Indonesia
NovelToon NovelToon

Milea Dan Sistem Ruang Dimensi

BAB 1 Awal mula

Milea arabella seorang wanita berusia 23 tahun, kini sedang di landa kesusahan karena adik bungsu nya Sasa yg berusia 12 tahun saat ini sedang sakit demam yg cukup tinggi hingga seluruh tubuh nya menggigil.

Kebetulan kedua adik laki-lakinya baru pulang sekolah dengan baju basah karena kehujanan.

"Assalamualaikum." Ucap kedua adik-adiknya.

"Wa'alaikumsalam." Ucap Lea membalas salam kedua adiknya.

Adik kedua nya bernama Felix kini menempuh pendidikan SMA dan adik ketiga nya bernama Zero menempuh pendidikan SMP sedangkan Sasa baru kelas 6 SD.

Felix dan zero yg baru pulang sekolah pun terkejut melihat adik kecil mereka sedang menggigil di balik selimutnya dan terus menggelatukkan gigi nya.

" Adek kenapa kak,?" Ucap Felix mengernyit kan dahi nya.

" Adek demam Felix, Kakak gak tau harus apa, diluar sedang hujan lebat, pasti gak ada satupun kendaraan yg melintas." Ucap Lea dengan kekhawatiran nya.

Tiba-tiba tubuh Sasa mengejang dan itu membuat Lea, Felix dan zero takut setengah mati.

Dengan tekad nya akhirnya Lea pun membawa adik nya Sasa menuju rumah sakit terdekat dengan di temani oleh Felix dan zero meski harus menerjang hujan lebat tersebut.

.

Sesampainya di rumah sakit.

Setelah mendapat kan pemeriksaan dan penanganan awal kini tubuh Sasa tidak lagi menggigil seperti tadi.

" Kak bagaimana kita bayar biaya rumah sakit.? Ucap Felix.

" Nanti akan kakak pikirkan." Ucap Lea menoleh ke arah ranjang Sasa dengan pandangan kosong.

Beberapa saat kemudian Sasa pun sadar.

" Kakak, Abang." Ucap Sasa dengan suara parau.

Lea yg mendengar suara Sasa pun mendekat ke arah ranjang pasien.

" Apa adek perlu sesuatu,?" Ucap Lea.

"Haus kak," Ucap Sasa lemah.

Lea pun memberikan segelas air pada Sasa, dengan telaten Lea membantu Sasa untuk meminum kan air tersebut.

"Apa kalian sudah makan,? Ucap Lea menoleh pada Felix dan zero.

Kedua adik nya pun saling pandang lalu menoleh pada Lea sambil menggeleng kan kepala nya dengan menunduk.

"Kalian jaga Sasa terlebih dahulu ya, kakak akan keluar sebentar mencari makanan." Ucap lea pada adik-adiknya lalu dirinya pun keluar dari ruangan itu.

.

Sesampainya di depan rumah sakit sejenak Lea merenung sambil melihat jatuh nya hujan.

"Bagaimana aku bisa membayar perawatan rumah sakit Sasa, uang ku saat ini sedang menipis, apalagi aku baru saja di PHK," Gumam Lea.

Lea pun berjalan menuju rumah makan di depan rumah sakit untuk membelikan kedua adiknya makanan.

"Mudah-mudahan uang ku cukup." Gumam Lea lagi.

sesampainya di rumah makan tersebut Lea pun memesan tiga bungkus nasi dengan lauk telur balado dan timun saja beserta air mineral nya.

Setelah menerima pesanan nya Lea pun membayar makanan tersebut dan Alhamdulillah uang nya cukup untuk membeli nasi tiga bungkus malahan uang nya cukup untuk makan sekali lagi kalau harus membeli.

Baru beberapa langkah berjalan lea bertemu dengan seorang kakek yg sedang meringkuk di sebuah halte depan rumah sakit.

Dengan rasa penasaran Lea pun berjalan mendekati kakek tersebut.

"Assalamualaikum kek." Ucap Lea pada kakek tersebut.

Kakek itu pun mendongakkan kepala nya lalu membalas salam Lea.

" Wa'alaikumsalam Cu." Ucap kakek.

"Kakek kenapa sendirian, apakah kakek sedang sakit.?" Ucap Lea.

"Kakek lapar Cu, sudah 2 hari tidak makan." Ucap kakek bergetar.

Lea sungguh kasihan melihat keadaan kakek tersebut yg sedang menahan lapar sambil memegang perut nya.

