"Aku sudah kotor!"
Kata itulah yang dilayangkan Gadis malang bernama Anaya Regina Putri, niat hati pergi merantau ke Jakarta hanya ingin merubah nasib, namun siapa sangka ia malah terjerumus dalam lembah penderitaan akibat tindakan pem3rkos44n yang dilakukan 4nak majikannya.
Baru terikat kontrak satu tahun, namun siapa sangka ia mendapatkan awal penderitaan yang tak sebanding dengan nominal gaji yang baru setahun ia terima.
"Apa yang harus aku lakukan? Dengan cara apa aku bercerita pada Ibu dan Ayah jika Putri semata wayangnya telah ternod4i? Dengan cara apa?"
Buliran bening itu terus saja membanjiri sudut matanya. Dering ponsel terdengar nyaring, bergegas meraih, bisa dilihat nama Sri Astutik yang tertera dilayar gawai milik Anaya.
"Nay, uang Ibu sudah habis, bisa kamu kirimkan lagi."
Belum usai gadis itu meratapi nasibnya yang malang, ia dihadapkan dengan perlakukan Ibunya yang di dalam pikirannya hanyalah uang dan uang, namun ...
"Maaf Buk, tapi Anaya baru beberapa hari lalu mengirimkan uang, itu juga jumlahnya 3 juta, Anaya juga harus memikirkan masa depan, bolehkah jika sekiranya seminggu lagi Anaya baru kirim?"
Berharap pengakuannya bakal diterima baik oleh Ibu kandungnya sendiri, sebaliknya balasan yang dilontarkan sang Ibu berbanding balik tak seperti yang ia kira.
"Kamu itu jadi 4nak tidak tau diuntung banget! Kamu disana enak makan tinggal makan, tidak terbebani apapun, dulu Ibu sama Ayah yang banting tulang menyekolahkan kamu apakah seperti ini caramu berbakti pada orang tua?"bentak sang Ibu tak memikirkan kepiluan yang dialami anak gadisnya.
"Maaf buk, Anaya bukanlah tidak mau berbakti, tapi uang tiga juta juga cukuplah banyak, Ibu gunakan untuk apa saja kenapa cepat sekali habisnya tolong ... mengertilah keadaan Naya ...tolong ...."
"Kalau Ibu tau kamu bakal pelit sama orang tua alangkah baiknya kamu tidak usah kerja jauh-jauh kesana, disini teman-temanmu sudah pada sukses dan dapat suami kaya raya, dibanding kamu tidak ada apa-apanya bahkan hanya jadi perawan tua! Dan bisa-bisanya hanya jadi beban!"
Ditutup secara paksa sambungannya, hati Anaya seakan-akan teriris-iris. Marah! Siapa yang tidak akan marah setiap kali permintaannya tak dituruti, tidak akan lupa kata-kata menyakitkan akan selalu keluar dari mulut Ibu yang telah melahirkannya.
"Tuhan ... Apakah hamba tidak ditakdirkan bahagia kenapa nasib hamba jadi sengsara seperti ini? Disini hamba kerja m4ti-m4tian, untuk istirahat saja bahkan terbilang hanya punya waktu terbatas, tapi kenapa bisa Ibu hamba berkata semudah itu seolah-olah aku adalah anak yang tak berguna! Ini tidak adil Tuhan ... tidak adil."
"Naya!"
Teriakan amat keras seketika membangkitkannya, mengusap air matanya, ia keluar, namun sudah disambut dengan tatapan tajam yang dilayangkan sang majikan yang begitu terlihat tak menyukainya.
"Rapikan kamar Tuan muda."
"Ba ...baik Nyonya."
Ingin menolak, tapi apa daya ia tak bisa menolaknya seenak itu, sudah didepan pintu kamar tuan muda lagi-lagi bayang-bayang pem3rkos44n yang dilakukan 4nak majikannya begitu sangat membentang jelas di bayang-bayang Anaya.
"Masuk!"
