...Selamat datang di cerita Jenna, ini adalah spin off dari cerita Antagonis Cantik Tawanan Mafia Kejam....
...Mungkin ada beberapa tokoh yang namanya tidak asing bagi kalian, dan cerita ini bisa dibaca terpisah atau boleh juga baca cerita pertama agar tahu alasan apa yang membuat Jenna membenci bodyguard pribadinya....
...***...
Jenna menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, setelah lima tahun dirinya memilih untuk hidup bebas di negara orang. Wanita cantik yang memiliki mata berwarna hijaunya, langsung menjadi sorotan para kamera yang sejak tadi menunggunya.
Jenna Victoria Grelynn, nama itu selalu muncul di cover majalah ternama selama dua tahu belakangan ini. Jenna adalah seorang model dan juga aktris yang sudah membintangi layar lebar sebanyak tiga kali dalam satu tahun belakangan ini, sehingga namanya semakin naik dan banyak yang mengenalnya.
“Jenna tolong sapa kami!” Teriak para penggemar Jenna yang membuat wanita itu langsung melempar senyuman terbaiknya.
Di balik kacamata hitamnya, Jenna menatap satu persatu wajah yang terlihat begitu antusias menunggu kepulangannya.
“Nona Jenna, mobilnya sudah siap!” Kata seorang bodyguard yang sudah lama bekerja untuk ayahnya.
Jenna menganggukkan kepalanya, ia mengikuti orang-orang yang sudah disiapkan oleh ayahnya. Meskipun beberapa penggemarnya meminta tanda tangannya, bahkan ada yang meminta foto kepadanya. Namun Jenna harus segera pulang, karena Ayahnya begitu marah.
Jenna menghela napas lega, ia membuka kacamata hitamnya. Saat ini Jenna berada di dalam mobil mewah milik keluarganya, ia akan langsung pulang ke Mansion utama keluarga Grelynn.
“Aku merindukan masakan Ibu,” gumam Jenna yang sudah lama tidak merasakan masakan sang ibu.
Jenna memang tidak pulang sama sekali, bahkan kedua orang tuanya yang datang untuk mengunjunginya. Namun kali ini sang ayah begitu marah dan Jenna tidak bisa menolak untuk kembali pulang.
Wanita itu membuka ponselnya yang sejak tadi dimatikan, sudah ada banyak pesan yang masuk dan juga ada beberapa berita di media ternama tentang skandal barunya.
“Si brengsek Hael itu membuatku harus pulang dan dimarahi Ayah!” Kesal Jenna kepada salah satu mantan kekasihnya yang ia putuskan dua bulan yang lalu.
Hael menyebar beberapa foto Jenna yang sedang berada di Club, ada juga di arena balapan. Hael sengaja mengancamnya, karena pria itu tidak mau putus dengannya. Namun Jenna sudah bosan dengan Hael, sebab Jenna adalah tipe orang yang bosan dengan hal yang menurutnya sudah tidak menarik lagi.
Bahkan Hael juga menyebarkan foto-foto mereka yang berada di hotel, padahal mereka tidak melakukan apa-apa… hanya melepas penat dengan menonton.
Jenna tidak bisa bebas di luar, jadi ia harus menyewa kamar hotel untuk menonton. Walaupun di apartemennya sudah ada mini teater, tetap saja Jenna merasa bosan menonton di apartemen.
“Jika aku bertemu lagi denganmu, aku akan membunuhmu!” Jenna tidak akan melepaskan Hael, karena pria itu sudah membuatnya harus pulang dan menghadapi kemarahan sang ayah.
Mobil yang membawa Jenna, kini memasuki gerbang yang menjulang tinggi. Jenna menegakkan punggungnya, ia mendadak takut dengan ayahnya. Baru kali ini sang ayah begitu marah sampai membentaknya.
“Tenanglah Jenna, Ibu pasti bisa menenangkan Ayah,” gumam Jenna saat mobilnya berhenti.
Pintu di sampingnya terbuka, Jenna segera keluar dan kedatangannya langsung disambut oleh tatapan tajam dari sang ayah.
Hug!
“Putriku akhirnya mau pulang juga!” Chesa memeluk putrinya dengan erat.
Jenna tersenyum senang, karena masih ada ibunya yang akan selalu melindunginya.
