Indonesia
NovelToon NovelToon

Saat Aku Berhenti Berharap

Istri Baru

"Dia siapa, Mas?" tanya Naysila dengan tangan yang menunjuk seorang wanita berpenampilan modis yang menggandeng suaminya.

"Dia istriku, namanya Serena," jawab Alden dengan nada datar seolah tidak merasa bersalah sama sekali.

DEGH!

Naysila tercengang mendengar jawaban dari suaminya. Bagaimana bisa Alden mengakui wanita itu sebagai istrinya, sementara dia adalah istri Alden yang sah secara agama dan hukum.

"Mas, jangan bercanda. Siapa dia sebenarnya?" tanya Naysila lagi ingin memastikan.

Alden menatapnya dengan tatapan dingin, "Harus berapa kali aku katakan? Dia adalah istriku. Aku telah menikahinya."

Naysila merasa sesuatu yang keras menghantam hatinya, pengakuan Alden membuatnya mematung di tempat selama beberapa saat, bahkan dadanya terasa sesak.

"Bagaimana bisa kamu menikahi wanita lain sementara aku ini istrimu, yang masih sehat dan segar bugar, aku wanita yang sah kamu nikahi. Kenapa kamu tiba-tiba menikah lagi tanpa seizin ku?" kata Naysila dengan mata berkaca-kaca.

"Apa kamu pikir aku harus meminta izin padamu ketika aku ingin menikah lagi? Aku berhak menikahi dua hingga empat wanita tanpa perlu izin darimu," jawab Alden tegas.

"Aku tahu, seorang pria berhak menikahi hingga lebih dari satu wanita. Tapi, apakah kamu tahu kalau untuk hal itu perlu izin dari istri pertama? Kamu gak bisa seenaknya, Mas!"

"Aku sama sekali nggak butuh izin dari kamu, izin dari kamu itu nggak ada artinya buat aku. Diizinkan ataupun tidak, aku akan tetap menikahi wanita yang aku cintai."

Naysila merasa seakan-akan dunianya runtuh dalam sekejap. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai mengalir tanpa bisa dibendung. Hatinya terasa sesak mendengar pengakuan suaminya yang begitu kejam dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Tega kamu, Mas... Aku rela meninggalkan orang yang aku cintai hanya untuk dijodohkan dengan kamu dan menikah dengan kamu. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu, tapi kenapa kamu membalasku seperti ini?" suara Naysila bergetar, penuh luka.

Alden hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Karena aku nggak pernah mencintai kamu. Seharusnya kamu mengerti kenapa aku memilih wanita lain."

Ucapan itu menusuk hatinya seperti belati. Nafas Naysila tersengal, dadanya terasa begitu sesak. Tangannya mengepal kuat, berusaha menahan gejolak emosinya yang meledak-ledak.

"Aku memang tidak meminta kamu mencintaiku, Mas," ucapnya dengan suara lirih, tetapi penuh dengan kesedihan yang dalam. "Aku hanya ingin dihargai sebagai istri. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, setia, dan selalu berusaha memahami kamu. Tapi ternyata, semua itu tidak ada artinya buat kamu."

Serena, wanita yang berdiri di samping Alden, hanya tersenyum sinis, seolah menikmati penderitaan Naysila. "Sudahlah, Nay. Terima saja kenyataannya. Aku yang dicintai oleh Alden, bukan kamu."

Naysila menatap Serena dengan tatapan penuh luka. Kemudian, ia menoleh kembali pada Alden, berharap setidaknya ada sedikit rasa iba di mata lelaki itu. Namun, yang ia lihat hanyalah kebekuan. Tidak ada penyesalan, tidak ada belas kasihan.

Naysila menggigit bibirnya, menahan gemuruh di dadanya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, berusaha tetap berdiri tegak meskipun hatinya tengah remuk.

"Aku nggak sudi menerima wanita lain tinggal di rumah ini," ucapnya dengan suara bergetar, tetapi nadanya tegas. "Jika kamu menikah lagi dan memiliki istri baru, maka kamu harus tinggal di tempat lain dan membawa wanita itu jauh dariku!"

Alden menatapnya dengan tatapan dingin, lalu tertawa kecil, seolah tak menganggap ucapannya serius. "Jadi, kamu menolak Serena tinggal di rumah ini?"

"Ya," jawab Naysila tanpa ragu.

Senyum sinis terukir di wajah Alden. "Kalau begitu, terserah kamu. Entah mau tetap di sini atau pergi, aku tidak akan melarang. Keputusan ada di tanganmu, dan aku tidak peduli."

