Indonesia
NovelToon NovelToon

Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku

Penolakan ke enam belas

Seorang gadis melangkah dengan sangat hati-hati seakan setiap langkahnya terdapat beban yang cukup kuat. Wajahnya gelisah, tumpukan kertas-kertas ditangannya ia pegang erat.

Dia adalah Shaqila Ardhani Vriskha, seorang mahasiswa jurusan manajemen semester akhir yang sedang memegang skripsi yang sudah ke lima belas kalinya ia revisi.

Langkah demi langkah ia lakukan seraya berdoa dalam hati agar skripsinya kali ini lulus.

Gadis itu merasa sial karena mendapat dosen pembimbing yang killer. Namun apa boleh buat, ia tidak dapat memilih. Semua sudah ditentukan oleh pihak kampus.

"Pengajuan lagi?" tanya Siska, sahabat Shaqila yang datang menghampirinya.

Shaqila mengangguk lesu, "doain gue ya semoga kali ini pak Reyhan berbaik hati untuk meng acc skripsi gue. Otak gue hampir meledak ngerevisi lima belas kali," ucapnya dengan wajah menunduk.

Siska tertawa mendengar ucapan sahabatnya, "ya nikmati aja Qil, kapan lagi bisa berurusan dengan dosen tampan itu. Kalau gue itu lo ya, gue sengaja membuat skripsi salah biar biar bisa cuci mata mulu,"

Shaqila mendecik kesal, "ya itu lo, bukan gue. Lagian dia itu udah tua, lo mau jadi sugarbaby gitu?" ucapnya seraya melangkah lebih cepat agar tidak mendengar ocehan tidak penting dari sahabatnya yang selalu memuji-muji ketampanan dari dosen pembimbingnya.

Sampai pada akhirnya ia sampai di depan pintu yang menurutnya ruang keramat. Gadis itu mengatur pernafasannya, dan dengan sangat hati-hati ia membuka pintu ruang tersebut.

Ruang itu selalu terasa seperti ruang interogasi yang mematikan bagi Shaqila. Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detaknya seperti menghitung sisa hidupnya.

Shaqila berdiri kaku di depan meja kerja kayu gelap yang ditata terlalu rapi untuk ukuran seorang dosen. Tidak ada satu pun barang yang berantakan. Bahkan pulpen di tempatnya tersusun lurus seperti barisan tentara.

Dan di balik meja itu, duduk lelaki yang selalu membuat jantungnya terasa mau copot karena setiap bibir lelaki itu bersuara pasti keluar kata demi kata yang membuatnya ingin mati saja.

Dr. Reyhan Adiyasa, M.M.

Dosen manajemen paling dihindari se-fakultas. Bahkan sekampus karena killernya yang luar biasa.

Dingin, tegas, nyaris tak punya ekspresi.

Dan sialnya dosen itu menjadi pembimbing skripsinya.

Shaqila ingin menyerah, namun ia mengingat orang tuanya yang menuntut agar bisa lulus tahun ini.

"Ada apa?" tanya Reyhan dengan aura dingin.

Shaqila rasanya sulit membuka suara, skripsi yang dipegang erat-erat tadi kini diserahkan dengan perasaan penuh harap.

'Bukalah pintu hatinya sedikit agar kasihan kepadaku,' batin Shaqila dengan wajah gelisah.

Reyhan mengambil skripsi itu dan menatap wajah gelisah Shaqila. "Apa kau sudah merivisi sesuai yang ku ajarkan?" tanya dosen itu.

"Sudah pak?" jawab Shaqila. Perasaannya saat ini sangat was was.

Seakan tumpukan kertas-kertas itu adalah hidup matinya.

 Reyhan membuka lembaran kertas itu menggunakan dua jari seperti memegang sesuatu yang sangat rapuh, atau sangat tidak penting.

Kacamata bertengger di wajah tegasnya, matanya menyipit membaca dan memeriksa seluruh kertas itu.

"Masih banyak hal yang perlu diperbaiki lagi." Suara itu datar, tenang, tapi memotong napas Shaqila lebih efektif daripada pisau.

"Tidak layak," ucapnya pendek.

Shaqila terpaku. "B-Pak?"

"Tidak layak. Bab satunya masih lemah. Rumusan masalah tidak tajam. Variabel tidak relevan, metodologi berantakan." Reyhan menatapnya datar, tatapan gelap di balik kacamata tipis itu menusuk telak.

"Saya sudah bilang, kalau mau lulus tahun ini, Anda harus serius dan teliti," lanjutnya lagi seraya bersandar di kursi kebesarannya.

Shaqila kesal dengan perkataan itu.

Serius?

Ia sudah tidak tidur dua hari,

Ia bahkan sampai lupa kapan terakhir makan.

Shaqila menggigit bibir, merasakan rasa asam naik ke tenggorokan. "Tapi saya sudah revisi sesuai catatan Bapak-"

"Kalau begitu kamu tidak benar-benar membaca catatan saya." Reyhan menyela tanpa emosi. "Perbaiki lagi, sebelum datang ke saya usahakan baca berulang kali dan teliti lagi," ucapnya lagi.

Shaqila membeku.

Ini berarti ini penolakan yang ke enam belas kalinya.

Reyhan melihat wajahnya, lalu menghela napas sangat pelan, seolah lelah menghadapi seorang mahasiswa yang tidak becus.

"Ini penolakan ke enam belas, bukan?"

Tubuh Shaqila panas dingin.

Gadis itu mengangguk karena entah mengapa lidahnya terasa sulit di gerakkan.

Diam, senyap, detak jam terdengar lebih keras daripada napasnya.

Lalu Reyhan berdiri.

Postur tinggi itu membuat Shaqila langsung menunduk refleks. Reyhan berjalan mengitari mejanya, berhenti di depan Shaqila, membuat jarak mereka hanya dua langkah.