"Kebetulan tadi aku sedang membeli makanan, ini buat Kakek." Ucap Lea memberikan sebungkus nasi dan air mineral pada kakek tersebut.

Dengan senyum sumringah kakek itu pun menerima pemberian Lea tak lupa mengucapkan terima kasih pada Lea.

Dengan begitu lahap kakek itu pun memakan makanan pemberian Lea.

Lea yg melihat kakek memakan makanan dengan lahap tak sengaja menjatuhkan air mata nya merasa iba melihat kakek tua tersebut.

Beberapa saat kemudian kakek tua itu menyelesaikan makan nya.

"Terimakasih sekali lagi Cu, karena sudah begitu baik pada kakek tua ini." Ucap kakek Tersenyum.

"Sama-sama kek, aku senang membantu kakek, kalau begitu aku masuk ke rumah sakit dulu ya kek, mau memberikan makanan ini pada adik-adik ku, pasti mereka berdua sudah menunggu ku, kakek nanti tunggu aku di sini lagi ya kita makan bareng-bareng." Ucap Lea yg hendak bangkit dari tempat duduk nya tapi langsung di cegah oleh kakek tersebut.

"Cu karena kamu sudah bersedia menolong kakek, tolong terima lah pemberian kakek ini." Ucap kakek tua itu memberikan sebuah cincin batu rubi pada Lea.

"Tidak usah kek, aku ikhlas kok membantu kakek, aku tidak memerlukan imbalan." Ucap Lea menolak.

"Ambillah Cu, kakek akan merasa bahagia apabila kamu mau menerima pemberian kakek ini sebagai tanda terima kasih kakek, tolong kakek Cu, simpan lah cincin ini anggap saja hadiah dari kakek karena kebaikan mu." Ucap kakek tua tersebut menyelipkan cincin itu di telapak tangan Lea.

Lea pun mau tak mau menerima cincin tersebut karena menghargai sang kakek.

"Baiklah, terimakasih kek, aku akan menjaga cincin ini dengan sebaik-baiknya, kalau begitu aku pergi dulu ya kek, assalamualaikum." Ucap Lea.

" Wa'alaikumsalam." Ucap kakek.

Lea pun berbalik meninggalkan kakek seorang diri di halte tersebut.

Kakek itu pun tersenyum misterius memandang Lea lalu kakek itu pun menghilang dari halte tersebut dengan sekejap mata tanpa disadari oleh siapapun.

Lea yg baru beberapa langkah berjalan pun berniat menoleh ke belakang untuk melihat kakek itu sekali lagi, akan tetapi dirinya terkejut bahwa tidak mendapati keberadaan kakek tua yg tadi sempat di tolong nya itu, Lea pun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah tapi tidak menemukan keberadaan kakek tersebut.

"Kemana hilang nya kakek itu,? kenapa cepat sekali,? Padahal aku baru berapa langkah berjalan." Ucap Lea bingung.

"Mungkin saja kakek itu juga pergi setelah aku pergi tadi." Ucap Lea.

Lea pun berjalan menuju ruangan dimana Sasa berada, sambil berjalan lea pun memandang cincin di tangan nya dengan kagum.

"Cincin nya cantik sekali." Ucap Lea sambil memasang cincin itu di jari manis nya yg ternyata pas dengan ukuran nya.

Beberapa saat kemudian, Lea pun tiba di ruangan dimana adik-adiknya nya berkumpul.

Sasa saat ini tertidur mungkin karena efek obat yg di berikan oleh dokter tadi nya.

Sedang kan Felix dan zero hanya rebahan di ranjang pasien di sebelah ranjang Sasa yg kebetulan sedang kosong, hanya mereka saja yg berada di ruangan tersebut, dimana ruangan tersebut memiliki 6 ranjang pasien.

"Felix Zero, ini makanan kalian." Ucap Lea yg berdiri di dekat kedua adiknya.

Dengan senyum mengembang kedua adik nya pun terduduk setelah rebahan sambil menahan lapar nya.

Felix dan Zero pun menerima makanan pemberian dari kakak mereka.

"Kakak kenapa tidak makan, mana makanan kakak.?" Ucap Felix.

"Ayo makan kak." Ucap Zero mengajak Lea makan.

"Kakak sudah kenyang, makanan itu untuk kalian, habiskan lah." Ucap Lea tersenyum yg padahal dirinya juga saat ini sedang menahan lapar.

