"Kamu lihat sendiri! Anak kita perlu banyak uang untuk tindakan medis, lagi pula kenapa sih dia harus lahir jadi anak yang autis?"
Emily jatuh bersimpuh dekat pintu keluar dengan barang-barangnya yang sudah di lempar kehadapannya, sementara itu seorang wanita menatapnya sambil menangis dengan penuh kesedihan.
"Biar dia pergi, sudah cukup kita merawatnya!," ucap pria itu lagi.
Mereka adalah orangtua angkatnya, bukan yang pertama, melainkan yang ke-empat.
'Hebat sekali takdir mempermainkanku ya?'
Dengan lunglai dia mencoba menguatkan kakinya, dia berdiri dan segera mengambil semua kepunyaannya, lalu dengan sopan dia membungkukkan badannya.
"Terimakasih untuk semuanya, saya tidak akan melupakan kebaikan kalian"
Hening, tak ada jawaban, hanya ada suara isak tangis yang mengiringi kepergiannya dari rumah itu.
Emily sudah tahu, pada akhirnya cepat atau lambat dia memang harus pergi dari sana.
Hatinya kecewa, dia menghela nafas hanya untuk menyadari bahwa musim dingin telah tiba, pandangannya mendongak ke atas dimana salju turun dengan indah meski suhu dinginnya menusuk sampai ke tulang, apalagi dia hanya memakai jaket yang tidak terlalu tebal, wajar saja karna dia tidak bisa membeli yang lebih mahal.
Langkah kecilnya menelusuri jalanan untuk mencari penginapan terdekat, rencananya besok pagi dia akan pergi ke pusat kota London untuk mencari pekerjaan.
***
Sementara itu kediaman keluarga Hambert sedang kacau, mereka berargumen mengenai informasi terbaru tentang anggota keluarga mereka yang sudah lama hilang dan kini berada di salah satu kota kecil di London bersama pasangan yang menjadi orangtua angkatnya.
"Emy, meski ayah menjemputnya kembali, ayah tidak akan mengusirmu dari rumah ini, kamu tau sendiri bahwa sejak kehadiranmu disini, istriku menjadi bahagia sebelum dia meninggal," ucap Tuan Gerson, ayah kandung dari Emily.
Mereka kehilangan Emily pada 10 tahun yang lalu, anak itu tenggelam di sungai dekat rumah dan tim penyelamat tidak menemukan jasadnya, ada pemikiran yang berkata dia sudah meninggal namun mereka juga masih berharap dia hidup.
Maka dari itu mereka menyewa agen untuk mencari informasi tentang keberadaan gadis itu.
Beberapa tahun setelahnya ibunya yang sangat sedih menjadi depresi hingga mengidap penyakit kanker perut.
Oleh sebab itu mereka berinisiatif untuk mengadopsi salah satu anak perempuan dan menjadikannya sebagai Emily.
Harapan mereka benar-benar terjadi, sang ibu selalu memanggilnya Emy, persis seperti panggilannya terhadap Emily yang asli, kerna itulah mereka memberi nama Emy Aderson Hambert padanya agar terdengar mirip Emily namun tidak persis dengan nama asli Emily.
"Iya ayah, aku mengerti, aku juga akan tetap menyayangi kalian dan berusaha untuk dekat dengan kak Emily," jawab Emy dengan tersenyum.
Bagi mereka, Emy adalah simbol dari kesempurnaan, nilai akademiknya selalu di atas rata-rata, sikapnya sopan dan elegan, sangat berbeda dengan Emily, ketika masih kecil dia adalah anak yang nakal dan manja, apapun yang di inginkannya harus terpenuhi.
"Baiklah, ayah akan pergi menjemputnya, kamu tinggallah dirumah, jika butuh apapun suruh saja salah satu pelayan untuk melakukannya"
Tuan Gerson hari itu pergi ke kediaman keluarga ibu angkat Emily.