"Kalau Anda tidak sanggup..." ucapnya pelan namun tegas, "katakan saja. Saya akan minta fakultas mengganti saya. Tapi saya sangat yakin dengan kemampuan anda yang hanya segini, dosen manapun akan tidak sanggup membimbing anda!"

Shaqila mendongak kaget.

Air bening tidak sengaja menggenang di pelupuknya.

Bukan karena marah.

Tapi karena putus asa.

"Tolong bantu saya pak, orang tua saya sudah menunggu saya lulus tahun ini." ucapnya dengan nada bergetar.

Reyhan terdiam agak lama. Tatapannya turun ke mata Shaqila, tanpa emosi, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ia definisikan. Belas kasihan? Tidak. Itu pasti bukan milik seorang Reyhan.

Akhirnya ia bicara.

"Bukan saya yang seharusnya membantumu, tapi dirimu sendiri. Jangan menangis di depan saya?" ucapannya tegas, namun tidak setajam biasanya.

"Saya tidak akan meng acc skripsi kamu karena air mata. Saya hanya meng acc jika skripsi kamu memang sudah layak untuk di acc!" ucapnya lagi.

Shaqila buru-buru menghapus sudut matanya. "Maaf, Pak…"

Reyhan merapikan bajunya, bersiap memulai kelas. Tapi sebelum ia melangkah keluar ruangan, ia menatap Shaqila sekali lagi.

"Kembali dengan sesuatu yang pantas untuk saya baca!"

Pintu tertutup.

Gadis itu berdiri sendiri, lututnya hampir goyah.

Ia menghembuskan napas panjang dan jatuh terduduk di kursi ruang dosen.

"Enam belas kali ditolak…" gumamnya putus asa.

"Tuh dosen tidak berperikemanusiaan banget. Bagaimana bisa orang kejam seperti dia bisa menjadi dosen," gerutu Shaqila.

"Gue rasanya pengen bunuh diri aja deh," gerutunya lagi dan berdiri untuk keluar dari ruangan yang menurutnya keramat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tangga sisi gedung Fakultas Ekonomi itu sepi seperti biasa. Hanya suara angin yang menyelinap dari sela tembok dan gemerisik daun palem kecil di bawahnya yang menemani. Tempat itu tidak pernah ramai dan itulah alasan Shaqila sering ke sana.

 Tangga itu menjadi semacam ruang pelarian, sekaligus tempat penenangnya. Jauh dari tatapan mahasiswa yang sibuk dengan tugas masing-masing dan jauh dari hiruk-pikuk dunia kampus yang tak pernah mau mengerti betapa lelahnya ia.

Hari ini, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Map ungu berisi skripsi di tangannya tampak lusuh, seperti baru saja ikut dihukum oleh dunia bersama pemiliknya.

 Shaqila turun ke tiga anak tangga, lalu duduk di salah satu sudut yang tertutup bayangan tembok. Kakinya terasa lemas, nafasnya tersengal. Bukan karena lelah berjalan, tapi karena dada yang sejak tadi menahan ledakan emosi.

Ia menatap map di genggamannya. Di halaman depan, terlihat cap merah bertuliskan "REVISI" seperti tamparan keras yang ke sekian kalinya. Sebenarnya ia sudah tidak sanggup menghitung berapa kali ia melakukan revisi. Tapi otaknya tetap menyebutkan fakta pahit itu seperti mantra kutukan.

"Enam belas…" bisiknya hampir tak terdengar.

"Enam belas kali ditolak…"

Suaranya pecah, matanya panas,pandangan kabur.

Gadis itu menundukkan kepala, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajah. Tangannya mencengkeram map itu erat, seakan kalau ia melepasnya, dirinya sendiri akan runtuh bersama semua harapan yang ia pikul.

Ia menggigit bibir, menahan suara yang ingin pecah jadi tangis keras.

Tidak boleh terdengar, ia tidak ingin orang-orang melihatnya menangis. Gadis itu malu jika ketahuan menangis karena skripsi.

Ia sudah terlalu sering terlihat lemah. Terlalu sering dianggap dramatis. Terlalu sering dicibir teman seangkatannya yang sudah lolos.

Dan sekarang dia ditolak lagi.

Revisi beberapa hari yang membuat waktunya tersita banyak, kurang tidur, bahkan jarang makan menjadi sia-sia.

Mata yang perih karena tidak tidur, sia-sia.

Doa yang dipanjatkan sambil berharap dosen itu sedikit saja berbaik hati nyatanya sia-sia.

"Tuhan...kenapa dosennya harus dia?" bisiknya dengan suara yang mulai serak.

"Lama-lama gue bisa gila benaran kalau begini," lirihnya lagi.

Air bening menetes jatuh ke map ungu itu. Satu, dua, tiga lalu menjadi tetesan yang banyak.

Bahu Shaqila bergetar kecil. Dadanya naik turun cepat. Ia menutup mulut dengan telapak tangan agar suara sesenggukannya tidak menggema di lorong itu.

Sejenak, dunia terasa seperti tempat paling kejam.

Ia ingin lari.

Ingin menyerah.

Ingin beristirahat tanpa memikirkan skripsi, revisi, sidang, atau apapun yang berhubungan dengan apa yang membuatnya lelah saat ini.

Gadis itu bukan cuma lelah fisik, tetapi juga lelah batin.

Sampai sebuah suara membuyarkan isak tertahannya.

"Qila?"

Shaqila tersentak. Ia langsung mengusap kasar pipinya dan mendongak sedikit. Seorang gadis berambut pendek sepundak berdiri di atas anak tangga, wajahnya penuh kekhawatiran.

Siska, sahabat sekaligus orang yang paling mengerti betapa beratnya perjuangan skripsinya. Gadis itu menuruni tangga cepat-cepat. Ia duduk tepat di samping Shaqila tanpa banyak bicara, hanya menatap wajah sahabatnya itu dengan pandangan yang begitu lembut.

"Lo dari ruangan pak Reyhan, ya?" tanya Siska pelan.

