"Sssshh..." Kepala Chen Lin terasa seperti akan meledak. Perlahan ia berusaha membuka matanya.
Sebelum sempat memproses apa pun, ia mendengar suara laki-laki yang sedingin es melayang di atasnya.
"Sebanyak apa pun kamu berusaha, aku tidak akan pernah menyukaimu."
Sial, siapa yang tidak menyukai Lao Tzu? Dan siapa pula si pemilik suara beku ini?
Setelah beberapa menit, pandangannya akhirnya fokus. Ia melirik pria tampan yang berdiri di depannya. Tampan, sih, tapi membosankan.
Kemudian, ia menyadari sekelilingnya: berbagai pasang mata menatap ke arah mereka dengan tatapan aneh dan penuh rasa ingin tahu.
Chen Lin berdiri, menepuk roknya yang ternyata tidak kotor. Tiba-tiba, ia merasakan cairan hangat mengalir dari dahinya. Ia menyentuh dahi—berdarah! Sakit, tapi tidak terlalu sakit.
Matanya yang tajam menangkap pinggiran meja yang terdapat noda darah. Oh, ternyata terbentur meja.
Andai ada yang tahu mereka akan terkejut, karena Chen Lin bisa melihat noda darah samar di meja itu hanya dengan sekilas pandang. Noda itu hampir menyatu dengan warna meja, dan walau dilihat dari jarak dekat pun, orang biasa mungkin tidak akan menyadarinya.
Chen Lin menunjuk bergantian ke arah pria itu dan dirinya sendiri. Raut wajahnya dipenuhi kebingungan.
"Aku menyukaimu? Sejak kapan?" Walaupun tampan, pria ini jelas bukan tipenya!
Pria itu menatapnya dengan dingin menusuk. Sementara itu, seorang gadis pemalu yang kemeja putihnya ternoda oleh kopi di samping pria itu menarik lengan sang pria dengan lembut.
"Ming-Ming, jangan diperpanjang. Aku tidak apa-apa."
Cowok yang dipanggil Ming-Ming itu balas menatap wanita pemalu di sebelahnya dengan tatapan yang langsung berubah lembut—kontras dengan tatapan dinginnya pada Chen Lin. Huh, pasangan anjing ini!
Pria itu kembali menatap Chen Lin. "Aku harus membuatnya sadar, agar dia tidak terus mengganggumu di masa depan."
Sadar apa sih? Chen Lin merasa putus asa. Bisakah seseorang menjelaskan situasi gila ini kepadaku?
Dan siapa pasangan anjing ini? Bukankah seharusnya dia sedang tidur di vila mewahnya? Kenapa tiba-tiba dia berada di sebuah kafe? Apakah dia berjalan sambil tidur?
Tunggu, kafe?
Chen Lin menatap kafe itu. Rasanya familiar, namun asing. Ia yakin belum pernah mengunjunginya.
Firasat buruk tiba-tiba menghantamnya. Ia mengabaikan pasangan itu, bangkit, dan berjalan tergesa-gesa keluar untuk melihat papan nama.
Di atas papan itu tertulis: 'The Blind Scene'.
The Blind Scene... The Blind Scene... Sial!
TIDAK MUNGKIN! Chen Lin merasa dirinya akan gila.
Untuk mengonfirmasi kegilaannya, ia kembali masuk ke kafe dengan langkah terhuyung, mengabaikan tatapan aneh yang ditujukan padanya.
Ia menarik lengan 'Ming-Ming' yang sedang menyampirkan jas ke bahu wanita itu dengan kuat, saking kuatnya hingga jas itu terjatuh ke lantai.
"Apa kau gila?!" Wang Ming menghardiknya dengan dingin.
Chen Lin mengabaikan pertanyaan itu dan
bertanya dengan tajam, "Apa kau Wang Ming?"
Wang Ming mengerutkan kening karena bingung. Apakah otak gadis di depannya ini kebanjiran?
Sejak tadi Chen Lin bersikap sangat aneh, seolah-olah menderita amnesia. Melihat darah yang masih mengering di dahi Chen Lin, Wang Ming bertanya hati-hati, "Kau amnesia?"
Chen Lin kesal pertanyaannya diabaikan. "Siapa peduli itu! Cepat jawab, apa kau Wang Ming?"