***
"Ya, sudah saya bilang tadi, dia sudah pergi kemarin malam, saya tidak tau dia pergi kemana dan tidak mau tau.. lebih baik anda pergi dari sini," usir ayah angkatnya tanpa mempersilahkan Tuan Gerson masuk ke dalam sana.
"Tuan? Orang itu sangat tidak sopan, bagaimana kalau?"
"Sudahlah, ayo kita cari Emily"
Ucap Tuan Gerson, dia kembali masuk ke mobil, tujuan mereka sekarang adalah mencari keberadaan Emily di dekat sana karna menurutnya gadis itu belum pergi terlalu jauh.
Benar saja sebelum keluar dari kota, Tuan Gerson melihat seorang wanita yang sedang menarik koper menuju halte bus, sudah pasti itu Emily, firasatnya mengatakan dia tidak salah.
"Berhenti," ucapnya pada sang sopir.
"Emily!"
Teriak Tuan Gerson, dia berlari menghampiri sosok itu.
Brak
Tiba-tiba saja gadis itu pingsan di depannya, itu membuatnya agak khawatir.
"Reyhan, bawa dia kerumah," pintar Tuan Gerson pada sang sopir.
Hari itu Emily asli pulang kerumah.
Begitu dia sadar, dia mendapati suasana baru yang mewah, meski begitu semuanya terasa tak asing baginya.
"Nak, apa kamu sudah bangun?," tanya Tuan Gerson yang di mata Emily sekarang hanyalah seorang pria paruh baya.
"Ma-af.. siapa anda? Dan dimana saya?," tanya Emily.
"Kamu Emily Marleight Hambert, putri saya yang menghilang sepuluh tahun yang lalu, apakah kamu tidak ingat?," tanyanya sambil mengelus rambut Emily dengan kasih sayang.
"Ti..tidak"
Memang benar Emily tidak mengingat pria itu, namun dalam benaknya ada beberapa potongan memori yang terlintas, dia juga yakin bahwa itu adalah kilasan masa lalunya sebelum tenggelam di Sungai.
Masa dimana dia begitu manja dengan sesosok wanita yang mungkin adalah ibunya, namun wajah sang ayah dalam ingatannya benar-benar tidak ada.
"Tidak papa, kamu bisa mencoba untuk mengingatnya.. sekarang ini adalah kamarmu, rumahmu, katakan apapun yang kamu butuhkan pada pelayan dan mereka akan memberikannya, ayah akan keluar, ingat untuk sarapan bersama jam 8 ini"
Begitu Tuan Gerson keluar, Emily melihat cahaya matahari yang memantul dari jendela kamarnya, dia mengambil ponsel dalam jaketnya dan melihat bahwa sekarang adalah pukul 7.30.
Dengan perlahan dia mandi dan bersiap turun ke bawah.
"Kakak.. jangan menggodaku!"
Ada suara gadis lain yang terdengar begitu langkahnya mendekat ke lantai 1, dia mencari sumber tersebut dan menemukan seorang gadis dan seorang pria yang sedang bercanda bersama.
"Kak Emily? Ayo kemari.."
Panggil Emy padanya, Emy memang masih lebih muda setahun dari Emily, sehingga kedatangannya membuat Emy otomatis menjadi si bungsu dalam keluarga Hambert.
Sarapan pertama mereka berjalan lancar, meski begitu ada rasa iri dari Emily yang mendapati betapa dekatnya Emy dengan ayah dan kakaknya.
Mungkin rasa iri itu yang membuatnya terus bersaing dengan Emy, padahal dia tak sepandai gadis itu, guru-guru terus mengatakan agar dia pindah ke kelas reguler, namun Emily tidak mau, dia membujuk ayahnya untuk terus membantunya dengan cara apapun agar tetap di kelas terbaik yang sama dengan Emy.
Ayahnya yang merasa bersalah karna tahun-tahun dimana mereka tidak mengurus Emily akhirnya menyerah dan mengikuti semua kemauannya.
Namun, bukankah sabar juga ada batasnya?
