Naykesha menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia menahan air mata itu jatuh.
"Lebih baik kita putus saja, bang," suaranya bergetar.
"Daripada terus pacaran jarak jauh, yang akhirnya cuma bikin kita saling curiga. Aku di Semarang, Abang di Jakarta. Jarang banget kita ketemu, apalagi kita sama-sama sibuk sebagai pengajar."
Hampir setengah tahun tak bertemu, Naykesha sengaja datang ke Jakarta demi Umar. Kini mereka duduk berhadapan di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Umar, dengan wajah tenang, mengusap pelan tangan Naykesha yang mulai mengepal.
"Nay, sabar ya," katanya lembut.
"Kasih aku waktu sedikit lagi. Aku janji akan menikahimu. Aku juga nggak mau lama-lama pacaran kayak gini. Lagipula, jarak ini malah bikin kita bisa jaga diri sesuai agama."
Mata Naykesha masih berkaca-kaca, tapi ia mencoba mengangguk, berharap kata-kata Umar benar-benar nyata.
Umar melangkah masuk dengan postur tubuh yang ideal, wajahnya tampan tanpa perlu usaha berlebihan. Setiap langkahnya mengalir tenang, memberi kesan pria dewasa yang percaya diri tapi tak berlebihan. Rambutnya tersisir rapi, kulitnya putih bersih, semua menunjang citra dosen muda yang jadi pusat perhatian banyak mahasiswi di kampus. Nay dalam hati tersenyum, yakin Umar memang primadona di kampus, dosen single yang tampan dan dingin sekaligus menarik.
Di sisi lain, Naykesha berdiri dengan penampilan sederhana namun rapi, rambutnya tertutup sempurna oleh hijab, tapi sorot matanya cerah dan senyumnya mudah merekah. Meski pakaiannya tertutup, ia memancarkan aura ceria yang membuat suasana jadi lebih hangat.
Dalam dirinya terkumpul keseimbangan antara kewanitaan muslimah yang anggun dan sosok guru yang pantas dijadikan teladan oleh murid-muridnya. Umar dan Nayke berdiri bersebelahan, seperti pasangan serasi yang saling melengkapi tanpa harus banyak bicara.
Naykesha berdiri dengan postur tinggi dan tubuh yang tetap proporsional, seolah selalu menjaga keseimbangan antara berat dan tinggi badannya. Di kampus yang berbeda, dia dan Umar sering bertemu di ruang-ruang pertemuan organisasi kemahasiswaan.
Jarak usia mereka memang tiga tahun, membuat Umar menjadi kakak tingkat yang tak hanya membimbing tapi juga teman ngobrol yang mudah didekati. Setiap kali bertemu, tawa dan cerita mengalir tanpa beban, membuat kedekatan mereka tumbuh begitu alami.
Dari kegiatan bersama itulah, tanpa disadari, benih rasa mulai berkembang, mereka memutuskan untuk menjalani hubungan sebagai pasangan. Hubungan mereka sederhana, seperti dua sahabat yang sedang menikmati petualangan kecil di kota yang sama. Jalan-jalan sore, makan bersama di warung kecil, tanpa drama berlebihan, hanya kenyamanan yang terasa dari kehadiran satu sama lain.
Meski berasal dari tempat berbeda, Nay dari Solo yang hangat dan Umar dari Semarang yang penuh kenangan kedua jiwa merantau itu menemukan titik temu. Kini Nay tetap tinggal di Semarang, bukan hanya sebagai pendatang tapi sebagai guru yang mencintai kota ini, di sisi Umar yang selalu memberi rasa aman dan akrab.
Umar memiringkan kepala, matanya menatap Nay dengan lembut.
"Sudah, jangan sedih, ya! Ayo, makan makanannya. Atau aku yang suapin?" suaranya hangat, berusaha meruntuhkan dinding kesedihan di wajah Nay. Tapi di balik senyum tipis yang ditunjukkan Nay, tersembunyi rindu yang mengganjal.
Enam bulan berlalu tanpa mereka bertemu langsung. Pacaran jarak jauh memang penuh ujian seperti ini. Nay menarik napas dalam, bibirnya membentuk senyum kecil saat melihat Umar yang selalu berhasil membuatnya lupa sejenak pada jarak dan waktu.
"Aku bisa makan sendiri kok," jawabnya, lalu menundukkan kepala, pipinya sedikit memerah.
"Kamu juga makan, jangan terus-terusan lihat aku." Matanya berkilat malu tapi bahagia. Di balik layar ponsel, kasih sayang mereka tetap mengalir, meski jarak memisahkan.
Umar melempar senyum lebar, matanya berbinar melihat pipi Nay yang memerah, seakan warna itu hanya untuknya. Tapi di benaknya, ada pertanyaan mengganjal. Kapan dia akan benar-benar melamar wanita yang sudah lama dipacarinya ini?