Naysila terdiam. Ucapan Alden begitu menusuk, membuat dadanya terasa semakin sesak. Seakan ia ini hanya beban dalam hidup suaminya. Tapi pergi? Tidak, ia tidak bisa.

Ia teringat wajah kedua orang tuanya yang begitu bahagia saat pernikahannya dulu. Mereka percaya bahwa Alden adalah pria yang akan menjaganya, yang akan membuatnya bahagia. Jika ia pulang dalam keadaan seperti ini, mereka pasti akan kecewa.

Dia tak bisa membiarkan itu terjadi.

Dengan napas tertahan, Naysila akhirnya berkata, "Baiklah, aku tidak akan pergi."

Alden mengerutkan keningnya. "Kenapa?"

"Aku tidak bisa kembali ke rumah orang tuaku. Mereka percaya bahwa aku bahagia dengan pernikahan ini," ucap Naysila lirih. "Aku nggak mau mereka kecewa. Jadi... aku akan tetap di sini."

Serena tertawa kecil sambil melingkarkan tangannya di lengan Alden. "Wah, luar biasa. Jadi, kamu memilih bertahan meskipun suamimu sudah terang-terangan mencintai wanita lain?"

Naysila menoleh ke arah Serena dengan tatapan tajam. "Aku bertahan bukan karena Mas Alden, tapi karena aku nggak ingin menyakiti orang tua yang telah mempercayakan hidupku padanya."

Alden terdiam sejenak, menatap Naysila dengan ekspresi sulit ditebak.

"Terserah," katanya akhirnya. "Tapi aku nggak akan mengubah keputusanku. Serena tetap akan tinggal di sini, dan kamu harus terima itu."

Naysila mengepalkan tangannya lebih erat, berusaha menahan semua rasa sakit yang terus menghantamnya. Dengan berat hati, ia mengangguk.

Dalam hati, ia tahu bahwa ini adalah awal dari penderitaannya.

Alden mengajak Serena naik ke lantai dua rumahnya, di mana kamarnya berada, ia sama sekali tak menghiraukan walaupun Naysila menangis dalam diamnya. Naysila membayangkan wajah orang tuanya yang selalu tersenyum lebar ketika ia berkunjung dengan Alden. Orang tuanya percaya ia bahagia, padahal sebenarnya apa yang ia perlihatkan saat bersama Alden hanya sebuah kepura-puraan semata.

"Ya Allah, kenapa hidupku harus seperti ini? Mengapa suamiku tega melakukan itu padaku? Padahal selama ini aku selalu berusaha sekuat tenagaku untuk menjadi seorang istri yang sempurna, tapi aku selalu rendah dan kurang di matanya. Apakah aku tak pantas bahagia?"

Cukup lama Naysila berdiri di tempatnya, mengeluarkan air mata kesedihan yang seakan tiada ujungnya. Ada rasa sesal dalam hatinya karena mau dijodohkan dengan Alden, ia merasa ingin kembali ke waktu di mana dirinya dan Alden tidak pernah mengenal sama sekali, bahkan tidak pernah bertemu.

Naysila mengusap air matanya dengan ujung jilbab yang ia kenakan, ia tahu dirinya harus lebih kuat jika ingin tetap bertahan dengan pernikahannya bersama Alden. Naysila harus siap melihat kemesraan suaminya dengan Serena, yang tak pernah dilakukan kepadanya. Dan bahkan, ia harus siap jika sewaktu-waktu harus bertambah sakit ketika Serena mengandung anak dari suaminya.

Sementara itu di dalam kamar, Alden dengan cepat melepaskan tangan Serena yang menggandengnya sejak tadi. Ekspresi wajahnya kembali dingin, ia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepiannya.

"Kamu hanya harus bersikap mesra padaku jika di hadapan Naysila, setelah kita jauh darinya aku ingin kita saling menjauh," ujar Alden dengan nada dingin.

"Kenapa? Statusku kan istrimu, jadi wajar kalau kita bermesraan meskipun dibelakang Naysila," kata Serena, berjalan mendekati Alden dengan langkah menggoda.

"Status istri hanya di hadapan Naysila, baik dalam agama maupun hukum kamu dan aku nggak memiliki ikatan apapun. Ingat, aku hanya menyewamu sebagai istri bohongan hingga Naysila pergi dari rumah ini dan meminta cerai padaku. Setelah itu, kamu boleh pergi dari rumah ini dengan membawa uang bayaran yang aku berikan sesuai perjanjian," tutur Alden.

