Assalamualaikum....
Di mohon, sebelum membaca cerita ini, alangkah baiknya,membaca cerita sebelumnya agar tidak gagal paham...
Ustadz Yusuf I love you.
Selamat membaca.....
_____________*************_______________
Siang itu, suasana di kediaman Kyai Rahman terasa tegang. Semua sudah dipersiapkan untuk menyambut rombongan Hilman. Namun, kedatangan mereka jauh dari ekspektasi Kyai Rahman yang mengharapkan rombongan besar sesuai status keluarga Hilman Effendi.
Hanya dua mobil mewah yang memasuki gerbang Pesantren. Mobil pertama adalah Supercar hitam mengkilap yang dikendarai sendiri oleh Hilman. Mobil kedua, sebuah sedan mewah dengan sopir, membawa ayahnya, Faisal, ibu tirinya, Selena, dan adik tirinya, Patricia.
Hilman yang turun dari mobil Supercar-nya, tampak tampan namun dingin. Ia mengenakan pakaian yang rapi, tetapi auranya berbeda jauh dengan kehangatan Yusuf.
Selena, ibu tiri Hilman, adalah wanita berparas cantik yang berbusana sangat modis... Mereka hanya memakai pakaian serba panjang dan pashmina yang hanya tertengger di kepalanya, dan lehernya masih terlihat....Namun, wajahnya menunjukkan keangkuhan yang tak tertahankan.
Saat ia keluar dari mobil, ia segera menyipitkan mata, memandang remeh penduduk desa yang berkumpul di pinggir jalan dengan rasa penasaran. Ia mengibaskan tangannya, seolah jijik dengan debu dan kesederhanaan lingkungan Pesantren.
Selena Berbisik sinis pada Faisal "Sungguh membuang waktu. Aku tidak percaya kita harus datang ke tempat kumuh seperti ini hanya karena wasiat kuno."
" jaga sikapmu Selena" balas tuan Faisal menatap dingin istrinya.
Keluarga Faisal disambut di teras rumah Kyai Rahman, di mana Zora dan Yusuf duduk mendampingi Kyai dan Ibu Nyai.
Saat mata Faisal, Selena, dan Patricia tertuju pada Zora, mereka semua terkejut hebat. Zora adalah bagian dari lingkaran sosial mereka di kota ,seorang sosialita terkenal.
Selena Hampir tidak percaya, berbisik sangat keras kepada Faisa "Faisal, bukankah itu... Zora Atmaja? Mantan Ratu Pesta di kota ?"
Tetapi, kejutan terbesar mereka adalah keadaan Zora saat ini. Zora duduk di samping Ustadz Yusuf dengan perut yang sudah membesar, jelas-jelas sedang hamil memasuki bulan ketujuh.
Patricia Tersentak "Kak Hilman! Itu Zora! Dan dia... dia menikah dengan Ustadz di sini? Dan dia hamil?!, pantas saja Sudah lama tidak melihat Zora, ternyata berada di sini
Wajah Hilman, yang semula tenang, kini terlihat sedikit kaku. Perjodohan wasiat yang seharusnya formal mendadak terasa sangat pribadi dan rumit, karena rupanya dunia Pesantren Yusuf dan dunia elite Jakarta Zora telah lebih dulu bertemu....
" Assalamualaikum...?" ucap tuan Faisal mewakili keluarga nya , sebelum masuk ke dalam rumah.
Yusuf berdiri untuk menyambut kedatangan tamu" Waalaikumsalam, selamat datang tuan dan nyonya " jawab Yusuf tersenyum sopan. Sedangkan Patricia tidak bisa berkedip melihat ketampanan Yusuf yang paripurna,bahkan suaranya begitu teduh dan lembut. Lalu menyalimi tangan Faisal serta Hilman, saat Patricia mengangkat tangan nya, Yusuf hanya mengantupkan kedua tangannya.karena bukan mahram.
" selamat datang , Tuan Faisal, Hilman, nyonya Selena dan Patricia" ucap Zora tersenyum....ada sedikit senyum ejekan di sana.
" aku tidak menyangka kalau kita akan jadi keluarga" ucapnya sedikit terkekeh...membuat Bu nyai dan Yusuf menoleh ke arah istrinya...
" saya kenal mereka Bu, mas, mereka adalah rekan bisnis papa, jadi kami sering bertemu" kata Zora menoleh sekilas ke arah ibu dan Suaminya, karena dia tahu ,kedua orang tersebut, penasaran...mengapa dirinya bisa tahu.
