Indonesia
NovelToon NovelToon

Dendam Arwah Istri Muda

Lasmini si kembang Desa

Pagi itu, mentari di Desa Pandan Sari bersinar malu-malu, menembus celah-celah daun jati. Udara masih sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Lasmini, si gadis kembang desa yang namanya selalu menjadi bisikan pujian para pemuda, melangkah anggun di pematang menuju kebun milik Juragan Karso. Rambutnya yang hitam legam tergerai sebahu, sesekali tertiup angin lembut. Wajahnya yang polos tanpa polesan, benar-benar secerah dewi bulan, dan lekuk tubuhnya yang indah bak gitar Spanyol tak pelak membuat siapapun yang memandang pasti terkesima. Ia membawa bekal untuk kedua orang tuanya yang sejak subuh sudah bekerja keras di ladang.

Tepat di bawah pohon trembesi besar, sebuah mobil jeep hitam milik perusahaan pertambangan berhenti. Dari sana, turunlah Hartawan, Kepala Bagian Produksi yang baru bertugas di Kampung Pandan. Hartawan adalah pria kota yang matang, berwibawa, namun memancarkan pesona yang mampu meluluhkan hati para gadis. Ia sedang meninjau lokasi baru, namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

Mata Hartawan terkunci. Ia melihat Lasmini. Gadis itu... sungguh berbeda. Kecantikannya alami, memancarkan kepolosan yang tak terjamah. Saat pandangan mereka bertemu sekejap, Hartawan merasa ada getaran kuat yang belum pernah ia rasakan. Cinta pada pandangan pertama yang mendebarkan.

Lasmini, yang memang terbiasa dihindari dan menghindar dari pandangan para pemuda, segera menunduk dan mempercepat langkahnya, jantungnya berdebar karena merasa diperhatikan oleh pria asing, apalagi pria tampan dengan aura berbeda seperti Hartawan.

Hartawan, didorong oleh insting dan rasa penasarannya yang membara, segera melangkah mendekati Lasmini.

 "Selamat pagi, Nona. Maafkan saya. Sepertinya saya tersesat. Bolehkah saya bertanya, di mana letak rumah kepala desa?" Ucap Hartawan sambil tersenyum ramah dan memaksakan diri agar terlihat santai

Lasmini terdiam, menatap ujung kakinya. Suara Hartawan begitu lembut, tapi terasa berwibawa.

Lasmini bersuara pelan, nyaris berbisik.

 "Selamat... pagi, Tuan. Rumah... Kepala Desa ada di ujung jalan sana, setelah pohon beringin besar."

Kemudian Hartawan mengambil langkah yang lebih dekat, membuat Lasmini semakin gugup di hadapannya.

"Terima kasih banyak, Nona. Sungguh, Desa Pandan Sari ini indah sekali. Tapi... yang paling indah, tentu saja pemandangan di depan saya saat ini."

Lasmini mengangkat pandangannya sekejap, matanya membulat terkejut dengan pujian Hartawan yang terus terang. Wajahnya merona merah.

 "Sa... saya permisi dulu, Tuan. Orang tua saya sudah menunggu." Kemudian Lasmini bergegas pergi.

Hartawan memandang kepergian Lasmini dengan senyum penuh arti.

"Gadis itu... Aku akan mencari tahu siapa dirimu."

Sejak hari itu, Hartawan benar-benar tergila-gila pada Lasmini. Ia melakukan berbagai upaya. Mulai dari sengaja sering melewati ladang Juragan Karso, berpura-pura menanyakan arah pada orang tua Lasmini, hingga mengirimkan bantuan sembako atau kebutuhan kerja ke ladang, semua dengan harapan bisa bertemu dan berbicara dengan Lasmini.

Lasmini, yang masih sangat belia dan polos, awalnya merasakan ketakutan setiap kali Hartawan mendekat. Baginya, Hartawan terlalu tampan, terlalu mapan, dan terlalu 'berbahaya' untuk didekati. Ia selalu menghindar, menolak bertemu, dan menunduk jika berpapasan. Hartawan sadar Lasmini bukan wanita yang mudah dibujuk rayu, namun penolakan itu justru semakin membakar semangatnya. Ia gigih, sabar, dan selalu bersikap sopan, tidak pernah memaksa.

Suatu sore, Hartawan melihat Lasmini sedang duduk sendiri di tepi sungai, mencuci beberapa helai kain. Ini adalah kesempatan emas untuknya.