Pertanyaan yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya.

Shaqila memejamkan mata. Air matanya kembali mengalir pelan. Ia tidak menjawab, tapi tangis itu sudah cukup membuat Siska mengerti semuanya tanpa kata.

Siska mengembuskan napas panjang, lalu merangkul bahu Shaqila dengan hati-hati. "Sini, kalau mau nangis, nangis aja. Gue paham kok perasaan lo."

Ucapan itu membuat bibir Shaqila melengkung sedikit, meski dengan sedih. Sisca memang tipe yang tahu cara membuat seseorang merasa tidak sendirian.

"Enam belas kali, Sis…" suara Shaqila bergetar. "Enam belas! ada nggak sih mahasiswa lain yang lebih oon dari gue?”

Sisca mengusap punggungnya. "Bukan begitu, Qil. Pak Reyhan itu… ya begitu. Dosen super perfeksionis. Semuanya harus perfect, termasuk skripsi lo,"

"Lo tahu nggak? dia mengatakan skripsi gue ‘tidak layak’. Gitu doang tanpa jelasin panjang lebar. Cuma corat coret doang tanpa ngasih gue contoh harusnya di apain kayak…" Shaqila menahan napas, dadanya semakin sesak. "kayak gue ini nggak ada usaha sama sekali."

Siska mengernyit, jelas ikut kesal. "Dia emang sering gitu. Hampir seluruh mahasiswa yang dikasih tugas sama dia tu frustasi. Karena semuanya tu harus perfect. Tapi Shaqila yang gue kenal bukan tipe menyerah cuma gara-gara dosen perfeksionis satu itu."

Shaqila mendengus kecil, lemah. "Sis, ini bukan tentang ‘dosen perfeksionis’ ini tentang nasib masa depan gue! kalau tu dosen nggak mau lulusin gue, habislah gue. Orang tua gue nunggu gue wisuda tahun ini. Lo tahu kan seberapa gengsinya ay-"

Siska memegang tangan Shaqila, menghentikannya.

"Gue tahu, tapi lo nggak sendirian, Qil. Gue bakal bantu, sampai lo bisa sidang dengan nilai A sekalian."

Shaqila menunduk. Air matanya kembali jatuh pelan-pelan, membasahi kaos Siska.

"Kenapa sih hidup gue susah banget, Sis? Kenapa harus dia? Kenapa pembimbing gue harus dosen itu, kenapa bukan dosen lain aja?"

Siska menatap langit-langit tangga. "Mungkin… karena itu ujian yang harus lo hadapi sebelum wisuda,"

"Ujian?" Shaqila mengelap air mata lagi.

Siska terkekeh. "Untuk apapun itu semoga ujian ini berhasil lo hadapi."

Shaqila menghela napas kasar.

Ia benar-benar tidak melihat ujung dari semua ini.

Siska menepuk pipinya pelan. "Denger, Qil. Lo sudah kuat sampai sejauh ini. Lo berhasil revisi Enam belas kali tanpa memilih untuk membayar seseorang untuk membuatkan mu skripsi atau berhenti kuliah. Itu hebat."

"Hebat dari mana?"

''Dari segala sisi," jawab Siska cepat. "Kalau gue jadi lo, mungkin gue sudah lempar laptop ke kepala dosen itu."

Shaqila hampir tertawa. "Sis…"

"Beneran! lo bayangin, pas dia ngomel, ‘Metodologinya salah’, terus BRAK! laptop melayang. Pasti viral satu fakultas."

Shaqila menutup wajah dengan tangan, antara ingin tertawa dan menangis. "Lo tuh…"

Siska tersenyum kecil. "Tuh kan, mulai senyum. Gitu donk, baru kelihatan cantiknya kalau gitu. Walau masih cantikan gue sih,"

Suasana kembali hening sejenak, angin sore menyapu lembut tangga itu, membuat suasana sedikit lebih tenang.

Sampai akhirnya Siska bertanya dengan nada lebih serius.

"Jadi lo mau nyerah?"

Shaqila terdiam.

Pertanyaan itu menyerang tepat di titik lemah hatinya.

"Gue nggak tahu," jawabnya jujur. "Gue capek! Capek banget, Sis."

Shaqila menggigit bibir, matanya kembali berkaca-kaca.

Ia membiarkan kepalanya bersandar di bahu Siska.

"Sis… kalau gue gagal lagi, gue harus bagaimana?"

Siska tersenyum kecil, menepuk rambut Shaqila.

"Ya kita coba lagi. Dan kalau gagal lagi, kita coba lagi. Sampai si perfeksionis itu bosen nolak kamu, dan terpaksa lulusin."

Shaqila tertawa kecil di tengah tangisnya. "Kok lo yakin banget sih?"

''Ya harus yakin lah," jawab Siska dengan tegas.

Desakan orang tua

Langit sore mulai meredup ketika gadis itu melangkah pelan menuju parkiran. Map yang ia pegang terasa lebih berat dari biasanya, seakan setiap lembar kertas di dalamnya berubah menjadi beban yang menekan dadanya. Wajahnya pucat, dan langkahnya tidak beraturan. Suasana kampus sudah mulai sepi, hanya beberapa mahasiswa yang masih berjalan sambil menenteng laporan atau laptop.

Ponselnya bergetar. Ia menghela napas panjang sebelum melihat layarnya.

Mama:

Tiga panggilan tak terjawab. Dua pesan belum dibaca.

Tangan Shaqila sedikit gemetar saat membuka chat itu.

Mama:

Sha, kamu jadi bimbingan hari ini?

Mama:

Mama cuma ingetin… kamu harus lulus tahun ini, ya. Kami berharap banyak sama kamu. Jangan kecewakan kami!

Ia memejamkan mata, jantungnya mencelos seperti dijatuhkan dari ketinggian. Ia tahu orang tuanya bermaksud baik. Mereka ingin dirinya lulus tepat waktu. Tapi tetap saja, rasanya seperti ada tali yang terus dikencangkan di lehernya.

