Indonesia
NovelToon NovelToon

Berondongku Suamiku

Bab Satu

“Ada yang mau Papa dan Mama bicarakan.”

Suara Papa terdengar berat, memotong keheningan sore di ruang keluarga yang biasanya hangat. Tapi hari ini terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih sunyi.

Kirana menoleh pelan, meletakkan bunga-bunga yang sedang ia rangkai untuk buket pernikahannya. Seharusnya hari ini ia melakukan final check ke gedung resepsi dan bertemu dekorator. Seharusnya ia sedang sibuk memastikan semuanya sempurna untuk hari bahagianya dengan Irfan.

Tapi tatapan Papa dan Mama tirinya tidak biasa. Ada yang berbeda.

Perempuan itu, Ria, mama tirinya, biasanya hanya muncul untuk mengkritik, membandingkan, atau mengomel. Namun, sore ini ia duduk lebih dekat, menggenggam tangan Kirana seakan hendak memberi kabar penting.

“Kirana, kamu tenang dulu,” ucap Mama tiri dengan suara yang entah kenapa terasa dibuat-buat lembut.

Hal itu justru membuat alis Kirana terangkat. Merasa curiga dengan situasi saat ini.

“Kenapa? Ada apa sih?” Kirana berusaha tertawa kecil. “Dari tadi Papa dan Mama gelisah banget. Jangan bilang vendor dekor batal lagi, Ma? Atau katering?”

Papa menghela napas panjang, terlalu panjang untuk hal-hal sepele.

“Ini tentang Irfan,” potong Papa pelan.

Tawa Kirana langsung berhenti. Jantungnya memukul dada. Tangannya yang tadi merangkai bunga kini diam, kaku.

“Loh … kenapa dengan Irfan, Pa?” Suaranya Kirana melemah tanpa ia sadari. “Ada apa dengan Irfan, Pa?”

Mama tiri menatapnya dengan sorot mata aneh, seperti seseorang yang sedang bersiap mengatakan hal buruk, tetapi ingin dipuji karena bersikap lembut.

“Kirana .…” Ia meremas tangan Kirana lebih kuat. “Kamu harus siap, ya.”

Kirana menelan ludah, merasakan firasat buruk merayap hingga ke tulang. “Maksud Mama?”

Papa menunduk. “Papa dan Mama sudah bicara dengan keluarga Irfan.”

Jantung Kirana semakin cepat. “Bicara apa?” tanya Kirana dengan suara lirih.

Papa bertukar pandang dengan Mama tiri, sebelum akhirnya berkata pelan, bahkan terlalu pelan, hampir seperti berharap Kirana tidak mendengar.

“Irfan … Irfan memilih Tissa yang menjadi pendamping hidupnya.”

Waktu seakan berhenti. Kirana menatap Papa tanpa berkedip. “Maaf, Pa. Apa tadi Papa ucapkan? Irfan memilih Tissa?"

Mama tiri mengangguk pelan seolah-olah sedang menyampaikan berita sedih padahal sorot matanya seperti ada kepuasan yang ia sembunyikan.

“Iya, Nak. Irfan memilih Tissa.” Kali ini ibu tirinya yang menjawab.

“Tissa .…” Kirana mengulang perlahan.

Adik tirinya. Gadis yang lebih cantik, lebih manja, dan selalu diperlakukan seperti putri emas di rumah ini. Gadis yang selalu dibandingkan dengan Kirana. Gadis yang bisa mendapatkan apa pun tanpa usaha.

Dan sekarang … Irfan? Pria yang Kirana harap akan menjadi rumahnya, tempatnya bersandar, juga lebih memilih Tissa.

“Irfan … memilih Tissa?” suara Kirana pecah.

Mama tiri pura-pura menatap iba. “Maafkan Mama, Kirana. Mama tahu kamu pasti shock. Tapi Irfan memang mencintai Tissa sejak awal.”

Kirana terkesiap seolah ditusuk. “Sejak awal?” ulangnya pelan, nyaris tidak percaya.

Papa mengangguk pelan. “Mereka suka satu sama lain, tapi menyembunyikannya. Dan saat itu keluarga Irfan merasa hubungan mereka tidak tepat. Lalu Irfan bertemu kamu.”

Kirana tertawa. Tapi tawa yang hancur. Bukan tawa. Lebih tepatnya suara tercekik.

“Jadi aku ini … apa? Cadangan? Pengalihan?” tanya Kirana dengan suara getir.