Mendengar perkataan kakaknya, kedua adik nya pun mengangguk lalu memakan makanan mereka dengan lahap nya.

Bersambung.

BAB 2 kerumah nenek juminten

Sebetul nya keluarga milea adalah orang yg berada, orang tua milea memiliki usaha restoran dan juga mebel, akan tetapi semua harta milik orang tua milea yg di hasilkan bersama itu kini telah di rampas oleh nenek nya yg bernama juminten, yg katanya itu hak nya sebagai ibu dari ayah nya milea, dulu sewaktu ayah nya milea berpacaran dengan ibunya, nenek juminten melarang keras hubungan ayah dan ibunya milea di karenakan ibunya dari keluarga yg miskin dan tidak sepadan dengan derajat nya.

Beberapa tahun lalu ketika ibu dan ayah nya meninggal dalam kecelakaan, nenek juminten pun menyalahkan Milea dan ketiga adik-adiknya karena di cap pembawa sial yg menyebabkan anak laki-laki nya meninggal, milea dan ketiga adiknya pun diusir oleh nenek nya dari rumah mereka sendiri, kedua bibi nya pun sampai hati menyeret milea dan ketiga adik nya keluar dari rumah nya tersebut, milea yg tak berdaya pun terpaksa keluar dari rumah itu dengan ketiga adik-adiknya tanpa membawa apapun, beruntung milea saat itu masih memiliki perhiasan yg di pakai nya, dengan langkah gontai milea pun menuju toko emas untuk menjual perhiasan nya, setidaknya uang dari penjualan perhiasan nya cukup untuk membayar kontrakan dan makan adik-adiknya, milea bahkan rela mengubur cita-cita nya untuk melanjutkan kuliah, dan dirinya hanya fokus mencari uang untuk makan dan sekolah adik-adiknya, itulah yg ada di pikiran milea saat itu, berbekal ijazah SMA milea pun akhirnya di terima kerja di pabrik gula, hampir 5 tahun milea kerja di pabrik itu dan keuangan setidaknya cukup untuk nya dan adik-adiknya makan dan membayar kontrakan, hingga 2 hari yg lalu milea mendapatkan surat PHK dari pabrik itu di karenakan pabrik mengalami kebangkrutan dan dengan terpaksa seluruh karyawan di PHK dari pabrik tersebut.

"Kak, besok aku harus membayar SPP dan buku di sekolah." Ucap Felix tiba-tiba dan itu sukses membuat Lea yg sedang merenung tersentak kaget.

"Astaghfirullah." Ucap Lea mengusap dada nya karena terkejut.

"Apa kakak melamun,? Maaf aku mengagetkan kakak." Ucap Felix merasa bersalah.

"Tidak apa-apa kok Felix." Ucap milea tersenyum simpul pada Felix.

"Apa yg membuat kakak melamun,? Apa kakak memikirkan sesuatu.?" Ucap Felix memperhatikan wajah lelah kakak nya.

"Eh tidak ada kok, Kakak tidak memikirkan apapun." Ucap milea berusaha menyembunyikannya sesuatu.

"Felix, Zero, tetaplah di sini jaga Sasa, kakak akan keluar sebentar, tidak lama kok." Ucap milea pada kedua adiknya.

"Kakak mau kemana.?" Ucap Zero.

"Hanya jalan-jalan sebentar." Ucap milea.

Milea pun keluar dari ruangan tersebut sedangkan kedua adiknya hanya memperhatikan kakak mereka yg seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka.

"Zero, apa kakak menyembunyikan sesuatu dari kita.?" Ucap Felix pada Zero.

"Aku juga tidak tau bang, aku kasihan melihat kak milea harus menanggung semua biaya untuk kita, rasanya aku ingin berhenti sekolah saja bang." Ucap Zero menunduk sambil mengayunkan kaki nya yg saat ini dirinya sedang duduk di ranjang pasien.

"Abang juga sempat berpikir begitu zero, tapi kalau kakak mendengar ucapan kita barusan, pasti kakak akan marah pada kita." Ucap Felix.

Felix dan zero pun hanya menghela nafas saja.

.

Sedangkan milea saat ini sedang duduk di koridor rumah sakit yg tampak sepi itu seorang diri, milea yg sedari tadi berusaha menahan airmata nya di depan adik-adiknya kini akhirnya airmata itu tumpah juga.

"Hiks hiks, aku harus apa sekarang,?" Ucap milea dalam tangis nya.

Setelah puas menangis Milea pun menghapus airmata nya dengan kasar.