Gadis itu tidak lansung pulang. Ia duduk di jok motornya yang dingin. Angin sore menyapu rambutnya, namun tidak mampu menahan rasa panas di matanya. Ia menunduk, memeluk map nya erat-erat sambil mencoba bernapas stabil.

“Lulus tahun ini… lulus tahun ini… lulus tahun ini…” gumamnya lirih, seolah kalimat itu adalah mantra yang dipaksa masuk ke kepalanya.

Padahal skripsinya baru saja ditolak yang ke sekian kalinya. Ia tidak yakin akan lulus tahun ini.

Pikirannya melayang ke perbincangan seminggu lalu di rumah.

Dimana Sinta, mamanya berdiri di dapur, menyendok sup sambil berkata dengan nada datar, “teman mama bilang anaknya sudah mau sidang, masa kamu stay di skripsi?"

Fandi, papanya menimpali sambil membaca berita di ponselnya, "papa malu Sha kalau kamu tidak lulus tahun ini. Anak teman papa selesai sidang, sudah resmi jadi sarjana. Tinggal nunggu acara wisuda aja,"

"Apa kata teman papa nanti, jika anak papa tidak lulus tahun ini. Padahal papanya lulusan terbaik waktu kuliah dulu," lanjutnya lagi.

Gadis itu hanya diam, menggenggam ujung bajunya.

“Shaqila usahakan kok,” Itu saja yang bisa ia ucapkan.

Mamanya menghela napas panjang, suara yang terus terngiang di kepala Shaqila sampai hari ini. "Mama cuma ingin kamu cepat lulus. Tetangga kita saja anaknya sudah lulus tepat waktu,"

Kalimat itu lebih tajam dari pisau.

Dan sekarang, ketika ia membaca pesan-pesan dari mamanya, luka itu terbuka kembali.

Air mata yang tak diundang datang tanpa permisi.

Ia mencoba menoleh ke sekeliling, sepi. Nafasnya mulai tercekat. Tangan kirinya mengusap wajah cepat-cepat, tetapi semakin ia menahan, semakin deras tetesan itu keluar. Ia jatuh diam-diam, tanpa suara, tetapi getaran tubuhnya tak bisa disembunyikan.

Ia membungkuk, wajahnya tertutup rambut panjangnya. Bahunya naik turun, tersengal. Air mata jatuh membasahi punggung tangannya. Ia menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan suara.

“Kenapa harus gue yang alami seperti ini?” bisiknya dengan suara pecah.

Tekanan itu terasa seperti dinding yang semakin menyempit, mendorongnya dari segala arah. Orang tuanya menginginkan kelulusan tahun ini. Kampus menuntut kualitas. Dosen pembimbing menuntut ketelitian dan perfeksionis. Dan dirinya sendiri ia bahkan tidak yakin apa nanti ia dapat mengabulkan keinginan orang tuanya.

Di saat yang sama, ia takut pada dirinya sendiri, takut tidak mampu memenuhi harapan siapa pun.

“Sha?"

Gadis itu tersentak. Ia buru-buru mengusap wajah, namun jejak basah itu terlalu banyak. Ia mendongak perlahan dan melihat Siska berdiri di depannya dengan alis terangkat dan ekspresi khawatir.

"Lo kenapa? dari tadi gue cari, kok masih duduk di sini sendirian?"

Shaqila menggeleng panik. "Nggak apa-apa, Sisk. Gue cuma… capek."

Siska ikut duduk di jok motor tepat didepan motor Shaqila. Ia tidak peduli dengan siapa pemilik motor itu. Toh dia cuma mendudukinya bukan mengambilnya.

Shaqila menggigit bibir dan hanya bisa mengangguk.

Siska menepuk bahunya. "Ya ampun, Sha. Kalau lo mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan."

Kata-kata itu menjadi pemicu. Shaqila memalingkan wajah, tetapi tubuhnya kembali bergetar. Siska langsung berdiri dan merangkulnya.

Shaqila terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berbisik, “Mama maunya gue lulus tahun ini, Sis. Katanya gue jangan buang-buang waktu lagi… Papa juga bilang dia malu sama temannya karena anak-anak mereka lulus tepat waktu. Kenapa rasanya semua orang makin menekan gue?”

Siska menghela napas, lalu mengusap punggung Shaqila dengan lembut.

"Sabar Sha, lo pasti bisa,"

Shaqila menutup wajah, suaranya pecah, "Gue takut gagal. Gue takut bikin mereka kecewa… gue takut kalau gue nggak sanggup lulus tahun ini…"

"Dengar gue." Siska menarik dagu Shaqila agar menatapnya. "Kalaupun lo nggak lulus tahun ini, itu bukan kegagalan. Itu bukan akhir dunia. Lo sudah berusaha sekeras mungkin."

Shaqila menggeleng, "Tapi mereka nggak lihat itu… mereka cuma lihat hasil. Mereka cuma ingin gue selesai."

"Tugas lo bukan menyenangkan semua orang, Sha."

Shaqila mengembuskan napas kasar, matanya kembali berkaca-kaca. "Gue lelah, Sisk… gue beneran lelah."

Siska merangkulnya lebih erat. "Gue tahu! dan itu wajar karena lo manusia."

"Sha," Siska mencondongkan badan. "Takut itu wajar. Tapi lo nggak boleh berhenti cuma karena takut. Lo udah sejauh ini."

"Gue cuma pengen…" Shaqila menggigit bibir, mencari kata, "pengen bebas dari tekanan ini."

Siska mengangguk pelan. "Lo capek karena lo nahan semuanya sendirian. Bagi sedikit ke gue, Sha. Gue bukan cuma teman buat ketawa bareng."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kafe kecil dekat kampus biasanya menjadi tempat favorit Shaqila untuk mengerjakan tugas, tetapi siang itu ruangan yang nyaman justru terasa menyesakkan. Laptopnya terbuka, cursor berkedip di layar word kosong seperti sedang mengejeknya. Di samping laptop, kertas revisi dari dosen pembimbingnya Reyhan, berserakan, penuh coretan tinta merah yang tajam, menyiratkan banyak sekali kekurangan.