" ayo silahkan masuk" ajak Zora sopan membuat para tamunya tersenyum canggung.
Zora langsung menggandeng tangan suaminya dengan mesra karena sedari tadi melihat tatapan Patricia yang curi-curi pandang pada suaminya.
Di tengah keangkuhan Selena dan keterkejutan Hilman, Tuan Faisal menunjukkan sikap yang berbeda. Ia adalah sosok yang ramah dan menghormati tradisi. Faisal mengambil inisiatif untuk memecah keheningan yang canggung.
Tuan Faisal Tersenyum tulus, mengulurkan tangan kepada Kyai Rahman "Assalamualaikum, Kyai Rahman. Lama sekali kita tidak bertemu. Saya Faisal. Maaf kami datang terlambat." ucap Faisal dengan sopan
Kyai Rahman Membalas salam dan uluran tangan dengan hangat "Waalaikumsalam, Tuan Faisal. Ahlan wa sahlan / selamat datang. Silakan masuk, mari kita duduk dengan nyaman."
Faisal memimpin keluarganya masuk, sementara Selena dan Patricia terpaksa mengikuti dengan enggan. Faisal dan Kyai Rahman duduk berhadapan, seolah-olah mengabaikan ketegangan yang diciptakan oleh kehadiran Zora dan sikap Selena.... Mereka duduk lesehan, karena di kediaman kyai Rahman hanya ada permadani besar untuk menyambut para tamunya....
Selena dan Patricia enggan untuk duduk ,tapi mereka terpaksa, karena melihat tatapan Faisal yang dingin ke arah mereka, sedangkan Hilman,hanya cuek dan tetap dingin .
Tuan Faisal segera membuka percakapan dengan mengenang masa lalu.
"Saat melihat Kyai, saya langsung ingat masa kecil kami. Ayah saya dan Ayah Kyai Rahman dulu sering bertemu, dan kami sebagai anak kecil sering ikut bermain di halaman yang sama. Rasanya seperti baru kemarin." ucap Faisal tersenyum....
Kyai Rahman Mengangguk haru "Benar, Tuan Faisal. Persahabatan almarhum ayah kita begitu kuat. Kami berdua adalah saksi hidup ikatan persaudaraan mereka." balas kyai Rahman.
Suasana pun menjadi lebih cair. Mereka saling berbincang hangat, mengenang kenangan lama saat ayah mereka masih hidup.
Mereka kemudian membahas wasiat yang membawa mereka bertemu hari ini.
"Dulu, kami sebagai anak-anak sudah tahu bahwa kakek-kakek kami bercanda, tapi juga serius, bahwa suatu saat kami tidak akan menyangkal takdir untuk menjadi besan. Kami menghormati wasiat itu, Kyai. Hilman adalah cucu tunggal dari Ayah saya, dan kami datang hari ini untuk menunaikannya." tutur Faisal berterus terang, setelah tadi berbincang ringan.
Sikap ramah dan penghormatan Tuan Faisal terhadap wasiat dan tradisi sangat kontras dengan sikap keluarga inti Hilman , Selena dan Patricia, namun itu berhasil mencairkan kebekuan dan membuka jalan bagi proses lamaran Rukayyah.
Tepat setelah percakapan hangat antara Kyai Rahman dan Tuan Faisal mereda, pintu menuju ruang tamu dari belakang terbuka. Rukayyah memasuki ruangan.
Ia tampil sesuai dengan kebiasaannya, mengenakan pakaian serba hitam yang menutup sempurna, hanya menyisakan celah mata yang menunjukkan kecerdasan dan ketenangan.
Rukayyah berjalan dengan langkah yang tenang dan teratur.... Rukayyah terduduk dan jalan pelan menggunakan kedua lututnya untuk mendekat ke arah tamu.Di tangannya, ia membawa nampan berisi jamuan teh, kopi, dan camilan khas Pesantren. Ia melayani para tamu dengan sangat sopan, menunjukkan didikan yang halus dan teratur meskipun ia adalah lulusan luar negeri yang serba modern.
Rukayyah menyajikan minuman satu per satu, mulai dari Tuan Faisal, Kyai Rahman, hingga Zora dan semuanya .Ia tidak berbicara, hanya mengangguk hormat, membiarkan gerakannya yang anggun berbicara...
Patricia dan selena sejak tadi menahan tawanya melihat seorang berpakaian seperti ninja, padahal ini di dunia modern.... sedangkan Hilman masih dingin seperti tadi, meski hatinya bertanya-tanya, siapakah wanita yang barusan memberikan jamuan...