Kedua orang tua mereka masih asing satu sama lain, dan rumah masing-masing pun belum pernah saling dikunjungi, padahal mereka sama-sama tinggal dan sekolah di Semarang. Umar memang memilih ngekost selama kuliah meski rumah orang tuanya tidak jauh dari kampus. Dengan lembut, Umar mengangkat sepotong iga bakar dan menyuapkan ke mulut Nay. Wanita itu tidak menolak, membuka mulut dan mengunyah pelan, matanya tampak menikmati rasa gurih daging itu.
"Enak gak?" Umar menanti respons dengan harap. Nay cepat mengangguk, senyum manis mengembang di wajahnya.
"Enak banget!" jawabnya penuh semangat. Senyum Umar mengembang makin lebar, bahagia melihat Nay tetap ceria seperti dulu.
Umar menatap Nay dengan wajah berseri-seri, suaranya hangat.
"Oh iya, Nay! Malam ini kamu tidur di kontrakan Airin, ya? Aku nanti antar kamu ke sana. Kamu nggak keberatan kan?" Nay mengunyah makanannya pelan, lalu mengangguk ringan.
"Iya, tapi apa Airin nggak repot ya? Aku sebenarnya bisa pulang malam ini juga kok. Yang penting aku sudah ketemu kamu, dan tahu kamu baik-baik saja." Umar mengepalkan tangan seolah ingin membujuk, senyumnya semakin manis.
"Eit, jangan buru-buru pulang dong. Kita baru saja ketemu, masa cuma sebentar terus langsung pergi? Huff, andai aku boleh, kamu bisa bobok di kontrakan ku..." Nay menutup mulutnya, bibirnya cemberut sejenak sebelum melempar senyum kecil.
"Makanya, cepetan nikahi aku dong!" ujarnya sambil tertawa pelan. Umar mengangguk, sorot matanya penuh janji.
"Iya, insyaallah nggak lama lagi. Sabar ya, Nay. Aku janji, aku nggak bakal berpaling dari kamu."
Tapi di balik senyumnya, mata Nay menyipit pelan. Keraguannya menyelinap masuk, membayangi hatinya. Bagaimana mungkin percaya begitu saja? Umar pria tampan, dan jelas banyak mahasiswi muda yang diam-diam mengaguminya. Nay menarik napas dalam-dalam, berusaha menepis bayang-bayang itu.
Nay menatap Umar dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, suaranya bergetar,
"Semoga kita berjodoh, Mas."
Hatinya dipenuhi harap yang sederhana namun dalam. Tanpa pikir panjang, Umar meraih kepala Nay yang tersembunyi di balik hijab, perlahan membelainya.
"Boleh nggak aku mengkhawatirkan kamu, Mas?" Nay menarik napas dalam, suaranya melembut tapi penuh rasa takut.
"Pacaran jarak jauh kayak gini, aku nggak bisa bohong, aku benar-benar khawatir. Pasti banyak yang naksir dan coba dekat sama kamu. Jadi, apakah sudah ada cewek-cewek mahasiswi atau sesama dosen yang suka sama kamu?"
Tatapannya menuntut jawaban, sedikit cemas sekaligus penasaran. Umar membalas dengan senyum nakal yang mengembang,
"Ada sih. Banyak lagi." Matanya berbinar, seakan sengaja menggoda Nay. Bibir Nay mengerucut, mukanya manyun.
"Tuh kan, aku bilang apa? Pasti banyak yang coba dekati dan godain kamu, ya?" suaranya meninggi sedikit, tapi tetap manja.
Umar tiba-tiba meledak tertawa lepas, suaranya bergema penuh kebahagiaan. Ia memang suka kalau Nay cemburu, melihat reaksi kecil itu membuat hatinya hangat dan semakin sayang.
Nay melipat tangan, mukanya masih cemberut saat mendengar godaan Umar.
"Nay, resikonya jadi cowok ganteng dan pintar seperti kekasihmu ini. Kamu yang sabar, ya. Hehehe," ujar Umar sambil menyingkirkan rambut dari dahinya dengan senyum nakal.
Tapi Nay tetap khawatir, matanya sesekali melirik ke arah jalan yang mulai ramai.
“Kalau sampai suatu saat kamu suka sama wanita lain yang sering kutemui di kota ini?” gumam Nay dalam hati, dadanya serasa sesak. Dengan nada tegas, dia menjawab,
“Kalau sudah, aku mau cari kerja di Jakarta saja. Biar nggak ada yang berani ganggu kamu.”
