Indonesia
NovelToon NovelToon

Talak Di Atas Pelaminan

Bab 1

Suara desahan dari layar besar itu terdengar seperti cambuk yang memecah udara. Di atas panggung, layar megah yang sebelumnya digunakan untuk menayangkan momen-momen bahagia Yumna dan Azriel kini berubah menjadi alat penghancur hidup seseorang, ketika tiba-tiba saja rekaman video berubah.

Para tamu undangan yang semula larut dalam suasana meriah sontak terbungkam. Suara sendok dan piring berhenti beradu. Suara musik langsung dihentikan. Semua mata tertarik pada layar dan mata mereka membelalak.

Adegan itu. Di atas ranjang. Tubuh seorang pria dan wanita saling bertaut. Napas tersengal dan suara desahan keluar dari mulut mereka. Gerakan tubuh yang terlalu jelas untuk dianggap sebagai salah paham.

Semua orang mengenali wanita dalam video itu. Wajahnya tanpa ragu sedikit pun sangat mirip Yumna.

Duduk di pelaminan, tangan Yumna yang masih menggenggam buket bunga keringat dingin hingga terasa licin. Bunga-bunga putih itu bergetar hebat di tangannya. Sementara di sampingnya, Azriel seakan kehilangan seluruh darah dalam tubuhnya.

“A-pa maksudnya i–tu?” tanya Azriel dengan suara pecah, serak, seolah tenggorokannya diseret dengan duri.

Detik itu juga, tulang-tulang di sekujur tubuhnya terasa seperti patah. Pengantin pria itu menatap layar dengan sorot mata hancur, lalu memalingkan wajahnya ke istrinya. Wanita yang baru lima belas menit ia ajak bersanding sebagai pasangan halal.

Yumna membeku. Bibirnya ternganga tanpa suara. Dadanya sesak. Dunianya runtuh dalam sekejap.

“Itu bukan aku ....” gumam Yumna nyaris lirih, namun ketakutannya menjalar kuat. “A-ku tidak pernah melakukan hal itu. Itu bukan aku!”

Namun, suara Yumna tenggelam oleh teriakan orang lain.

“Yumna! Apa-apaan kelakuan kamu itu?!” bentak Yugi, kakaknya, dengan wajah merah padam menahan malu dan marah. Tangannya mengepal, seolah adiknya menampar seluruh kehormatan keluarga di depan umum.

Panik menyergap seluruh ruangan ketika Bu Amina, ibunda Azriel, menjerit pendek sebelum tubuhnya jatuh limbung. Pak Arman sigap menangkap istrinya, memeluknya sembari berteriak kepada panitia, “Matikan videonya! MATIKAN!”

Namun, video itu terus berjalan beberapa detik lagi. Suara desahan pasangan dalam video memenuhi seluruh ruang, merayap seperti racun ke setiap telinga.

Beberapa tamu menutup mulut. Sebagian lain memalingkan wajah, namun tetap melirik dari sudut mata dengan penuh sensasi.

Setelah panitia berhasil mematikan layar, ruangan berubah menjadi ruangan pengadilan tanpa hakim dan tanpa rasa belas kasihan.

“Bukan. Itu bukan aku!”

Yumna menegaskan dengan mata melebar, tangan gemetar memegang dres putihnya. Make-up yang semula sempurna kini mulai luntur oleh air mata dan keringat panik. Sakit. Begitu menyakitkan hingga lututnya terasa tak mampu menahan tubuh.

Azriel memejamkan mata, mencoba menenangkan gemuruh amarah dan kecewa, namun suara-suara tamu undangan memecahnya.

“Mirip sekali itu. Masak bukan dia?”

“Ya ampun, kasihan Azriel.”

“Wanita jalang. Masih berani pura-pura polos pula.”

“Pernikahan belum sejam, sudah ketahuan kelakuannya.”

