Indonesia
NovelToon NovelToon

Queen Mafia Nel Mondo Di Beastman

Sinopsis

Pada usia 70 tahun, Fuxin, sang Ketua kelompok dari salah satu geng kecil di Tiongkok, akhirnya menghembuskan napas terakhir. Ia tidak mati karena perang, racun, atau tembakan musuh. Ia hanya… habis masa pakainya.

Namun begitu jiwanya sampai di gerbang akhirat, Fuxin langsung menghentakkan kaki.

“Aku tidak terima! Kenapa harus ke neraka?! Aku tidak pernah menyiksa orang! Paling hanya menagih hutang dengan sopan!”

Yang di maksud dengan sopan adalah meninju dengan membabi buta jika tidak mau membayar, kecuali nenek-nenek dan perempuan lemah. Semuanya dia hajar jika berani tidak bayar utang, atau bahkan mematahkan lengan orang yang lebih galak darinya jika di tagih utang.

Kakek Langit—yang sudah sangat lelah berdebat dengan orang mati hanya menghela napas dengan lelah. Dia akan berbicara namun teringat sesuatu dan akhirnya memiliki ide.

“Baiklah, kalau kau merasa tidak pantas masuk neraka, buktikan dengan melakukan sebuah misi." Ucap kakek langit.

"Pergilah ke dunia Beastman dan cegah kepunahan mereka. Aku berikan kau Sistem Reproduksi. Tugasmu sederhana: lahirkan banyak keturunan.”

Tugas Kakek langit, yang sebenarnya dunia yang di tugaskan untuk nya adalah dunia yang sudah mau hancur karena kurang di urus oleh kakek langit. Namun Kakek langit ingin bertaruh kepada calon penghuni neraka ini, siapa tahu bisa membantu tugas nya.

"Jika kau berhasil membuat dunia itu terhenti dari kepunahan, maka aku akan membebaskan mu dari neraka dan mengabulkan satu permintaan mu. Bagaimana?"

Mata Fuxin langsung berbinar.

“Hah? Tinggal bikin anak? Ini sih pekerjaanku sejak muda, Sugar Mommy bersertifikat!"

Kakek langit menyunggingkan senyum nya, lalu dalam sekejap, jiwa Fuxin ditarik ke dunia Beastman. Dan begitu membuka mata…

Beastman jantan tinggi, kokoh, berotot, dan berwajah tampan berseliweran di depan mata.

Fuxin terdiam.

Mulutnya sedikit terbuka.

“Ini surga?”

Ia langsung memeluk seekor Beastman dengan telinga rubah.

“Kamu imuuut sekaliiiii! Bulu dan kupingmu lembuuut! Aaaa!”

Wajah si jantan muda langsung merah.

“K-Kakak… Aku belum dewasa!”

Di dalam kepalanya, suara sistem menjerit.

[ Tuan rumah! Fokus pada misi! Jangan langsung mengoleksi suami! ]

Fuxin. “Kamu pikir aku sedang apa? Ini semua demi misi melahirkan keturunan. Lihat? Profesional!”

[…]

Sistem menghela napas panjang.

Entah Kakek Langit terlalu tepat memilih host…

Atau perempuan ini memang agak eror dari stelan pabrik nya.

Tapi ya sudahlah.

Yang penting… dia sangat bersedia bereproduksi!

Dunia Beastman yang di masuki Fuxin sejatinya seperti dunia Novel yang memiliki seorang tokoh utama, yaitu seorang gadis cantik dari suku kelinci, pintar, berhati lembut, dan memiliki aura protagonis sejak lahir.

Menurut takdir asli, dialah yang akan menuntun dunia menuju keseimbangan.

Namun pada hari kedatangan Fuxin… Ada satu hal kecil yang terjadi di luar rencana.

Raga sang gadis kelinci itu—yang seharusnya diisi jiwa protagonis sejati— tiba-tiba digantikan oleh jiwa asing!

Seorang nona muda yang angkuh, sombong, dan manja, entah dari dunia mana.

Sistem Fuxin langsung panik membaca laporan semesta.

