Indonesia
NovelToon NovelToon

Kaisar Dingin Mengejar Cinta

Bab 1

Yun Sia bukanlah gadis yang hidup bahagia, tapi juga bukan gadis yang suka mengeluh. Hidupnya… yah, campuran antara tawa, kecerobohan, dan keberanian absurd yang hanya dimiliki orang bermental baja.

Sejak kecil ia tinggal di panti asuhan kecil yang atapnya sering bocor, lalu tumbuh dengan sifat mandiri. Pagi ia sekolah, sore ia bekerja di kafe. Pekerjaannya unik, koki merangkap penyanyi. Orang bilang tak mungkin bisa mencampur bawang goreng dengan nada tinggi lagu cinta, tapi Yun Sia bisa. Saat ia mengiris cabai sambil menyanyikan lagu balada, para pelanggan menangis entah karena lagunya menyentuh, atau karena cabainya terlalu pedas.

Yang jelas, Yun Sia jago masak, bersuara merdu, dan memiliki satu keahlian langka: memainkan gukin alat musik tradisional yang ia pelajari sendiri lewat video tutorial yang entah kenapa selalu buffering tiga menit.

Tapi hari itu… keberuntungan Yun Sia cuti.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Para pelanggan sudah pulang. Kafe tampak sepi, hanya ada suara kulkas berdengung dan kipas yang sumbatannya membuatnya berbunyi, “Tak-tik-tak-tik.”

Yun Sia menepuk kedua tangannya setelah membersihkan meja.

“Mission clear! Sisa hidup tinggal pulang, mandi, lalu tidur. Dunia, tunggulah aku besok aku kembali bekerja!”

Dia membungkuk ke kiri dan kanan sambil menyanyi sendiri.

Lalu ia menyusuri dapur belakang untuk mengambil tas kecilnya.

Dan di situlah… musuh besarnya menunggu dalam kesunyian.

Sebiji kulit pisang.

Tak ada aura jahat. Tak ada lampu berkedip dramatis.

Hanya sebuah kulit pisang yang tergeletak manis seperti jebakan maut.

Yun Sia melihat ke arah itu.

“Eh siapa yang buang kulit pisang sembarangan—”

SLIP!

“AAAAA—!”

Hidupnya yang penuh perjuangan… berakhir dengan cara konyol, memalukan, dan tidak heroik sama sekali.

Kepalanya terbentur ujung meja.

Gelap.

Sunyi.

Tak ada musik latar.

Namun bukannya bangun di neraka atau melihat malaikat, Yun Sia mendengar suara lain.

Suara gemericik sungai.

Suara angin menampar daun.

Dan… suara kambing mengembik jauh di kejauhan.

“Beeee.”

Yun Sia mengernyit." Ehmmm"

“Kok ada kambing? Jangan bilang aku ditunjuk jadi penunggu kandang kambing di akhirat?”

Ia membuka mata pelan-pelan.

Terang.

Hijau.

Panas.

Ia tersentak bangun.

“Eh?! Ini… dimana?!”Ia bukan berada di dapur kafe bukan pula di rumah dan jelas bukan di dunia modern.

Ia berada di tengah hutan! Dengan pakaian aneh hanfu lusuh, rambut panjang, dan tubuh yang terasa… lebih ringan? Lebih mungil? Lebih lembut?

Yun Sia meraba wajah dan tubuhnya.

“Wah!!! Ini bukan aku! Mukanya… cantik banget! Hidungnya mancung! Matanya bening! Kulitnya putih! Kok kayak filter premium?!!”

Ia bangkit, lalu memandang sekeliling.

Ia berada di sebuah tempat asing. Pohonnya tinggi, burung-burungnya seperti berasal dari film fantasi, bahkan udaranya terasa segar dan… bau tanahnya sangat asli.

Tidak ada tiang listrik, tidak ada kabel, tidak ada suara motor, tidak ada wifi.

“Kok nggak ada sinyal?”Ia melihat lengannya.

Di sana ada tanda lahir kecil berbentuk bunga.

“Tanda lahir? Tapi aku kan eng—”

"Aaaskkrkk!" Sebuah ingatan asing tiba-tiba menghantam kepalanya.

Yun Sia memegang kepala dengan wajah menahan sakit.

“Aduh! Ini apaan?!” Ingatan yang bukan miliknya mengalir masuk seperti video yang diputar cepat.

