Indonesia
NovelToon NovelToon

Arjuna Bopo Istimewa

1. Bopo Istimewa

"Maa Syaa Allah. Ganteng banget anak Ayah." Puji Arsha setelah selesai memakaikan baju khas seorang Bopo pada putranya.

Esok adalah hari ulang tahun Arjuna yang pertama, dan sore ini Arjuna akan melakukan ritual pertamanya di Grojogan Lengkung bersama para Bopo dan Biyung yang lain.

"Sudah siap, Dek?" Tanya Arsha sambil menggendong Arjuna. Ia menghampiri Raina dan Sashi yang sedang berada di dapur, mempersiapkan sesaji yang akan mereka bawa ke Grojogan Lengkung

"Udah, Mas." Jawab Raina.

"Gantengnya, Sayangku!" Seru Sashi saat melihat Arsha dan Arjuna memakai pakaian yang sama.

"Siapa emang yang ganteng, Mbak?" Tanya Raina.

"Ayah sama Dek Juna." Jawab Sashi yang kini sudah bisa berbicara dengan jelas di usianya yang hampir menginjak tiga tahun.

"Ganteng Ayah atau Dek Juna?" Tanya Raina yang menggoda putrinya.

"Ayah, baru Dek Juna." Jawab Sashi.

"Iya dong, Ayah kan cinta pertama Mbak Sashi. Jadi pasti ganteng Ayah." Kekeh Arsha.

"Emang dasar anak Ayah." Ujar Raina sambil mencubit gemas pipi Sashi.

"Anak Ibu Ina juga." Sergah Sashi yang membuat mereka kembali tertawa.

"Ayo kita ke rumah Yang Kung. Udah pada nunggu di sana deh kayaknya." Ujar Raina.

Mereka berempat pun berjalan bersama menuju ke rumah Abimanyu. Di sana Abi, Runi, Aksa, Saira, Raka, Ashoka, Dipta dan Nala juga sudah menunggu.

"Dek Dipta! Dek Nala!" Panggil Sashi saat melihat dua sepupunya berada di gendongan Aksa dan Saira.

Dipta dan Nala pun tampak senang melihat kedatangan Sashi. Mereka berdua mengoceh ala bayi saat melihat Sashi datang bersama Arjuna. Saat berkumpul pun, Arjuna, Dipta dan Nala saling bersahut - sahutan dengan bahasa mereka.

"Wes mulai, do ngobrol ngge boso bayi. (Sudah mulai, pada mengobrol pakai bahasa bayi.)" Komentar Aksa.

"Seru ya, Mas, punya temen ngobrol." Kata Saira yang bicara dengan Arjuna. Arjuna pun tertawa saat Saira bicara dengannya.

"Kalo dulu, ada bayi vintage yang nerjemahin kalau mereka ngoceh gini. Sekarang gak ada." Lirih Ashoka.

"Itu Akung sama Uti nerjemahin dari surga. Masak kamu gak denger?" Kata Aksa yang membuat mereka kembali tertawa.

"Mika sama Om Laka ikut?" Tanya Sashi.

"Iya dong, nanti siapa yang jagain Mbak Aci, Dek Dipta sama Dek Nala kalau Mika sama Om Raka gak ikut?" Kata Ashoka.

"Sudah ayo berangkat, nanti kesorean." Ajak Runi pada anak - anaknya.

Mereka pun berangkat menuju ke Grojogan Lengkung sore itu. Seperti biasa, keturunan darah Bopo, tak boleh ikut sampai ke Grojogan saat mereka akan melakukan ritual.

Ashoka, Raka, Sashi, Dipta dan Nala pun menunggu sembari bermain di Pondokan yang berada di bawah Grojogan Lengkung.

Suara Burung dan Kera seolah menyambut kedatangan mereka. Arjuna yang berada di gendongan Abimanyu, nampak senang kala melihat Beruk dan Kera yang menghampiri mereka.

