Di jantung Benua Bintang Biru, terhampar sebuah permata kecil yang dikenal sebagai Kota Pelangi. Kota ini tidak sebesar metropolis utama, namun memiliki reputasi unik: ia adalah rumah bagi Klan Ye, sebuah klan bela diri kelas tiga yang namanya terkenal karena keahlian pedang mereka.
Klan Ye hidup dalam ketenangan, kemakmuran yang mereka dapatkan dari keringat dan disiplin keras di jalur persilatan.
Di antara sekian banyak murid yang diasuh, tak ada yang lebih cemerlang selain putra dari Kepala Klan, Ye Fan. Pada usia lima belas tahun, ketika teman sebayanya baru berjuang mencapai Ranah Pendekar Perunggu Tahap Menengah atau Puncak, Ye Fan telah melangkah jauh, mencapai Ranah Pendekar Perak Tahap Menengah.
Bakatnya adalah pedang itu sendiri, mengalir di nadinya, menjanjikan masa depan yang gemilang. Namun, bakat yang terlalu cemerlang sering kali menarik perhatian yang salah, memupuk cemburu yang kelak akan menjadi bara api.
Klan Ye dipimpin oleh Kepala Klan, Ye Zhang, seorang pria dengan aura tenang namun tatapan tajam yang mencerminkan penguasaan pedang tingkat tinggi.
Di sisinya, berdiri sang istri, Xuan Yi, wanita anggun yang menjadi pilar emosional keluarga. Meskipun Klan Ye hanya Klan kelas tiga, mereka memiliki satu rahasia yang melampaui status mereka: sebuah pusaka yang diwariskan turun-temurun, sebuah pedang yang dijaga dengan nyawa, dikenal sebagai Pedang Giok Langit.
Pedang Giok Langit bukanlah pedang biasa. Konon, ia ditempa dari batu Giok yang jatuh dari langit, mengandung energi murni yang mampu membelah awan.
Pusaka ini tergolong Tingkat Legendaris, sebuah harta yang tak ternilai dan hanya dimiliki oleh beberapa sekte terkuat di benua itu. Keberadaan pedang ini adalah berkah sekaligus kutukan, sebuah magnet yang menarik serangga ganas dari kegelapan.
Malam itu, bulan bersinar penuh, membuat atap-atap berubin Klan Ye berkilauan keperakan. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma wangi bunga dari taman. Semua tampak damai.
Namun, kedamaian itu hanyalah selimut tipis.
Tiba-tiba, kedamaian itu terkoyak oleh suara gemuruh dan pekikan nyaring.
"SERANGAN! KITA DISERANG!"
Bumi bergetar. Lampu-lampu minyak di kediaman utama menyala terang, menerangi puluhan bayangan yang melompat dari kegelapan, melintasi tembok tinggi klan.
Mereka bukan sekadar perampok biasa. Mereka adalah sekelompok orang misterius, semuanya mengenakan jubah hitam yang menutupi tubuh mereka dari kepala hingga kaki, dengan topi jerami yang merunduk menutupi wajah. Mereka bergerak dengan keheningan mematikan dan kecepatan yang menakutkan, ciri khas Pendekar Tingkat Ahli.
"Mereka datang untuk Pedang Giok Langit!" teriak Ye Zhang, suaranya dipenuhi amarah dan kepanikan.
Ye Zhang segera bergegas menuju Aula Pusaka. Ketika dia muncul kembali di halaman utama, Pedang Giok Langit telah berada di genggamannya. Pedang itu, yang biasanya terlihat seperti giok putih yang tenang, kini memancarkan cahaya biru kehijauan yang intens, membelah kegelapan malam.
Ye Zhang, dengan Pedang Giok Langit, tampak seperti dewa perang yang marah. Dia menghadapi kelompok musuh yang berjumlah dua puluh Pendekar Ahli.
"Siapa kalian! Beraninya kalian menyerang Klan Ye!?" raung Ye Zhang, sabetan pedangnya menciptakan gelombang energi Giok yang membelah batu.