Lalu Hartawan mendekat dengan perlahan, ia duduk agak jauh di sebuah batu besar, menunggu Lasmini selesai.

Hartawan berbicara dengan nada suara yang tulus. "Aku tahu, kau selalu menghindariku, Lasmini. Dan aku mengerti. Aku pria asing dari kota, mungkin terlihat aneh di matamu. Tapi, aku ingin kau tahu, aku datang dengan niat baik."

Lasmini menghentikan gerakan mencucinya, tapi matanya tetap fokus pada air sungai.

 "Saya... hanya takut, Tuan. Saya tidak terbiasa didekati. Apalagi oleh... Tuan."

 "Kau tidak perlu takut. Namaku Hartawan. Aku Kepala Bagian Produksi di pertambangan. Aku bukan orang jahat. Aku... benar-benar tertarik padamu, Lasmini. Kau adalah wanita paling cantik yang pernah aku lihat. Bukan hanya parasmu, tapi juga kepolosan dan ketenanganmu."

Lasmini kini menoleh, menatap Hartawan untuk pertama kalinya dengan pandangan yang lebih lama. Di matanya, ia melihat kejujuran dan ketulusan. Usia Hartawan memang matang, namun pesonanya memikat, membuatnya berbeda dari pemuda desa yang sering menggodanya.

Kini hatinya mulai bergetar aneh, seperti ada kupu-kupu terbang di perutnya.

 "Kenapa... saya, Tuan? Banyak gadis lain di sini yang lebih berani dan cantik..."

 "Bagi mereka, aku mungkin hanya pria kota biasa. Tapi di mataku, kau adalah satu-satunya. Dewi bulan-ku. Aku tidak mencari gadis pemberani, aku mencari gadis tulus. Aku tidak akan memaksamu. Tapi, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan ketulusanku."

Lasmini terdiam, meresapi setiap kata. Getaran aneh itu semakin kuat. Ini adalah kali pertama ia merasakan rasa seperti ini pada seorang pria. Di bawah tatapan lembut Hartawan, tembok pertahanannya mulai runtuh. Ia menyadari, Hartawan mungkin adalah cinta pertamanya.

Sambil menunduk, bibirnya mengulas senyum tipis yang sangat manis. "Beri saya waktu, Tuan Hartawan."

Hartawan tersenyum lega. Ia tahu, kegigihannya telah membuahkan hasil. Hati kembang desa itu, kini mulai terbuka untuknya.

Sejak saat itu, Hartawan terus berjuang mendapatkan hati Lasmini dengan penuh kesabaran dan penghormatan, membuktikan bahwa ketertarikannya bukan sekadar nafsu sesaat. Lasmini pun perlahan mulai membalas perasaan Hartawan, membiarkan cinta pertama yang polos itu tumbuh mekar di hatinya. Hartawan berhasil mendapatkan Lasmini, bukan dengan harta atau paksaan, melainkan dengan ketulusan dan kegigihan yang tak pernah menyerah.

Bersambung...

Kehamilan dan pengkhianatan

Akhirnya, Hartawan berhasil mempersunting Lasmini. Pernikahan mereka dilangsungkan dengan sangat sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan kerabat dekat. Dari pihak Hartawan, ia hanya membawa Paman yang datang bersamanya dari kota. Paman tersebut, bernama Pak Tirtayasa, memiliki pembawaan yang tenang namun sorot matanya tajam dan misterius.

Ayah Lasmini, Pak Darma, sedari awal merasa ada yang janggal dengan Paman dari menantunya ini. Setiap kali berinteraksi, Pak Darma menangkap hawa dingin dan tatapan yang sulit diartikan dari Pak Tirtayasa.

 Namun, ia berkeras menepis kecurigaan itu, meyakinkan diri bahwa itu hanyalah perasaan cemas seorang ayah yang melepas putrinya.

Di luar rumah, banyak pemuda kampung yang merasakan patah hati mendalam. Primadona kampung, bunga desa mereka, kini telah menjadi milik pria kota yang asing.

Menjelang malam, suasana kamar pengantin diselimuti ketegangan. Hartawan sudah tidak sabar untuk menunaikan malam pertamanya. Matanya memancarkan gairah yang membara, melihat Lasmini yang cantik dalam balutan gaun pengantin sederhana.

