Fiana, gadis cantik berusia 20 tahun, turun dari sebuah mobil mewah bersama kedua sahabatnya Tita dan Jelita. Fiana baru seminggu ada di kota ini setelah 7 tahun ia menghabiskan kehidupannya di Amerika, memilih jauh dari keluarganya karena ia bosan dengan semua masalah yang menimpa keluarganya.
Tita dan Jelita adalah teman masa kecilnya yang tidak pernah berhenti saling berhubungan walaupun Fiana sudah pindah ke Amerika.
"Tita, kalian saja yang masuk. Aku menunggu di sini. Lagian aku bukan alumni SMA ini. Mereka pasti akan menertawakan aku." Fiana kembali masuk ke dalam mobil.
"Ayolah, Fi. Kita akan bersenang-senang malam ini. Masa sih kamu hanya duduk saja di dalam istanamu itu. Kamu akan akan kembali ke Amerika 2 minggu depan. Lagi pula tak akan ada yang mengenali mu. Kita akan mengenakan topeng. Nanti topengnya di buka saat jam sudah menunjukan pukul 12 tengah malam."
"Dan aku harus pulang sebelum jam 12 tengah malam sebelum seluruh bodyguard papaku mengobrak-abrik kota ini."
Tita dan Jelita jadi tertawa.
"Berdoa saja semoga tak ada pangeran yang mengajakmu berdansa." kata Jelita sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku bukan Cinderela." ujar Fiana lalu segera mengikuti langkah kedua temannya.
Waktu baru menunjukan pukul 7 malam, namun sudah banyak yang datang.
Reuni tahun ini mengundang angkatan ke-40 sampai angkatan ke-50.
Fiana berusaha mengikuti semua keinginan sahabat-sahabatnya. Walaupun memang topeng itu membuat wajahnya Sedikit gatal.
Di bagian lain taman parkir, nampak seorang cowok yang baru saja memarkir mobilnya.
Kedua temannya ikut turun bersamanya. Dia adalah Arjuna Zefanya Tekins. Pewaris utama keluarga Tekins walaupun memang dia adalah anak bungsu. Kedua kakaknya adalah perempuan sehingga Arjuna menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi kedua orang tuanya.
"Mari kita pasang gaya menggoda untuk memikat hati para wanita." kata Jelo yang adalah sepupu Arjuna sekaligus juga teman baiknya.
"Kamu itu bicaranya kalau bukan tentang party, pasti tentang wanita." Zack menepuk pundak Jelo.
"Memangnya aku kayak Juna, yang tanpa memasang gaya memikat pun langsung banyak yang menempel?" sindir Jelo sambil menatap Arjuna yang hanya senyum-senyum saja.
"Jun, bagaimana kabarnya Tantri?" tanya Zack.
"Tantri? Memangnya aku dan dia ada hubungan apa?" Arjuna mengenakan topengnya.
"Ya. Aku lupa. Kamu tidak pernah jatuh cinta."
Zack dan Jelo tertawa setiap kali mengingat perkataan Arjuna yang mengatakan bahwa ia belum pernah jatuh cinta diusianya yang kini ada di angka 25 tahun.
Ketiga cowok itu pun memasuki gedung olahraga yang kini sudah di sulap menjadi tempat party. Mata Arjuna menatap ring basket yang tergantung. Di sinilah dulu ia pernah menjadi bintang pemain basket di sekolahnya.
Mereka segera mengisi buku tamu yang ada sebelum akhirnya menikmati makanan dan minuman yang sudah disiapkan.
Acara pun dimulai. Pembukaan oleh mantan kepala sekolah yang kini sudah pensiun. Ada tampilan foto-foto siswa yang berprestasi dan saat foto Arjuna ditayangkan, para gadis langsung histeris dan saling menatap. Mereka mau tahu apakah mantan ketua OSIS itu ada di sini atau tidak.
Di sudut ruangan, nampak Fiana yang kepanasan. Sekalipun ruangan ini ada AC nya, namun padatnya orang yang ada, tetap saja terasa panas.
"Tita, aku ke toilet dulu ya?" pamit Fiana lalu segera meninggalkan ruangan itu
Tita dan Jelita nampak asyik dengan cowok-cowok tampan yang entah dari angkatan betapa.
Fiana pun keluar dari pintu samping. Ia menikmati taman sekolah yang sejuk ketika merasakan hembusan angin malam.
Di bagian lain taman itu, nampak Arjuna yang juga keluar dari gedung olahraga itu. Cowok itu membuka topengnya karena ia sendiri merasa wajahnya menjadi gatal saat harus mengenakan topeng yang ada.
Arjuna merentangkan tangannya untuk sekedar merilekskan tubuhnya. Tatapannya berhenti pada sosok perempuan yang mengenakan gaun berwarna hijau. Gadis itu terlihat begitu mempesona dibalik topeng yang ia kenakan.
Saat gadis itu membuka topengnya, Arjuna terpana. Dalam hidupnya, ia sudah melihat ribuan gadis cantik. Namun gadis yang berdiri di hadapannya seakan memancarkan keindahan yang belum pernah Arjuna lihat.