Salah satu Jubah Hitam yang tampak seperti pemimpin, yang berdiri di barisan belakang tanpa topi jerami, tertawa dingin. Tawa itu serak dan hampa, menggema di malam hari.
"Kepala Klan Ye Zhang ... Serahkan Pedang Giok Langit, dan kami akan meninggalkan kerangka yang utuh bagi Klan Ye. Melawan kami, dan malam ini Klan Ye akan musnah dari muka bumi."
"Mimpi!" balas Ye Zhang. Dia tahu, mereka yang menginginkan pusaka Tingkat Legendaris tidak akan pernah meninggalkan saksi.
Pertempuran pun meletus. Ye Zhang, menggunakan energi yang tersisa dari warisan Pedang Giok Langit, mampu menahan serangan gabungan dari dua Pendekar Ahli terkuat.
Namun, dua delapan belas Pendekar Ahli lainnya menyebar, menyerbu murid-murid Klan Ye yang sebagian besar hanya berada di Ranah Perunggu atau Murid. Jeritan kesakitan, bunyi dentingan logam, dan aroma darah memenuhi udara.
Ini bukanlah pertarungan. Ini adalah pembantaian.
Di tengah kekacauan itu, Ye Fan terseret oleh ibunya, Xuan Yi, yang wajahnya pucat pasi namun matanya penuh tekad. Ye Fan, meskipun seorang Pendekar Perak, tidak mampu melawan begitu banyak ahli.
"Fan'er! Dengarkan Ibu!" desis Xuan Yi, saat mereka berlari menuju batas belakang klan, di mana Hutan Terlarang berada. "Kamu harus hidup! Kamu adalah harapan terakhir Klan Ye! Kamu harus membalas dendam ini!"
Ye Fan, yang menyaksikan bagaimana darah mengotori halaman, bagaimana tubuh pamannya roboh, dan bagaimana ayahnya berjuang mati-matian, merasakan ketakutan dan keputusasaan yang meremas ususnya.
"Ibu, Ayah ... Bagaimana dengan Ayah?" suara Ye Fan bergetar.
"Ayahmu adalah Kepala Klan! Tugasnya adalah melindungi Klan! Dan tugas Ibu sekarang adalah menyelamatkanmu!"
Mereka tiba di perbatasan hutan. Xuan Yi mendorong Ye Fan ke dalam rimbunnya semak belukar yang gelap.
"JANGAN PERNAH KELUAR! JANGAN BERSUARA! Apapun yang terjadi, kamu harus tetap bersembunyi!" perintah Xuan Yi, dengan suara yang dipaksakan agar tetap tegas.
"Ibu! Jangan tinggalkan aku!" Ye Fan meraih lengan ibunya, air mata membasahi wajahnya.
Xuan Yi dengan lembut melepaskan genggaman putranya. Dia mengeluarkan selembar jubah dari balik pakaiannya dan melemparkannya ke arah yang berlawanan dari Ye Fan, menjauh ke dalam hutan yang lebih dalam.
"Pedang Giok Langit ada di tangan kami! Kejar aku jika kalian menginginkannya!" teriak Xuan Yi dengan suara keras, yang dia paksa agar terdengar nyaring dan panik, seolah-olah dia membawa pusaka itu.
Beberapa siluet Jubah Hitam yang mengejar mereka, yang sempat terpecah, kini mengarahkan pengejaran mereka ke arah suara Xuan Yi yang menjauh. Xuan Yi telah membuat dirinya menjadi umpan. Pengorbanan yang disengaja.
Ye Fan, tersentak, hanya bisa melihat punggung ibunya yang menjauh dan menghilang di antara pepohonan yang gelap. Ia bersembunyi di bawah sebuah pohon tua raksasa yang akarnya menjorok ke tanah, menciptakan ruang kecil yang tersembunyi.