Teriakan keras itu seakan-akan mendorong langkahnya maju memasuki kamar ini, tapi tidak dengan keberanian Anaya yang sejujurnya tak seberani ini.
Lelaki bersetelan jas hitam itu melemparkan sesuatu kearahnya, tepat dibawah kakinya Anaya perlahan Wanita itu memungutnya.
"Minumlah! Jangan sampai dalam rahimmu tertanam benihku, kita jelas beda kasta! Jika dikatakan aku permata berharga, anda hanyalah segumpal batu kerikil yang tak berguna, jadi jangan sampai kau hamil 4nakku karena aku tak sudi bahkan jika hanya untuk menatap wajah anak haram itu! Paham!"
"Apa anda hanya bisa membanggakan kekayaan, tapi lupa jika dirimu tak lebih dari seorang bajingan?"
Kata-kata itu seketika menajamkan sorot mata Lelaki berusia 30 tahun yang memiliki nama Reno Anjasmara.
Dicengkeram rahangnya dengan kasar, tatapan lelaki itu amat sangat mematikan, tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada Anaya jika ia sungguh memiliki 4nak dari lelaki berhati k3jam ini.
"Jangan pernah berani melawan jika tidak ingin hal lain akan terjadi, kalaupun kamu akan melaporkanku apakah mungkin laporanmu akan ditangani atau malah sebaliknya? Masalah itu akan berbalik menjeratmu? Aku punya segala-galanya, jadi janganlah berani melawan! Paham!"
Dihempaskan tubuh lemah itu hingga tersungkur kelantai, hati Anaya seketika rapuh, kesuciannya telah terenggut paksa, namun bukan pertanggung jawaban yang ia terima, tapi sebaliknya hinaan lah yang ia dapatkan secara bertubi-tubi.
******
Menggenggam pil pemberian Reno, hati Anaya masih ragu akankah cara ini dapat menjadi obat penenang disaat hatinya yang tak lagi memiliki ketenangan, setelah malam kelam itu telah mer3nggut kesuci4nnya.
"Tuhan ... bantulah hamba ... berikanlah petunjuk pada hamba apakah cara ini yang terbaik untuk jalan yang hamba pilih saat ini, hamba mohon ...."
Tangannya masih gemetaran, pil yang sudah dalam genggamannya, tapi tak juga kunjung ia minum.
"Naya!"
Panggilan yang menakutkan itu kembali menyambar telinga g4dis itu, reflek Anaya yang gugup tak sengaja malah menjatuhkan pil itu hingga tidak tau kemana jatuhnya.
"Astaga ...kemana jatuhnya pil itu? Apa yang harus aku lakukan?"
"Naya!"
Bentaknya yang seketika mendorong langkah Anaya akhirnya memilih menemui sang majikan.
"Kamu itu budek apa tuli susah sekali dipanggil?"tegur Renata- Majikan Wanitanya sekaligus Mama dari Reno.
"Maaf Nyonya, maaf!"
"Dirumah ini bakal ada tamu, segera siapkan menu masakan yang mewah."
"Baik nyonya."
Hanya bisa menuruti perintah sang majikan karena itu sudah jadi tanggung jawab Anaya sebagai Art dirumah ini.
"Aku tidak bisa bayangkan jika seandainya aku hamil mungkin nyawaku yang bakal jadi taruhan jika Nyonya sampai tau kehamilanku ulah dari Putra kandungnya. Sekalipun aku berlindung dibalik kata pembelaan, yang ada masalah baru yang akan aku dapat, mereka tidak akan percaya dan berbalik malah akan menuduhku telah berani merayu tuan muda." Gadis itu membatin, sesekali menghela nafasnya.
******
Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya telah tiba. Meja makan telah tersaji beberapa hidangan mewah, tamu yang ditunggu-tunggu juga telah menampakkan diri.
"Sayang ...kamu cantik sekali Reno pasti sangat beruntung memiliki kekasih sempurna seperti kamu, kalian sangatlah cocok." Puji Renata pada kekasih Reno.