Suaranya terdengar seperti anak kecil yang cemburu, bibirnya mencibir sedikit tapi matanya berbinar. Umar malah terkekeh lepas, pandangannya penuh hiburan saat melihat sikap Nay.
“Ih, masa malah kamu yang cemberut? Aku serius, lho!” Nay mendelik, tapi belum sempat menjawab, Umar sudah menyahut,
“Iya, iya. Silakan saja kalau mau kerja di Jakarta. Malah aku senang, kita bisa sering ketemu.”
Suara Umar lembut, tahu betul bagaimana menjinakkan kekhawatiran Nay yang realistis dan idealis—wanita yang takkan gegabah meninggalkan pekerjaan yang sudah nyaman di Semarang.
Nay terkekeh kecil, wajahnya memerah. "Enggak, enggak! Aku cuma bercanda kok." Tapi kemudian dia menarik nafas pelan, matanya menatap dalam ke arah Umar.
"Doaku sekarang, semoga kita benar-benar berjodoh. Tapi, kalau kamu ketemu cewek yang lebih baik dari aku, insyaallah aku ridlo. Kan kita masih pacaran, kamu bebas pilih. Aku juga begitu," ujarnya lirih.
Umar terdiam, dadanya bergetar mendengar kata-kata itu. Tak menyangka Nay bisa punya pikiran sejauh itu.
"Nay, jangan bilang begitu. Aku cuma mau kamu jadi istriku nanti. Ibu dari anak-anakku. Insyaallah aku takkan pernah berpaling."
Suaranya berat tapi tulus, membuat Nay langsung terhanyut. Dia menunduk, bibirnya tersungging senyum malu-malu.
"Mas, ya sudahlah, jangan terlalu serius gitu. Eh, ini aku beliin sesuatu buat Mas. Murni dari gajiku ngajar. Semoga Mas suka."
Nay mengulurkan kotak kecil ke Umar dengan tangan sedikit gemetar. Umar menerima kotak itu, matanya berkaca-kaca. Hatinya hangat, sesosok wanita yang dia kagumi kini semakin dekat jadi pendamping hidupnya.
"Terima kasih, Nay. Ini berarti banget buat aku," bisiknya pelan, memeluk kotak itu seolah berharga sekali.
Umar tersenyum lebar sambil menggenggam tangan Nay erat-erat.
"Bagus banget! Terima kasih, sayang," ucapnya penuh rasa bahagia. Mendengar kata-kata itu, mata Nay membelalak kaget sekaligus tersipu malu.
"Kamu tahu nggak, aku punya kejutan spesial buat kamu. Kamu boleh pilih sendiri, ya. Abis dari sini, aku ajak kamu ke mall," ujar Umar sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Nay.
Perasaan hangat menyeruak di dada Nay. Senyumnya melebar tanpa bisa ia tahan, pertemuan mereka kali ini benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga. Dengan cekatan, Nay melihat Umar memasang jam tangan pemberian tadi di pergelangan tangannya. Meski harga jam itu hanya sekitar tiga jutaan, bagi Umar, benda itu jauh lebih berharga karena berasal dari wanita yang dia cintai.
"Hehehe, siap-siap ya, aku akan menghabiskan uang kamu," Nay berkata sambil tertawa ringan, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tulus.
Airin menatap Umar dengan mata yang berkilat lembut, seolah menghapus rasa bersalahnya.
"Airin, maaf merepotkan kamu. Malam ini Nay boleh nginep di kontrakan kamu, ya?" suara Umar mengandung harap.
Malam itu, Umar sudah mengantar Nay ke rumah kontrakan Airin. Airin, teman sekaligus rekan kerja Umar di universitas, dulunya juga sahabatnya saat menempuh S2. Sekarang, mereka dipertemukan kembali sebagai dosen di perguruan tinggi yang sama di ibu kota. Nay menoleh ke Airin, mata tajamnya mengikuti gerak-gerik sang gadis, mencoba menangkap kesan yang tersirat di wajahnya. Ada sesuatu, kekaguman samar pada Umar.
Nay menutup mulutnya rapat, lalu menyunggingkan senyum lebar, menerima keramahan itu dengan hangat. Umar duduk santai di ruang tengah, sementara Airin menyodorkan teh manis hangat dan sepiring biskuit kering dalam toples.
"Ini yah yang namanya Nay? Cantik banget,"
Airin memuji dengan suara ringan, matanya tak lepas menatap Nay. Umar mengembang, senyum kebanggaan terlukis jelas di wajahnya. Hatinya bergetar, bangga kekasihnya mendapat pujian tulus seperti itu.