Shaqila menatap halaman itu lekat-lekat. Setiap catatan tertulis seperti suara-suara yang menghantam pikirannya.

"Kurang relevan!"

"Analisis sangat dangkal!''

"Perbaiki seluruh paragraf!"

"Harusnya kamu sudah menguasai ini!"

Tangan Shaqila mengepal pelan. Nafasnya pendek, dada terasa sesak. Ia sudah membaca komentar itu berkali-kali sejak kemarin, tetapi setiap kali membuka file skripsinya, pikirannya membeku. Ia tahu apa yang harus dikerjakan, tapi tubuhnya seperti menolak.

*Kenapa susah banget…" bisiknya parau.

Ia berusaha mengetik. Satu kalimat, lalu menghapusnya lagi. Mengetik ulang, menghapus lagi. Tiga puluh menit berlalu, dan layar word masih tetap kosong.

Orang-orang di sekitarnya tertawa pelan, bercanda, dan sebagainya seolah dunia mereka berjalan lancar. Sementara dia seolah terjebak dalam kabut di dalam kepalanya sendiri.

Gadis itu mengambil draf revisi, membaca satu komentar dari Reyhan.

"Teorimu tidak mengarah ke pembahasan

utama. Pahami lagi konsepnya."

Ia membuka Google Scholar. Mencari jurnal. Membaca beberapa halaman tapi setelah lima menit, matanya buram. Tulisan-tulisan itu menyatu, menjadi garis-garis yang ia tak mampu pahami.

Ia menutup jurnal dan memijat pelipis.

"Gue tuh ngerti… tapi kenapa kayak nggak masuk otak?" suaranya getir.

Ia mencoba membaca lagi.

Tapi dalam hitungan detik, tenggorokannya tercekat. Ada rasa panas mengalir ke matanya.

"Sha, fokus… fokus…" Ia menampar pipinya pelan, mencoba menyadarkan diri, tetapi suara putus asa dari dalam kepalanya terdengar lebih keras.

'Kamu memang nggak cukup pintar.'

'Orang lain bisa lulus cepat, kamu kenapa nggak?

'Mama benar… kamu buang-buang waktu dan membuat papa malu,'

'Pak Reyhan pasti juga capek bimbing kamu.’

Shaqila menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa asin. Tubuhnya mulai bergetar ringan. Ia menunduk, mengusap matanya dengan cepat.

Laptopnya menjadi buram karena air mata yang tak tertahan. Ia buru-buru menutup layar, menundukkan kepala, bahunya naik turun.

Ia memeluk tasnya erat-erat, mengatur napas sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

"Gue capek… sumpah capek banget…" gumamnya, suara nyaris tidak terdengar.

Seketika itu, semua beban yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan runtuh bersamaan. Tekanan orang tua, tekanan kampus, tekanan dosen pembimbing, dan tekanan pada dirinya sendiri.

Ia takut gagal.

Ia takut orang tuanya kecewa.

Ia takut kalau ia akan jadi bahan perbandingan keluarga selamanya.

Dan ia takut Reyhan akan meremehkannya lagi.

"Kalau gue nggak lulus tahun ini… apa mereka bakal marah? Apa gue bakal di banding-bandingin terus?"

Pikiran itu menghantamnya seperti ombak besar. Ia mengusap air mata lagi dan lagi, tetapi setiap usapan hanya memaksa air baru keluar.

Setelah beberapa menit, ia akhirnya menarik napas dalam-dalam. Ia membuka laptop pelan, meski matanya masih merah. Ia memaksa dirinya membaca ulang catatan Reyhan lagi.

“Tambahkan variabel kontrol. Tidak bisa seperti ini.”

Shaqila mengetik.

Variabel kontrol adalah…

Stop.

Ia menghapusnya.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Mengusap wajahnya keras-keras hingga pipinya memerah.

"Kok susah banget, sih…" suaranya pecah, penuh frustrasi.

Ia mencoba membuka file lain, membaca bab satu, bab dua, berharap menemukan ritme. Tapi yang ia rasakan justru keraguan yang semakin menebal.

Kepalanya mulai pusing. Pandangannya berputar sesaat. Ia bersandar ke kursi, menutup mata sambil menekan dada kanan. Napasnya berat, tersengal seperti ada batu besar menekan.

"Satu paragraf… please… satu paragraf aja…" mohon Shaqila pada dirinya sendiri.

Ia mengetik satu kalimat.

Hening.

Ia baca ulang.

“Ini jelek banget…” ia berbisik, suara pecah.

Air matanya jatuh lagi.

“Ya Tuhan, kenapa gue nggak bisa? kenapa gue bodoh banget?”

Di tengah kejatuhan itu, ia tiba-tiba teringat percakapan singkat dengan mamanya pagi tadi.

"Sha, mama mau lihat kamu wisuda tahun ini. Kerja itu susah kalau kamu nggak lulus-lulus."

"Sha, jangan main HP terus. Fokus skripsi!"

"Jangan bikin malu keluarga."

Kata-kata itu menghantamnya lagi. Luka lama terbuka, lebih dalam dari sebelumnya.

Tiba-tiba ada tangan lembut menyentuh bahunya.

Shaqila terkejut. Ia mendongak pelan dan menemukan Siska berdiri di sampingnya, nafas sedikit terengah seperti habis berlari.

"Gue tahu lo disini, dan gue tahu lo butuh teman," ucap Siska.

Ya Siska memang sudah tahu ini adalah tempat favorit sahabatnya. Karena mereka juga beberapa kali nongkrong ditempat ini.

Ia bersandar pada Siska dan menangis tanpa suara, bahunya bergetar, tubuhnya melemah.