"Maa Syaa Allah, lihat deh, pada kumpul gini." Ujar Runi saat melihat Kera, Beruk dan beberapa hewan lain seperti Burung dan Rusa mulai menampakkan diri mereka.

"Gak biasanya pada kumpul kayak gini." Kata Aksa.

"Aku berasa lagi di Kebun Binatang pribadi." Sahut Saira.

"Mas itu Binturong, kan?" Tanya Raina sambil menunjuk Binturong yang berada di dahan pohon.

"Lihat, Nang, ada Binturong itu. Jarang sekali keliatan itu." Kata Abimanyu.

"Itu, si Owa Jawa juga ada." Kata Arsha.

"Emang beda Bopo kecil kita ini." Kekeh Runi sambil memainkan tangan Arjuna yang seperti roti sobek itu.

Suasana berubah ketika mereka sampai di Grojogan Lengkung. Suasana yang semula dingin, perlahan mulai terasa panas, kemudian kembali dingin.

"Assalamu 'alainaa wa 'alaa 'ibadillahish sholihiin." Lirih mereka hampir bersamaan.

"Ayo, Mas Arsha." Kata Aksa mempersilahkan Kakaknya sambil cengar - cengir.

Arsha sendiri hanya bisa geleng - geleng kepala menanggapi adik kembarnya yang kerap kali enggan memimpin ritual jika ada dirinya.

"Tuman kowe ki, Sa." Gerutu Arsha kemudian.

"Selagi ada Mas, kenapa harus aku?" Kekeh Aksa.

"Udah ayo, Mas. Kasihan anak - anak di bawah kalau kelamaan di tinggal." Cicit Raina.

Arsha pun segera merapalkan bacaan. Angin mulai berhembus pelan, semakin lama, angin itu pun berubah semakin kencang seperti hendak menerbangkan mereka semua.

Arsha kemudian menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali. Perlahan, tiupan angin itu pun mulai mereda.

Setelah itu, mereka mulai mendekat ke arah Grojogan. Raina meletakkan sesaji yang ia bawa di atas sebuah batu besar di tepi Grojogan. Ia kemudian merapalkan bacaan sebelum meninggalkan tampah berisi sesaji itu di sana.

Para Bopo dan Biyung berdiri melingkar di tepi Grojogan. Membiarkan kaki mereka di lewati aliran air sungai yang berasal dari air terjun. Dengan mata terpejam, mereka merapalkan bacaan dengan khusuk.

Sementara itu, Arjuna, Bopo kecil mereka berada di tengah - tengah. Ia nampak riang bermain air dari aliran sungai itu sembari berjalan kesana dan kemari dengan langkah kecilnya yang masih tertatih.

Byuur!

Terdengar suara benda yang tercebur bersamaan dengan mereka yang selesai merapalkan bacaan. Para Bopo dan Biyung itu langsung membuka mata mereka. Mereka panik kala melihat Arjuna tak ada di dalam lingkaran yang mereka buat.

Entah bagaimana caranya, Arjuna bisa melewati mereka. Padahal kaki mereka saling menempel satu sama lain dan tentu akan terasa jika Arjuna melewati mereka.

"Loh! Juna mana?" Kata Raina. Dengan panik, mereka mencari keberadaan Arjuna.

"Aah! Aah!" Seru Arjuna yang memanggil - manggil.

Mereka pun langsung menoleh ke sumber suara yang memanggil mereka. Di sana, mereka melihat Arjuna yang duduk mengambang di atas air, di tengah - tengah aliran sungai Grojogan.

Mereka semua tertegun dan terpaku menatap keanehan di depan mereka. Aliran sungai itu setinggi paha orang dewasa. Dan tentu Arjuna akan tenggelam bila berada disana. Namun, anak satu tahun itu justru duduk dan bertepuk tangan dengan riang.

"Astaghfirullah, Arjuna!" Seru Saira yang lebih dulu tersadar.

"Mas, tolongin itu anaknya, kok malah bengong!" Seru Saira sambil memukul lengan Aksa.

