Indonesia
NovelToon NovelToon

The Great Wife (Istri Hebat)

Bab 1

"Dengar semua, malam ini bersenang-senanglah sepuasnya karena semua yang hadir diacara pesta malam ini aku yang traktir."

Teriakan Adrian disambut gembira oleh para pengunjung club malan paradise malam itu.

"Terima kasih Adrian, kamu memang sahabat kami yang terbaik. Tanpa dirimu mana bisa kami menikmati pesta semeriah ini hampir setiap malam." ucap Antonio salah seorang sahabat dekat Adrian.

"Santai saja bro, ini bukan apa-apa untukku. Aku adalah satu-satunya tuan muda di keluarga Bagaskara, semua harta kekayaan milik keluarga Bagaskara nantinya akan jatuh ke tanganku. Sudah sewajarnya kalian ikut menikmati apa yang aku miliki karena kalian adalah sahabat terbaikku." ucap Adrian dengan jumawa. Yang dikatakan Adrian memang benar, Adrian merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya karena kedua adiknya perempuan.

Berkat status tuan muda yang ia miliki, Adrian tidak pernah merasa kesepian walaupun pria tampan itu sudah lama hidup terpisah dengan keluarganya. Hampir semua teman dikampus Adrian berlomba-lomba ingin menjadi teman dekat sang ahli waris keluarga terkaya di ibu kota.

"Mari semuanya, kita bersulang untuk Adrian." Monica kekasih Adrian mengangkat gelas berisikan wine yang satu botolnya saja bernilai puluhan juta, hal itu Monica lakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada sang kekasih atas traktirannya malam ini.

"Bersulang!" denting suara gelas yang beradu samar-samar terdengar di anatara dentuman suara musik yang sedang di mainkan oleh seorang DJ ternama, yang sengaja Adrian undang untuk merayakan hari ulang tahunnya yang ke 25 tahun. Ya, Adrian masih menyandang status sebagai seorang mahasiswa di usianya yang sudah tak lagi muda. Tapi lagi-lagi berkat status tuan muda yang ia miliki, tak ada satu orang pun yang berani mengolok-olok Adrian, termasuk para dosen di kampus tempat Adrian menimba ilmu selama 8 tahun terakhir ini.

Tepat pukul 3 dini hari, suasana club malam paradise mulai nampak sepi. Para pengunjung club malam yang sebagian besar di dominasi oleh mahasiswa kampus Dharma Bangsa tempat Adrian berkuliah, mulai kembali ke rumah masing-masing.

Menyisakan sahabat dekat Adrian saja, yaitu Antonio, Jonatan, Bruno dan Monica sang kekasih.

"Permisi tuan, ini tagihannya." seorang pelayan memberikan tagihan yang harus Adrian bayar, jumlahnya mencapai 3 digit.

"Gesek kartu ini." Adrian melemparkan black card miliknya tepat di wajah sang pelayan. Suara tawa dari teman-teman Adrian menggema ketika melihat ekspresi kaget sang pelayang. Dengan sabar pelayan tersebut memungut kartu yang dilemparkan Adrian meski dalam hati mengumpat.

"Maaf tuan, kartu ini tidak bisa digunakan. Bisa gunakan kartu yang lain?" sudah 3 kali pelayan tersebut menggesek kartu milik Adrian, namun selalu berakhir dengan kegagalan.

"Tidak mungkin, coba sekali lagi!" titah Adrian yang langsung dipatuhi oleh sang pelayan.

"Maaf, tapi tetap tidak bisa tuan." ucap sang pelayan, intonasi suaranya sedikit meninggi.

"Sayang, sepertinya kartu balck card milikmu terlalu berharga untuk dipegang pelayan rendahan seperti dia. Gunakan kartu lain saja." saran dari Monica yang langsung disetujui oleh Adrian.

"Ya, kamu benar juga sayang." Adrian mencium bibir Monica sebagai imbalan karena telah memberikan saran.

"Gunakan kartu yang ini!" Adrian melemparkan kartu lain yang ia miliki pada sang pelayan. Pelayan tersebut menghela nafas berat sebelum akhirnya menuruti perintah Adrian.