Zakia, sepupu Yumna, menatapnya tajam. “Bukan apanya, Yumna?! Lihat wajah wanita di video itu baik-baik! Mirip sekali denganmu. Cermin pun kalah mirip.”

Suara-suara itu menikam Yumna dari segala arah. Dia memandang sekeliling, berharap melihat satu saja wajah yang percaya bahwa dia tidak bersalah. Akan tetapi semua mata memandangnya seolah dia adalah noda paling kotor di acara itu.

Seorang tamu wanita berbisik cukup lantang untuk didengar semua meja terdekat, “Kalau aku jadi Azriel, langsung kuceraikan saja. Mau dapat apa dari wanita seperti itu?”

Sontak Yumna menoleh dengan ekspresi terlukis antara marah dan terhina. Azriel pun menatap tajam ke arah tamu itu, meski hatinya sendiri retak parah.

“Apa enggak takut dia punya penyakit kelamin?” ucap seorang lelaki, sepupu jauh keluarga Azriel, seolah ucapan itu hanyalah hal sepele yang pantas dilontarkan. “Kita gak tahu dia udah ditiduri berapa pria.”

Perkataan itu seperti kotoran panas yang dilemparkan ke wajah Yumna.

“Sungguh ini memalukan!” bentak Nenek Ami, tangan tuanya bergetar menahan amarah, matanya mengarah langsung pada Yumna seakan mawar putih itu berubah menjadi duri beracun.

Yumna memeluk tubuhnya sendiri. Dunia seakan mendorongnya ke tengah lingkaran hinaan. Napasnya tersengal-sengal, seolah udara yang masuk pun menolak keberadaannya. Dia menatap keluarganya.

Ibunya menunduk, seakan malu mengakui anak itu lahir darinya.

Ayahnya menatap dengan sorot dingin yang belum pernah Yumna lihat seumur hidupnya.

Yugi, kakaknya, berdiri dengan mata membara, bukan melindungi, tetapi menghakimi. Tidak ada lagi tatapan kasih sayang dari keluarganya.

“Kalian harus percaya! Wanita itu bukan aku,” teriak Yumna suaranya pecah, terisak, namun tegas. “Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Aku masih—”

“Kau pikir kami bodoh, Yumna?” potong Yugi, suaranya bergetar, tapi penuh luka. “Di video jelas-jelas kamu. Bagaimana kami bisa percaya?!”

Yumna terpaku.

“Ka ... Ka Yugi, aku—”

“Jangan panggil aku seperti itu!”

teriakan itu memukul dada Yumna lebih keras dari pukulan fisik manapun.

Tubuh Yumna limbung. Dia mencengkeram kain gaunnya agar tetap berdiri. Air mata jatuh bercucuran, menyusuri pipinya yang tadinya dirias indah untuk hari bahagia.

Yumna berharap keluarganya ada yang membela. Namun, yang ia dapatkan hanya tatapan jijik, kecewa, dan pengkhianatan, padahal ia tak berbuat apa-apa.

Azriel pun sama hancurnya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, mencoba memproses apa yang sedang terjadi.

“Yumna ....” Suara Azriel parau. “Kenapa? Kenapa begini?”

Yumna menggeleng keras, nyaris histeris.

“Aku tidak tahu! Demi Tuhan, Azriel, itu bukan aku! Aku tidak tahu siapa wanita itu, aku tidak—”

“Berhenti berbohong!”

Suara Nenek Ami meledak menghantam ruangan.

Langkahnya maju, menunjuk Yumna dengan jari gemetar.

“Sebaiknya kamu ceraikan dia sekarang juga, Azriel! Jangan sampai keluarga kita kotor karena punya menantu seperti ini!”

Hening. Seluruh ruangan tersedot masuk ke dalam satu titik, yaitu wajah Azriel dan Yumna.

Warna wajah Yumna hilang seluruhnya. Kata “cerai” menusuk jantungnya seperti pisau panjang.

“Tidak ....” bisik Yumna. “Tidak, jangan lakukan itu!”

