Indonesia
NovelToon NovelToon

Dinikahi Duda Mandul!!

BAB 1

Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.

Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar kontrakan bulanan dan menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.

Pagi itu, mereka sarapan mie instan. Uap panas mengepul dari mangkuk-mangkuk sederhana di meja makan kecil. Arka, yang baru duduk di bangku kelas 2 SD, tampak mencoba menyembunyikan rasa laparnya dengan tersenyum tipis. Tiara, yang masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan, duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya, sesekali mengaduk mie-nya yang sudah mulai menggumpal.

“Kak, makan yang banyak ya… nanti kamu sekolah,” ucap Kirana pelan, menahan suara getar di tenggorokannya.

Arka mengangguk pelan. “Iya, Bu… tapi Ibu makan juga,” katanya sambil mendorong sedikit mie di mangkuknya ke arah Kirana.

Kirana tersenyum kecil meski hatinya terasa perih. “Ibu udah makan tadi. Ayo habisin.”

Padahal kenyataannya, ia belum makan. Hanya minum segelas air hangat sebelum menyiapkan sarapan ala kadarnya ini. Ia lebih memilih memastikan kedua anaknya kenyang meski hanya dengan mie instan.

Di sisi kirinya, Tiara mendongak polos. “Bu… nanti Tiara boleh ikut Ibu ke toko nggak? Tiara pengen lihat ayam kecil itu lagi.” Maksudnya, anak ayam milik pemilik toko yang kadang dibiarkan berjalan di belakang gudang.

Kirana tersenyum dan mengusap kepala putrinya. "Tiara disini aja yaa, nanti kalo ikut ke toko banyak pelanggan yang datang.”

“iya deh, Bu!” ucap Tiara pelan

Arka menggigit bibir sebentar sebelum bicara lagi. “Bu… uang jajanku hari ini… nggak usah banyak ya. Seribu aja cukup.”

Kirana tertegun. Arka selalu begitu. Selalu tahu saat uang mereka menipis meski ia tidak pernah mengeluh di depan anak-anak. “Nanti Ibu yang atur,” katanya lembut. “Kamu fokus belajar saja.”

Arka hanya mengangguk, tetapi Kirana melihat jelas mata anak itu yang berusaha dewasa sebelum waktunya.

Hening sejenak menyelimuti ruang makan kecil itu, hanya terdengar suara sendok garpu dari dua anak yang makan perlahan. Di luar, matahari mulai naik, menyeruak masuk melalui celah jendela yang retaknya belum sempat Kirana perbaiki.

Saat Arka beranjak untuk bersiap-siap berangkat sekolah, ia memanggil ibunya pelan, “Bu… nanti kalau pulang sekolah… aku boleh bantu Ibu di toko? Biar Ibu nggak capek.”

Kirana menelan ludah, menahan haru yang menyesak. “Tugas Arka belajar, bukan kerja. Biar Ibu saja.”

“Tapi Ibu capek…”

Kirana meraih bahu putranya dan menatapnya lembut, “Capek Ibu hilang kalau lihat kalian sehat.”

Arka menunduk, namun bibirnya melengkung kecil. Ia lalu memeluk ibunya sebentar sebelum bergegas mengambil tas.

Kirana menghela napas panjang, mencoba menguatkan diri. Semua ini demi kedua malaikatnya.

" Nanti sepulang sekolah langsung pulang yaa, jangan keluyuran dulu. Jagain adeknya biar ngga main jauh-jauh" ucap Kirana pada arka

"Iya Bu nanti arka langsung pulang"

Kirana lalu menoleh ke putrinya " Tiara, nanti jangan main jauh-jauh yaa, sekitar rumah aja. Kalo bisa sih kamu dirumah aja yaa tunggu Abang sampe datang"

"Iya Bu"

" Ya udah ibu berangkat dulu yaa, kamu juga Arka langsung berangkat nanti telat ke sekolah"

Kirana langsung berangkat ke tempat kerjanya setelah berpamitan dengan kedua anaknya. Di usianya yang masih dua puluh delapan dia memilih untuk tidak menikah lagi.