"Iya, Sayang." Jawab Aksa yang kemudian berlari tergopoh - gopoh bersama Arsha untuk mengambil Arjuna dari sana.

"Mas, gak ada batu, Mas." Kata Aksa sambil meraba - raba air jernih di bawah tempat Arjuna duduk saat Arsha sudah menggendong putranya.

"Iya, Sa. Berarti dia ngambang, Sa. Ya Allah!" Jawab Arsha.

"Ya Allah, kok bisa to, Mas?" Tanya Aksa.

"Ya gak tau to, Sa. Aku kan sama kamu juga di sana." Kata Arsha.

"Gak apa - apa kan, Nang? Coba Bopo periksa." Kata Arsha yang kemudian memeriksa tubuh Arjuna.

"Alhamdulillah, gak apa - apa. Ayo wes." Ajak Aksa. Mereka berdua kemudian membawa Arjuna kembali ke tempat mereka.

"Ya Allah, Arjuna." Kata Raina yang kemudian meraih tubuh putranya.

"Beneran ngambang. Gak ada batu atau kayu di tempat duduknya." Kata Aksa.

"Maa Syaa Allah. Kuasa Allah." Ujar Raina.

"Maa Syaa Allah, Bopo istimewa." Imbuh Saira sambil mengecup kepala Arjuna yang berada di gendongan Raina.

2. Anak Ajaib

Setelah selesai ritual di Grojogan Lengkung, mereka kemudian turun menuju ke Pondokan.

Disana, mereka melihat Sashi yang sedang bermain dengan seekor Binturong yang tentu saja liar. Sementara Ashoka dan Raka sedang duduk - duduk bersama Dipta dan Nala sembari melihat Sashi yang bermain dengan Binturong.

"Astaghfirullah, di bikin shock lagi begitu turun." Lirih Raina sambil mengusap dadanya.

"Nok! Awas di gigit, ya Allah." Seru Arsha.

"Ayah! Ini baik kok. Sayang sama Aci." Jawab Sashi dengan entengnya.

"Anakmu kok ajaib semua to, Mas." Kata Aksa.

"Mboh, Sa. Aku yo nggumun ki. (Gak tau, Sa. Aku ya geran ni.)" Jawab Arsha.

"Berkah dari Gusti Allah, Mas, Mbak. Di Syukuri aja, barang kali kedepannya bisa menjadi wasilah untuk menolong orang di sekitarnya." Ujar Abimanyu dengan bijak.

"Nok! Ya jangan di pegang mulutnya gitu." Kata Aksa yang mempercepat langkahnya untuk menghampiri Sashi.

"Ini baik, Bopo. Liat tuh dia jilat - jilat tangan Aci." Jawab Sashi.

"Kok kalian berdua malah diem aja, gimana to?" Tegur Arsha pada dua adiknya yang malah bersantai di teras pondokan.

"Lha wong wis di gusah, ra gelem lungo kok, Mas. Malah ngintili Sashi. (Orang sudah di usir, gak mau pergi kok, Mas. Malah ngikutin Sashi.)" Jawab Raka.

"Iya, Mas. Lagian juga dia lulut (jinak) banget gitu. Dari tadi Sashi ngasih jagung langsung dari tangannya gitu dan gak gigit." Jawab Ashoka.

"Ayah... Bawa pulang, ya." Pinta Sashi.

"Kasihan kalau di bawa pulang, nanti dia gak bisa bebas." Jawab Arsha yang berjongkok di sebelah Sashi.

"Tapi dia lulut (jinak) sama Aci, Yah." Rengek Sashi.

"Bopo... Bintulongnya bawa pulang, ya?" Pinta Sashi.

"Nanti kalau keluarganya nyariin, gimana? Kan kasihan kalau di pisahin dari keluarganya, Nok." Jawab Aksa.

"Tapi dia mau ikut Aci, Po. Yang Kung..." Sashi menatap ke arah Yang Kungnya. Harapan terakhir setelah Ayah dan Boponya menolak dengan halus permintaannya.