Karena tidak sabar, ia beralih ke gadis yang sok pemalu di belakangnya. "Apa kau Lin Jing?"
Gadis itu menatapnya aneh. "Ya, aku Lin Jing."
Kemudian Chen Lin bertanya lagi "Apakah dia Wang Ming?" mengarahkan jari telunjuk ke cowok didepannya.
Lin Jing mengangguk dan bertanya dengan bingung "Lin Lin, apa kau baik-baik saja?"
Chen Lin mengabaikannya sepenuhnya. Ia jatuh terduduk di kursi, menarik gelas jus terdekat di atas meja, dan meneguknya sekali teguk sampai habis, seperti orang yang tidak minum selama sehari. Pemilik jus itu hanya menatapnya dalam diam, lalu memanggil pelayan untuk memesan yang baru.
Chen Lin menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan bunyi 'gedebuk' yang menarik perhatian orang-orang.
MATILAH AKU!!!
Ternyata dugaannya benar! Dia telah bertransmigrasi ke dunia komik! Bagaimana mungkin?!
Awalnya, ia adalah agen rahasia yang telah pensiun, membeli vila di pedesaan untuk menikmati hidup sebagai ikan asin sejati.
Hidupnya sungguh nyaman. Lalu, seorang teman merekomendasikan komik populer di internet. Chen Lin mengunduhnya dan mulai membaca.
Awalnya cerita itu aman-aman saja di awal bab, tetapi menjelang pertengahan, ia mulai membenci umpan meriam yang menurutnya sangat bodoh—terlebih lagi karena namanya sama persis dengannya!
'Chen Lin' hanyalah batu sandungan yang dirancang untuk memperindah sang protagonis, Lin Jing.
Keduanya adalah sahabat masa kecil, tetapi persahabatan itu hancur karena Wang Ming, rumput kampus yang tampan, muncul di tengah mereka.
Chen Lin menyukai Wang Ming, tetapi Wang Ming mencintai Lin Jing. Digerogoti cemburu, Chen Lin melakukan segala cara licik, termasuk menjebak Lin Jing, tetapi Wang Ming selalu membela Lin Jing. Hal ini justru membuat Chen Lin makin kejam.
Hingga puncaknya, saat tahun kedua akhir zaman. Chen Lin sudah sangat membenci Lin Jing karena wanita itu menjadi istri kesayangan yang sangat dimanja oleh Wang Ming, yang saat itu sudah menjadi ketua pangkalan besar yang dihormati.
Lin Jing dihormati, bahkan dijilat semua orang, sementara Chen Lin hanyalah tikus got tanpa kekuatan. Didorong rasa cemburu, saat pangkalan diserbu ribuan zombie, Chen Lin berniat mendorong Lin Jing kedalam kumpulan zombie.
Sayangnya, ia ketahuan Wang Ming. Wang Ming mengusirnya dari pangkalan, dan tak lama kemudian, Chen Lin diculik ke laboratorium.
Di sana, ia disuntik obat aneh hingga darahnya terasa mendidih dan ingin meledak. Sebelum kesadarannya hancur, ia sempat melihat Lin Jing berdiri menatapnya dengan dingin.
Setelah sampai di sana, Chen Lin memutuskan untuk tidak membaca bab lain. Untuk apa membaca kelanjutan hidup karakternya yang sudah mati?
Tapi, ia sangat ingin mengutuk 'Chen Lin' yang bodoh itu.
Apakah Wang Ming begitu berharga daripada hidupnya?! Kenapa tidak bisa melihat pria lain yang lebih tampan? Tidakkah makanan enak itu lebih penting daripada sperma laki-laki? Yang lebih menyebalkan, menurutnya protagonis wanita itu penuh dengan perhitungan dan licik! Setiap kali Chen Lin menjebaknya, sebenarnya dia punya kekuatan untuk melawan, tapi dia selalu berpura-pura lemah dan menunggu si pahlawan kesiangan itu muncul! Itu adalah provokasi yang membuat Chen Lin makin menggila!
Tapi dia gak bermaksud membela Chen Lin ya, siapa suruh namanya sama! huh
Yang lebih aneh, penulisnya seolah masih berusia 14 tahun, jelas-jelas Lin Jing lebih cocok menjadi antagonis bukan protagonis! tapi komik itu sangat populer, dan penggemar bahkan memuja Lin Jing sebagai dewi. Sungguh gila!
