"Aku akan menceraikan Shafura, setelah Jovanka kembali."
Bak petir di siang bolong, ucapan Keygan itu begitu menusuk hati Shafura. Pria yang selama tiga tahun ini menjadi suaminya, ternyata berniat untuk mengakhiri rumah tangganya.
"Kamu yakin, Key?" Tanya Nero, sahabat Keygan. "Bukankah akhir-akhir ini Kamu mulai bersikap baik padanya?" Nero menaikan sebelah alisnya. Pasalnya, Nero melihat belakangan ini Keygan mulai perhatian pada istrinya.
Kedua pengusaha muda itu tengah berbincang di ruang kerja Keygan, ruangan CEO Bhatara Kingdom. Keduanya tidak menyadari kehadiran Shafura yang sejak tadi mendengar perbincangan mereka, dari celah pintu ruangan yang tidak tertutup rapat.
Shafura mendengar dengan jelas ucapan suaminya yang begitu menyayat hati, tanpa sadar air matanya mulai jatuh membasahi pipinya.
Keygan menghembuskan napasnya kasar, pria itu terlihat tidak yakin dengan apa yang akan dikatakannya, namun egonya kembali mengalahkan akal sehatnya.
"Tentu saja aku yakin. Pernikahan ku dengan Shafura hanyalah sandiwara," ucap Keygan dengan seringai tipisnya. "Kalau saja Mommy tidak sakit, aku tidak sudi menikahi wanita murahan itu."
Keygan Afkar terpaksa menerima perjodohan nya dengan Lengkara Shafura, atas permintaan Hanika, ibu dari Keygan yang sangat menyayangi Shafura, yang merupakan putri dari sahabatnya.
Selama tiga tahun pernikahannya, Keygan selalu bersikap dingin pada Shafura. Bahkan ia tidak segan-segan berkata kasar pada istrinya itu, Keygan berharap dengan begitu Shafura mau meninggalkannya.
Namun bukannya menjauh, Shafura justru terang-terangan mengatakan cinta pada Keygan, dan bertekad akan membuat suaminya itu jatuh cinta padanya.
"𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢, 𝘔𝘢𝘴?" 𝘚𝘩𝘢𝘧𝘶𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢. 𝘈𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘫𝘪𝘳𝘪 𝘱𝘪𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢. "𝘋𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘮-𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘮𝘶."
Shafura mengeratkan genggamannya pada kotak makan yang berniat ia berikan untuk Keygan. Berulang kali wanita cantik itu menepuk-nepuk dadanya saat rasa kecewa tiba-tiba menyeruak membuatnya sesak. Bahkan tubuhnya nyaris limbung andai seseorang tidak menahannya.
"Kamu gak apa-apa, Sha?"
Fagan Afkar, wakil direktur sekaligus adik Keygan Afkar, berdiri di belakang Shafura, menahan tubuh wanita cantik itu.
Shafura memalingkan wajahnya dari Fagan, berharap adik iparnya itu tidak melihat air mata yang membanjiri pipinya. Namun terlambat, Fagan lebih dulu melihat Shafura menangis.
"Aku---"
"Siapa di luar?"
Tiba-tiba saja teriakan Keygan dari dalam menghentikan ucapan Shafura.
Shafura panik saat mendengar suara langkah menuju ke arahnya. Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya menatap ke arah Fagan, berharap adik iparnya itu tidak mengatakan keberadaannya.
"Thanks, Fagan." Shafura memaksakan senyumnya, lalu memberikan kotak makan yang harusnya ia berikan untuk Keygan. "Untukmu." Shafura berlari kecil meninggalkan tempat itu setelah melihat anggukan dari Fagan.
Tak lama kemudian pintu terbuka lebar, menampakkan sosok Keygan yang berdiri di ambang pintu.
"Fagan? Lu ngapain di sini?" Keygan menatap adiknya penuh selidik, dahinya sedikit berkerut saat melihat kotak makan yang dipegang oleh adiknya. Keygan merasa familiar dengan kotak makan itu.