[ Bahaya: tokoh utama dunia ini telah dirasuki jiwa lain. Mohon tuan host jangan mengusik tokoh utama gadungan itu. Fokus saja pada misi. Terutama jangan dekat-dekat dengan jantan yang seharusnya menjadi pasangan tokoh utama. ]

Fuxin mengibaskan tangan santai.

“Hanya perempuan sombong dari suku kelinci? Tenang saja! Jantannya juga bukan tipeku. Aku ini punya selera tinggi~”

[ ... ]

[ Sistem meragukan itu. ]

Sistem tahu, tuan host memiliki bakat alami yaitu menggeser plot cerita ke arah yang lebih kacau.

Karena begitu Fuxin memijakkan kaki di dunia ini, pandangannya langsung terpaku pada para jantan berwajah tampan, mata tajam, dan aura berbahaya.

Bahkan jantan antagonis paling dibenci pembaca pun ikut masuk radar.

Sistem mulai gelisah.

[ Tuan host... Kalau kamu tiba-tiba diserang oleh jantan antagonis itu, aku tidak mau bantu lho. Aku biarkan saja kamu selesai dan langsung kembali ke neraka. ]

Fuxin tersenyum tanpa dosa.

“Kalau sampai dia menyerang ku , itu pasti karena dia malu-malu. Jangan khawatir Sistem sayang, aku profesional dalam mengurus jantan nakal.”

Fuxin sangat yakin, laki-laki-- maksudnya jantan dunia ini banyak yang polos dan pemalu. Sekali saja kedip, muka mereka sudah memerah.

Sistem menutup muka virtualnya.

[ ... ]

[Kakek Langit, aku ingin refund host]

Bab 1 Reinkarnasi yang Tidak Elegan ╥﹏╥

Setelah Kakek Langit menjentikkan jarinya—tanpa salam, tanpa hitung mundur, tanpa sopan santun elemen perpisahan—jiwa Fuxin langsung mental seperti kentang yang dilempar ke udara. Berputar-putar, jatuh bebas, dan plak!

Ia menabrak sesuatu yang… lembut?

Fuxin mendapati dirinya melayang di dalam sebuah ruang putih luas. Tidak ada lantai, tidak ada langit, tidak ada pintu. Ruang itu tampak seperti aplikasi yang gagal memuat tekstur.

“Eh? Ini surga? Mana para beastman tampan nya?” Fuxin celingukan.

Sebuah panel biru transparan muncul tepat di depan mukanya.

[ Selamat datang, Tuan Host. Anda memasuki Ruang Sistem Reproduksi. ]

Fuxin menepuk dadanya. “Syukurlah. Kupikir aku jatuh ke tempat laundry arwah.”

Panel berikutnya muncul.

[ Tuan, harap memilih wujud binatang terlebih dahulu. ]

“Oho… jadi aku bisa pilih wujudku sendiri?” Mata Fuxin langsung berkilat seperti sponsor diskon akhir tahun.

Di depannya muncul deretan hologram hewan: Serigala, Harimau, Kuda, Kelinci, Ular, Kucing, Rubah, bahkan Komodo.

Namun Fuxin hanya melirik sekilas. Begitu matanya menangkap dua pilihan tertentu, ia langsung berhenti.

“Kucing! Rubah! Ya ampun lucu sekaliiii…”

Ia memandang hologram kucing berbulu panjang. “Aduh yang ini imut, elegan, kayak aku pas muda.”

Lalu ia melirik hologram rubah ekor panjang. “Yang ini seksi. Aura nakal. Cocok untuk pekerjaanku—ehm—masa mudaku.”

“Sistem, aku pilih dua-duanya!”

Hologram berguncang keras, seperti menolak keinginan yang terlalu absurd.

[ Jangan terlalu serakah, Tuan. Hanya satu wujud diperbolehkan. ]

“Tidak bisa digabung jadi Kucubah? Atau Rubucing? Kalau aku bayar pakai jasa masa muda, mau?” Fuxin mengedip menggoda.

Panel sistem berkedip-kedip, seperti mengalami serangan migraine.

[ Tidak. ]

Fuxin mendesah panjang, lalu menatap kembali dua hewan favoritnya.