"Emily, ayah sudah cukup dengan semua masalah yang kamu timbulkan, jika nilai ujian masuk perguruan tinggimu tidak bagus, maka ayah sudah tidak akan membayar mereka untuk menempatkanmu di kelas yang sama dengan Emy"
Itu adalah ucapan pertama yang membuat ayahnya berubah, apalagi kenyataannya bahwa Emily tidak berhasil mendapat nilai baik malah memperparah keadaan.
Sekarang dia terlihat sangat di asingkan di rumah, ayahnya sibuk mengurus keperluan Emy yang akan masuk kampus bergengsi, sedangkan dia hanya bisa masuk kampus biasa saja.
"Kak, ayolah.. antar aku mengurus administrasi," Emily berharap jika ayahnya tidak mendukungnya, maka dia masih punya Ethan.
Na'as sekali, Ethan juga berubah sikap padanya, "Kakak ada meeting penting, kamu pergilah sendiri"
Pria itu pergi begitu saja meninggalkannya di rumah, kini semuanya hampa.
"Lucu.. padahal mereka yang membawaku kembali, tapi mereka seperti tidak menganggap keberadaanku"
Ucap Emily pada dirinya sendiri lalu tertawa sedih.
Akibatnya, kebencian terhadap Emy makin membuncah, dengan cepat dia pergi ke kamar Emy yang tidak terkunci lalu mengambil inhaler yang biasa digunakan gadis itu bila mendapat serangan asma.
Benar saja, begitu malam tiba, salah satu pelayan mendapati Emy meringkuk di depan pintu kamarnya dengan keadaan sesak nafas.
Otomatis ayah dan kakaknya datang dan menyuruh pelayan mencari inhaler cadangan.
"Tarik nafas perlahan, tenang Emy.."
Ditengah itu, secara tiba-tiba Emily datang membawa inhaler seolah menjadi penyelamatnya.
Namun, "Kenapa inhaler miliknya bisa ada padamu?"
Emily lupa, semua inhaler milik Emy memiliki tanda nama di ujung benda kecil itu, Ethan yang mengambilnya bisa melihat tulisan itu.
"Apa kamu sengaja mengambilnya?," tanya Ayahnya dengan wajah yang sudah diliputi amarah.
"Ayah.." Panggil Emy yang ingin menenangkan sang ayah.
"Diam Emy.. ayah tanya, apa kamu sengaja mengambilnya Emily?"
Tak ada jawaban, namun mereka sudah menyimpulkan bahwa benar itu adalah ulah darinya, Ethan menggendong Emy, membawanya masuk ke kamarnya.
Ayahnya masih menatap tajam sebelum berkata, "Ayah kecewa.."
"Mengapa bukan Emy saja yang menjadi anak kandung ayah.."
Ucapan terakhirnya membuat hati Emily tersayat, ini lebih menyakitkan dari pada mendapatkan orangtua angkat yang bermain tangan dengannya.
Sebulan setelah kejadian yang merenggut kepercayaan ayah dan kakaknya, Emily memutuskan untuk keluar dari rumah itu.
Nampaknya empat tahun sudah cukup untuk menyadarkan dirinya bahwa pengganti dirinya dalam keluarganya ternyata lebih baik dari pada dirinya sendiri.
'Seharusnya aku sadar lebih cepat agar harapanku pada mereka tidak membesar'
"Nona.. mengapa Nona membawa banyak barang?," tanya Reyhan yang melihatnya keluar dengan dua koper di tangannya.
"Apalagi? Lihat saja mereka, pergi ke luar negeri tanpa aku.. kehadiranku tidak dibutuhkan kan? Minggir!"
Emily tak menghiraukan panggilan sopir keluarganya, dia menghentikan taksi dan pergi dari sana.
Tadi malam dia diam-diam mendengar ayahnya yang memberitahukan Kakak dan Emy agar bersiap ikut dengannya dalam perjalanan bisnis.
"Biarkan saja Emily tinggal,"
"Tapi yah.."
"Ayah tidak mau ada keributan ketika tiba disana Emy.."