Rambutnya hitam. Matanya bulat, dan bibirnya yang sedikit terbuka itu nampak begitu tipis.
Gadis itu menoleh ke arah Arjuna. Ia pun nampaknya terpana. Fiana merasakan pipinya menjadi panas, saat ia mengangumi dalam hati ketampanan cowok yang ada di depannya.
Keduanya saling bertatapan cukup lama. Sampai akhirnya Arjuna memberanikan diri untuk menyapa. "Hai....!" katanya lalu perlahan mendekat. "Bosan berada di dalam?"
Fiana tersenyum. "Ya. Karena sebenarnya aku adalah tamu yang tak diundang."
"Maksudnya?"
"Aku bukan alumni sekolah ini. Aku diculik oleh teman-teman ku karena menurut mereka aku harus melihat keseruan acara ini."
"Dan kamu tidak merasakannya?"
"Karena aku tidak pernah ada di dalam nya."
Arjuna mengangguk. "Aku sendiri yang pernah ada di dalamnya, justru tak merasa nyaman dengan situasinya."
Fiana menatap sekelilingnya. "Tapi sekolah ini nampaknya sangat baik."
"Ini memang salah satu sekolah terbaik. Apakah kamu bukan orang sini?" tanya Arjuna tanpa melepaskan tatapannya pada gadis itu.
"Aku lahir dan melewati masa kanak-kanak ku di kota ini. Namun sudah 7 tahun aku meninggalkan kota ini."
"Apa yang membuatmu pergi?"
Fiana menunduk sedih. "Aku benci pertikaian, permusuhan dan hidup yang jauh dari kedamaian."
"Aku juga membenci hidup yang seperti itu. Namun aku harus kembali ke sini karena tanggungjawab."
Fiana menatap Arjuna. Namun ia memalingkan wajahnya karena merasakan tatapan cowok itu menusuk hatinya. Membuat jantungnya berdebar sangat kencang.
"Oh ya, aku Arjuna. Dan kamu?" tanya Arjuna sambil mengulurkan tangannya.
"Fiana!" jawab Fiana sambil membalas uluran tangan Arjuna.
"Nama yang cantik. Secantik orangnya."
Fiana tersenyum. Namun tentu saja ia bukan gadis yang cepat baper.
"Aku gadis keberapa yang kamu bilang seperti itu?" tanya Fiana sambil menarik tangannya namun Arjuna tak mau melepaskannya.
"Kamu yang pertama." kata Arjuna sambil menatap Fiana dengan mata yang berbinar.
Fiana terkekeh. "Kamu pandai merayu."
"Aku tidak pernah merayu perempuan lain sebelumnya."kata Arjuna serius.
"Aku tak percaya."
Arjuna tersenyum. "Aku tak marah. Itu penilaianmu. Dan aku ingin dengan berjalannya waktu, penilaian itu akan berubah." Arjuna menunduk lalu mencium punggung tangan Fiana sebelum melepaskan genggamannya secara perlahan.
"Aku tidak akan memiliki waktu untuk mengenalmu. Karena aku tak lama lagi akan pergi." kata Fiana sambil berusaha menyembunyikan tubuhnya yang bergetar saat Arjuna mencium punggung tangannya.
"Aku akan membuatmu percaya sehingga kau tak akan pergi." kata Arjuna dengan tatapan mata yang lurus ke arah Fiana.
"Oh ya?" Fiana masih menunjukan rasa tak percayanya.
"Ya. Karena aku merasa jatuh cinta padamu pada pandangan pertama."
Jantung Fiana bagaikan berhenti berdetak. Ia langsung membuang muka. Tak berani menatap cowok tampan di sampingnya.
"Fiana...., kamu di mana?" terdengar juara Tita yang memanggil.
Fiana langsung menoleh ke arah pintu. "Aku pergi. Sudah dicari." gadis itu sedikit berlari menuju ke arah pintu.
"Kamu ngapain di luar?" tanya Tita.
"Mencari udara segar." Fiana mengenakan lagi topengnya sebelum memasuki ruangan.
Arjuna langsung mengikuti langkah gadis itu. Ia memakai lagi topengnya dan mencari sosok gadis yang sudah membuat hatinya bergetar.
"Juna, kamu dari mana?" tanya Jelo. "Kamu masih ingat Giza kan? Gadis itu tadi mencarimu."
Arjuna tak memperhatikan apa yang temannya itu katakan. Matanya hanya diarahkan mencari gadis yang gaun berwarna hijau. Arjuna menemukannya. Ia segera mendekat lalu menunduk hormat sambil mengulurkan tangannya.
"Nona, maukah kau berdansa dengan ku?"
Fiana terkejut saat menyadari kalau itu adalah Arjuna.
"Ayo berdansa, Fi." Jelita mendorong Fiana sampai akhirnya gadis itu menerima uluran tangan Arjuna. Keduanya pun berdansa bersama. Lagu lawas yang dinyanyikan Elfis Presley "Cant help falling in love with you".