Di bawah pohon itu, Ye Fan meringkuk. Hatinya seperti dicabik-cabik. Beberapa menit kemudian, dia mendengar suara pertempuran yang jauh, diikuti oleh jeritan pilu yang hanya bisa dia kenali sebagai jeritan ibunya. Jeritan itu cepat meredup, digantikan oleh keheningan yang dingin dan mematikan.
Napas Ye Fan tercekat. Dia ingin berlari, dia ingin berteriak, tapi kata-kata ibunya, "JANGAN PERNAH KELUAR," bagaikan mantra yang mengunci tubuhnya.
Dari tempat persembunyiannya, melalui celah semak, Ye Fan bisa melihat ke arah kediaman Klan Ye. Langit malam tidak lagi diterangi oleh bulan, melainkan oleh warna oranye kemerahan yang mengerikan. Api! Seluruh Klan Ye terbakar.
Tiba-tiba, sebuah cahaya keperakan yang cemerlang melesat tinggi ke udara dari pusat api. Cahaya itu diikuti oleh suara hantaman benda keras dan teriakan kesakitan yang terakhir. Ye Fan tahu, itu adalah ayahnya, Ye Zhang. Itu adalah cahaya terakhir Pedang Giok Langit.
Tak lama kemudian, sebuah bayangan hitam melompat tinggi. Di tangan bayangan itu, Pedang Giok Langit kini tampak seperti mainan. Bayangan itu mendarat di atas atap yang terbakar, mengamati kehancuran di bawahnya sejenak, lalu melesat pergi menuju kegelapan timur, membawa pusaka Tingkat Legendaris itu.
Suara mereka menghilang. Api masih menjilat, mengubah Kota Pelangi yang damai menjadi mercusuar tragedi. Ye Fan sendirian. Dia adalah satu-satunya yang tersisa. Air mata mengalir deras di pipinya, bukan lagi karena ketakutan, tetapi karena rasa sakit yang membeku dan kebencian yang baru lahir.
Klan Ye, dalam satu malam, telah musnah. Ayahnya, sang Kepala Klan, dan ibunya, Xuan Yi, telah mengorbankan diri mereka demi kelangsungan hidupnya.
Bersembunyi di bawah akar pohon tua, dengan bau asap dan darah yang menempel di udara, Ye Fan menggigit bibirnya hingga berdarah. Dia mendongak ke langit yang dipenuhi asap.
Ibu ... Ayah ... maafkan aku. Aku benar-benar anak yang tidak berbakti!
Mulai malam itu, Ye Fan bukan lagi anak ajaib dari Klan Ye. Dia adalah Anak Yatim Piatu dari Klan yang Hancur, membawa dendam seberat langit di pundaknya.
Ye Fan tetap meringkuk, menggigil di bawah akar pohon tua itu. Dinginnya embun malam bercampur dengan panasnya api yang masih membakar puing-puing Klan Ye. Suara dentingan pedang dan teriakan telah lama mereda, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menakutkan—keheningan kematian.
Pikiran Ye Fan kalut, berputar-putar seperti angin puyuh. Matanya yang merah dan bengkak menatap ke kejauhan. Siapa mereka? Kenapa mereka sekuat itu?
Gumaman pahit keluar dari bibirnya yang kering, mengurai struktur kekuatan yang selama ini ia kenal, kini terasa begitu kecil dan rapuh.
Mereka … mereka semua berada di tingkat Pendekar Ahli, pikirnya, mengingat kecepatan dan Tenaga Dalam musuh. Bahkan, setidaknya ada lima orang di tahap Ahli Puncak. Ayah, seorang Ahli Menengah, tidak mungkin menang.
Ye Fan mengingat kembali pelajaran bela diri dari tetua klan, informasi yang kini menjadi pedoman untuk perjalanannya yang tak terhindarkan. Dunia persilatan terbagi dalam delapan tingkatan utama, delapan Ranah Pendekar, yang masing-masingnya terbagi lagi menjadi tiga tahap: Awal, Menengah, dan Puncak.