Dulu dia dan almarhum suaminya menikah saat dia masih berumur dua puluh tahun. Dimatanya waktu itu tergambar keluarga yang bahagia dan saling melengkapi, karena sejak awal menikah Arya sangat begitu mencintainya dan menyayanginya, tapi takdir berkata lain suaminya itu tidak memiliki umur yang panjang. Ketika pulang dari tempat kerja saat hujan tiba-tiba tergelincir dan menabrak pembatas jalan.

Kirana menghembuskan nafas panjang. Jarak antara rumah dan tempat dia bekerja tidaklah jauh. Hanya perlu berjalan sekitar tiga puluh menitan.

Begitu ia melangkah masuk, aroma tepung, beras, dan bumbu dapur langsung menyergap hidungnya. Rak-rak yang berjejer rapi berisi kebutuhan harian menjadi pemandangan yang akrab baginya. Pemilik toko, Bu Rini, sudah berada di dalam sambil menyalakan lampu-lampu dan menyapu lantai.

“Oh, Kirana. Syukurlah kamu datang. Ibu pikir kamu telat hari ini,” sapa Bu Rini tanpa menoleh, suaranya lembut seperti biasa.

Kirana cepat-cepat melepas sandal jepitnya dan menggantinya dengan sepatu kerja yang ia simpan di rak kecil dekat pintu. “Maaf, Bu. Tadi anak-anak agak susah ditinggal. Tiara minta ikut.”

Bu Rini tertawa kecil. “Namanya anak kecil, wajar. Yang penting kamu sudah di sini sekarang.”

Kirana tersenyum sopan dan segera mengambil sapu lain untuk membantu merapikan bagian depan toko. Lantai yang semalam sempat sedikit becek karena hujan sudah kering, tapi masih menyisakan debu halus.

Setelah lantai bersih, ia mulai membuka kantong-kantong besar yang baru datang pagi itu—beras lima kilogram, gula pasir, bawang, dan beberapa barang lainnya. Tugasnya adalah menyusun ulang isi rak agar rapi dan mudah diambil pelanggan.

“Mbak Kirana, nanti tolong cek stok minyak goreng ya,” kata Bu Rini yang kini sibuk mengatur catatan penjualan di buku besar. “Kayaknya tinggal sedikit.”

“Iya, Bu. Nanti saya cek.”

Kirana bekerja dengan cekatan. Tangannya lincah memindahkan dus ke rak yang tepat, menata barang demi barang sesuai kategori. Sesekali ia mengangkat galon isi ulang yang diletakkan di depan, lalu memindahkannya ke pojok dekat kulkas minuman.

Setelah semua rapi, ia mengelap kaca etalase yang sedikit berembun. Keringat mulai muncul di pelipisnya, tapi ia tetap tersenyum kecil. Baginya, bekerja keras bukan beban. Asal anak-anaknya bisa makan, ia bisa menanggung apa pun.

Tak lama kemudian, pelanggan pertama datang—tetangga sekitar yang biasa berbelanja untuk kebutuhan sarapan.

“Pagi, Kirana,” sapa seorang ibu dengan ramah.

“Pagi, Bu. Mau beli apa?”

“Rokok satu, sama susu UHT buat anak,” jawab ibu itu.

Kirana mengambil barang yang diminta dan menaruhnya di meja kasir. “Totalnya tiga belas ribu, Bu.”

Ia menimbang uang receh yang disodorkan pelanggan sambil mengucapkan terima kasih.

Setelah beberapa pelanggan datang dan pergi, Bu Rini mendekatinya. Perempuan itu tersenyum lembut.

“Kirana, kamu pulang  seperti biasa ya. Nanti siang kamu istirahat agak lama, tak apa. Kamu kelihatan capek.”

