Aroma kopi hitam menyeruak, beradu mesra dengan wangi roti panggang dan selai stroberi yang baru saja dioleskan. Matahari pagi merayap masuk melalui jendela, memeluk hangat ruang makan yang selalu menjadi pusat semesta Raya. Di sana, di antara hiruk-pikuk bahagia, ada Arlan, suaminya, yang melahap sarapannya dengan senyum mengembang, dan Langit, putra kecil mereka, yang asyik menggambar naga di balik serpihan remah roti.
“Naga ini punya sayap raksasa, Ma! Bisa terbang sampai ke bulan!” seru Langit, mata bulatnya berbinar penuh imajinasi. Usianya baru lima tahun, tapi dunianya sudah seluas angkasa.
Raya tersenyum, mengusap lembut puncak kepala Langit yang berambut ikal. “Wah, hebat sekali. Kalau begitu, kita harus sering-sering latihan terbang, ya?” Ia mencium pipi gembil putranya, merasakan kehangatan yang tak terhingga. Kehangatan ini, kebahagiaan ini, adalah anugerah terindah setelah badai panjang yang pernah melanda hidupnya.
Arlan meletakkan garpu, menatap Raya dengan tatapan penuh cinta yang tak pernah pudar sejak hari pertama mereka bertemu. “Kalian berdua adalah duniaku,” bisiknya, suaranya dalam dan menenangkan. Ia meraih tangan Raya di meja, menggenggamnya erat. “Aku tidak pernah membayangkan kebahagiaan seperti ini bisa ada.”
Raya membalas genggaman itu, jantungnya berdebar lembut. Empat tahun lalu, ketika ia bertemu Arlan, ia hanyalah serpihan. Hatinya hancur berkeping-keping oleh pengkhianatan dan kebohongan. Damar, mantan suaminya, telah meninggalkan luka yang begitu dalam, nyaris merenggut kepercayaannya pada cinta. Namun, Arlan datang. Dengan kesabaran dan ketulusan, Arlan menyatukan kembali kepingan-kepingan itu, membangun sebuah rumah tangga yang kokoh di atas fondasi cinta dan kepercayaan. Langit adalah buah cinta mereka, pelengkap sempurna bagi kehidupan baru Raya.
“Aku juga, Lan. Setiap pagi terbangun melihat kalian berdua, rasanya seperti mimpi,” ucap Raya, matanya berkaca-kaca. Ia merasa begitu beruntung. Setiap detik yang ia habiskan bersama Arlan dan Langit adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati itu ada, nyata, dan bisa diraih.
Langit, yang merasa terabaikan dalam momen romantis orang tuanya, menarik-narik ujung baju Raya. “Mama, nanti kita ke taman? Langit mau lihat burung.”
“Tentu, sayang. Habis ini kita siap-siap, ya,” jawab Raya, senyumnya tak pernah pudar.
Setelah sarapan, Arlan pamit ke kantor. Ciuman di kening Raya, pelukan erat untuk Langit. Rutinitas manis yang selalu membuat Raya merasa aman dan dicintai. Sepeninggal Arlan, Raya dan Langit menghabiskan pagi dengan bercanda, membaca buku cerita, dan akhirnya pergi ke taman. Langit berlari-lari mengejar kupu-kupu, tawa renyahnya mengisi udara. Raya mengawasinya dari bangku taman, merekam setiap detiknya dalam ingatannya. Ini adalah hidup yang ia impikan. Hidup yang bebas dari bayang-bayang masa lalu, dari rasa sakit yang Damar tinggalkan.
Beberapa minggu kemudian, rutinitas manis itu sedikit terusik. Langit mulai batuk-batuk, awalnya ringan, tapi kemudian semakin sering dan dalam. Raya awalnya mengira hanya flu biasa. Ia memberinya obat batuk dan vitamin, memastikan Langit cukup istirahat. Tapi batuknya tak kunjung mereda, bahkan Langit jadi lebih rewel dan nafsu makannya berkurang. Malam hari, suhu tubuhnya mulai naik.