Airin berjalan mendekat dengan senyum anggun yang sulit lepas dari wajahnya. Rambutnya panjang, lurus, berkilau seperti helaian sutra yang jatuh sempurna di pundaknya. Meski belum menutup kepala dengan kerudung seperti Naykesha, pesonanya tak pernah luntur. Postur tubuh Airin ramping bak model, kulitnya putih bersih seolah menantang sinar matahari untuk berani menyentuhnya.
“Rin, titip Nay, ya! Jangan dicubit-cubit, nih,” Umar menyelipkan canda sambil menatap akrab ke arah Airin. Nay merespons dengan menyipitkan mata, hatinya tiba-tiba tercekat. Kedekatan mereka yang begitu nyaman membuatnya merasa seperti berada di luar lingkaran.
Airin lalu membuka toples biskuit dan menyodorkan satu pada Umar dengan gerakan lembut. Umar tanpa ragu mengambil biskuit itu dan menggigitnya, sementara Nay kembali menelan cemburu yang diam-diam menggerogoti. Perhatian Airin terhadap Umar terasa begitu hangat, sesuatu yang Nay ingin rasakan tapi belum pernah.
Umar melirik jam di pergelangan tangannya yang baru, hadiah dari Nay. Angka sembilan malam terpampang jelas di layar.
"Baru ke mall dekat sini saja," jawabnya sambil agak tergesa-gesa. Matanya mengitari sekeliling, sadar waktu sudah malam dan dia harus segera balik ke kontrakan.
"Idih, jam baru ya? Dilihatin terus," goda Airin sambil melempar senyum nakal. Umar dan Nay saling bertukar pandang, ada keakraban yang terasa mengalir alami antara mereka.
"Nggak, Rin. Sudah malam, aku harus balik dulu," ujar Umar sambil mengusap kepala Nay yang sedang duduk di sebelahnya.
"Oh iya, titip Nay ya. Besok pagi aku jemput kamu di sini. Aku mau ajak kamu ke kampus, biar kamu tahu gimana aku mengajar."
Suaranya jadi lebih hidup, penuh semangat saat ada Airin di dekatnya. Nay hanya mengangguk, tersenyum kecil, paham dengan hangatnya interaksi itu.
Airin melambai santai,
"Ya udah deh! Hati-hati, Mar!"
Ia mengantar Umar sampai depan rumah kontrakannya, sementara Nay ikut sampai ke parkiran mobil tidak jauh dari situ. Udara malam yang dingin membuat langkah mereka terasa lebih akrab meski tanpa banyak kata.
Umar menatap Nay yang tengah terlelap di rumah Airin, dadanya sesak rasanya meninggalkan. Tangannya meraih bahu Nay perlahan, seolah ingin memastikan semuanya baik-baik saja.
"Kamu gak apa-apa kan? Aku mau pergi sebentar," suaranya terdengar berat. Nay membuka matanya setengah, senyumnya kecil tapi meyakinkan.
"Gak apa-apa, Mas." Umar menghela napas, menunduk sebentar sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Jangan kangen, ya?" tanyanya pelan, nada suaranya menyimpan keraguan. Nay menatap tajam ke arahnya, bibirnya mengecil sambil menyipitkan mata.
"Iya, loh! Kamu kenapa sih, Mas?" Umar tersenyum getir, sedikit malu.
"Sebenarnya... aku yang masih kangen kamu, Nay," ucapnya, kata-kata itu keluar pelan, tapi penuh makna. Nay membalas dengan senyum simpul yang lebih tulus.
"Iya, aku juga," jawabnya, menambah kehangatan di antara mereka.
Umar mengusap rambut Nay pelan, matanya menatap penuh perhatian.
"Ya sudah deh! Nanti kalau sudah sampai rumah, aku langsung telepon kamu, ya! Oh iya, kalau lapar lagi, jajanan yang tadi aku beli jangan lupa dimakan, Nay." Suaranya mengandung khawatir, seolah takut Nay kelaparan tanpa dia di sisi.
Nay hanya tersenyum lebih lebar, hatinya hangat melihat perhatian Umar.
"Iya, Mas! Sudah, sana pergi dulu!" katanya sambil tertawa kecil, seperti tak ingin pria itu segera meninggalkannya.
Umar menatapnya sesaat, lalu berjalan pelan menjauh. "Ya, aku pergi dulu, Nay! Jangan lupa sholat, ya!" ucapnya, suaranya melembut sebelum akhirnya hilang dari pandangan.
Nay duduk termenung di tempat itu, dada terasa sesak. Malam ini, jauh dari Umar lagi, seperti ada sesuatu yang belum tuntas di antara mereka. Rindu yang terus membuncah, seolah ingin bertahan lebih lama. Mungkin, pikir Nay, kalau nanti mereka dipersatukan dalam pernikahan, rasa ini bisa hilang. Tapi untuk saat ini, pertemuan singkat tadi justru meninggalkan sunyi yang sulit diobati.