Delapan Ranah Pendekar itu adalah:
Pendekar Murid (Disciple)
Pendekar Perunggu (Bronze)
Pendekar Perak (Silver)
Pendekar Emas (Gold)
Pendekar Ahli (Expert)
Pendekar Naga (Dragon)
Pendekar Suci (Sacred)
Pendekar Dewa (God)
Pada usia lima belas tahun, Ye Fan yang berada di Pendekar Perak Tahap Menengah sudah dianggap keajaiban di Kota Pelangi. Namun, di hadapan dua puluh Pendekar Ahli, kekuatannya hanyalah lelucon yang menyedihkan. Pendekar Ahli berada dua ranah penuh di atasnya. Kekuatan itu adalah jarak antara surga dan neraka.
Air mata Ye Fan mengering, digantikan oleh pertanyaan yang menusuk: Mengapa Klan Ye, yang dikenal dengan para Ahli Pedang berbakat, tidak pernah diserang sekejam ini sebelumnya?
Jawabannya muncul, membawa rasa pahit dan kesedihan mendalam.
Itu karena Leluhur Klan Ye.
Klan Ye sebelumnya dilindungi oleh kehadiran Leluhur mereka, seorang sosok yang menakutkan di wilayah tersebut. Leluhur Ye adalah seorang Pendekar yang telah mencapai Ranah Naga Awal, sebuah kekuatan yang cukup untuk membuat sekte-sekte kelas satu pun berpikir dua kali sebelum mencari masalah. Ranah Naga—hanya satu tingkat di atas Ranah Ahli—sudah mewakili kekuatan yang dapat mendominasi sebuah wilayah.
Namun, usia Leluhur tak bisa dibohongi.
Beberapa bulan lalu, terjadi upaya pencurian yang gagal terhadap Pedang Giok Langit oleh beberapa Pendekar Ahli. Leluhur Ye berhasil mengusir mereka, tetapi dalam prosesnya, Leluhur terluka parah. Karena usianya yang sudah sangat tua, penyembuhan menjadi lambat. Kabar tentang Leluhur Klan Ye yang sakit parah dan hampir mencapai akhir usianya mulai tersebar melalui desas-desus di dunia persilatan bawah.
Itulah pemicu utamanya. Klan Ye hanyalah klan kelas tiga biasa; pusaka Tingkat Legendaris seperti Pedang Giok Langit hanya bisa mereka pertahankan selama Leluhur mereka berdiri tegak. Begitu kabar kelemahan menyebar, sekumpulan serigala jahat langsung menyerbu. Mereka tahu, jika Leluhur Klan Ye itu lumpuh, maka Klan Ye tidak memiliki perlawanan.
Kemarahan menggelegak di dada Ye Fan. Bukan hanya dendam, tetapi rasa pengkhianatan terhadap dunia.
Ye Fan menunggu hingga fajar menyingsing, ketika langit mulai berubah abu-abu dan api telah mereda menjadi asap. Dengan langkah gemetar, ia merangkak keluar dari persembunyiannya. Ia harus melihat, ia harus tahu.
Ia pertama kali mencari ibunya, Xuan Yi. Ia mengikuti jejak kaki yang samar ke arah hutan yang lebih dalam, tempat ia mendengar teriakan terakhir. Di bawah pohon pinus yang hangus, ia menemukan ibunya. Tubuh Xuan Yi terbaring tak bernyawa, dadanya dihiasi luka pedang fatal. Wajahnya damai, seolah ia telah menyelesaikan tugas terpenting dalam hidupnya: memastikan Ye Fan selamat.
Ye Fan berlutut, memeluk tubuh ibunya yang dingin, air mata yang sudah habis kini mengalir lagi, deras. Ia menangis tanpa suara, hanya isak tangis yang tertahan yang mengguncang tubuhnya.