"Lo nggak harus sesempurna itu, Sha…" bisik Siska. "Revisi itu bukan bukti lo bodoh. Semua orang prosesnya beda."

Shaqila menyeka air mata dengan lengan. "Gue takut… Sisk. Gue takut banget. Rasanya kayak apa pun yang gue lakukan itu salah."

Siska mengusap kepalanya. ''Nggak apa-apa takut. Yang penting lo tetap ada di sini dan nggak nyerah."

"Kayaknya… gue hampir nyerah."

"Nggak! lo nggak boleh nyerah! Gue aja yang baru nulis bab awal nggak nyerah. Masa lo nggak. Kita usahain wisuda bareng-bareng tahun ini ya" Siska memegang pipinya, menatapnya serius.

"Lo masih mau buka laptop, lo masih mau baca ulang, lo masih duduk di sini dan itu bukti bahwa lo belum nyerah," lanjutnya.

Shaqila terdiam, air mata kembali turun, tapi kali ini lebih tenang.

Siska tersenyum lembut. "Ayo kita cicil pelan-pelan. Satu kalimat dulu, kalau nggak bisa, ya istirahat sebentar. Kita bukan robot!"

Si Killer yang perfeksionis

Koridor lantai dua Fakultas Ekonomi siang itu sedang penuh. Mahasiswa berlalu-lalang dengan wajah lelah, sebagian membawa map tebal berisi skripsi, sebagian lain membawa laptop. Dan di ujung koridor, tepat di depan ruang presentasi kecil, terdengar suara berat yang langsung membuat semua orang merinding.

"Jelaskan lagi!" suara itu tegas, keras, dan dingin.

Dr. Reyhan Adiyasa M,M berdiri tegak di depan seorang mahasiswa laki-laki yang wajahnya pucat. Mahasiswa bernama Tegar, mahasiswa semester akhir. Dia memegang pointer yang gemetar di tangannya.

Di layar LED, slide presentasi skripsi terpampang. Namun bukan isi slide itu yang menarik perhatian.

melainkan ekspresi Reyhan.

Dari jauh saja, terlihat jelas rahangnya mengeras, kedua tangannya terlipat di dada, dan tatapan matanya menusuk seperti sedang menilai apakah makhluk di depannya layak ada di bumi atau tidak.

Shaqila berdiri tak jauh dari pintu. Ia baru saja lewat hendak me print revisinya, tetapi langkahnya terhenti begitu mendengar nada suara Reyhan.

Situasinya tegang.

Bahkan seseorang yang lewat saja langsung menunduk, tidak berani mendongak.

"Tu-tujuan penelitian saya adalah…" Tegar mencoba berbicara, tetapi suaranya bergetar. "Menganalisis pengaruh motivasi kerja terhadap—"

"STOP!"

Satu kata itu saja membuat seluruh ruangan membeku.

Reyhan melangkah maju. Wajahnya tidak marah, tidak berteriak, justru semakin dingin. Itulah yang membuat semua orang ketakutan.

"Kamu sudah lima kali bimbingan,"ucap Reyhan pelan.

"Lima kali!"

Nada suara itu turun satu oktaf, lebih pelan, tapi justru lebih menusuk.

Tegar menunduk. "I-iya, Pak."

"Dan kamu masih menyusun rumusan masalah seperti mahasiswa semester dua?"

Tegar terdiam, bibirnya bergetar.

Reyhan mengambil berkas skripsi yang terletak di meja. Ia mengangkat halaman depan dengan dua jari, lalu mengibaskannya sedikit.

"Lihat ini!"

Suara Reyhan masih tenang, tapi nada kekecewaannya sangat jelas.

"Tujuan penelitian tidak nyambung dengan variabel. Variabel tidak nyambung dengan teori. Teori tidak nyambung dengan latar belakang. Semuanya… tidak saling terkait. Kamu mau saya bimbing apa kalau dasarnya saja tidak kamu pahami?" ucap dosen itu dengan nada yang tetap tenang namun tajam.

Tegar menelan ludah, hampir tidak bisa bicara, "Ma-maaf, Pak… saya akan revisi lagi."

Tatapan Reyhan berubah tajam.

"Kamu selalu bilang begitu." Reyhan menurunkan berkas dengan suara plek yang terdengar menampar udara. "Tapi hasil akhirnya selalu sama. Tidak ada perkembangan."

Shaqila merinding melihat cara Reyhan menatap mahasiswa itu. Di kampus, Reyhan memang terkenal sebagai dosen killer dan perfeksionis. Banyak mahasiswa akhir yang berharap agar ia terhindar dari dosen itu, termasuk dirinya. Namun keberuntungan tidak berpihak padanya. Ia menjadi salah satu mahasiswi yang harus di bimbing dosen itu.

 Shaqila juga pernah mendengar bahwa dosen itu pernah membuat seorang mahasiswa batal yudisium karena revisinya tidak selesai sesuai standar perfectnya. Dia pernah menolak skripsi meski deadline sudah mepet.

Dan sekarang gadis itu melihat sendiri, rumor itu tidak bohong.

Reyhan menghela napas, tapi bukan helaan lelah, lebih seperti helaan seseorang yang muak melihat standar rendah.

"Coba ulangi!" perintah Reyhan lagi. "Apa hubungan motivasi dengan produktivitas kerja di penelitianmu?"

Tegar membuka mulut. "Mo-motivasi itu mempengaruhi karyawan dalam—"

"Bagaimana pengaruhnya?" Reyhan memotong. "Sebutkan teori dasar. Jangan kasih saya jawaban umum yang bahkan bisa kamu dapat dari artikel google lima menit."

Tegar memerah dan bergetar. Kata-katanya saling bertabrakan. "Motivasi menurut… menurut… eh… Herz… Her—"

"Herzberg."Reyhan menyelesaikan dengan nada sinis. "Teori Herzberg? kamu bahkan tidak bisa menyebutkan teori yang kamu pakai?"