Namun saat Keygan hendak bertanya, Fagan sudah lebih dulu pergi, bahkan tanpa menjawab pertanyaannya.
...----------------...
Sementara itu, Shafura baru saja sampai di rumahnya. Rumah yang selama tiga tahun ini ia tempati bersama Keygan. Wanita cantik itu langsung mengurung dirinya di kamar, Shafura bahkan mengabaikan asisten rumah tangganya yang beberapa kali memanggilnya.
Air matanya kembali mengalir saat mengingat ucapan Keygan yang menghinanya di depan sahabat nya sendiri.
"Tega Kamu, Mas." Shafura terisak pilu, mengingat kata demi kata yang suaminya ucapkan. "Kamu mengatai ku murahan, padahal Kamu sendiri tidak pernah menyentuhku."
Selama tiga tahun pernikahannya, Keygan belum pernah sekali pun menyentuh Shafura. Bahkan untuk sekedar bergandengan tangan pun tidak pernah Keygan lakukan.
Keygan selalu menepis setiap kali Shafura ingin menggenggam tangannya. Shafura tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Namun sekarang ia paham, Keygan enggan menyentuhnya karena berusaha menjaga hati seseorang yang dicintainya.
"Tapi, apa harus mengatai ku murahan?"
...----------------...
Tepat jam delapan malam, Keygan pulang dari kantor. Pria itu mengernyitkan keningnya begitu masuk ke dalam rumahnya. Ada yang berbeda, Keygan menatap sekeliling rumah. Tidak ada Shafura di sana.
"Ke mana dia?" Gumamnya.
Biasanya Shafura akan menyambutnya setiap pulang. Senyum manis di bibirnya selalu merekah walaupun Keygan tidak pernah membalasnya.
Namun kali ini, tidak ada senyuman yang menyambutnya. Bahkan keberadaannya saja tidak nampak di manapun.
"Bi, di mana istriku?" Tanya Keygan pada salah satu asisten rumah tangganya.
Wanita yang di panggil Bibi itu sedikit terkejut, pasalnya baru kali ini majikannya itu bertanya tentang istrinya. Tidak hanya itu saja, panggilan 'istriku' yang Keygan sematkan untuk Shafura baru pertama kali ini Bibi mendengarnya.
"Mmm... itu, Tuan. Nyonya tidak keluar kamar sejak tadi siang," ucap sang asisten rumah tangga.
Keygan mengernyitkan keningnya, ini pertama kalinya Shafura bertingkah seperti ini. Tiba-tiba saja rasa khawatir menyeruak di hatinya. "Apa dia sakit?"
Tanpa banyak bertanya, Keygan melangkah lebar menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
Ceklek
"Sha?"
Keygan mencari ke sekitar area kamarnya, kamar mandi, ruang ganti, bahkan balkon. Namun tidak menemukan sama sekali keberadaan istrinya.
"Di mana dia?"
Ceklek
Bertepatan dengan Keygan yang keluar dari kamarnya, Shafura pun terlihat keluar dari salah satu kamar tepat di sebelah kamar Keygan.
Keygan menatap Shafura dengan tatapan yang sulit diartikan. Begitupun Shafura, untuk beberapa saat keduanya saling bersitatap. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Hanya keheningan.
Lagi-lagi Keygan merasa aneh. Istrinya hanya diam. Tidak seperti biasanya yang selalu exited saat menyambutnya.
"Kamu mau ke mana?"
Tidak tahan dengan rasa penasarannya, Keygan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Pria itu memperhatikan penampilan Shafura yang terlihat anggun dan mempesona. Dress selutut yang membalut tubuh idealnya, sangat cantik dan sempurna. Membuat siapapun yang menatapnya, akan terpesona dengan kesempurnaan yang dimiliki seorang Lengkara Shafura.
Namun, di saat semua pria tergila-gila dengan kesempurnaan Shafura, suaminya justru menganggapnya wanita murahan.
"Ada urusan," ucap Shafura. Wanita itu berlalu begitu saja meninggalkan Keygan yang mematung di tempatnya.