Sementara itu, Lasmini dilanda kegundahan yang hebat. Rasa takut akan yang pertama kali bercampur dengan debar-debar cinta. Ia duduk di pinggir ranjang, menunduk, tangannya saling meremas.

Hartawan mendekat, suaranya serak. "Sayangku Lasmini... mengapa kau tegang sekali? Lihat aku."

Lasmini mengangkat wajahnya sedikit, matanya berkaca-kaca.

"Mas Hartawan... aku... aku takut. Ini yang pertama untukku..."

Hartawan malah tersenyum dingin, meraih tangan Lasmini dan menciumnya.

"Jangan takut, Sayang. Aku suamimu. Aku akan membuatmu lupa akan semua ketakutan itu. Serahkan saja dirimu padaku."

Rayuan Hartawan yang mendesak, perlahan meruntuhkan dinding ketakutan Lasmini. Malam itu, Hartawan berhasil merenggut kesucian istrinya. Dan dari sana, Hartawan merasakan candu atas tubuh Lasmini, sebuah gairah yang tak terpuaskan. Sementara Lasmini, seiring berjalannya waktu, cintanya semakin besar terhadap suaminya. Ia mengira gairah Hartawan adalah bentuk cinta yang mendalam.

Satu bulan usia pernikahan, kebahagiaan sejati seharusnya menyelimuti. Lasmini dinyatakan hamil. Namun, saat berita itu disampaikan, raut wajah Hartawan biasa saja, datar, tidak ada kegembiraan meletup-letup layaknya seorang suami yang akan menjadi ayah.

Dengan mata berbinar-binar dan suara gembira Lasmini mengatakan sesuatu kepada Suaminya.

"Mas... aku hamil! Bidan Herni bilang sudah jalan satu bulan! Kita akan punya anak, Mas!"

Hartawan hanya mengangguk kecil, pandangannya tertuju ke arah luar jendela.

 "Oh ya? Baguslah."

Kerutan muncul di dahinya Lasmini.

"Hanya 'baguslah', Mas? Kau tidak senang?"

Kemudian Hartawan berbalik, memasang senyum palsu.

"Tentu saja senang, Sayang. Hanya... aku sedikit lelah. Jaga dirimu baik-baik, ya."

Lasmini merasa aneh, tetapi ia mencoba berpikir positif: mungkin suaminya terlalu lelah dengan pekerjaan.

Tiga bulan mereka menjalankan mahligai rumah tangga, sebuah kebosanan mulai menjalar di hati Hartawan. Ia merasa tubuh Lasmini tak senikmat saat pertama kali ia menjamahnya. Hasrat Hartawan mulai padam. Diam-diam, ia memutuskan untuk kembali ke kota tanpa memberitahu Lasmini.

Hartawan kembali ke kota kelahirannya dan langsung menemui Bara, sahabat dekatnya sedari dulu dan bekerja di pertambangan Desa Pandan Sari. Bara sudah sangat tahu watak dan tabiat buruk Hartawan.

Bara dan Hartawan duduk di sebuah bar, menikmati minuman keras.

Bara menyeringai licik, menenggak minumannya.

"Jadi, kau benar-benar meninggalkannya? Wanita kampung itu?" Hartawan tertawa sinis.

"Sudah tidak menarik lagi, Bar. Kau tahu sendirilah, aku tidak suka barang yang sudah terpakai lama."

Bara mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya tajam.

"Kau tahu Awan, sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu aku sangat menginginkan Lasmini tapi wanita itu keburu kau dapatkan!"

Hartawan tersenyum licik, matanya berkilat jahat. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya Bara.

"Kau mau Lasmini, Bara? Ambil saja. Aku sudah bosan," bisik Hartawan, nadanya dipenuhi keangkuhan dan kekejaman yang tersembunyi.

"Dia sedang hamil anakku, itu bonusnya. Kau tahu sendiri, bagaimana caranya membuat orang tua desa itu diam. Aku harus kembali ke kota. Proyekku di sini sudah selesai, dan aku punya 'urusan' lain yang lebih penting daripada mengurus wanita desa polos."

Bara terkejut, namun senyum licik ikut mengembang di wajahnya. Ia dan Hartawan memang memiliki sifat dasar yang sama: egois dan tidak bermoral.

"Kau serius, Awan? Aku tidak perlu susah payah merayu?" tanya Bara, matanya berkilat penuh nafsu.