Ingatan tentang gadis kecil bernama Yun Sia, putri kedua dari Kekaisaran Long, yang dibuang oleh selir kejam. Gadis itu tumbuh sendirian di pinggir hutan, bertahan hidup dengan caranya sendiri… sampai suatu hari ia jatuh dari pohon saat mencari buah dan meninggal.

Tubuhnya mati.

Dan jiwa Yun Sia dari dunia modern masuk.

“Waaaah! Jadi aku… transmigrasi?! Reinkarnasi tipe pindah badan?!”

Ia menghidupkan mode dramanya sendiri.

“Jadi aku putri kerajaan? Astaga! Tapi kok hidup di hutan?! Kok aku dibuang?! Kok nggak ada istana mewah?!”

Ia menatap langit.

“Halo dunia! Aku protes! Kalau mau kirim aku ke dunia fantasi, kasih fasilitas dong! Kenapa hidupku malah downgrade?!”

Namun setelah beberapa menit drama, ia mulai tenang.“Ya sudahlah… hidup harus jalan terus. Lagian tubuh ini cantik banget, siapa juga yang nolak?”

Perutnya berbunyi keras.

“Grrrr.”

“Ya ampun, putri kerajaan kok lapar begini?”Yun Sia merengut.

“Baiklah, saatnya cari makan!” Setelah berjalan tak jauh, ia menemukan sungai jernih.

Ia melihat bayangannya. “…Wah, cantik banget sumpah.”

Ia memutar-mutar kepala. “Ini kalau di dunia modern, pasti langsung trending. Tapi ya percuma, di sini nggak ada CCTV.”

Ia melihat ada beberapa ikan besar.

“Ikan! Rezeki!!”

Dengan semangat barbar, Yun Sia mengepalkan tangan. “Baiklah ikan, siap-siap ketemu chef original!”

Namun…

Begitu ia mencelupkan tangan…

“Iiiih dingin banget!”

Ia menggigil.

“Ampun, airnya kayak air kulkas!” seru Yun Sia

Lewat beberapa detik.

Ia mencoba strategi kedua.

Menggunakan kayu seperti tombak.

“Sini kamu ikan—”

SLUUP!

Ikan kabur.

“Sini kamu—”

SLUUP!

Kabur lagi.

“SINI KAM—”

CEPLAK!

Sesuatu melompat dari semak dan menabrak Yun Sia.

“AARGH!”

Ia jatuh menimpa seseorang.

“Aduh!”

Yun Sia membuka mata.

Seorang pria muda tampan super tampan tergeletak di bawahnya. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit berdarah, dan pakaian hitamnya mewah meski penuh debu.

Ia memandang Yun Sia… lalu terkejut.

Namun bukan karena malu.

Lebih karena..... “Berani sekali kau menyentuhku…” Suara itu dingin.

Namun Yun Sia tidak takut. “Eh, kamu ngapain sih jatuh dari semak?! Aku hampir kena serangan jantung!”

Pria itu terbelalak."Siapa gadis ini berani membentakku?!"

Sementara pengawal pria itu muncul dengan panik.“Tuan! Anda tidak apa-apa?!”

Yun Sia menunjuk pria tampan itu.“Dia yang nabrak aku! Nih, pipiku sakit!”

Pria itu: “…”

Pengawal itu membeku melihat Yun Sia yang duduk di atas tubuh tuannya.“T-tuan… gadis ini… menyentuh Anda…”

Pria itu menghela napas panjang.

Yun Sia malah berkata santai sembari duduk di atas tubuh pria itu “Eh, kalian kenapa? Dia kan manusia, bukan patung. Tersentuh sedikit juga nggak apa-apa.”

Pria itu memejamkan mata. Ia… baru pertama kali dalam hidup disentuh seseorang tanpa izin, dan tidak… merasa jijik.

Pengawalnya gemetar seperti kucing kehujanan.“Tuan, apa Anda ingin saya mengusirnya?”

Pria itu memandang Yun Sia lama sekali. Gadis itu mengelap pipinya sendiri, lalu berdiri sambil merentangkan tangan.

“Berdiri dong. Kamu jatuh gara-gara dikejar apa?” tanya Yun sia

Pria itu terdiam.

Tatapan tajamnya melembut sejenak.

Ia mengulurkan tangan sedikit ragu dan Yun Sia langsung menariknya kuat-kuat.

