cantik. Kalau aku lihat perempuan cantik seperti Mama, berarti itu Mama."

Elena hampir tertawa, tapi senyumnya lebih banyak mengandung iba daripada geli. "Oh ya? Papa bilang begitu?"

Theo mengangguk mantap, matanya berbinar. "Iya! Papa bilang Mama pergi jauh, tapi suatu hari Theo pasti ketemu Mama lagi. Jadi waktu lihat Mama, Theo langsung tahu. Ini pasti Mama Theo!"

Elena terpaku. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, bercampur pilu. Anak sekecil ini ... begitu merindukan sosok ibunya hingga ia menganggap siapa pun yang sedikit mirip penjabaran abstrak dari ayahnya adalah ibu bocah ini.

"Aku bukan Mama Theo," ucap Elena hati-hati.

Theo langsung menunduk, wajahnya kembali murung. "Theo nakal ya? Theo bikin Mama marah?"

Elena terdiam. Ia menatap wajah polos itu, mendengar suara kecil yang bergetar ketakutan.

"Theo janji enggak nakal lagi, Mama jangan tinggalin Theo, ya? Theo tidak mau sendirian lagi," ucap Theo dengan isakan.

Kalimat itu menghancurkan pertahanan Elena sepenuhnya. Ia menghela napas panjang dan menarik Theo ke dalam pelukannya lagi, kali ini lebih erat.

"Tidak, Sayang. Aku tidak marah. Jangan menangis, ya?" katanya lembut sambil mengusap rambut lembut bocah itu.

Beberapa pengunjung tersenyum melihat pemandangan itu, mengira mereka benar-benar ibu dan anak. Elena tidak peduli. Entah kenapa, pelukan anak kecil ini memberinya ketenangan yang tidak bisa diberikan siapa pun.

"Aku cuma ingin tahu ...Theo di sini sama siapa?" tanyanya perlahan.

Theo menunjuk ke arah taman di seberang jalan. "Sama Papa. Tapi tadi Theo kejar balon warna biru, terus balonnya terbang, Theo kejar ... terus Papa hilang."

Elena menatap arah yang ditunjuk Theo. Di sana banyak orang lalu-lalang, tapi tak ada satu pun yang tampak mencari anak kecil.

"Aku bukan Mama, tapi aku bisa bantu cari Papa, ya?"

Theo menggeleng cepat, matanya membulat panik. "Tidak! Theo tidak mau ditinggal Mama lagi!"

Nada suaranya begitu takut hingga Elena merasa jantungnya mencelos. Ia berusaha menenangkan, mengelus punggung Theo lembut.

"Tenang, aku tidak akan pergi, Sayang. Aku di sini, oke? Tapi kita harus cari Papa kamu juga. Papa pasti panik." ucap Elena lembut.

Theo mengangguk pelan, meski matanya masih dipenuhi air mata yang belum sempat jatuh.

Untuk beberapa saat mereka hanya duduk di sana. Elena memesan segelas jus jeruk untuk Theo, dan bocah itu meminumnya dengan hati-hati, sesekali mengangkat wajah untuk memastikan Elena masih di sana.

Mungkin Tuhan sedang mengirimkan seseorang untuk mengingatkannya bahwa di dunia ini masih ada hati yang lebih murni dari luka, dan hari ini, wujudnya adalah bocah bernama Theo.

"Mama?" bocah itu memanggil lirih. "Mama suka balon?"

Elena tersenyum kecil. "Suka. Tapi aku lebih suka melihat Theo tersenyum."

Theo terkekeh pelan. Tawanya jujur, polos, dan entah kenapa mampu membuat Elena tertawa kecil juga.

Untuk beberapa menit, waktu seolah berhenti. Dunia mereka berdua terasa begitu damai di tengah hiruk pikuk kota. Elena mendengarkan Theo bercerita tentang balon birunya, tentang rumahnya yang katanya besar tapi sepi, dan tentang Papa-nya yang sibuk bekerja.

"Papa baik," katanya sambil mengunyah potongan kecil kue yang Elena pesan untuknya. "Tapi Papa sering marah kalau Theo keluar rumah. Katanya banyak orang jahat di luar."

"Oh, begitu," sahut Elena pelan, memandang anak itu dengan iba.

Theo menatapnya lagi. "Tapi Papa bilang ... kalau Mama ketemu Theo, Mama pasti sayang sama Theo, ya kan?"

Elena tidak mampu menjawab. Ia hanya tersenyum samar, mengelus pipi gembul bocah itu, lalu berbisik pelan, "Tentu saja, Sayang. Siapa pun yang jadi Mama Theo, pasti sayang sekali sama Theo."

Theo tersenyum lega, matanya berbinar seperti langit cerah setelah hujan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

"Theo?!" Sebuah suara berat, tegas, namun juga terkejut terdengar dari belakang.

Elena menoleh.

Langkah seseorang mendekat cepat. Sosok tinggi besar dengan jas hitam rapi dan aura berwibawa yang tidak asing baginya. Rambut hitamnya tertata, wajahnya tegas dan dingin, sama seperti dulu.

Elena terpaku. Dunia seolah berhenti berputar sesaat ketika matanya benar-benar mengenali pria itu.

Hans Morelli.

Nama itu bergema di kepalanya. Rival lamanya di dunia bisnis, pria ambisius yang dulu selalu bersaing dengan Elena sejak masa kuliah, dan kini pemilik perusahaan besar yang menjadi pesaing utama Raven Wattson.

Tapi apa yang paling mengejutkan bukanlah kemunculannya di tempat itu ... melainkan kenyataan bahwa Theo berteriak memanggil pria itu.

"Papa!" seru Theo riang, melambaikan tangan kecilnya.

Elena membeku di tempat. Dunia seperti berputar balik begitu cepat hingga ia kehilangan arah.

Hans menatap Elena dengan tatapan tajam dan heran sekaligus dingin.

"Kau menculik anakku?" tuduh Hans.

Elena terperangah. "Huh?" repsonnya.

Namun Hans tidak memberi waktu untuk menjawab. Ia mendekat, langkahnya berat dan pasti, menatap Elena seolah siap menuntut penjelasan atas dosa besar yang belum sempat wanita itu pahami.

Dan saat itu, di bawah tatapan tajam pria yang dulu pernah menjadi bagian dari masa lalunya, Elena hanya bisa terdiam, antara terkejut, bingung, dan tak tahu harus berkata apa.

Untuk sesaat, tak ada satu pun yang berbicara. Hanya suara detak jam kafe dan napas tercekat Elena yang terdengar di antara ketegangan itu.

Sampai akhirnya, Hans kembali membuka suara, suaranya dalam dan dingin, "Jelaskan, Elena. Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan dengan anakku?"

Nada itu membuat Elena mengerutkan dahi dan mengepalkan tangan, bersiap memukul sang pria atas tuduhannya barusan. Namun sesuatu menahannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!