“Sayang, kamu demam,” Raya berbisik, meletakkan punggung tangannya di dahi Langit yang terasa panas. Langit terbatuk-batuk lagi, wajahnya memerah, matanya berlinang.
Keesokan harinya, Raya memutuskan untuk membawa Langit ke dokter anak. Dokter Dian, seorang dokter senior yang sudah lama menjadi langganan mereka, memeriksa Langit dengan saksama. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang samar. “Batuknya sudah berapa lama, Bu Raya? Ada sesak napas?”
“Sudah hampir dua minggu, Dok. Awalnya biasa, tapi dua hari ini makin parah dan demam. Dia juga jadi agak susah napas kalau batuknya kambuh,” jelas Raya, hatinya mulai dipenuhi cemas.
Dokter Dian mengangguk. “Baik. Saya dengar ada sedikit mengi di paru-parunya. Untuk memastikan, saya sarankan kita lakukan tes darah lengkap, rontgen dada, dan… mungkin juga tes alergi. Kita perlu tahu penyebab pastinya agar penanganannya tepat.”
Raya menelan ludah. Tes darah, rontgen… ini terdengar lebih serius dari sekadar flu biasa. “Baik, Dok. Apapun untuk Langit.”
Arlan langsung datang ke rumah sakit begitu Raya menghubunginya. Wajahnya tegang, namun ia berusaha menenangkan Raya. “Jangan khawatir, Raya. Langit pasti baik-baik saja. Dia anak kuat.”
Ketegangan menyelimuti mereka selama menunggu hasil. Langit, yang biasanya ceria, terbaring lemas di ranjang rumah sakit, sesekali terbatuk pelan. Raya tak henti-hentinya mengusap kepala putranya, membisikkan kata-kata penghiburan. Di sudut ruangan, Arlan berdiri, menatap Langit dengan mata sendu. Bagi Arlan, Langit adalah putranya sendiri, darah dagingnya, meskipun mereka tahu bahwa secara biologis, Langit lahir dari rahim Raya setelah pernikahannya dengan Damar. Namun, sejak Arlan menikahi Raya, ia telah mengangkat Langit sebagai anaknya, mencurahkan seluruh cinta dan kasih sayangnya.
Beberapa hari berlalu. Hasil tes darah dan rontgen menunjukkan adanya infeksi di paru-paru Langit, namun bukan infeksi biasa. Ada indikasi ke arah kondisi yang lebih kompleks, semacam autoimun atau kelainan genetik yang membuat tubuhnya sangat rentan. Dokter Dian menjelaskan bahwa mereka perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut, yang lebih spesifik, untuk mengidentifikasi akar masalahnya.
“Mengingat kondisi Langit yang sangat rentan dan respons tubuhnya terhadap pengobatan yang kurang optimal, saya menyarankan untuk melakukan serangkaian tes genetik dan imunologi yang lebih mendalam,” Dokter Dian menjelaskan, sorot matanya serius. “Termasuk, jika memungkinkan, tes DNA untuk memastikan tidak ada kelainan genetik yang diturunkan, atau hal lain yang mungkin memicu sistem imunnya bereaksi berlebihan.”
Raya merasa dunia seakan berputar. Tes DNA? Untuk apa? Ia dan Arlan tidak memiliki riwayat penyakit genetik serius. Ia menatap Arlan, yang juga tampak bingung, namun mengangguk setuju. “Apapun yang terbaik untuk Langit, Dok,” ucap Arlan.
“Ini prosedur standar untuk kasus seperti ini, Bu Raya, Pak Arlan. Hanya untuk menyingkirkan kemungkinan lain. Kita ingin memastikan kita tidak melewatkan apapun demi kesembuhan Langit,” Dokter Dian meyakinkan.
Maka, Raya dan Arlan setuju. Sampel darah Langit diambil lagi, kali ini untuk tes DNA yang lebih komprehensif. Raya mencoba menepis rasa gelisah yang tiba-tiba muncul. Ini hanya prosedur, hanya untuk memastikan. Langit adalah putranya, putranya dan Arlan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Beberapa hari kemudian, ponsel Raya berdering. Nomor rumah sakit. Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia mengangkatnya dengan tangan sedikit gemetar.