“Bangun!”

CEPLAAK!

Pria itu hampir tersungkur karena ditarik terlalu keras.

Pengawal terbelalak “AAA! Tuan!”

Pria tampan itu menatap Yun Sia dengan campuran bingung dan… terpana. “Siapa kau?”

“Nama aku Yun Sia! Kamu siapa?” jawab Yun sia santai

Pengawal dan pria itu saling pandang.

Pria itu hampir menjawab, namun menahan diri.

“…Aku hanya seorang yang pengembara”

Yun Sia menyipitkan mata. “Pengembara pakai baju mahal begitu? Bohong ya?”

Pengawal hampir pingsan. "Tuan… gadis ini… berani bilang Anda bohong…"

Pria tampan itu memalingkan wajah, menyembunyikan senyuman tipis yang muncul tanpa ia sadari. “Percaya atau tidak urusanmu.”

Yun Sia mengangguk. “Ya sudah. Mau makan ikan? Aku lagi berburu, meski tadi kalah sama ikan sialan.”

Pengawal: “…Makan… ikan?”

Pria tampan itu menatap Yun Sia dengan rasa ingin tahu yang mulai tumbuh. “Baik. Tunjukkan padaku.”

LIMA MENIT KEMUDIAN.

Yun Sia berdiri di pinggir sungai dengan tombak kayu. Ia melotot ke arah air.“SIAP-SIAP IKAAN!!”

Pengawal mendekat ke tuannya sambil berbisik. “Tuan… gadis ini agak… liar.”

Pria itu menjawab tanpa memandang. “Aku tahu.”

Namun ketika Yun Sia berhasil memukul ikan besar dan membuatnya terlempar ke udara, pria itu terbelalak.

PLAANG!

Ikan mendarat tepat di wajah pengawal.

“AAARGH!”

Yun Sia bersorak, “YES!!”

Pria tampan itu… menahan tawa.

Ia benar-benar… ingin tertawa.

Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.

Bersambung

Bab 2

Setelah itu Yun Sia kemudian membuat api kecil dengan gesekan kayu. Ketika pria itu berusaha membantu, ia langsung menepis tangannya.

“Jangan sentuh! Ini bahaya, tanganmu halus banget. Ntar lecet.” ujar Yun sia

“…Apa?” tanya pria itu, Pria itu menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar ia dianggap lembut oleh gadis ini.

Pengawal di sampingnya berkeringat dingin.“Gadis ini berani berkata tangan Kais... eh maksud saya… tangan Tuan… lembut…”

Untung dia tidak jadi keceplosan menyebut ‘Kaisar’.

Beberapa menit kemudian, Yun Sia berhasil memanggang ikan.

Aromanya harum, renyah, dan berasap harum.

Pria tampan itu memandangnya dengan mata penuh rasa penasaran.

Yun Sia menyerahkan ikan pada pria itu dengan percaya diri.

“Ini resep rahasia chef! Coba!”

Pria itu mengambilnya… lalu menggigit dan matanya melebar, “…Enak.”

Yun Sia berseri-seri. “Kan! Aku memang jago!”

Pengawalnya mencicipi sedikit, lalu terpana.

“Luar biasa! Tuan, gadis ini… kalau diminta masuk istana sebagai juru masak pasti—”

SRRAK!

Pria tampan itu melempar pandangan tajam. Pengawal langsung menutup mulut.

Namun dalam hatinya, pria itu berkata, "Dia menarik.Gadis ini menarik… berbahaya menarik."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin tahu lebih banyak tentang seseorang.

Dan seseorang itu adalah gadis barbar yang tidak tahu sopan santun, tidak kenal takut, dan tidak tahu bahwa pria di depannya…

…adalah Kaisar Muda dari Kekaisaran Wang.

Kaisar yang dikenal dingin, kejam, dan tidak suka disentuh.

Tapi hari ini…Ia disentuh, Ia ditarik, Ia dimarahi, Ia dipaksa makan ikan dan entah kenapa…Ia menikmati semuanya. Ketika malam tiba dan Yun Sia hendak pergi, pria itu memanggilnya.

“Yun Sia.” panggil pria itu

Yun Sia menoleh sambil memegang ikan panggang kedua untuk dirinya sendiri. “Hm?”

“Aku akan… menemanimu.” ujar pria itu

Yun Sia mengerutkan kening.“Kenapa? Kamu nyasar?”

