Luna memasuki halaman rumah yang sangat bersih dan juga asri itu, kaki nya mengalun indah karena gadis ini memang memiliki paras yang sangat menawan sehingga banyak para pria yang jatuh cinta pada dirinya. tapi sejauh ini Luna belum memiliki kekasih karena dia tidak ingin tertarik dengan pria mana pun, sebab dia memiliki trauma juga.
"Ini beneran enggak ya harga nya perbulan cuma empat ratus ribu?" Luna mendadak saja ragu.
"Bagus sekali dan juga tidak ada nuansa seram kok, biasa nya yang murah akan ada nuansa seram gitu." jawab Gita.
"Kau sih pikiran nya cuma setan saja, siapa tau memang orang nya sudah kaya jadi sengaja mau menolong dengan harga murah." sanggah Luna.
"Semoga saja lah, kalau boleh malah selamat berdua kan lebih murah lagi." ujar Gita.
"Iya juga, kan agak irit lah dengan gaji kita yang sangat besar luar biasa itu." Luna tersenyum malu mengingat penghasilan mereka berdua di apotik.
Gita tertawa kecil karena memang mereka sebagai gadis tentu saja banyak pengeluaran, dengan gaji yang hanya tiga juta selama satu bulan dan belum lagi mereka harus masih mengirim di kampung halaman karena orang tua mereka juga orang yang tidak mampu sehingga membutuhkan banyak bantuan dari mereka yang bisa mendapatkan pekerjaan.
Kalau di hitung satu orang hanya akan dua ratus ribu, mereka sangat berharap bila nanti pemilik kost ini akan setuju bila satu kamar di huni oleh mereka berdua sehingga pengeluaran akan lebih sedikit irit. sampai di depan pintu mereka juga baru mengetahui bahwa kost ini begitu banyak penghuni dan mereka semua dari kalangan bawah.
Tidak salah kalau selama ini banyak yang memuji bahwa kost milik Pak Manto sangat ramai penghuni, sebab dengan harga yang begitu murah sehingga mereka sangat tertarik dan merasa nyaman untuk tinggal di sana, deretan rumah bagian kanan dan kiri juga sangat banyak dan memang di bangun dengan nuansa rumah pribadi namun begitu sampai di dalam maka akan terlihat deretan kamar tersebut.
Lingkungan nya juga seperti aman karena bagian depan sudah di pagar besi cukup tinggi serta bagian kiri kanan pun telah tembok rapat, sehingga bagi yang memiliki motor merasa sedikit aman dan tidak was-was bila akan ada maling.
Gita dan Luna merasa sangat cocok untuk tinggal di sini dengan harga yang sangat murah sehingga mereka berharap masih ada kamar kosong yang bisa menampung mereka, kalau nanti andai kata Pak Manto tidak mengizinkan bila satu kamar akan di huni oleh orang tua maka mereka juga tidak akan menyerah dan mau tidak mau akan menghuni kamar masing-masing.
"Assalamualaikum, permisi apa ada Pak Manto ya?" Luna menyapa seorang gadis yang sedang duduk membaca buku.
"Ada di dalam, silakan masuk saja ke sana." gadis itu berkata tanpa menoleh dan juga tidak menjawab salam.
"Eh anu, bisa tidak bila kami minta antar?" Luna agak gugup karena takut dan tidak tahu di mana sekarang Pak Manto.
"Masuk saja, kalian sudah di tunggu di dalam." gadis itu tetap tidak mau menoleh dan duduk di atas ayunan sambil membaca buku terus.
"Terima kasih, kami permisi dulu kalau begitu." Gita segera menarik tangan Luna karena dia agak jengkel juga mengajak gadis itu berbicara.
Luna masih sempat menoleh untuk memastikan apakah gadis itu memang tidak mau mengantar mereka berdua, tapi ternyata memang benar gadis itu tidak ada reaksi apa pun sehingga dia tetap saja di atas ayunan dan sibuk dengan buku yang telah dia pegang di tangan.
"Pucat sekali wajah dia." batin Luna sesaat.
"Ada tamu ternyata, mau cari kost ya?" seorang wanita gemuk menghampiri mereka berdua.
"Iya, Buk! saya Gita dan Luna mau mencari kost." Gita tersenyum manis pada wanita gemuk itu.
"Oh kebetulan emang ada masih kamar yang kosong karena sebagian sedang di bangun, yang kosong masih ada kok." wanita itu tersenyum begitu ramah.