Namun Azriel terpaku. Matanya goyah, sakit, marah, bingung.

Yumna tahu bagaimanapun dia mencintai Azriel. Dia adalah laki-laki yang menjunjung harga diri keluarga di atas segalanya. Dan sekarang, seluruh keluarga itu menuntut kepadanya.

***

Assalammualaikum, aku hadir kembali dengan karya baru. Semoga kalian suka dan bisa mengambil nilai baik dari cerita ini dan jangan ikuti hal buruk dalam cerita ini.

Bab 2

Yumna memegang tangan Azriel dengan putus asa, jemarinya bergetar hebat. Dia berharap mendapatkan kekuatan dari pujaan hatinya itu.

“Azriel, tolong jangan diam saja. Lihat aku. Lihat mataku.” Suara Yumna bergetar seolah setiap katanya adalah permintaan terakhir sebelum ia dibuang.

Azriel menoleh perlahan. Mata mereka bertemu. Yumna melihat sesuatu yang membuat jantungnya hancur seketika. Sinar mata pria itu menunjukan keraguan, ketidakpercayaan, dan luka.

“Azriel ....” Yumna menggenggam tangan pria itu lebih erat. Seolah jika ia melepaskannya, seluruh hidupnya akan hilang.

“Aku tidak melakukan itu. Aku bersumpah demi Allah! Aku tidak pernah menyentuh pria lain. Tolong percaya padaku!”

Azriel menutup mata rapat, menahan napas seolah dadanya tidak sanggup menerima beban sebesar itu. Dia sangat mencintai Yumna, tetapi malah mendapatkan berita buruk di hari yang sudah dinanti-nantikan sejak setahun yang lalu.

“Kenapa wajahnya sama?” gumam Azriel, hampir tidak terdengar. “Kenapa wajah wanita di video sama persis denganmu, Yumna?”

Tangisan Yumna semakin mengguncang tubuhnya. “Aku tidak tahu, tapi itu bukan aku! Aku bahkan belum pernah—”

“Cukup!” potong Yugi dengan suara keras, membuat beberapa tamu tersentak.

“Tolong jangan ikut campur!” balas Yumna dengan suara pecah, untuk pertama kalinya ia berani membantah kakaknya. “Ini pernikahanku! Hidupku!”

“Itu justru masalahnya!” lanjut Zakia dan membuat pasangan pengantin itu menoleh kepadanya.

Zakia menatap Azriel. “Azriel, pikir baik-baik. Kalau video itu benar, kamu bukan cuma malu hari ini saja, tapi kamu akan menanggung aib seumur hidupmu.”

Seolah itu belum cukup, salah seorang kerabat Azriel menimpali dengan angkuh,

“Dan kamu jangan lupa keluarga kita itu terpandang. Nama baik kami dipertaruhkan.”

Yumna ingin berteriak, ingin memaki dunia, ingin mengatakan bahwa semua itu tidak adil. Akan tetapi, suaranya terperangkap di tenggorokannya oleh rasa sakit yang terlalu besar.

Azriel memegangi kepalanya. Pikiran dia kacau. Wanita yang ia cintai, yang ia perjuangkan, dan wanita yang ia yakini akan menjadi ibu dari anak-anaknya, tiba-tiba saja muncul dalam video tak senonoh pada hari pernikahan mereka.

Tiba-tiba tangan tua Nenek Ami mencengkeram bahu Azriel.

“Ceraikan sekarang,” kata wanita tua itu lirih namun tegas, dingin seperti vonis. “Semakin lama kamu diam, semakin kau dipermalukan.”

“Tolong, Azriel, percayalah kepadaku,” bisik Yumna dengan suara patah. “Jangan ....”

Yumna menunduk, bahunya gemetar, air mata menetes tanpa henti, jatuh di atas gaun pengantin putihnya yang mulai ternoda maskara dan rasa sakit.

Tamu undangan berbisik-bisik, seperti kawanan burung gagak yang mengitari bangkai.