Setelah berpikir selama kurang lebih tiga detik—batas konsentrasi maksimalnya—dia akhirnya menepuk hologram rubah.

“Baiklah. Rubah. Karena ekornya banyak, bulunya lembut, dan tampangnya menjanjikan popularitas.”

[ Wujud dipilih: RUBAH. ]

[ Memulai pencarian inang yang sesuai… ]

Hologram berganti menjadi layar pencarian. Bar loading berjalan lambat—menyiksa, hampir seperti antrian BPJS.

[ Menganalisis kondisi dunia… ]

[ Mencari inang kompatibel… ]

[ Sifat inang sesuai… ]

[ Dosa inang sesuai… ]

“Bentar.” Fuxin mengangkat alis. “Dosa inang sesuai itu maksudnya apa? Kau menyamakan aku dengan calon tubuh bar—"

Sebelum ia sempat menyelesaikan protesnya, cahaya putih menyilaukan memenuhi seluruh ruang. Tubuh Fuxin terseret seperti sedang ditarik vacuum cleaner kosmik.

“A—Tunggu duluuuuuuu—!”

[ TRANSFER BERHASIL ]

Saat Fuxin membuka mata, angin dingin menerpa wajahnya.

Tidak. Bukan angin.

Itu bau.

Bau… busuk… agak apek… bercampur tanah… dan rumput kering.

Fuxin berkedip. Ia melihat sebuah telapak tangan—kotor, berlumur tanah, kuku panjang tak terawat.

"..."

"Sistem. Tolong katakan ini bukan tanganku."

[ Mengonfirmasi. Itu tangan Anda—atau lebih tepatnya, milik inang Anda. ]

Fuxin langsung bangkit dan melihat bayangannya pada genangan air di dekat kakinya.

Dan ia beku.

Di sana, ia melihat seorang gadis rubah muda—dengan kulit kotor tanah, wajah belepotan tanah, rambut acak, dan mata panda karena kurang tidur. Bahkan telinganya pun merunduk lesu, seolah malas menjadi bagian tubuhnya.

Fuxin menjerit.

“INANG MACAM APA INI?!”

Sistem menjawab dengan nada netral yang tidak menolong sama sekali:

[ Identitas Inang: Putri Kepala Suku Rubah. ]

[ Status: Baru Dewasa / Baru Menjalani Upacara Kedewasaan ]

[ Reputasi: Buruk, Cukup Buruk, Nakal ]

[ Deskripsi tambahan: Inang dikenal pemalas, suka berguling di lumpur, malas mandi, introvert tapi badung, dan memiliki catatan memalukan seperti mencuri makanan tetangga. ]

Fuxin terdiam lama.

“Kau memilih tubuh seorang—gadis rubah barbar?”

Sistem batuk virtual.

[ Data menunjukkan kesesuaian paling tinggi antara Anda dan inang ini. Nilai dosa, perilaku, dan kecenderungan kekacauan sangat serasi. ]

“SERASI PALANYA!”

[ Tuan Host, mohon tenang. Ini hanya tubuh. Masih bisa dirapikan... Mungkin. ]

Dengan lemas, Fuxin jatuh terduduk. Ia menatap ekor rubah yang seharusnya indah… kini kusut seperti kain pel. Juga, bagaimana menghilangkan ekornya, di rasa-rasa, rasanya kurang nyaman saat duduk.

“Tugasku menyelamatkan dunia beastman… tapi tubuhku justru kandidat penghuni episode Suku Paling Jorok…”

Sistem menimpali datar:

[ Harap beradaptasi. Dalam tiga… dua… satu… ]

Di kejauhan, terdengar suara-suara banyak orang mendekat.

“TEMUKAN PUTRI KEPALA SUKU!"

“Dia kabur lagi!”

“Kepala suku sangat marah!”

Fuxin membeku.

Sistem bersuara lembut.

[ Selamat datang di kehidupan baru Anda, Tuan Host. Setidaknya identitas mu putri kepala suku~ ]

Fuxin hanya bisa tersenyum kaku.

“…Kakek Langit, tunggu aku. Aku akan pastikan kau menyesal mengirimku ke sini.”