Pria itu menatap matanya dalam-dalam.“Aku hanya ingin mengikuti.”

Yun Sia mengedikkan bahu. “Ya sudah. Tapi jangan repotkan aku.”

“…Baik.” jawab pria itu

Pengawal hampir menangis." TUAN… ANDA MAU MENGIKUTI GADIS BARBAR?!"

Namun keputusan itu final.

Kaisar muda yang dingin itu… memilih mengikuti gadis barbar yang baru ia kenal beberapa jam.

Dan itulah awal dari kisah kacau, indah, dan penuh tawa.

Awal dari perjalanan seorang putri hilang dan kaisar kejam yang jatuh cinta pada ceplas-ceplosnya gadis yang tak tahu siapa ia sebenarnya.

...****************...

Fajar baru saja menyelinap dari balik pepohonan ketika Yun Sia bangun dengan gaya paling tidak anggun di dunia.

“HUAAAM… Aku lapar.”

Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan “selamat pagi”, bukan “syukur aku hidup”, melainkan perut yang protes.

Ia duduk sambil mengucek mata seperti anak ayam kurang tidur, lalu menelengkan kepala ke kanan.

Dan di sanalah… pria tampan misterius itu duduk dalam diam, menatap nyala api kecil yang tersisa dari semalam.

Ia terlihat sangat elegan hanya dengan duduk. Punggung tegak.

Rambut hitam terikat rapi.

Jubah hitam polos tapi jelas bahan mahal. Sementara Yun Sia? Rambut megar seperti singa bangun tidur.

Benar-benar kontras seperti langit dan bumi.

“Eh… kamu belum tidur?” tanya Yun Sia

Pria itu menatap sekilas. Tatapannya dingin, seperti salju yang tidak pernah mencair. “Aku tidak perlu banyak tidur.”

Yun Sia mengangguk polos. “Oh, jadi kamu insomnia juga? Sama!”

Pengawal yang berdiri agak jauh sampai tersedak udara.

“T-tuan… disamakan dengan orang insomnia…”

Pria tampan itu tak menjawab. Namun matanya memandangi rambut acak-acakan Yun Sia yang seperti boneka kapas ditiup angin. Ia memalingkan wajah dengan cepat.

“…Rambutmu berantakan.” ujar pria itu

Yun Sia mendengus. “Ya maaf, aku bukan kelinci porselen yang bangun tidur langsung cantik.”

Pria itu; “….”

Pengawal; “…dia bilang apa barusan?”

Setelah meregangkan tubuh, Yun Sia mengambil kayu panjang.“Ayo cari sarapan.” ujarnya pada dirinya sendiri

Pria itu berdiri.“Aku ikut.”

Yun Sia berhenti.“Eh, kamu ini kenapa sih? Malam ikut, pagi ikut. Kamu yakin bukan penguntit?”

Pengawal hampir tersungkur. " Kaisar… disebut penguntit…"

Namun pria tampan itu tetap menjawab dengan serius. “Aku tidak menguntit. Aku hanya… ingin memastikan kau tidak melakukan hal bodoh.”

Yun Sia tertegun lalu tertawa keras.“HAHAHAHA! Kamu lucu! Aku ini ahli bertahan hidup, tahu.”

Pria tampan itu tidak pernah dipanggil “lucu” selama hidupnya. Namun… ia tidak menolak.

Mereka berjalan menyusuri hutan. Yun Sia berjalan santai, seperti jalan-jalan di mall, sementara pria tampan itu mengamati sekitar dengan waspada.

“Nama kamu siapa sih?” tanya Yun Sia sambil melompat-lompat menghindari akar pohon.

Pria itu menjawab singkat.“A-Yang"

“Oh, A-yang? Singkat banget. Nama keluarga kamu siapa?”

“…Tidak perlu.”

“Oke deh ayang misterius.”

Pengawal di belakang hampir menangis darah."Kalau gadis ini tahu bahwa ‘A-yang’ adalah nama samaran Kaisar Wang Li Feng… dia pasti… ah sudahlah."

Yun Sia lalu menemukan sebuah pohon buah. “Waaa buah liar! Eh tapi aman nggak ya…”

Ia menatap buah itu, lalu menatap A-Yang “Tadi malam kamu makan ikan aku, sekarang giliran kamu jadi tester.”