Huh, dia bersumpah tidak akan pernah menyentuh komik sampah itu lagi!
Tapi sialnya siapa yang bisa memberitahunya apa yang terjadi disini! Kenapa sekarang ia malah masuk ke komik itu, dan menjadi Chen Lin yang bodoh pula!
Yang lebih sialnya lagi, itu adalah komik kiamat! SEKALI LAGI, KIAMAT!!! Yang penuh dengan zombie, hewan mutan, dan hati manusia yang lebih busuk daripada hewan!
Cita-cita sejatinya hanyalah menjadi ikan asin dan memakan banyak makanan lezat! aaakh
Chen Lin tiba-tiba mengangkat kepalanya dari meja. Ia mengacungkan jari tengah ke langit-langit kafe dan berteriak dalam hati, "FUCK!"
Chen Lin menarik napas dalam-dalam, mengabaikan denyutan di dahi dan rasa pusing sisa transmigrasi.
Naluri agen rahasianya langsung mengambil alih; ia tidak punya waktu untuk drama umpan meriam yang murahan.
Ia menegakkan punggungnya, dan aura sinis yang dingin seketika menggantikan kepanikan 'Chen Lin' yang bodoh.
Ia menatap lurus ke mata Wang Ming. "Kau benar," katanya dengan suara tenang yang mengejutkan tapi menawan.
Wang Ming dan Lin Jing terkejut melihat perubahan drastis ini. Wang Ming, yang sudah siap dengan penolakan atau tangisan, seketika membeku.
"Aku memang gila," lanjut Chen Lin, mengulas senyum tipis yang mengejek. "Gila karena baru sadar. Gila karena selama ini aku membuang waktuku, mengorbankan martabatku, hanya untuk seorang pria yang bahkan tidak tahu cara menghormati dirinya sendiri, apalagi orang lain."
Lin Jing, terkejut namun sigap, segera memasang ekspresi sedih dan memeluk erat lengan Wang Ming. Dengan suara lirih, ia berkata, "Wang Ming tidak seperti yang kau katakan."
Chen Lin mengabaikan Lin Jing, perhatiannya tertuju pada noda darah di pinggiran meja.
"Aku ke sini bukan untuk merengek," katanya, nadanya merendah, menargetkan para penonton di kafe.
"Aku datang untuk mengembalikan ini." Ia mengambil kotak hadiah ulang tahun Wang Ming dari tasnya kotak itu dilemparkannya ke meja, mendarat dengan bunyi 'gedebuk' yang tajam.
"Aku terbentur meja, dan darahku jatuh di sini," Chen Lin menunjuk dahi dan meja dengan telunjuknya yang ramping.
"Itu adalah darah terakhir yang akan tumpah untuk drama picisan ini."
Ia lalu menatap Wang Ming dan Lin Jing, yang kemejanya ternoda kopi.
"Tentang kopi itu," Chen Lin menunjuk noda di kemeja Lin Jing dengan acuh tak acuh,
"itu ketidak-sengajaan, tapi siapa suruh kau membuatku marah, huh? Anggap saja itu biaya untuk pelajaran yang baru saja kudapatkan: Selera rendahan dalam memilih teman dapat merusak pakaian termahal sekalipun."
Lin Jing tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia ingin membantah, tetapi tidak menemukan kata-kata yang tepat.
Chen Lin mengeluarkan beberapa lembar uang kertas, melemparkannya ke meja tanpa menghitung—jumlahnya jauh melebihi harga jas dan kopi.
"Uang ini untuk ganti rugi jas dan kopi," ujarnya dingin. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke pelayan kafe.
"Dan sisanya, untuk pelayan yang harus membersihkan kekacauan drama ini."
Ia menatap Wang Ming untuk terakhir kalinya, tatapan yang penuh penghinaan dan ejekan.
"Wang Ming," Chen Lin mengakhiri.
"Mulai sekarang, aku tidak tertarik lagi padamu. Kau dan... kekasih kecilmu," ia melirik Lin Jing sekilas,
"tidak sepadan dengan energi yang kuperlukan untuk memesan kopi. Anggap saja ini perpisahan."
Tanpa menunggu balasan, Chen Lin berbalik. Langkahnya mantap, penuh otoritas, dan ia berjalan keluar kafe, meninggalkan para pengunjung yang terdiam dan terkejut.
