Indonesia
NovelToon NovelToon

Gadis Milik Raja Macau

Bab 1

Seorang gadis menerima hukuman dari sang ayah, Mic Yun, yang menggunakan rotan untuk memukul kaki putrinya, Poppy Yun.

"Aahh! Papa, jangan pukul lagi. Nanti kalau meninggalkan bekas, pria mana yang mau menikahiku?" ujar gadis itu sambil menggerutu.

"Kenapa kau menolak lamaran mereka? Apa salahnya keluarga Huo? Mereka adalah keluarga terpandang di Macau. Andy ingin menikahimu, itu adalah keberuntunganmu," kata Mic dengan nada kesal.

"Iya, Pa. Aku akan ke Macau dan bahas masalah pernikahan dengannya," ucap Poppy yang hanya bisa patuh.

"Hm... baiklah kalau begitu, Papa memaafkanmu. Ingat, bersikaplah layaknya seorang anak gadis. Jangan berkelahi dengan siapa pun di sana. Macau bukan tempat sembarangan yang bisa bertindak sesuka hatimu," kata Mic.

"Iya, Pa," jawab Poppy pelan.

"Menikah? Dasar Andy sialan! Kalau bukan karenamu, aku tidak akan dirotan enam kali sebulan. Apa hebatnya keluarga Huo? Terpandang? Lalu kenapa?" batin Poppy kesal.

Poppy adalah putri dari Mic Yun, seorang pebisnis yang terkenal dengan sikap tegas dalam mendidik anak. Ia adalah anak tunggal keluarga Yun yang tumbuh besar tanpa kasih sayang dari ibunya, yang telah hilang sejak Poppy masih kecil. Selama ini, ia hanya hidup bersama sang ayah yang lebih fokus pada bisnis dan selalu mengawasi putrinya dengan ketat.

"Tiket sudah disediakan. Besok kau bisa berangkat," ujar Mic sambil memberikan tiket kepada putrinya.

"Papa, transfer uang lagi ke rekeningku. Aku butuh mempercantik diri untuk tampil di depan calon suami dan mertuaku," pinta Poppy sambil memanjangkan tangan.

Mic memberikan kartu itu tanpa ragu.

"Ingat, jangan foya-foya. Gunakan uang dan perhiasanmu untuk mempercantik diri, agar bisa menarik perhatian Andy," ujar Mic.

"Iya, Pa. Aku akan selalu ingat pesan Papa," jawab Poppy.

"Baiklah, anak gadis memang harus seperti ini. Jangan mempermalukan dirimu dan keluarga kita. Ada lagi, kau juga akan pindah kerja di sana. Papa sudah menghubungi atasanmu untuk bergabung dengan perusahaan Macau. Dengan begitu kau bisa lebih sering bertemu dengan Andy!"ujar Mic.

"Iya," jawab Poppy dengan senyum paksa.

“Dengan uang ini aku bisa makan enak di Macau dan belanja apa saja yang aku suka. Jangan harap aku mempercantik diri demi pria hidung belang itu. Karena dia juga ... aku harus pindah kerja dan tinggal di sana dengan waktu yang lama," batin Poppy, sambil tersenyum kecil.

Keesokan Harinya

Kapal pesiar mewah itu dipenuhi oleh ratusan penumpang. Poppy membawa kopernya dan melangkah masuk ke dalam kapal, bergabung bersama para penumpang lainnya yang berdesakan menuju kabin masing-masing.

Di salah satu kamar yang dijaga ketat oleh dua penjaga, tampak seorang pria duduk di kursi roda. Ia mengenakan kemeja putih dan sedang merokok sambil menatap keluar jendela yang terbuka. Di sampingnya, seorang wanita cantik berdiri dengan wajah khawatir — dia adalah dokter pribadinya.

“Tuan Huo, kurangi rokok Anda. Tidak baik untuk kesehatan,” ucap wanita itu, Aida Lu.

