Indonesia
NovelToon NovelToon

Mendadak Jadi Duches

KEMATIAN

Gudang bawah tanah, yang terasa lembab dengan minim pencahayaan, sosok perempuan berpakaian serba hitam, sedang berdiri dengan seringai iblis di wajahnya.

"Tidak ku sangka, pecundang itu adalah diri mu, Diego Alexander," ucap Bianca, tersenyum miring.

"Akan aku pastikan, hari ini adalah hari terakhir mu melihat dunia ini Bianca Kingston," ucap Diego, menatap tajam pada Bianca.

"Kamu terlalu percaya diri," jawab Bicara, tersenyum mengejek.

Diego mengepalkan tangannya kuat, sementara Bianca hanya berdiri santai, melipat kedua tangannya, ini bukan kali pertama nya dia berhadapan dengan Diego Alexander, seorang pria yang sedari dulu selalu mencari masalah dengan nya.

"Panti asuhan, Matahari," ucap Diego, tersenyum miring.

"Mungkin sebentar lagi, kamu akan mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan," lanjut Diego.

BRAK

Bianca yang awalnya tenang, langsung tersulut, saat Diego panti asuhan milik nya, yang sudah dia bangun sejak dia masih duduk di bangku SMA.

"Jangan berani-berani nya kamu menyentuh mereka Diego!" desis Bianca, geram.

"Aku sudah tahu kelemahan mu, Bianca Kingston, jika aku tidak bisa menghancurkan mu, tapi aku bisa menghancurkan anak-anak asuh mu itu," ucap Diego, tertawa penuh kemenangan.

Dor

"Bajingan!" umpat Bianca, melepaskan satu tembakan ke udara.

"Kalau kamu berani menyentuh mereka, aku bersumpah akan membunuhmu dengan cara yang paling keji," ucap Bianca, menatap tajam pada Diego.

"Oh iya? Kalau begitu buktikan gadis manis," jawab Diego, tersenyum miring.

Bianca sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi, semua orang boleh mencari masalah dengan nya, tapi jika sudah menyangkut anak-anak asuh nya, Bianca tidak akan pernah melepaskan orang itu.

Walaupun Bianca terlahir dari keluarga kaya, dan memiliki sifat yang sangat keras, tapi dia memiliki hati yang tulus dan luas, Bianca memiliki lebih dari dua ratus anak asuh, mereka anak-anak yang terlantar yang sekarang tinggal di panti asuhan asuhan Matahari, panti asuhan pribadi milik Bianca, dan dia satu-satunya donatur di panti itu, semua kebutuhan anak-anak asuhnya semua Bianca yang tanggung, mulai dari kebutuhan pribadi mereka sampai ke pendidikan mereka.

DOR

DOR

DOR

Pertarungan antara Bianca dengan anak buah Diego tidak bisa di hindari lagi, ratusan peluru menyerbu Bianca.

DOR

DOR

Bianca bukan hanya menghindari peluru-peluru dari musuh nya, justru dia dengan berani dan tanpa takut ikut melapaskan tembakan nya.

DOR

"AAAKKKKKKHHHHH!!"

Suara tembakan dan jeritan memenuhi gedung bawah tanah itu, Bianca bergerak dengan lincah menembak semua anak buah Diego.

DOR

DOR

DOR

"AAAKKKKKKHHHHH!!"

Dalam keadaan mendesak seperti ini, tidak ada raut wajah takut dia wajah Bianca, di terus bergerak dengan cepat, menghindar dan menyerang balik anak buah Diego.

DOR

Dua puluh anak buah Diego sudah berhasil Bianca tumbangkan, keahlian seorang Bianca Kingston, tidak perlu di ragukan lagi, dia bukan hanya menguasai dunia bisnis, tapi dia juga menguasai dunia bawah, skil bertarung nya sudah terlatih sejak dia kecil.

DOR

DOR

"Ah sial! Habisi wanita itu sekarang!" teriak Diego, marah melihat anak buah nya satu-satu mulai jatuh.

Diego yang mulai panik melihat Bianca membantai habis anak buah nya, dia diam-diam mengeluarkan pistol nya dari balik pakaian nya.

"Bianca Kingston, aku akan membunuhmu!" desis Diego, menarik pelatuk pistol nya.

DOR

"Sssssssssttttt!"