"Tidak, aku tidak boleh begini, aku harus mencari uang buat biaya rumah sakit Sasa dan juga bayar spp sekolah adik-adik ku, aku harus kuat, apa aku kerumah nenek juminten saja ya, barangkali dia sudah berubah setelah sekian lama tidak ketemu, ya aku harus mencoba untuk meminjam uang pada nenek juminten." Ucap milea lalu dirinya pun pergi dari rumah sakit itu.

Dengan berbekal uang seadanya Milea pun menuju rumah nenek juminten yg jarak nya sekitar satu jam menggunakan angkutan umum.

Setelah satu jam lebih akhirnya milea pun tiba di rumah nenek juminten yg kebetulan saat ini rumah nenek juminten terlihat anak cucunya sedang berkumpul.

"Assalamualaikum." Ucap milea.

Tak ada yg menjawab salam nya.

Dengan ketukan keras dan ucapan salam nya akhirnya pintu itu pun terbuka yg memperlihat kan bibi nya yg bernama sari lah yg membuka pintu itu.

" Mau apa kamu ke sini.?" Ucap bibi sari dengan ketus.

Rupanya bibi sari langsung mengenali nya karena wajah milea yg tidak berubah sedari dulu.

"Aku ingin menemui nenek bi." Ucap milea.

"Aku bukan bibi mu, lebih baik kau pergi saja." Ucap bibi sari.

"Siapa sar." Ucap nenek juminten dari dalam rumah.

"Milea Bu." Ucap bibi sari berteriak.

Nenek juminten dan seluruh keluarga nya pun keluar menemui milea.

"Kenapa kamu ke sini, dasar pembawa sial." Ucap nenek juminten dengan sarkas.

"Aku hanya ingin meminta hak ku nek, adikku masuk rumah sakit dan perlu biaya." Ucap milea tanpa basa-basi.

"Apaaa hahahaha, meminta hak kata mu, hak apa yg kau ingin kan, kau dan adik-adikmu hanya sampah yg tidak berguna, sama seperti ibumu yg miskin itu, untung dirinya sudah mati, tapi kenapa harus membawa Kakak laki-laki kami." Ucap bibi Gita adik ketiga ayah milea dengan nada marah.

"Bibi boleh menghina ku tapi jangan menghina ibuku dan adik-adikku." Ucap milea dengan tatapan tak suka pada bibi Gita.

"Nenek tolong aku sekali ini saja." Ucap milea merendah pada nenek juminten.

"Dasar miskin." Ucap mila anak dari bibi sari.

"Iya, dasar pembawa sial, pasti hidup nya melarat, lihat lah pakaian nya kucel sekali haha." Ucap Ani anak dari bibi Gita.

Nenek juminten hanya tersenyum miring melihat milea di hina.

"Pergilah, sebelum aku meneriakimu maling, biar kau di hajar oleh warga di sini." Ucap nenek juminten mengusir milea.

BRUK

Mila dan Ani pun mendorong tubuh milea, spontan milea pun jatuh akibat dorongan tersebut dan tanpa sengaja jari milea terkena duri bunga di teras rumah nenek juminten.

Darah itu pun mengalir mengenai cincin batu rubi merah delima itu dan seketika mengeluarkan cahaya merah kecil tanpa di ketahui oleh siapapun, cincin itu pun menghilang dan berganti dengan pola berbentuk tato berwarna gold bercorak mahkota di jari manis milea.

BRAK

Bunyi pintu tertutup, semua orang pun masuk kedalam rumah tersebut dan meninggal kan milea sendiri di teras rumah itu, airmata milea pun jatuh, dengan langkah gontai milea pun bangkit dan berjalan keluar dari pintu pagar rumah nenek nya sambil memegang jari nya yg terasa perih akibat terkena goresan duri tanaman.

Bersambung.

BAB 3 Sistem ruang dimensi

Baru beberapa langkah milea meninggal kediaman nenek nya dengan air mata mengalir sambil melirik kembali rumah nenek nya yg tertutup rapat, tiba-tiba sebuah suara mekanik pun terdengar di pikiran nya.

DING

"SELAMAT UNTUK TUAN RUMAH, SUDAH MENGAKTIFKAN SISTEM RUANG DIMENSI."

Milea spontan menoleh ke arah kiri kanan nya guna mencari sumber suara.

DING

"HALLO TUAN RUMAH."

"Arghh." Teriak Lea kaget.

"Siapa itu.?" Ucap Lea bertanya.