"Maaf tuan, tapi kartu yang ini juga tidak bisa digunakan. Bisa bayar dengan uang cash saja!" balas sang pelayang yang mulai hilang batas kesabarannya menghadapi sikap arogan Adrian dan teman-temannya.

"Tidak mungkin! Sini biar aku yang coba." Adrian merampas mesin ATM mini dari tangan sang pelayan, kemudian menggesek semua kartu yang ia miliki satu persatu. Namun tak ada satupun dari kartu-kartu tersebut yang bisa digunakan.

"Sial! Sepertinya mommy dan daddy tidak main-main dengan ancamannya, mereka benar-benar memblokir semua kartu milikku." wajah arogan Adrian seketika berubah jadi wajah gusar.

"Apa kalian bisa patungan dulu untuk membayar tagihan malam ini, nanti aku ganti 2x lipat." Adrian menatap ke arah sahabat-sahabatnya, memohon pertolongan untuk membantu melunasi tagihan malan ini yang jumlahnya sangat banyak. Semua sahabat Adrian memalingkan muka, tak ada satu orang pun dari mereka yang mau membantu Adrian.

"Hallo mah, iya aku pulang sekarang." Bruno berpura-pura menerima telepon padahal aslinya tidak ada telepon yang masuk.

"Maaf Adrian, aku tidak bisa membantumu karena aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Mamaku juga meminta aku segera pulang untuk menemani dia belanja ke pasar. By semuanya." Bruno mencari alasan agar bisa segera pergi dari sana. Orang tua Bruno memang owner rumah makan yang sudah cukup punya nama di kota mereka, setiap subuh orang tua Bruno akan pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan. Tapi tak pernah sekalipun Bruno membantu orang tuanya.

"Dasar tidak setia kawan!" maki Adrian sesaat setelah Bruno pergi.

"Kalau kalian bagaimana? Kalian pasti bisa membantuku kan?" tanya Adrian pada sahabatnya yang lain.

"Maaf Adrian, tapi aku juga tidak punya uang sebanyak itu. Lagipula acara malam ini kan untuk merayakan hari ulang tahunmu, kenapa kami harus ikut patungan juga?" ucap Antonio, ia mewakili sahabatnya yang lain.

"Maaf Adrian aku juga tidak bisa membantumu, aku harus segera pulang karena besok ada kelas kuliah pagi." pamit Jonatan seraya berlalu pergi, langkah Jonatan diikuti pula oleh Antonio.

"Kalian semua memang tidak setia kawan!" kemarahan Adrian semakin menjadi. Kini harapan terakhir Adrian hanyalah Monica sang kekasih.

"Maaf sayang, tapi aku juga tidak bisa membantumu." ucap Monica yang seakan paham dengan arti dari tatapan Adrian.

"Monica kau juga! Bukankah setiap bulannya aku rutin memberimu uang. Kemana perginya semua uang-uang yang aku berikan?" kekecewaan di wajah Adrian semakin jelas terlihat.

"Semua uang yang kau berikan sudah aku gunakan untuk membeli tas LV ini, tak ada sedikitpun yang tersisa." Monica memamerkan tas tangan miliknya yang bernilai fantastis.

"Kalau begitu gunakan tas ini saja sebagai jaminan. Nanti aku ganti yang baru." Adrian merebut tas branded dari genggaman sang kekasih.

"Kau sudah gila ya! Tas ini edisi terbatas, aku sudah mengantri selama berbulan-bulan untuk bisa memilikinya!" Monica kembali merebut tas miliknya dari tangan Adrian kemudian berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi pada Adrian.

"Tunggu Monica!" cegah Adrian namun tak dihiraukan oleh wanita berambut panjang itu.

"Tunggu tuan, dengan cara apa anda akan melunasi semua tagihan ini!" sang pelayan menahan langkah Adrian ketika akan menyusul Monica.

"Kau tidak tahu siapa aku ya?! Aku adalah tuan muda dari keluarga Bagaskara! Kau pikir aku tidak mampu membayar semua tagihan ini?!" murka Ardian disertai rahangnya yang mengeras.