Wang Ming membeku.
Ia merasa lega mendengar Chen Lin mengatakan tidak akan menyukainya lagi, tetapi di sisi lain, ia merasakan kekecewaan aneh—seolah ada sesuatu yang berharga baru saja menghilang.
Lin Jing yang melihat Wang Ming memandang pintu kafe dengan linglung, segera menarik lengannya.
"Aku minta maaf untuk Chen Lin. Sebenarnya dia bukan orang seperti itu," kata Lin Jing dengan wajah sedih.
Wang Ming segera tersadar, merasa bodoh karena sempat terpesona sesaat. Ia mengelus kepala Lin Jing dengan lembut.
"Oke-oke. Kamu terlalu baik untuknya. Dia tidak pantas menjadi sahabatmu."
Saat pintu kafe tertutup di belakangnya, suara
batin Chen Lin kembali:
"Situasi drama kelas rendah terselesaikan. Sekarang, saatnya menghadapi masalah nyata: Kiamat yang akan dimulai DUA BULAN LAGI!"
Seingat Chen Lin, berdasarkan Bab 2 komik sampah itu, kiamat akan dimulai dalam waktu dua bulan, dan prosesnya berjalan sangat cepat.
Sebelum kiamat hujan lebat yang terus turun selama berminggu-minggu, diikuti penurunan suhu drastis yang tidak wajar. Berbagai saluran tv melaporkan anomali cuaca serta pangan mulai langka.
Hari pertama kiamat, Hujan berhenti. Salju tebal tiba-tiba turun di seluruh dunia, bahkan di daerah tropis. Suhu anjlok tiba-tiba. Wabah Resmi Dimulai. Hari itu adalah penentuan antara hidup atau jadi zombi, menurut komik yang dia baca saat itu manusia akan mengalami demam tinggi, jika bertahan dia akan mendapatkan kekuatan atau tetap menjadi manusia biasa tapi jika tidak mampu bertahan maka dia akan menjadi zombie. kemudian virus Zombie mulai menyebar dengan cepat melalui sentuhan atau gigitan.
Di Hari Kedua , Salju masih turun dengan intensitas tinggi, melumpuhkan transportasi darat dan udara. terjadi Kekacauan Massal. Militer dikerahkan, tetapi gagal menahan gelombang pertama zombie. Toko-toko dijarah. Listrik di banyak kota mulai padam.
Di Hari Ketiga Salju berhenti, tetapi lapisan es yang tebal menyelimuti permukaan. Suhu tetap beku. Saat itu zombie mulai mengalami Mutasi Pertama. Zombie menunjukkan variasi (kuat, cepat, atau cerdas). Hewan-hewan dan tumbuhan mulai bermutasi, menjadi lebih besar dan agresif.
Dan di Hari Keempat & Kelima Langit tetap gelap dan mendung. Es membuat pergerakan sangat sulit. tapi pada saat itu mulai ada Pembentukan Pangkalan di berbagai kota. Para penyintas yang memiliki kemampuan (atau modal) mulai membentuk pangkalan perlindungan.
Chen Lin mengingat dengan jelas, keluarga Wang Ming adalah keluarga yang sangat berpengaruh, baik di dalam maupun luar negeri.
Oleh karena itu, bahkan di akhir zaman, kekuasaan mereka tetap tak tergoyahkan.
Basis pangkalan mereka berada di Kota S, dan itu adalah salah satu pangkalan terbesar dan teraman di negeri ini.
Tepat saat Chen Lin berjalan di pinggir jalan, seorang pria yang jusnya ia minum di kafe tadi—dengan rambut sedikit berantakan dan kaos oblong—menatap punggungnya dari jendela kafe.
Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Sangat menarik
Chen Lin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang tersimpan sebagai 'Bibi'.
"Halo Bibi, Chen Wei masih di sekolah?" tanyanya segera setelah telepon diangkat.
Bibi di seberang telepon menjawab dengan singkat, "Ya."
"Oke, terima kasih Bibi."
"Um," jawab bibinya, lalu panggilan terputus.
Chen Lin menghela napas tak berdaya.
Dalam hidup ini, ia hanya memiliki adik laki-laki nta --- Chen Wei, dan bibinya. Sejak Chen Lin (yang asli) jatuh cinta pada Wang Ming, hubungannya dengan sang bibi menjadi suam-suam kuku.