Serena menyentuh bahu Alden dan mengusapnya lembut, "Kenapa kamu sangat ingin bercerai dengan Naysila? Jika diperhatikan, Naysila adalah wanita yang cukup cantik dia juga terlihat sangat baik."

"Aku nggak pernah mencintainya sejak awal, bahkan aku belum ingin menikah sama sekali. Perjodohanku dengan Naysila tanpa persetujuan dariku, sehingga pernikahan kami nggak pernah benar-benar seperti pernikahan pada umumnya. Aku ingin menceraikan dia tanpa harus aku memaksanya pergi. Aku ingin dia yang pergi sendiri dari rumah ini dan meminta talak kepadaku, dengan begitu aku nggak akan pernah disalahkan oleh orang lain."

"Tapi, walaupun dia yang pergi sendiri dari rumah ini dan meminta talak padamu, bukankah dia akan memberitahu orang tua kalian bahwa perceraian terjadi karena kamu menikah lagi?"

"Satu hal yang selalu aku yakini dari dia, dia nggak akan pernah menceritakan masalah apapun di dalam rumah tangga kepada orang tua kami. Sejak awal kami menikah, Naysila selalu bersikap manis di hadapan orang tua kami, dan sama sekali nggak pernah menceritakan keburukanku pada mereka. Dia sangat menghormatiku, dan nggak mau orang tua kami mengetahui keburukanku. Itulah kenapa, aku memutuskan untuk berpura-pura poligami padanya, sebab dia gak akan pernah mengatakan apapun pada orang tua kami."

Serena mangut-mangut paham, menurutnya Naysila itu wanita yang baik, namun ia masih heran mengapa Alden tak mau mencintainya. Serena tak bertanya lagi pada Alden, saat ini dia hanya istri palsu bagi Alden yang sedang berusaha untuk menjauhkan istrinya dari kehidupannya.

Alden melepaskan tangan Serena dari bahunya, ia berdiri dan berkata. "Mulai hari ini hingga rencana kita berhasil, kamu bisa tidur di sini dan aku akan tidur di ruangan kerjaku."

"Kenapa kita gak tidur sekasur? Aku gak akan macam-macam kok," tanya Serena dengan tatapan menggoda.

"Jangan pernah berpikir aku mau tidur dengan wanita yang bukan istriku, aku masih punya iman walaupun sangat tipis. Selama menjadikan Naysila sebagai istriku, kami nggak pernah tidur sekamar ataupun sekasur. Apalagi dengan kamu yang bukan istriku, tentu aku menolak," jawab Alden tegas.

Tanpa menunggu wanita itu bicara lagi, Alden langsung masuk ke ruang kerjanya yang berada di dalam kamar itu juga. Serena mengangkat bahu setelah Alden masuk, ia juga tak mau peduli dengan apapun selain uang.

Yang harus ia lakukan hanya terus berpura-pura menjadi istri Alden di hadapan Naysila, dan Alden akan memberikan banyak uang padanya.

Naysila yang sudah masuk ke kamarnya masih menangis tersedu-sedu walaupun pelan, rasa sedihnya tak hilang sedikitpun, dalam hati ia mengutuk perbuatan suaminya itu. Namun, sebagai wanita beriman, ia mencoba untuk menerima dengan ikhlas perbuatan suaminya meskipun sangat sulit.

"Kamu jahat, Mas... kenapa harus menikah lagi? Jika tak mencintai aku, seharusnya kamu menceraikan aku, bukan dengan menikah lagi tanpa seizinku."

*****

Undangan dari Ibu

Malamnya...

Naysila menata makanan di atas meja, ada berbagai macam menu masakan yang dibuat olehnya dengan porsi lebih banyak, mengingat di rumah mereka bertambah satu orang yang tinggal bersama, Serena.

Walaupun hatinya sangat sedih atas kejadian tadi siang dan perlakuan buruk Alden padanya, namun Naysila tak mau melupakan kewajibannya dalam melayani kebutuhan sang suami. Naysila akan berusaha ikhlas, apapun yang terjadi saat ini dalam hidupnya adalah semata-mata karena takdir Tuhan.

"Wah, ternyata kamu pintar masak juga ya," suara itu tiba-tiba terdengar mendekat.

Naysila menoleh sejenak, Serena datang bersama Alden dengan bergandengan mesra.