"Tidak!"
Bagai diterpa badai disiang bolong. Gemuruh seketika melanda dalam hati Anaya, gimana tidak! Fakta harus ia terima jika seseorang yang telah menodainya ternyata telah memiliki hubungan serius pada wanita lain. Bahkan dikatakan mereka dalam tahap pertunangan.
"Tante bisa aja, aku kan jadi malu,"ujar Nadia yang malu-malu.
"Tante doakan hubungan kalian akan sampai pada tahap yang lebih serius! Tante ingin kalian segera menikah dan memberikan kami cucu, ya kan Pa?"ujar Renata pada sang Suami.
"Benar! Itu rencana terbaik, Papa juga sangat menantikan kalian segera menikah agar hubungan kerja sama kita semakin merekatkan silahturahmi antar keluarga besar kami, ya kan Ren?"
Berbalik Pria tua itu meminta pendapat pada sang Putra, Reno terlihat dari raut wajahnya seakan-akan ada tekanan yang mengharuskan ia menyetujui keinginan sang Papa.
"Iya! Benar kata Mama dan Papa aku pun sudah sangat tidak sabar meminang kamu menjadi Istriku. Pokoknya dalam waktu dekat ini aku akan melangsungkan acara pertunangan besar-besaran agar kamu bisa aku genggam tanpa status kekasih lagi, aku mau kamu menjadi milikku seutuhnya tanpa ada penghalang."
Diberikan k3cupan pada punggung tangan Nadia, Anaya yang sedari tadi menyaksikan momen romantis ini hampir air matanya akan berjatuhan, teringat pula kejadian kelam yang menjadikan awal penderitaannya.
Anaya tak tahan lagi ia berniat akan pergi, namun kejadian tak terduga datang, semangkok menu tanpa sengaja tumpah di telapak tangan wanita muda itu, merintih kesakitan kepanikan kini nampak jelas diwajah orang tua Reno dan juga Reno sendiri.
"Astaga ...kamu itu tidak becus sekali ...kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang?"
Renata menunjukkan keperduliannya pada calon menantunya.
"Ini sangat panas Tante ... Pembantu tidak guna ini sepertinya sangat sengaja ingin merusak kulitku."
"Kamu harus aku beri hukuman."
Ditarik pergelaran tangan Anaya dengan kasar, dibawa pergi dengan mengabaikan rintihan sakitnya. Tubuh lemah itu didorong hingga tersungkur diatas batu kerikil itu.
Dihempaskan dengan kasar layaknya sampah, Anaya menahan air matanya janganlah sampai ia menitihkan air mata dan menunjukkan kelemahannya dihadapan Pria berhati kej4m ini.
"Ini akibat kamu telah berani melukai calon istriku ...jujur saja kamu iri kan kekasihku jauhlah sangatlah cantik dibanding kamu? Perlu kamu ingat! Kita melakukannya juga sejujurnya anda ikut menikm4ti, biar dikatakan aku dalam keadaan mabuk! Sejujurnya kamu juga sangat menikmatinya ya kan?"
Kali ini Anaya tak mampu menahan air matanya, biarpun buliran air itu terus saja membanjiri sudut matanya. Anaya hanya melayangkan tatapan tajam, tapi tidak dengan suaranya yang tak mampu ia lontarkan sepatah katapun.
Lelaki itu pergi layaknya tak memiliki perasaan. Bahkan iba pada wanita yang kini masih bersimpuh lutut.
"Awasi dia sampai bisa menuntaskan hukuman yang ia terima."
"Baik Tuan."
Awan hitam sepertinya tak mendukung akan derita yang dialami Gadis malang itu. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi, lalu rintik-rintik itu berubah menjadi buliran yang bahkan tak terhitung berapa banyak jumlahnya.
"Aku lega! Setidaknya turunnya hujan aku bisa menangis tanpa diketahui seorang pun akan derita yang aku alami, terima kasih Tuhan ...terima kasih."