Chen Lin yang lama selalu merasa bibinya tidak menyukai Wang Ming, padahal bibinya hanya mengingatkannya agar tidak menyakiti diri sendiri.
Chen Lin segera menghentikan taksi. Ia memberikan alamat sekolah adiknya. Ngomong-ngomong, dalam komik itu, ia dan adiknya adalah yatim piatu. Orang tua mereka meninggal karena kecelakaan saat perjalanan dinas.
Untungnya, mereka meninggalkan warisan harta yang sangat banyak.
Hehe, cukup untuk menimbun barang tanpa perlu khawatir.
Ketika Chen Lin tiba digerbang kanak-kanak, pandangan Chen Lin langsung menangkap sosok Chen Wei. Adiknya duduk sendirian di ayunan, wajahnya memancarkan kesedihan yang kentara, ditemani oleh gurunya yang siaga di samping.
Chen Lin merasa kasihan pada anak itu, ia sadar bahwa kini Chen Wei hanya memiliki dirinya.
Namun, ia juga tahu bahwa Chen Lin yang lama tidak pernah terlalu peduli. Hubungan mereka tidak buruk, tetapi juga jauh dari kata baik; keduanya terasa asing di bawah satu atap.
Bahkan, sejak orang tua mereka meninggal karena kecelakaan, sarapan bersama tak pernah terjadi lagi.
Chen Wei terbiasa menunggu di depan pintu, berharap sang kakak pulang dan meluangkan waktu untuk bermain.
Sayangnya, Chen Lin selalu pulang pada tengah malam. Paginya, Chen Wei sudah harus berangkat sekolah sementara kakaknya masih terlelap.
Meskipun tinggal di rumah yang sama, jadwal yang saling bertolak belakang membuat frekuensi pertemuan mereka sangat rendah, menciptakan jarak yang dingin di antara mereka.
Saat melihat sosok Chen Lin, Chen Wei berdiri mematung di ayunan. Ia berulang kali mengucek matanya, takut pemandangan di depannya hanyalah halusinasi yang sering ia impikan.
Keraguannya sirna ketika guru di sampingnya berbisik lembut, "Wei Wei, lihat, kakakmu sudah datang menjemputmu."
Chen Wei segera membungkuk berterima kasih pada gurunya, lalu berlari sekencang mungkin dengan kaki kecilnya.
Melihat adiknya berlari, Chen Lin dengan refleks bergerak cepat menghampiri dan berkata dengan nada tergesa,
"Hati-hati, Wei Wei, jangan sampai terjatuh!"
Chen Wei lantas berhenti mendadak, menatap kakaknya dengan mata bulat penuh harap.
Suaranya memelan penuh keraguan, "Apakah Kakak benar-benar menjemput Wei Wei?"
Mendengar pertanyaan polos itu, hati Chen Lin terasa teriris. Sejak orang tua mereka tiada, bibi atau supir yang selalu menjemput adiknya.
Ia berlutut, menyejajarkan tubuhnya, dan memegang bahu adiknya dengan lembut.
"Tentu saja. Mulai sekarang, Kakak akan selalu bersama Wei Wei dan tidak akan pernah meninggalkanmu."
Mata Chen Wei langsung berbinar penuh semangat.
"Benarkah?"
"Tentu saja," janji Chen Lin dengan ketulusan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Chen Wei, yang langsung dipenuhi kebahagiaan, berhambur ke pelukan kakaknya dan berbisik pelan, "Wei Wei sangat menyukai Kakak."
Pelukan tulus itu membuat Chen Lin tergerak. Hati anak-anak adalah hal yang paling murni, dan kehangatan dari pelukan ini menyentuh sisi dirinya yang paling dingin.
Apakah ini yang dinamakan hubungan darah?
Chen Lin sendiri adalah seorang yatim piatu sejak bayi.
Ditemukan oleh pemilik panti asuhan di depan pintu, ia selalu beranggapan dirinya adalah anak yang tidak diinginkan dan dibuang.
Sejak kecil, ia telah berulang kali dikhianati dan dikecewakan, baik oleh teman dekat maupun kekasihnya.
Pengalaman pahit itu membentuk pandangan sinisnya terhadap manusia.