“Halo, Dokter Dian?”
“Bu Raya, saya Dokter Dian. Bisakah Anda datang ke rumah sakit sekarang? Ada hal penting yang perlu kita bicarakan mengenai hasil tes Langit.” Suara Dokter Dian terdengar lebih serius dari biasanya, ada nada ragu yang membuat tengkuk Raya merinding.
Raya segera menuju rumah sakit, ditemani Arlan. Sepanjang perjalanan, otaknya dipenuhi skenario terburuk. Apakah penyakit Langit sangat parah? Apakah ada diagnosis yang mengerikan? Ia menggenggam erat tangan Arlan, mencari kekuatan.
Begitu mereka tiba di ruangan Dokter Dian, suasana terasa begitu berat. Dokter Dian duduk di balik mejanya, dengan tumpukan dokumen medis di hadapannya. Ia mengangkat kepalanya, menatap Raya dan Arlan bergantian, sorot matanya penuh simpati, namun juga terlihat jelas ada beban berat di sana.
“Duduklah, Bu Raya, Pak Arlan,” katanya pelan. “Ada kabar yang… cukup mengejutkan mengenai hasil tes Langit.”
Raya merasakan napasnya tertahan. Ia menatap Arlan, yang raut wajahnya juga mengeras. “Ada apa, Dok? Tolong katakan saja.”
Dokter Dian menghela napas panjang, merapikan dokumen di mejanya. Tangannya bergerak pelan, seolah sedang mempersiapkan diri untuk menyampaikan sesuatu yang sangat sulit. Ia menatap lurus ke mata Raya, lalu ke Arlan.
“Bu Raya, Pak Arlan… hasil tes DNA Langit sudah keluar.”
Raya menunggu. Menunggu kalimat berikutnya yang terasa sangat lama datangnya. Ia tahu ini akan mengubah segalanya.
“Dan dari hasil yang kami dapatkan, dengan segala hormat… Langit, bukan anak biologis Anda.”
Raya merasakan seolah seluruh oksigen di ruangan itu lenyap. Kata-kata Dokter Hadi menggantung di udara, dingin dan menusuk, memutarbalikkan semesta yang selama ini ia kenal. Langit… bukan anak biologisnya? Tenggorokannya tercekat. Ia ingin berteriak, ingin membantah, tapi suaranya tersangkut di antara gumpalan ketidakpercayaan yang membanjiri dadanya.
“Apa maksud Dokter?” Suara Arlan yang bergetar memecah keheningan. Arlan, yang selama ini selalu menjadi karang kokohnya, kini terdengar rapuh. Matanya melebar, menatap Dokter Hadi, lalu beralih kepada Raya dengan tatapan tak mengerti, seolah mencari jawaban di sana.
Dokter Hadi menghela napas, gesturnya profesional namun ada sedikit gurat keprihatinan di wajahnya. “Maaf, Bu Raya, Pak Arlan. Kami telah melakukan tiga kali pengujian ulang dengan sampel berbeda untuk memastikan akurasinya. Hasilnya konsisten. Secara genetik, Langit tidak memiliki hubungan darah dengan Bu Raya.”
“Tidak mungkin!” Raya akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski serak dan nyaris tak terdengar. Ia menggeleng-gelengkan kepala, keras, seolah bisa mengguncang kenyataan pahit itu agar hilang. “Langit… Langit anak saya! Saya yang melahirkannya! Saya yang mengandungnya selama sembilan bulan!” Tangannya secara refleks memegang perutnya yang kini rata, seolah mencari jejak kehamilan yang pernah ada di sana.
Dokter Hadi menatapnya dengan lembut. “Kami memahami ini sangat sulit untuk diterima, Bu Raya. Kami tidak mengatakan Anda tidak melahirkan Langit. Hanya saja, secara biologis, genetiknya tidak cocok dengan Anda.”
