Tania memandangi hasil masakannya yang sudah tertata rapih di atas meja makan dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya yang anggun, celemek masak bahkan masih melekat di tubuhnya.
Tiba-tiba, sebuah ketukan keras dan beruntun memecah keheningan malam. Bukan ketukan sopan, melainkan hentakan panik yang terdengar seperti tinju menghantam kayu, seolah-olah nyawa seseorang bergantung pada pintu itu. Jeda diantara ketukan nyaris tidak ada, menyiratkan ketergesaan yang mendesak.
Tanpa berpikir panjang, Tania segera berlari ke pintu. Tangannya bergerak cepat membuka kunci dan menarik daun pintu itu lebar-lebar, napasnya tersengal karena kaget dan terburu-buru.
"Ya ampun Luna, kamu bikin aku kaget, aku pikir siapa." Tania menekan dadanya yang masih berdebar-debar.
"Kamu ngapain sih masih pake celemek kaya gini?" Luna mencengkram kuat kedua lengan Tania.
"Kamu kenapa sih Lun, datang tiba-tiba terus raut wajah kamu itu bikin aku takut." Tania bergidik melihat tatapan Luna yang lain dari biasanya.
"Lepasin celemek kamu ini, ikut aku sekarang juga!" Luna melepas paksa celemek Tania.
Luna menarik paksa tangan Tania dan membawanya keluar dari dalam rumah.
"Luna lepasin aku! Kamu mau bawa aku ke mana sih?" Tania menghempas kasar tangan Luna.
"Kamu ini aneh banget, aku gak bisa keluar, Mas Dika belum pulang, gimana kalo dia pulang dan aku gak ada di rumah, Mas Dika pasti khawatir, kasian dia udah kerja seharian, Lun," ucap Tania.
"Kamu kasian sama Dika? Sadar Tania!" Teriak Luna mengguncang tubuh Tania.
"Lihat penampilan kamu tadi, kamu sibuk masak buat Dika, masih setia nunggu Dika pulang dan makan malam sama kamu."
"Tapi kamu gak tau, Dika justru lagi menikmati makan malam romantisnya bersama wanita lain!" teriak Luna, ia tidak bisa lagi menahan diri.
"Dika selingkuh Tania!" Teriaknya lagi.
"Kamu lihat ini, aku sengaja merekam mereka berdua, karena aku tau kamu gak akan percaya tanpa bukti." Luna memperlihatkan video yang di rekamnya tadi kepada Tania.
Tania melihat video di ponsel Luna dengan saksama dan tenang. Tidak ada perubahan ekspresi yang signifikan di wajahnya yang biasanya selalu ceria dan ramah. Ia hanya mengangguk kecil, matanya masih terus menatap ponsel Luna.
"Ayo," katanya datar, suaranya nyaris tanpa emosi.
Tania merapihkan pakaiannya yang sebenarnya tidak kusut, hanya matanya—jika di perhatikan dengan saksama—yang menunjukkan kilatan rasa sakit yang tajam dan dalam, seolah-olah seluruh dunianya baru saja terbakar habis menjadi abu, dan ia berusaha keras menahannya di balik topeng ketenangan yang sempurna.
"Buruan sebelum mereka berdua pergi." Lagi-lagi Luna menarik paksa Tania untuk masuk ke dalam mobil miliknya.
"Kamu yakin Mas Dika masih ada di restauran itu?" tanya Tania.
"Mungkin saja mereka sekarang sudah pergi, untuk apa aku datang ke sana kalo begitu," katanya lagi.
"Kita lihat aja dulu Tan, makannya aku tadi pengen cepat-cepat bawa kamu."
"Kamu harus lihat lelaki yang kamu puja itu aslinya seperti apa."
"Pokoknya nanti di sana kamu harus tampar Dika, tumpah hin air atau makanan ke atas kepalanya, jangan lupa tampar juga wanita pelakor itu, jambak rambutnya, pokoknya aku dukung kamu Tan, kalo perlu kita viral lin mereka berdua," kata Luna berapi-api, tangannya mencengkram kuat setir mobil.