"SAYA SISTEM KEBAHAGIAAN DAN KEKAYAAN TUAN RUMAH."

"KALAU TUAN RUMAH PENASARAN, UCAPKAN LAH KATA " MASUK. "

Sejenak Lea mengerutkan kening nya bingung dengan sebuah suara yg berdengung di pikiran nya.

"Masuk." Ucap Lea dengan ragu.

CLING

WUSH

Milea pun terkejut kala mendapati dirinya berada di hamparan Padang rumput yg membentang luas, tak jauh dari tempat ia berdiri, terdapat sebuah rumah yg tidak terlalu besar dan di samping rumah itu memiliki pohon tanaman dengan warna yg mencolok layak nya berwarna emas.

DING

"APAKAH TUAN RUMAH MENYUKAI RUANGAN INI.?"

"Astaga, lama-lama aku jantungan kalau begini, sistem tolong hilang kan bunyi Ding mu itu, sungguh aku terkejut mendengar nya, bisa-bisa mati muda aku tiap hari kalau begitu, dan jangan memanggil ku tuan rumah." Ucap Lea pada sistem.

"BAIK NONA."

"Itu lebih baik." Ucap Lea sambil berjalan menuju sebuah rumah minimalis di tengah hamparan Padang rumput.

"Sistem, apakah kau sebuah sistem yg bisa bikin aku kaya raya dalam sekejap, seperti yg ada di buku novel yg pernah aku baca.?" Ucap Lea.

"BENAR NONA, DI RUANG INI NONA AKAN MENEMUKAN SUATU HAL YG DAPAT MENGUBAH KEHIDUPAN NONA."

"Benarkah, berarti aku tidak akan kesusahan lagi soal uang." Ucap Lea berbinar binar.

"Apa kau tidak punya wujud sistem.?" Ucap Lea penasaran.

"TIDAK NONA, SISTEM TIDAK PUNYA WUJUD, MELAINKAN HANYA SEBUAH SUARA SAJA."

"Baiklah kalau begitu." Ucap Lea.

Sesampainya di sebuah rumah minimalis, Lea begitu takjub dengan desain nya yg unik bahkan tidak ada satu pun rumah di dunia yg menyerupai nya, tak sengaja pandangan Lea melihat sebuah pohon menjalar di samping rumah itu, buah nya memiliki warna emas yg terlihat berkilau yg hanya sebesar biji kelerang saja.

"Apa buah itu bisa dimakan tem." Ucap Lea penasaran.

"TIDAK NONA, POHON ITU BERBUAH EMAS MURNI YG BISA NONA JUAL TANPA BATAS, KALAU PUN NONA MENJUAL SEMUA NYA, POHON ITU AKAN OTOMATIS BERBUAH LAGI TANPA HENTI."

"Wah benar-benar emas." Ucap Lea menggigit buah tersebut yg terasa keras.

"Aku kaya, aku kaya hahahaha." Teriak Lea kegirangan.

"INI BELUM SEBERAPA NONA, MASUKLAH KERUMAH ITU."

Dengan senyum yg mengembang, Lea pun masuk ke dalam rumah minimalis itu.

KRIEETTT

Bunyi berderit pintu rumah minimalis tersebut.

Didalam ruangan itu terdapat dokumen kepemilikan perusahaan besar di berbagai negara dan juga uang tunai beserta perhiasan yg memenuhi rumah minimalis tanpa sekat tersebut.

Dan di sudut ruangan itu terdapat rak dengan berbagai bentuk botol-botol kaca dengan warna dan fungsi yg berbeda dan juga buku-buku dan kitab di sudut rak, milea pun terduduk melihat isi rumah minimalis tersebut, dengan mata berkaca-kaca dirinya sangat bersyukur, di tengah kesusahan dan ketidakadilan yg di alaminya, kini milea lega, setidaknya masa depan adik-adiknya terjamin.

"Terima kasih sistem." Ucap Lea tulus.

"SAMA-SAMA NONA."

Milea penasaran dengan isi botol-botol tersebut yg warna nya seperti parfum itu.

"Sistem, apa isi botol-botol itu parfum semua.?" Tanya lea.

"BUKAN NONA, ITU ADALAH RAMUAN-RAMUAN OBAT MENYEMBUHKAN SEGALA PENYAKIT, RAMUAN KECANTIKAN DAN JUGA RACUN MEMATIKAN."

Milea sungguh penasaran dengan ramuan kecantikan yg di maksud sistem.