Berbeda dengan Selena dan Patricia, mereka mengira , Rukayyah adalah seorang pelayan.
Setelah basa-basi selesai, Kyai Rahman merasa sudah waktunya untuk memperkenalkan secara resmi putri yang akan dijodohkan dengan Hilman.
Rukaayyah duduk di sebelah ibunya, di apit oleh ibunya dan kakak iparnya Zora , serta dua kakak perempuan Rukayyah yang baru datang, mereka semuanya memutuskan untuk bercadar, begitupun dengan Ayudia, dia juga sekarang bercadar....
Selena dan Patricia serta Hilman sedikit terkejut, karena keluarga ini kebanyakan menutup dirinya dengan rapat, kecuali Zora mungkin yang belum terbiasa.... apalagi sedang hamil besar, mungkin terasa engap nantinya.
Kyai Rahman menatap Rukayyah, memberikan senyum penuh kebanggaan, namun tetap menjaga kerendahan hati , sesuai tradisi keluarga Kyai yang selalu merendahkan diri.
"Tuan Faisal, dan keluarga. Ini adalah putri bungsu kami, Rukayyah. Dialah yang akan melanjutkan wasiat persahabatan antara kakek kita." ucap kyai Rahman tersenyum.
Kyai Rahman berhenti sejenak. Ia teringat permintaan Rukayyah agar pendidikannya tidak diumbar.
"Rukayyah adalah gadis rumahan. Sejak kecil kami didik untuk patuh pada agama dan menjaga kehormatan keluarga. Ia akan menjadi istri yang insya Allah taat, dan kami harapkan dapat mengurus rumah tangga dengan baik. Tidak ada yang istimewa dari dirinya, selain keinginan kuat untuk menjadi hamba Allah yang shalihah." ucapnya merendah
Meskipun Kyai Rahman merendah, aura Rukayyah yang tenang dan matanya yang cerdas sudah membuat hadirin penasaran.
Saat mendengar perkenalan singkat itu, Selena dan Patricia yang sudah meremehkan penduduk desa dan status , gadis rumahan, dari Pesantren, sampai membuat keduanya menganga....tapi kemudian tersenyum licik.
Mereka membayangkan gadis lugu yang hanya tahu memasak dan mengaji, Mereka tidak tahu bahwa gadis rumahan ini adalah lulusan terbaik dari Kairo, menguasai beberapa bahasa asing, dan seorang hacker handal.
" Wanita ini menutup dirinya rapat-rapat, pasti karena tidak punya apa-apa untuk dibanggakan" gumam Selena dalam hati.
Patricia , Adiknya yang baru saja melihat Zora , kini melihat Rukayyah , gadis bercadar, dan para perempuan di sekelilingnya yang sama bercadar.Dunia Pesantren jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Hilman sendiri hanya menatap Rukayyah. Ia melihat betapa kontrasnya gadis di hadapannya ini dengan kekasihnya, Rubby. Ia merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik cadar hitam itu, sesuatu yang jauh lebih menantang daripada yang Ayahnya jelaskan.
Meskipun terkejut dan bingung dengan perkenalan Kyai Rahman yang merendah, Selena dan Patricia dengan cepat menenangkan diri. Kecurigaan mereka tidak hilang, tetapi niat jahat mereka mulai mengambil bentuk yang baru.
Selena menafsirkan penampilan Rukayyah yang tertutup dan pengakuan Kyai Rahman sebagai kelemahan, "pasti ada yang di sembunyikan dari gadis di depannya " gumamnya dalam hati.
"Gadis ini pasti lugu dan kolot. Ia mungkin cerdas dalam agama, tetapi pasti tidak bisa apa-apa dalam kehidupan modern. Ia hanya gadis rumahan yang terbiasa patuh" lanjutnya
Mereka memutuskan bahwa Rukayyah adalah gadis lemah yang dapat mereka manfaatkan.
Seketika, ekspresi angkuh di wajah Selena berubah menjadi senyum yang sangat manis dan palsu. Patricia mengikutinya. Mereka berdua dengan antusias pura-pura ikut setuju dengan perjodohan ini.
Selena Berbicara dengan nada sok akrab. "Rukayyah, Insya Allah kami akan menyambutmu dengan tangan terbuka. Aku yakin kamu akan menjadi penenang di rumah kami. Kamu pasti akan menjadi pendamping yang bisa membuat Hilman bahagia"
Rukayyah, yang matanya tajam di balik cadar, menangkap sinyal bahaya dan kepalsuan dalam senyum mereka, namun ia membalasnya dengan anggukan sopan.