Bianca yang sedang bertarung melawan anak buah Diego yang tersisa, berdesis lirih, saat sebuah peluru menembus bahunya.

"Peluru beracun, licik sekali kamu Diego," desis Bianca, mengetatkan rahangnya.

Darah segar mulai merembes dari balik punggung Bianca, sementara Diego berdiri dengan meniup pistol nya yang masih mengeluarkan asap, senyum puas tersungging di bibirnya.

"Ini adalah cara, agar orang tidak curiga, CEO Kingston Grup, mati bunuh diri karena depresi, dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri," jawab Diego, tersenyum miring.

"Kamu memang pintar Bianca, tapi kamu juga manusia biasa, racun itu akan membunuhmu dalam hitungan detik, dan aku yang akan menguasai dunia bisnis, tanpa harus bersaing dengan perempuan seperti mu," lanjut Diego, tersenyum licik.

Bruk

Bianca ambruk ke lantai, karena sudah tidak bisa menopang tubuh nya yang mulia melemah, tapi walaupun begitu Bianca masih tetap sadar, dia menatap tajam pada Diego.

"Dengarkan aku Diego, aku tidak akan pernah kalah dengan pria licik seperti mu, bahkan kematian sekalipun tidak akan membuat aku kalah," ucap Bianca, berusaha mempertahankan kesadaran nya.

Racun itu bekerja dengan cepat, mata Bianca mulai berkunang-kunang, hingga akhir nya Bianca sudah tidak bisa melawan racun itu dan jatuh ke lantai.

Sebelum kesadaran Bianca benar-benar habis, tiba-tiba suara keras terdengar dari pintu ruangan.

BRAKKKK

Pintu besi ruang bawah tanah itu di buka dengan keras, empat sosok pria berlari masuk dengan wajah memerah padam.

DUAR!!

Dunia mereka berempat terasa runtuh seketika, melihat sosok perempuan yang sangat mereka sayangi tergeletak di lantai dengan berlumuran darah.

"BIANCA!!!"

Teriak mereka langsung berlari ke arah tubuh Bianca yang sudah tidak bernyawa.

Bruk

Tuan Dominic, Ayah dari Bianca langsung ambruk, memeluk tubuh Putri nya.

"D-daddy..." ucap Bianca, lirih.

"Sayang," ucap Tuan Dominic, tidak bisa membendung air matanya.

"Daddy, Bianca mau ketemu Mommy dulu, Bianca titip anak-anak asuh Bianca, jaga mereka..." ucap Bianca, lemah.

Di saat keadaan nya sendiri seperti itu pun, Bianca masih ingat dengan anak-anak asuhnya.

"Jangan berbicara seperti itu Sayang," jawab Tuan Dominic, menggeleng kan kepala nya, dengan dada terasa sesak.

"T-terimaksih su-dah me-nja-di yang t-terbaik untuk B-bian-ca, aku sayang Daddy dan Kakak..." ucap Bianca, menghembuskan nafas terakhirnya.

"Tidak!!!!!!"

"JANGAN TINGGALKAN DADDY SAYANG!!"

"JANGAN TINGGALKAN DADDY!!"

Teriak Tuan Dominic, berteriak histeris sambil memeluk tubuh Putri nya yang sudah tidak bernyawa.

"Hisk....Jangan tinggalkan Daddy Bi, jangan Sayang," ucap Tuan Dominic menangis tersedu-sedu.

Bianca adalah kekuatan nya, Bianca adalah Putri bungsu nya yang sangat dia sayangi, sekarang permata hati nya pergi meninggalkan dirinya.

"B-bianca Sayang, buka mata mu Nak," ucap Tuan Dominic, memeluk erat tubuh Bianca.

Ketiga Kakak laki-laki Bianca berdiri kaku dengan tangan terkepal kuat dan mata memerah, menahan tangis.

Mereka melihat adik kesayangan mereka, berlumuran darah dengan nafas yang sudah berenti.

"Maaf," batin mereka bertiga, dengan perasaan sesak.

Justin Kakak pertama Bianca, tersadar lebih dulu, dengan rahang mengeras dia beralih melihat ke arah Diego yang masih berdiri di sana.

"Kau! Kau berani menyentuh nya!" ucap Justin, dengan suara rendah nya.

"Oh keluarga Kingston, aku akui CEO kecil mu itu memang sangat hebat, dia berhasil mengalahkan puluhan anak buah ku, tapi sayang dia tidak bisa menyelamatkan nyawa nya dari kematian," ucap Diego, terlihat sangat puas.