Keygan tidak terima dengan perlakuan Shafura yang terkesan mengabaikan nya.
"Urusan apa di jam seperti ini?" Tanya Keygan penuh selidik. Tangannya terlipat di dada, sementara matanya terus menatap Shafura yang hendak meninggalkannya.
Pertanyaan Keygan itu berhasil menghentikan langkah Shafura. Wanita cantik itu membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya sambil mengernyitkan keningnya.
"Sejak kapan Mas perduli?"
Keygan melebarkan bola matanya, tangannya terkepal erat di samping tubuhnya. Ini pertama kalinya Shafura berani menjawabnya. Entah kenapa Keygan tidak suka melihat Shafura bersikap seperti ini.
"Kamu---"
Ucapan Keygan tertahan di udara saat ponselnya tiba-tiba berdering. Pria itu merogoh sakunya, matanya membulat sempurna saat melihat nama seseorang yang tertera di ponselnya.
Keygan buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Namun saat hendak membuka pintu, pria itu mengucapkan sesuatu yang membuat Shafura semakin terluka.
"Kamu boleh pergi, terserah mau sampai jam berapa pun," ucapnya dengan sinis. "Sekalipun Kamu tidak pulang, aku tidak perduli."
Brugh
Keygan menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Dasar wanita murahan," umpat nya dengan rahang yang mengeras.
...----------------...
Di belahan bumi lainnya, seorang wanita tersenyum senang saat mendengar suara pria yang sangat dicintainya.
"𝘏𝘢𝘭𝘭𝘰..."
"Sayang, dua hari lagi aku pulang. Kamu harus menepati janjimu."
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
"Kamu yakin Keygan akan menceraikan istrinya?" Tanya seorang pria sambil memainkan gundukan wanitanya.
Wanita yang duduk di pangkuan pria itu menggelinjang hebat saat tangan sang pria semakin bergerak liar.
"Te-tentu saja. Apa Om Deril meragukan ku?" Napas wanita itu kian tersengal saat pria yang dipanggil Om Deril itu mulai bermain di bawah sana.
Deril menaikan bahunya acuh, sementara jarinya semakin bergerak lincah di bawah sana, mengobrak-abrik inti wanitanya.
"Kamu sudah basah, Sayang." Bisik Deril di telinga Jovanka.
Jovanka adalah wanita yang sangat dicintai Keygan. Keduanya menjalin hubungan semenjak di bangku sekolah menengah atas (SMA). Hubungan keduanya terus berlanjut walaupun Keygan saat itu harus melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
Namun cinta keduanya harus kandas saat orang tua Keygan menjodohkannya dengan Shafura. Keygan tak serta-merta menerima perjodohan nya dengan Shafura, apalagi wanita pilihan orang tuanya adalah wanita yang ia anggap sangat menjijikkan.
Keygan berulang kali mengatakan jika ia memiliki wanita pilihannya sendiri. Namun orang tuanya menolak dengan alasan Jovanka tidak sebanding dengan keluarga Bhatara.
Pada akhirnya Keygan terpaksa menerima keputusan kedua orang tuanya, apalagi saat itu kondisi Hanika hampir sekarat karena penyakitnya.
Namun tanpa sepengetahuan orang tuanya, Keygan dan Jovanka masih memiliki hubungan. Keygan sengaja mengirim Jovanka kuliah di luar negeri untuk memantaskan statusnya. Setelah kondisi Hanika membaik, dan Jovanka sudah memiliki predikat sebagai lulusan luar negeri, Keygan akan menceraikan Shafura.
Namun andai Keygan tahu, selama di luar negeri Jovanka tidak pernah kuliah. Wanita itu justru terjebak dengan Deril, salah satu rival bisnis keluarga Bhatara.
"Om, aku udah gak tahan." Jovanka menatap sayu Deril yang semakin menyeringai.
Detik berikutnya keduanya hanyut dalam gairah yang menggebu, seiring desahan yang berirama, sama-sama mencari kepuasan nafsu belaka.