“Jenna sangat merindukan Ibu,” bisik Jenna sambil melirik ke arah ayahnya yang masih melayangkan tatapan tajamnya.
“Masuk!” Kata Morgan, ayah Jenna.
Pelukannya terlepas, Chesa menarik tangan sang putri untuk masuk ke dalam. Jenna merasakan jantungnya hampir meledak, karena mengira akan langsung dimarahi. Namun ternyata ia dibawa ke ruang makan.
“Ibu sudah memasakkan makanan kesukaanmu, jadi makanlah dulu!” Kata Chesa yang membuat sang putri tersenyum lebar.
Morgan tidak ada di ruang makan, pria paruh baya itu akan menunggu sang putri di ruang kerjanya.
“Ibu, aku masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Apa aku boleh tidur setelah selesai makan?” Tanya Jenna yang ingin menghindari ayahnya.
“Boleh, tapi setelah kau menemui Ayahmu!”
Jawaban itu membuat bahu Jenna melemas, wanita itu tidak akan bisa menghindari ayahnya dan sepertinya sang ibu juga tidak terlihat ingin membantunya.
Baiklah, Jenna akan menjelaskan apa yang terjadi dan semoga sang ayah bisa memahaminya.
...***...
Jenna terlihat ragu untuk mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, beberapa kali terdengar helaan napas dari wanita itu.
“Mau menghindar pun aku akan tetap berurusan dengan Ayah,” gumam Jenna sebelum mengetuk pintu di depannya.
Mendengar jawaban dari dalam, Jenna membuka pintu tersebut dan tatapannya langsung bertemu dengan mata tajam sang ayah.
“Duduklah!” Titah Morgan yang terlihat sedang menghubungi seseorang untuk datang ke ruang kerjanya.
Jenna duduk dengan gelisah, sampai sebuah map yang dilempar ayahnya ke atas meja membuatnya terperanjat kaget.
“Ini sudah lima skandal dalam tahun ini, apa kau ingin mengelaknya lagi?” Tanya Morgan dengan nada dinginnya.
Jenna tersenyum kikuk, ia akui kalau dirinya tidak bisa diam dan selalu pergi ke tempat yang dilarang oleh ayahnya. Namun hanya di sana Jenna bisa mendapatkan kesenangan, setelah seharian syuting atau pemotretan.
“Ayah beri waktu selama lima menit untuk menjelaskan tentang Hael!”
Kalimat itu membuat Jenna langsung menceritakan mantan terakhirnya itu, Jenna tidak menyembunyikan apapun… karena ia yakin kalau sang ayah sudah menyelidiki semuanya.
“Kau tidak diizinkan kembali ke sana, kau bisa berkarier di sini!” Kata Morgan yang membuat sang putri menatapnya penuh protes.
“Tidak bisa Ayah, di sana aku lebih terkenal dan banyak proyek film yang menungguku,” ujar Jenna.
“Ayah sudah menghubungi beberapa sutradara ternama, dan kau bisa mendapatkan proyek film yang jauh lebih besar dari sebelumnya!” Kata Morgan dengan nada tak terbantahkan.
“Di sini Ayah bisa langsung menegurmu, jika kau kembali berulah,” lanjutnya.
Jenna tampak cemberut, tetapi ia tidak bisa membantah ayahnya. Mungkin nanti setelah kemarahan sang ayah mereda, Jenna bisa membujuk ayahnya untuk memberinya izin kembali ke luar negeri.
“Ayah juga sudah menyiapkan seorang bodyguard yang akan menjagamu dan berada di sisimu sepanjang hari,” Morgan tersenyum saat melihat ekspresi putrinya yang hampir menangis.
“Ayah bercanda ‘kan?” Tanya Jenna yang tidak suka dikekang, ia suka kebebasan dan tidak mau diatur.
“Ayah hanya tidak ingin kau kembali membuat masalah, dengan adanya bodyguard yang bisa mengawasimu secara langsung… maka kau tidak akan bisa membuat masalah apapun. Orangnya akan datang sebentar lagi,” ujar Morgan bersamaan dengan suara ketukan pintu.
Morgan menyuruhnya orang tersebut untuk masuk, dan Jenna langsung menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka.