"Serius. Tapi ingat, jangan sampai dia tahu aku yang menyuruhmu. Kau masuk saja, buat seolah-olah kau adalah penyelamat atau pria baik yang kebetulan ada di sana. Beri dia uang, atau apa pun yang bisa membuatnya merasa aman. Setelah itu, kau tahu sendiri apa yang harus dilakukan." Hartawan menepuk bahu Baron sambil tertawa kecil, tawa yang tak sampai ke mata, melainkan hanya getaran kekosongan hati seorang pengecut.

Keesokan paginya, Lasmini terbangun sendirian. Ia mencari Hartawan di setiap sudut rumah, namun hanya menemukan surat singkat di atas meja rias.

'Lasmini, aku ada urusan mendadak di kota. Sangat penting. Aku akan kembali secepatnya. Jaga dirimu dan calon anak kita.'

— Hartawan

Meski terasa aneh karena Hartawan pergi tanpa pamit secara langsung, Lasmini berusaha menenangkan hatinya. Ia percaya pada suaminya, pada janji cinta yang telah mereka ukir di tepi sungai.

Namun, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hartawan tak pernah kembali. Surat yang dijanjikan tak pernah datang. Janji manis itu kini terasa seperti debu yang tertiup angin. Pak Darma, ayah Lasmini, mulai khawatir. Kecurigaan yang sempat ia tepis pada saat pernikahan, kini bersemi kembali.

"Sudah satu bulan lebih, Lasmi. Kenapa Hartawan belum ada kabar? Dia tidak menelpon ke rumah Pak Lurah?" tanya Pak Darma dengan nada cemas.

"Belum, Pak. Mungkin pekerjaannya sangat berat," jawab Lasmini, meskipun suaranya terdengar bergetar. Ia berusaha keras menahan air mata di depan ayahnya.

Kehamilan Lasmini semakin membesar, dan kondisinya semakin rentan. Di tengah kegundahan dan kerinduan yang menyiksa, tiba-tiba Baradatang.

Bara datang dengan wajah yang dibuat-buat sedih. Ia membawa sekantong beras, minyak, dan uang tunai.

"Lasmini, aku tahu ini berat. Hartawan sudah bercerita padaku tentang kondisimu. Dia... dia titip ini untukmu," kata Bara, berbohong dengan lancar.

Lasmini terharu. "Terima kasih, Tuan Bara. Tuan Hartawan memang suami yang baik."

Bara tersenyum pahit, "Dia pria yang baik, Lasmini. Tapi sayangnya, dia pria yang sangat sibuk. Aku minta maaf harus mengatakan ini, tapi... mungkin dia akan lama di kota."

Sejak hari itu, Bara rutin mengunjungi Lasmini, selalu membawakan bantuan dan kata-kata penghiburan. Ia mulai membangun citra sebagai sosok pelindung di mata Lasmini dan keluarganya. Di saat Lasmini paling rapuh, di saat cintanya pada Hartawan mulai digerogoti oleh rasa sakit dan pengkhianatan, Bara justru hadir mengisi kekosongan itu.

Puncaknya terjadi pada suatu malam yang gelap. Lasmini sedang sendirian, Pak Darma dan istrinya sedang menghadiri acara di desa tetangga. Bara datang, alasannya kali ini adalah membawa obat-obatan untuk Lasmini yang sedang sakit kepala.

Baron masuk, kemudian mengunci pintu. Lasmini yang polos dan percaya hanya menyambutnya dengan rasa terima kasih.

"Terima kasih banyak, Tuan Bara. Tuan sangat baik..."

"Aku memang baik, Lasmini. Aku lebih baik daripada Hartawan," sela Bara, matanya kini dipenuhi hasrat. Ia mendekat, menyentuh pipi Lasmini dengan kasar.

"Hartawan sudah meninggalkanmu, Lasmini! Dia tidak akan kembali! Hanya aku yang ada di sini untuk menjagamu dan anakmu!"

Lasmini tersentak kaget. Wajah 'malaikat' Bara kini berubah menjadi 'iblis'. Ia berusaha menghindar, namun tenaga Baron jauh lebih kuat.

"Jangan, Tuan Bara! Saya isteri Hartawan!" teriak Lasmini, air matanya membanjir.

"Suami macam apa yang meninggalkanmu sendirian dalam keadaan hamil? Dia tidak mencintaimu, Lasmini! Dia hanya memanfaatkanmu untuk melampiaskan nafsunya!" hardik Bara, mencekal tangan Lasmini.