...----------------...
Keygan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Semalam ia tidak tidur dengan baik, Keygan terus memikirkan sikap Shafura yang tiba-tiba berubah.
Entah semalam istrinya itu pulang jam berapa, namun pagi-pagi sekali istrinya kembali pergi bahkan tanpa menyiapkan sarapan untuknya seperti biasanya.
"𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩?"
Entah kenapa membayangkan Shafura yang mulai menjauhinya membuat hatinya nyeri. Selama pernikahannya, ini kali pertama Keygan dan Shafura tidur terpisah.
Walaupun pernikahannya terpaksa, namun keduanya tetap tidur satu kamar, bahkan satu kasur. Hanya saja ada guling pemisah diantara keduanya.
"𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩. 𝘐𝘵𝘶 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶." 𝘚𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢. "𝘋𝘢𝘯 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘚𝘩𝘢𝘧𝘶𝘳𝘢."
Seperti rencananya sejak awal, Keygan sengaja bersikap dingin pada Shafura, untuk membuat istrinya itu menyerah dengan pernikahannya. Namun Keygan tidak menyangka, Shafura akan bertahan sejauh ini.
Sebenarnya Shafura adalah wanita yang baik, cantik dan juga cerdas, tidak akan sulit untuk mencintai wanita sesempurna Shafura. Terlebih lagi semua yang ada dalam diri Shafura sesuai dengan kriteria Keygan.
Hanya saja Keygan sudah memiliki Jovanka di hatinya. Dia adalah pria yang menjunjung tinggi kesetiaan, pantang untuknya mendua, walaupun sebenarnya berpaling pada istrinya sendiri tidak lah salah.
Namun bukan itu saja yang membuat Keygan sulit mencintai Shafura. Alasan lainnya adalah, Keygan tahu fakta tentang Shafura. Istrinya itu tidak lebih dari seorang wanita murahan, yang menghalalkan segala cara demi popularitas.
"Cih! Untuk apa aku memikirkan wanita murahan itu?"
"Siapa yang Lu maksud wanita murahan?"
Fagan tiba-tiba masuk ke ruangan Keygan. Usia keduanya yang hanya terpaut dua tahun saja membuat Fagan dan Keygan layaknya saudara kembar.
"Bisa nggak, Lu kalau masuk ruangan gue ketuk dulu?"
Fagan memutar bola matanya malas, sebenarnya Fagan sudah mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Fagan pun terpaksa masuk sebelum Keygan mempersilahkan.
"Gue---"
Ceklek
"Sayang!"
Ucapan Fagan harus terhenti saat seorang wanita tiba-tiba masuk ke ruangan Keygan.
"Aku merindukanmu."
Jovanka menghambur ke pelukan Keygan yang mematung di tempatnya. Tanpa tahu malu, wanita itu duduk di pangkuan Keygan yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Keygan belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi. Pria itu hanya diam menatap wanita yang berada di pangkuannya.
Jovanka melingkarkan tangannya di leher Keygan, dan perlahan mulai mengikis jarak diantara keduanya. Jarak keduanya kini hanya tinggal beberapa senti saja, namun saat bibir keduanya nyaris bertemu, Fagan berhasil menyadarkan Keygan dan membuat saudaranya itu tersentak.
"Jadi, ini wanita murahan yang tadi Lu bicarain, Key?" Fagan tersenyum smirk. Sejak dulu ia tidak suka dengan Jovanka. Entah kenapa Fagan merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari wanita itu.
Jovanka membulatkan matanya, ia langsung turun dari pangkuan Keygan. Sebelumnya ia tidak menyadari kehadiran Fagan di sana. Wanita itu menundukkan wajahnya yang memerah karena menahan malu.
Begitu juga Keygan, ia berusaha menetralkan perasaan terkejutnya. Namun dihadapkan dengan mulut beracun Fagan, membuat Keygan tidak bisa berkutik.
"Sebaiknya Lu keluar, Gan. Gue---"
"Lu mau terusin cipokan sama wanita murahan ini, Key?" Fagan terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Tawanya penuh cibiran dan sarat ejekan.