Setelah ia berhasil memaksa dirinya melepaskan tubuh ibunya, ia kembali ke reruntuhan klan. Pemandangan di sana mengerikan. Mayat-mayat berserakan, murid-murid klan, tetua, semuanya terbaring kaku. Di tengah puing-puing, ia menemukan ayahnya, Ye Zhang, tewas dengan Pedang Giok Langit telah direbut dari tangannya.
Duka yang tak tertahankan itu kini berubah menjadi kekosongan yang dingin.
Dengan kekuatan yang tersisa dari tubuhnya yang lelah, Ye Fan mulai bekerja. Ia tidak bisa meninggalkan mereka tergeletak begitu saja. Di halaman belakang kediaman utama, tempat dulu ia berlatih jurus pedang, Ye Fan menggali tanah. Ia menggunakan sekop yang ia temukan dari gudang yang tidak terbakar.
Satu per satu, ia mengangkut dan menguburkan mereka. Ia menguburkan para tetua, para murid, dan akhirnya, ia meletakkan tubuh kedua orang tuanya, Ye Zhang dan Xuan Yi, bersebelahan di lubang kubur yang paling besar dan dalam. Ia bekerja tanpa henti, dari pagi hingga matahari tepat berada di atas kepala, hingga siang hari tiba.
Ketika gundukan tanah terakhir terbentuk, Ye Fan terduduk di samping gundukan itu, tubuhnya penuh lumpur dan darah kering.
Ia menundukkan kepalanya, suaranya parau, namun janji yang ia ucapkan begitu kuat hingga mengguncang jiwa:
"Ayah ... Ibu ... Kalian mengorbankan segalanya untukku. Mulai hari ini, aku, Ye Fan, bukan lagi anak berbakat Klan Ye. Aku adalah iblis yang hidup hanya untuk satu tujuan."
Ye Fan memejamkan mata, wajahnya keras.
"Aku bersumpah demi langit dan bumi. Aku akan menembus semua delapan Ranah Pendekar. Aku akan menemukan para pendekar Jubah Hitam itu, siapa pun di belakang mereka. Dan aku akan membawa kembali Pedang Giok Langit."
Aku akan membalas dendam atas kehancuran Klan Ye! Aku akan membunuh mereka semua!
...
Setelah menguburkan keluarganya dan mengucapkan sumpah balas dendam, Ye Fan memaksa tubuhnya yang sakit untuk bangkit. Masih ada satu tugas yang harus ia selesaikan sebelum meninggalkan tempat ini selamanya: mengumpulkan perbekalan.
Ia kembali menuju reruntuhan kediaman utama, mencari jalur rahasia menuju Ruang Harta bawah tanah Klan Ye. Ye Fan tahu letaknya, karena sebagai putra Kepala Klan, ia pernah diperlihatkan jalur itu oleh ayahnya. Ruangan itu dirancang agar tahan api dan tersembunyi jauh di bawah fondasi batu.
Sebelum menguburkan Ye Zhang, Ye Fan telah mengambil cincin sederhana yang melingkar di jari ayahnya. Cincin itu adalah kunci ke ruangan harta, sekaligus—yang lebih penting—sebuah Cincin Ruang yang sangat berharga. Klan Ye hanya mampu memiliki satu, dan cincin itu hanya bisa diakses oleh Kepala Klan.
Dengan hati-hati, Ye Fan menemukan lempengan batu yang berfungsi sebagai pintu rahasia. Ia meletakkan cincin ayahnya di sebuah celah tersembunyi, dan seketika, lempengan batu itu bergeser, membuka kegelapan di bawahnya. Aroma dingin, logam, dan kertas kuno langsung menyergap indra Ye Fan.
Ruangan harta itu tidak terlalu besar, tetapi cukup padat. Rak-rak kayu penuh dengan kotak-kotak giok, gulungan kulit, dan tumpukan koin emas yang berkilauan. Pemandangan kekayaan ini, yang dulunya merupakan kebanggaan klan, kini terasa hampa di mata Ye Fan.