“Merokok adalah nyawaku, kau tahu itu,” jawab pria itu dingin. Dialah Leon Huo, pemilik kasino terbesar sekaligus gangster paling ditakuti di Macau.

“Tuan, seluruh kapal sudah diselidiki. Ada beberapa orang yang mencurigakan. Kami khawatir mereka mungkin menyelundupkan senjata api ke kapal ini. Bisa jadi mereka berniat membajak kapal,” lapor asistennya, Vic.

“Siapa pun mereka, berarti musuh kita. Tetap awasi, dan jangan sampai ada yang terlewat,” perintah Leon tegas.

“Baik, Tuan. Malam ini ada pertandingan biliar, apakah Anda berminat?” tanya Vic.

“Hm,” gumam Leon pelan, matanya masih menatap ke laut luas yang bergelombang.

Di sisi lain, sekelompok orang di dalam kamar sedang memeriksa senjata mereka dengan serius. Terlihat enam pria bertubuh kekar; beberapa berdiri tegap, sementara yang lain duduk di sofa dan di ujung ranjang, menatap tajam ke arah bos mereka.

"Bos, Leon Huo ada di kapal ini. Kakinya sampai sekarang masih belum sembuh. Dia lumpuh dan hanya bisa duduk di kursi roda," lapor salah satu pria dengan suara tegas.

"Menarik! Dia hanya mengandalkan anak buahnya. Kita bisa langsung membunuhnya dan menguasai wilayah serta posisinya. Leon Huo, penguasa kasino di Macau—kalau dia mati di tangan kita, kita akan menjadi gangster terkuat di Macau," ujar bos mereka dengan penuh ambisi.

"Mari kita bersiap!" perintahnya sambil berjalan ke kamar, diikuti oleh anak buahnya. Mereka memasuki lift, dan secara kebetulan, Poppy yang tidak tahu apa-apa juga ikut masuk. Ia berdiri santai di hadapan mereka.

"Aku sedang dalam perjalanan. Tunggu aku di sana. Aku ingin main-main dulu sampai puas di kapal ini," kata Poppy sambil mengunyah permen karet, kemudian memutuskan panggilannya. Ia memasang lagu di earphone kecilnya, menutupi telinga dengan santai.

“Semua pria di dunia ini brengsek, tukang selingkuh. Papa masih mau aku nikah sama dia? Jangan mimpi. Aku habiskan uangmu malam ini, biar papa kena serangan jantung,” gerutu Poppy tanpa sadar, Enam penjahat itu terdiam sejenak, mata mereka tertuju padanya dengan pandangan tajam.

"Bermain dengan banyak wanita dan masih ingin menikah denganku, aku doain kau tidak punya keturunan dan impoten. Lihat saja di malam pengantin, aku akan mengebirimu hingga habis. Biar keluargamu putus keturunan, "ucap Poppy yang tidak menyadari keberadaan enam pria yang berdiri di belakangnya.

Bab 2

Enam pria di belakangnya terus mengawasi Poppy, yang tampak tenggelam dalam lagunya.

"Aman, dia cuma gadis kecil manja," bisik salah satu pria, suaranya penuh meremehkan.

"Aku dengar Leon Huo akan menghadiri pertandingan biliar. Saat itulah waktu yang tepat untuk menghajarnya," sahut yang lain, matanya berkilat saat membayangkan rencana mereka.

"Senjata api dan tajam sudah siap. Kita bunuh diam-diam ... satu per satu, tak ada yang tahu," tambah rekan mereka, suaranya datar namun penuh ancaman.

"Kita ada mata-mata di sisinya. Jadi sangat mudah untuk kita melenyapkan dia. Lagi pula dia sudah lumpuh bertahun-tahun. Malam ini kapal ini akan menjadi tempat pemakamannya" mereka saling tersenyum seram.