Sementara Tania justru tetap tenang, matanya menatap lurus ke depan namun bukan tatapan yang kosong, tidak ada sedikit pun kesedihan atau gurat kecewa di wajahnya.
Sesekali Luna melirik ke arah Tania, melihat Tania yang tidak ber reaksi apapun membuat Luna semakin khawatir terhadap sahabatnya tersebut.
Keduanya akhirnya sampai di restauran tempat Dika makan malam bersama wanita lain.
Luna turun dari mobil dengan tergesa-gesa, sementara Tania tetap bersikap tenang.
"Ayo buruan Tania, kamu lamban banget sih!" lagi-lagi Luna menarik paksa Tania.
"Eh tunggu!" Luna menghentikan langkahnya, menarik kembali Tania ke arah mobilnya.
Luna membuka mobilnya dan mengambil sesuatu di dalam mobil tersebut.
"Pake ini, biar kita bisa mengamati mereka lebih dekat." Luna memakaikan topi pantai dan kaca mata hitam untuk Tania.
"Kamu yakin aku harus pake kaya gini, Lun?" tanya Tania.
"Mana ada orang ke restauran malam-malam pake topi pantai dan kaca mata hitam, ini terlalu berlebihan, aku gak mau!" Tolak Tania, melepaskan topi pantai di kepalanya.
"Eh jangan! Gak usah peduli omongan orang, ayo kita masuk!" Luna merangkul lengan Tania.
Keduanya bersama-sama masuk ke dalam restauran.
Luna langsung membawa Tania lebih dekat ke meja tempat ia melihat Dika.
Untung saja Dika dan wanita tersebut masih ada di sana.
Tania langsung menghentikan langkah Luna, padahal tinggal beberapa meja lagi, keduanya bisa berhadapan langsung dengan Dika.
Tania menarik paksa Luna untuk duduk di salah satu kursi dengan jarak aman antara dirinya dan Dika, meskipun begitu, ia masih bisa melihat dengan jelas interaksi antara Dika dan juga wanita tersebut.
"Kenapa di sini sih, harusnya kita ke sana Tania, tangan aku udah gatal banget pengen jambak rambut si pelakor itu." Luna mengepalkan satu tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kalo cuma duduk di sini dan gak nge labrak mereka mah buat apa aku panggil kamu ke sini Tania!" geram Luna.
"Huusstt!" Tania menempelkan jari telunjuknya ke bibir Luna.
"Pinjam ponsel kamu, Lun." Tania menengadahkan tangannya.
Meskipun kesal dengan sikap Tania yang tetap tenang, Luna tetap memberikan ponselnya kepada Tania.
Tania menekan nomor ponsel Dika yang ia hapal di luar kepalanya.
Dari tempat duduknya Tania terus melihat ke arah Dika yang sedang menatapi ponselnya. Tania tahu Dika pasti sedang menerka-nerka nomor baru yang menelponnya. Saat di lihatnya Dika mengangkat telponnya, Tania tersenyum datar.
📞"Mas," lirih Tania.
📞"Ini kamu, Sayang ... kenapa nelpon pake nomor baru?"
📞"Ponsel aku batrenya habis, Mas. Kebetulan Luna datang ke rumah, aku nelpon pake ponsel dia."
📞"Kamu lembur lagi, Mas?" tanya Tania.
📞"Iya, Sayang. Saking sibuknya Mas sampe lupa ngabarin kamu, maaf ya," jawab Dika.
📞"Gak usah nungguin Mas, Sayang. Pas banget ada Luna di situ kan, dia bisa nemenin kamu makan malam," kata Dika lagi.
Tania tetap tenang, padahal di depan matanya Dika sedang merangkul manja wanita lain, sementara Luna semakin geram dengan Dika yang bermulut manis kepada sahabatnya, tapi merangkul mesra wanita lain.