Fuxin belum sempat membersihkan wajah—ketika beberapa Beastman rubah menyeretnya pulang sambil menggerutu.

“Putri benar-benar kabur lagi…”

“Sudah dewasa tapi kelakuan masih seperti anak rubah umur tiga bulan.”

“Lihat itu rambutnya! Kusut seperti sarang burung gagak!”

Fuxin berusaha tetap tenang, meskipun sebenarnya ingin memelintir kuping mereka satu-satu.

“Aku bisa jalan sendiri, tahu!”

“Tolong jangan kabur lagi, Putri…”

Fuxin mendecih. “Tenang saja. Sekarang aku bukan orang yang sama.”

••

Setibanya mereka di gua besar kepala suku, Fuxin terpaku.

Gua itu indah, dikelilingi formasi kristal alam, dengan puluhan kulit hewan menggantung sebagai dekorasi. Jejak kekuatan kepala suku tampak di mana-mana: aura dominan, simbol pemimpin, dan aroma maskulinitas kuat yang bahkan Fuxin bisa rasakan.

Begitu ia masuk, suara berat bergemuruh.

“FUXIN!”

Fuxin mengangkat wajah… Lalu melihat seorang Beastman rubah dewasa, berotot, tampan, bermata tajam, dan berwajah dingin. Aura pemimpin terpancar dari setiap pori-pori kulit nya.

Ayahnya.

Kepala Suku Rubah.

Dan tampang itu…

Ya ampun, kalau bukan ayahnya, Fuxin pasti sudah menggoda.

Sayang sekali.

Kepala suku berjalan mendekat dengan langkah berat.

“Upacara kedewasaanmu baru selesai pagi ini.” Suaranya menggelegar. “Semua betina seusiamu sudah sibuk mencari jantan yang tepat untuk kawin pertama.”

Wajah Fuxin datar.

Ayahnya mengerutkan kening lebih dalam. “Tapi kamu?! Kamu malah berguling di lumpur sampai tidak bisa dikenali! Di mana harga diri seorang betina dari keluarga kepala suku?!”

Fuxin berkedip malas.

“Lumpurnya enak, mungkin?”

Terdengar suara Beastman yang mengantar Fuxin menahan tawa.

Ayahnya menepuk dahinya sekuat tenaga.

“Fuxin… Fuxin… Berpenampilan buruk, kelakuan buruk, reputasi buruk… Apa kamu tidak malu? Bahkan Fulong pun tidak mau mengakuimu sebagai adiknya!”

Seketika, informasi dari ingatan tubuh asli menyeruak masuk ke kepala Fuxin.

Fulong — Kakak laki-laki, kuat, tampan, sangat menjanjikan, tapi…

Tidak pernah dekat dengan adik betina-nya.

Setelah ibu mereka meninggal, tidak ada yang mengurus si adik, dan sang ayah terlalu sibuk memimpin suku.

Fuxin mendengus kecil.

“Wajar saja tubuh ini berkembang jadi… begini.” Ia menunjuk rambut kusutnya.

Ayahnya mendesis. “Dan satu lagi! Kau belum membangkitkan bakatmu! Bagaimana bisa seorang betina dewasa tidak menunjukkan tanda-tanda bakat?! Tidak akan ada jantan yang mau dengan mu jika begitu!”

Fuxin mengangkat tangan. “Bakat apa lagi ini?”

Sistem muncul dalam pikirannya tepat sebelum ayahnya meledak kembali.

[ Jenis Bakat ]

[ Bakat Jantan diklasifikasikan:

Ungu → Nila→ Biru → Hijau → Kuning → Jingga → Merah ]

[ Saat ini, jantan dengan bakat tertinggi hanya mencapai level Jingga. Merah belum pernah ditemukan. ]

Fuxin mengangguk-angguk. “Berarti Merah itu kayak Ultra Rare ya.”

[ Betina dinilai dari: Kesuburan Rendah → Menengah → Tinggi ]

[ Setiap kesuburan betina memiliki tiga klasifikasi, yaitu Tembaga, Perak dan Emas ]

“Kenapa penilaian kami seperti telur ayam ras?”