Begitulah bagaimana Emily memilih mengepak semua barang, mengosongkan kamarnya dan pergi dari sana.
Langkahnya kembali ke daerah kecil dekat panti asuhan dimana dulu dia tinggal setelah di temukan hanyut di sungai oleh salah satu biarawati.
"Silahkan dilihat kamarnya," ucap pemilik gedung sewa yang salah satu kamarnya akan Emily tempati mulai sekarang.
"Oke, aku ambil kamar ini," ucap Emily dan memberikan sejumlah uang pembayaran sesuai kesepakatan mereka.
"Huh.. setidaknya lukisan ibu sudah ada di tanganku"
Dia mengeluarkan sebuah lukisan yang setengah jadi, itu adalah karya terakhir dari sang ibu sebelum dia meninggal.
Itu adalah lukisan seorang wanita berbaju tradisional China, dia sedang menggendong dua anak di pelukkan nya, anak-anak itu terlihat begitu polos dan imut.
Ibunya lahir dari keturunan China, semasa hidupnya dia melukis banyak hal dan memajangnya di museum, namanya terkenal di karangan pelukis sampai akhirnya dia meninggal akibat kanker lambung stadium akhir.
"Mari kita selesaikan lukisan ibu.."
Dari lukisan sang ibu, Emily mulai mempelajari teknik melukis, dia hanya berharap bisa menyelesaikan lukisan itu dengan baik namun yang tak di sangka adalah lukisannya di beli oleh beberapa kolektor dengan harga fantastis.
Padahal itu semua adalah lukisan asal yang dibuat saat belajar, namun ketika dia mempostingnya di web, banyak yang tertarik dan membelinya.
[Saya ingin memesan lukisan]
[Bisakah saya mengusulkan lukisan apa yang akan dibuat? Saya bayar dua kali lipat]
[Apa karya Di balik cerah bulan masih belum di beli? Berapa harganya? Saya ingin membelinya]
Begitulah bagaimana Emily mendapat kembali modalnya untuk belajar melukis ditambah keuntungan.
Kuliah? Selama setahun itu dia tak berkuliah, hanya fokus pada belajar melukis, mungkin hasil dari usahanya terbayarkan sekarang.
Namanya disamarkan menjadi Daisy, dia benar-benar terkenal sebagai pelukis berbakat.
Dua tahun lamanya dia mengambil banyak proyek dan membesarkan nama Daisy sebagai jajaran dari pelukis terkenal sampai akhirnya dia berhenti karna mengalami penyakit yang sama dengan sang ibu.
"Maaf Nona, kanker ini termasuk ganas dan sudah masuk stadium tiga, anda bisa melakukan kemoterapi namun saya tidak menjamin sel nya akan benar-benar musnah"
Disaat ini Emily menyesal karna mengabaikan kesehatannya, begadang tiap malam, makan makanan tidak sehat dengan jadwal yang tidak teratur dan yang lebih penting adalah dia tidak menikmati hidupnya seperti berfoya-foya diluar sana.
"Baik dok, berikan saya obat saja, saya juga merasa sudah sangat capek, sepertinya saya tidak akan tahan dengan efek samping kemo"
Itulah keputusan Emily, 23 tahun hidupnya akan segera berakhir, lebih baik dia menghabiskan uangnya untuk menikmati waktu yang tersisa.
***
Di sisi lain, keluarga Hambert yang mengalami kebangkrutan mencoba meminta bantuan dari perusahaan Hilton.
"Mau bagaimana lagi? Mereka ingin Emily sebagai calon pengantinnya, kita harus membujuk anak itu untuk kembali"
Tuan Gerson tidak percaya dengan permintaan Tuan Sander, kemarin dia sudah menawarkan Emy sebagai calon pengantin anaknya namun di tolak mentah-mentah.
"Saya tidak tertarik dengan anak angkat, meski mereka memiliki nama belakang yang sama dengan anda namun mereka tetap orang luar, saya menghormati ikatan keluarga, oleh sebab itu saya ingin anak kandung anda Tuan Gerson.."