Seketika Luna langsung berdiri dengan napasnya yang memburu, Tania memegang erat tangan Luna, menahannya untuk tidak keluar dari kursi, Tania memaksa Luna untuk duduk kembali.
📞"Yaudah kalo gitu, Mas. Telponnya aku matiin dulu ya."
📞"Kamu yang semangat kerjanya, Mas," ujar Tania lembut.
📞"Iya, Sayang. Pasti...," balas Dika.
Tania meletakkan ponsel Luna ke atas meja tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Dika.
Kali ini bukan hanya tangan Dika yang merangkul mesra wanita di sampingnya, Tania bahkan melihat langsung suaminya berciuman dengan wanita lain saat ini, di hadapannya.
Melihat hal tersebut Luna semakin gelisah dan mengepalkan tangannya, sementara Tania tetap tenang.
"Tania!" Luna mencengkram lengan kanan sahabatnya tersebut.
"Kamu tuh gimana sih! Aku bawa kamu ke sini bukan buat nonton mereka!" geram Luna.
Tania tetap diam tak bergeming sedikit pun.
"Tania, kamu dengerin aku gak?!" Kali ini Luna mengguncang tubuh Tania.
"Aku punya cara sendiri, Lun," akhirnya Tania angkat bicara.
Bersambung...
"Cara?" Luna menatap tajam Tania.
"Diam di sini, ngeliatin suami kamu yang selingkuh, pasrah dengan keadaan, itu yang kamu maksud?!" Hardiknya.
"Kamu maunya gimana? Aku samperin mas Dika, ngamuk-ngamuk, nangis-nangis di depan dia, gitu?" tanya Tania.
"Dia gak pantas mendapatkan itu semua."
"Cara seperti itu cuma bikin aku terlihat menyedihkan dan juga seperti gak punya harga diri, Lun. Itu yang kamu mau?" tanya Tania, wajahnya datar nyaris tanpa emosi.
"Kalo gitu gak perlu nangis, kamu cukup labrak mereka, tampar Dika terus jambak rambut wanita murahan itu!" Bentak Luna.
"Gak perlu! Ayo kita pulang!" kali ini Tania menarik paksa Luna untuk keluar dari restoran tersebut.
Sampai di luar restoran, Luna menghempaskan genggaman tangan Tania, ia juga menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang merengek meminta permen.
"Aku gak ngerti sama cara berpikir kamu, Tan. Kalo aku jadi kamu, aku gak akan diam aja kaya gini, paling gak aku harus memberikan pelajaran ke 2 manusia sampah itu!" seru Luna.
"Kamu mau pulang atau masih mau di sini? Kalo kamu masih mau di sini, aku bisa pulang sendiri." Tania berjalan, meninggalkan Luna begitu saja.
"Ehh tunggu! Kita pulang sama-sama, aku gak mau kamu kenapa-kenapa Tan. Aku tau kamu saat ini pasti ngerasa hancur banget, kamu cuma pura-pura kuat di depan aku, kan." Luna berjalan di samping Tania, sambil merangkul lengannya.
"Kalo kamu mau nangis, nangis sekarang, jangan di tahan pliss, gak usah pura-pura tegar, terus bunuh diri," kata Luna.
"Mana ada aku kaya gitu, pikiran kamu sempit banget, makannya jangan kebanyakan nonton drama pendek." Tania menepuk lembut dahi Luna.
"Ya kali aja kan, biasanya orang pendiam kaya kamu, sakit hati di tahan-tahan. Tau-tau langsung bunuh diri, takut banget aku, Tan." Luna bergidik sendiri.
"Dari pada kamu ngomong ngelantur terus, mendingan buruan kita pulang, aku udah lapar banget." Tania menarik Luna agar berjalan lebih cepat.
"Ya Tuhan... benarkah yang di samping ini sahabat aku? Suaminya selingkuh, dia malah masih mikirin perutnya sendiri yang lapar." Luna menengadahkan wajahnya ke atas.
Sepanjang perjalanan Luna terus saja mengomel dan memaki-maki Dika juga wanita selingkuhannya.