“Tapi… bagaimana?” Arlan mencondongkan tubuhnya ke meja, raut wajahnya campur aduk antara kebingungan dan kemarahan yang tertahan. “Apa ini mungkin ada kesalahan? Mix-up bayi? Atau… prosedur yang keliru saat fertilisasi?” Ia menoleh ke arah Raya, matanya menyiratkan pertanyaan yang tak berani ia utarakan.
Raya hanya bisa menatap Arlan, bingung. Fertilisasi? Mereka tidak pernah melakukan fertilisasi in vitro. Kehamilan Langit adalah kehamilan alami, hasil cinta mereka yang murni. Atau… Raya terdiam. Kehamilan Langit terjadi setelah ia menikah dengan Damar, mantan suaminya, sebelum ia bertemu Arlan. Tapi Damar… ia bahkan tidak pernah berpikir Damar akan terkait dengan ini.
“Kami sudah melakukan cek silang dengan rekam medis kelahiran, Bu Raya,” jelas Dokter Hadi, seolah membaca pikiran mereka. “Tidak ada catatan mix-up bayi di rumah sakit tempat Langit dilahirkan. Dan untuk fertilisasi, Anda tidak pernah menjalani prosedur semacam itu, bukan?”
Raya menggelengkan kepala lemah. “Tidak. Langit lahir normal.” Suaranya melemah. Otaknya bekerja keras, memutar kembali memori masa lalu. Saat ia mengetahui dirinya hamil, kebahagiaan yang meluap, sembilan bulan penantian yang penuh perjuangan karena kehamilannya yang rentan. Rasa sakit melahirkan yang luar biasa. Semua itu terlalu nyata untuk disebut ilusi. Langit adalah darah dagingnya, jiwanya, segalanya. Bagaimana mungkin…?
Air mata mulai mengalir di pipinya, hangat lalu dingin, membasahi kerudungnya. “Ini salah. Ini pasti salah,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. “Anakku… Langitku… bukan anakku?”
Arlan bangkit dari duduknya, mendekati Raya dan merangkul bahunya erat. “Sayang, tenang dulu. Kita cari tahu. Pasti ada penjelasannya. Pasti ada.” Tapi nada suaranya pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya yang mendalam. Arlan tahu bagaimana Raya mencintai Langit, bagaimana mereka berdua membangun keluarga impian bersama anak semata wayang mereka. Kenyataan ini adalah pukulan telak bagi mereka berdua.
“Dokter, apa ada kemungkinan lain?” tanya Arlan, mencoba menenangkan Raya sekaligus mencari celah kebenaran. “Misalnya, Langit mirip siapa? Dari pihak keluarga Raya, adakah riwayat penyakit genetik yang bisa menyebabkan anomali dalam tes DNA?”
Dokter Hadi menggeleng. “Tidak ada anomali genetik yang terdeteksi pada Langit yang bisa memengaruhi hasil tes DNA paternitas dan maternitas seperti ini. Hasil tes secara tegas menunjukkan bahwa profil genetik Langit tidak cocok dengan profil genetik Bu Raya. Kami bisa melakukan tes ulang, jika Anda mau, tapi kami sangat yakin dengan hasilnya.”
Arlan menatap Raya. Ia melihat hancurnya dunia di mata wanita yang dicintainya itu. “Tidak perlu, Dok. Kami percaya dengan profesionalisme Anda,” jawab Arlan, mencoba tegar demi Raya. “Terima kasih atas informasinya.”
Mereka keluar dari ruangan dokter dalam keheningan yang menyesakkan. Koridor rumah sakit yang biasanya ramai, kini terasa seperti lorong hantu yang dingin dan panjang. Raya berjalan seperti zombie, langkahnya berat, otaknya kosong. Setiap detik terasa seperti berhari-hari. Ia merasa separuh jiwanya telah tercabut paksa.