PATAH HATI SEORANG AYAH

"Lihatlah dia jatuh di puncak kejayaan nya, seorang CEO Kingston bunuh diri karena depresi," lanjut Diego, tersenyum puas.

BHUKK

Jaden, kakak kedua Bianca yang terkenal paling tenang di antara saudara-saudara nya yang lain, langsung melayangkan tinjunya di wajah Diego.

"Adik ku tidak bunuh diri! Tapi kamu yang membunuh nya!!" teriak Jaden dengan mata memerah menahan amarah dan juga tangisan nya.

"Lepaskan dia Jaden, biar aku yang mengurus nya," ucap Justin menarik adik nya, untuk mundur.

"Kamu ingin mati cepat, atau ingin melihat bagiamana aku menghancurkan dunia mu secara perlahan," bisik Justin, menarik kerah pakaian Diego.

"Kamu tidak bisa melakukan nya Justin Kingston, perusahaan Kingston tidak bisa di pimpin oleh seorang pembunuh, polisi akan menangkap mu, apa kamu ingin kehilangan segalanya," jawab Diego, berusaha tenang.

Justin bukan nya takut, justru dia semakin mengeratkan cengkraman nya.

"Kamu pikir aku takut, sekarang aku sudah kehilangan segalanya, kamu telah membunuh harta paling berharga milik keluarga Kingston sialan!"

Teriak Justin, menendang perut Diego, sampai terlempar menghantam tembok.

BHUK

BRAKKKKKK

Tuan Dominic berdiri perlahan, matanya kosong, tetapi kegelapan yang mengisi mata nya, lebih menakutkan dari pada amarah Justin.

Hari ini dunia nya runtuh, hatinya hancur karena kehilangan Putri nya, dengan sorot mata dingin nya, Tuan Dominic berjalan ke arah Diego, mengambil pistol dari tangan Putra nya.

"Diego Alexander, nyalimu cukup besar, kamu berani mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidup ku," ucap Tuan Dominic, dengan suara rendah nya.

"Kamu berani menyentuh Putri ku, dan membuat nya pergi dari dunia ini," geram Tuan Dominic, menggenggam erat pistol di tangan nya.

"Ini adalah bisnis Tuan Dominic, sudah biasa di dunia bisnis ada yang kalah dan ada yang menang, dan Putri mu itu kali ini kalah," jawab Diego, berusaha bangkit, walupun perut nya terasa sangat sakit.

"Putri ku tidak pernah kalah," desis Tuan Dominic tidak terima.

"Tapi kenyataannya dia sekarang sudah ma-"

DOR

DOR

DOR

"Dia tidak kalah! Putri ku tidak pernah kalah dari pria pengecut seperti mu!" teriak Tuan Dominic, melepaskan beberapa tembakan pada Diego.

Bruk

Diego ambruk ke lantai dengan tiga peluru bersarang di tubuh nya, pria itu mati di tangan Tuan Dominic.

"Putri ku tidak pernah kalah, dia adalah seorang pemenang, selama nya dia akan menjadi pemenang...." gumam Tuan Dominic dengan airmata yang kembali menetes.

Tuan Dominic kembali memeluk tubuh dingin Bianca, hati nya benar-benar hancur melihat putri kesayangan pergi meninggalkan dirinya.

"Bianca sayang, Daddy minta maaf nak, Daddy tidak seharusnya membiarkan mu sendirian, seharusnya Daddy memaksa mu menikah dengan pria baik-baik, sehingga kamu tidak perlu berada di dunia kotor ini, Daddy minta maaf Sayang, Daddy gagal melindungi mu hisk...hiks...hiks... seharus Daddy juga tidak pernah mengajari mu bertarung, maaf, maafkan Daddy," tangis Tuan Dominic, tersedu-sedu.

Bayangan Putri nya yang tersenyum dan juga wajah cemberut nya saat di goda oleh kakak nya, berputar seperti kaset rusak, membuat dada Tuan Dominic semakin sesak.

Dunia luar mungkin mengenal seorang Bianca Kingston, sebagai wanita yang berhati dingin dan tidak tersentuh, tapi bagi Tuan Dominic dan ketiga Putra nya, Bianca adalah gadis kecil mereka yang sangat manis, Bianca adalah alasan mereka bertahan selama ini, setelah kematian Nyonya Charlotte.