Jovanka mengepalkan tangannya, ia menatap Fagan penuh kebencian.
"Fagan!"
Keygan menatap tajam adiknya. Namun Fagan sama sekali tidak terpengaruh. Pria itu justru semakin memantik api yang sebentar lagi akan meledak.
"Kenapa? Lu gak suka wanita murahan ini gue katain?" Fagan membalas tatapan Keygan tak kalah tajam. "Emang bener kan Dia mu-ra-han?"
Fagan bahkan mengeja kata murahan dengan ekspresi sangat menyebalkan di mata Jovanka.
"Aku bukan wanita murahan, Kamu jangan sembarangan bicara!" Jovanka tidak terima.
"Kalau Lu bukan wanita murahan, terus apa namanya? Hanya wanita murahan yang suka menggoda suami orang!"
Fagan semakin menyeringai, ia tidak akan tinggal diam melihat kelakuan wanita murahan ini. Fagan tidak akan membiarkan rumah tangga Keygan dan Shafura hancur karena wanita ular ini.
"Fagan cukup! Sekarang, Lu keluar dari ruangan gue!"
"Cih! Setidaknya, kalau Lu mau berbuat mesum jangan di sini! Jangan mengotori perusahaan yang sudah susah payah Daddy bangun."
"Gue bilang cukup, FAGAN! KELUAR!"
Mau tidak mau Fagan pun keluar dari ruangan menjijikkan itu. Tentu saja setelah memberikan tatapan intimidasi pada wanita tidak tahu diri itu.
Setelah Fagan keluar dari ruangannya, Keygan menatap Jovanka yang tengah menunduk di hadapannya. Keygan menghampiri wanita itu dan memeluknya erat.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang!"
Keduanya saling memeluk, menyalurkan rindu yang selama hampir empat tahun ini terpisahkan oleh jarak.
"Aku juga sangat merindukanmu, Key."
Keygan merenggangkan pelukannya. Pria itu menatap dalam mata Jovanka. Mata teduh yang selalu membuatnya merasa tenang. Namun entah mengapa, kali ini justru bayang-bayang Shafura yang terlintas di kepalanya, bahkan saat jelas-jelas wanita yang sangat dicintainya berada tepat di hadapannya.
"𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶?"
Saat Keygan tengah bergelut dengan pikirannya, Jovanka memanfaatkan kesempatan untuk mencium Keygan. Namun lagi-lagi ciumannya harus kembali gagal karena kedatangan seseorang yang tak diundang.
Ceklek
"Ehhh... maaf!"
Brugh
Seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan Keygan, kembali keluar dan langsung berlari saat mendapati pemandangan yang menyesakkan dadanya.
"Shafura!"
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
Sepanjang perjalanan pulang Shafura terus menangis. Ia sudah tahu Keygan mencintai wanita lain, tapi tetap saja melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain, hati Shafura sakit.
Keygan tersenyum hangat pada wanita itu, matanya memancarkan aura kebahagiaan yang tidak pernah Shafura lihat saat bersamanya.
"Apa aku benar-benar harus menyerah?" Gumam Shafura di sela-sela tangisnya.
Tiga tahun Shafura berjuang sendirian, hanya bertumpu pada keyakinannya, jika suatu saat nanti Keygan akan mencintainya.
"Tapi, bagaimana dengan Mommy?"
Shafura sangat menyayangi mertuanya, satu-satunya orang yang membuatnya bertahan sampai sejauh ini adalah Hanika. Dulu, Shafura sempat ingin menyerah, namun saat mengingat Hanika, niat itu hilang begitu saja.
Shafura khawatir dengan keadaan mertuanya. Walaupun saat ini Hanika baik-baik saja, namun tak lantas membuatnya seenaknya mengambil keputusan. Hanika memiliki penyakit jantung, dan sempat beberapa kali terkena serangan jantung. Shafura takut jika keputusannya saat ini akan mempengaruhi kesehatan mertuanya.