Melihat itu, Naysila tidak berkata, hatinya sudah terlalu sakit untuk merasa cemburu pada suaminya itu. Ia tak mau berdebat lagi, dan sadar diri bahwa Alden sengaja menyakitinya.

"Aku sudah siapkan makan malamnya, silahkan dinikmati," ucap Naysila sambil melangkah pergi.

"Hei, kamu mau ke mana? Gak mau makan malam bareng?" tanya Serena.

Naysila menghentikan langkahnya dan menjawab, "Aku makan nanti saja setelah kalian, suamimu tidak suka makan denganku. Aku gak mau dia tidur kelaparan cuma karena gak mau makan bersamaku."

Setelah itu, Naysila pergi tanpa menoleh lagi. Serena menatap Alden yang sejak tadi diam, ia baru tahu kalau Alden tidak suka makan dengan istrinya.

"Yakin, kamu gak suka makan sama dia?" tanya Serena.

"Apa harus di perjelas? Sudah, makan saja jika kamu lapar dan jangan banyak bertanya," kata Alden sambil melepaskan tangan Serena dan duduk di salah satu kursi.

Serena ikut duduk, mereka mengambil nasi dan lauk pauk, kemudian makan bersama tanpa Naysila. Alden tak merasa khawatir sama sekali padanya, ia seakan tak peduli Naysila akan makan atau tidak.

Sementara itu, Naysila berada di kamarnya. Wanita berusia 24 tahun itu menatap foto pernikahan yang diabadikan di dalam album foto. Naysila tersenyum melihat potret momen-momen pernikahannya dua tahun lalu.

Ya, Naysila menikah muda setelah dijodohkan dengan Alden yang anak dari teman lama ibunya. Mereka hanya menjalani proses ta'aruf, kemudian khitbah dan menikah setelah 1 bulan pertunangan.

Naysila saat itu masih berusia 22 tahun, sedangkan Alden berusia 25 tahun. Perbedaan usia mereka tak begitu jauh, hanya saja Alden tak pernah cocok dengannya sejak awal.

Saat itu, keduanya menikah atas dasar keterpaksaan karena tuntunan orang tua. Alden dipaksa menikah cepat karena orang tuanya khawatir ia tak akan bertemu jodoh di usia yang sudah cukup matang. Padahal saat itu Alden masih ingin fokus pada karirnya sebagai seorang CEO. Sementara Naysila, ia dipaksa menikah karena tuntunan ekonomi, di mana kedua orang tuanya mengalami kebangkrutan dan harus berjuang keras agar bisa tetap hidup. Padahal, saat itu Naysila sudah memiliki tambatan hati, mereka sudah berencana untuk menikah setelah lulus kuliah.

Sayangnya, pernikahan Alden dan Naysila menghancurkan harapan mereka untuk masa depan masing-masing. Mereka pun tak bisa menolak, keduanya adalah anak yang patuh terhadap orang tua.

Naysila masih menatap satu per satu foto-foto pernikahan dengan Alden, bibirnya menyunggingkan senyum tatkala melihat foto di mana dirinya bersanding dengan Alden di pelaminan.

"Kalau dilihat-lihat, kita cocok ya?" ucapnya pelan. "Sayangnya, hati kita gak cocok."

Naysila menutup album foto itu perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengusap air mata yang nyaris jatuh, mencoba menahan perasaan yang terus menghantui. Ia tahu, menyesali semua ini tak akan mengubah apa pun. Pernikahannya dengan Alden sudah menjadi bagian dari hidupnya, seburuk apa pun itu.

Perutnya mulai keroncongan, tapi pikirannya masih berat untuk turun ke bawah dan menghadapi kenyataan. Ia tahu di meja makan sana, suaminya sedang menikmati masakan yang ia buat bersama Serena, wanita yang kini tinggal di rumah mereka, seolah-olah ia pemilik sah hati Alden.

Setelah beberapa saat termenung, Naysila akhirnya berdiri. Ia memutuskan untuk ke dapur mengambil sedikit makanan, berharap Alden dan Serena sudah selesai. Ia melangkah pelan keluar dari kamar, menuruni tangga dengan hati-hati agar tak menarik perhatian.

Namun, saat ia sampai di ruang makan, Alden dan Serena masih duduk di sana. Tawa kecil Serena terdengar jelas di telinga Naysila, menusuk seperti jarum. Ia mencoba mengabaikan dan berjalan menuju dapur, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Serena.

"Laper ya? Makanya, jangan pura-pura kuat, kalau lapar harusnya dari tadi ambil aja bagian kamu dan makan di tempat lain kalau gak mau mengganggu suamiku," kata Serena dengan nada mengejek.