Mama tiri mengelus bahu Kirana, gerakan yang aneh karena biasanya sentuhan darinya hanya muncul untuk menegur.

“Nak, mau bagaimana lagi? Tissa itu adikmu. Dia lebih lembut, lebih cocok dengan Irfan. Dan … ya, kamu tahu sendiri, Tissa dari dulu dekat dengan keluarga Irfan.”

Kirana menatap perempuan itu. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang menohok lebih dalam.

'Dia lebih lembut. Dia lebih cocok dengan Irfan. Dia lebih dekat dengan keluarga Irfan.'

Kirana tahu, mama tirinya itu tidak pernah benar-benar menyukai Kirana. Kehadiran Kirana seperti duri dalam rumah ini. Tapi tetap ia tidak menyangka akan sejauh ini.

“Jadi apa yang dia lakukan sama aku selama ini adalah sebuah kebohongan?” Suaranya bergetar, namun senyumnya tetap terpasang. Senyum kecil yang pecah dari dalam.

Papa menunduk, tampak bersalah. “Maafkan Papa, Nak. Irfan tidak berani jujur. Tapi sekarang mereka ingin bersatu. Dan keluarga Irfan meminta izin baik-baik.”

“Mereka minta izin .…” Kirana tertawa tanpa nada. “Dan Papa menyetujuinya?”

Mama tiri menatap dengan raut yang dibuat sedih. “Nak … lebih baik kamu merelakan. Tissa dan Irfan, karena mereka saling mencintai. Kalau mereka menikah, itu yang terbaik untuk semuanya.”

"Untuk semuanya? Untuk siapa? Karena jelas bukan untuk Kirana." Pertanyaan itu hanya dia keluarkan dalam hati.

Kirana menarik napas panjang, mungkin ini adalah napas paling berat yang pernah ia hembuskan.

“Jadi rencana pernikahan aku dibatalkan?” Kirana bertanya, suaranya tenang tapi matanya mulai merah.

Papa mengangguk kecil. “Iya, Nak.”

Mama tiri menimpali cepat, “Kami tahu ini berat. Tapi kamu anak yang kuat. Kamu pasti bisa menerima kenyataan ini.”

Kirana termenung sebentar. Diam. Hening. Lalu ia berdiri perlahan.

Wajahnya tenang. Bibirnya tersenyum lembut. Tapi matanya terlihat mati dan kosong, getir, seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang tak akan kembali.

“Oke,” ucap Kirana akhirnya. Satu kata yang membuat Papa dan Mama tiri terdiam.

“Kirana?” Papa memanggil, ragu.

Kirana tersenyum. Senyum paling rapuh, paling palsu, paling menyedihkan.

“Aku rela,” ujar Kirana lagi.

Mama tiri terlihat lega, terlalu lega untuk seseorang yang seolah peduli.

Kirana melanjutkan, “Aku relain Irfan buat Tissa. Serius. Nggak apa-apa kok.”

“Nak ....”

“Aku malah senang tahu sekarang. Coba bayangin kalau aku baru tahu setelah nikah? Setelah aku jadi istri dia? Setelah dia selingkuh di belakang aku sama adik aku sendiri?” Ia tertawa pendek. “Lebih parah, kan?”

Papa menunduk dalam. Mama tiri berpura-pura menyeka mata, meski Kirana tahu tidak ada air mata di sana.

“Nak … kamu istirahat dulu, ya.” Papa memohon lirih.

Kirana mengangguk. Ia melangkah pergi dengan langkah pelan, stabil, seolah semua baik-baik saja. Tapi setiap langkahnya terasa seperti menginjak pecahan kaca.

Sampai tiba di depan pintu kamar. Tangannya gemetar saat memutar kenop. Ia menutup pintu pelan.

Dan begitu kunci diputar, semua kekuatan yang ia tahan runtuh seketika. Napasnya pecah. Tubuhnya melorot ke lantai.Tangannya menutupi wajah. Dan tangis itu, tangis yang ia tahan akhirnya pecah.

Tangis keras.Tangis yang patah hati. Tangis dikhianati.

“Kenapa selalu aku yang harus mengalah …?” Suaranya parau di antara isak. Hanya dinding kamarnya yang menjadi saksi.

Tidak ada pelukan.Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Tidak ada yang peduli.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mengenal Irfan, Kirana menangis hingga seluruh tubuhnya gemetar. Menangis karena dijadikan cadangan.

Menangis karena adik tirinya mendapatkan segalanya lagi. Menangis karena orang tuanya meminta ia mengalah lagi.