"Halah, wes angel nak ngene. Wes angel nak lawane Yang Kung. (Halah, sudah susah kalau gini. Sudah susah kalau lawannya Yang Kung.)" Lirih Aksa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Mesti leh keturutan nak karo Yang Kung. (Pasti di turutinnya kalau sama Yang Kung.)" Imbuh Arsha yang membuat mereka semua terkikik geli.

"Rayu terus Yang Kung sama Yang Ti, Nok. Pasti boleh kalo sama Yang Kung dan Yang Ti." Ashoka mengompori.

"Kuwi meneh, kompor kobong! (Itu lagi, kompor kebakaran!)" Gerutu Aksa.

"Yang Kung... Boleh, kan? Bintulongnya kita bawa pulang ya." Tanya Sashi sambil menggoyang - goyangkan tangan Yang Kungnya.

"Ya sudah, Denok bilang sama Binturongnya. Kalau memang mau ikut, ya suruh jalan sampai ke mobil. Kalau dia ngikutin sampai ke mobil, nanti kita bawa pulang." Kata Abimanyu.

"Yeee!" Seru Sashi dengan Girang.

"Bintulong, ikut Aci ya. Jalan ke mobil, boleh kata Yang Kung. Jangan takut, semua sayang Bintulong." Ujar Sashi yang kembali mengusap - usap kepala Binturongnya.

"Sashi aja itu yang Sayang sama Binturong, lainnya enggak." Ledek Raka.

"Om Laka! Jangan nakal, nanti Bintulongnya malah." Kata Sashi sambil merengut ke arah Raka yang malah tertawa geli melihat wajah menggemaskan Sashi.

"Yang marah lak, Denok, bukan Binturongnya." Kekeh Aksa.

"Udah sih, Mas. Biarin aja kalo Binturongnya mau ikut. Siapa tau bisa jadi temen mereka berempat kayak Ningrat dulu." Kata Runi yang membela cucunya.

"Tuh, bisa jadi temen Aci, Dek Juna, Dek Dipta sama Dek Nala. Iya kan, Yang Ti." Kata Sashi.

"Cucu Pak Kades dan Bu Kades nih, senggol dong bos!" Gelak Ashoka meledek kedua Kakaknya yang sudah tak bisa lagi berkutik.

Sementara itu, Saira dan Raina pun hanya bisa terkekeh melihat perdebatan tiga generasi di hadapan mereka.

"Bintulong, ayo pulang sama Aci." Ajak Sashi. Anehnya, Binturong itu seperti mengerti. Ia pun mengikuti kemana gadis menggemaskan itu melangkah seperti seekor kucing yang jinak.

"Wes, jelas katut, Mas. (Sudah jelas terbawa, Mas.)" Lirih Aksa.

"Yo arep piye meneh, Sa. Aku mung wedi Denok cidro, nak di tinggal pas jek sayang - sayange. Wes pengalaman soale, ndisek karo Ningrat. (Ya mau gimana lagi, Sa. Aku cuma takut Denok kecewa, kalau di tinggal waktu masih sayang - sayangnya. Sudah pengalaman soalnya, dulu sama Ningrat.)" Jawab Arsha yang hanya bisa pasrah.

"Yeee! Bintulong pintel! Bintulong ikut Aci." Seru Sashi dengan Girang yang menghadirkan senyuman di wajah keluarganya.

"Boleh bawa pulang kan, Yang Kung?" Tanya Sashi dengan wajah gembira.

"Boleh. Ayo di bawa masuk ke mobil." Kata Abimanyu sambil tersenyum.

"Biar Ayah aja yang masukin ke Mobil." Ujar Arsha yang kemudian memasukkan Binturong itu ke dalam mobil.

Tentu saja bersama Sashi juga, agar Binturong itu tetap tenang karena berada di dekat 'Pemiliknya'.

...****************...

"Ayaah! Ayaah... Tolong Adek mainan api!" Seru Sashi yang berada di halaman rumah.