Kirana menggeleng pelan. “Saya nggak apa-apa kok, Bu.”

“Tetap saja kamu istirahat,” tegas Bu Rini ringan. “Kamu pekerja paling rajin di sini. Kalau kamu tumbang, siapa yang bantu Ibu?”

Kirana tertawa kecil. “Iya deh, Bu. Terima kasih.”

Ia melanjutkan pekerjaannya sampai matahari naik lebih tinggi. Keringat bercampur dengan lelah, tapi hatinya hangat. Meski hidup mereka sulit, Kirana selalu menemukan kekuatan dari dua hal: doa, dan senyum anak-anaknya.

BAB 2

" Bu Kirana pulang dulu, ya Bu" pamit Kirana. Dia hanya bekerja sampai jam empat saja karena ada kariawan lain yang masuk di jam dua tadi.

"Ohh sudah mau pulang, ya udah hati-hati ya"

"Pulang duluan ya ki" ucap Kirana pada Kiki yang masuk jam dua itu

"Ohh iya mbak aman, titip salam buat anak mbak"

" Insyaallah nanti aku sampaikan ki"

Setelah pamit Kirana langsung pulang. Banyak orang yang menanyakan kenapa dia tidak menikah lagi padahal dirinya cantik, tapi Kirana hanya bisa membalasnya dengan senyuman

Kirana melangkah pulang dengan langkah letih namun ringan. Setelah seharian berdiri, mengangkat barang, dan melayani pelanggan, tubuhnya memang lelah, tapi hatinya lega karena pekerjaannya selesai untuk hari ini.

Ia baru berjalan sekitar dua ratus meter dari toko ketika seseorang tiba-tiba memanggilnya pelan.

"Mbak... mbak, bisa bantu saya nggak?"

Kirana berhenti dan menoleh. Seorang laki-laki matang berdiri di dekat motornya yang terparkir di pinggir jalan. Bajunya berkeringat, wajahnya cemas, dan helm masih menempel di kepala seolah ia baru saja berhenti mendadak.

"Ada apa, Mas?" tanya Kirana hati-hati.

Pria itu mengusap tengkuknya canggung. "Maaf ya, Mbak... saya mau minta tolong banget. Saya kehabisan bensin. Sementara saya buru-buru harus jemput inu saya... eh, dompet saya malah ketinggalan di rumah."

Seakan tahu keraguannya, pria itu buru-buru menambahkan, "Kalau Mbak keberatan nggak apa-apa. Tapi saya cuma butuh dua puluh ribu buat beli minyak. Nanti saya balikin, sumpah. Kalau perlu Mbak ikut ke pom, saya nggak kabur."

Kirana terdiam. Ia memegang ujung tasnya, berpikir cepat.

Uang di dompetnya... tinggal lima puluh ribu. Sisa dari gaji harian yang tadi ia ambil. Dan itu pun harus ia atur sampai beberapa hari ke depan, termasuk buat makan anak-anak.

Tapi...

Pria itu terlihat benar-benar panik. Entah kenapa wajahnya mengingatkan Kirana pada masa-masa saat Arya masih hidup ketika keduanya saling membantu orang asing tanpa berpikir panjang.

Ia menarik napas kecil. "Ya sudah, Mas. Ini dua puluh ribu, dipakai dulu."

Pria itu terperangah. "Serius, Mbak? Terima kasih banyak, ya Allah..." Ia menerima uang itu dengan kedua tangan. "Mbak tinggal di mana? Biar nanti saya balikin. Jangan khawatir, saya orangnya amanah."

Kirana menggeleng cepat. "Nggak usah dibalikin, Mas. Anggep aja buat nolong orang yang lagi kesusahan. Saya juga pulang buru-buru."

Pria itu tampak makin kikuk, seperti salah tingkah karena diberi tanpa syarat.

"Kalau gitu... boleh tahu nama Mbak siapa?" tanyanya sopan.

"Kirana," jawabnya singkat.