Ketiga Kakak Bianca, berdiri mengelilingi Ayah mereka yang sedang menangis memeluk jasad adik kecil mereka, pemandangan di depan nya sangat menyakitkan dan menyesakkan, mereka yang biasa melihat Daddy nya berwajah tegas, saat ini ketegasan itu hilang, di ganti dengan wajah penuh kesedihan dan kehancuran yang sangat kentara.

"Maafkan kakak princess, maaf, kakak gagal melindungi mu," batin ketiga kakak Bianca, menangis dalam diam.

Kesedihan ini tidak akan pernah hilang, Kingston kehilangan cahaya mereka untuk kedua kalinya, Mommy dan gadis kecil mereka pergi meninggalkan mereka semua.

Dulu waktu mereka di tinggal Nyonya Charlotte mereka masih memiliki Bianca untuk menjadi alasan mereka tersenyum, tapi sekarang gadis kecil mereka ikut pergi menyusul mommy nya.

Lalu bagaimana mereka menjalani hidup kedepannya?🥺

"Bianca Sayang, kenapa kamu pergi secepat ini Nak, Daddy rindu senyum kamu Sayang, Daddy rindu tawa kamu, Daddy rindu berdebat dengan kamu tentang bisnis, Daddy juga rindu caci maki mu yang cerdas itu, bangun Sayang, bangun hiks...hisk...hiks... Daddy belum puas merawat mu Nak, Daddy masih ingin memanjakan mu, bangun Sayang, siapa nanti yang akan memarahi Daddy kalau Daddy lupa makan, bangun Sayang, jangan tinggalin Daddy Sayang hiks...hisk..." ucap Tuan Dominic, menangis dengan dada yang begitu sesak.

Tangisan Tuan Dominic bukan hanya tangisan kesedihan, tapi patah hati terbesar seorang Ayah, rasa bersalah menyelimuti hati nya, karena tidak bisa melindungi Putri nya dari dunia yang jahat, walaupun dia selama ini sudah memberikan yang terbaik dan terkuat untuk putri nya, tapi ternyata itu tidak cukup, untuk membuat putri nya tinggal bersama dirinya lebih lama.

"Diego sudah menerima balasan nya Sayang, dia sudah pergi ke tempat yang seharusnya, tapi semua ini ternyata tidak cukup, untuk membuat mu bertahan, bagaimana hidup Daddy kedepannya tanpa kamu Nak," bisik Tuan Dominic, memeluk erat tubuh dingin Bianca.

"Dad, kita harus menyiapkan pemakaman untuk Bianca, biarkan Bianca istirahat dengan tenang, dia pasti sekarang sudah bertemu dengan Mommy, itu adalah keinginan dia dari kecil," ucap Justin, dengan mata berkaca-kaca.

"Kita pulang sekarang!" perintah Tuan Dominic, menggendong tubuh Bianca.

Tuan Dominic tidak ingin melapaskan Bianca sedikit pun, dia terus mendekap erat tubuh dingin Bianca, dengan hati yang hancur dan air mata yang terus menetes dari mata baya nya.

Seorang Dominic Kingston yang terkenal dingin dan kejam, sekarang tampak rapuh, kerena kehilangan Putri kecil nya.

"Bianca Kingston, cinta pertama Daddy setelah mommy mu, terimakasih Sayang, terimakasih untuk dua puluh tahun yang begitu berharga, Daddy sangat bahagia menjadi Ayah mu, gadis kecil yang selalu tersenyum dengan gigi kelincinya, gadis kecil yang selalu menunggu Daddy pulang kerja, itu adalah bagian hidup Daddy yang paling indah Sayang, terimakasih telah memilih Daddy untuk menjadi Ayah mu, jika ada kehidupan selanjutnya, tolong tetap pilih Daddy untuk menjadi orang tua mu, Daddy ingin kembali menjadi Ayah mu Nak," batin Tuan Dominic, memejamkan mata nya, bayangan Bianca kecil sampai dewasa terasa begitu jelas di kepala nya.

Bianca adalah putri kesayangannya, dia adalah satu-satunya orang yang berani menantang kebijakan nya, yang mempu membongkar kelemahan nya, dan yang paling dia banggakan, ketiga Putra nya adalah kekuatan, tapi Bianca adalah keajaiban.