Baginya, hubungan antarmanusia hanyalah ilusi semu, sebuah pertukaran mutualistik: digunakan jika bermanfaat, dan dibuang tanpa penyesalan saat tidak lagi berguna.
Sifat tidak berperasaan dan nihilnya keterikatan emosional inilah yang di dunianya yang lalu, membuatnya menjadi agen top yang paling ditakuti dan dibenci lawan; ia tidak memiliki kelemahan yang bisa dieksploitasi.
Namun, kini, menatap mata Chen Wei yang bersinar jernih dan belum ternodai kekejaman dunia, Chen Lin merasakan dorongan yang kuat, ia harus melindungi kepolosan ini dari dunia yang brutal dan kotor.
Ia menatap adiknya dengan kelembutan yang baru pertama kali ia rasakan dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Kakak juga menyukai Wei Wei." Seketika, mata Chen Wei memerah, dan sedetik kemudian, tangisan keras pecah darinya.
Chen Lin seketika panik. Ia terbiasa membunuh, bukan membujuk. Sebagai agen, ia tidak punya pengalaman menenangkan orang lain, apalagi anak kecil.
Aduh, bagaimana ini? Akhirnya, ia hanya bisa memeluk dan menepuk punggung adiknya dengan lembut—ia teringat pernah melihat tetangganya melakukan hal serupa pada istrinya yang menangis, dan berharap cara membujuknya sama.
Hatinya kembali terasa sakit ketika mendengar isak tangis Chen Wei diselingi kata-kata yang memilukan, "Wei Wei... kira Kakak membenciku. Wei Wei putus asa. Wei Wei tidak punya siapa-siapa selain Kakak. Jadi, jangan pernah tinggalkan Wei Wei!"
"Kakak janji," jawab Chen Lin cepat, menenggelamkan rasa sakitnya.
Sialan! Chen Lin ingin mengutuk Chen Lin yang lama, bagaimana mungkin adik seimut ini bisa diabaikan begitu saja? Kemarahannya memuncak saat ia mengingat plot komik yang ia baca.
Chen Wei yang polos ini akan tumbuh menjadi penjahat sekunder yang mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria. Karena nasib tragis adiknya dalam cerita itulah, ia tidak pernah memiliki kesan yang baik terhadap Wang Ming.
Di dalam komik, Chen Wei yang saat itu berusia tujuh tahun adalah sosok yang brilian. Ia telah membangkitkan kekuatan tipe guntur Level 2, sebuah pencapaian langka.
Karena kehebatannya, ia mendapat hak istimewa di pangkalan dan paling dicari untuk misi , dan berkat status adiknya ini, Chen Lin yang hanya manusia biasa bisa hidup relatif aman di pangkalan.
Titik baliknya terjadi ketika Chen Lin diusir dari pangkalan. Chen Wei yang marah pun memberontak dan nekat keluar, namun amarahnya berubah menjadi kehancuran total saat ia gagal menyelamatkan Chen Lin dari penculikan pihak laboratorium.
Ketika ia akhirnya menemukan kakaknya, yang ia lihat hanyalah mayat hidup, Chen Lin telah sepenuhnya menjadi zombie.
Kenyataan pahit itu menghancurkan jiwa Chen Wei. Ia sangat membenci pangkalan terutama Lin Jing dan Wang Ming, ia bersumpah membalas dendam.
Chen Wei, yang awalnya seorang penyelamat, berubah menjadi sosok kejam. Selama dua tahun, ia menculik setiap pengguna kekuatan yang levelnya di bawahnya untuk dijadikan makanan bagi zombi kakaknya, memicu krisis besar akibat hilangnya banyak orang kuat.
Ia terus menempa dirinya menjadi lebih kuat demi menghancurkan pangkalan yang sangat ia benci, bahkan sampai meminta bantuan Raja Zombie.
Namun, takdir penjahat tak pernah menang melawan Protagonis. Raja Zombie dan Chen Wei mati mengenaskan di tangan Wang Ming dan Lin Jing.
Memikirkan nasib adiknya yang mengerikan di masa depan itu, Chen Lin memeluk erat adiknya.
Demi melindungi adiknya, ia bertekad mengubah seluruh naskah kiamat ini. Dia tidak akan membiarkan adiknya terluka, menjadi jahat, apalagi berakhir mengenaskan!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!