"Saya tidak peduli siapa anda, yang saya tahu anda harus membayar tagihan ini sebelum anda pergi." balas sang pelayan yang semakin hilang batas kesabarannya dalam menghadapi Adrian.

"Tunggu sebentar! Aku akan menghubungi orang tuaku dulu." Adrian bermaksud menghubungi orang tuanya untuk minta dibatalkan pemblokiran semua kartu miliknya. Namun hingga percobaan ke lima tak, ada satupun telepon dari Adrian yang diangkat oleh mommy Anzela ataupun daddy Kenzo.

Bersambung.

Bab 2

Saat mendatangi club malam paradise Adrian datang dengan wajah jumawa, tapi saat keluar dari club malam tersebut Ardian harus mengendap-endap seperti seorang pecundang.

Semua barang branded yang melekat di tubuhnya, mulai dari celana, pakaian, sepatu, hingga jam tangan, telah ia gadaikan untuk membayar semua tagihan. Hanya menyisakan boxer keropi berwarna hijau yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

"Sepertinya semua orang sudah pulang." Adrian menghembuskan nafas lega kala menyadari club malam paradise sudah dalam keadaan sepi. Jadi tidak akan ada satu orang pun yang melihat dirinya dalam keadaan memalukan seperti ini.

Namun tanpa Adrian sadari, sesorang telah merekam dirinya yang nyaris tanpa memakai busana dengan ponsel pintarnya, kemudian mengirim video hasil buruannya ke grup WA kampus.

"Semua ini gara-gara mommy dan daddy! Gara-gara mereka aku jadi dipermalukan seperti ini!" umpat Adrian, dengan usaha yang cukup keras akhirnya Adrian berhasil masuk ke dalam mobil mewahnya dengan selamat. Adrian langsung tancap gas meninggalkan club malam paradise menuju kediaman keluarga Bagaskara yang sudah bertahun-tahun tidak ia tinggali.

Demi bisa hidup bebas tanpa pengawasan dari orang tuanya, Adrian memutuskan untuk tinggal di apartemen mewahnya hanya seorang diri saja sejak ia duduk di bangku kuliah.

***

Semburat berwarna orange tanda matahari akan terbit mulai terlihat dari upuk timur, terlihat sepasang suami istri duduk bersantai di sofa living room seraya menikmati sarapan pagi mereka.

"Dad, apa perbuatan kita tidak keterlaluan? Kasian kan Adrian, walau bagaimanapun dia putra kesayangan kita satu-satunya." mom Anzela tidak bisa membayangkan betapa malunya Adrian saat ini. Andai mom Anzela ada di posisi Adrian, lebih baik ia menghilang saja dari peradaban.

"Kita tidak boleh lemah sayang! Ini semua kita lakukan demi kebaikan putra kita." dad Kenzo menyakinkan sang istri agar tidak goyah dalam menjalankan rencana mereka.

"Apa daddy yakin rencana kita akan berhasil? Bagaimana kalau Adrian jadi semakin jauh dengan kita karena kejadian ini?" cemas ibu 3 orang anak tersebut.

"Tenang saja sayang, aku yakin sebentar lagi anak itu akan kembali ke rumah ini dan bersujud memohon agar kartu kreditnya di kembalikan." balas pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan diusianya yang sudah menginjak kepala 5, wajah dad Kenzo tetap terlihat tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Sikap dad Kenzo berbanding terbalik dengan sikap mom Anzela sang istri.

Tin! Tin!

Tak lama setelah dad Kenzo mengatakan semua itu, terdengar suara mesin mobil milik Adrian dari arah luar. Mom Anzela sampai melihat ke arah jendela untuk memastikan kalau yang datang benar sang putra, bukan orang lain.

"Rencana kita berhasil sayang, Adrian pulang." seru mom Anzela kala melihat mobil milik Adrian memasuki halaman rumah keluarga Bagaskara.

Demi mengembalikan sang putra ke jalan yang benar, Daddy Kenzo dan mommy Anzela sepakat untuk memblokir semua kartu milik Adrian. Dan benar saja, setelah kehabisan uang diluaran sana, Adrian akhirnya pulang ke rumah keluarga Bagaskara.