Rip Bianca Kingstong, selamat bertemu di kehidupan selanjut 🥀

JASMINE HARPER

Bukan tangisan pilu sang Ayah, bukan juga rintihan tangis ketiga kakak nya yang membangun kan Bianca, tapi aroma tanah yang basah dan lembab, menusuk indra penciuman nya, membuat kepala nya terasa sangat sakit seperti di tusuk ribuan jarum.

"Sssssssssttttt!!"

Suara desisan lirih keluar dari bibir pucat nya, dan dengan perlahan Bianca membuka matanya, dengan kepala kepala yang masih berdenyut sakit.

Pemandangan pertama yang Bianca lihat, bukan ruang bawah tanah ataupun rumah sakit, tapi sebuah gubuk yang terlihat usang dan sangat sempit.

"Aku ini di mana?" batin Bianca, masih terus memegang kepala nya yang terasa sakit.

Ceklekk

Di tengah-tengah kebingungan Bianca, tiba-tiba pintu kayu itu terbuka dan terlihat seorang perempuan berpakaian lusuh datang membawa nampan.

"Tuan Putri, Anda sudah sadar," ucap perempuan itu, tersenyum.

"Saya sangat khawatir saat tadi malam Anda tiba-tiba demam, dan tidak sadarkan diri," ucap perempuan itu lagi.

Bianca yang masih bingung, tidak merespon apa-apa.

"Tuan Putri? Siapa? Aku? Sejak kapan aku dipanggil Tuan Putri? Dan lagipula siapa perempuan ini? Seingat ku di rumah tidak ada maid yang seperti ini?" batin Bianca, mengerut kan kening nya.

"Putri, Saya sudah membuat kan bubur untuk Anda, dan tadi ada utusan dari istana yang datang," ucap Perempuan itu, tersenyum kecil.

"Yang Mulia Raja meminta Anda untuk bersiap, karena dua Minggu lagi, pernikahan Anda dengan Duke Lucas akan di gelar," lanjutnya, meletakan nampan nya di atas meja kecil.

"APA! MENIKAH!?"

"SIAPA YANG AKAN MENIKAH!?"

Teriak Bianca, melotot kan matanya.

"P-putri-"

"Aaakkkkkkhhhhh!!"

Bianca memegang kepala nya, dia merasa kepala seperti di tusuk ribuan jarum yang sangat tajam.

"Putri apa Anda baik-baik saja?" tanya Perempuan itu, Khawatir.

Bianca tidak menjawab, kepala nya benar-benar sakit, dia sudah terbiasa dengan rasa sakit terkena tembakan, tapi ini rasanya jauh lebih sakit dari rasa sakit yang pernah dia rasakan dulu.

"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi," batin Bianca, mengumpat kesal.

Di tengah-tengah rasa sakit kepala nya, ingatan asing menyerbu masuk ke dalam kepala nya, membuat Bianca merasakan sakit yang sangat luar biasa.

Tes

Tes

Tes

Darah segar menetes dari hidung nya, membuat pelayan itu semakin Khawatir.

Rasa sakit di kepala Bianca berangsur hilang, setelah semua ingatan asing itu di terima semua oleh Bianca.

Deg

"Apa maksud nya semua ini," batin Bianca, menatap tajam ke depan.

"Putri, hidung Anda berdarah," ucap Perempuan itu, panik.

Bianca menyentuh hidung nya, dan benar saja ternyata dia sedang mimisan.

Tanpa menghiraukan perempuan itu, Bianca beranjak dan berjalan ke sudut kamar gubuk itu, berdiri di depan sebuah cermin yang tergantung di dinding.

Bianca menatap tajam pantulan wajah asing yang ada di dalam cermin itu, wajah itu bukan wajah nya.

"Jadi aku mengalami perpindahan jiwa? Dan sekarang jiwa ku berada di tubuh seorang Putri Raja yang di asingkan," batin Bianca menatap dingin pantulan kaca di depan nya.

Bianca sudah mendapatkan semua ingatan dari tubuh baru nya ini, dia adalah seorang Putri Raja yang di asingkan.

Putri Jasmine Harper, Putri bungsu dari Raja River Harper dan Ratu Florence, dari umur lima tahun Putri Jasmine sudah di asingkan ke sebuah gubuk yang terletak cukup jauh dari istana kerajaan Harper.