Seketika mata mata hijau Jenna membelalak lebar saat melihat siapa bodyguard pribadinya.
Bersambung.
Jenna masih terpaku pada wajah yang sudah lama tidak pernah dilihatnya, dan hari ini ia melihat wajah itu lagi.
Jenna menahan napasnya, saat tatapan mereka bertemu. Ia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang, hanya karena tatapan mata.
“Jenna!” Panggilan itu membuat Jenna tersadar.
“Ke-kenapa Ayah?” Tanya Jenna yang sudah mendapatkan kesadarannya.
“Kenapa kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Morgan dengan tatapan penasaran.
Jenna menggelengkan kepalanya, bahkan ia juga berdiri dari duduknya.
“Aku tidak mau dia menjadi bodyguard pribadiku!” Kata Jenna sambil menunjuk ke arah pria tampan yang memiliki mata hitam yang terlihat dingin itu.
“Kenapa tidak mau? Ayah sudah melakukan berbagai penilian dan hanya Elios yang cocok untuk menjadi bodyguard pribadimu.”
Morgan tidak pernah sembarangan memiliki sesuatu, apalagi untuk putrinya. Pria paru baya itu sudah melakukan berbagai pengujian untuk mendapatkan orang yang bisa menangani Jenna yang terlalu bebas.
“Aku tetap tidak mau, Ayah cari yang lain!” Jenna menolaknya dengan keras.
“Ayah tidak membutuhkan pendapatmu, Elios yang akan menjadi bodyguard pribadimu,” Morgan tidak akan menuruti putrinya, karena Jenna akan semakin manja kalau semua dituruti.
“Apa Ayah tidak tahu kalau pria itu adalah bawahan Tuan Sean?” Tanya Jenna dengan napas tercekat.
“Iya, bahkan Tuan Sean sendiri yang merekomendasikan Elios kepada Ayah.”
Mendengar jawaban ayahnya, Jenna sangat terkejut. Ia tidak mengerti kenapa Sean bisa melepaskan Elios untuk bekerja kepada orang lain, bukankah Elios adalah orang kepercayaan Sean?
“Apa kalian sudah saling mengenal?” Tanya Morgan yang merasa aneh dengan tingkah putrinya saat melihat sosok Elios.
Elios terlihat membuka mulut untuk menjawab, tetapi Jenna lebih dulu mengatakan kalau mereka…
“Tidak! Aku hanya mendengar namanya dan melihat wajahnya saat pernikahan Zelin.”
Elios mengalihkan pandangannya ke arah Jenna yang terlihat menghindari tatapannya, pria itu menarik sudut bibirnya.
“Kalau begitu kau bisa kembali ke Penthouse bersama bodyguard pribadimu!” Usir Morgan yang sangat tahu kalau putrinya tidak akan betah tidur di Mansion Grelynn.
“A-aku akan menginap di sini,” ucap Jenna yang membuat ayahnya kembali menatapnya dengan curiga.
“Ada apa denganmu? Bukankah kau lebih suka tingga di Penthouse?” Tanya pria paruh baya itu sambil melirik ke arah Elios yang hanya diam saja.
Jenna baru menyadari kebodohannya, wanita itu tidak boleh membuat ayahnya curiga.
“Baiklah, aku akan pulang sekarang!” Kata Jenna yang keluar lebih dulu.
“Saya permisi dulu, Tuan Morgan,” pamit Elios sebelum mengejar putri dari atasan barunya.
Jenna berjalan dengan cepat, gadis itu terlihat begitu kesal. Bahkan ia tidak menyadari kalau Elios sudah berjalan di belakangnya.
Grep!
“Hati-hati Nona Jenna,” bisik Elios kepada Jenna yang nyaris terjatuh, karena tali sepatunya terlepas.
Wanita itu segera menyentak tangan kurang ajar Elios yang sudah berani memeluk pinggangnya, walau pria itu berniat membantunya yang hampir mencium lantai.
“Kau—” Jenna menghentikan kalimatnya saat melihat Elios berjongkok di depannya dan mengikat tali sepatunya.
Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali, entah kenapa suaranya mendadak hilang saat melihat apa yang dilakukan oleh bodyguard pribadinya.
“Sudah selesai,” kata Elios yang sudah berdiri di depan Jenna.