"Aku tidak butuh kemewahan, aku hanya butuh kekuatan untuk bertahan," gumamnya dingin.
Ye Fan bergerak cepat dan efisien, hanya mengambil barang-barang yang paling penting untuk perjalanannya. Pertama, ia mengumpulkan semua uang. Di hadapannya terdapat tumpukan koin perak dan emas yang menggunung. Ye Fan mengambil semua koin emas, yang jumlahnya lebih dari seribu koin emas—jumlah yang fantastis, cukup untuk hidup mewah selama bertahun-tahun bagi keluarga biasa. Ia menyimpannya dalam Cincin Ruang ayahnya.
Setelah itu, ia memilih senjata. Pedang Giok Langit telah hilang, dan Ye Fan tidak berani menggunakan pedang yang terlalu mencolok. Ia mengambil tiga bilah pedang baja biasa yang tersimpan rapi, sekadar senjata cadangan yang tidak menarik perhatian.
Fokus utamanya adalah manual teknik. Ia menyisihkan manual bela diri tingkat rendah dan menengah, mencari sesuatu yang bisa ia latih dalam waktu singkat dan tersembunyi. Matanya tertuju pada sebuah gulungan kuno dengan ilustrasi petir yang samar: "Pedang Halilintar."
Pedang Halilintar: Teknik serangan cepat yang menggunakan energi kilat spiritual untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatan tebasan. Cocok untuk pendekar yang mengutamakan kecepatan.
Ye Fan menyimpan manual itu ke dalam Cincin Ruang, bersama dengan beberapa ramuan penyembuh tingkat rendah, dan beberapa set pakaian bersih yang gelap dan tertutup. Cincin Ruang itu, yang kini melingkari jarinya, berisi seluruh warisan Klan Ye.
Setelah membersihkan ruangan harta, Ye Fan menutup pintu batu itu, menyembunyikannya kembali di bawah reruntuhan.
Saat matahari mulai tergelincir, Ye Fan sudah berdiri di gerbang Kota Pelangi. Ia mengenakan pakaian yang benar-benar menutupi identitasnya. Topi jerami baru menutupi wajahnya hingga ke dagu, dan jubah abu-abu polos menyembunyikan siluet tubuhnya yang muda. Ia tampak seperti seorang pendekar pengembara biasa.
Berjalan melalui pusat Kota Pelangi adalah ujian bagi hatinya.
Desas-desus berterbangan di udara seperti lalat di atas bangkai. Di setiap kedai teh dan restoran, para penduduk berbicara tentang satu hal: Keruntuhan Klan Ye.
"Klan Ye? Hanya tersisa abu. Mereka dibakar habis dalam semalam!"
"Aku dengar itu karena pusaka Pedang Giok Langit. Mereka tidak pantas memilikinya."
"Aku dengar Kepala Klan Ye Zhang dan istrinya tewas. Bahkan anak ajaib mereka, Ye Fan, mungkin sudah mati. Klan Ye sudah menjadi sejarah."
Setiap kata adalah tusukan pisau. Para pedagang, penduduk, dan bahkan beberapa murid sekte kecil yang dulu menunduk padanya, kini membicarakannya dengan nada menghina dan gembira. Mereka tidak tahu bahwa "aib klan" itu, yang dianggap mati, sedang berjalan di tengah-tengah mereka.
Ye Fan mengepalkan tangannya di balik jubah, kukunya menusuk telapak tangannya. Dia tidak menoleh, tidak bereaksi. Kemarahan yang membakar di dadanya tidak perlu dilampiaskan melalui kata-kata, tetapi melalui aksi.
Biarkan mereka mencemooh. Biarkan mereka bergosip.
Kalian semua yang meremehkan, suatu hari nanti akan gemetar mendengar namaku.
Ia keluar dari Kota Pelangi tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Matanya menatap ke satu arah: cakrawala Barat Daya.
Tujuannya adalah Pegunungan Binatang Buas.