Tegar menunduk makin rendah.

Reyhan mengambil spidol, menulis cepat di papan. Tulisan tangannya tegas, rapi, lurus.

"Teori A mempengaruhi B → C. Variabel utama → variabel moderasi → variabel dependen," terangkan Reyhan.

Dosen itu berbalik, "begitu cara menjelaskan! padat, jelas, terstruktur!"

Tatapannya turun ke Tegar. "Bukan seperti penjelasanmu tadi, yang bahkan saya tidak bisa tangkap arahnya ke mana."

Beberapa mahasiswa lain yang mengintip menahan nafas, termasuk Shaqila.

Reyhan menutup spidol, "kamu bisa lulus. Saya yakin itu, tapi bukan dengan kualitas seperti ini."

Tegar mengangguk cepat. "Baik…pak…saya revisi-"

"Tidak!" Reyhan mengangkat tangan, menghentikan. "Sekarang!"

Tegar terbelalak. "Se-sekarang?"

Reyhan mencondongkan tubuh sedikit. "Saya tidak punya waktu untuk membiarkan mahasiswa bimbingan saya menunda sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan hari ini."

Ia mengetuk meja tiga kali, "buka laptop, tulis ulang rumusan masalah sekarang! saya perhatikan.”

Aliran listrik seperti menyambar ruangan. Beberapa mahasiswa langsung mundur perlahan, takut ikut terseret badai emosi dosen killer itu.

Tegar mengeluarkan laptop dengan tangan gemetar. Reyhan berdiri di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat keringat dingin mengalir di sepanjang belakang leher.

Shaqila bisa melihat tangan Tegar bahkan tremor saat mengetik.

Reyhan memelototi layar, " hapus paragraf itu! itu salah.”

Tegar menghapusnya.

"Kamu ulangi teori Herzberg. Dua faktor, sebutkan inti teorinya!"

Jari Tegar bergerak lambat.

"Terus!" perintah Reyhan.

"Ada faktor higienis dan motivator," Tegar mengetik.

"Bedakan fungsi masing-masing. Jangan asal tempel."

Shaqila memegang dadanya sendiri. Bahkan sebagai penonton, ia ikut stres.

Mahasiswa yang lewat di koridor berhenti sejenak, pura-pura baca poster di dinding agar bisa mendengar. Semua kampus tahu Reyhan adalah dosen paling killer, semuanya harus perfect tapi melihatnya langsung seperti menonton adegan film perang.

Setelah sepuluh menit, Tegar menyerahkan hasil revisinya sebagian.

Reyhan membacanya.

Tidak ada perubahan ekspresi.

Hening,

Lama,

Tegar mengerjapkan mata berkali-kali, menunggu vonis.

Akhirnya Reyhan berbicara.

"Ini jauh lebih baik!"

Nada suaranya turun sedikit, bukan hangat, tapi lebih manusiawi.

Tegar mengangkat wajah, " be-beneran, Pak?"

"Jangan senang dulu." Reyhan mengibaskan tangan. " Ini hanya membuktikan kamu seharusnya bisa dari awal."

Tegar kembali menunduk, tapi kali ini ada rasa lega.

Reyhan mengambil map skripsi. "Kerjakan bab dua dan tiga dengan struktur yang sama, Jangan menunda!"

"I-ya Pak." ucap Tegar.

"Dan-" Reyhan menatapnya tajam, “jangan datang ke saya lagi kalau hasilnya kembali kacau. Saya bukan penghapus ajaib untuk membenarkan kekacauanmu."

Tegar menelan salivanya, "baik Pak,"

"Baiklah kau boleh meninggalkan ruangan ini," ucap Reyhan santai.

Tegar mengemasi barangnya terburu-buru, wajahnya masih pucat, tapi napasnya lebih teratur. Ia keluar dari ruangan sambil menutup wajah sendiri.

Shaqila mematung melihat hal itu. Ia sadar bahwa Reyhan bukan saja dosen pembimbingnya, melainkan badai yang harus ia lewati.

Gadis itu belum sadar bahwa sejak tadi ia meremas ujung bajunya terlalu kuat sampai ujung-ujungnya kusut. Semua kejadian barusan serasa membuat jantungnya turun ke perut.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang masih terasa kuat di udara. Langit sore tampak abu-abu redup ketika mobil Reyhan melaju pelan di jalan perumahan yang biasanya tidak ia lewati.

Ia baru selesai rapat dengan dekan dan memutuskan memotong jalan untuk menghindari kemacetan kota.

Dosen itu menyetel wiper sekali lagi, hanya untuk menghapus sisa-sisa embun di kaca. Ekspresinya tetap datar, dingin seperti biasanya.

Beberapa meter di depan, Reyhan melihat ada mobil berwarna silver tua berhenti di pinggir jalan. Kap depan terbuka, dan ada pria setengah baya berdiri di depannya, mengibas-ngibas tangan mencoba menguapkan uap tipis yang keluar dari mesin.

Di sisi kiri mobil, seorang wanita memegang payung kecil, menutupi suaminya dari sisa rintik hujan.

Dosen itu hendak tetap melaju. Ia sempat berpikir masalah orang lain bukan urusannya.

Namun mobil pria paruh baya itu memberi kode lampu darurat yang berkedip pelan, meminta bantuan siapa pun yang lewat.

Dan meski ia ingin mengabaikan… hatinya menolak karena masih memiliki perasaaan manusiawi.

Laki-laki itu memijak rem. Mobilnya berhenti pelan di belakang kendaraan yang mogok itu.

Ia turun tanpa payung, melangkah mendekat.

"Permisi, pak," ucap Reyhan, suaranya tenang namun tegas. "Mobilnya bermasalah?" tanya pria itu meski ia sudah tahu jawabannya.

Pria paruh baya itu menoleh kaget, lalu tersenyum malu. "Oh, maaf nak. Iya ini tiba-tiba mati. Panas banget mesinnya. Mungkin overheat." ucapnya.