Di mobil, Arlan memegang tangannya. “Kita akan pulang, Sayang. Kita akan pikirkan ini baik-baik. Kita akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Raya hanya mengangguk, tanpa suara. Matanya menatap keluar jendela, pada pemandangan kota yang bergerak cepat, namun ia tidak melihat apa-apa. Pikirannya melayang, berputar-putar, mencari celah, mencari alasan. Siapa? Siapa yang bisa melakukan ini? Atau… siapa ibu kandung Langit sebenarnya?
Pikiran itu adalah cambuk paling menyakitkan. Langit adalah dunianya. Putra yang ia besarkan dengan segenap cinta. Setiap senyum, setiap tangisan, setiap demam yang ia rawat, setiap dongeng pengantar tidur yang ia bacakan. Semua itu adalah ikatan batin yang tak terbantahkan. Lalu bagaimana mungkin ia bukan ibunya? Ibu yang melahirkan, namun bukan ibu biologis?
Kerongkongannya terasa kering. Ia ingin berteriak, merobek kenyataan ini. Perasaannya campur aduk: sedih, bingung, marah, dan yang paling mengerikan adalah rasa pengkhianatan yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Rasa seolah ada seseorang yang telah memainkan permainan keji dengan hidupnya.
Arlan menghentikan mobil di depan rumah. Rumah yang biasanya terasa hangat dan penuh tawa Langit, kini terasa dingin dan asing. Raya melangkah keluar, kakinya gemetar. Ia harus menghadapi Langit. Bagaimana ia akan menatap putra kecilnya, setelah tahu kenyataan ini? Apa yang akan ia rasakan? Apakah cintanya akan berubah? Tidak! Hatinya berteriak. Tidak akan pernah!
Di dalam rumah, Langit tertidur pulas di sofa, selimut tipis menyelimuti tubuh kecilnya. Wajah polosnya tampak damai, bibirnya sedikit terbuka. Raya berlutut di depannya, mengamati setiap detail wajah itu: hidungnya yang mancung, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik. Semua begitu familiar, begitu dicintainya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut pipi hangat Langit. Anakku… Anakku.
Air mata kembali menganak sungai. Arlan berdiri di belakangnya, tangannya mengusap puncak kepala Raya. “Dia anak kita, Raya. Bagaimanapun juga. Dia anak kita.”
Kata-kata Arlan adalah pelipur lara, namun juga sebuah pertanyaan yang menusuk. Anak kita? Ya, di hati, Langit adalah anak mereka. Tapi di mata dunia, di mata sains, Langit bukan darah daging Raya. Lalu siapa ibu biologisnya? Dan mengapa? Bagaimana ini bisa terjadi?
Raya memejamkan mata, memeluk erat tubuh mungil Langit yang masih terlelap. Sebuah firasat buruk merayapi hatinya. Ini bukan sekadar kesalahan. Ini terasa seperti sebuah kebohongan besar yang selama ini tersembunyi. Sebuah skema yang ia sama sekali tidak ketahui. Ia harus mencari tahu. Sendirian. Untuk saat ini, Arlan tidak perlu tahu keraguan di hatinya, kecurigaan yang baru saja muncul. Raya harus menggali kebenaran ini, demi Langit. Ia harus menemukan siapa yang berani bermain-main dengan takdir dan kehidupannya. Siapa pun itu, Raya bersumpah akan menemukannya. Namun, satu nama tiba-tiba terlintas di benaknya, sosok yang sudah lama ia coba kubur dalam-dalam di masa lalunya. Nama yang selalu membawa bayangan kelam dan pertanyaan tak terjawab: Damar.
Nama Damar. Nama yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam di liang lahat masa lalunya. Nama yang kini muncul kembali, seperti hantu dari neraka, membayangi setiap sudut pikirannya. Raya menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu. Tidak mungkin. Damar sudah tidak ada dalam hidupnya selama bertahun-tahun. Kenapa harus dia?
Namun, pikiran itu terus berputar, melilitnya seperti rantai tak kasat mata. Bukti tes DNA Langit yang baru saja ia terima membakar telapak tangannya. Langit bukan anak biologisnya. Kalimat itu terus terngiang, menjadi melodi mengerikan yang memenuhi telinganya.