Gita yang melihat pemilik kost sangat ramah seperti ini tentu saja merasa sangat tenang karena kalau bertemu dengan pemilik yang sangat galak maka tidak nyaman untuk tinggal, berarti memang kost ini menjadi tempat favorit karena selain tempatnya yang adem tapi pemiliknya juga begitu ramah.
"Panggil saja saya Bu Dewi, saya istri dari Pak Manto dan yang mengurus tempat ini." Bu Dewi mengulurkan tangan pada mereka berdua.
"Saya Gita." Gita segera mengenalkan diri.
"Luna, Bu." Luna juga bersalaman dengan Bu Dewi yang terlihat begitu ramah pada mereka berdua.
"Ayo kalau mau menuju kamarnya sekarang." segera berjalan menuju bagian kiri rumah ini.
"Bu, kalau satu kamar untuk berdua apa boleh ya?" Luna bertanya karena memang niat Mereka ingin satu kamar berdua.
"Oh kalau itu belum boleh karena kamar juga tidak terlalu besar dan nanti akan sumpek, kan harga juga sudah murah jadi tidak masalah kalau satu orang satu kamar." Bu Dewi menjelaskan dengan sabar dan sama sekali tidak ada jawaban ketus.
"Baik lah, tadi kami kira boleh bila berdua." Luna tersenyum malu.
"Yang ini masih belum boleh karena kamar juga tidak besar, tapi nanti kalau yang bagian sana sudah selesai maka boleh satu kamar di isi dengan dua orang." jelas Bu Dewi.
Gita menoleh memperhatikan kamar yang di tunjuk oleh Bu Dewi barusan karena memang terlihat yang bagian kanan cukup besar, ini yang bakal mereka huni memang terlihat sangat sempit sehingga cocok untuk satu orang saja dan bila sampai di huni oleh dua orang justru akan terasa begitu sesak.
Karena sudah mendapat larangan seperti itu maka mereka juga tidak keras kepala dan mungkin saja memang empat ratus ribu tidak terlalu berat, sebab kalau di tempat lain bisa mencapai delapan atau bahkan satu juta karena memang ini kota besar sehingga apa saja terasa begitu mahal.
"Nanti setiap hari Jumat akan dapat makanan gratis." jelas Bu Dewi.
"Oh dari Ibu juga ya?" tanya Luna.
"Alhamdulillah iya." Bu Dewi mengangguk sambil tersenyum.
"Kami kalau bisa kamarnya bergandengan saja, Bu." pinta Gita.
"Yang langsung bergandengan kosong tapi ini ada jarak satu kamar saja, tidak masalah lah karena tidak terlalu jauh." Dewi menunjuk bagian tengah memang telah di huni oleh orang lain.
Gita dan Luna tidak keberatan Dan mereka memilih untuk tinggal di kost ini saja dan langsung membayar di muka, lagi pula saat baru datang tadi mereka sudah merasa begitu cocok dan nyaman tinggal di sini sehingga tidak akan bertele-tele karena takut nanti di ambil oleh orang lain.
Selamat siang besti, ketemu lagi dengan Mak NJ di cerita baru tentang kost ini ya. semoga kalian suka, terima kasih untuk yang sudah mampir, jangan lupa tinggal kan jejak kalian ya di kolom komentar.
"Git, aku mau keluar dulu cari makan di depan." Luna berdiri di ambang pintu kamar Gita.
"Titip juga sekalian, aku masih mau menata baju ini." Gita memang masih sibuk walau sekarang sudah jam tujuh malam.
"Aku mau bakso yang di depan itu, kau mau apa?" Luna memang sudah mencium aroma sedap sejak pertama kali datang.
"Samain aja lah." sahut Gita tanpa menoleh.
"Oke." Luna segera keluar dari rumah untuk membeli bakso depan kost mereka yang sangat ramai sekali tadi.
"Hai, aku penghuni baru." Luna sempat kenalan dengan seorang gadis cantik yang masih muda.
"Salam kenal juga, Kakak." Rena tersenyum dan segera keluar dari rumah karena memang lagi buru buru.
Luna memahami karena mungkin saja gadis itu sudah telat sehingga kurang beramah tamah, keadaan kost ternyata agak sepi walau bisa di katakan kalau ini masih sore, entah mereka semua berangkat kerja atau sudah mendekam dalam kamar sehingga tidak ada yang keluar.
Kalau sepi begini Luna merasa merinding juga karena rumah Pak Manto sangat besar dengan nuansa yang agak horor juga, namun perasaan takut itu segera Luna tepis karena dia juga tidak mungkin baru pindah tapi sudah takut seperti ini, maka Luna segera mempercepat langkah agar segera bertemu dengan orang lain sekarang.