Lalu salah seorang dari mereka melangkah maju, langkah pendek dan tenang menuju Poppy yang masih asyik menatap panel lantai lift. Tanpa banyak basa-basi ia meraih bagian kabel earphone yang menjuntai, hendak menariknya dari telinga Poppy untuk melihat reaksi.

Poppy terkejut ketika kabelnya tersentak. Ia menoleh pelan, wajahnya berubah dari asyik menjadi waspada dalam hitungan detik. Tatapan gadis itu tajam.

Pria itu segera menempelkan telinga ke kabel earphone, memastikan gadis itu benar-benar mendengarkan lagu dan tak mendengar pembicaraan mereka.

"Paman, apa orang tuamu tak pernah mengajarkan sopan santun? Walau paman suka dengan laguku, setidaknya minta izin dulu," sindir Poppy tajam, menatap pria itu tanpa ragu.

"Nona, maaf. Temanku cuma penasaran,bdia pencinta musik," sahut rekanannya cepat.

Poppy merebut kembali kabel earphone. Saat itu pintu lift terbuka.

"Lain kali jangan seperti ini lagi!" katanya sambil melangkah keluar, nada masih menyimpan sarkasme.

Enam pria itu terhenyak sejenak oleh ucapannya.

"Gadis kecil itu mengatakan kau tidak sopan," ejek salah satu rekannya.

"Aku hanya ingin memastikan apakah dia mendengar pembicaraan kita atau tidak," jawab pria yang tadi.

"Lalu hasilnya?" tanya yang lain.

"Dia lagi mendengar lagu Andy Lau," jawab pria itu, agak kesal tapi juga lega.

"Ternyata dia fans Andy Lau. Baik, kita lanjutkan rencana. Malam ini kita harus ekstra waspada!" perintah bos mereka, wajahnya kembali dingin.

Di sisi lain, Poppy melangkah ke toilet wanita dan menghubungi nomor yang dituju.

"Halo, Poppy. Ada apa?" suara seorang wanita terdengar di seberang telepon.

"Liza, siapa Leon Huo?" tanya Poppy pelan, suaranya berbisik.

"Leon Huo? Dia gangster paling ditakuti di Macau ... pemilik kasino terbesar di sana. Orang sana tidak berani menyebut namanya sembarangan. Mereka semua memanggilnya tuan Huo. Kenapa tiba-tiba tanya tentang dia?" Liza terdengar khawatir.

"Nyawaku hampir melayang kalau bukan karena aktingku. Ada enam pria yang ingin membunuh Leon Huo, menakutkan sekali," jawab Poppy.

"Hah… Poppy, kau harus jauhkan dirimu dari mereka. Ini urusan dunia bawah, kita tidak bisa terlibat. Lebih baik kau sembunyi di kamar. Kapalnya sudah berangkat?" Liza memperingatkan.

"Sudah. Aku tidak bisa tidur tenang. Aku telah mendengar semua pembicaraan mereka. Aku cuma takut kalau Leon Huo sampai tewas, kita semua bisa mati, kapal ini bisa jadi kuburanku, " jawab Poppy.

"Lalu, apa rencanamu? Kapal sudah berangkat, kau tak bisa turun lagi," tanya Liza khawatir.

"Dari pada aku diam saja, lebih baik aku ikut nonton pertandingan biliar. Siapa tahu bisa cari kesempatan untuk menemui Leon Huo," jawab Poppy dengan nada santai.

"Poppy Yun! Jangan sembarangan! Leon Huo bukan orang yang bisa didekati siapa pun. Bahkan wanita cantik pun sulit mendekatinya ... apalagi kau, cuma gadis kecil!" seru Liza panik.

"Usiaku sudah dua puluh dua, bukan anak kecil lagi. Sudahlah, aku ingin bersenang-senang sambil mengawasi mereka," kata Poppy, lalu memutus sambungan teleponnya.

Ia menggumam pelan, “Ada mata-mata di samping Leon Huo… dia lumpuh dan duduk di kursi roda. Berarti aku harus mencari pria yang duduk di kursi roda.”