Tania hanya menanggapinya dengan tawa ringan, hal tersebut membuat Luna semakin kesal terhadap Tania.
Kini, keduanya sudah sampai di rumah Tania, rumah bernuansa minimalist yang baru saja di beli Dika beberapa bulan lalu di salah satu kompleks perumahan di kota mereka, setelah dirinya mendapatkan promosi kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja.
"Ayo makan." Tania menarik kursi di ruang makannya untuk Luna.
"Kamu pasti lapar banget, energi kamu udah abis karena marah-marah gak jelas," kata Tania.
"Marah-marah gak jelas apanya, marah ku jelas ya, gimana gak marah coba, punya modelan sahabat kaya kamu gini."
"Kayanya aku perlu bentur rin kepala kamu ke tembok deh, Tan," seru Luna lagi, memandangi Tania yang justru sibuk mengambilkan makanan untuknya.
Setelah mengambilkan makanan untuk Luna, kini giliran Tania mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Buruan makan, piring kamu udah penuh tuh, habisin gak boleh ada sisa," kata Tania.
"Tania!" Luna menatap tajam Tania, Luna sangat gemas dengan sikap sahabatnya tersebut, bisa-bisanya Tania menghidangkan makanan dengan porsi yang banyak ke piring miliknya.
"Kamu mau bikin aku jadi gendut, terus gak ada yang suka sama aku, aku gak nikah dan menjomblo buat nemenin kamu terus, gitu?" marah Luna.
"Boleh juga, itu ide yang bagus, kita kan sahabatan, harus setia kawan," balas Tania, sambil tertawa ringan.
"Tau ah!" Luna tidak lagi mendebat Tania, ia justru sangat menikmati makanan yang di masak oleh sahabatnya tersebut.
Tania memang sangat pandai memasak, semua masakannya selalu saja enak, masakan Tania juga selalu di puji oleh Dika.
"Tan... setelah ini apa rencana kamu?" tanya Luna, tiba-tiba.
"Rencana aku? Hmmm ... aku ngantuk, mau tidur," jawab Tania.
"Tau ah, aku males ngomong sama kamu, kamu ngeselin," rengek Luna.
Kali ini keduanya sama-sama diam, dan menikmati makanan di piring mereka masing-masing.
"Alhamdulillah kenyang, makanan kamu emang gak pernah gagal, Tan." Luna membelai lembut perutnya sendiri yang kekenyangan.
"Aku langsung pulang ya, males banget ketemu sama si Dika, kamu jangan bikin yang aneh-aneh loh ya," ujar Luna.
"Iya gak ... ayo aku antar sampe depan rumah." Tania membantu Luna untuk berdiri dari kursi.
Tania melambaikan tangan ke arah Luna yang sudah berada di dalam mobilnya dan siap pergi dari rumah sahabatnya tersebut.
Tania kembali masuk, saat mobil sahabatnya sudah benar-benar keluar dari pekarangan rumahnya.
Tania masuk ke dalam rumah, berdiri mematung di ruang tamu sambil menatap lekat bingkai foto pernikahannya yang terpajang di dinding ruang tamu.
Raut wajahnya datar, tapi kedua tangannya mengepal kuat.
"Kamu terlalu meremehkan aku, Mas," ucapnya pelan, seulas senyum tipis muncul di bibirnya.
Tania berjalan perlahan ke arah bingkai foto tersebut, kemudian Tania mengambil bingkai foto tersebut.
Tania melepaskan beberapa bingkai foto dirinya dan juga Dika yang terpajang di ruang tamu rumah mereka.
Ia membawa bingkai foto tersebut dan meletakkannya di kamar kecil yang ada di dekat dapur mereka, yang Tania jadikan sebagai gudang.
"Harusnya aku buang kamu ke tempat sampah," gumam Tania, memandang datar ke arah tumpukan bingkai foto dirinya dan juga Dika.