"Kamu ternyata tidak menyerah." kata Fiana sambil terus mengikuti irama lagu.
"Kenapa harus menyerah kalau hatiku sudah diikat olehmu."
Fiana kembali tertawa. "Jangan gombal."
"Sudah ku katakan. Aku tidak pernah gombal apalagi merayu gadis lain. Kalau gadis-gadis yang mengejar dan merayu aku, cukup banyak."
"Wah, kamu play boy juga."
"Bukan play boy, Fiana sayang. Karena aku tak pernah merayu dan menyatakan cinta pada mereka."
"Kok kamu panggil aku dengan kata sayang?"
Arjuna tersenyum manis. "Karena kamu akan menjadi kesayangan aku." katanya sambil berbisik membuat bulu kuduk Fiana berdiri.
Gadis itu diam.
"Kenapa diam?" tanya Arjuna.
"Suka aja diam. Memangnya nggak boleh?"
"Apakah kamu ternyata suka juga dengan aku?"
"Kamu ini!" Fiana pura-pura marah. Ia memukul pundak Arjuna membuat cowok itu jadi semakin senang.
Lampu tiba-tiba mati dan musik pun berhenti. Terdengar teriakan histeris dari beberapa perempuan.
"Kamu takut?" bisik Arjuna lalu perlahan menarik tubuh Fiana sehingga bisa di peluknya.
"Tidak." jawab Fiana. Ia merasa jantungnya berdetak cepat saat Arjuna menyandarkan kepalanya di dada cowok itu. Tangan Arjuna yang satu ada di pinggang Fiana sedangkan tangannya yang lain ada di kepala gadis itu.
"Lalu mengapa aku merasa kalau tubuhmu bergetar?" tanya Arjuna masih berbisik juga. Tangan cowok itu kini memegang kedua sisi pipi Fiana.
"Jangan takut. Aku akan menjagamu." lalu tanpa di duga, ia mencium puncak kepala Fiana.
Gadis itu memejamkan matanya. Kedua tangannya yang tadi ada di dadanya perlahan terlepas dan ia perlahan memegang pinggiran kemeja yang Arjuna kenakan.
"Fiana, ayo kita pergi dari sini?" ajak Arjuna.
"Kemana?"
"Ikut aja dulu."
"Tapi...." Fiana menahan tangan Arjuna yang menariknya.
"Aku bukan orang jahat, Fiana. Percayalah."
Agak ragu, Fiana pun mengikuti langkah Arjuna. Keduanya pergi ke luar dengan bantuan cahaya dari senter ponsel Arjuna.
"Ayo masuk!" Arjuna membuka pintu mobil jaguar hitam miliknya.
"Tapi...."
"Kamu takut aku akan melakukan sesuatu yang tidak baik padamu?" tanya Arjuna.
"Kamu berani bersumpah kalau kamu orang baik?"
"Ya, Fiana. Aku hanya lah orang yang sedang jatuh cinta."
Fiana pun masuk ke dalam mobil Arjuna. Tita dan Jelita yang sempat melihat Fiana keluar terkejut melihat pelat nomor mobil itu.
"Astaga, itu kan mobil Arjuna Tekins? Gawat....!" Tita dan Jelita langsung merasa kalau kaki mereka tak kuat.
************
Hallo selamat datang di novel terbaru sekaligus novel terakhir emak di tahun ini.
Makasi buat Gina Pratiwi yang mengirimkan ide cerita ini.
Mobil Arjuna berhenti di sebuah daerah perbukitan. Dari sini mereka bisa melihat seluruh kota.
"Wah, tempat ini sangat indah." kata Fiana saat ia keluar dari mobil.
"Kamu tak tahu tempat ini? Kamu kan bilang lahir di sini." Arjuna nampak heran.
Fiana tertawa kecil. "Aku memang lahir di sini. Namun aku tak pernah keluar rumah sendiri apalagi bepergian di tempat-tempat seperti ini. Aku bahkan harus homeschooling."
"Sampai segitunya?"
"Makanya aku ingin sekali pergi dari sini. Dan aku menemukan kebebasan di Amerika. Aku bahkan tak mau pulang saat liburan."
"Lalu kenapa kali ini kamu akhirnya pulang?"
Fiana berpegang pada dinding pembatas yang ada di tepian bukit itu. "Mamaku sakit. Dia merengek meminta aku pulang. Dan di sinilah aku."
Arjuna meraih kedua tangan Fiana dan menggenggamnya erat. "Aku bersyukur karena mamamu meminta kamu pulang. Kita bisa bertemu."
Perlahan kepala Fiana terangkat. Ia menatap lelaki tampan di depannya. "Mengapa kamu yakin kalau kamu jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Karena aku belum pernah merasa segila ini saat melihat seorang gadis." Arjuna melepaskan satu tangannya yang memegang tangan Fiana lalu ia kini memegang pipi gadis itu.
"Kamu yakin ini perasaan yang sesungguhnya?" tanya Fiana lagi.