Wanita itu mendongak untuk melihat wajah Elios yang ternyata masih sama, bahkan pria itu terlihat semakin tampan dan tubuhnya juga… membuat tangan Jenna merasa gatal ingin merabanya.
“Sialan!” Umpat Jenna yang tidak sadar memikirkan hal yang tidak seharusnya.
Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya, ia memasuki mobilnya. Elios kembali mengikutinya, pria itu duduk di depan bersama sopir pribadi Jenna.
Dari belakang, Jenna dapat melihat wajah Elios dari sisi samping. Mata hijaunya menyorot begitu tajam, Jenna sangat membenci pria itu.
“Aku tidak akan membiarkanmu betah, aku akan membuatmu mundur dari pekerjaan ini!” Gumam Jenna dengan senyuma liciknya.
Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela, sudah lama Jenna tidak pulang dan ada banyak bangunan baru yang dilihatnya.
Elios menoleh ke belakang, sekilas untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Jenna.
...***...
“Kau yang membawa semuanya!” Kata Jenna sambil menujuk Elios yang hanya diam di sisinya.
“Baik Nona Jenna,” kata pria itu yang mengambil alih dua koper besar milik Jenna.
“Kau tidak diizinkan untuk memakai lift, kau naik tangga darurat saja!” Jenna menarik sudut bibirnya saat melihat mata hitam itu sedikit melebar, tetapi lagi-lagi Elios menganggukkan kepala dan berjalan ke arah tangga darurat.
“Ini masih permulaan, Tuan Elios,” seringai Jenna yang masih memiliki banyak rencana agar Elios tidak betah dengan pekerjaan barunya.
Jenna sudah bersantai di sofa ruang tamu, sedangkan Elios baru sampai dengan keringat yang membasahi wajah serta tubuh kekarnya. Jenna kembali menahan napasnya, karena pemandangan di depannya sangat seksi dan membuatnya bisa mencium aroma pekat dari parfum yang dipakai oleh Elios.
“Saya harus meletakkan dua koper ini di mana?” Suara berat pria itu membuat Jenna merinding.
“Ke kamarku! Sekalian dibereskan!” Titah Jenna yang menikmati buah apel yang bari diambilnya.
“Baik Nona Jenna,” Elios kembali melangkah menuju ke pintu yang ditunjuk oleh sang nona.
Jenna menghela napas dengan kasar, ia lupa kalau di dalam kopernya ada banyak pakaian dalam miliknya. Jadi Jenna tidak bisa membiarkan Elios untuk membuka kopernya.
Wanita itu beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamarnya, terlihat Elios sudah membuka koper miliknya dan pria itu menyentuh salah satu barang pribadi milik Jenna.
“Apa yang kau lakukan?” Marah Jenna yang merebut benda di tangan Elios.
“Saya hanya ingin membereskan—”
“Keluar!” Teriak Jenna yang dibalas anggukan oleh pria itu.
Setelah pintu kamarnya tertutup, Jenna segera melempar benda di tangannya. Itu memang sebuah mainan, tetapi bukan mainan untuk anak kecil. Jenna mendapatkan hadiah tersebut dari manajernya, dan ia tidak pernah memakainya.
“Kenapa aku merasa malu? Seharusnya aku biasa saja dengan hal seperti ini, karena umurku sudah sangat dewasa!” Geram Jenna yang membereskan barang-barang di dalam kopernya.
Setelah semuanya beres, wanita itu keluar dari kamarnya dan mencari Elios yang saat ini sedang berada di dapur. Pelayan memang belum datang, karena belum waktunya.
“Apa yang kau lakukan di dapurku?” Tanya Jenna dengan nada membentak.
Elios menoleh sekilas, “Tuan Morgan mengatakan kalau Nona Jenna selalu meminum susu cokelat sebelum tidur, dan saya membuatkan Nona Jenna susu cokelat.”
Jenna menatap ke arah gelas yang terdapat susu cokelat kesukaannya, wanita segera merebutnya dan meneguk susu yang ternyata masih panas.
“Akh panas!” Pekik Jenna dengan lidah yang terlihat sangat merah.
Wanita itu membelalak kaget saat Elios meniup-niup lidahnya agar tidak kepanasan, seakan tersadar… Jenna mendorong pria itu dan membuat kakinya yang tidak memaki alas apapun terkena pecahan gelas.