BERSAMBUNG.
SATU BULAN KEMUDIAN
"Tidak! Ini tidak mungkin? Ini pasti salah aku tidak mungkin hamil? Ini tidak mungkin!"
Ia seketika berlutut simpuh, sambil mengelus-elus perutnya, Anaya tidak tau apa yang akan ia lakukan setelah hadirnya janin dalam rahimnya yang jelas-jelas bisa dikatakan 4nak yang tidak diinginkan, berfikir memiliki niat akan menggugurkan sebelum kandungannya membesar, tapi ia tidak bisa egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Aku tidak mungkin menggugurkan janin ini ... biarpun janin ini anak yang tidak diinginkan aku tidak bisa melenyapkannya ...aku tidak bisa."
*****
"Apa! Hamil? Bagimana mungkin?"seru Reno.
Reno, Ayah dari darah daging sang 4nak itupun ikut menunjukkan reaksi tak percaya, ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Pokoknya aku tidak mau tau janin itu harus dilenyapkan, tidak peduli berapapun kamu meminta imbalannya asal janin itu tiada itu harus!"
Plak
Satu tamparan melayang bebas mengenai pipi lelaki egois itu, belum sepenuhnya hilang rasa frustasinya ia sudah menerima tamparan, apalagi dari seseorang yang martabatnya jelas dibawahnya.
"Aku tidak salah kau berani menampar anak majikanmu?"tegas Reno dengan raut wajahnya yang menegang.
"Iya! Aku berani, kau! Tuan Reno Anjasmara segitu egois kah anda dengan pencapaian dan kekayaan yang kau miliki sampai-sampai hati nuranimu tertutup rapat?"
"Jika iya! Anda bisa apa? Sekarang aku tanya jika aku tidak mau bertanggung jawab apa anda akan bisa memenjarakan ku? Tidak lupakah dengan siapa anda berhadapan saat ini?"seru Reno berbangga diri.
"Aku tidak pernah lupa dengan siapa aku berhadapan sekarang! Yang jelas kalaupun kau tidak mau bertanggung jawab aku tidak peduli! Kalaupun hidupku terlunta-lunta aku juga tidak akan peduli, satu hal! Aku tidak akan membiarkan seorang pun bisa mencelakai anakku, termasuk itu anda! Ayah kandungnya sendiri kau paham! Aku memutuskan mengundurkan diri."
Anaya membalikkan badan, ia sudah memikirkan keputusan yang pas yaitu keluar dari pekerjaan yaitu menjadi asisten rumah tangga, namun ...
"Yakin anda bisa menjaga 4nak yang tidak diinginkan itu?" Masih dalam ruangan yang sama, akan melangkah selangkah, ucapan Reno kembali menghentikannya.
"Kau percaya jika janin itu akan aman biarpun masih berada dalam dekapan Ibu kandungnya sekalipun? Ya ...aku akui kau sangat percaya diri, tapi mungkinkah kau bisa mengalahkan seseorang yang memiliki kekuasaan terbesar seperti keluarga dari Tuan Richard Anjasmara Rahadi?"
"Aku tidak takut! Aku yakin keadilan dan bantuan Tuhan akan memihak ku."
"Sungguh?"
Ting
Ting
Bunyi pesan terdengar masuk dalam gawainya, bergegas memeriksa nampak ekpresi Reno berubah, entah pesan apa yang ia dapat, kali ini wajahnya berubah mencurigakan, sesekali ia menampakkan senyum liciknya.
"Sepertinya bakal ada kejutan besar yang akan kau dapat jika kau masih kekeh mempertahankan janin itu,"ujar Reno.
"Apa maksudmu?"
"Kesalahan terbesarmu ialah, memilih mempertahankan yang salah dan malah melepaskan kebahagiaan yang jelas sudah ada didepan matamu."
"Katakan! Sesuatu tidak akan kau lakukan kan?"