Nay berdiri di depan pintu kontrakan Airin, dadanya terasa sesak.
"Mas Umar, aku masih rindu," gumamnya pelan, matanya menatap kosong ke jalan sepi. Tak lama, Airin melangkah keluar, senyum hangatnya menghiasi wajah muda itu.
"Nay, ayo kita makan bakso dulu, ya!" suaranya ramah memecah keheningan.
Mereka duduk bersama di teras minimalis yang sederhana. Nay memilih duduk di bawah, meletakkan semangkuk bakso di meja kecil di depannya. Airin ikut duduk di sebelah, santai seperti sahabat lama.
"Enak nggak baksonya? Aku suka beli ini tiap gerobak lewat," celoteh Airin dengan semangat, suapan bakso sesekali hilang di mulutnya.
Nay mengunyah pelan, matanya tak lepas memperhatikan Airin. Ada sesuatu yang membuatnya nyaman, gaya Airin yang apa adanya, ceria tanpa pretensi. Entah kenapa, dalam kehangatan sederhana itu, Nay merasa rindu itu sedikit terobati.
"Oh iya, Nay! Kamu ngajar apa sih?"
Airin mencondongkan badan, matanya menyiratkan rasa penasaran. Ia tak pernah dengar Umar cerita soal kekasihnya. Bahkan, Airin mikir Umar belum pernah pacaran sama siapa pun.
Nay mengunyah pelan, mukanya agak cemberut. "Bahasa sastra Indonesia, kak," jawabnya pendek, mencoba menghindari obrolan sambil makan.
Airin menepuk meja pelan, senyum mengembang. "Wah, orang sastra ya? Pasti jago bikin novel dong."
Nay cepat menggeleng, matanya menghindar. "Enggak, kak."
Airin tak menyerah, menunduk sedikit seolah ingin meyakinkan. "Ah, aku percaya deh kamu pasti jago puisi, cerpen, dan cerita panjang juga."
Nay menahan senyum kecil, tapi bibirnya tetap mengeras. Mulutnya masih bergerak mengunyah, tapi kini terasa sedikit lebih berat, seolah ingin cepat menyudahi pembicaraan.
Nay mengangkat mangkok kosongnya dengan perlahan, lalu berdiri dari bangku kayu reyot itu. Matanya menangkap sosok bapak tukang bakso yang sudah menunggu sejak tadi dengan senyum sabar terukir di wajahnya. Dengan langkah santai, Nay mengantarkan mangkok itu ke meja bapak bakso, lalu mengeluarkan dompetnya untuk membayar dua porsi bakso yang tadi disantap bersama Airin. Airin buru-buru meraih tangan Nay, suaranya sedikit mendesak,
“Nay, biar aku saja yang bayar!” katanya sambil mencoba meraih uang Nay dari tangan bapak tukang bakso. Tapi Nay menggeleng, matanya penuh tekad.
“Aku yang bayar. Aku bilang, ini traktiranku,” jawab Nay sambil menatap Airin serius. Bapak tukang bakso itu hanya tersenyum lebar, menyaksikan keributan kecil dari dua wanita muda yang baru saja memakan dagangannya.
“Tidak apa-apa, Kak Airin. Mumpung ada,” kata Nay sambil menimpali dengan nada ringan,
“Kalau gak ada, aku yang minta traktir sama Kak Airin.”
Airin akhirnya melepas genggamannya, menyerah dengan senyum tipis. Sementara bapak tukang bakso kembali menata mangkok bekas di mejanya, matanya memancarkan hangat melihat mereka yang saling berebut membayar.
“Terima kasih banyak, Neng!” sapa bapak bakso sebelum melangkah pergi, meninggalkan sisa aroma gurih kuah bakso yang masih menguar di udara.
Airin menarik tangan Nay dengan semangat, matanya berbinar sambil tersenyum lebar.
"Nay, ayo masuk! Aku tunjukin kamar kamu buat istirahat malam ini."
Suaranya mengalir cepat, seolah takut momen ini terlewat. Tangannya menggenggam lengan Nay erat, mengajaknya melangkah ke kamar kosong yang berdempetan dengan kamarnya. Kamar itu selalu disiapkan ketika orang tua Airin singgah ke Jakarta, tapi kali ini untuk Nay. Nay menatap sekeliling rumah kontrakan Airin yang rapi dan bersih. Walau tinggal sendirian, Airin menjaga semua sudut dengan telaten. Ada sentuhan ketelitian yang membuat rumah itu terasa hangat dan nyaman.
“Nah, ini kamarnya,” Airin meletakkan tas Nay dengan lembut.