"Ya. Kamu tahu, jantungku berdebar sangat kencang saat ini. Aku bahkan merasa ingin segera menikah dengan kamu malam ini juga. Aku seakan tak ingin melepaskan mu, dan ingin terus memelukmu."
Fiana memegang pipi Arjuna juga. "Bagaimana kamu bisa jatuh cinta tanpa tahu siapa aku?"
"Karena cinta tak butuh alasan atau penjelasan."
"Kamu tidak bohong kan? Aku...aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Selama ini aku selalu menjaga hatiku dari semua pria yang mendekati aku."
Arjuna tersenyum senang. Ia mendekap Fiana dengan perasaan yang lega. "Terima kasih sudah menjaga hatimu. Kamu memang tercipta hanya untukku."
Dengan malu-malu, Fiana membalas pelukan Arjuna. "Aku pikir ini gila."
"Yang penting kita berdua yang sama-sama gila dan aku tidak gila sendiri." Arjuna melepaskan pelukannya. Kedua bola matanya menatap lembut ke mata Fiana. "Entah kamu percaya atau tidak, seumur hidupku, aku belum pernah menyatakan cinta pada seorang gadis."
"Bohong kalau kamu nggak pernah pacaran." Fiana nampak cemberut.
"Aku memang tak pernah pacaran. Gadis-gadis itu yang menyatakan sendiri perasaannya. Aku menjalani beberapa hubungan tanpa status." Arjuna memegang pipi Fiana dan memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Lihat aku, sayang. Percayalah sebenarnya saat ini aku sangat gugup. Aku tak pernah menatap mata seorang gadis seperti aku menatapmu."
Fiana tersenyum. Matanya jadi berkaca-kaca karena perasaan bahagia yang menyelimuti seluruh rongga dadanya. "Jadi sekarang kita pacaran?" tanya Fiana dengan wajah polosnya.
"Ya, sayang. Kita pacaran." kata Arjuna lalu memeluk Fiana dengan wajah yang diliputi kebahagiaan.
Saat pelukannya terlepas, keduanya masih saling bertatapan tanpa mau menjauh.
Arjuna menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Boleh aku mencium mu?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
Wajah Fiana langsung terasa panas. Ia tertunduk malu sambil kedua tangannya memegang erat pinggiran kemeja Arjuna.
"Kamu diam berarti setuju?" tanya Arjuna lagi. Entah mengapa cowok itu merasa sangat gugup.
Fiana mengigit bibirnya.
Arjuna pun mengecup puncak kepala gadis itu. Lalu mencium dahinya. Kemudian ciuman itu turun ke ujung hidungnya yang mancung. Lalu perlahan ia mencium pipi kanan, beralih ke pipi kiri dan akhirnya ciuman itu berhenti di depan bibir Fiana. Arjuna berhenti sejenak. Ia memejamkan matanya sebentar, lalu perlahan ia mencium bibir Fiana. Begitu lembut, penuh perasaan, karena ia tahu ini pasti ciuman pertama untuk Fiana.
Gadis itu memejamkan matanya. Seluruh bagian tubuhnya bergetar saat Arjuna menciumnya. Ia merasakan seluruh permukaan kulitnya menjadi panas. Ya ampun, ternyata seperti ini rasanya dicium untuk yang pertama kali.
Saat ciuman mereka terlepas, Fiana menyembunyikan wajahnya di dada Arjuna. Lelaki itu terkekeh karena melihat gadisnya menjadi malu.
"Sayang, rasanya aku tak mau berpisah denganmu." kata Arjuna. Ia kembali mencium bibir Fiana.
Ponsel Fiana yang ada di dalam mobil Arjuna, berdering. Gadis itu segera mengambilnya.
"Hallo Tita...."
"Fi sayang, kamu ada di mana? Cinderela harus segera kembali ke kastilnya. Kakakmu sudah menelepon aku." terdengar suara Tita yang ketakutan.
"Baiklah aku pulang. Kalian di mana?"
"Di dekat rumahmu, Fi."
"Ok." Fiana menatap Arjuna. "Aku harus pergi."
Arjuna terlihat sedih. "Baiklah. Tapi besok kita ketemu ya? Mana ponselmu."
Arjuna mengambil ponsel Fiana, lalu menelepon ke nomornya sendiri. "Aku sudah menyimpan nomorku."
Mereka pun meninggalkan kompleks perbukitan itu.
"Rumah mu di mana, sayang?" tanya Arjuna.
"Di bukit Permai."
Arjuna mengerutkan dahinya. Bukankah daerah itu adalah tempat pemukiman keluarga Adams?
"Arjuna, berhenti di sini saja." kata Fiana saat melihat mobil Jelita.
"Memangnya rumah mu yang mana?" tanya Arjuna penasaran.
"Tuh, yang paling atas. Namun aku turun di sini saja karena itu mobil temanku. Aku harus terlihat pulang bersama mereka." kata Fiana sambil menunjukan sebuah mansion yang lebih mirip istana. Arjuna terkejut.
"Kamu keluarga Adams?"