" Bagus. setidaknya kami bisa mendapatkan gadis desa ini. Dia pasti bisa menjadi pelayan gratis yang sangat patuh. Mencuci, memasak, membereskan. Dia tidak akan berani menolak karena takut dosa." gumam Patricia dalam hati, lalu ia ikut tersenyum.
Rencana licik sudah tersusun rapat di kepala mereka. Mereka berdua melihat Rukayyah sebagai alat, bukan sebagai menantu atau saudara ipar, sebuah boneka yang bisa mereka kendalikan di rumah mewah mereka nanti. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang merencanakan kejahatan terhadap seorang hacker yang menguasai berbagai bahasa dan ilmu bela diri....
Lamaran yang canggung dan penuh drama internal itu akhirnya berujung pada penunaian wasiat.
"Assalamualaikum?" ucap seseorang dari luar.
" waalaikumsalam...jawab mereka dari dalam," Yusuf segera bangkit untuk menyambut kedatangan penghulu,...
" mari silahkan masuk..." ucap Yusuf dengan sopan setelah menyalami pak penghulu yang terlihat sudah tua .
Begitupun semuanya, menyambut penghulu dengan hormat, Hilman meskipun sedikit kaku tapi dia mencoba mengikuti para laki-laki yang ikut bersalaman dengan penghulu.
Sedangkan Selena dan Patricia mengikuti para perempuan yang tetap duduk,tanpa ikut berdiri...kini mereka menyadari, ternyata di lingkungan pesantren, perempuan dan laki-laki tidak boleh bersentuhan walaupun hanya sebatas salaman.
Setelah berbasa-basi akhirnya penghulu segera menikahkan mereka.
Prosesi pernikahan Hilman dan Rukayyah dilangsungkan dengan khidmat namun sangat sederhana, sesuai dengan permintaan dari pihak Kyai Rahman dan Rukayyah.
Sebelumnya, Tuan Faisal telah mengirimkan semua surat-surat yang diperlukan untuk pernikahan, memastikan bahwa seluruh proses administrasi negara telah diselesaikan dengan cepat.
" apakah pihak laki-laki dan perempuan sudah siap?" tanya penghulu pada kedua calon mempelai.
mereka hanya mengangguk.
" apakah tidak ada paksaan?, dari pihak manapun?" tanya penghulu lagi
Mereka berdua mengangguk kembali.
" baiklah...., kalau begitu kita bisa lakukan ijab Qabul sekarang.
Saat prosesi ijab kabul, terjadi perbedaan yang mencolok dari pernikahan Zora-Yusuf.
Hilman menyerahkan mahar berupa uang tunai sebesar 10 juta rupiah. Meskipun jumlahnya kecil bagi seorang pengusaha kaya seperti Hilman, ini adalah nominal yang lumrah dan sesuai di lingkungan Pesantren.
Pihak Hilman tidak memberikan cincin untuk mengikat Rukayyah. Hal ini berbeda dengan Zora, yang mendapatkan cincin berlian sederhana dari Yusuf.
" mereka pelit sekali, masa orang kaya hanya memberikan mahar sedikit, berbeda dengan ku mendapatkan mahar banyak juga cincin berlian" bisik Zora pada suaminya, tapi Selena dan Patricia bisa mendengar nya dan menatap sinis pada Zora.
Yusuf coba menenangkan bumil manjanya itu, semenjak hamil, Zora sering tidak bisa mengontrol emosi nya, untung nya para warga di sini sudah sangat menghormati istrinya, jadi tidak masalah.
Meskipun bagi keluarga kota ini mungkin terlihat meremehkan, keluarga Kyai Rahman yang sederhana tidak mempermasalahkan hal ini sama sekali. Bagi mereka,
Keabsahan Agama dan Negara , Yang terpenting adalah pernikahan itu sah secara agama dan negara.
dan Wasiat dari almarhum Kakek telah tertunaikan.
Kyai Rahman Berbisik pada Tuan Faisal. "Mahar itu hanyalah simbol, Tuan Faisal. Yang utama adalah tanggung jawab dan mawaddah yang akan Hilman berikan kepada Rukayyah."...
Tuan Faisal mengangguk saja, meski dia tidak enak, Faisal kira , Hilman sudah mempersiapkan semuanya termasuk Cincin dan seserahan, ia mempercayakan pada istrinya, ternyata semuanya tidak ada.