***

Di sisi lain, ruang biliar di kapal mewah itu penuh dengan tamu dan peserta yang ikut bertanding. Sorakan dan tawa bercampur dengan dentingan bola biliar yang saling bertabrakan.

Di antara kerumunan penonton, tampak Leon Huo — duduk tenang di kursi roda, mengenakan kemeja hitam dan jas hitam. Tatapannya dingin, nyaris tanpa ekspresi. Di belakangnya, dua pria berjas hitam berdiri tegak, jelas para pengawal pribadinya. Aida Lu sebagai Dokter pribadi duduk di sampingnya.

Sementara itu, enam penjahat yang mengincarnya mengawasi dari kejauhan. Mereka berbaur di antara para tamu, berpura-pura menikmati suasana pertandingan sambil menunggu waktu yang tepat.

"Target di depan mata," bisik salah satu dari mereka.

"Tunggu aba-aba dari bos. Satu gerakan salah, kita semua bisa mati," jawab yang lain pelan.

Leon Huo masih duduk dengan tenang, jarinya mengetuk perlahan pegangan kursi rodanya. Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kekhawatiran — seolah ia sudah tahu akan ada yang datang untuknya malam itu.

Poppy berdiri di antara kerumunan penonton yang memenuhi ruang biliar. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan, mencari sosok pria yang duduk di kursi roda seperti yang disebut Liza. Tak lama kemudian, pandangannya tertumbuk pada kursi roda hitam elegan di baris depan.

Namun, dua pria bertubuh besar berdiri di sisi kanan dan kiri kursi itu, menutupi pandangan siapa pun yang ingin melihat pemiliknya.

"Dia pasti Leon Huo… tapi aku tak bisa lihat wajahnya," gumam Poppy pelan, berusaha melongok di antara bahu orang-orang di depannya.

Sementara di meja sampingnya, terdapat tumpukan camilan dan buah segar. Tanpa ragu, Poppy mengambil sebuah apel merah, menggigitnya dengan santai, matanya tetap terpaku ke arah permainan biliar yang sedang berlangsung di tengah ruangan.

Dentuman bola biliar terdengar nyaring, membuat suasana semakin tegang. Semua mata tertuju pada meja permainan—kecuali Poppy, yang diam-diam memperhatikan setiap gerak tubuh para pengawal Leon Huo.

“Bagaimana caranya mendekatinya? Pengawalnya banyak sekali,” gumamnya pelan, menggigit apel lagi sambil berpikir keras.

Bab 3

Poppy menatap ke arah meja biliar di sisi ruangan yang kosong. Bibirnya membentuk senyum kecil.

"Sudah lama aku tidak main biliar, kalau bukan karena Papa yang selalu mengawasiku dengan keta," gumamnya pelan.

Ia berjalan santai ke meja itu, lalu mulai menyusun bola-bola seperti semula. Beberapa orang menoleh, penasaran dengan gadis yang tiba-tiba ikut bermain.

Poppy mengambil tongkat biliar dan menggosok ujungnya dengan kapur. Gerakannya tenang, seolah sudah biasa.

Dari kursi roda di baris depan, Leon Huo memperhatikan tanpa ekspresi.

"Siapa dia? Kenapa tiba-tiba main di sini?" tanya Aida Lu dengan nada sinis.

"Hanya gadis kecil yang suka bermain," jawab Leon datar.

Poppy membungkuk sedikit dan memukul bola putih. Suara benturannya keras dan tepat sasaran—beberapa bola masuk sekaligus.

Penonton yang semula fokus pada pertandingan utama mulai menoleh. Suasana ruangan berubah.

Poppy hanya tersenyum tipis dan melanjutkan permainannya, tanpa sadar kalau dari kejauhan, Leon Huo masih terus memperhatikannya.

Aida yang duduk di samping Leon memperhatikan tatapan pria itu yang terus mengarah pada gadis di meja biliar. Rasa kesal muncul di wajahnya. Ia pun berdiri.