"Ya." jawab Fiana. Ia membuka sabuk pengamannya. "Sampai jumpa besok." katanya sebelum akhirnya ia turun dan segera menuju ke mobil Jelita.
Arjuna terkejut. Ia benar-benar merasa bagaikan di timpa batu yang sangat besar di kepalanya.
Ponsel Arjuna berdering. Ternyata panggilan dari sepupunya.
"Jun, kamu di mana? Kok GPS mobilmu menunjukan bahwa kamu ada di kompleks perumahan keluarga Adams? Kamu cari mati ya?"
"Aku pulang. Kalian tunggu saja di rumah." Arjuna segera memutar mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobil Jelita...
Fiana terkejut. "Apa dia Arjuna Tekins?"
"Ya, sayang. Dia itu adalah musuh bebuyutan keluarga Adams. Kamu gila jika berhubungan dengannya." kata Jelita.
Fiana terdiam. Ia tak tahu harus bilang apa. Seluruh tubuhnya seperti membantu.
Ia turun dari mobil Jelita dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Nampak kakaknya, Jordy Adams sedang duduk di dekat perapian. Seperti sedang menunggunya.
"Kenapa kakak belum tidur?" tanya Fiana.
Jordy menatap jam tangannya. "Kamu terlambat 40 menit dari jam yang seharusnya."
"Maaf, kak. Aku terlalu senang bersama teman-teman ku."
"Kakak khawatir kamu akan bertemu keluarga Pekins."
"Aku baik-baik saja, kak."
Jordy mengusap kepala adiknya. "Tidurlah." katanya lalu ia segera menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua, sedangkan Fiana memilih menggunakan lift untuk menuju ke kamarnya yang ada di lantai 3.
Fiana segera berganti pakaian, menggosok giginya dan mencuci wajahnya.
Namun ia tak bisa tidur. Bayangan wajah Arjuna terus mengusiknya.
Ia mencoba mengusir bayangan cowok itu. "Ingat Fi, dia adalah anak dari musuh keluargamu." ia berusaha menanamkan itu di kepalanya. kenyataanya, ia tetap mengingat Arjuna.
Di kamarnya pun, Arjuna tak bisa tidur. Walaupun ia sudah mencoba mengusir bayangan Fiska, nyatanya ia semakin tersiksa. "Ya Tuhan, kenapa dia harus lahir dari keluarga Adams?"
**********
Pagi pun datang. Fiana bangun saat jam sudah menunjukan pukul 10 pagi.
Ia segera mandi dan turun ke bawah. Nampak mamanya, Wulan Adams sedang menyirami bunga-bunga anggrek nya yang ada di teras samping.
"Selamat pagi, ma."
Wulan menoleh. "Anak gadis mama, kenapa bangunnya sudah siang seperti ini? Kamu melewatkan sarapan pagi dan itu membuat papamu agak marah."
"Mama, aku belum terbiasa dengan pengaturan jam di negara ini. Bedanya 8 jam dari Amerika."
"Nak, ayo sarapan."
"Baiklah, ma." Fiana masuk kembali ke dalam rumah.
"Nona.....!"
Reina, pengawal sekaligus pengasuhnya yang menemani Fiana di Amerika mendekati gadis itu.
"Ada apa?"
Reina menatap sekeliling lalu i berbicara dengan setengah berbisik. "Semalam pulang dengan siapa?"
"Tita dan Jelita."
Reina menggeleng. "Lalu, siapa lelaki di mobil Jaguar hitam?"
Deg! Wajah Fiana mendadak pucat.
"Eh, itu...., dia ....."
"Nona, itu adalah Arjuna Tekins kan? Aku terpaksa menghapus rekaman CCTV jangan sampai kakak nona mengetahuinya."
Fiana memeluk pengasuh yang berusia 45 tahun itu. "Aunty Rere, i think i'm falling in love with Arjuna."
"What?" Reina mendorong tubuh gadis itu. "Are you crazy?"
Fiana melangkah perlahan dan duduk di depan meja makan. "Sepanjang malam aku memikirkannya."
"Nona, sebaiknya kamu pulang lebih awal ke Amerika. Ini bahaya."
Ponsel Fiana bergetar.
Fiana sayang, bolehkah kita bertemu hari ini?
Fiana menatap Reina. "Aunty, aku harus ketemu Arjuna."
"Sayang, kamu membahayakan dirimu sendiri."
"Aunty, please....!" Fiana mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Sayang, kakakmu akan membunuh kita berdua." Reina menepuk pipi gadis yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Bagaimana mungkin ia membuat mata yang berbinar karena cinta itu menjadi redup cahayanya?
Fiana terpaksa menelepon Tita dan meminta agar ia dan Arjuna bisa bertemu di rumah Tita. Awalnya gadis itu menolak namun Fiana terus membujuk karena tahu jika siang seperti ini, kedua orang tua Tita tak ada di rumah.
Begitu tiba di rumah Tita, Fiana langsung menemui Arjuna yang sudah menunggunya di ruang kerja papanya Tita.
"Sayang .......!" Arjuna langsung memeluk Fiana seakan mereka telah lama tak bertemu.