Tania keluar dari ruangan tersebut, berjalan masuk ke dalam kamarnya, kembali mengambil bingkai foto mereka berdua dan membawanya ke gudang.
Kini di dalam rumah tersebut sudah tidak ada lagi satu pun bingkai foto dirinya dan Dika yang terpajang.
Tania kembali ke kamarnya, mengambil ponselnya di atas nakas samping tempat tidur.
📞"Halo," Tania berbicara dengan seseorang.
📞"Bagaimana? Apa anda sudah mengambil keputusan?" tanya seseorang di seberang sana.
📞"Iya, saya siap bergabung bersama perusahaan anda," jawab Tania.
📞"Apa ada hal buruk yang baru saja terjadi? Suara anda terdengar berat Bu Tania," tanya orang tersebut lagi.
📞"Anda tidak perlu khawatir, meskipun saya sedang mengalami masalah, hal tersebut saya pastikan tidak akan mengganggu kinerja saya di perusahaan anda," jawab Tania.
📞"Baik kalau begitu. Besok Bu Tania bisa datang ke perusahaan untuk bertemu langsung dengan atasan saya."
📞"Di jam berapa saya harus datang?" tanya Tania.
📞"Sebentar ... saya perlu melihat jadwal Pak Herry di tablet saya."
📞"Nanti saya kabari anda selanjutnya lewat pesan."
📞"Baik kalau begitu, maaf karena sudah mengganggu anda Pak Rendi," balas Tania.
📞"Tidak perlu sungkan Bu Tania, justru suatu kehormatan untuk perusahaan kami bisa merekrut desainer berbakat seperti anda."
📞"Konsep desain perhiasan yang Bu Tania berikan kepada perusahaan kami 6 tahun yang lalu, berhasil membuat perusahaan menjadi sukses dan juga terkenal seperti sekarang, konsep tersebut juga memberikan warna baru untuk perusahaan kami, kesuksesan ini ada andil dari anda Bu Tania."
📞"Anda terlalu berlebihan memuji saya Pak Rendi," balas Tania.
📞"Tidak ada yang berlebihan, anda pantas mendapatkan pujian itu, sayangnya anda memilih berhenti karena menikah."
📞"Bahkan anda menolak menerima bagian dari keuntungan perusahaan setelah peluncuran desain perhiasan yang anda desain, sampai sekarang perhiasan yang anda desain penjualannya masih stabil."
Tania hanya tersenyum, di dalam hatinya merutuki kebodohannya sendiri saat itu, demi menjaga harga diri Dika sebagai seorang lelaki dan yang akan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya, Tania rela menepikan segala kelebihan yang ada dalam dirinya.
📞"Kalau begitu, sampai ketemu besok di perusahaan Bu Tania," ujar Pak Rendi.
Obrolan Tania di ponselnya pun selesai.
Tania meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, seulas senyum tipis muncul di bibir Tania. Senyum yang tenang namun penuh rahasia, membuat siapa pun yang melihatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada di pikiran Tania.
Bersambung...
Pintu kamar tidur berdecit halus, mengusik keheningan malam. Bayangan Dika merayap masuk, setiap langkahnya penuh kehati-hatian, seolah lantai kamar adalah ladang ranjau yang bisa meledak kapan saja.
Dika tidak ingin membuat Tania terbangun, ia yakin istrinya tersebut sudah tertidur lelap.
Di atas ranjang, Tania berbaring membelakangi pintu. Napasnya teratur, tiruan sempurna dari tidur nyenyak, Namun, di balik kelopak mata yang terpejam rapat, manik matanya bergerak gelisah.
Sejak mendengar suara mobil Dika di halaman rumahnya, Tania sudah mempersiapkan diri, Tania tahu Dika akan masuk ke dalam kamar mereka, diam-diam, seperti pencuri di rumah sendiri.
Bukan karena takut membangunkan Tania, istrinya. Tapi karena Dika menghindari pertanyaan beruntun tentang dirinya yang pulang hingga larut malam.