Itulah yang dikatakan oleh Tuan Sander selaku Direktur utama grup Hilton yang memiliki banyak cabang perusahaan di berbagai bilang yang tersebar hampir di seluruh benua Eropa dan Asia.
"Lebih baik kita semua pergi menjemputnya sekarang, Emy.. memohon lah padanya agar dia kembali, dia pergi karna tidak menyukaimu bukan? Meski dia egois namun sekarang kita membutuhkannya"
Emy menganggukkan kepalanya, sejak lulus Kuliah dia mencoba menjadi pelukis agar bisa meneruskan jejak Nyonya Hambert, namun bakat tidak dapat dimanipulasi, memang benar bahwa nilai akademiknya bagus, namun dia sama sekali tidak memiliki bakat dalam melukis.
Ethan yang menjadi tangan kanan sang ayah juga tidak terlalu fokus sehingga ada beberapa kesalahan dalam data keuangan atau lebih tepatnya mereka menyadari ada koruptor dalam perusahaan Hambert namun tidak mengetahui siapa pelaku tersebut.
"Reyhan, siapkan mobil, kita akan pergi menjemput Emily," perintah Tuan Gerson.
Mereka memang sudah tahu keberadaan Emily sejak anak itu pergi dari rumah, namun mereka mengabaikannya, berfikir bahwa dia akan kembali dengan sendirinya sampai akhirnya melupakannya.
Saat mobil mereka tiba, ternyata kamar yang di sewa Emily harus melalui rangkaian gang kecil dan tangga, mobil sama sekali tidak bisa masuk.
"Kamu tunggu disini saja Reyhan," ucap Tuan Gerson kemudian pergi dari sana.
Tangga-tangga itu nampaknya sangat menyusahkan bagi Emy, jadi dia memutuskan untuk menunggu di bawah.
Hanya Tuan Gerson dan Ethan yang naik, berharap Emily ada di kamarnya.
Tok tok tok..
Sudah hampir 10 menit mereka mengetuk pintu nomor 12 namun Emily tak kunjung keluar dari sana.
"Apa kalian mencari gadis di kamar itu? Tadi aku melihatnya keluar, sepertinya pergi ke toko depan karna dia hanya memakai pakaian biasa," ucap penyewa dari kamar 17 yang baru keluar dari kamarnya.
Alhasil mereka berdua harus turun karna toko yang menyediakan segala kebutuhan hanya ada satu disana, pastilah Emily akan pergi kesana.
Disaat keduanya menuruni tangga, Emy berhasil melihat sosok Emily yang berjalan keluar dari toko, terdapat banyak snack dan bir dalam plastik belanjaannya.
"Emily!," teriak Emy namun tak di dengar oleh Emily, hal itu karna telinga kanan Emily sudah tidak bisa berfungsi, tidak ada yang tahu akan kebenaran itu.
Ayah angkat kedua Emily yang menjadikannya seperti itu, dia melempar botol minuman dan serpihannya merusak gendang telinga kanannya.
Karna Emily terus berjalan, maka Emy memutuskan untuk mengejarnya, jarak mereka yang jauh membuat Emy tidak mampu mengejar karna asma yang di deritanya.
Untung saja Emily berhenti di depan sungai yang ada di sana, duduk di rerumputannya sambil mulai membuka makanan ringan serta bir yang telah di beli.
"Emily.. Huh huh.. kenapa kamu gak berhenti sih," ucap Emy sambil mengatur nafasnya yang mulai tak karuan.
"Emy? Mengapa kamu disini?," tanya Emily.
Emy tak langsung menjawab, dia duduk disampingnya dan meminum setengah sekaleng bir yang di pegang oleh Emily.
"Ayo pulang yuk"
'Nih anak gila ya?'
Emily tak habis pikir, mengapa orang yang paling dia benci datang di masa hidupnya tinggal sedikit dan dengan santainya mengajaknya pulang.
"Kamu gila ya? Ngapain aku pulang, pulang aja sana.. ayah dan kak Ethan pasti nyariin kamu," ujar Emily dengan nada cuek.