Putri Jasmine di asingkan, bukan karena Raja River tidak menyayangi Putri nya, justru karena dia sangat menyanyi Putri nya itu, dengan berat hati dia mengasingkan Putri Jasmine, jauh dari istana, karena istana kerajaan bukan tempat yang aman untuk putri nya.

Ratu Florence meninggal secara mendadak, membuat Raja River sangat terpukul atas kepergian istrinya itu, dan itu juga salah satu alasan nya, memilih mengasingkan Putri nya, Raja River tidak mau kehilangan Putri nya juga, seperti dia kehilangan istrinya.

Setiap satu bulan sekali, Raja River selalu mengunjungi Putri Jasmine, untuk memastikan Putri nya baik-baik saja.

"Ternyata nasib mu tidak jauh beda dengan ku, kita sama-sama tidak memilik ibu," batin Bianca, mengingat dirinya juga merupakan yatim piatu.

Bedanya Bianca dan Putri Jasmine adalah, Bianca di besarkan oleh Deddy nya dengan penuh cinta dan kasih sayang, membuat dirinya tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dan kesepian.

Sementara Putri Jasmine, gadis malang itu hidup tanpa kasih sayang dari kedua orang tua nya, hidup jauh dari ayahnya, memeluk dirinya sendiri di atas rasa kesepian nya, selama bertahun-tahun.

"Hah.... Baiklah Bianca, sekarang kamu adalah Jasmine," batin Bianca menghela nafas nya panjang.

Setelah cukup lama berperang dengan pikiran nya sendiri, menyadarkan dirinya bahwa saat ini kehidupan Bianca Kingston sudah tidak ada lagi, yang ada hanya kehidupan Putri Jasmine Harper.

Bianca kita panggil dia Jasmine mulai sekarang.

"Luna!"

Panggil Jasmine, berbalik dan berjalan ke arah pelayan yang sedari tadi berdiri di sana.

"Saya, Putri," jawab Luna sopan.

Jasmine menatap gadis pelayan di depan nya itu, dia adalah Luna, pelayan pribadi Putri Jasmine, yang setia menemani dan merawat Jasmine selama ini.

"Luna, tolong siapkan air, Saya ingin mandi," ucap Jasmine dengan suara yang lebih jelas dari pada biasanya.

"Baik Putri," jawab Luna, sopan.

Luna berjalan cepat, keluar dari sana, untuk menyiapkan yang di inginkan Tuan Putri nya itu.

"Bisa-bisa nya aku hidup lagi, di tubuh gadis ini, dan apa kata Luna tadi? Satu minggu lagi aku akan menikah dengan Duke Lucas? Yang bener saja," ucap Jasmine, menghela nafas nya kasar.

"Apa yang harus aku lakukan? Membatalkan pernikahan itu? Itu tidak mungkin. Lalu apa yang harus aku lakukan," gumam Jasmine, mengigit kukunya.

"Bagaimana cara nya menjadi seorang istri? Apa aku harus menyiapkan granat?" batin Jasmine, jiwa mafia nya mode on.

"Bodoh! itu tidak mungkin," batin Jasmine, memaki dirinya sendiri.

Hah....

Jasmine menghela nafas nya kasar, di dalam ingatan yang dia terima, tidak ada ingatan tentang sosok pria yang menjadi tunangan nya itu, tidak ada sedikit pun ingatan tentang Duke Lucas.

"Seperti nya pemilik tubuh ini dan pria itu tidak pernah bertemu, seharus nya ini jauh lebih baik bukan? Aku tidak perlu memikirkan bagaimana cara bersikap seperti Putri Jasmine yang asli," gumam Jasmine, pikiran nya mulai jernih.

"Cih! Lagipula siapa yang mau bersikap seperti gadis ini, aku akan menjadi diriku sendiri, anggap saja ini adalah Jasmine Harper versi baru," gumam Jasmine tersenyum miring.

"Putri airnya sudah siap," ucap Luna, yang tiba-tiba datang.

"Hem, terimakasih," jawab Jasmine, mengangguk kan kepala nya.

Jasmine langsung berjalan ke arah kamar mandi nya, meninggalkan Luna yang menatap nya dengan alis mengkerut dalam.

"Mungkin ini hanya perasaan ku saja, Tuan Putri terlihat berbeda," batin Luna, menggeleng kan kepala nya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!