"Adek, panas, Dek. Jangan kesana!" Sashi berusaha menggeret Arjuna yang terduduk di rerumputan, namun Arjuna tak juga bisa ia bawa menjauh.

"Tolong Ayaah!" Seru Sashi lagi sambil memegangi kaki Arjuna yang hendak merangkak ke arah kobaran api.

"Bopo tolong Juna, Bopo. Mbak Aci gak kuat talik Juna." Ujar Sashi saat melihat Aksa memasuki halaman rumahnya.

Arsha yang teringat jika sedang membakar sampah itu pun langsung lari saat mendengar jeritan Sashi.

Tak hanya Arsha, Aksa yang baru pulang dari Balai Desa pun langsung berlari ke arah Arjuna yang masih di tahan oleh Sashi.

Saking paniknya, ia meletakkan asal motornya. Motornya itu bahkan sampai ambruk karena ia lupa menyetandarkannya.

"Ya Allah! Mas gimana to, kok lagi bakar - bakar tapi anaknya di tinggalin? Untung gak sampe kobong." Omel Aksa yang lebih dulu mengambil tubuh Arjuna dan memeluknya.

"Aku mau ngambilin Arjuna minum. Orang dia minta minum tadi." Jawab Aksa.

"Coba lihat ini ada yang luka gak? Ya Allah, tiwas nderedek aku, Mas. (Sampe deg - degan aku, Mas.)" Kata Aksa.

"Alhamdulillah. Aman kok, Sa." Jawab Arsha yang juga tak kalah deg - degan.

"Adek gak mau diem. Maunya jalan ke api." Adu Sashi pada Ayah dan Boponya.

"Adek gak apa - apa? Beldalah nggak, Yah?" Tanya Sashi kemudian.

"Ya Allah, makasih ya, Nok. Karna Mbak Aci udah pegangin Adek. Adek gak apa - apa, kok. Gak ada yang luka atau berdarah ini." Jawab Arsha.

"Pinter banget anak Bopo ini. Makasih ya, Mbak Aci, selalu jagain Adek - Adeknya." Ucap Aksa.

"Iya, Bopo. Aci sayang Juna, Dipta sama Nala." Jawab Sashi dengan polosnya.

Aksa dan Arsha pun tersenyum. Merasa berhasil menanamkan rasa kasih sayang di hati putri pertama mereka. Putri yang mereka besarkan bersama itu, memiliki perasaan yang begitu kuat namun halus.

Sedari kecil, Sashi selalu tanggap dengan keadaan di sekitarnya. Gadis kecil itu, memiliki rasa empati yang luar biasa.

3. Warisan

Malam itu, Arsha, Aksa berserta istri dan anak - anak mereka sedang berkumpul di kediaman Abimanyu, setelah menggelar acara doa bersama untuk memperingati empat puluh hari kepergian Pak Karto yang bertepatan dengan seratus hari kepergian Bu Lastri.

Suasana riuh begitu terasa saat keempat balita itu berkumpul. Suara teriakan dan tawa, memenuhi seisi rumah Abimanyu.

"Nang, Le, Nduk, Romo sengaja mengumpulkan kalian di sini, mau menyampaikan wasiat dari almarhum Akung." Abimanyu membuka pembicaraan.

"Ini, akte tanah rumah kalian masing - masing, pemberian dari Akung." Ujar Abimanyu sembari memberikan dua buah sertifikat masing - masing dengan nama Aksa dan Arsha.

"Ini di kasih Akung, Mo?" Tanya Aksa yang di jawab anggukan oleh Abimanyu.

"Alhamdulillah. Matur nuwun njih, Kung." Ucap Arsha yang berbicara pada angin.

"Tanah dan rumah utama itu, Akung berikan langsung pada Arjuna, seperti yang kalian dengar langsung dari Akung beberapa hari sebelum Akung meninggal. Jadi, walaupun itu masih tetap atas nama Akung, gak ada yang boleh mengusik wasiat dari langsung dari Akung itu, walaupun itu gak tertulis." Ujar Abimanyu kemudian.