Raya berjalan mondar-mandir di kamar tidurnya, di saat Arlan, suaminya yang mencintai dan mencintainya, masih terlelap pulas di samping Langit di kamar rumah sakit. Ia tidak bisa tidur. Bagaimana ia bisa tidur, ketika dunianya runtuh begitu tiba-tiba? Ia menatap pantulan dirinya di cermin, melihat seorang wanita dengan mata sembab dan tatapan kosong. Ini bukan dirinya. Ini adalah seseorang yang sedang berjuang melawan mimpi buruk terburuknya.
"Arlan..." gumamnya, bibirnya bergetar. Hatinya mencelos setiap kali ia memikirkan Arlan. Suami yang sempurna, ayah tiri yang menyayangi Langit seperti darah dagingnya sendiri. Bagaimana ia akan mengatakan ini pada Arlan? Bagaimana ia bisa menghancurkan kebahagiaan yang telah mereka bangun bersama?
Tidak, Raya tidak bisa. Setidaknya, belum sekarang. Ia harus mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Ia harus tahu siapa yang berani bermain-main dengan takdirnya, dengan hidup Langit, dengan kebahagiaan keluarganya.
Pagi tiba, membawa serta janji dan kecurigaan baru. Raya kembali ke rumah sakit, jantungnya berdegup tak karuan setiap kali melewati lorong yang sama. Arlan sudah terbangun, duduk di samping ranjang Langit, membacakan dongeng anak-anak dengan suara lembut. Pemandangan itu menorehkan luka baru di hati Raya. Kebahagiaan mereka, begitu murni, begitu rapuh.
"Sayang, sudah makan?" tanya Arlan, mendongak dan tersenyum padanya. Senyum tulus yang memaksakan sebuah senyuman tipis dari bibir Raya.
"Sudah. Kamu?" Raya mendekat, mengusap lembut kepala Langit yang masih terlelap. Wajah mungil itu, pipi merona samar karena demam, bibir kecil yang sedikit terbuka. Langitnya. Anaknya. Tidak peduli apa kata tes DNA itu, Langit adalah miliknya.
"Baru saja. Tadi perawat bilang Langit sudah mulai stabil, tapi kita harus bersiap untuk beberapa pemeriksaan lagi," Arlan menjelaskan, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
Pemeriksaan lagi. Kata-kata itu menggema di kepala Raya. Kesempatan. Ini adalah kesempatannya untuk mulai menyelidiki. Diam-diam. Tanpa sepengetahuan Arlan.
Sepanjang hari itu, Raya bertindak seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ia tersenyum, ia berbicara, ia merawat Langit dengan penuh kasih sayang. Namun, di balik senyum itu, otaknya bekerja keras, menyusun rencana. Ia harus memulai dari mana? Dokumen. Semua dokumen medis Langit, semua catatan dari rumah sakit, dari dokter kandungan yang dulu menanganinya.
Sore itu, saat Arlan sedang keluar sebentar untuk membeli makanan, Raya membuka tasnya, mengambil amplop cokelat berisi hasil tes DNA yang meresahkan itu. Ia membaca ulang setiap kata, setiap angka. Lalu, ia fokus pada nama laboratorium yang melakukan tes tersebut. "Medika Lab." Ia mengeluarkan ponselnya, mulai mencari informasi. Alamat, nomor telepon, bahkan nama-nama staf yang mungkin ia kenal.
Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul, seperti percikan api yang membakar kegelapan. Dulu, ketika ia masih menikah dengan Damar, mereka pernah mencoba program IVF. Program yang gagal, yang berakhir dengan kekecewaan dan kehancuran pernikahan mereka. Mereka pernah berkonsultasi dengan banyak dokter, banyak klinik. Salah satunya... Raya mencoba mengingat dengan keras. Bukankah salah satu klinik IVF itu memiliki afiliasi dengan Medika Lab?