"Ngomong-ngomong, kamu kenal Umar sejak kapan? Aku dan dia sih udah kenal lama, hampir empat tahun. Dari waktu kita sama-sama ambil S2," ucap Airin tanpa jeda, matanya tak lepas dari Nay.
Nay menyipitkan mata, hatinya berputar-putar memikirkan hubungan lama itu. Lama juga ternyata, pikirnya pelan. Ada getar samar yang sulit diungkap saat Airin menyebut nama Umar dengan begitu mudah.
Nay mengerutkan dahi, berusaha mengingat masa lalu.
"Hmm, kira-kira sudah berapa lama ya? Aku agak lupa, sih." Matanya menerawang, seperti menelusuri lorong waktu.
"Pertama kenal Mas Umar waktu aku masih kuliah S1 di Semarang. Awalnya biasa aja, tapi kami jadi dekat karena sama-sama aktif di organisasi kemahasiswaan," ujarnya perlahan, suaranya mengandung sedikit nostalgia. Airin menatap Nay dengan penuh minat, bibirnya tersenyum kecil.
"Wah, lama juga ya? Berarti kalian beda kampus, dong?"
Airin menyelidik dengan nada penasaran. Nay hanya tersenyum tipis, tanpa perlu menjelaskan lebih jauh. Airin makin bersemangat, matanya berbinar.
"Umar itu orangnya baik banget dan rajin. Apalagi, keren parah!" Dia menatap Nay seolah mengagumi.
"Kamu beruntung banget, Nay, punya Mas Umar. Dosen idola di kampus lho, hampir setiap hari mejanya penuh sama makanan, minuman, bingkisan, bahkan buket bunga."
Nay menunduk, menyimak dengan seksama cerita Airin. Senyumannya perlahan memudar, menyisakan keheningan yang berat. Tapi dia tak berkata apa-apa, membiarkan Airin mengira kalau dirinya sedang cemburu.
Airin menatap Nay dengan senyum yang dipaksakan, mencoba menenangkan hatinya sendiri sekaligus Nay.
"Kamu jangan cemburu, ya, Nay?" suaranya lembut tapi penuh keyakinan.
"Aku yakin, cuma kamu yang selalu ada di hati Umar."
Meskipun begitu, Airin bisa merasakan getaran kecemasan yang bersembunyi di balik kata-katanya..
Nay sudah duduk di kursi paling belakang sebelum Dosen Umar Ashari Huda memulai kelas. Jantungnya berdetak cepat, dada terasa sesak oleh rasa penasaran yang membuncah. Matanya tak lepas menatap papan tulis, membayangkan apa yang akan ia temui hari ini.
“Aku beneran pengen tahu, seru nggak ya perkuliahan itu?” bisiknya pelan, seperti mencoba meyakinkan diri sendiri.
Beberapa saat lalu, Umar sempat mengajaknya keliling ruangan, menunjuk-lihat dan menceritakan sekilas materi yang akan dibahas. Nay mengangguk, hatinya makin penuh semangat dan sedikit gugup.
Menatap sekeliling kelas yang mulai penuh dengan suara riuh kecil, dia merasa seperti penyusup di dunia baru.
“Gimana ya perasaan yang bener, aku nggak tahu. Tapi penasaran ini malah bikin dada sesak,” pikir Nay, sambil menggigit bibir bawahnya.
Di pagi itu, bagi Nay, ruang ini bukan cuma ruang kuliah biasa melainkan saksi bisu awal perjalanannya menjadi mahasiswi ‘gelap’ yang diam-diam merasakan dunia akademik untuk pertama kali.
Nay menunduk sambil berbisik dalam hati, "Siapa tahu ada hal menarik yang bisa kugali dari pelajaran ini."
Satu per satu mahasiswa dan mahasiswi memasuki ruangan, suara obrolan kecil dan langkah kaki bergema pelan. Nay memilih duduk di pojokan, matanya memperhatikan tingkah laku mereka dengan waspada tapi tenang. Di balik pintu, Umar masih sibuk menyiapkan materi kuliah hari itu, tak menyadari suasana kecil di dalam ruang kelas.
Tak ada yang memerhatikan Nay terlalu lama, wajahnya dianggap hanya mahasiswi angkatan lama atau kakak tingkat yang mengulang karena nilai jeblok. Tiba-tiba, seorang cowok melangkah menghampiri.
"Hai, mahasiswi baru, ya?" sapanya santai sambil duduk di sebelah Nay tanpa izin. Nay menyipitkan mata, sedikit tak nyaman dengan kehadirannya, tapi dia memaksakan senyum dan membalas sapaan itu dengan ramah.
Cowok di sebelah Nay menyembunyikan senyum sinisnya, suaranya rendah tapi penuh cemoohan.