"Ramuan kecantikan,? Maksud nya bagaimana tem.?" Ucap Lea bingung.

"RAMUAN KECANTIKAN ITU, KALAU NONA MEMINUM NYA AKAN MENAMBAH KECANTIKAN NONA DALAM SEKEJAP MATA."

Mata milea berbinar mendengar hal itu.

"Apa aku bisa menggunakan ramuan itu sistem.?" Ucap Lea.

"TENTU SAJA BISA NONA, RAMUAN ITU AKAN MEMBUAT PENGGUNANYA MEMILIKI KECANTIKAN YG LUAR BIASA DAN AURA YG MEMIKAT."

"Benarkah,? aku akan mencoba nya tem." Ucap Lea sumringah.

Tanpa pikir panjang Lea pun menjangkau ramuan berwarna seperti susu itu lalu menenggak isi nya hingga tandas.

Beberapa saat kemudian cairan hitam pekat pun keluar dari pori-pori tubuh Lea dengan mengeluarkan bau yg sangat menyengat itu.

"Kenapa jadi seperti ini tem.?" Ucap Lea bingung.

"ITU ADALAH RACUN TUBUH YG MENGENDAP DI TUBUH NONA, KARENA NONA SUDAH MEMINUM RAMUAN ITU, MAKA OTOMATIS RAMUAN ITU MEMBERSIHKAN TUBUH NONA."

"Oh seperti itu, HUEK, ini bau sekali." Ucap Lea hampir muntah.

Lea pun berjalan menuju kolam yg berada di dekat tanaman buah emas yg sebelum nya Lea lihat atas saran dari sistem.

Lea pun tanpa pikir panjang langsung terjun dan menyelam ke kolam itu, lalu Lea pun menyembulkan kepala nya dari air kolam tersebut.

"Hah air nya segar sekali." Ucap Lea sambil membasuh-basuh wajah nya.

"Eh kulitku kenapa jadi bening dan cerah begini.?" Gumam Lea terpana.

Kulit nya yg tadi nya kusam dan sedikit gelap itu seketika menjadi putih dan bening, jari-jari tangan nya pun harus seorang tidak pernah mengerjakan pekerjaan kasar.

"APAKAH NONA MAU MENERAPKAN PEWANGI TUBUH PERMANEN.?

"Hah pewangi tubuh permanen,? Emang ada.?" Tanya lea penasaran.

"ADA NONA, LIHATLAH BOTOL RAMUAN BERWARNA PINK."

Lea pun seketika keluar dari kolam tersebut, dan ajaib nya pakaian yg Lea kenakan sudah mengering dan bersih secara tiba-tiba.

Lea pun takjub melihat nya seakan hidup di negri dongeng dengan sihir nya, begitu pikir Lea.

Tanpa pikir panjang Lea pun menuju rak ramuan yg kata sistem bisa membuat tubuh wangi secara permanen.

Dengan tergesa Lea pun menenggak habis Ramuan itu, seketika wangi aroma strawberry pun menguar dari tubuh nya yg terasa segar di indra penciuman.

"Astaga, adik-adikku." Ucap Lea baru tersadar karena sudah terlalu lama meninggalkan ketiga adik-adiknya di rumah sakit.

"Aku akan pulang tem, tapi pasti saat ini sudah malam, dan tidak ada kendaraan umum yg lewat, gimana ini." Ucap Lea resah.

"NONA TENANG SAJA, APABILA NONA KELUAR DARI RUANG DIMENSI INI, NONA AKAN MUNCUL DI DEPAN RUMAH SAKIT."

"Benarkah, terimakasih sistem, kamu baik sekali, apakah aku boleh membawa uang tersebut tem.?" Ucap Lea ragu-ragu.

"BOLEH NONA, KARENA MULAI SEKARANG SEMUA INI MILIK NONA."

Lea dengan berbinar-binar pun memasukkan uang tunai sebanyak 50juta ke dalam tas yg kebetulan sudah ada di gantungan samping rak perhiasan.

"Bagaimana aku keluar nya tem.?" Ucap Lea bingung.

"CUKUP UCAPKAN KATA KELUAR DAN TUJUAN, MAKA NONA AKAN KELUAR DARI RUANG INI."

Lea pun mengikuti perkataan sistem yg berdengung di pikiran nya tersebut dan seketika Lea pun berada di koridor rumah sakit yg tampak sepi itu, beruntung tidak ada cctv di lorong itu.

bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!