Pengawal tersedak.“Tuan diuji makanan?! Itu… itu… itu tidak sop—”

“Pegang ini dulu.”Yun Sia menyerahkan buah itu ke tangan Kaisar.

Ling memandang buah itu, lalu Yun Sia. “Kau ingin aku mencobanya dahulu?”

“Hehe… iya. Kalau kamu pingsan, berarti beracun.”

Ling: “…”

Pengawal menjerit tanpa suara seperti ikan mati.

Namun Ling justru mengangkat buah itu dan menggigit kecil. “…Tidak apa-apa.”

Yun Sia bersorak bahagia.“Bagus! Berarti aman!”

Ia langsung memakan dua buah sekaligus.

Sementara A-yang menatapnya dengan ekspresi asing.

Bukan kesal.

Bukan marah.

Lebih seperti… terpesona tapi bingung.

Bagaimana gadis ini bisa hidup tanpa rasa takut sedikit pun?

Setelah itu, Yun Sia membawa mereka ke sungai lain.

“Aku mau mandi. Bau nih.”

A-yang refleks memalingkan wajah. “Aku akan berjaga di sini.”

“Pengawalmu juga ikut mandi nggak?” Yun Sia menggoda.

Pengawal langsung melompat setengah meter. “T-TIDAK!”

Pris tampan itu menatap Yun Sia datar.

“Kau mandi sana. Jangan lama.”

“Iyaaa aku tahu. Aku nggak bakal kabur kok.”

A-yang sebenarnya ingin berkata “bukan itu yang aku khawatirkan”, tapi ia diam.

Ia memalingkan wajah ketika mendengar suara air terciprat.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ia sengaja menatap tanah, bukan ke arah suara, demi menjaga tata krama yang selama ini tidak pernah ia pedulikan.

Namun ia tetap mendengar gadis itu bernyanyi sambil mandi.

Lagu aneh, Iramanya aneh

Liriknya tak jelas jungkir balik.

Tapi…

Suara itu merdu.

Sangat merdu.

Pengawal menatap tuannya yang menegang sambil memalingkan wajah."Tuan… Anda… tersenyum?!"

Yun Sia keluar dari sungai sambil mengibaskan rambut panjangnya. Ia tampak segar, pipinya merona karena dingin.

A-yang terdiam seketika. “…Apa kamu harus menggoyang rambut begitu?” komentar Ling dingin.

“Aku mau ngeringin rambut. Kenapa? Kamu iri?”

A-yang: “…”

Pengawal: " Astaga… dia memprovokasi Kaisar…"

“Sudahlah,” Yun Sia menepuk bahunya. “Ayo jalan lagi. Aku mau nyari tempat tinggal. Nggak mungkin tiap hari tidur di tanah begini.”

“Kau tinggal di mana sekarang?” tanya A-yang

Yun Sia mengangkat bahu.“Entahlah. Ingatanku samar. Aku cuma tahu aku jatuh, pingsan, terus bangun dan… ya ini aku.”

Pengawal dan A-yang saling pandang. "Berarti gadis ini benar-benar tidak tahu siapa dirinya?"

Ling menatap Yun Sia lama.

“…Pantas.”

“Pantas apa?” tanya Yun Sia.

Ling memutar wajah.

“Tidak apa-apa.”

Dalam hati, ia berkata: "Pantas kau tidak tahu bersikap seperti bangsawan. Tapi… itu justru menarik."

Bersambung

.

Bab 3

Ketika mereka berjalan lebih jauh, tiba-tiba suara raungan terdengar.

GRAAAUUU!

Yun Sia membeku.

A-yang memasang posisi bertarung.

Seekor serigala besar keluar dari balik pohon. Bulu abu, mata merah, gigi tajam. Ukurannya dua kali manusia.

“Eh… itu anjing ya?” tanya Yun Sia dengan polosnya

“SERIGALA!” Pengawal Liyan panik

“Besar amat…” gumam Yun Sia.

Serigala itu menggeram. A-yang maju, tapi Yun Sia menahan lengan bajunya.

“Biar aku dulu.” ujar Yun Sia

A-yang menoleh cepat, “Jangan bodoh.”

“Tenang. Aku jago negosiasi.” ujar Yun Sia

Pengawal Liyan hampir pingsan."Negosiasi dengan serigala?! dia pikir itu pedagang pasar?!"

Yun Sia melangkah maju.

Serigala bersiap menerjang.