"Arjuna, cinta kita terlarang." kata Fiana tanpa bisa menahan air matanya.
"Tidak sayang." Arjuna melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua tangan Fiana. "Aku tak peduli dengan nama Adams atau Pekins. Sepanjang malam aku terus berpikir, namun perasaan ini begitu kuat mengatakan kalau aku benar mencintaimu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku takut..."
"Jangan takut, sayang. Aku tak akan pernah melepaskan mu walau apapun yang terjadi. Asalkan kamu juga berjanji tak akan pernah melepaskan aku."
Fiana mengangguk. Arjuna tersenyum senang. Ia kemudian mencium dahi Fiana.
"Ya, Tuhan memangnya ada cinta sebesar itu hanya karena sekali menatap saja?" tanya Tita.
Reina mengusap wajahnya. "Nona, cinta ini bisa membunuhmu." kata perempuan itu lalu menutup pintu ruangan kerja papanya Tita. Ia ingin memberikan mereka privasi.
***********
Segila apa cinta yang akan mereka lewati?
Sebesar apa badai yang akan menerpa cinta mereka?
Apakah cinta sebesar itu benar ada walaupun mereka baru bertemu?
Fiana menyandarkan kepalanya di dada Arjuna. Keduanya duduk bersama di sofa yang ada di ruangan kerja papanya Tita.
"Sayang, aku harus cepat pulang. Kamu tahu kan kakakku Jordy sangat ketat dalam menjaga ku. Semalam saja dia masih menunggu aku." kata Fiana.
"Rasanya tak cukup waktu saat bersamamu."
Fiana mengangkat kepalanya. Ia menatap Arjuna. "Nanti kita ketemu lagi besok atau lusa. Pokoknya jika aku punya waktu untuk keluar, aku pasti akan menghubungimu."
Arjuna mengecup bibir Fiana. "Baiklah, sayang. Aku juga harus ke perusahaan siang ini."
Keduanya sama-sama berdiri. Mereka kemudian saling berpelukan.
Pintu ruang kerja terbuka. Nampak Reyna berdiri di sana.
"Nona, saatnya untuk pulang." kata Reyna.
Arjuna melepaskan pelukannya walaupun ia sebenarnya belum puas bersama kekasihnya ini.
"Nanti aku telepon kamu, ya?" ujar Fiana. Arjuna mengangguk. Mereka memang sudah sepakat harus Fiana yang menelepon Arjuna lebih dulu.
Fiana pun melangkah pergi bersama Reyna. Namun tiba-tiba Reyna kembali dan menjumpai Arjuna.
"Apakah kamu sungguh-sungguh dengan nona Fiana? Jangan sakiti dia karena dia belum pernah pacaran dengan siapapun." kata Reyna dengan tatapan tajam.
"Aku sungguh-sungguh mencintainya, Aunty."
Reyna mengangguk. "Baguslah." katanya lalu segera pergi menyusul Fiana.
Tita kemudian menutup pintu rumah setelah Fiana pergi. Perempuan itu menemui Arjuna yang masih menunggu di ruang tamu untuk memastikan tidak ada anak buah keluarga Adams yang mengawasi rumah Tita.
"Arjuna, kalian berdua bermain api yang sangat besar."
Arjuna tersenyum. "Bagaimana mungkin aku bisa menahan perasaan ini, Tita. Aku bahkan tak bisa menghapus rasa cinta ini saat tahu kalau dia anak dari musuh ku."
"Bagaimana cinta kalian bisa bersama?"
"Bukankah Fiana akan kembali ke Amerika?"
"Ya. Dia akan melanjutkan study S2 nya. Dia mahasiswa hebat karena masuk universitas saat usia nya belum genap 17 tahun. Dan dia membuktikan hanya 3 tahun saja menyelesaikan studi S1 nya."
"Aku tahu kalau dia memang gadis yang pintar. Kalau Fiana memutuskan untuk menetap di Amerika maka aku juga akan memilih ada di sana."
Tita hanya bisa menggelengkan kepalanya. Selama ini ia tak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Kenyataanya kini ia melihat sebuah ikatan yang kuat saat cinta pada pandangan pertama bersemi.
**********
"Untuk apa gaun ini?" tanya Fiana pada kakak iparnya yang bernama Rina.
"Malam ini kita akan ke istana. Keluarga istana melaksanakan pesta karena pangeran kedua berulang tahun."
"Haruskah aku pergi?" tanya Fiana dengan wajah kesal.
"Ya. Sudah bertahun-tahun kamu tak pernah pergi ke istana. Jordy memerintahkan kalau kamu harus pergi."
"Baiklah, kak." Fiana tak ingin mengecewakan kakak iparnya itu. Rina adalah menantu pertama di keluarga ini. Ia dan Jordy menikah 7 tahun yang lalu. Kini mereka sudah memiliki seorang putra yang berusia 5 tahun. Namanya Axel.
Rina memang sempat 2 kali mengalami keguguran sampai akhirnya bisa melahirkan Axel. Makanya Jordy sangat menyayangi istrinya itu.