Pegunungan itu adalah wilayah yang luas dan berbahaya, dipenuhi oleh binatang buas ajaib yang memiliki Inti Jiwa di dalam tubuh mereka—sumber daya vital untuk kultivasi, penempaan pil, dan pertukaran mata uang di dunia persilatan.
Bagi Ye Fan, tempat itu adalah sekolah baru, tempat pelatihannya, dan tempat di mana ia bisa berburu inti jiwa untuk membiayai jalannya menuju kekuatan. Di sana, di tengah bahaya, ia akan menempa dirinya sendiri.
Aku akan kembali. Dan saat aku kembali, seluruh Kota Pelangi akan gemetar mendengar namaku.
Perjalanan dari Kota Pelangi menuju Pegunungan Binatang Buas memakan waktu beberapa hari. Dengan uang tunai yang melimpah dari warisan klan, Ye Fan membeli seekor kuda perjalanan yang kuat di pasar gelap perbatasan kota. Ia bergerak tanpa tergesa-gesa namun tanpa berhenti, menyatu dengan para pedagang dan pengembara biasa yang menuju wilayah perbatasan.
Setiap malam di penginapan kumuh atau setiap kali ia berkemah di hutan pinggir jalan, pikiran Ye Fan hanya dipenuhi dengan peta Ranah Pendekar—Murid, Perunggu, Perak, Emas, Ahli, Naga, Suci, Dewa—dan wajah Ayah serta Ibunya.
Dendam telah menempanya menjadi batu yang dingin.
Pada hari keempat perjalanannya, ketika ia melintasi jalan pegunungan yang berkelok-kelok, diapit tebing dan jurang, bahaya yang ia cari datang.
Tiba-tiba, suara kuda meringkik keras, dan kayu-kayu tebal dibentangkan melintangi jalan, menghalangi lajunya. Dari balik pepohonan dan batu-batu besar, muncul sekitar delapan orang pria berwajah keras dengan senjata tumpul dan kapak berkarat. Mereka adalah bandit gunung yang mengincar harta para pedagang.
"Hentikan kudamu, anak muda! Serahkan semua yang kau miliki dan kami akan membiarkanmu pergi dengan pakaian di punggungmu!" teriak pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan luka di wajahnya, memegang kapak pertempuran yang berat.
Ye Fan, yang mengenakan jubah abu-abu dan topi jerami, tidak berkata apa-apa. Ia hanya menarik tali kekang kudanya, menahannya agar tidak panik.
Pemimpin bandit itu tertawa sinis, melihat penampilannya yang kecil dan tertutup. "Berani diam? Kau pikir kau siapa? Kau anak klan besar yang kabur? Ayo, cepat—"
Ye Fan mengabaikan ancaman itu. Matanya menyipit saat ia merasakan aura dari pemimpin bandit. Aura itu lemah, hampir tak terlihat, tetapi jelas ada.
Pendekar Murid Tahap Awal.
Pemimpin bandit itu adalah seorang Pendekar Murid, tingkatan kultivasi paling rendah. Sedangkan sisa anggotanya hanyalah orang biasa dengan kekuatan fisik yang sedikit di atas rata-rata. Ye Fan, seorang Pendekar Perak Tahap Menengah yang terluka secara mental, berada dua ranah di atas pemimpin mereka.
Ye Fan bisa saja mengeluarkan pedang baja miliknya dan menyelesaikan ini dalam satu detik. Namun, ia tidak mau menarik perhatian. Menggunakan pedang berarti menggunakan kekuatan secara mencolok, dan ia harus berhati-hati agar jejaknya tidak terdeteksi oleh para Jubah Hitam yang sebelumnya membinasakan Klan Ye.
Tidak perlu pedang untuk berurusan dengan sampah.
"Serang dia! Ambil kudanya!" perintah pemimpin bandit itu, kesal karena diabaikan.
Tiga bandit pertama menerjang maju dengan teriakan.