"Gadis itu yang tadi siang, malam juga masih main ayunan." batin Luna.
Gadis yang ada di ayunan tadi siang masih duduk di sana dengan gaya yang sama, namun kali ini dia sudah tidak membaca buku lagi. Luna mengatakan itu gadis yang sama, sebab gadis itu memakai baju tadi siang sehingga jelas Luna masih mengenali dengan cermat juga pasti nya.
Walau memang di depan sana sangat ramai dengan orang yang lewat, tapi main ayunan malam malam dan juga sendirian tentu membuat siapa saja merasa agak merinding. mana bagian sini sama sekali tidak ada lampu, sehingga murni gelap gulita sehingga Luna agak merinding juga untuk menegur.
"Tapi kok ya tidak sopan kalau tidak negur dia." batin Luna.
Perasaan yang bimbang karena entah mengapa Luna seolah tidak ingin dekat dengan gadis ini, seolah dia menyimpan ketakutan yang besar di dalam hati. tapi Luna sendiri tidak tau itu luka apa, namun yang jelas dia memang takut dengan gadis ini.
"Malam Kakak, sendirian saja?" Luna mendekat dengan senyum ramah.
"Ya Allah pucat sekali dia!" pekik Luna dalam hati.
Walau dalam kegelapan malam pun tapi masih bisa Luna melihat bahwa wajah gadis ini begitu pucat dan terlihat seperti sedang sakit, hati Luna jadi tersentak karena dia merasa gadis ini memang menyimpan sesuatu yang tidak beres sehingga bahaya bila terlalu dekat dengan dia. emang terasa begitu aneh dan Luna memang memiliki firasat bahwa gadis ini menyimpan sesuatu, entah karena Luna yang terlalu takut atau memang firasat itu benar karena kadang kala firasat manusia ada yang tidak meleset.
Bahkan saat Luna sudah menegur seperti itu tapi gadis tersebut sama sekali tidak ada respon dan kembali diam sambil mengayunkan diri di atas ayunan, Luna yang sudah berhenti jadi agak malu dan kikuk namun dia segera pergi karena merasa gadis itu tidak ingin di tegur sehingga lebih baik bila segera menyingkir saja.
"Sombong sekali, apa karena sehingga tidak mood mau menegur orang?" Luna merutuk kecil dan membuka pintu pagar.
"Ih apa ini yang basah?" Luna memegang pagar yang terasa basah.
"Mau kemana, Non?" penjaga pintu gerbang yang cukup tua menegur Luna yang segera keluar dari sana.
"Mau beli makan ini di depan sana, Pak." jawab Luna segera mengusap tangan yang terkena cairan basah dan lembab itu.
Pak Anwar segera membuka pintu karena dia memang berjaga bila sudah malam seperti ini, ternyata peraturan di kost Pak Manto pun sangat ketat sehingga bila sudah malam tidak ada yang boleh membawa pacar atau teman pria. jadi memang tidak ada yang sampai melakukan perbuatan zina, karena mereka di jaga ketat oleh Pak Anwar.
...****************...
"Lama sekali Luna beli makan, kata nya cuma di depan saja." Gita mengintip dari pintu kamar.
"Ternyata sepi juga ini kalau malam!" lirih Gita yang lebih berani dari Luna.
Klotaaaaaak.
Klotaaaaaak.
Gita menoleh memperhatikan kamar sebelah yang barusan bersuara berisik seperti ada sesuatu barang yang jatuh dari sana, ada rasa kepo dan kalau memang ada penghuni maka dia ingin berkenalan karena sekarang sudah tinggal di kos ini sehingga membutuhkan banyak teman dan akan lebih mudah bila mereka semua saling mengenal satu sama lain.
"Hening lagi, tapi tadi agak berisik." batin Gita melihat nomor kamar.
"Oh ada nomor kamar nya, berarti punya ku nomor tiga puluh kalau ini dua sembilan." Gita memperhatikan dengan seksama.
Glodaaaaaak.
"Suara lagi, tapi bukan dari kamar ini." batin Gita mulai penasaran.
Perlahan langkah Gita meninggalkan kamar karena dia penasaran dengan suara yang sangat berisik dari kamar lain, tadi suara itu berasal dari kamar sebelah dan saat ini sudah tidak ada suara lagi alias hanya keheningan yang ada di kamar tersebut. Gita berjalan dan sambil ingin mencari teman karena sejak tadi siang selalu sibuk dengan pindahan, jadi belum mengenal satu sama lain.