"Aku harus apa?"
Shafura butuh waktu untuk berpikir, ia tidak ingin gegabah dengan mengandalkan keegoisannya, yang justru akan menimbulkan penyesalan. Biarlah untuk saat ini rasa sakitnya ia telan sendiri. Bukankah Shafura sudah terbiasa dengan rasa sakit?
Air matanya kembali mengalir, pernikahan yang selama hampir tiga tahun ini ia bangun, nyatanya hanya karena Shafura. Shafura yang berjuang sendirian.
Shafura berdiam cukup lama di dalam mobil, padahal sudah dari 15 menit yang lalu mobilnya sampai di pekarangan rumahnya. Wanita cantik itu berulang kali menghembuskan napasnya, berharap rasa sesaknya perlahan hilang.
Namun air matanya justru kembali menggenang, saat menyadari mobil mertuanya terparkir di sana.
"Tenang Shafura, kamu pasti bisa." Shafura mencoba menyemangati dirinya sendiri. Secepat kilat wanita cantik itu memoles wajahnya dengan make-up, untuk menyamarkan mata sembabnya.
Setelah merasa penampilannya layak, Shafura turun dari mobilnya. Dengan langkah anggunnya wanita itu masuk ke dalam rumahnya.
"Mom!" Shafura berlari kecil dan menghambur ke pelukan Hanika. "Aku merindukanmu, Mom!"
"Mommy juga merindukanmu, Sayang!" Hanika membalas pelukan Shafura, baginya Shafura bukan hanya sekedar menantu, tapi sudah Hanika anggap seperti putrinya sendiri.
Orang tua Shafura berada di Perancis, sangat jarang bertemu dengan mereka. Karena itu Shafura sangat bersyukur memiliki Hanika sebagai mertuanya. Karena Hanika selalu ada untuknya.
"Mau sampai kapan kalian berpelukan?" Daddy Afkar berdecak sambil melipat tangannya, melihat istri dan menantunya yang terus berpelukan. "Memangnya Shafura gak rindu daddy?"
Rupanya Afkar kesal karena Shafura mengabaikannya. Kasih sayang Afkar pada Shafura sama besarnya seperti Hanika. Bagi keluarga Bhatara, Shafura adalah pelengkap kebahagiaan, kecuali Keygan.
Entah kenapa, Keygan tidak seperti keluarganya yang sangat menyayangi Shafura. Padahal sejak kecil Keygan sangat menyayangi Shafura.
"Aku juga merindukan Daddy!"
Shafura menghambur ke pelukan Afkar. Tidak ada kecanggungan sama sekali, karena Shafura benar-benar menganggap Afkar seperti daddy nya sendiri.
"Jangan menangis! Kamu putri Daddy yang kuat."
Afkar mengusap air mata yang mengalir di pipi Shafura. Dan Afkar tahu penyebab menantunya menangis.
Shafura tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Aku menangis karena bahagia, Dad."
Bibirnya tersenyum manis, namun matanya menyiratkan sebaliknya. Ada kepahitan yang tengah Shafura rasakan, dan itu tak luput dari penglihatan Afkar.
"Sayang, duduk sini! Ada yang mau mommy bicarakan." Hanika menepuk sofa tepat di sebelahnya.
Tiba-tiba saja Shafura merasa ketakutan. Ia pernah menonton adegan seperti ini sebelumya di televisi.
"𝘈𝘱𝘢 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘤𝘶𝘤𝘶?" 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘚𝘩𝘢𝘧𝘶𝘳𝘢. "𝘎𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘴 𝘒𝘦𝘺𝘨𝘢𝘯?"
Dengan sisa-sisa keberaniannya, Shafura mendekat dan mendudukan dirinya di samping mertuanya.
Hanika menggenggam tangan Shafura, namun genggaman mertuanya itu membuat Shafura semakin ketakutan.
"Bercerai lah dengan Keygan!"
Deg
...----------------...