"Mom! Dad!" teriakan Adrian menggema diseisi ruangan. Begitu tiba di kediaman keluarga Bagaskara, hal pertama yang Adrian lakukan adalah mencari kedua orang tuanya.

"Kami di sini sayang, kenapa berteriak-teriak?" tanya mom Anzela yang bersikap seolah tidak tahu apa-apa.

"Ya ampun sayang? Kenapa penampilanmu jadi seperti ini? Apa kamu habis dirampok?" mom Anzela mencoba menahan tawa ketika melihat sang putra yang biasanya selalu berpenampilan trendy, kini hanya memakai boxer hijau saja.

"Berhenti bersikap seolah tidak terjadi apa-apa mom! Semua yang terjadi padaku sekarang karena ulah kalian bukan?" tanya Adrian dengan nada sinis.

"Apa maksudmu Adrian? Baru datang langsung menuduh kami yang tidak-tidak? Setidaknya tanyakan dulu kabar orang tuamu, apa kamu tidak mengkhawtirkan keadaan kami?" ucap mom Anzela. Wajahnya terlihat tenang seraya menyeruput teh miliknya.

"Kalian berdua terlihat baik-baik saja, jadi apa yang harus aku khawatirkan. Yang harus dikhawatirkan itu aku, lihatlah keadaanku sekarang." Adrian menunjuk dirinya sendiri yang terlihat sangat menyedihkan.

"Jaga sikapmu Adrian! Kau tidak boleh bersikap kurang ajar pada wanita yang telah melahirkanmu ke dunia ini." daddy Kenzo tak bisa tinggal diam melihat Adrian berani berbicara lantang pada sang istri.

"Aku tidak pernah minta dilahirkan ke dunia ini, justru karena ulah kalian berdua aku sampai terlahir ke dunia ini. Jadi kalian harus bertanggung jawab atas hidupku." jawab Adrian tak ada takut-takutnya. Bahkan terkesan menantang.

Plak!

Dad Kenzo melempar roti bakar yang menjadi sarapannya dan tepat mengenai wajah Adrian.

"Dad, kenapa melempar roti yang tidak ada selainya, rasanya hambar tahu!" protes Adrian pula. Membuat kemarahan dad Kenzo semakin menjadi.

"Andai saja aku tahu sejak awal kalau kau akan menjadi anak kurang ajar dan tidak berguna seperti ini. Aku pasti tidak akan membiarkanmu terlahir ke dunia ini Adrian." urat leher dad Kenzo terlihat menonjol ketika pria itu sedang marah.

"Dad! Jangan bicara sembarangan! Walau bagaimanapun Adrian adalah putra kesayangan kita, harapan keluarga kita satu-satunya. Aku tidak akan bisa hidup jika terjadi sesuatu pada putraku." mom Anzela tidak terima putra kesayangannya disumpahi yang tidak-tidak oleh sang suami.

"Terima kasih mom, dari dulu mom memang yang paling mengerti aku." Adrian dan mom Anzela berpelukan dengan begitu eratnya.

"Lepaskan! Jangan sentuh istriku!" Daddy Kenzo melerai pelukan Adrian dan mom Anzela dengan paksa.

"Ayolah dad! Istrimu adalah ibu kandungku! Apa kau cemburu pada putramu sendiri?! Kau pasti iri melihat kedekatan kami berdua, iya kan?" kesal Adrian atas sikap posesif sang ayah.

"Cih! Untuk apa aku iri pada pria payah dan tidak berguna sepertimu!" Dad Kenzo sampai berdecih ketika melihat sikap Adrian yang terlampau percaya diri.

"Mom, lihat sikap daddy padaku!" adu Adrian pada sang mommy.

"Jangan dengarkan daddymu sayang, dia hanya sedang bercanda. Sekarang katakan kenapa kamu datang pagi-pagi sekali? Apa terjadi sesuatu?" Mommy Anzela menarik Adrian untuk duduk di atas Sofa. Tepat di antara dirinya dan sang suami.