"Ayah yang nyuruh kamu pulang, pulang yuk.."
Sekali lagi Emy mencoba membujuknya.
"Gak mau, pulang buat jadi bayangan kamu? Haha"
Emily tak berharap untuk dicintai oleh mereka lagi, dia sungguh-sungguh telah menyerah dengan hidup tanpa keluarga yang memperhatikannya.
"Nah itu ayah dan kakak sudah datang.."
Emy menunjuk dan mulai berdiri untuk menghampiri mereka, dia tidak sadar bahwa di depannya ada tanah basah yang agak licin tanpa adanya rumput.
"Akhhh"
Emy terjatuh ke sungai ditengah cuaca yang mulai memasuki musim dingin itu.
"Emy!!!" Teriak Tuan Gerson dan Ethan bersamaan.
Emily? Dia tak cukup cepat untuk mencegah kejadian itu.
Ethan melepaskan kemejanya, menyisahkan kaos dalam dan menyelam menyelamatkan Emy, sedangkan Tuah Gerson?
Sudahlah.. pria itu menatap Emily seolah dia adalah tersangkanya.
"Dia jatuh sendiri loh, bukan aku yang dorong"
Emily tak berdiri, dia memilih menonton keharmonisan mereka sambil terus meneguk birnya.
"Bagus.. kamu gak memperingatkan Emy atau memang kamu sengaja supaya dia jatuh?"
Yap, Emily tak terkejut dengan tuduhan ayahnya, dia tersenyum lalu berdiri.
"Kalau memang itu yang ayah pikir, yasudah.. untuk apa aku membela diri jika tidak ada yang percaya, lagi pula untuk apa kalian kemari? Menjemputku? Maaf, aku tidak tertarik untuk tinggal dengan kalian"
Setelah mengatakan itu, Emily pergi meninggalkan mereka.
"Ayah.."
Emy merasa bersalah, dia menatap sang ayah seolah sedang mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan mereka harus membawa Emily kembali.
Namun pria itu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Biarkan saja, ayah pikir dia sudah berubah, lebih baik kita mencari bantuan dari perusahaan lain dari pada harus membuatnya pulang, ayah tidak suka sifatnya yang egois"
"Tapi ayah.."
"Tidak ada tapi-tapian.. ayo pulang"
Ethan mengambil kemejanya dan memakaikannya pada Emy agar gadis itu tidak kedinginan, kemudian dia mengambil kantong belanjaan milik Emily, dengan setengah berlari dia hendak mengembalikan itu padanya.
"Eh? Kenapa dia menghilang secepat ini?"
Emily hilang dari pandangannya padahal gang dimana gadis itu berbelok bisa dibilang agak panjang sedangkan baru saja dia melihat Emily berbelok beberapa detik yang lalu.
"Ethan! Tidak usah menyusulnya, ayo kita pulang"
Panggil sang ayah yang membuatnya mengurungkan niat untuk mengembalikan itu, plastik itu di bawa pulang, dia tak menyadari di dalam sana ada obat dengan dosis baru yang tadi pagi diambil Emily saat berkonsultasi di rumah sakit, botol obat itu bahkan belum dibuka sama sekali oleh Emily.
***
"S!al.. kemana plastik tadi?!"
Emily kembali ke tepi sungai setelah satu jam dari kejadian tadi, mencari keberadaan plastik belanjaannya namun tak menemukannya dimanapun.
Tidak masalah jika dia membeli lagi, namun sekarang badannya sudah sangat kesakitan dan perjalanan menuju rumah sakit butuh sekitar setengah jam.
"Ah, terserah sajalah.."
Emily berjalan menuju jalan utama, menunggu taxi saat salju pertama akhirnya turun.
'Sungguh indah, jika mati sekarang sepertinya bagus ya..'
Sepertinya ucapan Emily langsung menjadi doa yang mujur, di tepi jalan raya yang sunyi dan sepi, pandangannya mulai kabur dan telinga kirinya berdengung panjang sebelum badannya dengan ringan jatuh ke aspal.