[ Karena betina adalah pilar reproduksi. ]

“…Baiklah.”

Tiba-tiba panel lain muncul.

[ Data Inang ]

[ Nama: Fuxin ]

[ Jenis Kelamin: Betina ]

[ Umur: 15 Tahun / Baru Dewasa ]

[ Ras: Rubah Ekor Sembilan ]

[ Penampilan: 20 (Buruk/Jelek) ]

[ Kesehatan: 35 (Lemah) ]

[ Bakat: Belum Terbangun ]

[ Jantan : - ]

Fuxin menegang.

“20?! Kenapa bukan 200? Kamu benar-benar tega!”

[ Tuan, skala maksimal hanya 100. ]

“…Oh. Tetap saja sakit.”

Ayahnya masih marah.

“Dan apa gunanya ritual kedewasaan kalau kau bahkan tidak bisa menampilkan bentuk rubahmu?! Kau ini putri kepala suku! Anak rubah lain sudah bisa berubah bentuk ke wujud beast mereka, kau bahkan cuma memanggil—apa itu tadi? Kuping yang tidak simetris?! Dan ekor jelek ini?!”

Fuxin mengangkat tangan protes. “Jangan menghina fisik dooong, aku ka---“

BRAK!

Ayahnya memukul meja batu.

“Mulai hari ini, kau harus berubah! Kau betina dewasa, kau harus bersiap mencari pasangan, membangkitkan bakat, dan berhenti menjadi… menjadi…”

Ia menatap Fuxin dari atas sampai bawah.

“—seonggok lumpur berbulu.”

Semua orang di dalam gua menunduk, menahan tawa.

Fuxin menghela napas panjang.

“Sistem,” bisiknya dalam hati. “Tolong bilang padaku, apakah aku bisa meng-upgrade tubuh ini?”

[ Bisa. Dengan usaha keras, mandi teratur, perawatan, nutrisi, dan… kedisiplinan. ]

“…Oke, lalu yang realistis?”

[ Pilih jantan kuat dan transfer energi melalui reproduksi. ]

Fuxin langsung berdiri.

“AYAH!” Serunya tiba-tiba.

Ayahnya mengangkat alis.

“Aku akan berubah. Aku akan mengaktifkan bakatku. Dan aku akan—“

Sistem memotong cepat dalam pikirannya.

[ Tuan! Jangan bilang mau cari jantan langsung! ] Sistem berkata dengan memperingatkan, meskipun itu tugas hostnya. Tapi hostnya ini tidak lihat situasi dan atmosfer.

“—mencari jantan terbaik!”

Sistem: […]

Ayahnya: beku.

Para pengawal: terbatuk-batuk.

Udara dalam gua membeku selama tiga detik.

Kemudian…

Kepala suku menutup mata dalam-dalam, seakan menyesal tidak punya anak betina lain.

“…Keluar dari gua ini. Sekarang.”

Fuxin mengangguk riang sambil mengibaskan ekornya yang kusut seperti sapu bekas.

Baiklah.

Dia, Fuxin dari dunia lama…

Akan mengubah hidup si Fuxin dari dunia ini.

Dengan cara paling profesional yang ia kuasai.

Bab 2 Kerak Lumpur Sirna Sudah (ʘᴗʘ )

Fuxin melangkah keluar dari gua ayahnya, ekor kusutnya bergoyang lesu di belakang.

“Ya ampun, aku tidak sabar ingin mandi…” Gumamnya sambil menahan aroma dan lumpur lengket yang menempel di seluruh tubuhnya.

Rencana sederhananya, sungai terdekat, air jernih, mandi cepat, dan merapikan bulu agar lebih lumayan.

Namun baru lima langkah keluar dari gua, suara berat terdengar dari arah pepohonan.

“Fuxin…”

Fuxin berhenti. Dari balik bayangan pohon muncul Beastman rubah jantan—tinggi, berotot, ekor panjang, mata tajam, dan aura dingin yang membuat udara sekitar terasa tegang.

Fuxin mengenali sosok itu. Fulong, kakaknya.