"Gawat mom, reputasi putramu yang tampan ini sudah hancur sekarang. Aku sudah tidak punya muka untuk bertemu dengan teman-temanku lagi! Aku sangat malu." Adu Adrian seraya beringsut masuk dalam pelukan sang mommy.

"Kau adalah tuan muda keluarga Bagaskara, siapa yang berani mempermalukanmu? Katakan pada mommy, mommy akan memberinya pelajaran." mom Anzela menepuk-nepuk pundak Adrian dengan maksud untuk menenangkan.

"Kalian! Kalian berdua yang sudah mempermalukan aku! Kenapa mommy dan daddy memblokir semua kartu milikku?!" rengek Adrian pula.

"Sekarang kamu sudah dewasa Adrian, mulai sekarang daddy akan menarik semua fasilitas yang selama ini daddy berikan. Jika kamu ingin semua fasilitasmu di kembalikan, maka kamu harus mulai bekerja di perusahaan untuk membantu daddy mulai besok!" ucap dad Kenzo. wajahnya terlihat sangat serius

"Dad, kenapa daddy menyuruhku bekerja di perusahaan? Itu bukan fashion ku? Aku akan menjadi aktor atau model saja." sejak dulu Adrian memang tidak pernah tertarik untuk bekerja di kantoran yang menurutnya akan mengekang kebebasannya.

"Daddy tidak memberimu pilihan Adrian! Tapi perintah! Kau juga harus segera menikah dengan gadis pilihan daddy!" ucapan dad Kenzo tak bisa dibantahkan.

Bersambung.

Bab 3

"Daddy tidak bisa menjodohkan aku dengan sembarangan orang, karena aku sudah memiliki wanita pilihanku sendiri dan aku sangat mencintai wanita itu." Adrian menolak perjodohan yang diatur oleh sang ayah.

"Maksudmu si Monica teman kuliahmu itu? wanita itu tidak tulus mencintaimu Adrian, dia hanya ingin memanfaatkanmu saja." beritahu daddy Kenzo. Selama ini dad Kenzo memang membiarkan Adrian tinggal sendirian di apartemennya, tapi dad Kenzo tidak pernah lepas tangan begitu saja, dad Kenzo selalu menyelidiki setiap orang yang sedang dekat dengan sang putra termasuk Monica.

"Daddy jangan bicara sembarangan tentang Monica! Dia bukan wanita seperti itu! Aku sangat mencintai dia begitupun sebaliknya." Adrian tak terima mendengar wanita yang dicintainya dijelek-jelekan oleh orang lain, walaupun orang itu adalah ayah kandungnya sendiri.

"Terserah padamu saja Adrian. Daddy tidak akan memberi uang sepeserpun kalau kamu tidak mau menuruti perintah daddy untuk menikah dengan gadis pilihan daddy!" ancam dad Kenzo dengan rahangnya yang mengeras.

"Baiklah, aku juga tidak sudi menerima uang dari orang tua yang perhitungan seperti anda! Mulai sekarang aku tidak akan menginjakan kakiku di rumah ini lagi!" balas Adrian tak kalah lantang. Setelah mengatakan semua yang ingin ia katakan, Adrian pun berlalu pergi.

Kaki Adrian hampir melangkahkan keluar melewati pintu utama ketika dad Kenzo mencegahnya. "Tunggu Adrian!" Adrian tersenyum simpul kala mendengar sang daddy memanggil namanya. Adrian yakin sang daddy tidak akan sekejam itu terhadap dirinya.

"Kenapa dad? Apa daddy berubah pikiran?" tanya Adrian setelah memutar badannya jadi kembali menghadap pria paruh baya itu.

"Sepertinya kamu lupa sesuatu Adrian. Sebelum pergi sebaiknya serahkan dulu kunci mobil dan juga kunci apartemen yang kamu tinggali saat ini, karena semua itu dibeli memakai uang daddy." daddy Kenzo mengulurkan tangannya ke arah sang putra. Senyum di wajah tampan Adrian lenyap karena yang di ucapkan sang daddy sangat berbeda jauh dengan apa yang ia harapkan.