“Akh sakit!” Jenna menahan tangisannya.
Bersambung.
“Ini semua gara-gara bodyguard tidak becus sepertimu, kaki menjadi terluka!” Marah Jenna kepada Elios yang sedang mengobati kakinya yang terluka oleh pecahan gelas.
Elios hanya diam saja dan fokus mengobati telapak kaki wanita itu, sehingga Jenna merasa geram dan langsung meraih ponselnya yang berada tidak jauh darinya.
Wanita itu segera menghubungi nomor ayahnya untuk melaporkan tentang Elios yang tidak bisa becus menjaganya, dan Jenna akan meminta sang ayah untuk memecat Elios.
“Halo Ayah,” ucap Jenna saat sang ayah mengangkat panggilan darinya, wanita itu bahkan berpura-pura menangis agar membuat ayahnya percaya.
[Apalagi Jenna?]
Itu adalah suara Morgan yang dapat didengar oleh Elios, karena Jenna sengaja menekan loudspeaker agar pria yang sedang mengobatinya itu dapat mendengar jawaban dari Morgan.
“Bodyguard pilih Ayah tidak becus, dia membuat telapak kakiku terluka. Aku mau Ayah memecatnya sekaran juga!” Seru Jenna yang masih berpura-pura menangis.
[Kenapa menyalahkan Elios? Kau sendiri yang tidak bisa diam, jadi kau terluka karena kecerobohanmu sendiri]
Jenna membelalak kaget saat mendengar jawaban ayahnya, wanita itu mendelik ke arah Elios yang terlihat begitu tenang.
[Sudah jangan hubungi Ayah, karena Ayah sedang sibuk!]
Setelah itu terdengar suara panggilan terputus, Jenna menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Sedangkan Elios yang kepalanya sedang menunduk, tidak bisa menahan senyuman gelinya.
“Kaki Nona Jenna sudah saya obati,” ucap Elios yang sudah berdiri, karena tugasnya sudah selesai.
Jenna mengepalkan kedua tangannya, karena ia merasa kesal dengan ayahnya yang begitu mempercayai orang baru seperti Elios. Meskipun jenna tidak bisa diam dan sangat ceroboh, tetapi Jenna adalah putri kandung Morgan dan seharusnya pria paruh baya itu membelanya.
“Kau sudah membuat kakiku terluka, jadi kau harus menggendongku ke kamar!” Kata Jenna yang memang berada di ruang tengah.
Elios tidak membantah, pria itu segera menggendong Jenna yang terlihat sedikit terkejut. Namun wanita itu langsung merubah ekspresinya dengan cepat, karena Jenna adalah seorang aktris.
“Aku tidak bisa ke kamar mandi, jadi kau harus menggendongku ke kamar mandi juga!” Kata wanita itu saat Elios mendudukkannya di tempat tidur.
“Apa saya juga harus memandikan Nona Jenna?” Tanya pria itu dengan ekspresi datarnya.
“Kurang ajar! Di mana sopan santunmu mengatakan kalimat seperti itu kepada Tuanmu?” Marah Jenna yang sebenarnya menyembunyikan debaran jantungnya yang kian menggila.
“Maaf atas kelancangan saya,” ucap Elios sambil menundukkan kepala.
“Kau tidak boleh ke mana-mana! Kau harus tetap berdiri di depan pintu kamarku, karena aku akan memanggilmu saat ingin ke kamar mandi!” Usir wanita itu yang tidak ingin Elios mendengar suara debaran jantungnya.
“Baik Nona Jenna,” ucap pria itu, sebelum berjalan ke arah pintu.
Setelah Elios keluar, Jenna langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Sebenarnya ia bisa berjalan sendiri, karena luka di telapak kakinya tidak terlalu dalam. Namun wanita itu hanya ingin melihat reaksi Elios saat mendengar permintaannya.
“Sial, ternyata dia tidak berubah dan masih saja kaku,” Jenna menggigit bibir bawahnya.
Ada sebuah perasaan tak nyaman yang membuat dadanya menjadi sesak, dan Jenna sudah lama tidak merasakan perasaan seperti ini.
“Aku semakin membencinya, sampai ingin membunuhnya agar tidak bisa melihat wajah menyebalkan itu lagi!” Kesal Jenna yang sangat benci dengan perasaannya sendiri.