"Nama saya Yuda, Mbak. Sekali lagi makasih banyak. Semoga rezeki Mbak lancar."

Kirana hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya. Begitu jauh beberapa meter, barulah ia menghembuskan napas panjang yang berat.

Uangnya kini hanya tersisa tiga puluh ribu.

Tadi pagi anak-anak sarapan mie... besok apa ya? pikirnya getir.

Ia bukan menyesal telah menolong, tapi kekhawatiran mulai menghimpit dadanya. Setiap rupiah bagi mereka sangat berarti.

Namun Kirana mengangkat dagu, mencoba menguatkan diri seperti biasa.

Allah nggak pernah tidur. Rezeki nggak akan tertukar.

Ia menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat, lalu melanjutkan perjalanan pulang. Hari masih sore, tetapi langkahnya terasa semakin berat.

Di kejauhan, rumah kontrakan kecilnya mulai terlihat. Dan seperti biasa... dua sosok kecil sudah menunggunya di depan pintu.

"ibuuuu!" seru bocah kecil itu sambil berlari kecil menghampirinya.

Arka menyusul.

Kirana tersenyum. Lelahnya hari itu seperti hilang seketika melihat dua anaknya menunggu dengan antusias.

"Kalian udah nunggu lama?" tanya Kirana sambil berjongkok, mengelus rambut Tiara lalu memandang Arka.

"Enggak kok, Bu," jawab Arka. "Tadi Abang baru pulang jam dua lewat dikit."

Kirana menatapnya pelan. "Jam dua lewat...? Bukannya kamu biasanya pulang setengah dua?"

Arka menunduk sebentar. "Tadi Bu Guru ada pembagian tugas kelompok, jadi agak lama, Bu. Maaf ya..."

Kirana menggeleng lembut. "Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma nanya. Yang penting kamu pulang aman."

Ia berdiri dan membuka pintu rumah yang telah Arka kunci dari dalam. Begitu masuk, Kirana melihat meja kecil di ruang tengah kosong. Tidak ada piring atau gelas tersisa.

"Arka... Tiara... kalian udah makan siang belum?" tanya Kirana hati-hati.

Arka menatap Tiara sekilas sebelum menjawab, "Belum, Bu."

Kirana menatapnya lebih dalam, menyadari Arka berusaha terlihat biasa saja. "Kenapa belum makan? Kan tadi Ibu udah bilang uang jajannya Arka dipakai buat lauk di warung."

Hati Kirana mencelos sejenak-Ia lupa bahwa buku Arka memang tinggal beberapa lembar.

"Terus Tiara kenapa nggak makan?" tanya Kirana lembut.

Tiara yang sedari tadi memeluk kaki ibunya menjawab polos, "Tiara nunggu Ibu... mau makan bareng Ibu..."

Kirana merasa dadanya sesak. Bukan karena marah, tapi karena sedih melihat kedua anaknya menahan lapar untuk alasan sesederhana itu.

Arka buru-buru menambahkan, "Abang nggak apa-apa kok, Bu. Abang nggak lapar banget."

"Tapi perut kamu bunyi dari tadi," celetuk Tiara tanpa rasa bersalah.

Arka langsung menatap adiknya, memerah, sementara Kirana menutup mulut menahan senyum pedih.

"Ya sudah," ucap Kirana pelan. "Ibu masak dulu ya. Hari ini kita makan seadanya dulu. Yang penting perut kalian isi."

Arka mengangguk, sementara Tiara menyenderkan kepala di pinggang ibunya.

Kirana berjalan ke dapur kecil mereka, membuka lemari bahan makanan-yang isinya hanya mie instan tersisa satu bungkus, sedikit beras, dan telur tiga butir.

Ia menatapnya lama.

Tiga perut, satu dapur yang hampir kosong.

Lalu ia menghela napas... dan memilih tetap tersenyum.

Bagaimanapun caranya, malam ini mereka harus makan.