Keygan ingin mengejar Shafura, namun Jovanka berhasil menghentikannya dengan pura-pura sakit kepala. Alasan yang sangat klasik namun terlihat natural di mata Keygan. Dan akhirnya Keygan lebih memilih mengantar Jovanka ke apartemen nya daripada mengejar Shafura.
"Sayang, bukannya Kamu kemarin bilang akan pulang dua hari lagi?" Tanya Keygan. "Aku kaget loh, tiba-tiba Kamu sudah ada di sini."
Alih-alih membujuk Shafura, Keygan justru terlihat sedang menemani Jovanka makan di apartemen nya. Untuk sementara, Jovanka tinggal di apartemen milik Keygan, sebelum rumah impiannya selesai dibangun.
Sedalam itulah cinta Keygan untuk Jovanka. Keygan rela menggelontorkan uang ratusan juta untuk membangun rumah mewah yang rencananya akan Jovanka dan Keygan tempati setelah mereka menikah.
"Aku sengaja mau ngasih Kamu kejutan," ucap Jovanka sambil tersenyum menatap Keygan.
Keygan terkekeh, dalam hatinya, ia bersyukur bisa kembali bertemu dengan wanitanya. Di matanya, tidak ada yang berubah. Jovanka tetap cantik seperti dulu. Hanya penampilannya saja yang sedikit berubah, dan sebenarnya Keygan kurang begitu menyukainya.
"Sayang, apa Kamu nyaman berpakaian seperti ini?" Tanya Keygan hati-hati.
Keygan tidak bermaksud untuk mengomentari penampilan Jovanka, hanya saja dari sudut pandangnya, penampilan Jovanka ia anggap terlalu berani. Shafura saja yang notabene seorang model terkenal, tidak pernah berpakaian seperti yang saat ini Jovanka kenakan.
Jovanka mengenakan tshirt ketat lengan pendek dan juga rok mini se-paha. Dalamannya saja bahkan nyaris terlihat. Tidak salah jika Fagan menganggapnya wanita murahan.
Sementara Shafura selalu berpakaian sopan, namun selalu terkesan mewah dan sexy di mata siapapun yang memandang nya. Mungkin karena perawakannya yang ideal.
"Nyaman, memangnya kenapa?" Jovanka mengernyitkan keningnya. Wanita itu sampai menghentikan suapan nya hanya untuk menatap Keygan. Ini pertama kalinya Keygan membahas soal penampilan, membuat Jovanka sedikit bingung.
"Menurutku, agak terlalu berlebihan, Sayang. Maaf."
Berlebihan di mananya? Ini hanya tshirt biasa loh, Key." Jovanka sedikit kesal. Andai Keygan tahu bahkan ia sering mengenakan tanktop tanpa mengenakan outer untuk lapisannya.
"Aku tahu, tapi roknya terlalu pendek, Sayang. Shafura saja---"
"Oh... jadi Kamu membandingkan aku dengan istrimu, Key?" Jovanka menatap Keygan penuh kecewa. "Jangan-jangan Kamu mulai mencintainya iya, Key?"
Jovanka sedikit berteriak, air matanya mulai mengembun. Wanita itu menggelengkan kepalanya, perlahan rasa takut mulai menghantuinya.
"𝘒𝘦𝘺𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶. 𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘑𝘰𝘷𝘢𝘯𝘬𝘢.
"Bukan begitu, aku tidak bermaksud membandingkan mu dengan nya." Keygan membawa Jovanka ke dalam pelukannya saat melihat wanitanya itu mulai menitikkan air mata. "Maafkan aku." Keygan merutuki kebodohannya karena sudah membuat wanitanya menangis.
"𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘣𝘪𝘴𝘢-𝘣𝘪𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘑𝘰𝘷𝘢𝘯𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶."
"Jadi, Kamu tidak mencintai istrimu kan, Key?" Jovanka mendongakkan wajahnya menatap Keygan.
Keygan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, membuat Jovanka tersenyum penuh kemenangan.
"Tentu saja tidak. Aku hanya mencintaimu, Jovanka Cordelia."
"Kalau begitu, kapan Kamu akan menceraikan istrimu?"
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!