“Tuan, saya ingin bermain dengan nona itu,” katanya datar tapi terdengar menahan emosi.

Leon tidak menoleh. “Silakan,” jawabnya singkat.

Aida melangkah ke arah Poppy dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Sementara itu, di sisi lain kapal, salah satu dari enam penjahat bergerak menuju bagian depan. Ia menodongkan pistol ke arah anak buah kapal dan kapten yang sedang mengemudi.

“Diam. Jangan bergerak kalau tidak mau mati,” ancamnya pelan namun tegas.

Anak buah kapal itu menelan ludah, tangan mereka terangkat perlahan. Di luar, pesta dan sorak penonton masih berlanjut — tak ada yang menyadari kalau kapal mewah itu baru saja dikuasai oleh penjahat bersenjata.

Beberapa saat kemudian pertandingan dua wanita itu dimulai.

Aida membuka permainan dengan percaya diri. Beberapa kali tembakannya berhasil, sampai hanya tersisa tiga bola di meja — bola 7, 8, dan 9, sedangkan bola putih berada jauh di sisi kiri meja.

Aida menunduk, membidik bola 7 yang terhalang bola 8, lalu melepaskan tembakan.

“Clack!”

Bola putih meleset tipis, bola 7 hanya berputar sedikit dan berhenti di tepi lubang.

“Sayang sekali,” gumam penonton pelan.

Kini giliran Poppy. Ia berjalan pelan mendekati meja, menatap posisi bola, lalu memutar tongkat di tangannya.

Bola 7 ada di sisi kanan bawah, bola 8 di tengah, dan bola 9 di pojok kiri atas — posisi sulit untuk diselesaikan dalam satu giliran.

Tanpa banyak bicara, Poppy menunduk dan menembak bola putih dengan ayunan ringan.

Tok!

Bola putih memantul ke sisi meja, mengenai bola 7 yang masuk ke lubang kanan bawah, lalu memantul lagi ke tengah dan mengenai bola 8, bola 8 masuk ke lubang tengah kanan.

Penonton bersorak kagum.

Poppy tersenyum kecil, memutar tongkatnya sekali lagi.

Satu bola terakhir, bola 9 masih jauh di pojok kiri atas.

Ia membidik dengan tenang, lalu melepaskan tembakan putar.

Bola putih berbelok halus, menghantam bola 9 dengan sudut sempurna.

“Plak!”

Bola 9 bergulir perlahan… dan masuk ke lubang pojok.

Penonton bertepuk tangan, sebagian berdiri karena tak percaya.

Leon Huo menatap gadis itu dengan pandangan tajam namun penuh rasa ingin tahu.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Raut wajah Aida langsung berubah pucat. Tangannya mengepal menahan amarah dan malu.

“Gadis kecil itu berhasil mengalahkan mantan juara dua,” ucap Vic tak percaya, masih menatap meja biliar.

Leon tersenyum samar sambil memutar cincin di jarinya.

“Sayang sekali kalau dia tidak ikut turnamen resmi,” katanya tenang.

Namun belum sempat suasana kembali normal—

Dor! Dor! Dor!

Tiga kali suara tembakan menembus udara. Suara kaca pecah terdengar beruntun ketika peluru menghantam gelas-gelas di meja bar, lampu gantung di atas arena biliar, dan salah satu sisi meja biliar tempat Poppy berdiri tadi.

“Semua menunduk!” teriak salah satu penjahat dengan suara menggelegar.

Kepanikan langsung melanda ruangan. Para penonton berteriak histeris dan berlarian ke arah pintu keluar, sementara beberapa bersembunyi di balik kursi dan meja.

Aida spontan menjerit dan langsung meraih Leon, melindunginya dengan tubuh sendiri. Para pengawal Leon segera bergerak cepat, membentuk formasi di depan, kiri, dan kanan sang tuan.