Meskipun Dika sudah mengatakan dirinya lembur bekerja, tapi malam ini adalah pertama kalinya Dika pulang sampai larut malam, tentu saja Tania akan mengajukan beberapa pertanyaan padanya.
Dika akhirnya mencapai sisi tempat tidur, gerakannya seperti penari balet yang kaku, melepas jam tangan dengan hati-hati dan, meletakkannya tanpa suara ke atas nakas di samping tempat tidur mereka.
Sejenak Dika melirik punggung Tania, merasakan kelegaan Tania tidak terusik karena kedatangannya. Dika kemudian merangkak naik perlahan ke sisi tempat tidurnya, berbaring perlahan, menjaga agar Tania tidak terusik karena pergerakannya.
Tania merasakan pergeseran berat di kasur dan aroma parfum wanita yang menguar dari pakaian suaminya, jantungnya berdesir nyeri, tapi Tania tetap pada sandiwaranya, Tania membiarkan napasnya sedikit memberat, seolah-olah dia sedang bermimpi dalam tidurnya.
Dika berbalik memunggungi Tania, menciptakan jarak di antara mereka. Dika memejamkan mata, berharap kantuk segera datang dan menghilangkan rasa bersalah yang diam-diam menggerogoti hatinya.
Hening kembali merayap di ruangan itu, namun bagi Tania, keheningan itu dipenuhi oleh kata-kata yang tak terucapkan dan rahasia yang tersimpan rapat. Tania tetap berpura-pura tidur, membiarkan malam berlalu dengan sandiwara sunyi di antara keduanya.
...----------------...
Mentari pagi merangkak naik perlahan, memancarkan cahaya keemasan yang menelusup masuk melalui celah-celah jendela kamar Tania.
Tania bangun dari tidurnya, meregangkan kedua tangannya, menatap sejenak Dika yang masih tertidur pulas di sampingnya, cahaya matahari membingkai polos wajah Dika. Tapi realitanya Dika tak sepolos itu.
Tania bangkit dari tempat tidur tanpa membangunkan Dika, melangkah ke dapur untuk mengerjakan rutinitasnya sebagai seorang istri yang baik.
Di luar jendela, mentari bersinar cerah, namun berbeda dengan hati Tania, hatinya dipenuhi bayangan pengkhianatan Dika yang baru saja ia ketahui.
Tania mengenakan topeng tebal, menyembunyikan luka dan amarah di balik senyum palsu. Di dapur Tania menyiapkan sarapan dengan gerakan mekanis, setiap dentingan sendok adalah irama kepalsuan.
Saat Tania sedang menata hasil masakannya ke atas meja, ia merasakan langkah kaki seseorang mendekat dari belakang. Sepasang tangan tiba-tiba melingkari pinggang, Tania.
Punggung Tania menegang sesaat, tapi kemudian Tania segera mengendurkannya, sandiwara ini harus sempurna, pikirnya.
Tania memaksakan senyum indahnya saat sepasang tangan Dika melingkar mesra di pinggangnya, dan dagu Dika bersandar di bahu kanan, Tania.
Aroma parfum Dika yang familiar kini terasa menyesakkan; aroma yang sama yang mungkin menempel di pakaian wanita semalam.
Tania menahan napasnya untuk sesaat, memastikan tidak ada getaran dalam dirinya yang membuat Dika menjadi curiga.
"Makasih, Sayang. Kamu memang istri yang baik," bisik Dika tepat di telinga Tania, suara lembut Dika yang dulu membuat Tania luluh, kini justru, membuat Tania merasa mual.
Tania terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat alami, bahkan di telinganya sendiri, Tania bersandar sedikit ke belakang, menyamankan diri dalam pelukan palsunya.
"Mas bisa aja mujinya, aku jadi pengen terbang," Tania memejamkan mata seolah menikmati momen palsu ini sepenuhnya.
Perlahan Tania membalikan tubuhnya berhadapan dengan Dika, menatap penuh cinta wajah Dika, Tania juga menggenggam lembut kedua tangan Dika, mengecup singkat pipi kiri Dika.