“Kasihan sekali Azriel.”

“Memang sudah kelihatan dari tingkahnya.”

“Sombong sih, makanya dapat balasan.”

Kata-kata itu seperti belati yang menancap lagi dan lagi.

Yumna mengangkat wajahnya, memaksa dirinya untuk tetap berdiri. Meski perasaannya hancur, ia melawan.

“Azriel, kamu yang paling mengenal aku. Kamu tahu aku tidak seperti itu. Kamu tahu aku menjaga diri, kamu tahu aku—”

“Tapi video itu ....” sahut Azriel, matanya berkaca-kaca. “Aku ingin percaya, tapi video itu ....”

“Video bisa direkayasa!” Suara Yumna melengking, terlepas dari kontrolnya. “Aku tidak tahu siapa yang melakukan ini, tapi aku rasa ada orang yang ingin menghancurkan aku dan hubungan kita!”

Azriel terdiam. Sejenak, hanya ada napas berat yang tertahan.

Namun, harapan Yumna hancur sesaat kemudian. Karena Nenek Ami berbisik lagi di telinga Azriel, kalimat yang membuat keputusan itu semakin condong.

“Kalau kau tetap bersama wanita itu, kau menodai nama kakekmu, ayahmu, dan keluargamu. Ingat itu,” ucap Nenek Ami.

Perlahan Azriel menarik tangannya dari genggaman Yumna. Seolah baru saja memegang bara api.

“Azriel?” ucap Yumna lirih, putus asa. “Azriel, jangan lakukan ini. Tolong!”

Azriel menatap istrinya. Tatapan itu penuh luka, tetapi juga ketakutan. Dia mencintai Yumna, itu jelas. Namun, rasa malu yang menimpanya begitu besar hingga melampaui cintanya yang rapuh.

“Maaf, Yumna ....” Suara Azriel nyaris tenggelam oleh gumaman tamu undangan. “Aku … aku tidak bisa menerima ini.”

Waktu seakan berhenti. Jantung Yumna berhenti berdetak.

Azriel mengambil napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang membelah seluruh ruang dan menghancurkan jiwa seorang perempuan dalam satu detik.

“Yumna Khairannisa Pratama, aku menceraikanmu.”

Suara tamu undangan pecah menjadi kehebohan. Beberapa menutup mulut, yang lain tersenyum puas.

Bu Amina yang tadinya pingsan kini menangis tersedu. Pak Arman tersentak mendengar ucapan putra sulungnya.

Yugi mengalihkan pandangannya, tak sanggup melihat adiknya remuk begitu parah. Bu Yuniar dan Pak Yongki, jatuh terduduk dengan wajah kaku.

Yumna berdiri tanpa suara. Kakinya terasa mati rasa. Dunia di sekelilingnya menghilang. Yang tersisa hanya suara Azriel yang terus terngiang, berulang kali memukul telinganya:

Aku menceraikanmu.

Aku menceraikanmu.

Aku menceraikanmu.

“Tidak ....” bisik Yumna. “Azriel, jangan … jangan lakukan ini!”

Yumna mencoba meraih tangan Azriel lagi, namun pria itu mundur selangkah seolah Yumna membawa kotoran yang tak bisa dibersihkan.

“Maaf…” ulang Azriel, suaranya lirih. Lalu, dia memalingkan wajahnya.

Yumna jatuh berlutut. Gaun pengantinnya menumpuk kacau di lantai panggung. Tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan.

“Kenapa … kenapa kalian tidak percaya padaku?” Suara itu keluar dari bagian terdalam diri Yumna dari hati yang dipatahkan dengan cara paling kejam.

Orang-orang menatapnya seperti tontonan murahan. Seakan Yumna memang layak mendapatkan itu semua.

Pak Arman menepuk bahu Azriel. “Bersabarlah, Nak. Semoga saja ini adalah keputusan yang tepat.”