Setelah sekian lama, Jenna kembali menangis… menangisi kebodohan.
...***...
“Sudah malam?” Serak Jenna yang baru bangun.
Wanita itu merasa matanya sedikit perih dan sulit untuk dibuka, tetapi perutnya sudah berbunyi.
“ELIOS!” Teriak Jenna yang membuat sang empu masuk ke dalam.
Sejak tadi siang, Elios tetap berdiri di depan pintu kamar Jenna seperti apa yang diperintahkan oleh wanita itu. Hal seperti ini sudah biasa bagi Elios, karena ia sudah lama bekerja untuk Sean.
“Gendong aku ke kamar mandi!” Titah Jenna dengan suara yang masih serak, bahkan tenggorokannya terasa sakit setelah berteriak memanggil Elios.
Pria itu mendekat dan langsung menggendong Jenna untuk dibawa ke kamar mandi, wanita itu tidak mandi… ia hanya mencuci wajah agar lebih segar.
“Sekarang bawa aku ke ruang makan, aku sudah kelaparan!” Titahnya yang membuat Elios kembali menggendongnya.
Jenna menahan napasnya, ia dapat merasakan aroma manis dan pekat dari tubuh Elios yang masih menggendongnya.
“Bau parfummu sangat menyengat aku tidak menyukainya,” bohong wanita itu.
Elios menunduk sekilas, membuat tatapan mereka bertemu. Tetapi dengan cepat Jenna membuang wajah ke arah lain, asal tidak melihat wajah menyebalkan pria itu.
Elios mendudukkan Jenna di salah satu kursi yang ada di meja makan, setelah itu ia membuka satu persatu kancing seragam hitamnya.
“Aaa… apa yang kau lakukan?” Pekik Jenna sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya, tetapi ia mengintip di sela-sela jarinya untuk melihat sebagian tubuh atas Elios yang terpampang jelas.
“Bukannya Nona Jenna tidak menyukai aroma parfum saya, jadi saya melepaskan pakaian—”
“Mesum!” Potong Jenna sambil menarik kasar ujung seragam yang dipakai pria itu.
Jenna tanpa sadar mengancingkan kembali beberapa kancing yang sudah dilepaskan oleh Elios, karena di sekitar mereka ada tiga pelayan yang sedang menyiapkan makan malam.
“Kau bisa menggantinya nanti, bukan di sini!” Omel Jenna sambil mendorong dada bidang pria itu agar menjauh darinya.
Elios menganggukkan kepalanya, pria itu tetap berdiri di sisi Jenna yang sedang menikmati makan malamnya.
Wanita itu merasa tidak nyaman, karena Elios benar-benar berada di sisinya. Bahkan untuk makan saja harus dijaga, padaha Jenna bukan lagi anak kecil.
“Berikan dia makan!” Kata Jenna kepada salah satu pelayan.
Elios hanya diam saja, tetapi mata hitamnya tidak lepas dari gerak-gerik Jenna yang tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
“Makanlah, tapi jangan makan di sini!” Wanita itu menyodorkan piring miliknya, bukan piring lain yang baru ditaruh oleh pelayan.
“Saya tidak bisa meninggalkan Nona Jenna,” ucap Elios sambil meraih piring tersebut dan memakannya di hadapan Jenna.
Wanita itu sedikit terkejut dengan tindakan Elios, tetapi ia mencoba tidak peduli dan mencoba melanjutkan makannya. Jenna membiarkan Elios memakan makanan bekasnya, padahal pria itu bisa membuangnya kalau mau.
“Satu lagi, jika kita berada di luar… aku mau kau menutupi wajahmu, terserah menggunakan apa. Yan terpenting, jangan tunjukkan wajah jelekmu itu di hadapan para penggemarku!” Kata Jenna sambil melirik Elios yang sudah selesai makan.
“Saya mengerti, Nona Jenna.”
Lagi-lagi jawaban pria itu membuat Jenna kesal, apalagi ekspresi Elios yang selalu datar itu.
“Kenapa Ayah memberiku seorang bodyguard yang kaku dan tidak becus?” Gumam Jenna yang masih bisa didengar oleh Elios.
Bersambung.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!