Dia tak peduli siapa yang akan menemukan mayatnya untuk pertama kali, namun yang pasti pertama kalinya dia merasa damai.
***
"Emily? Hei.. bangun.. katanya mau diantar mendaftar?"
Emily mengerjapkan matanya, mendapati kakaknya yang sedang menatapnya.
"Kak Ethan?," Panggil Emily kemudian bangun dari tidurnya.
"Tadi pagi kakak ada urusan, tapi udah selesai, ayo siap-siap.. kakak antar ke kampus"
Mendengar kalimat itu membuat Emily bingung, bukankah dia sudah mati?
"Ngapain ke kampus?," tanya Emily masih tak mengerti mengapa dia bisa ada di kamarnya dulu.
"Kan kamu mau urus berkas administrasi buat daftar kuliah, masa kamu lupa? Udah ah.. Kakak tunggu di bawah, langsung turun kalau udah siap ya," ucap Ethan lalu pergi dari kamar Emily.
Begitu kakaknya keluar, Emily mengambil kalender di meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya.
"Astaga.. ini aku beneran balik ke masa lalu atau yang tadi itu cuma mimpi?"
Emily menggeleng-gelengkan kepalanya, mana mungkin dia bermimpi, karna rasa sakit saat kematiannya datang masih terbayang dalam pikirannya.
Meski masih syok namun Emily bergegas bersiap, jika menurut waktunya maka hari ini adalah hari dimana Emy akan terkena serangan asma, namun yang dia tak mengerti adalah sikap kakaknya.
Sudah jelas dulu Ethan dan sang ayah tidak mau mengantarkannya ke kampus sehingga dia kesal dan mengambil inhaler milik Emy, lalu mengapa Ethan datang di siang hari dan berubah pikiran?
"Sudah? Tidak ada berkas yang ketinggalan kan? Ayo.."
Kakaknya berjalan menuju garasi diikuti oleh dirinya.
"Kakak beneran gak sibuk?," tanya Emily lagi, dia seperti melihat sosok lain pada kakaknya, tidak seperti dulu, saat dulu Ethan tidak pernah pusing dengan urusan Emily, meski dia tidak sibuk pun, dia tidak akan membantunya.
"Iya, kenapa sih? Gak percaya banget kamu"
Dalam perjalanan, Emily tak berhenti memikirkan kejadian selanjutnya, di masa lalu dia pergi mengurus administrasi sendirian, namun kali ini ada Ethan disampingnya.
"Nih, minum dulu, antriannya masih panjang," ucap Ethan yang menyodorkan air mineral pada Emily.
"Abis ini kakak mau ke rumah sakit, kamu ikut ya"
"Ngapain?"
Ethan mengambil tempat disamping kursi panjang lalu duduk dan menatap Emily, "Kakak mau medical check up, kamu juga mau?"
Mendengar itu membuat Emily menggelengkan kepala, untuk apa mengecek kesehatannya disaat dia tahu bahwa tiga tahun lagi dia akan meninggal karna kanker, meski kemungkinan hasil tes akan membuat dia bisa melakukan kemoterapi secepatnya namun Emily sudah muak.
Kali ini dia ingin pergi dengan tenang, tidak ingin menimbulkan masalah dan terlibat dengan si Emy itu.
"Kenapa gitu? Kakak harus mengisi berkas kesehatan di kantor, sekalian aja.. nanti kakak yang bayarin"
"Nomor 74!"
Untung saja panitia memanggilnya, jadi dia tidak perlu repot menjawab kakaknya.
"Emily Marleight Hambert ya?"
Emily menganggukkan kepala pada panitia, "Iya.."
"Berkasnya taruh disini trus kamu bisa tandatangan disini, kamu ambil Diploma kan?"
Ucap panitia itu sambil memberikan selembar kertas persetujuan di depannya, disana tertera bahwa dia masuk ke fakultas seni murni dengan jurusan seni lukis yang akan ditempuh 3 tahun penuh.