Fuxin tersenyum, dia ingat meskipun Kakak nya dingin namun terkadang Kakak nya masih menunjukkan kepedulian. Namun karena pemilik tubuh sendiri yang suka bisu jika di ajak bicara oleh Kakak nya dan kadang menghindar, maka hubungan mereka pun renggang.

“Fulong kakak~” Fuxin melangkah maju, ekornya berkibar liar sembari tersenyum jelek, walaupun sebenarnya mencoba tampil cantik.

Fulong mengerutkan kening. Nada suaranya dingin seperti biasa, tapi ada garis kebingungan di matanya.

“Biasanya kau diam. Bahkan kalau diajak bicara, kau hanya menatap seperti orang bisu. Sekarang kau… Bicara lancar kepadaku, bahkan dengan nada seperti ini…”

Fuxin tersenyum lebar.

“Aku cuma ingin ngobrol, kakak. Lagipula, hari ini aku ingin ke sungai—mungkin sekalian merapikan bulu.”

Fulong menatap tubuh adiknya yang penuh lumpur, ekor yang acak-acakan, dan wajah yang… tetap berantakan tapi penuh percaya diri.

Fuxin mengedip, mencondongkan badan sedikit.

“Kakak, jangan khawatir. Aku akan cepat saja ke sungai. Tidak akan bikin masalah.”

Fulong menahan napas sebentar, menatapnya dingin tapi ada rasa bersahabat. "Mundurlah, kau bau" ucapnya dingin.

Fuxin mengerutkan kening dan mencebik kan bibirnya, sebelum dia sempat membalas. Fulong sudah lebih dulu menghilang dari pandangan nya.

"Shiba-ll sheky--aa! " Umpat nya dengan mata nanar, nada pelan sambil tersenyum.

Dengan itu, Fuxin berlari ke arah sungai, lumpur masih menempel di tubuhnya, tapi matanya bersinar penuh semangat.

Fulong belum pergi, dia menatap punggung adiknya, meskipun wajahnya terlihat datar, namun sorot matanya melembut menatap adiknya.

Fuxin menatap jauh ke arah sungai yang deras.

Airnya mengalir dengan kecepatan menakutkan, ombak kecil berdesir, dan bebatuan licin menonjol di sana-sini. Aroma segar air sungai memenuhi udara… Tapi ada sesuatu yang salah.

Ia menekuk ekor dan mendengus.

“Sepertinya… kalau aku langsung terjun ke sana, aku bisa terbawa arus dan hilang. Tidak bisa jadi profesional kalau begitu.”

Ia menatap sekeliling, kemudian berjalan pelan sambil menenangkan diri. Fuxin memutuskan satu hal-- harus menelusuri ingatan tubuh asli.

Ia menutup mata sejenak, membayangkan rutinitas tubuh inang sebelumnya. Segera teringat adegan-adegan sederhana.

Mengambil ember dari gua, menyiapkan air di tepi sungai.

Menggosok badan dengan daun-daun lembut.

Berhati-hati dengan arus sungai, karena tubuh ini ringan dan kurang kuat berenang.

Melompat di area dangkal dulu, baru perlahan masuk ke air lebih dalam.

Fuxin mengangguk pelan. “Oke, versi profesional. Tidak boleh gegabah.”

Ia melangkah mengikuti memori tubuh asli, kaki menapak tanah, hati-hati menyeberangi batu-batu licin di pinggir sungai.

Saat ia sampai di area yang relatif aman, mata Fuxin menangkap beberapa sosok yang familiar.

“Oh… iya.” Fuxin melotot.

Di depannya berdiri beberapa betina rubah muda, berpenampilan bersih, rapi, dan terlihat cantik biasa. Dengan di kelilingi jantan-jantan mereka.

Fuxin tersenyum pahit.

Mereka adalah orang-orang yang membuat tubuh asli kabur setelah upacara kedewasaan.

Tubuh inang ini dulu lari setelah upacara kedewasaan bukan karena ingin main lumpur semata—tapi kalah mental dan ucapan. Betina-betina itu pandai menekan lawan bicara, membuat tubuh asli merasa tidak mampu bersaing, dan memaksa lari sebelum sempat mencari jantan.