Jantungnya berdebar semakin cepat. Itu adalah petunjuk. Sebuah benang merah yang sangat tipis, tapi ada. Ia mulai membalik-balik kalender lama di ponselnya, mencari arsip email, mencoba menemukan jejak-jejak masa lalu yang ia kira sudah terkubur. Surat-surat lamaran, jadwal konsultasi, kwitansi pembayaran. Betapa ia membenci masa lalu itu, masa lalu yang penuh dengan keputusasaan untuk memiliki anak bersama Damar. Masa lalu yang pahit, yang kini kembali menghantuinya.
Ia menemukan beberapa dokumen lama yang ia simpan di cloud. Laporan medis, nama-nama dokter. Dan di sana, di salah satu laporan konsultasi IVF dari lima tahun lalu, sebuah nama klinik yang bekerja sama dengan Medika Lab. Klinik itu tidak asing. Klinik itu... tempat di mana ia dan Damar melakukan serangkaian prosedur yang menyakitkan.
Raya merasa mual. Apakah ini kebetulan? Atau apakah ini... sebuah koneksi yang disengaja? Sebuah skema yang dirancang dengan cermat? Otaknya berputar, mencoba menghubungkan titik-titik yang masih kabur. Jika Langit bukan anak biologisnya, tapi ia menjalani IVF di klinik yang terafiliasi dengan lab ini, lalu bagaimana? Mungkinkah ada kesalahan? Atau yang lebih buruk, kesengajaan?
Ia mengingat Damar. Damar yang ambisius, Damar yang manipulatif, Damar yang sangat menginginkan anak. Pria yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, dengan cara apa pun. Sebuah ketakutan dingin menjalar di punggung Raya. Damar tidak akan pernah menyerah.
Sesaat, Raya ingin menjerit, ingin berteriak ke seluruh dunia tentang apa yang terjadi. Tapi ia menahan diri. Ia harus kuat. Untuk Langit. Untuk Arlan. Ia harus menemukan kebenarannya.
"Raya? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," suara Arlan yang tiba-tiba muncul di ambang pintu membuat Raya tersentak, cepat-cepat menyembunyikan ponselnya. Ia berusaha tersenyum, senyuman yang terasa hambar di lidahnya.
"Tidak apa-apa, sayang. Hanya sedikit pusing. Mungkin kecapekan," jawabnya, mencoba terdengar normal. Arlan menatapnya dengan tatapan khawatir, namun tidak bertanya lebih jauh.
Malam itu, ketika Arlan sudah terlelap di sampingnya, Raya diam-diam menghubungi seorang teman lama, dokter kandungan yang dulu pernah menjadi rekan kerjanya. Raya merasa bersalah karena telah menyimpannya sebagai rahasia. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia harus mencari tahu. Ia harus mencari celah.
Ia membuka laptopnya, mencari email dari Medika Lab. Ia ingin tahu lebih banyak tentang prosedur tes DNA mereka, tentang standar keamanan. Sebuah nama muncul di daftar kontak email lama, seseorang yang bertanggung jawab atas administrasi di klinik IVF yang dulu ia kunjungi dengan Damar. Namanya Lestari. Wanita yang selalu ramah, namun memiliki senyuman yang terasa terlalu manis.
Raya mengambil napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar saat ia mengetik nama Lestari di kolom pencarian. Email-email lama muncul, percakapan mengenai jadwal dan prosedur. Dan di antara email-email itu, terselip sebuah lampiran. Sebuah dokumen PDF dengan logo klinik IVF tersebut dan Medika Lab. Raya membuka lampiran itu, mata langsung tertuju pada deretan nama staf dan daftar donor. Di bagian daftar donor, sebuah nama asing menarik perhatiannya. Sebuah nama yang seharusnya tidak ada di dokumennya. Nama yang terlalu familiar, yang membuat darah Raya mengering di dalam tubuhnya. Sebuah nama yang ia kenal dengan sangat baik, namun dalam konteks yang benar-benar berbeda. Nama yang tercantum bukan sebagai donor, melainkan sebagai... pihak ketiga yang terlibat dalam proses. Dan nama itu adalah...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!