BAB 3

Yuda memacu motornya sedikit lebih cepat dari biasanya. Matahari sore mulai condong, menggoreskan warna jingga di antara atap rumah-rumah pinggiran kota. Di kepalanya hanya satu hal:

“Jangan sampai terlambat jemput ibu dipasar.”

Begitu tadi pesan ibunya.

Dug… dug… dug…

Brughh—mati total.

Yuda menatap langit seolah minta pengertian. “Seriusan? Habis bensin?”

Ia menunduk melihat indikator bensin—jarumnya sudah masuk area merah sejak pagi. Ia memang lupa mengisi.

“Ya Allah… bisa pas banget kayak gini,” keluhnya.

Ia melihat jam di ponselnya. Sudah hampir jam lima lewat. Ibunya pasti akan marah karena terlalu lama menunggu di pasar.

Ia merogoh kantong celana belakang. Hatinya langsung turun.

Dompetnya tidak ada handphone juga tidak ada untuk meminta bantuan seseorang.

“Ya Allah… jangan bilang ketinggalan,” gumamnya panik.

Ia buru-buru menepi, membuka tas kecil di depan motor  kosong. Dompetnya benar-benar tertinggal di ruang tamu, saat tadi ia buru-buru keluar.

DIa melihat sekeliling. Jalan itu tidak begitu ramai. Beberapa orang lewat, tapi wajah mereka tampak terburu-buru. Tukang bensin eceran memang ada tidak jauh dari tempat dia berhenti sekarang, tapi masalahnya dompet dan hp nya ketinggalan di rumah.

Yuda mengusap wajah frustasi.

“Ya Allah… siapa pun yang bisa bantu, tolonglah…”

Lima menit berlalu. Tak ada orang yang tampak ingin berhenti.

Hingga akhirnya, ia melihat seorang perempuan berjalan sendirian — wajahnya lelah, bajunya sederhana, tasnya kecil. Ia tampak seperti seseorang yang baru pulang dari kerja.

Yuda menelan ludah. Ia tidak suka meminta tolong uang pada perempuan, apalagi orang asing. Tapi ini darurat. Sangat darurat.

Ia mencoba memberanikan diri.

“Mbak… mbak, bisa bantu saya nggak?” tanyanya dengan ragu.

Perempuan itu berhenti dan menoleh. Matanya lembut, tapi penuh kehati-hatian.

“Ada apa, Mas?”

“Saya… kehabisan bensin.” Yuda menghela napas dalam. “Dompet saya ketinggalan di rumah. Saya harus jemput ibu saya. Saya cuma butuh dua puluh ribu buat beli minyak. Nanti saya balikin, sumpah.”

Perempuan itu menatap motornya, lalu menatapnya lagi. Yuda bisa melihat keraguan di wajahnya. Dan jujur saja, dia maklum — zaman sekarang banyak penipu.

“Tapi saya beneran butuh, Mbak,” tambah Yuda dengan suara lebih pelan. “Bukan buat apa-apa. Cuma buat bensin. Saya… nggak mau  ibu saya nunggu lama.”

Perempuan itu akhirnya membuka tasnya. Ia mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dan memberikannya.

“Ini, Mas. Dipakai dulu.”

“Serius, Mbak? Ya Allah, terima kasih banyak…” Ia menerima uang itu dengan kedua tangan. “Mbak tinggal dimana? Biar nanti saya balikin.”

"Ngga usah mas saya ikhlas"

Yuda nampak terdiam sejenak " kalo gitu nama mbak siapa"

“Kirana.”

Nama itu tertanam cepat di kepala Yuda.

“Saya Yuda, Mbak. Semoga rezekinya lancar. Saya… bener-bener berterima kasih.”

Kirana hanya tersenyum kecil dan berlalu.

Yuda memandangi punggung perempuan itu beberapa detik  seseorang yang tidak mengenalnya, tapi menolongnya tanpa syarat.