Naysila menoleh dan menatap wanita itu, "Sepertinya, aku cukup tahu diri daripada kamu. Aku tahu diri karena suamiku tidak suka makan denganku sehingga aku mengalah dan menahan lapar. Sementara kamu, menikmati makanan dengannya tanpa perlu menyiapkannya terlebih dahulu. Bukankah kamu termasuk wanita yang tidak tahu diri? Karena kamu sama sekali nggak bisa memasak untuk suamimu sendiri."

Serena terdiam dengan mata melotot, tersinggung dengan kata-kata yang Naysila ucapkan padanya. Sementara Alden, hanya memalingkan muka ketika Sabrina bicara.

"Sayang, dia mengatakan aku gak tahu diri!" Serena mengadu pada Alden dengan suara manja.

"Berhenti bicara, Nay. Aku risih mendengar kamu bicara 'sok' seperti itu. Serena istriku, dia usianya jauh lebih tua daripada kamu dan sebaiknya kamu lebih menghormatinya!" kata Alden tegas.

Naysila menarik napas panjang, mencoba menahan tangis yang hampir pecah, perkataan Alden selalu menyakitkan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia masuk ke dapur, mengambil sedikit nasi dan lauk seadanya dengan sebotol air minum. Ia tak ingin berlama-lama di sana, cukup dengan makanan yang bisa mengganjal perutnya saja.

Saat Naysila berjalan keluar dari dapur, Serena kembali membuka suara.

"Kalau aku jadi kamu, aku udah pergi dari rumah ini. Gak tahan, tahu, lihat suami sendiri cuek begitu," ucap Serena dengan nada mengejek.

Naysila berhenti sejenak, tapi kali ini ia tak menoleh. Dengan suara pelan namun tegas, ia berkata, "Aku di sini karena aku istri sah nya. Dan aku gak akan pergi cuma karena kamu."

Setelah itu, Naysila melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Alden dan Serena yang terdiam sejenak. Serena menatap Alden, berharap pria itu membela dirinya. Namun Alden hanya menghela napas, seolah tak ingin memperpanjang masalah.

Di dalam kamar, Naysila duduk di atas ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Dalam hati, ia bertanya-tanya, sampai kapan ia harus bertahan dalam pernikahan yang tak pernah memberinya kebahagiaan ini. Tapi ia tahu, selama masih ada harapan, sekecil apa pun itu, ia akan tetap bertahan.

"Kapan kamu bisa menerimaku, Mas? Apakah aku seburuk itu, hingga kamu tega selalu menyakiti aku?" bisiknya pelan, sebelum akhirnya air mata yang sejak tadi tertahan, jatuh membasahi pipinya.

*****

Malam kian larut, Serena sudah terlelap di kasurnya dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuh. Sementara itu, Alden berbaring dan sebuah kasur di ruang kerjanya. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, mengingat kembali perjalanan hidupnya yang terasa begitu rumit, Alden tahu bahwa pernikahannya dengan Naysila bukanlah sesuatu yang diinginkannya sejak awal. Namun, ada rasa bersalah yang diam-diam mulai merayap di hatinya, terutama setiap kali melihat tatapan mata Naysila yang penuh luka namun tetap berusaha tegar.

Alden menghela napas berat. Ia memejamkan mata, mencoba melupakan semua yang terjadi hari ini. Tapi bayangan wajah Naysila saat menahan air mata terus menghantui pikirannya. Entah kenapa, meski hatinya keras, ada sudut kecil di hatinya yang mulai merasa bersalah.

Ponselnya bergetar di atas meja, memecah keheningan malam. Alden meraihnya dengan malas, membuka pesan yang baru masuk.

[Al, jangan lupa besok datang ke rumah bersama Nay, ya. Ibu dan Ayah ingin kalian ikut merayakan hari jadi pernikahan kami. Jangan sampai lupa. Ibu kangen kalian berdua.] Bunyi pesan dari Bu Tamara, ibunya Alden.

Alden mengernyit membaca pesan itu. Ia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum meletakkannya kembali di meja. Alden seolah tak berniat membalasnya sama sekali.

Ibunya tak tahu apa-apa tentang Serena. Orang tuanya mengira pernikahannya dengan Naysila berjalan baik-baik saja, dan Alden sengaja membiarkan mereka berpikir seperti itu. Ia tidak ingin menghadapi pertanyaan atau kekecewaan dari kedua orang tuanya, terutama ibunya yang selalu menyayangi Naysila seperti anak sendiri.