Dan dalam kamar yang gelap itu, Kirana memeluk lututnya erat-erat, membiarkan seluruh kesedihan yang ia sembunyikan hancur perlahan, tapi mematikan.

Bab Dua

Kirana tidak tahu berapa lama ia menangis hingga kepalanya terasa berat dan matanya bengkak. Yang ia tahu, dadanya masih terasa sesak dan setiap sudut kamarnya mengingatkan pada sesuatu yang tak ingin ia ingat.

Gaun pernikahan. Kotak cincin. Buket bunga. Semua masih ada tersusun di kamarnya.

Segala persiapan yang ia susun dengan hati-hati semua terasa mengolok-oloknya sekarang. Merasa semua sedang menertawai dirinya.

Kirana berdiri, mengambil jaket tipis, dan menyambar ponsel tanpa benar-benar tahu mau ke mana. Yang penting keluar dari rumah. Dari udara yang rasanya menekan dadanya.

Ia membuka pintu pelan, memastikan orang tuanya tak melihat, lalu berjalan cepat menuruni tangga. Rumah itu hening, hanya terdengar suara detik jam dinding.

Kirana membuka pintu depan. Angin malam menerpa wajahnya. Dingin, tapi entah mengapa terasa lebih bisa ia hirup dibanding udara di dalam.

Ia melangkah keluar. Tanpa tujuan. Rumah yang dia tempati saat ini baginya bukanlah rumah yang dalam arti sesungguhnya. Rumah itu bagai neraka.

Malam ini kota terasa sepi, hanya suara motor yang sesekali melintas. Kirana berjalan menyusuri trotoar, menatap kosong. Lampu jalan memantulkan bayangan panjang tubuhnya, seakan ikut berjalan bersamanya.

Pikirannya kacau. 'Irfan mencintai Tissa.Dari awal.' Kata-kata itu menari di dalam pikirannya. Rasanya tak percaya dengan semua ini. Tak pernah dia lihat kekasihnya itu jalan dengan adik tirinya. Entah dia yang terlalu bodoh, atau mereka yang terlalu pintar menipunya.

Ia menghentikan langkah. Dadanya kembali perih.

“Bodoh,” gumam Kirana pada dirinya sendiri. “Aku bodoh banget.”

Tepat saat ia hendak menyeberang jalan, ponselnya berdering. Nama Mama muncul di layar, tapi Kirana menolak panggilan itu. Ia tidak sanggup mendengar kalimat “Kamu harus kuat, Nak." Kata-kata penghibur yang entah dari hati wanita itu ucapkan, atau semua itu kata-kata yang hanya untuk menekankan pada dirinya agar tak mengganggu adiknya lagi.

Ia menghela napas dan mulai menyeberang.

BRUMMM! Sebuah motor ngebut dari tikungan. Kirana terkejut. Pengendara itu juga terkejut.

Dan yang terjadi berikutnya berlangsung sangat cepat.

BRAKK!

Tubuh Kirana terdorong keras ke samping. Ia jatuh berguling ke aspal. Suara metalik motor bergesekan dengan jalanan terdengar kasar.

“ASTAGA!” suara pemuda itu panik. “Mbak! Mbak!”

Kirana meringis menahan sakit. Tangannya tergores, lututnya lebam, tapi ia masih sadar. Pemuda itu, usia sekitar 20-an awal, berjaket hitam, rambut agak panjang acak-acakan, melepas helmnya dan berlutut panik.

“Mbak nggak apa-apa?! Aduh … aduh … ini salah saya banget!”

Kirana menghela napas panjang, menatapnya dingin. “Kamu tau nggak kalau kamu hampir bikin aku mati?”

Pemuda itu menunduk lagi, tegang. “Saya … saya nggak sengaja. Sumpah. Saya buru-buru.”

“Mana SIM kamu?” Kirana meminta cepat, tanpa basa-basi.

Pemuda itu terdiam dua detik. Lalu wajahnya terlihat pucat.

“S … SIM?” Dia menelan ludah sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. “Ngg … nggak punya, Mbak.”

Kirana memejamkan mata, berusaha menahan emosi yang sudah campur aduk sejak tadi. “Bagus. Nggak punya SIM. Ngebut. Hampir bunuh orang.”

“Jangan lapor polisi, Mbak,” pintanya buru-buru. “Tolong. Sungguh. Apa pun yang Mbak mau, saya lakuin. Tapi jangan lapor polisi malam ini.”

Kirana mengangkat alis. “Kenapa?”