Pada malam itu, Bara mencoba untuk membawa pergi Lasmini, ia menculiknya dibantu oleh ke lima anak buahnya. Dan mereka sudah berjaga-jaga di sekitar Rumah kedua orangtuanya Lasmini sedari tadi. Rupanya Bara memang sudah merencanakan niat jahatnya ini.

Bersambung...

Peristiwa keji

Kini Lasmini telah di bekap mulutnya oleh Bara dan di bawa olehnya keluar dari dalam rumahnya, Lasmini yang sedang hamil empat bulan dan masih mengenakan kain batik berwarna coklat serta kebaya berwarna merah, telah di culik oleh Bara dan para komplotannya, sementara itu Pak Darma dan juga istrinya masih berada di kampung sebelah, menghadiri acara pernikahan saudara mereka.

Sementara itu kelima komplotannya Bara yakni Bendot, Karman, Rojak, Jaka dan Mandra bergegas membawa Lasmini pergi jauh dari rumahnya dan pemukiman warga menuju gubug tua di area perkebunan karet. Dan di sana lah Lasmini menjadi korban perk*saan oleh Bara alias baron.

Secara bergiliran mereka melakukan tindakan keji dan tidak manusiawi terhadap Lasmini. Dimana Bara yang telah memulainya terlebih dahulu, sedangkan kelima pria yang lainnya sedang menunggu giliran dengan sabarnya di luar gubug.

Lasmini merintih kesakitan saat ia digagahi oleh Bara secara kasar, wajahnya penuh luka lebam akibat bekas tamparan dan pukulan karena ia mencoba melawan, setelah puas hasratnya tersalurkan beberapa kali, ia mulai menyerahkan Lasmini kepada kelima anak buahnya dan mereka beramai-ramai memperk*sanya, jerit dan isak tangisnya seolah tenggelam di keheningan malam, para pria keji itu berkali-kali memperk*sanya hinga Lasmini tak berdaya.

"ternyata menunggangi wanita hamil itu lebih nikmat dan gurih!" Ucap Bara tersenyum puas ke arah anak buahnya.

"lebih legit dan mengigit Tuan Bara, rasanya saya ingin terus menungganginya sampai pagi!" Balas Bendot si pria yang memiliki tubuh kekar dan berkepala plontos.

Kemudian Karman, Rojak, Jaka dam Mandra pun merasakan sensasi yang sama atas tubuh Lasmini yang mereka anggap luar biasa itu.

"Pantas saja Tuan Hartawan mengejar wanita itu, rupanya ia sangat istimewa, tapi sekarang wanita itu sudah menjijikan seperti sampah, cuih!" Bara meludah kesamping dan di saksikan oleh kelima anak buahnya.

" Bos Bara, jadi boleh nih kita tunggangi lagi wanita bunting itu?" tanya kembali Bendot untuk memastikan.

"mumpung malam masih panjang, kalian sikat saja sepuasnya, tadi aku sudah berapa kali menikmatinya, aku tidak mau memakai wanita bekas kalian!"

Dengan beringasnya akhirnya mereka kembali memperk*sa Lasmini yang sudah tidak berdaya. Dan yang pertama masuk kembali ke dalam gubuk adalah Bendot, namum di dalam sana sudah tak ada lagi jeritan, rintihan dan er*ngan dari Lasmini.

.

.

Di dalam sebuah gubuk reyot di tepi hutan karet, jauh dari pemukiman warga, tepatnya di kaki Gunung Ciremai. Malam terasa panjang dan sunyi mencekam, hanya dipecah oleh suara serangga malam.

Udara dingin merayap masuk melalui celah dinding gubuk yang usang. Di dalam, teronggok sesosok tubuh yang rapuh, Lasmini. Wajah cantiknya kini adalah peta luka lebam, mata indah itu berkaca-kaca menahan rasa sakit yang menusuk. Bukan hanya luka fisik akibat kebiadaban enam pria, namun juga pedihnya kehilangan. Darah segar terus mengalir dari antara kedua kakinya, membasahi kain lapuk di bawahnya. Keguguran. Janin empat bulan yang ia kandung kini telah pergi, direnggut oleh kebrutalan yang tak terperi dari para pria biad*b di hadapannya.

Lasmini merintih, suaranya parau dan lirih.