Setelah mandi, Rina membantu Fiana berdandan. Rina memiliki usaha salon yang sangat maju di kerajaan ini. Salonnya bahkan sudah ada di tiga kota besar yang ada di kerajaan Diamond ini.
"Kamu cantik sekali." puji Rina.
Fiana hanya bisa tersenyum.
Saat keduanya turun ke bawa, nampak Jerry, kakak keduanya yang sudah siap dengan jas nya. Namun papanya, Johny Adams nampak hanya menggunakan pakaian biasa.
"Papa tidak ikut?" tanya Fiana.
"Tidak. Ini acara khusus anak muda. Bersenang-senang lah di sana ya, nak."
Fiana mengangguk. Ia segera menggandeng tangan kakaknya dan ikut di mobil Jerry sedangkan Jordy dan Rina naik di mobil yang berbeda. Di depan mereka ada satu mobil yang berisi 4 orang bodyguard.
Negara mereka memang berbentuk Kerajaan. Negara ini disebut kerajaan Diamond karena dulu penghasilan utama kerajaan ini adalah berlian. Sekarang sebagian besar penduduknya adalah petani, tapi juga masih ada tambang batubara dan tambang emas di beberapa bagian negara ini. Salah satu yang populer juga adalah perusahaan tekstil yang dikelolah oleh keluarga Adams. Pariwisata juga sangat populer di negara ini karena banyaknya situs-situs kuno yang unik dan menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.
Begitu mereka tiba di gerbang istana dan menunjukan undmag VVIP, para penjaga langsung membukakan pintu tanpa ada pemeriksaan yang ketat.
Acara ulang tahun pangeran kedua yang bernama pangeran Jeremi, di buat di istana sayap kanan yang merupakan istana khusus tempat tinggal para putra dan putri kerajaan.
Fiana menggandeng kakanya Jerry saat memasuki istana itu. Hanya pasang mata langsung tertuju ke arah Fiana karena mereka baru melihat gadis cantik yang bersama Jerry. Awalnya mereka berpikir itu adalah pacar barunya Jerry. Maklumlah, Jerry dikenal lelaki play boy. Sangat berbeda dengan Jordy yang dikenal lelaki setia. Makanya ia nekat menikah diusia 24 tahun karena tak ingin Rina diambil oleh lelaki lain.
Pangeran Jeremi menyambut salah satu keluarga terkaya di kerajaannya itu. Ia kemudian menatap Fiana. "Siapa ini?"
"Adikku." jawab Jerry dengan bangga.
"Fiana? Astaga, kamu sudah sebesar ini. Dulu kan kamu sangat kecil dan cenderung kurus." Jeremi mengingatkan keadaan Fiana 7 tahun yang lalu.
Fiana hanya tersenyum. Ia memang dulu sangat kurus karena sakit-sakitan. Makanya keluarganya tak pernah mengijinkan ia keluar rumah sendirian.
"Amerika sudah banyak mengubahnya." ujar Jordy membuat mereka sama-sama tertawa.
Pangeran Jeremi tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Fiana yang tampil dengan gaun berwarna merah muda itu terlihat sangat cantik. Apalagi gaun yang dipakainya sangat pas di tubuhnya yang terlihat seperti seorang model terkenal.
Tak lama kemudian, muncul keluarga Pekins. Jeremi pun permisi untuk menyambut salah satu keluarga terkaya yang menguasai perusahaan emas dan juga usaha di bidang transportasi di beberapa negara itu.
Jordy, Jerry dan Riana langsung membuang muka saat melihat musuh keluarga mereka itu. Namun tidak dengan Fiana. Ia terpana melihat kekasihnya yang datang dengan mengenakan jas berwarna hitam itu.
"Jangan menatap ke arah mereka, Fi." kata Rina lalu menarik tangan Fiana untuk menjauh.
Arjuna diam-diam menatap kekasihnya yang nampak begitu cantik malam ini dengan rambut yang di sanggul modern membuat Fiana lebih dewasa.
Lelaki itu pura-pura berbicara dengan pangeran Jeremi namun ekor matanya mengawasi Fiana.
Kamu cantik sekali, sayang. Aku rasanya ingin menarik mu dari sana karena cemburu dengan para lelaki yang menatapmu dengan tatapan ingin memilikimu.
Fiana merasakan ponselnya bergetar. Ia membukanya dan berusaha untuk tak tersenyum saat membaca pesan yang dikirimkan Arjuna padanya.
"Siapa, Fi?" tanya Jordy.
"Teman kuliah ku, kak."
Jordy hanya mengangguk. Ia terus menggenggam tangan Rina. Begitulah sikap Jordy. Walaupun terkenal garang dan selalu bersikap dingin namun ia akan berbeda saat ada Rina di sampingnya. Rina masih keluarga kerajaan. Ia dan pangeran Jeremi saudara sepupu.
"Semoga semakin sukses dengan usahanya, Pangeran. Aku dengar kalau pangeran membuka lagi pelabuhan di kota nelayan." kata Arjuna.