“Saya … harus ikut balapan.” Ia menggaruk tengkuknya. “Itu… balapan final. Kalau saya nggak datang, saya habis.”

“Balapan liar?”

Pemuda itu mengangguk lemah. “Iya. Tolong jangan lapor. Saya takut motor saya disita.”

Kirana terdiam lama, menatap pemuda itu. Lalu tiba-tiba sebuah ide gila muncul. Malam ini Kirana tidak punya apa pun untuk ditakutkan hilang.

Tidak cinta. Tidak mimpi pernikahan. Tidak harga diri yang sudah remuk.

“Baik,” katanya akhirnya. “Aku nggak akan laporin kamu.”

Wajah pemuda itu langsung lega.

“Tapi ada syaratnya.”

Pemuda itu menegang lagi. “Syarat?”

Kirana menatapnya lurus, tajam, tanpa ragu.

“Mulai malam ini, kamu harus mau jadi pengantin penggantinya Irfan, calon suami saya.”

Pemuda itu mengerutkan kening. “Pengantin pengganti ... maksudnya?”

“Kamu harus bersedia menikah denganku sebagai pengantin pengganti.”

Kirana melipat tangan. “Nikah kontrak enam bulan. Setelah itu bebas cerai. Nggak ada kontak fisik. Kamu cuma perlu datang di hari pernikahan yang sudah aku siapkan.”

Pemuda itu membuka mulut, kemudian menutup, lalu membuka lagi. “Mbak … mbak serius?”

“Serius.”

“Kenapa saya? Apa karena saya ganteng sehingga Mbak kebelet kawin?"

“Jangan asal bicara! Kalau saja calon suamiku tak selingkuh dan membatalkan pernikahan kami, aku tak akan mau sama kamu. Aku memintamu, hanya cuma kamu yang aku temuin sambil ngebut nggak pakai SIM.”

Pemuda itu terdiam, lalu memijat pelipisnya. “Nama saya Samudera, Mbak. Kalau saya tiba-tiba nikah, apa kata teman-teman saya."

Kirana menatapnya. “Kalau kamu nolak, aku lapor polisi sekarang.”

Samudera langsung menggeleng keras. “Jangan! Oke! Oke! Saya setuju! Asal jangan polisi!”

“Bagus.” Kirana berdiri pelan, menahan nyeri.

“Kita tanda tangan surat perjanjian sekarang.”

“Sekarang?!” Samudera tercengang.

“Sekarang. Sebelum kamu kabur.”

“Aku nggak kabur .…” Samudera menggerutu.

“Tapi bisa saja,” jawab Kirana tenang.

Dengan sangat terpaksa, Samudera akhirnya mengikuti Kirana ke sebuah warung kopi 24 jam di dekat situ. Kirana meminjam kertas, menulis perjanjian, lengkap dengan poin:

Nikah kontrak 6 bulan. Tak ada kontak fisik. Samudera cuma jadi pengganti. Setelah 6 bulan bebas cerai tanpa tuntutan apa pun

Samudera membaca surat itu berkali-kali sambil memegangi kepala. “Saya gila banget mau tanda tangan beginian .…”

“Kamu yang tabrak aku.”

“Ya tapi ....”

“Tanda tangan atau polisi?”

Samudera menutup mata. “Astaga .…”

Ia mengambil pulpen, lalu menandatangani. Kirana tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa menang atas sesuatu, meski ia tahu kemenangan ini aneh, konyol, bahkan mungkin salah.

“Mulai malam ini kamu calon suamiku,” ucap Kirana ringan.

Samudera memandangnya tak percaya. “Mbak … saya cuma mau balapan. Gimana ceritanya jadi calon suami orang…”

“Itu takdir,” jawab Kirana datar.

Samudera menghela napas panjang sekali. “Nama panjang saya Samudera Genta. Dipanggil Sam. Umur dua puluh satu tahun. Hobi balapan. Dan saya baru saja tanda tangan kontrak buat nikah sama orang asing .…”

Kirana menyeringai kecil. “Aku Kirana. Dan mulai sekarang, kamu ikut rencana aku.”

“Rencana apa?” tanya Samudera dengan pasrah.

“Kita menikah seminggu lagi. Semua rencana akan aku percepat dan majukan. Aku yang urus semua. Kamu tinggal mengikuti apa yang aku katakan!"

Samudera menatap perempuan di depannya, dengan mata bengkak, wajah pucat, tapi tatapan sekuat baja.

"Sini ponselmu, simpan nomorku. Dan mana KTP mu, biar aku simpan sebagai jaminan!"