Para anggota keluarga Azriel mulai melangkah turun dari panggung, meninggalkan Yumna sendirian. Sendiri di tempat yang seharusnya menjadi panggung bahagianya.

Yumna mengangkat kepalanya. Wajah yang penuh air mata, penuh luka, penuh rasa tidak berdaya. Ia melihat keluarganya, ayah, ibu, kakaknya. Tak ada yang menghampiri. Tak ada yang memeluk. Tak ada yang berkata, “Kami percaya kamu.” Yang ada hanyalah tatapan dingin, kecewa, dan jijik.

“Bangun,” ujar Pak Yongki, ayah Yumna lirih tapi tajam. “Jangan mempermalukan kami lebih jauh.”

Yumna terisak. “Ayah, tolong percayalah, itu bukan aku.”

“Sudah terlambat,” jawab sang ayah, membuang wajah. “Semua sudah terlanjur.”

Lalu, tanpa menunggu apa pun, keluarga Yumna pun ikut pergi dari panggung. Mereka semua meninggalkan Yumna sendiri. Dalam gaun pengantin. Ditelan kerumunan yang berbisik kejam.

Yumna menatap kosong ke arah gerombolan tamu yang kini berdiri menjauh darinya seakan dia penyakit mematikan. Mereka berbondong-bondong meninggalkan aula gedung. Tangannya gemetar ketika mencoba berdiri. Jantungnya sakit dan napasnya menyesak.

Seluruh dunia Yumna runtuh. Seseorang di luar sana telah menghancurkan hidupnya hanya dengan sebuah video.

Di saat Yumna mencoba bangkit, pandangannya kabur, tubuhnya goyah. Tiba-tiba dia merasa semuanya menjadi gelap. Pengantin wanita pingsan di tengah panggung, di hadapan semua orang yang tidak percaya kepadanya.

Bab 3

Cahaya matahari merambat pelan melalui celah tirai kamar, mengenai wajah Yumna yang masih pucat. Gadis itu membuka mata perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah semalaman ia menangis, padahal yang terjadi barulah beberapa jam sebelumnya.

Yumna mendapati dirinya kembali di kamarnya sendiri. Gaun pengantin putih yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan kini mengerut di tubuhnya, kusut. Bunga kecil yang dijahit di pinggir gaun tampak layu, sama seperti harapannya.

“Apa yang terjadi?” batin Yumna, menatap langit-langit kamar yang dikenali sejak kecil namun terasa begitu asing. “Kenapa aku ada di sini?”

Yumna mengangkat tubuhnya pelan. Kepalanya berputar sesaat. Lalu, ingatan kejadian di acara pernikahan menamparnya keras.

Suara bisik-bisak tamu undangan. Video itu panas, caci maki orang-orang, tatapan menghina dan merendahkan dirinya. Ekspresi kekecewaan dan kemarahan Azriel.

Kalimat paling menyakitkan yang pernah ia dengar dalam hidupnya. “Aku menceraikanmu.”

Pernikahan yang Yumna impikan selama bertahun-tahun hancur tidak sampai satu jam.

Yumna tertawa kecil. Sebuah tawa getir tanpa kebahagiaan, tanpa hidup.

“Lucu sekali,” gumam gadis itu hambar. “Seperti drama murahan saja dan aku pemeran utamanya. Pemeran antagonisnya, tepatnya.”

Yumna menyentuh dada kirinya, merasakan degup yang tak teratur. Rasa sakitnya tidak terlihat, tapi menghantam keras dari dalam, menyiksa setiap inci perasaannya.

Lima tahun ia bersama Azriel. Lima tahun mengenal perangainya. Lima tahun yakin laki-laki itu akan selalu memperjuangkannya. Ia tahu semua kesukaannya dan apa tidak disukai olehnya. Dia tahu cara Azriel tersenyum miring saat malu, tahu bagaimana suaranya berubah ketika kesal.

Namun, ternyata pria itu tidak mengenal dirinya.