Dulu dia memang mengambil jurusan itu agar bisa satu kelas dengan Emy, dia ingat kalau pada masa ini kemampuan melukisnya belum terlalu bagus dan hanya masuk karna koneksi ayahnya.
Tapi tidak apa-apa, kali ini dia akan belajar dengan para profesional, berbeda dengan dulu saat dia hanya bisa membayar guru privat dengan harga seadanya sebelum akhirnya menjadi terkenal di dunia lukis dengan julukan Daisy itu.
"Ok, nanti langsung lihat informasi di grup buat lokasi dan waktu pelaksanaan pengenalan kampus ya"
Setelah mendengar itu Emily langsung kembali pada kakaknya.
"Sudah?"
"Hmm" jawab Emily dengan cuek, meski dia ingin menjauh dari mereka di kehidupan keduanya, namun sifat cueknya tidak bisa hilang begitu saja.
"Ayo.. kalau gak mau ke rumah sakit, kita pergi makan siang aja ya.."
Emily melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 2.43 siang, "Makan siang atau makan sore"
Ethan mendengar namun tak menghiraukannya, dia membukakan pintu bagi Emily lalu mereka pergi ke sebuah restoran.
Selagi mereka menyantap makan 'siang', Emy baru saja kembali bersama ayahnya, tentu saja dia sudah duluan ke kampus bersama sang ayah.
"Kok sepi?," biasanya dia mendapat sambutan jahat dari Emily namun saudaranya itu tidak ada.
"Nyari sapa? Ethan belum pulang kerja," ucap ayahnya yang baru selesai berganti dari pakaian formal ke pakaian biasa.
"Ohh," mana mungkin Emy mengatakan bahwa dia mencari Emily, ayahnya mulai tidak suka dengan Emily semenjak keegoisannya untuk masuk kampus yang sama dengan Emy.
Saat SMA dia sudah banyak menganggu Emy dan sekarang dia masih ingin mengikuti Emy.
"Lebih baik kamu istirahat, ingat kata dokter.. kamu gak boleh terlalu kecapean"
Akhirnya Emy pergi naik ke atas menuju kamarnya.
Emy membuka kotak berisi peralatan melukisnya, "Kenapa sih susah sekali"
Emy melihat beberapa lukisannya yang kata guru privatnya kurang menarik, sang guru mengatakan bahwa dia harus banyak berlatih teknik mengoles kuas dengan benar serta gradasi warna agar lukisannya terlihat hidup.
Meski Emy lebih pandai di bidang akademik, namun dia bertekad untuk meneruskan bakat mendiang ibu angkatnya itu, atau bisa di bilang dia ingin diakui orang-orang sebagai anak kandung karna memiliki bakat sama dengan Nyonya Hambert.
Oleh karna itu, sekarang dia menghiraukan perintah sang ayah yang menyuruhnya istirahat, dia lebih memilih untuk berlatih di depan kanvas.
Saking fokusnya Emy, dia tidak sadar bahwa Ethan dan Emily tiba bersama-sama.
"Rajin banget ya.. kamu pikir lukisan kamu bagus?," rencananya Emily memang tak ingin mencari hal dengan Emy, namun ketika melihat gadis itu bermain dengan kuas membuatnya kesal.
"Sttthh.. pergi istirahat Emily.. tadi kamu bilang ngantuk," tegur Ethan pada Emily.
Emy heran, sejak kapan kakaknya perhatian pada Emily, lalu dari kalimatnya itu sepertinya mereka baru saja pergi bersama.
"Kakak pergi bareng kak Emily?" Tanya Emy begitu Emily pergi dari kamarnya.
"Iya.. kakak nganter dia ke kampus"
Tunggu, mengapa hari Emy merasa kesal, apa karna perhatian yang seharusnya menjadi miliknya kini terbagi?
Emy berusaha berfikir positif, setidaknya kakaknya datang menghampirinya begitu kembali bukan?
"Kamu juga istirahat, kakak mau ke ruang kerja dulu, ayah tadi manggil kakak"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!