Samudera yang tak mau lebih lama lagi berada di sana, mengikuti semua apa yang Kirana katakan. Dia memberikan KTP. Lalu nomor ponselnya. Setelah itu berdiri.

"Aku mau balapan, kamu atur saja semuanya!" ucap Samudera.

"Aku ikut ...."

Samudera tampak terkejut dengan ucapan Kirana. Tak percaya jika gadis itu akan mempersulitnya begini.

"Apa ...?" tanya Samudera dengan suara yang penuh penekanan.

Bab Tiga

Tanpa menunggu jawaban Samudera, Kirana langsung meraih lengan jaket pria itu. “Kita berangkat sekarang!" ajaknya dengan suara datar.

Sebelum Sam sempat memprotes, Kirana sudah melangkah cepat menuju motor hitamnya yang masih terparkir miring di pinggir jalan. Ia menggeser helm cadangan di gantungan motor, lalu tanpa rasa takut, ragu, atau mikir dua kali, langsung naik dan duduk di jok belakang.

Samudera membeku. “Mbak … yang bener aja .…”

Kirana menatapnya dari balik helm yang baru saja ia pakai. “Aku bilang aku ikut. Kalau kamu nolak, ingat perjanjian kita barusan.”

Sam mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, frustasi. “Astagaaaa Mbak, saya mau balapan, bukan ojek.”

“Terserah. Malam ini aku nggak mau sendirian.” Nada Kirana terdengar lelah, tapi keras. Dan itu cukup untuk membuat Sam terdiam.

Ia akhirnya naik ke motor, menyalakan mesin, lalu menatap ke depan. “Pegangan yang bener.”

Kirana otomatis memegang sisi jok. Sam meliriknya dari spion dan mendecak. “Bukan begitu. Kamu bisa jatuh. Pegang aku.”

Kirana menghela napas, tapi tetap menurut. Tangannya memegang jaket Sam, tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menjaga keseimbangan.

Sam mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menarik gas. Motor melesat menembus jalanan malam. Angin menerpa wajah Kirana dari celah helm, dan selama lima menit perjalanan, ia baru sadar kalau dia sudah tak merasakan sesak seperti sore tadi lagi.

Lokasi balap liar itu terletak di ujung kota, sebuah lahan kosong yang disulap jadi arena. Begitu mereka tiba, deru mesin dan sorak penonton menyambut seperti badai.

Remaja-remaja laki-laki berkerumun. Lampu-lampu mobil menerangi jalan lurus sepanjang beberapa ratus meter. Musik elektronik menghentak, bercampur bau asap knalpot dan kopi instan.

Begitu motor berhenti, puluhan pasang mata langsung menoleh. Bukan ke Samudera tapi ke Kirana.

Karena semua orang tahuz Samudera Genta tak pernah bawa cewek. Dia begitu dingin dengan lawan jenis, entah alasan apa dibalik semua itu. Tak pernah sekalipun dia mengenali wanitanya.

“Wah, Sam!” salah satu pemuda tinggi bersweater abu-abu tertawa lebar. “Sejak kapan bawa penumpang? Gila, nggak kebayang gue liat lo kayak begini!”

Temannya yang lain bersiul. “Apa jangan-jangan ini alasan lo telat?”

Sam mengabaikan komentar itu dan justru menoleh ke arah Kirana. “Turun!”

Nada suaranya pendek, seperti sedang menahan sesuatu, entah malu, jengkel, atau bingung.

Kirana turun dari motor tanpa ekspresi. Ia merasa puluhan mata menilainya, tapi ia tidak peduli. Malam ini hidupnya sudah berantakan, penilaian orang-orang ini bahkan tidak ada di level yang layak ia pikirkan.

“Siapa tuh, Sam?” tanya pemuda lain.

“Bukan urusan kalian,” jawab Sam datar.

Sebelum pertanyaan lanjutan muncul, seorang panitia menghampiri dengan wajah kesal. “Sam! Satu menit lagi lo telat, gue diskualifikasi! Telat banget!”

“Maaf, macet,” jawab Sam cepat.

“Macet apaan jam segini?” panitia itu cemberut.

Sam menoleh ke Kirana sebentar, lalu kembali ke panitia. “Nggak penting, kan? Yang penting gue dateng.”

Panitia itu menggerutu, tapi akhirnya mengangguk. “Cepet siap-siap. Lawan lo udah nunggu.”

Sam langsung melepas jaket dan helm, menyisakan kaos hitam yang menempel di tubuh. Beberapa gadis langsung bersorak kecil, seolah menunggu momen itu.