Ye Fan melompat dari kudanya. Ia tidak menggunakan Pedang Halilintar atau teknik tingkat tinggi lainnya. Ia hanya mengandalkan gerakan dasar yang cepat dan sedikit dorongan tenaga dalam untuk mempercepat pergerakannya.
"Jurus Meringankan tubuh!"
Ye Fan berputar seperti daun yang tertiup angin. Ia menghindari serangan kapak yang lambat dengan mudah, gerakan tubuhnya sangat lincah, sisa dari pelatihan intensif di Klan Ye.
Ketika bandit pertama melewatinya, Ye Fan mengayunkan tinjunya ke tulang rusuk bandit itu—bukan dengan kekuatan penuhnya, hanya dengan kekuatan fisik murni yang ditingkatkan oleh presisi seorang Pendekar Perak.
Krak!
Suara tulang retak yang teredam terdengar. Bandit itu menjerit, terlempar ke belakang, langsung tak sadarkan diri.
Bandit kedua yang memegang tombak berkarat mencoba menusuk. Ye Fan menunduk di bawah ujung tombak, lalu dengan telapak tangan terbuka, ia menampar titik tekan di leher bandit itu.
"Serangan Titik Tekan!"
Ia menggunakan sedikit Tenaga Dalam yang nyaris tak terlihat, hanya cukup untuk melumpuhkan. Energi kecil itu bagaikan jarum yang menusuk saraf. Bandit itu ambruk, mata terbelalak, lumpuh sesaat.
Pemimpin bandit, sang Pendekar Murid, terkejut melihat rekan-rekannya dilumpuhkan begitu mudah tanpa senjata.
"Kau ... Kau ternyata seorang Pendekar! Jangan berpura-pura!" Pemimpin itu mengayunkan kapaknya dengan kekuatan tenaga dalam yang baru terbentuk. Meskipun lemah, itu lebih berbahaya dari orang biasa.
Ye Fan akhirnya memberikan sedikit perhatian. Ia menghadapi serangan kapak yang dipenuhi energi. Ye Fan tidak mundur.
Ia menahan kapak dengan telapak tangannya yang disilangkan. Pada saat benturan, ia melepaskan sepersepuluh dari kekuatan Tenaga Dalam Pendekar Perak miliknya ke lengan bandit itu.
"Jurus Tinju Besi!"
Boom!
Meskipun tanpa suara keras, kekuatan tersembunyi itu menghantam lengan pemimpin bandit seperti palu godam. Tulang di lengan pemimpin bandit itu berderak, dan kapak berat itu mental dari genggamannya. Rasa sakitnya luar biasa, membuat pemimpin bandit itu menjerit sambil memegangi lengannya.
Ye Fan melangkah maju, tangannya mencengkeram tenggorokan pemimpin bandit itu. Matanya dingin, memancarkan kedinginan yang berasal dari neraka yang baru saja ia tinggalkan.
"Aku bukan pendekar yang kau kenal," desis Ye Fan, suaranya pelan dan mengancam. "Pilih. Mati sekarang, atau hidup dalam ketakutan."
Pemimpin bandit itu, merasakan aura kematian dari mata Ye Fan, segera ambruk. "Ampun! Ampun! Kami tidak akan pernah lagi berani menghalangi jalan Tuan!"
Ye Fan melemparnya ke tanah seperti karung. Ia tidak tertarik membunuh, kecuali itu adalah bagian dari dendamnya. Ia hanya menginginkan ketenangan.
Ia mengambil semua kantong uang dan ransum dari bandit-bandit yang tergeletak, membuang senjata mereka ke jurang. Ia mengambil kuda terbaik milik bandit untuk membawa perbekalan tambahan, meninggalkan kuda lamanya yang kelelahan.
Tanpa menoleh, Ye Fan melanjutkan perjalanannya. Insiden itu hanyalah pengingat bahwa di dunia persilatan, kekuatan adalah satu-satunya hukum.
Pegunungan Binatang Buas ... Hanya di sana aku bisa tumbuh tanpa gangguan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!