"Wah sampai belakang juga ini kost Bu Dewi." Gita berdecak kagum.
"Tapi lorong ini kok tidak ada di pasang lampu, apa karena belum siap ya?" Gita agak mundur karena sebelah sini sangat gelap.
"JANGAN DATANG KESINI!"
"Allahu Akbar!" Gita berteriak kaget ketika mendengar ada orang yang membentak dia.
Namun ketika menoleh sama sekali tidak ada orang sehingga membuat Gita merasa heran, padahal tadi sangat jelas suara itu begitu nyaring di dalam telinga Gita, namun saat dia mencari kesana kemari tidak dia temukan di mana keberadaan orang yang baru saja membentak dengan suara sangat besar itu barusan.
"Apa ini?!" Gita mulai panik karena lantai yang dia pijak seolah banyak air yang datang.
"Amis?" Gita kaget mencium aroma dari air yang ada di lantai itu.
"Aku pergi saja dari sini, bau apa dan ini air apa yang sedang keluar!" Gita bergegas untuk pergi dari sana.
Namun langkah ini tertahan karena seolah ada tangan yang berusaha menahan agar Gita tidak melangkah pergi dari kawasan ini, memang seperti ada sesuatu yang sangat kuat menahan kaki sehingga Gita jatuh telungkup di atas lantai yang penuh dengan air, saat jatuh maka Gita baru menyadari bahwa itu darah yang sangat banyak dan asal nya entah dari mana.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
"Gita!"
Luna menggoyang tubuh teman dia karena sekarang Gita malah tertidur di depan pintu kamar, agak kaget juga Luna melihat Gita yang tidur seperti itu namun dia berpikir bahwa mungkin saja Gita takut di dalam kamar sehingga dia menunggu di sini dan ketiduran di depan pintu kamar dia sendiri.
"Tapi kan dia tidak penakut seperti aku." batin Luna.
Tapi karena tidak ada masalah lagi maka Luna segera membangunkan saja karena nanti yang ada dilihat oleh anak kost lain dan ada bisik-bisik yang tidak sedap, mereka penghuni baru sehingga sebisa mungkin harus menjaga sikap agar tidak dibenci oleh yang lain dulu.
Walau aja kost seperti ini tapi tetap saja kadang kala ada persaingan di antara mereka semua, nama nya juga tinggal bersama sehingga sudah pasti akan muncul perdebatan yang tidak bisa di hindarkan, apa lagi mereka satu dapur sehingga nanti yang ada mereka akan komplain ke sana kemari karena ada yang terpakai barang milik mereka.
"Gita bangun, ayo cepat bangun sebelum di lihat oleh yang lain." Luna tidak sabar dan segera mengguncang keras tubuh Gita.
Gita tersentak karena dia merasa tadi bukan di depan kamar ini, masih terbayang dalam otak dia bahwa tadi dia jatuh tertelungkup di atas lantai ketika ada sepasang tangan yang menahan kaki agar dia tidak bisa pergi dari lorong yang gelap itu. namun sekarang malah sudah ada di depan pintu kamar dan di bangunkan pula oleh Luna, tentu saja gadis ini menjadi heran dan juga ada rasa takut di dalam hati karena jelas itu adalah pengalaman horor.
"Apa sih, kau kok seperti ketakutan seperti itu?" Luna bingung melihat Gita.
"Lun, aku tadi tidak tidur di depan pintu kamar ini." Gita bangkit dan menatap arah kanan kiri.
"Lalu kau tidur di dalam kamar dan kau pasti mengigau." Luna tahu bahwa Gita sering mengigau.
"Tidak mungkin, aku belum tidur jadi mana mungkin bisa mengigau!" Gita langsung menyangkal ucapan Luna.
"Mana ada orang mengigau mau mengaku karena mereka jelas tidak sadar, sama seperti kau ini karena tidak mengetahui bahwa kau pasti sedang menjauh dan berjalan keluar kamar lalu tidur di sini." Luna membuka pintu kamar kita dan dia segera duduk di sana.
Gita masih tidak percaya bahwa ini semua adalah halusinasi dia saat sedang tidur, karena jelas Gita mengingat bahwa dia tidak ada tidur sama sekali ketika di tinggal oleh Luna membeli makanan keluar kost tadi, jelas bahwa Gita mengingat dia jatuh telungkup di atas lantai karena ada yang menahan.