"Dasar orang tua perhitungan!" Adrian terpaksa menyerahkan kunci mobil juga kunci apartemen pada dad Kenzo karena semua itu memang dibeli menggunakan uang pemberian dari pria tua itu.

"Ok, kau boleh pergi sekarang!" usir dad Kenzo setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Dasar orang tua menyebalkan! Daddy pikir aku tidak bisa hidup tanpa uang pemberian dari daddy apa? Akan aku buktikan kalau aku bisa hidup di atas kakiku sendiri." ucap Adrian dengan penuh rasa percaya diri.

"Pria sejati yang dipegang adalah kata-katanya, daddy harap kamu membuktikan setiap ucapanmu itu Adrian." Dad Kenzo menepuk-nepuk pundak sang putra. Adrian menghembuskan napas kesal sebelum akhirnya meninggalkan kediaman keluarga Bagaskara.

"Adrian, tunggu Adrian! Jangan pergi!" mommy Anzela menahan agar Adrian tidak pergi. Namun tak dihiraukan oleh Adrian yang sudah terlanjur kecewa dengan sikap kedua orang tuanya.

"Biarkan saja sayang, sebelum matahari terbenam sore nanti, aku yakin anak keras kepala itu akan kembali pulang dan memohon agar bisa kembali tinggal di rumah ini." Dad Kenzo mencoba menenangkan sang istri.

"Semoga saja begitu, karena kalau Adrian tidak kembali, aku akan ikut kemanapun putraku pergi." mendengar jawaban sang istri, kini dad Kenzo yang jadi ketar-ketir.

***

***

"Sebenarnya aku ini anak kandung daddy atau bukan sih? Orang tua mana coba yang sekejam ini pada putranya sendiri?" gumam Adrian. Walaupun telah jauh meninggalkan kediaman keluarga Bagaskara, tapi kekesalan Adrian terhadap dad Kenzo belum juga hilang.

Kriuk!

Rasa perih di perut karena lapar mulai Adrian rasakan. Kaki Adrian berhenti tepat di depan kios penjual ketoprak yang menjadi langganannya, bahkan air liur Adrian hampir menetes ketika melihat seorang anak kecil menyantap ketoprak tersebut dengan begitu lahap. Tapi Adrian yang sekarang bukanlah Adrian yang dulu lagi, Adrian tidak bisa membeli apapun yang ia inginkan dengan sesuka hatinya. Adrian harus menghemat uang sebesar 100 ribu rupiah yang dengan susah payah berhasil ia pinjam dari penjaga keamanan di kediaman keluarga Bagaskara, bahkan celana dan pakaian yang Adrian kenakan saat ini saja merupakan pinjaman dari penjaga keamanan tersebut.

"Aku harus segera pergi ke kampus untuk menemui Antonio, Jonatan dan Bruno! Karena sikap tidak setia kawan mereka aku jadi kesusahan seperti ini. Aku akan memberi pelajaran pada mereka." Tangan Ardian terkepal erat, setiap kali mengingat ketiga sahabatnya tadi malam, entah kemana mereka semua saat Adrian sedang membutuhkan bantuan. Padahal Adrian selalu menjadi garda terdepan setiap kali mereka ada dalam kesulitan.

***

Adrian merasakan tetesan keringat membasahi dahinya. Langkahnya terasa berat karena setiap ayunan kaki adalah perjuangan. Bukan karena jarak dari rumah ke kampus yang jauh, tapi karena harga dirinya yang dipertaruhkan. Seratus ribu rupiah. Angka yang baginya saat ini sangat berarti. Ia harus menghemat setiap rupiah yang ia punya.

Sesampainya di kampus, suasana aneh langsung menyergapnya. Tatapan teman-temannya terasa berbeda, seolah ia baru saja melakukan kesalahan besar. Bisik-bisik mulai terdengar, beberapa orang bahkan menunjuk ke arahnya sambil tertawa sinis. Adrian bingung. Apa yang terjadi?

"Ada apa dengan mereka semua? Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan penampilanku hari ini?" tanya Adrian dengan dahi yang mengkerut.