Begitu motor Yuda akhirnya menyala setelah diisi bensin eceran, ia langsung memacu kendaraan itu menuju pasar.

Motor berhenti tepat di depan pasar. Dari kejauhan ia melihat sosok ibunya, duduk di bangku kecil dekat kios sayur, plastik belanjaan bertumpuk di samping kaki. Wajahnya tidak main-main masamnya.

Yuda menelan ludah. “Bismillah… mati aku.”

Begitu ia mendekat, ibunya langsung berdiri. Dengan cepat.

“YUDHAAA!!”

Yuda otomatis merunduk. “I-iya Bu…”

“Sudah jam SETENGAH ENAM! Kamu pikir ibu ini patung apa nunggu dari tadi?! Kaki ibu sampe kesemutan, tahu?!”

“Maaf Bu… tadi motor habis bensin.”

“Habis bensin?!”

Ibunya menyilangkan tangan di dada.

“Terus kamu ngapain aja dari pagi sampai sore sampe lupa isi bensin?!”

Yuda menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. “Lupa, Bu… terus dompet juga ketinggalan…”

Ibunya langsung melotot lebih besar. “Astagfirullah… dompet ketinggalan? Bensin habis? Kamu itu umur berapa, Yudaaa? Masih kayak anak bujang umur tujuh belas tahun!”

Yuda mencoba tersenyum meminta ampun. “Iya Bu, maafin. Tadi untung ada orang baik—”

Ibunya langsung memotong dengan cepat, nada tinggi tapi khawatir terselubung.

“Kamu jangan-jangan pinjem uang sama orang asing? Ya Allah Yuda! Kamu itu lelaki, kaya lagi masa iya minjem uang buat bensin?!”

“Darurat Bu… kalau nggak gitu ibu nunggu lebih lama.”

Ibunya menghentak kaki. “Ya tetap aja! Nama juga laki-laki, masa minjem sama orang lewat?!”

Yuda menghela napas. “Nggak ada pilihan Bu.”

Ibunya akhirnya mendecak panjang sambil mengambil plastik belanjaannya.

“Ya udah, ayo pulang. Dingin-dingin gini ibu nunggu, bisa masuk angin. Kalau ibu jatuh sakit, kamu siapin duit buat obat nanti!”

Yuda mengangguk cepat. “Siap Bu, siap.”

Saat ibunya naik ke boncengan, perempuan itu masih terus mengomel sepanjang jalan, tapi nada suaranya perlahan berubah—lebih lembut, lebih seperti seorang ibu yang ketakutan kehilangan anak satu-satunya.

Sementara Yuda, yang sedang memacu motor di bawah sinar senja, hanya bisa memikirkan satu nama.

Kirana.

Wanita yang tanpa banyak bicara memberinya pertolongan ketika semua orang memilih lewat begitu saja.

Ia bertekad dalam hati:

Uang itu harus kembali. Bahkan kalau perlu dengan permintaan maaf yang layak.

Dan tanpa sadar, bibir Yuda terbentuk senyum kecil. Tapi dia langsung menepis pikiran nya itu.

Untuk pertama kalinya sejak bercerai dan divonis mandul, hari itu hidupnya terasa sedikit… berbeda.

Tapi yang membuat dia sangat sakit hati adalah belum sah mereka bercerai istrinya ralat mantan istrinya itu sudah selingkuh dengan pria yang lebih kaya dibandingkan dengannya. Kata mantan istrinya dia sudah tidak bisa memberikan keturunan, tidak bisa juga mencukupi kebutuhannya. Padahal Yuda adalah pemilik pabrik besar yang ada di daerah tersebut

Entah lah Yuda merasa hidupnya kehilangan separuh dirinya. Untuk menikah dia sudah tidak mau memikirkannya lagi. Dia sudah ikhlas dengan keadaannya ini. Siapa juga yang mau menikah dengan pria mandul sepertinya.

Ibunya juga tidak memaksa dia, seolah mengetahui kondisi putra semata wayangnya itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!