"Aaaah... sakit... ya Tuhan... sakit sekali..." itu adalah suara terakhir Lasmini menjerit kesakitan karena keguguran.

Ia mencoba menggapai udara, berharap ada yang mendengar jeritannya, namun di sekitarnya hanya ada kegelapan dan wajah-wajah keji yang kini sibuk berbisik-bisik.

Di sudut gubuk, Bara alias Baron, pria tak bermoral dengan sorot mata dingin, sedang menyusun rencana keji berikutnya. Rokok terselip di bibirnya, asapnya mengepul seolah menutupi aroma dosa.

Bara berbisik, nadanya memerintah dingin

"Dengar baik-baik kalian semua. Jejak harus hilang total. Dan sekarang. Kalian, Bendot, Rojak, Karman, Jaka, Mandra... ambil cangkul dan linggis. Kita ke sana. Di bawah pohon beringin tua di tengah hutan. Tempat angker, takkan ada yang berani mendekat."

Sedangkan Bendot gugup, ia menggaruk kepala.

"Ta-tapi, Bos... di sana kan tempatnya keramat... Malam purnama begini lagi..."

Baron melotot, suaranya rendah namun penuh ancaman.

"Alah persetan dengan keramat! Yang keramat itu kalau kita semua masuk penjara! Cepat bergerak! Urusan ini harus tuntas sebelum fajar. Dan Kau Rojak, urus kain-kain ini, bakar semuanya. Jangan sampai ada bukti tersisa."

Rojak malah mencicit ketakutan, sambil mengeluarkan keringat dingin.

"Ba-baik, Bos. Siap laksanakan."

Kelima anak buah Bara segera mengambil perkakas. Mereka bergerak seperti bayangan, takut sekaligus terdesak. Sementara itu, di tengah rintihan yang melemah, Lasmini masih setengah sadar.

Lasmini Lirih, air matanya membasahi pipinya yang lebam.

"Tolong... Siapa saja... Tolong aku... Bayiku... Bayiku... Kenapa kalian setega ini...!" ucapnya dengan suaranya yang nyaris tak terdengar.

Bara mendekat, menatap Lasmini tanpa sedikit pun belas kasihan.

"Diam, jal*ng! Kau sudah banyak merepotkan. Sebentar lagi, semua rasa sakitmu akan hilang. Selamanya."

Setelah sekitar satu jam, Bendot dan kawan-kawan akhirnya kembali. Pakaian mereka kotor, aroma tanah basah melekat di udara. Mereka telah berhasil menggali liang lahat darurat, tepat di bawah rindangnya pohon beringin yang dianggap angker di dalam hutan.

Baron mengangguk puas. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera mengangkat tubuh Lasmini. Baron melangkah paling depan, memimpin jalan, dengan mata awas mengamati setiap pergerakan di sekitar, memastikan tidak ada satu pun warga yang menyaksikan kejahatan mereka.

Di bawah cahaya bulan purnama yang memancarkan cahaya pucat, di lokasi yang sunyi dan menyeramkan itu, tubuh Lasmini yang sudah tidak berdaya itu diletakkan di tepi lubang galian. Ia masih bernapas, namun seolah nyawanya tinggal sehelai benang.

Dalam posisi telungkup, seolah-olah seluruh penderitaannya dipaksa menghadap bumi, tubuh lemah Lasmini didorong masuk ke dalam lubang.

Baron tanpa buang waktu, bergegas mengambil sekop.

Ia memerintahkan Kepada anak buahnya, dengan suara dingin yang menusuk

"Cepat! Tutup! Jangan sisakan celah! Pastikan rata dengan tanah, seolah tidak pernah ada apa-apa di sini!"

Bendot dan yang lainnya dengan tergesa-gesa mulai menimbun tanah yang setengah basah itu. Suara 'bruk... bruk...' tanah jatuh bergema di keheningan malam.

Dalam kegelapan dan timbunan tanah.

Lasmini yang sekarat hanya bisa pasrah. Rintihan terakhirnya teredam oleh bumi yang kini menjadi makamnya. Raga yang lebam dan jiwa yang hancur itu kini terkubur, rata dengan tanah, di bawah kesaksian dingin cahaya bulan dan keheningan hutan Ciremai. Kejahatan Baron dan lima anak buahnya telah "dimusnahkan," namun dosa itu kini tertanam, menunggu waktu untuk dibalas oleh alam.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!