"Aku tahu, kamu ini mahasiswi selundupan, kan? Nggak daftar resmi, cuma pengen liatin muka Pak Umar doang." Dia menoleh ke arah Nay, matanya tajam menantang.
"Dasar cewek buta, sih! Apa sih yang menarik dari Pak dosen Umar itu? Kalau pengen liat yang ganteng dan keren, liat aku aja!"
Nay cuma bisa menelan ludah, suaranya cuma terdengar di dalam kepala. Cowok itu memang nggak mau banyak cewek tergila-gila sama dosen muda itu, terutama mereka yang dia incar sendiri. Tatapan Nay kemudian tertuju ke wajah cowok itu. Dia mengernyit, mencoba menilai ternyata cowok di sampingnya memang punya aura yang sulit untuk diabaikan. Maskulin, percaya diri, dan benar-benar ganteng.
"Jujur, aku ganteng, kan?"
Cowok itu mengedipkan matanya, seolah menuntut pengakuan. Nay buru-buru mengalihkan pandangan, menahan gelombang aneh yang tiba-tiba menggerayangi dadanya.
"Namaku Adam. Ingat, yah, namaku Adam Malik Ibrahim," ucapnya dengan nada menggertak, matanya melotot seolah ingin menembus siapa pun yang berani bertanya.
"Siapa namamu? Aku belum pernah lihat kamu di kelas ini." Cowok itu mendekat, senyum sinis menghiasi bibirnya.
"Fix, kamu mahasiswi selundupan yang cuma pengen ngintip pak dosen, ya?"
Nay menelan ludah, bahunya agak menegang. Tuduhan itu memang tak sepenuhnya salah. Nay memang bukan mahasiswi jurusan di kelas itu. Dia kekasih pak dosen Umar Ashari Huda.
"Panggil aku Nay saja," jawabnya pelan, berusaha tetap tenang meski hatinya tercekat.
Adam mengangkat alis, lalu mengulurkan tangan seperti memberi kesempatan.
"Baiklah, aku bakal kasih nomor WA-ku. Tapi inget, aku cuma bantu kamu, ya. Soalnya aku khawatir, nanti kamu malah kebawa perasaan berlebihan sama pak Umar. Banyak cewek suka sama dia, tapi ujung-ujungnya ditolak semua. Dosen sok ganteng, doyan bikin cewek ngejar-ngejar, tapi ujung-ujungnya gak ada yang lolos," katanya sambil tertawa kecil penuh ejekan.
Nay mengerutkan alis, rasa kesal dan kecewa menyelimuti dadanya. Namun dia memilih diam, menahan luka yang ingin saja meledak keluar.
Dosen Umar melangkah masuk ke ruangan dengan langkah tenang tapi penuh wibawa. Suasana mendadak hening, semua mahasiswa dan mahasiswi seperti terpaku, mata mereka tak lepas menatap sosok pria muda itu. Nay ikut terdiam, dadanya berdebar saat menyadari kharisma kekasihnya mampu membuat satu kelas tunduk penuh hormat.
“Lihat tuh, semua mata cuma ke dosen muda itu,” bisik Adam pelan di samping Nay.
Tangannya cepat-cepat mengulurkan secarik kertas kecil berisi nomor WA. Nay mengerutkan dahi, menatap kertas itu tanpa segera menyimpannya. Melihat itu, Adam tanpa pikir panjang merampas ponsel Nay, lalu dengan cekatan memasukkan nomornya sendiri ke daftar kontak.
Setelah selesai, jari-jari Adam mengetik sesuatu singkat, lalu mengangkat pandangannya ke Nay, senyum setengah menyindir terukir di bibirnya.
“Nah, aku sudah simpan nomor kamu juga. Kalau kamu butuh sesuatu, jangan segan hubungi aku, ya.” Nay menahan senyum, tertawa kecil dalam hati.
Di depan, Dosen Umar melanjutkan penjelasan dengan suara penuh wibawa. Sesekali, matanya menyipit dan menoleh ke sudut ruangan di mana Nay duduk. Adam tak lepas dari perasaan curiga, matanya menatap tajam, yakin kalau Umar memang lebih sering melirik ke arah Nay..
Adam duduk terlalu dekat di samping Nay, membuat pandangan Pak Umar tak lepas dari keduanya. Nay merasakan tatapan itu menusuk, jantungnya berdegup kencang.
"Kok Pak Umar lihat ke arah aku terus, ya? Jangan-jangan dia curiga kamu mahasiswa selundupan, Nay... Mati aku," bisik Adam pelan dengan nada khawatir.
Setengah jam berlalu dengan Pak Umar yang menyampaikan materi serius. Tiba-tiba, dosen muda itu menatap Adam dan menunjuknya untuk maju ke depan. Jantung Nay seperti berhenti sejenak, matanya membelalak kaget.