"Mungkin mereka merasa heran kenapa aku masih terlihat tampan walaupun hanya memakai pakaian sederhana seperti ini." Adrian tetap berpikir positif walaupun semuanya terasa sangat aneh. Adrian tidak tahu saja kalau video dirinya keluar club malam hanya memakai celana boxer saja telah menjadi berita viral di kampusnya.

"Di mana Antonio, Jonatan dan Bruno? Apa mereka bersembunyi karena tahu aku akan memberi mereka pelajaran?" rutuk Adrian disertai tangannya yang terkepal erat.

Selama berada di kampus, tak ada satupun mata kuliah yang Adrian ikuti. Pria itu disibukan mencari keberadaan ketiga sahabatnya yang seakan hilang seperti ditelan bumi. Adrian mencari mereka bukan sekedar untuk memberi pelajaran saja, tapi Adrian ingin menumpang tinggal di tempat mereka karena Adrian sudah tidak punya tempat tinggal lagi.

"Percuma juga mencari mereka, mereka memang tidak setia kawan! Aku akan memberikan pelajaran pada mereka lain kali saja, lebih baik aku ke apartemen Monica sekarang." wajah masam Adrian kembali berseri ketika membayangkan wajah cantik sang kekasih.

***

"Terima kasih pak." ucap Adrian setelah menerima uang kembalian dari supir taksi. Adrian yang biasanya selalu memberikan uang kembalian sebagai tips, kali ini terpaksa mengambil uang recehan tersebut karena Adrian sudah tidak memiliki uang lagi. Adrian terpaksa menggunakan jasa taksi online untuk menuju apartemen Monica karena jaraknya lumayan jauh dari kampus. Tidak akan sanggup jika harus berjalan kaki lagi.

"Monica sedang apa ya? Lebih baik aku langsung masuk saja, Monica pasti senang melihat aku datang." Adrian mencium wangi setangkai bunga mawar yang sengaja ia beli untuk sang kekasih.

Adrian sengaja tidak memberi tahu Monica akan kedatangannya dengan maksud ingin memberi kejutan pada wanita yang dicintainya itu. Adrian bisa masuk ke dalam apartemen Monica dengan mudah karena sudah tahu kombinasi sandinya.

"Kenapa kalian ada di sini?" kaget Adrian ketika melihat Jonatan dan Bruno ada di dalam apartemen Monica. Namun Adrian tak ambil pusing karena Antonio, Jonatan, Bruno, dirinya dan Monica sudah bersahabat sejak lama.

"Adrian, kenapa kau datang ke sini?" Jonatan tak kalah kaget akan kedatangan Adrian.

"Ini apartemen kekasihku, harusnya aku yang bertanya seperti itu pada kalian." Adrian membalikan keadaan.

"Di mana Monica?" netra Adrian berotasi mencari keberadaan sang kekasih, namun sosok Monica tak kunjung Adrian temukan.

"Jangan ke sana Adrian!" Jonatan dan Bruno mencoba menghalangi langkah Adrian ketika akan menuju kamar Monica.

"Kalian ini kenapa sih? Kenapa sikap kalian aneh sekali? Minggir!" Adrian melewati Jonatan dan Bruno begitu saja.

"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?!" pekik Adrian dengan netra membelalak tajam. Monica dan Antonio sibuk membenarkan pakaian mereka yang sudah setengah telanjang ketika Adrian datang secara tiba-tiba.

"Adrian, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa menjelaskan semuanya kok." Monica terlihat panik seraya menutupi tanda merah di lehernya karena ulah Antonio. Sedangkan Antonio terlihat biasa saja karena sudah sejak lama Antonio ingin Adrian tahu tentang hubungan gelapnya bersama Monica. Bahkan Antonio adalah orang yang telah menyebarkan video memalukan Adrian di kampus.

"Tidak ada yang harus di jelaskan karena semuanya sudah cukup jelas. Kalian semua memang bajingan." meskipun hatinya hancur, Adrian masih mencoba untuk tersenyum.

Bukannya memberikan kejutan pada Monica, kini malah Adrian yang dibuat terkejut oleh kelakuan kekasih dan juga sahabatnya sendiri. Terkejut yang sesungguhnya.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!