Kirana duduk di bangku panjang dekat arena, mengamati dari jauh. Sesuatu terasa aneh melihat bagaimana Sam berjalan penuh percaya diri, tapi tidak sombong. Tidak seperti kebanyakan pembalap liar yang suka pamer. Ia hanya fokus ke arena.

Ketika mesin motor Sam meraung, bulu kuduk Kirana berdiri. Suara itu menggetarkan udara.

Sam berada di garis start. Lawannya, pria berjaket merah, memasang ekspresi menantang. Hitungan mundur dimulai.

“Tiga!”

Kirana menarik napas mendengar ucapan itu.

“Dua!”

Ia bahkan tidak sadar sedang menggertakkan gigi.

“Satu—GO!” Dua motor melesat seperti peluru.

Deru knalpot memecah malam. Penonton berteriak histeris. Lampu-lampu mobil memantul di aspal, dan tubuh Kirana otomatis condong ke depan, matanya tak berkedip.

Sam memulai sedikit lambat. Kirana merasa jantungnya turun ke perut. Terasa mual.

Namun, detik berikutnya Sam mulai menyusul. Caranya bermanuver begitu rapi, begitu halus, seolah tubuhnya menyatu dengan motor. Lawannya mencoba menahan, tapi Sam justru meninggalkannya.

Dalam hitungan detik, garis finish tercapai. Sorak kemenangan meledak.

“SAM MENANG! WOIII SAM MENAAAANG!”

Kirana menghembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan. Hatinya kacau. Bukan karena balapannya, tapi karena sesuatu yang baru ia sadari, Samudera bukan sekadar anak muda urakan yang ngebut nggak pakai SIM.

Dia punya bakat. Dan keberanian. Dan entah apa lagi.

Sam turun dari motor, disambut teman-temannya yang langsung berpelukan, menepuk bahu, dan memuji. Namun anehnya, Sam hanya tersenyum tipis, mengangguk, menerima semua ucapan selamat itu tanpa keinginan untuk tebar pesona. Padahal beberapa gadis langsung berkerumun.

“Sam, minum dulu nih!”

“Sam! Selamat ya!”

“Sam mau foto bareng nggak?”

Sam hanya menggeleng halus. “Nanti. Gue ada urusan.” Dan langkahnya langsung menuju Kirana.

Kirana terpaku saat pria itu berdiri di depannya. Peluh masih menetes di pelipis Sam, napasnya masih tersengal ringan. Tapi tatapannya tajam dan fokus, seolah tidak peduli pada kerumunan di belakangnya.

“Ayo,” katanya sambil meraih helmnya. “Aku anter kamu pulang.” Sepertinya Samudera sudah mulai terbiasa hingga memakai kata aku bukan saya lagi.

Kirana berdiri pelan. “Aku nggak mau pulang.”

Sam berkedip. “Apa?”

“Aku … nggak mau pulang,” ulang Kirana, kali ini lebih lirih.

Sam memperhatikannya. Lebih lama dari sebelumnya. Sorot matanya, untuk pertama kalinya malam itu, tidak galak atau tertekan.

Ia tampak bingung. Dan sedikit khawatir.

“Mbak Kirana,” katanya pelan, menyebut namanya untuk pertama kali. “Malam-malam begini… kamu mau ke mana?”

Kirana menggeleng, merasa dadanya kembali berat. “Aku nggak tahu. Ke mana aja. Aku cuma nggak mau pulang.”

Sam menelan ludah, jelas tidak siap menghadapi situasi ini. “Maksudnya … kamu mau nginep di mana?”

“Di mana aja, terserah kamu.”

Sam membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Untuk pertama kalinya, Kirana melihat Samudera Genta yang ramah masalah, nekat, dan suka balapan itu sekarang benar-benar tidak tahu harus apa.

“Hah …?” itu satu-satunya respon yang bisa keluar.

Lampu-lampu mobil, suara penonton, dan dentuman musik masih bergema di belakang mereka. Tapi malam itu, semuanya seperti menghilang. Terasa sunyi.

Samudera tampak masih kebingungan. Dia tak tahu harus membawa Kirana kemana malam ini. Membawa pulang ke rumah itu tak mungkin, apa kata orang tuanya.

"Merepotkan!" gumam Samudera. Kirana mendengarnya, tapi pura-pura tak mengerti. Yang terpenting dia tak berada di rumah malam ini. Di rumah dia akan merasakan sesak kembali.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!