Adam berdiri tanpa ragu, melangkah ke depan kelas. Suaranya tenang saat merangkum kembali materi Pak Umar, hampir persis dengan penjelasan dosen tadi. Nay menahan napas, takjub melihat keberanian dan kecerdasan Adam.
"Bagus, Umar! Kamu cukup cerdas dan cermat dalam menyimak," puji Pak Umar sambil melirik tajam ke arah Nay yang duduk di sudut ruangan, tubuhnya agak membeku namun mata tak bisa berhenti mengamati Adam.
Adam tersenyum sopan, membalas, "Terimakasih banyak, atas pujiannya, Pak." Namun, wajahnya tiba-tiba membeku saat dosen muda, Pak Umar, mencondongkan badan dan membisikkan sesuatu dengan nada serius,
"Jangan duduk dekat-dekat Nay-ku. Dia calon istriku."
Mata Adam membesar, terpaku antara bingung dan sedikit tidak percaya. Pandangannya melirik ke arah Nay yang duduk tenang, seolah tak menyadari suasana canggung itu.
Dengan cepat Adam angkat bicara, suara pelan tapi terburu-buru,
"Maaf, Pak! Saya kira dia cuma mahasiswi selundupan yang terobsesi sama Bapak. Saya khawatir dia bakal kecewa kalau cintanya ditolak."
Hatinya berdebar, takut kalau kata-katanya berbuah nilai D dan harus mengulang mata kuliah itu.
Pak Umar mengangguk sambil menepuk pundak Adam,
"Oke, kembali ke tempatmu. Tapi ingat, jangan terlalu dekat-dekat sama Nay."
Suasana itu membuat Adam menelan ludah, sadar dia baru saja mendapat peringatan yang tak terduga dari dosen muda itu.
Adam melangkah pelan kembali ke tempat duduknya, wajahnya tampak agak tegang. Sejak tadi sikapnya berubah, lebih hati-hati dan sopan pada Nay. Matanya sesekali melirik ke arah Nay, seolah takut jika perempuan itu tiba-tiba melaporkan sesuatu kepada pak dosen Umar. Nay mengerutkan kening, merasa ada yang aneh. Kenapa Adam tiba-tiba diam dan menjaga jarak seperti itu?
Tanpa berkata-kata, Nay menulis sesuatu di selembar kertas. Setelah selesai, ia menyerahkan kertas itu ke Adam. Dengan ragu, Adam membaca tulisan Nay, kemudian membalas di bawahnya.
“Maaf, Nay! Aku nggak berani deket-deket kamu. Ternyata pak Umar cemburu. Aku rasa beliau khawatir kamu jadi naksir aku, hehe,” tulis Adam sambil tersenyum malu.
Ia mengembalikan kertas itu pada Nay, yang membacanya dengan senyum kecil, mata berbinar sedikit geli.
Nay menyipitkan mata, mencoba mencerna apa yang baru saja dibacanya dari tulisan Adam. Senyum kecil tak lepas dari bibirnya, hati terasa geli sendiri.
“Jadi, Mas Umar yang suruh Adam maju karena cemburu, ya?” batinnya pelan, sambil jari-jarinya bergerak-gerak menahan tawa kecil.
Di depan, Pak Umar perlahan melangkah mundur, menyusuri ruang kelas hingga sampai di pojok dekat Nay. Tatapannya tak lepas dari sosoknya mata dosen muda itu memancarkan sesuatu yang sulit Nay abaikan.
Sorot mata Pak Umar penuh dengan kehangatan, seolah merangkul rindu yang tersimpan lama. Setiap kali Nay bertatap dengannya, sejenak seperti ada kebahagiaan yang tersimpul rapi di sana.
“Kalau dipikir-pikir, memang ada sesuatu yang berbeda dari hubungan mereka,” gumam Nay dalam hati.
Dia menyadari bahwa ikatan itu bukan sekadar ikatan ayah dan anak biasa. Ada kejujuran dan kehangatan yang melampaui batas, sebuah rasa sayang yang tulus dan langka. Pak Umar bahkan berjalan perlahan ke sudut ruangan, matanya tak lepas menempel pada Nay seakan takut melepas kehadirannya.
Nay menghela napas, hatinya ikut hangat dan penuh tanya sekaligus..
Aku menatap Nay dari kejauhan, suara Pak Umar yang penuh perhatian masih terngiang di telinga.
"Apakah Nay sadar betapa beruntungnya dia punya Pak Umar yang begitu sayang?" gumamku pelan, tangan kugenggam di dada seolah menahan perasaan yang tiba-tiba mengganjal.
Aku mengalah, menarik napas panjang, lalu perlahan mundur, membiarkan kehangatan itu tetap utuh tanpa aku ganggu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!