"Ini, pabrik dan sawah milik Akung, yang di bagikan untuk cucu - cucunya. Dua pabrik beras yang di Kecamatan milik Arsha. Pabrik beras yang di Lor dan Kidul, milik Aksa dan pabrik beras yang di desa sebelah dan desa Pacet, milik Raka." Jelas Abi.

"Ashoka dan Gendis, kebagian sawah milik Akung yang ada di Desa sebelah. Sawah yang di Kidul, jatahnya Mas Aksa dan sawah yang di Lor jatahnya Raka. Sisanya, sawah yang ada di Desa ini, milik Romo dan Yanda. Mas Arsha gak kebagian sawah, tapi kejatahan Pabrik Pakan yang di Kabupaten karena selama ini Mas Arsha yang ngurus Pabrik Pakan itu, kata Akung." Imbuh Abimanyu yang menjelaskan wasiat Pak Karto pada anak - anaknya.

"Iya, Mo." Jawab Arsha dan Aksa hampir bersamaan.

"Le, Romo ini kan sudah tua, sudah pingin istirahat. Tolong kamu lanjutkan ya, Le, menjadi Kepala Desa di Desa ini." Pinta Abimanyu.

Karena keriuhan saat pemilihan Kepala Desa Banyu Alas dulu, pada akhirnya Pemerintah Kabupaten mengembalikan Kepemimpinan di sana menjadi seperti semula, yatu secara turun - temurun oleh keluarga Bopo.

"Emangnya Romo gak mau nambah masa jabatan lagi? Nambah lagi ya gak apa - apa loh, Mo. Kan aku bantuin." Ujar Aksa.

"Wes kesel to, Le. (Sudah capek to, Le.)" Kata Abimanyu yang membuat anak - anaknya terkekeh.

"Dulu aja, Akung usia seperti Romo ini, udah istirahat. Udah Romo gantikan tugasnya jadi Kepala Desa." Imbuh Abimanyu kemudian.

"Ya sudah. In Syaa Allah, Aksa gantikan nanti, Mo." Jawab Aksa yang membuat Abimanyu merasa lega.

"Ibun juga jadi pingin pensiun deh, Mo." Kekeh Runi sambil melirik ke arah Saira.

"Bun, jangan dulu." Sergah Saira dengan cepat hingga membuat Runi tertawa.

...****************...

"Panav... Panav..." Seru Sashi memanggil Binturongnya yang kini menempati kandang bekas milik Ningrat dulu.

Tentu saja kandang itu sudah di pindah ke halaman samping rumah Arsha agar lebih mudah mengawasinya.

Binturong itu pun keluar dari tempat persembunyiannya ketika Sashi memanggilnya. Gadis kecil itu, kemudian membuka kandang si Binturong dan membiarkan Panav mengikutinya bermain di teras rumah.

"Mbak Aci..." Panggil Arsha ketika melihat Sashi bermain di teras samping rumah mereka sembari memberi makan Panav.

"Dalem, Ayah." Jawab Sashi yang langsung menoleh ke sumber suara.

"Ayah minta tolong, temenin Dek Juna sebentar, bisa? Ayah mau ke wc." Pinta Arsha sore itu, karena Raina masih belum pulang bekerja.

"Bisa, Ayah. Tapi Aci sama Dek Juna main di sini sama Panav ya, Yah?" Kata Sashi.

"Iya. Tapi hati - hati, ya." Pesan Arsha sambil meletakkan Arjuna di dekat Sashi.

"Dek Juna, main sama Mbak Aci ya. Ayah mau ke wc sebentar." Pamit Arsha.

"Manut kalih Mbak Aci njih, Nang. (Nurut sama Mbak Aci ya, Nang.)" Pesan Arsha.

"Sini, Dek Juna. Jangan jalan - jalan, ya. Kita kasih makan Panav aja." Ujar Sashi sembari memberikan melon pada Arjuna.