Sementara itu, Poppy yang terkejut nyaris terpeleset, buru-buru merunduk dan bersembunyi di balik meja biliar yang sebagian permukaannya sudah retak terkena peluru. Napasnya memburu, jantungnya berdetak keras.

Ia menatap dari celah meja, berusaha melihat arah datangnya tembakan.

Bos penjahat itu berdiri di depan Leon dengan langkah percaya diri, menantang semua yang ada di sekitarnya.

“Kalian semua jangan coba-coba cari masalah. Targetku cuma satu, Leon Huo. Leon Huo ... hari ini adalah hari kematianmu,” ujarnya lantang.

Leon menatapnya tenang, suaranya datar. “Kalau kau ingin nyawaku melayang, apakah kau mau membuat semua orang di sini ikut mati bersamaku?”

“Leon Huo, jangan salahkan aku. Kalau bukan karena kapal ini, mana mungkin aku punya kesempatan mengambil nyawamu,” jawab pria itu sambil menoleh pada anak buahnya.

Leon menarik napas pendek, matanya mengerut sedikit. “Hebat. Tidak banyak yang tahu keberadaanku. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati.”

Bos penjahat itu mengangkat suara, niatnya semakin jelas dan menakutkan. “Nasib mereka berarti mereka harus mati bersamamu. Kapal ini sudah berhenti ... kaptennya sudah aku bunuh. Setelah kami membunuhmu, kapal ini akan kami ledakkan.”

Kata-kata itu membuat udara di ruangan semakin dingin. Kepanikan tercium di antara para penumpang yang bersembunyi; beberapa orang menangis, beberapa membeku.

Di balik meja biliar, Poppy menahan napas. “Datang ke sini mau bersenang-senang, malah jadi korban,” gumamnya pelan, jantungnya berdetak kencang.

Di dek atas, seorang sniper yang menjadi sekutu Leon mengunci bidikan pada bos penjahat itu. Kamera kecil di ujung teleskopnya memperlihatkan target jelas. Lalu pelatuk ditekan.

Dor.

Tembakan itu menembus udara—melesat tepat mengenai kepala bos penjahat. Darah menyembur, pria itu langsung mati di tempat.

“Sial!” salah seorang anak buahnya berteriak sambil menembak balik ke arah dek atas. Suara tembakan membalas memecah kebisingan; percikan kaca dan serpihan meja beterbangan.

Tembakan terus berbalas dari dua arah. Para penjahat fokus membidik ke atas, ke arah sniper yang bersembunyi di dek. Sementara itu, semua pengawal Leon maju serentak, menembak ke arah lawan mereka dari posisi perlindungan.

Dor! Dor! Dor!

Baku tembak pecah di dalam ruang biliar. Suara peluru memantul di dinding dan kaca pecah berhamburan. Penumpang berteriak ketakutan, sebagian menunduk di bawah meja, sebagian lain mencoba merangkak ke arah pintu keluar.

Beberapa peluru nyasar mengenai penonton—ada yang terluka, bahkan ada yang tewas di tempat. Suasana berubah kacau.

Saat salah satu penjahat menembak ke arah penumpang yang sedang merangkak, Leon meraih pistol dari dalam jasnya dan berdiri tegak.

Dor!

Tembakannya tepat mengenai dada penjahat itu. Tubuh pria itu langsung terjatuh dan tak bergerak.

Kekagetan melanda semua pihak. Salah satu penjahat yang masih bersembunyi di balik tiang berteriak, “Bukankah kau cacat?! Kenapa bisa berdiri?!”

Namun Leon tidak menjawab. Tatapannya tajam, dingin, dan fokus pada target berikutnya. Ia menembak lagi ke arah salah satu musuh yang mencoba mendekat.

Di saat Leon fokus pada musuhnya, dari belakang Aida perlahan mengeluarkan pistol kecil dari balik bajunya. Ia menodongkan senjatanya ke arah Leon tepat di punggung pria itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!