"Ya. Kita punya kekayaan laut yang banyak." kata Jeremi dengan sangat bangga.
Ponsel Arjuna bergetar. Lelaki itu membukanya. Ia langsung tersenyum membaca pesan balasan dari kekasihnya.
Biar saja mereka menatap aku dengan tatapan ingin memiliki, yang pasti hatiku sudah ada yang memiliki.
Arjuna segera membalasnya.
Sayang, pergilah ke bagian sayap kiri bangunan ini. Di sana ada arah penunjuk ke toilet. Aku ingin memelukmu walaupun hanya sebentar.
Fiana merasakan jantungnya berdetak sangat cepat saat membaca pesan dari Arjuna. Namun ia juga harus terlihat tenang.
"Kak, aku ke toilet dulu ya?" kata Fiana.
"Biar aku temani." kata Jerry.
"Masa sih kakak harus menemani aku ke toilet perempuan. Ada-ada saja. Aku ini sudah terbiasa mandiri di Amerika, kak. Makanya aku suka kesal kalau Aunty Rere sering memperlakukan aku seperti anak kecil."
Jerry menarik hidung adiknya dengan gemas. "Pergilah. Toiletnya ada di sebelah sana."
"Baiklah. Perutku agak sakit, nih." Fiana pura-pura memegang perutnya lalu segera berjalan ke arah yang ditunjukan kakaknya.
Arjuna melihat kalau Fiana sudah berjalan menuju ke arah toilet. Ia pun pura-pura menelepon dan keluar dari ruangan pesta. Sebenarnya ia sedang menuju ke toilet tapi melalui jalan lain.
Fiana yang sudah tiba di lorong menuju ke toilet terkejut saat tiba-tiba ada tangan yang menariknya.
"Sayang, ini aku." kata Arjuna. I membawa Fiana masuk ke sebuah ruangan yang ada di lorong menuju ke toilet.
"Arjuna....? Ini ruangan apa?"
Arjuna tak menjawab. Ia langsung memeluk Fiana dengan erat. "Ini ruang penyimpanan alat-alat kebersihan." katanya setelah melepaskan pelukannya. Fiana langsung tertawa.
"Aku sangat merindukan mu. 2 hari kita tak bertemu rasanya seperti 2 tahun." kata Arjuna ia membelai pipi Fiana dengan sangat lembut.
"Aku juga sangat merindukanmu. Namun aku memang tak bisa keluar karena kakakku mengajak aku bepergian selama 2 hari itu."
Arjuna melepaskan pelukannya. Ia mengecup dahi Fiana lalu turun ke pipi dan berakhir di bibir. Keduanya saling membalas ciuman di bibir itu dengan penuh ungkapan cinta.
"Ah, sayang. Aku bisa gila tanpa ada kamu." kata Arjuna lagi lalu mencium puncak kepala Fiana.
"Aku harus segera kembali. Nanti kakakku menyusul ke sini."
Arjuna kembali memeluk Fiana. "Sayang, kita lari saja."
Fiana tertawa. Ia melepaskan pelukannya lalu mencium pipi Arjuna. "I love you."
"I love you too."
Fiana segera keluar dari ruangan itu. Ia melihat ke arah kaca besar yang ada di dinding dekat toilet. Untuknya ia memakai lipstick waterproof sehingga tetap aman sekalipun tadi berciuman dengan Arjuna.
"Kakak.....!" Fiana terkejut melihat kakaknya yang sudah memasuki lorong menuju ke toilet.
"Aku khawatir. Kamu lama." ujar Jerry.
"Perut ku nggak enak, kak. Aku tadi siang kebanyakan makan pedas."
"Kalau begitu, kita pulang saja."
"Jangan. Nggak enak sama pangeran. Perutku sudah agak membaik."
Jerry menatap adiknya. "Sungguh? Wajahmu terlihat pucat."
"Aku baik-baik saja." Fiana langsung menggandeng tangan kakaknya. Ia pucat karena sebenarnya ketakutan sebab kakaknya hampir memergoki dia.
Di ruangan pesta, acara sudah dimulai. Pangeran Jeremi meniup lilin ulang tahun berangka 27. Raja dan permaisuri menemaninya di panggung.
Saat acara dansa di mulai, pangeran turun dari podium untuk mencari gadis pertama yang akan berdansa dengannya.
Semua gadis mulai memasang wajah manis, berharap akan menjadi gadis pertama yang berdansa dengan sang pangeran. Hanya satu gadis saja yang nampak duduk sambil memainkan ponselnya. Namun gadis itu yang justru di dekati oleh Pangeran.
"Fiana, bolehkah aku berdansa denganmu?"
Fiana terkejut. Ia bermaksud akan menolak namun Jordy segera mendorongnya berdiri. "Temani pangeran, adikku."
Tangan Fiana bergetar saat ia menerima uluran tangan pangeran. Bukan karena ia gugup melainkan karena ia bisa melihat tatapan cemburu dari Arjuna.
***********
Apa yang akan terjadi di pesta malam itu?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!