"Mumpung aku baik, aku beri kau kesempatan satu hari untuk memilih antara mempertahankan calon anak haram itu, atau keluarga kamu?!"
"Apa hatimu begitu sangat kejam sampai-sampai kau berniat melenyapkan darah dagingmu sendiri?"
"Cepat putuskan!"
"Tidak! Sekalipun kau mengancamku aku tidak akan pernah takut! Aku tau ini hanya akal-akalan kamu kan?"
"Sungguh jadi kau menantang ku?"
"Iya!"
"Sangat-sangat disayangkan, ini pilihanmu jadi kau sendiri yang memilih! Besok! Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada keluarga kamu!"
"Besok pukul 18:00 malam mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau lupakan! Aku sarankan kau pulanglah cepat aku rasa Papa dan Mamamu sudah menantikan akan kehadiran putri tercintanya ini, mungkin pula ini pertemuan untuk yang terakhir kalinya."
Kata-kata yang barusan diucapkan lelaki berumur 30 tahun itu seketika menusuk ulu hati Anaya dalam sekejap, sikap tegar yang tadinya masih bisa mendukungnya untuk kuat, kini hitungan detik telah lenyap, yang ada hanya sebuah ketakutan dan kecemasan yang tidak bisa ia artikan.
" Apa setelah berhasil menghancurkan hidupku hingga hancur lebur, kau masih punya kejutan lain untuk keluargaku?" Anaya menggelengkan kepalanya tak mampu memercayai ada seseorang se'licik Reno.
"Percuma aku mengatakan karena pada akhirnya kamu sendiri juga akan mengetahui apa maksud dari perkataan yang aku maksudkan ini. Salamku ...aku titip salam pada kedua orang tuamu jika kau masih sempat bertemu, ucapkan maaf jika aku telah tega menghancurkan kebahagiaan putri kesayangannya ini, sekaligus merebut kehormatan Putrinya yang sejak dulu mereka jaga."
Hati Anaya seketika kacau tak tau apa maksud yang dikatakan pria yang kini malah menunjukkan sebuah kebanggaan, jelas ini sudah menunjukkan pada firasat yang ia pikirkan.
Hatinya yang merasakan akan firasat tidak tenang berharap perasaan ini hanyalah perasaan biasa.
BERSAMBUNG
KEESOKAN PAGINYA
Sesampainya Anaya menginjakkan kaki dikediamannya sendiri, kerumuman orang terlihat memenuhi rumahnya, hati Anaya seketika berdetak cukup kencang, rasa panik, cemas berpadu jadi satu seakan-akan akan meledakkan isi dari pikiran Anaya saat ini.
Langkahnya menghampiri salah satu kerabat, seseorang itu dengan tulus lantas memberikan pelukannya pada Anaya.
"Ini ada apa? Tidak! Ini pasti salah? Ini pasti tidak mungkin."
"Sayang ....
"Kenapa rumahku ada banyak orang? Katakan kalian datang hanya untuk menjenguk aku kan? Katakan dimana Mama dan Papa kenapa mereka tidak keluar menemui kalian? Dimana mereka?"
Anaya terus bertanya, namun seseorang yang ia tanya tak kunjung memberikan respon, kecuali hanya menangis dan terus memeluknya.
"Kamu yang sabar sayang! Kamu yang sabar!"
Ucapan itulah yang akhirnya keluar dari mulut seseorang itu, hati Anaya seketika bertanya-tanya, namun dengan tabah ia mencoba menghilangkan pikiran kacaunya itu.
"Tante katakan ada apa? Aku tanya dimana Mama dan Papa? Kenapa kalian hanya menangis saja dimana mereka? Aku harus masuk aku mau menemui mereka! Anaya sudah sangat rindu."
Berniat akan masuk kedalam rumah, namun banyaknya tangan sudah siaga menghalangi niat dari Wanita cantik itu untuk masuk kedalam kediamannya sendiri.
Anaya yang memberontak membuat tangan orang-orang pun gagal untuk mencegahnya.