Pesan itu membuat Alden terdiam lebih lama malam ini. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bertanya pada dirinya sendiri, apa benar dia bahagia dengan semua ini? Atau justru dia sedang menipu dirinya sendiri?

Di kamar lain, Naysila sudah tertidur dengan mata bengkak. Meski tubuhnya lelah, pikirannya tak pernah berhenti memikirkan masa depannya. Ia tahu, bertahan dalam pernikahan ini bukan hal mudah. Tapi ia juga tak ingin menyerah begitu saja. Dalam hatinya, ada secercah harapan bahwa suatu hari, Alden akan melihat dirinya dengan cara yang berbeda.

Malam itu berlalu dalam keheningan yang penuh ketidakpastian. Besok, mereka harus menghadapi kenyataan yang berbeda, berpura-pura menjadi pasangan bahagia di hadapan orang tua Alden. Dan di tengah semua kepura-puraan itu, terselip pertanyaan yang menggantung di hati mereka masing-masing. Sampai kapan semua ini akan bertahan?

Dan siapa yang akhirnya akan menyerah lebih dulu. Alden, atau Naysila?

Menyerah

[Keesokan Harinya]

Alden berdiri di depan pintu kamar Naysila. Ia merasa ragu untuk mengetuk pintu kamar istrinya, tetapi ingat bahwa semalam ibunya berpesan agar ia dan Naysila bisa menghadiri acara perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Mau tak mau, Alden akhirnya mengangkat tangan kanannya bersiap mengetuk pintu kamar.

Namun, sebelum Alden dapat mengetuk pintu, tiba-tiba pintu kamar Naysila terbuka dengan sendirinya membuat Alden menarik tangannya kembali. Naysila keluar dari kamar dan terkejut melihat Alden ada di sana.

"Mas, kamu ngapain di sini?" tanya Naysila sambil menutup pintu kamarnya dan dirinya keluar.

Alden sedikit gugup, tetapi berusaha membuat dirinya tenang kembali dan menunjukkan sikap dinginnya.

"Tadinya aku mau mengetuk pintu kamar kamu, tapi tiba-tiba pintunya terbuka. Maka dari itu aku nggak jadi melakukannya," jawab Alden dengan nada datar.

"Ada apa, sehingga kamu ingin mengetuk pintu kamarku? Aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan, jadi aku pikir kamu nggak akan membutuhkan aku lagi hingga harus repot mengetuk pintu kamarku."

"Aku ingin membicarakan hal lain, bukan tentang sarapan."

"Baik, katakan sekarang karena aku mau pergi berbelanja. Aku nggak mau terlalu kesiangan, takutnya barang-barang diskon habis," kata Naysila dengan sikap tak kalah dingin.

Alden menghela napas, lalu berkata. "Semalam, Ibu mengirimkan pesan padaku dan memintaku untuk datang ke rumah, karena akan diadakan acara peringatan ulang tahun pernikahan. Ibu memintaku mengajak kamu datang ke sana, dan ikut merayakan hari bahagia mereka," Alden menjelaskan tanpa basa basi.

"Lalu, apa hubungannya denganku? Kamu mau mengajakku ke sana?" tanya Naysila.

"Tadinya aku ingin pergi sendiri, tetapi Ibu memaksaku untuk membawa kamu juga. Aku nggak bisa menolak kalau Ibu yang sudah meminta, maka dari itu kamu harus ikut denganku datang ke acara itu," sikap yang ditunjukkan Alden seolah acuh tak acuh, namun dalam hati ia sangat berharap Naysila akan ikut.

Naysila tersenyum kecut, "Kenapa harus aku? Kamu kan bisa mengajak istri baru kamu itu dan mengenalkan mereka kepada orang tua kamu. Biar mereka tahu kalau putranya sudah berpoligami tanpa izin dari siapapun."

Alden menghela napas panjang. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang dingin kini sedikit bergetar. Ia sudah menduga kalau Naysila akan menyinggung pernikahannya yang kedua, tetapi mendengarnya langsung dari mulut perempuan itu tetap saja menimbulkan rasa tidak nyaman di hatinya.

"Aku nggak ingin membahas itu sekarang," kata Alden, suaranya tetap datar, tetapi ada nada lelah di dalamnya. "Aku hanya butuh jawaban dari kamu, ya atau tidak."