Tidak cukup untuk percaya. Tidak cukup untuk mempertahankannya. Sungguh Yumna kecewa, merasa mencintainya seorang diri.

“Tanpa mencari tahu kebenarannya, kamu tega menghempaskan dan mencampakkan aku begitu saja, Azriel!” ucap Yumna pecah, emosinya bergetar. “Lima tahun itu apa? Apa aku hanya mainan saja?”

Yumna mengusap pipinya yang terasa lengket oleh sisa air mata dan make-up. Matanya perih. Tenggorokannya seperti tersumbat batu.

Kekecewaan Yumna bukan hanya kepada Azriel dan keluarganya, tetapi kepada keluarga sendiri juga begitu. Mereka semua langsung percaya apa yang terekam di dalam video itu adalah dirinya. Selama ini dia selalu menjaga kehormatannya, walau berpacaran dengan Azriel sejak zaman kuliah.

“Keluargaku sendiri ....” Yumna menghela napas panjang, getir merayap di dada. “Kenapa, kalian juga tidak percaya padaku?”

Yumna sudah menjaga kehormatannya bertahun-tahun, di era zaman anak muda berpacaran sudah berani tidur bareng pasangannya. Ia tahu batas dan bisa menahan diri. Ia tidak pernah melewati batas apa pun dengan Azriel. Bahkan godaan pun ia abaikan. Ia pikir itu membuatnya aman. Ia pikir itu membuat keluarganya percaya. Ternyata, keteguhan tidak ada nilainya dibanding satu video keji.

Yumna menggerakkan tubuhnya perlahan. Matanya sekilas melirik jam dinding. Pukul dua lewat sedikit.

“Sudah jam dua, aku belum salat.”

Yumna berdiri dengan langkah gontai.

Perlahan Yumna melepas hiasan pengantin dari rambutnya satu per satu. Jepit, pita, bunga kecil, semuanya jatuh ke lantai dengan bunyi halus, seperti cinta dan martabatnya yang berjatuhan. Ia membersihkan wajahnya di depan meja rias.

Ketika melihat ke cermin, Yumna terpaku. Wajah di cermin seperti bukan dirinya. Tidak ada lesung pipi. Tidak ada senyum yang biasa menghangatkan suasana. Tidak ada pipi merona yang selalu membuatnya tampak hidup. Yang ia lihat adalah gadis lain. Seseorang yang patah, kosong, dan kehilangan sesuatu.

Yumna membasuh wajahnya, berharap air bisa menghapus rasa sakit yang menggerogoti dadanya. Namun, tidak. Rasa itu tetap menancap.

Ketika Yumna membuka pintu kamar hendak menuju kamar mandi, sebuah bayangan berdiri di sana.

Zakia, sepupunya. Teman masa kecilnya. Orang yang hidup di rumah ini sama lamanya dengan dirinya. Ironis, karena keduanya tumbuh bersama namun Yumna selalu merasa ada jarak yang tidak bisa dijelaskan.

Walau sepupu, tetapi sejak kecil wanita itu tinggal dan dibesarkan di rumah ini. Alasannya karena mendiang ayah Zakia merupakan adik kandung ayahnya Yumna. Kewajiban Pak Yongki memenuhi segala kebutuhan, bahkan sampai mengurus Zakia sampai menikah nanti. Itu adalah titah dari neneknya Yumna, dahulu. Sementara ibu kandungnya Zakia menikah lagi dengan duda beranak tiga. 

“Aku turut berduka atas apa yang terjadi kepadamu hari ini.”

Suara Zakia terdengar datar. Ada simpati, tetapi juga ada tatapan samar, entah iba, entah sesuatu yang Yumna sulit baca.

“Ya.” Yumna mengangguk tipis, suaranya berat. “Mungkin ini sudah takdirku.”

Yumna menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada pahit yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. “Semoga saja takdir buruk selalu menyertai orang yang sudah berbuat jahat memfitnahku.”