Tania tidak membiarkan Dika meresapi momen manis tersebut terlalu lama, Tania langsung menuntun Dika untuk duduk di kursi.
"Makan yang banyak ya, biar Mas jadi kuat dan semakin semangat kerjanya." Tania menyendok kan makanan ke piring Dika.
Melihat sikap Tania yang menurutnya masih sama seperti biasanya, Dika tersenyum hangat memandangi wajah Tania.
"Oyah, Mas sampe lupa, kok foto kita gak ada di kamar dan ruang keluarga ya?" tanya Dika.
Hal yang di tunggu Tania akhirnya terjadi, sebelum Dika bertanya Tania sudah lebih dulu memikirkan jawaban yang logis.
Karena itu, Tania memilih tetap menyimpan bingkai foto tersebut di gudang.
"Oh itu... aku pengen suasana yang baru Mas, pengen ganti pake lukisan pemandangan aja, biar suasana rumah lebih gimana gitu," jawab Tania, berusaha meyakinkan Dika.
"Di ruang tamu juga aku udah lepas, Mas," kata Tania lagi.
"Loh kenapa semuanya di lepas, Sayang?" Dika keheranan.
"Gak papa Mas, anggap aja nge refresh, kan. Lagian tanpa di pajang pun orang juga tau kita pasangan suami dan istri," jawab Tania, santai.
"Iya sih... kalo gitu terserah kamu aja, Sayang. Buat diri kamu nyaman di dalam rumah, soalnya kan kamu kesehariannya di dalam rumah terus, kamu pasti bosan dan butuh suasana yang baru," balas Dika.
Tania tersenyum tipis dan mengangguk menanggapi ucapan Dika.
"Sayang...," panggil Dika lirih.
"Hmm," jawab Tania, matanya memandang sejenak ke arah Dika.
"Sebenarnya hari ini aku berencana ke kampung, tadi ibu nelpon dan minta aku untuk segera ke sana, menurut kamu gimana?" tanya Dika.
Tania berusaha memaksakan senyum terbaiknya, Tania tahu Dika hanya berpura-pura bertanya kepadanya.
"Kok ibu gak nelpon ke aku ya, apa ada hal buruk yang terjadi sama ibu, Mas?" tanya Tania, kini raut wajah Tania berganti menjadi raut wajah penuh ke khawatiran.
"Gak kok, alhamdulillah semuanya baik-baik aja, mungkin ibu cuma rindu sama Mas, Sayang," jawab Dika.
"Mas pergi sendiri gak papa, kan? Mas gak lama sayang, palingan hanya 2 hari," kata Dika lagi.
"Gak papa, Mas. Lagian kalo mas ngajak aku juga, aku gak bisa. Maaf ya, aku udah ada janji sama Luna hari ini."
"Padahal baru aja aku mau minta izin, apa Mas Dika izinin aku keluar?" tanya Tania.
"Kenapa gak, tentu aja boleh, sahabat kamu itu kan baru aja pulang dari luar negeri, mungkin saja kalian butuh waktu berdua untuk bersenang-senang."
"Kapan-kapan kita bisa ketemu sama-sama dengan sahabat kamu, Mas pengen tau juga kamu bersahabat dengan orang yang seperti apa, selama ini cuma denger cerita soal Luna aja, gak pernah ketemu orangnya."
"Jangan sampai dia bawa pengaruh buruk untuk istri Mas yang baik ini." Dika mencubit manja pipi Tania.
"Tapi kamu naik taxi aja, gak papa kan, Sayang? Aku gak bisa nganterin kamu," kata Dika lagi.
Tania tidak langsung menjawab, ia diam sejenak seperti orang yang tampak berpikir.
Melihat hal tersebut membuat Dika gelisah, khawatir Tania memaksanya mengantar untuk bertemu dengan Luna, sementara dirinya sudah berjanji akan bertemu dengan wanita selingkuhannya.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!