Naysila mendengus pelan. "Tentu saja. Kamu pasti malas membahasnya, kan? Karena kamu sendiri tahu kalau yang kamu lakukan itu salah. Dan aku yakin, kamu juga nggak akan pernah mau membawa istri kamu itu ke hadapan orang tua kamu, karena kamu juga tahu kalau orang tua kamu nggak akan pernah memberikan restu atas pernikahan kalian."

Alden mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. "Aku datang ke sini bukan untuk bertengkar, Nay. Aku cuma menyampaikan pesan dari Ibu. Aku tahu kamu marah, aku mengerti kalau kamu kecewa atas pernikahan keduaku. Tapi ini bukan soal kita. Ini tentang mereka, orang tuaku. Mereka nggak salah apa-apa, dan mereka cuma ingin melihat kita datang sebagai pasangan suami-istri, seperti biasa."

Naysila tertawa sinis. "Seperti biasa? Kamu bercanda, Mas? Kamu memintaku bertemu dengan orang tuamu dan pura-pura mesra lagi di hadapan mereka? Ingat ya, dulu mungkin kita suami istri yang walaupun tidak saling mencintai tapi bisa berpura-pura mesra di hadapan orang tua kita. Tapi sekarang, kita cuma dua orang asing yang terjebak dalam status pernikahan yang telah kamu nodai! Jadi jangan berharap aku mau melakukannya lagi!"

Alden menatap Naysila dengan rahang mengeras. Ia ingin menyangkal, ingin membela diri, tapi ia tahu apa yang dikatakan perempuan itu ada benarnya. Pernikahan mereka memang sudah hancur sejak awal namun masih dipertahankan hanya karena tak mau menyakiti perasaan orang tua.

"Kalau kamu nggak mau ikut denganku menghadiri acara itu, dan kamu merasa lelah dengan pernikahan kita. Kenapa kamu masih bertahan? Bukankah aku sudah memberikan kamu kebebasan untuk pergi ke rumah orang tuamu?" ujar Alden tegas, seolah memang ingin Naysila memilih jalan untuk pergi darinya.

DEGH!

Hati Naysila seolah dihantam dengan keras oleh perkataan Alden, kini ia semakin yakin bahwa Alden memang menginginkan kepergiannya.

"Segitu bencinya kamu padaku, Mas? Sampai kamu tega berbicara seolah mengusir aku?" kata Naysila dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir di pipi.

Alden diam, bungkam dan memalingkan muka tak mau melihat Naysila menangis.

Naysila menangis tanpa suara, namun isakan pelannya samar-samar terdengar. Naysila berusaha kuat, ia menghapus air matanya dan menguatkan diri.

"Baiklah, kalau memang kamu sangat ingin aku pergi. Mungkin, awalnya aku mengira bahwa aku akan kuat menghadapi ini lebih lama, tapi hari ini aku sadar bahwa aku sudah lemah dan gak bisa melanjutkan semua ini. Hari ini, aku akan ikut denganmu ke rumah orang tuamu dan berpura-pura seperti biasa. Tapi setelah itu, tolong antarkan aku pulang secara baik-baik pada orang tuaku. Ceraikan aku dengan cara yang baik seperti saat orang tuamu memintaku pada mereka. Aku mengalah, Mas," tutur Naysila dengan air mata yang terus mengalir deras.

"Aku mungkin akan menyakiti perasaan orang tuaku, tapi itu tak apa daripada aku juga terus berbohong pada mereka. Walaupun awalnya mungkin akan menyakiti mereka, namun aku yakin cepat atau lambat orang tuaku bisa menerima dan mengerti. Jadi, kamu gak perlu susah payah lagi untuk menyingkirkan aku, Mas. Aku yang pergi sendiri dan kamu pantas merayakannya," tambah Naysila dengan dada yang sesak.

Alden tertegun. Entah mengapa dadanya terasa sesak saat mendengar permintaan itu keluar dari mulut Naysila dan juga penuturannya. Ia tahu, cepat atau lambat, hal ini akan terjadi dan inilah yang selama ini Alden inginkan. Tapi mendengarnya langsung saat ini tetap saja menimbulkan rasa perih yang tak bisa ia jelaskan.

Alden tak tahu seperti apa sebenarnya yang ia rasakan, namun ia merasa berat untuk mengatakan 'Ya' pada permintaan Naysila.

Alden menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresinya yang mulai retak. "Jadi, ini keputusan kamu?" tanyanya dengan suara pelan, hampir berbisik.