A-yang menahan napas.

Namun…

“Sini! sini! sini!” Yun Sia menggoyang ikan panggang kering yang tersisa dari kemarin.

Serigala langsung berhenti.

“…”

A-yang: “…”

Pengawal Liyan: “…”

Serigala itu menatap ikan.

Menatap Yun Sia.

Menatap ikan lagi.

Lalu… duduk.

“Bagus!” Yun Sia melempar ikan sedikit jauh.

Serigala itu mengejar.

Kemudian menghilang ke semak-semak.

Sunyi.

Yun Sia menepuk tangan.“Beres.”

A-yang memandang Yun Sia dengan ekspresi seperti baru melihat alien.“…Kau… menjinakkan serigala?”

“Hehe, aku cuma kasih makan.” jawab Yun Sia dengan tawa konyolnya

A-yang tak bisa menyangkal jika itu… luar biasa. Bahkan para prajurit terlatih pun sulit berhadapan dengan binatang buas itu.

Namun gadis ini…Ia hanya menghibur serigala seperti memanggil kucing tetangga.

----

Setelah kejadian itu, mereka menemukan sebuah gubuk tua di pinggir hutan. Mungil, usang, tapi masih bisa ditinggali jika dibersihkan.

Yun Sia bersorak.“Ini rumahku sekarang!!”

A-yang mengangkat alis.“Rumah?”

“Iya! Asal ada atap dan lantai nggak bolong, udah bagus!” jawab Yun Sia

A-yang menatapnya lama.“…Standarmu sangat rendah.”

“Yang penting hemat!”ujar Yun Sia, lalu Gadis itu langsung sibuk membersihkan gubuk.

Mengangkat kursi.

Mengelap meja.

Menyapu debu.

Semua dilakukan dengan energi berlebihan.

A-yang memperhatikan, gerakan gadis itu cepat tidak anggun sama sekali. Tapi entah kenapa… A-yang tidak berhenti menatapnya.

Ada sesuatu yang… menyegarkan.

Tidak pura-pura.

Tidak penuh aturan.

Tidak takut padanya.

Pengawal Liyan hanya bisa memegangi kepalanya.“Tuan… Anda tidak seharusnya membantu gadis biasa—”

A-yang mengambil sapu dari pojok.“Aku akan membantu.”

Pengawal Liyan hampir roboh. "Tidak… ini bukan tuanku yang biasanya…"

----

Setelah satu jam, gubuk itu sudah tampak seperti rumah kecil hangat.

Yun Sia duduk di lantai sambil menepuk d**danya bangga. “Bagus! A-yang, ayo lihat! Bersih kan?”

A-yang menatap sekeliling. Jujur saja… ia terkesan.“…Lumayan.”

“Lumayan? Ini kan sudah bagus banget! Kamu tuh susah pu—” ujar Yun Sia terputus karena suara perutnya yang lapar

GROOORR

Perut Yun Sia kembali berbunyi keras.

A-yang memandangnya dengan mata sempit. “Kau lapar lagi?”

“Eh, aku kan tumbuh besar. Harus makan banyak.” ujar Yun Sia

Pengawal berbisik ke A-yang. “Tuan, gadis ini… lucu.”

Ling menyipitkan mata.“Kau bilang apa?”

“T-t-t-t-t-tidak ada!”

Namun sebelum mereka pergi mencari makanan, Yun Sia mendadak pusing. Ia memegangi kepala.“Aduh… apa ini…”

Ingatan asing muncul lagi, wajah seorang wanita cantik yang menangis.

Suara lembut memanggil, “Sia’er…”

Istana besar.

Lilin-lilin emas.

Dan seorang pria berwajah garang yang duduk di singgasana.

Semua menghilang cepat. Yun Sia berkedip. “ingatan ini mengganggu ku, sakit sekali"

A-yang menatap perubahan ekspresi Yun Sia.“Kau mengingat sesuatu?”

“Sedikit. Tapi aku nggak peduli sekarang. Yang penting… aku harus survive.” jawab Yun Sia lalu Ia tersenyum lagi.

A-yang terdiam. Senyuman itu terlalu jujur. Terlalu murni.

Dan untuk pertama kalinya, Ling mengakui pada dirinya, "Aku… ingin melindungi gadis ini."