"Lun, tadi ada banjir darah dan kau lihat kaki ku ini." Gita menunjuk kaki yang putih bersih.
"Ya Allah malah sampai banjir darah pula kau sebut!" Luna sungguh frustasi menghadapi Gita yang sering mengigau.
"Jelas tadi aku mencium bau amis yang sangat kuat dan juga kental!" Gita bersikeras dan dia hampir emosi.
"Ya kau lihat sekarang kaki mu itu apa ada darah yang sangat kental dan bau amis." Luna menunjuk kaki Gita.
"Kenapa nggak ada darah di kaki ku ini? ke mana pergi darah yang tadi sempat membanjiri lantai." Gita sungguh bingung dengan kejadian yang baru dia alami ini.
Luna berdecak berulang kali karena dia tidak percaya dan merasa sangat kesal karena belum lagi mereka tidur semalam di tempat baru tapi Gita kembali berulah, sebab Luna dan Gita pernah satu kost bersama sehingga Luna sudah memahami bagaimana sifat Gita ketika sedang tidur dan kerap pula mengigau dengan hal yang tidak jelas.
"Wuuuh mending ayo sekarang makan dan kau cium ini bau bakso yang sangat lezat." Luna tidak pernah mencium aroma bakso yang sangat lezat seperti ini.
"Eh wangi sekali bau bakso ini, kau beli di mana?" Gita juga ikut mendekat karena dia mencium aroma bakso.
"Bu Dewi jualan bakso jadi aku beli tempat dia, eh malah dikasih gratis katanya karena baru pertama beli." jelas Luna dan menyeruput kuah bakso.
Rasa kuah yang tidak pernah Luna rasakan selama ini dan membuat lidah terasa begitu di manjakan oleh kaldu tersebut, Luna juga merasa bakso ini ada yang spesial sehingga dia ingin makan lagi dan lagi. Gita juga ikut penasaran dan segera mencoba rasa bakso tersebut, dan ternyata lidah dia sama dengan Luna karena memang rasa bakso tidak bisa di temukan pada tempat lain.
"Bu Dewi sepertinya pintar masak ya." Luna sangat senang dan dia memakan lahap.
"Iya, pintar sekali dia mengelola segala macam hal." Gita setuju dengan ucapan Luna.
Kedua gadis ini makan bakso dengan sangat nikmat dan juga mereka sampai ingin tambuh karena merasa kurang, namun Luna tidak mau keluar lagi untuk membeli dan Gita juga tidak ada niat untuk keluar sehingga mereka berniat besok saja setelah pulang kerja maka akan makan bakso lagi.
"Ada penghuni baru di kamar sana ya?" Rita menatap Sheila.
"Seperti nya begitu, tadi kulihat dia keluar dan membeli makanan namun belum sempat aku ngobrol dengan dia." angguk Sheila.
"Ajak saja mereka ngobrol dan beritahu beberapa pantangan yang ada di kos kita ini." Rita berkata sambil mengunyah keripik.
"Aku takutnya kalau mau memberitahu orang baru nanti mereka malah tidak percaya dan justru ingin mengetahui lebih dalam." sahut Sheila.
"Ya terserah nanti kalau mereka mau penasaran atau bagaimana, tapi yang jelas kita beritahu saja dulu agar mereka tidak sampai ke sana." ucap Rita yang memiliki niat baik pada mereka berdua.
Sheila mengangguk setuju karena memang kasihan bila tidak tahu apa-apa dan sampai tersesat di belakang kost yang angker itu, sebab kadang orang baru begitu penasaran dan ketika melihat sesuatu yang menarik sedikit saja maka mereka segera kepo dan mencari tahu apa yang telah terjadi di sana.
"Jadi Zizi udah ketemu belum ya?" Sheila ingat dengan salah satu penghuni kost yang menghilang.
"Kalau kata Rena sih belum, aku juga tidak tahu secara pasti karena Zizi kan selama ini agak angkuh dan aku kurang akrab dengan dia." jawab Rita.
"Kemana dia pergi? atau jangan jangan dia minggat sama cowok yang kemarin datang itu ya." Sheila jadi kumat untuk bergosip.
Rita hanya mengangkat pundak karena dia sama sekali tidak tertarik ingin membicarakan Zizi, sebab dulu dia pernah bertengkar dengan Zizi sehingga mereka bisa di katakan kurang akrab dan Rita tidak ingin tahu apa saja tentang gadis angkuh itu tempat tinggal di sini juga.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya. othor lagi nunggu gajian ini😂
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!