Wanita di sampingnya ikut menunduk hormat.

"Maaf merepotkan ya, nak. Kamu jadi hujan-hujanan gini,"

Reyhan menggeleng. "Tidak apa-apa, boleh saya lihat?" tanyanya.

Pria paruh baya itu langsung memberi ruang. Reyhan mendekat, mencondongkan tubuhnya untuk memeriksa mesin mobil itu. Beberapa percikan air hujan masih jatuh dari kap yang terbuka, membuat rambut dan bahu Reyhan sedikit basah, tapi ia tidak peduli.

Ia memeriksa baut, radiator, kemudian mengusap sedikit cairan di ujung jarinya.

"Radiatornya panas sekali," gumamnya. "Kemungkinan air pendingin habis atau ada kebocoran kecil."

Pria paruh baya tadi menghela nafas, "Aduh… pantes saja tadi tiba-tiba mati."

Reyhan menatap pria itu sesaat, "Bapak punya air mineral?"

"Ada! ada di mobil," jawab wanita tadi yang diyakini adalah istri dari pria paruh baya itu.

Wanita itu buru-buru membuka pintu, mengambil botol air besar yang sudah tinggal setengah. Reyhan menerimanya, lalu membuka penutup radiator dengan hati-hati.

"Nanti kalau sudah tidak terlalu panas, isi sedikit saja, pak. Ini tidak menyelesaikan masalah besar, tapi cukup untuk membawa mobil sampai bengkel terdekat!"

"Ya ampun… terima kasih banyak ya, nak," ucap wanita itu tulus, matanya berkaca-kaca. Karena sudah satu jam ia dan suaminya di tengah jalan itu namun tidak ada yang mau singgah menolongnya meski sudah dikode. Ia mengira bahwa ia dan suaminya akan tetap seperti ini sampai esok. Namun ia tidak menyangka ada seorang anak muda yang menolongnya.

Laki-laki yang berprofesi sebagai dosen itu tersenyum tipis, senyum kecil yang jarang sekali ia keluarkan, "sama-sama."

Saat ia hendak menutup kap, wanita itu memperhatikan wajah orang yang menolongnya. Matanya mengecil, seolah menilai penampilan Reyhan

"Nak, kalau dilihat-lihat penampilanmu seperti dosen, apa kamu seorang dosen?" tanya wanita tadi.

Reyhan terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk. "Betul bu, saya dosen di Universitas Harapan."

Suara wanita itu langsung berubah heboh dan cerah, "ya ampun, serius? anak saya juga kuliah di sana. Dia di fakultas Ekonomi dan bisnis."

"Mungkin kamu kenal dengan anak kami, dia semester akhir, sedang mengurus skripsi. Namanya Shaqila." timpal pria paruh baya tadi.

Reyhan terdiam, pikirannya tertuju pada seseorang.

Shaqila?

Mahasiswi yang revisinya ia tolak enam belas kali.

Yang selalu datang dengan wajah tegang, tangan gemetar, dan mata seperti habis menangis.

''Shaqila… Shaqila Ardhani Vriskha, pak?" suara Reyhan pelan, namun jelas.

Wanita itu langsung tersenyum lebar. "Iya! iya itu! Shaqila anak kami, kamu kenal? dia kuliah di situ, semester akhir,"

Reyhan merapikan ujung kemejanya refleks untuk menutupi keterkejutannya.

"Saya… pembimbing skripsinya," ucap dosen itu.

Wajah kedua orang tua paruh baya itu berubah terkejut sekaligus senang. "Ya Allah… kami tidak pernah menyangka akan bertemu dengan dosen pembimbingnya Shaqila," ucap wanita tadi. Ibunya Shaqila.

Pria paruh baya yang merupakan ayah Shaqila mengambil langkah mendekat, harus menengadah sedikit untuk menatap laki-laki yang lebih tinggi darinya. "Nak, eh maksudnya pak. Kami mohon bimbing anak kami sampai lulus ya pak. Kami berharap bapak ekstra sabar dalam menghadapinya. Dia orangnya rajin kok pak, tiap hari saya perhatikan dia begadang terus. Kami cuma berharap dia bisa lulus tepat waktu."

Kalimat itu menusuk langsung.

Dan untuk pertama kalinya wajah dingin Reyhan retak sedikit dari dalam.

Selama ini ia selalu menilai Shaqila dari tulisan, dari kesalahan, dari standar akademik.

Ia tidak pernah melihat apa yang ada di balik itu.

Ia tidak pernah tahu wajah panik yang dibawa Shaqila setelah revisi ditolak.

Ia tidak pernah tahu perjuangan begadangnya. Karena dia saat berada diposisi Shaqila hanya membutuhkan waktu kurang lebih sebulan untuk menyelesaikan skripsi tanpa begadang. Hanya dikerjakan di waktu senggang. Dan skripsinya itu ACC dalam sekali pengajuan tanpa adanya revisi.

Reyhan menutup kap mobil perlahan, kemudian memberi instruksi terakhir. "Biarkan mobilnya istirahat sepuluh menit. Lalu isi airnya. Setelah itu pelan-pelan saja ke bengkel terdekat."

Ayah Shaqila mengangguk cepat.

"Mengenai Shaqila, itu sudah menjadi kewajiban saya untuk membimbingnya. Karena itu bagian dari pekerjaan saya. Acc atau tidaknya tergantung dari Shaqila sendiri. Sebaiknya kalian jangan terlalu menekan dia biar dia sedikit lebih santai untuk melakukan tugasnya. Karena hal itu bisa mempengaruhi konsentrasinya mengerjakan tugas akhirnya." ucap Reyhan panjang lebar.

Orang tua Shaqila tersenyum dan mengangguk.

"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Reyhan dengan sopan, kemudian berjalan kembali ke mobilnya.

Namun sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke arah mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!