Bukan karena wajah Yun Sia yang cantik. Tapi karena…

Gadis ini membuatnya merasakan hal yang tidak pernah ia rasakan

----

Ketika mereka keluar dari gubuk, Yun Sia berseru. “Oke! Rencana hari ini:, cari makanan, cari kayu bakar, lalu cari tempat buat latihan.”

“Latihan?” A-yang mengangkat alis.

“Ya! Tubuh ini lemah banget. Aku harus olahraga!” jawab Yun Sia cepat

A-yang memandang tubuh mungil Yun Sia dari atas sampai bawah. “…Kau tidak terlihat seperti orang yang bisa bertarung.”

Yun Sia menunjuk dirinya sendiri. “Aku punya jiwa petarung!”

“Jiwamu tidak akan membantu ketika tubuhmu ambruk,” jawab A-yang datar.

“Eh, jadi kamu meremehkan aku?” tanya Yun Sia kesal

“Tidak. Aku hanya jujur.” jawab A-yang

“Hah?!”

Pengawal buru-buru mundur menjauh, karena ia tahu… ledakan akan terjadi.

Yun Sia mengajak mereka ke sebuah lapangan kecil. “Aku mau belajar bela diri dasar. Kamu kan pria, pasti bisa sedikit-sedikit, kan?”

A-yang: “…”

A-yang tidak tahu apakah harus jujur bahwa dia telah dilatih oleh ahli terbaik negara sejak bayi.

Namun ia berkata pendek, “Aku… bisa.”

“Bagus! Ajari aku!” ujar Yun Sia

A-yang menatap kedua mata Yun Sia, “Kau pasti tidak akan kuat.”

“Ajarin dulu!!!” ujar Yun Sia cepat

A-yang mendesah tipis.

Ia kemudian berdiri di belakang Yun Sia, memegang lengannya, memperbaiki posisi.

Begitu jarinya menyentuh kulit Yun Sia…

Ia terdiam.

Ia tidak suka disentuh.

Tidak pernah.

Namun menyentuh gadis ini…

Tidak ada rasa jijik.

Tidak ada rasa terancam.

Hanya…

Perasaan aneh di dadanya.

Yun Sia menoleh. "Ayang? Kamu kenapa bengong?”

A-yang tersentak. “Tidak apa-apa, tapi jangan panggil aku begitu”

"Loh kenapa kan namamu Ayang?" tanya Yun Sia heran

"Tidak, itu berbeda" jawab A-yang

"Ais ribet banget kamu ini sama saja itu Ayang, ayo kita mulai Ayang" ujar Yun Sia tanpa melihat wajah A-yang yang sedikit merona sedangkan Pengawal Liyan di samping memegangi kepala.

"Tuan… Anda memegang tangan gadis itu… dan tidak marah… Wajah anda memerah. Ya ampun"

Setelah mengajarinya gerakan dasar, Yun Sia mencoba menendang.

BRAKK!

Ia jatuh sendiri.

A-yang menatap langit.“…Aku sudah bilang.”

“Diam! Ini baru pemanasan!”Ia mencoba lagi.

Jatuh lagi.

A-yang menghela napas panjang yang sangat sabar.“Aku belum pernah melihat seseorang… selemah ini.”

Yun Sia menatapnya tajam, “…Baiklah Ayang, ini perang. Suatu hari aku akan jadi kuat dan kamu harus minta maaf!”

A-yang memandangnya. “Baik.”Ia tersenyum kecil.

Senyuman yang sangat jarang muncul.Yun Sia menegang. “…Eh. Kamu… senyum?”

A-yang membeku.“Aku tidak—”

“Kamu senyum!! Aku lihat!!” seru Yun Sia

“Diam.” ujar A-yang

“LOL kamu pasti malu—” ujar Yun Sia sembari mengerling

A-yang menepuk kepala Yun Sia.“Hush.”

Dan Yun Sia langsung mematung.“…Kamu… mukul kepalaku…”

“Tepuk. Bukan pukul.” jawab A-yang

“Tetap aja!” ujar Yun Sia

A-yang memalingkan wajah.

Namun kedua ujung bibirnya terangkat.

Hari itu… adalah hari pertama mereka hidup bersama

Gadis modern barbar dengan mulut ceplas-ceplos yang tidak tahu pasti identitas aslinya sebagai putri kerajaan…

Dan Kaisar muda yang dingin, kejam, namun perlahan meleleh karena gadis itu.

Keduanya belum tahu… Bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!