Zakia mengernyit. “Kenapa kamu bicara seperti itu, Yumna? Jangan asal bicara, bisa saja ucapan itu berbalik kepadamu.”

Belum sempat Yumna membalas, suara berat tiba-tiba memotong percakapan mereka.

“Apa yang kamu ucapkan barusan?!”

Yumna menoleh.

Pak Yongki berdiri di ambang pintu ruang utama bersama Bu Yuniar. Wajah ayahnya merah karena marah. Ada lelah. Ada malu. Ada kemarahan yang menumpuk sejak pesta pernikahan berubah menjadi neraka pagi tadi.

Langkah Pak Yongki cepat menghampiri Yumna dan Zakia, diikuti oleh Bu Yuniar.

“Seharusnya kamu introspeksi diri dan bertaubat karena sudah melakukan zina!” teriak Pak Yongki.

Yumna membeku. Untuk sesaat ia tidak bisa bernapas.

“Sudah puluhan kali aku bilang, AYAH ....” balas Yumna suaranya meninggi tanpa bisa ditahan, “kalau wanita itu BUKAN AKU!”

Yumna merasa frustrasi karena keluarganya ikut menuduh dirinya. Tempat yang seharusnya memberi perlindungan dan kenyamanan, malah menambah beban mentalnya.

“Fitnah! Itu FITNAH!”

Namun, kemarahan Yumna tidak membuat ayahnya goyah. Sebaliknya—

PLAK!

Tamparan itu mendarat keras di pipi Yumna. Kepalanya terpelanting ke samping. Suara itu menggema di seluruh ruangan, memotong napas siapa pun yang mendengarnya.

Yumna mematung. Tangannya menyentuh pipinya yang panas membara.

“Ayah ....” ucap Yumna suaranya tercekat. “Ayah tega menampar aku?!”

Ini pertama kalinya Yumba ditampar dalam hidupnya. Pertama kalinya ayahnya menyentuhnya dengan kekerasan. Pertama kalinya ia merasa benar-benar tidak dianggap sebagai anak.

Zakia dan Bu Yuniar sampai shock. Mereka tidak mengira Pak Yongki akan melakukan hal itu.

Pak Yongki memang tipe ayah yang tegas dan keras kepala. Apalagi ketika mendidik Yugi dan Yumna. Jika melakukan kesalahan akan mendapatkan hukuman. Namun, hal itu tidak berlaku kepada Zakia. Alasannya karena memberi hukuman kepada Zakia, bukan haknya.

Pak Yongki menggenggam tangannya, seakan dirinya hampir kehilangan kendali.

“Itu karena kamu pantas mendapatkannya!”

Nada suara pria paruh baya itu meninggi, jelas ia dipenuhi amarah dan rasa malu yang meledak tak tertahankan.

“Ayah, sudah! Cukup!” Bu Yuniar memegang lengan suaminya. Ia berusaha menenangkan, tetapi tatapannya pada Yumna juga campuran kecewa dan pasrah.

Tangis Yumna pecah tanpa bisa dibendung.

“Aku tidak melakukan apa pun! Kenapa tidak ada yang percaya?! Kenapa semua orang menghakimiku tanpa pikir panjang?!”

“Kamu belum salat, kan?” Bu Yuniar berkata dengan suara lelah, mengabaikan pertanyaan putrinya. “Waktunya sudah mau habis, pergi salat, sana!”

Seolah itu saja solusi untuk rasa sakit yang menusuk dadanya. Seolah Yumna hanya perlu wudu agar tiba-tiba semua fitnah hilang.

Yumna mengusap air matanya, menahan suaranya agar tidak pecah lagi. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan melewati ayahnya, melewati Zakia, melewati ruangan-ruangan yang kini terasa lebih asing daripada rumah orang lain mana pun.

Langkah Yumna berat, tetapi hatinya lebih berat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yumna merasa bahwa rumah ini bukan lagi tempat untuk pulang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!