Naysila mengangguk, meski air mata masih membasahi pipinya. "Aku sudah lelah, Mas. Aku nggak mau lagi bertahan dalam pernikahan yang cuma bikin aku sakit hati." Naysila mengusap air matanya. "Dua tahun kita jalani ini, namun sampai saat ini belum ada kemajuan, kamu bahkan menikah lagi tanpa siapapun tahu. Aku sadar, kamu nggak akan pernah bisa memilih aku, jadi aku yang akan memilih untuk pergi, mengalah untuk kebahagiaan kamu. Aku gak bisa mempertahankan sebuah hubungan yang hanya menghabiskan waktu, aku butuh kepastian dan juga kebahagiaan."

Hening.

Alden mengepalkan kedua tangannya erat, mencoba menahan sesuatu yang sejak tadi bergemuruh dalam dadanya. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menghentikan perempuan itu. Tapi apa haknya? Ia sendiri yang menghancurkan semua ini dan bahkan menginginkannya, bukan?

"Baik," kata Alden akhirnya, dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Setelah acara selesai, aku akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu."

Naysila tersenyum pahit. Entah kenapa, mendengar Alden begitu mudah menyetujui permintaannya malah membuat hatinya semakin sakit. Ia berharap, meski hanya sedikit, ada keraguan di dalam diri pria itu. Tapi nyatanya, Alden justru menerima keputusannya tanpa sedikit pun usaha untuk menahannya.

"Aku akan bersiap untuk nanti malam," kata Naysila akhirnya, lalu berbalik dan masuk kembali ke dalam kamarnya, rencana untuk berbelanja pun ia urungkan.

Alden masih berdiri di tempatnya, menatap pintu kamar yang kini tertutup rapat. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, rahangnya mengatup keras.

Bodoh.

Untuk pertama kalinya, Alden merasa dirinya adalah pria paling bodoh di dunia.

"Sebenarnya, aku kenapa? Kenapa aku sama sekali tidak merasa senang saat dia meminta aku mengantarkan dirinya pulang pada orang tuanya? Kenapa ini? Kenapa aku malah merasa sesak?" Alden membatin. Ia pun bingung dengan perasaannya sendiri.

Alden bergerak, ia berjalan pelan menjauh dari kamar Naysila, tapi sesekali akan berbalik dan menoleh ke arah pintu kamar yang selama 2 tahun ini tak pernah ia buka atau masuki. Hatinya terasa sangat berat, Alden merasa ia mulai goyah akan keinginannya sendiri.

Ketika Alden masuk ke kamarnya, Serena yang sedang duduk di depan cermin menoleh dan menghampiri.

"Kamu bertengkar lagi dengannya?" tanya Serena yang sebenarnya sejak tadi tahu Alden dan Naysila bertengkar.

Alden tak menjawab, ia mematung di tempatnya, tatapan matanya kosong.

"Al, kamu sepertinya terlalu kasar padanya. Kalau kamu ingin mengantarkan dia pulang ke rumah orang tuanya, seharusnya sejak awal saja, jangan menunggu hingga dua tahun. Kamu sama saja menghancurkan hati dan masa depannya, wajar kalau Nay sangat kecewa dan marah sama kamu," kata Serena dengan meraih tangan Alden dan menggenggamnya.

"Al, kalau kamu memang gak bisa mencintai Nay, kenapa kamu gak coba untuk mencintai aku yang kamu akui sebagai istri?" tanya Serena penuh percaya diri.

Alden menatap dingin, melepaskan tangan Serena darinya, "Aku gak butuh ceramah kamu. Kerjakan saja tugasmu, karena sebentar lagi tampaknya akan berakhir," katanya.

"Dan ingat, aku gak akan pernah mau mencintai wanita malam sepertimu. Jadi, lebih baik kamu sadar diri sebelum bicara seperti itu," tambah Alden.

Setelah itu, Alden masuk ke ruang kerjanya dan mengurung diri di sana, sementara Serena mendengus kesal karena Alden bahkan tak pernah meliriknya sebagai seseorang yang menarik. Di mata Alden, Serena adalah wanita malam yang ia pungut dengan tawaran uang yang besar untuk berpura-pura jadi istrinya, tak lebih.

Suasana pagi itu kacau, baik Alden maupun Naysila, keduanya memilih untuk tetap berada di kamar mereka untuk merenungi semua yang baru saja terjadi.

"Baiklah, ini akhirnya, Nay... Kamu yang mengalah, maka mari kita pergi dan memulai hidup yang baru tanpa orang seperti dia," batin Naysila yang masih saja terus menangis.

*****

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!