Fuxin melirik mereka satu per satu.

“Oh, jadi ini penyebab reputasi burukmu, Fuxin,” gumamnya pelan, menatap tubuh yang dipakai saat ini.

Author said: Tidak juga, kamu juga terkenal suka mencuri makanan orang kalo lagi gabut.

Ekor gemetar sedikit, tapi senyum nakal muncul di wajahnya.

Ia mendekat sambil menahan diri, tapi suara dalam hati berdesis: “Profesional tetap profesional. Tidak boleh ribut, tapi… jangan biarkan mereka lupakan aku begitu saja.”

Salah satu betina menatap Fuxin, tersenyum sinis.

“Lari lagi, Fuxin? Di suku rubah ini, kau memang betina yang berbeda dari yang lain.”

Fuxin tidak terprovokasi, malah dia mencondongkan tubuh dengan senyum tipis menantang.

“Beda? Iya, tentu saja. Aku ini spesial eksklusif, tidak seperti kalian yang pasaran!"

"Kamu!" Meski tidak mengerti kata-katanya, namun melihat wajah hitam berlumpur yang terlihat memprovokasi, membuat nya merasa Fuxin sedang meremehkan nya.

Mereka merasa marah namun menyadari sesuatu dan terdiam sejenak. Ada aura aneh yang keluar dari tubuh Fuxin sekarang—tidak lagi bar-bar, bodoh dan panikan, tapi penuh percaya diri dan terlihat... Chill! Bahkan betina yang biasanya mengintimidasi pun terlihat sedikit terkejut.

Fuxin menatap sungai yang aman di dekatnya, menarik napas panjang, dan mengibaskan ekor.

“Oke, area aman sudah ketemu, wajah-wajah lama sudah dikenali. Sekarang, saatnya mandi.”

Namun sebelum melangkah ke air, Fuxin menatap ke arah betina-betina itu.

“Tenang saja, aku tidak akan langsung masuk arus deras seperti dulu. Tapi kalian… ingat baik-baik, aku akan membuat tubuh ini layak disebut ‘Putri Kepala Suku’.”

Betina-betina itu saling berpandangan, tampak bingung, tapi tidak ada yang berani mendekat setelah melihat kepercayaan diri nya dan kata 'Putri kepala suku'

Fuxin tersenyum puas.

“Langkah pertama selesai, tidak langsung terbawa arus. Langkah kedua, menyapa wajah lama dengan profesional dan mulai, versi baru Fuxin!”

Ekor kusutnya bergoyang, lumpur di kaki mulai terhapus perlahan, dan sebuah aura percaya diri baru muncul dari tubuh yang dulu dianggap buruk dan lemah.

Alasan mengapa pemilik tubuh ini jarang bahkan hampir tidak pernah mandi, karena pernah di kerjai, pemilik tubuh ini emang agak bodoh, jadi bisa saja di kerjain hingga melompat ke sungai deras. Alhasil insiden itu meninggalkan ketakutan di hatinya hingga membuat nya tidak mau mandi di sungai lagi, jadi mandi pun hanya jika hujan.

Fuxin tidak dulu mau ber kontraversi dengan para betina itu, karena mereka bukan prioritas profesionalitas tugas nya. Selagi mereka tidak mengganggu dirinya lagi, maka abaikan saja. Namun jika tetap menganggu, maka niscaya dia akan membalas dendam cara paling kalem dan profesional.

Fuxin berjalan ke area batu besar dan mandi di balik batu besar, lalu mulai membuka pakaian nya dan memasukkan seluruh tubuhnya ke air.

Lumpur basah dan lumpur kering sudah menempel di kulitnya selama bertahun-tahun, di gosok saja tidak akan bersih. Hingga dia menggunakan batu yang agak runcing untuk menggosok kerak lumpur di kulit nya, air yang jernih menjadi keruh. Untung saja Fuxin masih pintar, mandi di bagian depan hilir dari tempat para betina itu, sehingga tidak akan kena protes dan bisa mandi dengan nyaman.

"Sistem, apakah kau tidak menyediakan sabun mandi?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!