Kedua mata terperanjat kaget, lantai pada setiap sudut ruangan yang biasanya bersih kinclong tanpa noda, kini yang ia lihat lantai rumahnya berubah menjadi merah d4r4h yang mengotori setiap ruangan demi ruangan kediamannya tersebut .
Tak sadar darah siapa ini, matanya terus mencari keberadaan barang-barang yang pada terkoyak poranda. Namun sesuatu yang ia lihat tak seharusnya ia ketahui telah berhasil menghentikan langkahnya dengan sekejap mata.
Membungkam mulut, menahan tangisnya yang amat menyakitkan, sesosok dua jenazah yang tergeletak dilantai tertutup kain batik tak mempercayai apa yang Anaya lihat saat ini. Tangannya seketika gemetar, untuk mendekati kedua jenazah tersebut.
Perlahan langkah kaki telah sampai pada sesosok dua jenazah tersebut. Tangannya seketika gemetar, hati Anaya seakan-akan mencegah, namun pikiran wanita itu terus saja mendorongnya untuk membuka kain itu yang terdapat bercak darah tersebut.
Kedua tangan itu mulai membuka satu persatu jenazah yang sudah tertutup kain batik tersebut. Berhasil terbuka, menunjukkan sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat sekejap mata melumpuhkan otot-ototnya, kaki Anaya terasa kaku tak memiliki tenaga untuk membangkitkan tubuhnya sendiri.
Hatinya seketika hancur melihat kedua orang tua yang sangat ia sayangi sudah terbujur kaku dengan luka sayatan dileher begitu juga tembakan yang sama-sama mengenai kepala keduanya, sekejap ia menghampirinya dan membopong secara bersamaan.
Tangisannya pecah, membekap tubuh Mama tercinta dalam dekapan pelukan hangatnya, disusul Anaya membekap tubuh Papanya.
Tangisan gadis itu pecah berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi, namun yang terjadi sungguh sangatlah nyata.Tubuh Anaya yang seketika ambruk tak mampu menopangnya.
Meratapi tulisan nama yang tertera pada batu nisan dengan nama ❌ dan ❌, hati Anaya seketika hancur berkeping-keping bahkan ia tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya sendiri.
Air matanya mengalir dengan sangat deras sampai-sampai ia tidak sanggup untuk mengatakan sepatah kata pun lagi.
Mulut yang seketika terkunci ia hanya mampu memegang batu nisan bertuliskan nama kedua orang tuanya dengan diselimuti penyesalan dan kecewakan terdalam.
Menyesali semua tapi sama halnya seperti nasi yang sudah menjadi bubur, berusaha apa ia berusaha untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala itu pun percuma, lantaran takdir buruk sudah menimpa.
"Maafkan Anaya Pa, maafkan Anaya Ma gara-gara Anaya Papa dan Mama harus mengalami ini semua, Anaya janji siapapun orang yang sudah bikin Mama dan Papa menderita, orang itu Anaya pastikan akan menderita di tanganku! Tidak peduli ini perbuatan dosa besar yang nantinya akan Anaya dapatkan, tapi Anaya janji kematian kalian Anaya pastikan orang itu akan mendapatkan balasan yang setimpal! Anaya Janji!"
Mengepalkan kedua tangannya, emosi yang memuncak membuat Anaya hilang kendali, kehilangan sifat asli yang mendapatkan julukan si pendiam dan lugu menjadikan gadis itu berubah sifat menjadi ambisius dan pendendam yang besar.
"Dunia memang sangat kejam!"
"Siapa kamu?"
"Saya Madam Rosa, saya cukup prihatin dengan takdir hidupmu yang sangat menyedihkan, saya bersedia membantumu membalaskan dendam Lelaki itu, tapi dengan syarat ...."
Lirikan Anaya lalu berpaling dari sosok wanita itu, ia langsung membalas jabatan tangan arti ia sendiri menyetujuinya.
BERSAMBUNG
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!