Arjuna pun mengangguk. Ia menerima melon pemberian Sashi kemudian memakannya sedikit sebelum ia berikan pada Panav. Sashi pun tertawa melihat Arjuna yang makan bergantian dengan Panav.

"Jangan di makan, itu punya Panav. Dek Juna makan yang balu aja." Kata Sashi yang menahan tangan Arjuna agar tak mengambil melon yang sudah di makan Panav.

Saat sedang asyik bermain, Sashi di kejutkan dengan kehadiran seekor ular sanca sebesar tangan bayi yang mendekat ke arah mereka.

"Ulal! Itu Ulal! Dek Juna jangan deket - deket Mbak Aci ambil pukul dulu." Kata Sashi yang kemudian berdiri untuk mengambil sapu, hendak mengusir ular itu.

Arjuna pun turut berdiri, bukannya menjauh, Arjuna justru mendekati ular itu dan langsung menangkapnya begitu saja. Tak ada yang mengajarinya, namun, Arjuna seolah tau cara memegang ular dengan benar.

Ular itu pun melilit tangan Arjuna saat Arjuna memegang kepalanya. Namun, Arjuna tampak santai saja dan kembali duduk sembari memainkan ular yang melilit tangannya itu.

"Aaaaaa, Astapiloh! (Astaghfirullah!)" Seru Sashi yang kaget saat melihat Arjuna sudah menangkap ular itu.

"Dek Juna, lepasin itu. Nanti di gigit." Kata Sashi sambil menggoyang - goyangkan tubuh Arjuna.

Namun, balita satu tahun itu justru tertawa sembari memainkan ular yang masih membelit tangannya.

Ia pun sempat menggoda Sashi dengan mendekatkan ular itu ke arah Sashi hingga gadis itu melompat ketakutan.

"Ayaah! Dek Juna, Yah!" Seru Sashi dengan suara ketakutannya.

Mendengar suara Sashi yang berteriak, membuat Arsha yang baru selesai dengan 'hajatnya' itu langsung menghampiri kedua anaknya yang masih berada di teras rumah.

"Kenapa, Mbak?" Tanya Arsha yang datang tergopoh - gopoh.

"Dek Juna mainan ulal!" Jawab Sashi sambil menunjuk ke arah Arjuna yang sedang tertawa - tawa.

Mendengar suara Ayahnya, Arjuna segera membalikkan badan dan menunjukkan ular di tangannya yang nampak sudah 'pasrah' itu.

"Astaghfirullah, ya Allah! Lepasin, Nang, ayo lepasin." Kata Arsha, namun Arjuna menggelengkan kepalanya.

"Dek, ayo lepasin. Nanti di gigit." Timpal Sashi yang berdiri di sebelah Ayahnya.

"Ayah kok diem aja. Itu tolongin Dek Juna." Kata Sashi.

"Ayah geli lihat ular, Mbak." Jawab Arsha.

"Ayah geli apa takut? Ayah takut ya?" Todong Sashi.

"Enggak, Ayah geli." Elak Arsha.

"Arjuna, ayo di buang itu ularnya, Nang. Gak boleh mainan hewan yang berbahaya gitu." Bujuk Arsha yang perlahan duduk di dekat Arjuna.

Arjuna pun kembali menggeleng. Ia justru menakut - nakuti Ayahnya dengan menyodorkan ular itu ke Arsha hingga membuat Arsha hampir terjengkang. Melihat Ayahnya yang hampir terjengkang, justru membuat Sashi dan Arjuna tertawa.

"Ya Allah, bocah kok ya malah jahilin Ayahnya." Gerutu Arsha.

Setelah berusaha terus membujuk dengan di bantu Sashi, akhirnya Arjuna mau juga melepaskan ular itu. Ia melemparkan begitu saja ular sanca kecil itu ke halaman samping rumah mereka.

"Ya Allah. Ada aja gebrakannya anak satu ini. Minta di ruwat apa ya? Bener - bener bikin orang nderedek." Cicit Arsha sambil mengusap - usap dadanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!