Alhamdulillah.... akhirnya acara ijab qobul nya selesai dan mereka sah sebagai suami istri., penghulu langsung pulang karena ada urusan lain,
" ayo , setelah selesai kita sudahi dengan acara makan bersama, sebagai syukuran atas pernikahan Hilman dan Rukayyah" ajak kyai Rahman yang di angguki oleh Faisal.
" maaf sudah merepotkan kyai" ucap Faisal tidak enak.
" tidak sama sekali besan, ini hanya acara sederhana saja " balasnya tersenyum ramah .
Mereka diarahkan ke ruang makan yang terlihat lebih besar dari ruang tamu, di mana banyak makanan lezat dan sederhana tertata rapi. Bukan hidangan katering mewah hotel bintang lima, melainkan masakan rumahan khas Pesantren yang kaya rasa, seperti opor ayam kampung, rendang, sambal goreng ati, sayur lodeh, ada juga tempe goreng serta sambal dan lalapan.
Selena dan Patricia yang terbiasa dengan menu fusion Eropa dan presentasi mewah, memandang remeh hidangan di hadapan mereka. Mereka berbisik-bisik, mengeluhkan minyak yang terlihat jelas dan presentasi yang terlalu 'kampungan'.
Selena berbisik kepada Patricia "Ya ampun, Pat. Aku tidak tahu harus makan yang mana. Ini terlihat seperti makanan warung pinggir jalan. Aku harap perutku tidak bermasalah."
" benar mah, aku juga bingung mau makan apa" balas berbisik.
Faisal mengambil makanan nya sendiri, sedangkan ibu nyai mengambilkan untuk suaminya, begitupun Zora, ia mengambilnya untuk Yusuf, Rukayyah dengan suara lembutnya menanyakan apa kesukaannya pada sang suami.
" mas... Mau saya ambilkan" ucapnya lembut, membuat Hilman sedikit berdesir, apalagi ini baru pertama kalinya mendengar suara lembut itu .
Hilman hanya mengangguk pelan, lalu Rukayyah mengambilnya, dengan porsi cukup seperti kakaknya." terimakasih" ucap Hilman dingin, karena sudah dilayani.
Selena dan Patricia enggan untuk mengambil makanannya....
" jangan bikin malu, ayo ambil " bisik tuan Faisal pada istrinya.
karena didesak oleh Tuan Faisal dan Kyai Rahman untuk mencicipi, Selena dan Patricia terpaksa mengambil sedikit makanan ke piring mereka dengan ekspresi jijik yang berusaha disembunyikan...
Mereka hanya mengambil nasi sedikit juga rendang daging.
Namun, begitu gigitan pertama masuk ke mulut mereka, sesuatu yang konyol terjadi.
Mata mereka yang tadinya dipenuhi penghinaan, tiba-tiba terbelalak dan terkejut. Semua praduga buruk mereka tentang masakan desa langsung sirna.
Masakan itu ternyata sangat lezat! Bumbu dan rempah-rempah yang digunakan begitu kaya, kompleks, dan meresap sempurna. Jauh lebih enak dari masakan fine dining yang mereka makan di kota.
" mah... ternyata sangat enak" bisik Patricia pada mamanya.
" benar, mama nyesal hanya mengambil sedikit " balasnya.
" tidak usah malu mah, toh kita tidak akan bertemu mereka kembali" ucap Patricia sangat pelan , tidak ada yang mendengar nya kecuali mamanya. Selena mengangguk setuju.
Selena dan Patricia mulai makan dengan cepat, melupakan sejenak keangkuhan mereka. Mereka mengambil porsi kedua, bahkan ketiga, tanpa menyadari bahwa Kyai Rahman, Ibu Nyai, dan Zora sedang menyaksikan pemandangan tersebut dengan senyum geli.
Mereka berdua terpaksa menelan keangkuhan mereka bersama dengan setiap suapan makanan yang sangat lezat. Kesederhanaan masakan Pesantren telah memberikan pelajaran berharga, kemewahan sejati tidak selalu berarti penampilan yang mahal, tetapi kualitas yang tulus.
Hilmam merasakan hal yang sama, ia makan dengan lahap, rasanya dia belum pernah makan , makanan rumahan seenak ini.
" masyaallah.... Lezat sekali makanan nya" ucap Faisal bangga, dia benar-benar kenyang, karena beberapa kali nambah.
" Alhamdulillah...kalau anda suka besan, Rukayyah yang memasak dan di bantu kakak-kakaknya" jawab kyai Rahman tulus .
Mereka semua menatap Rukayyah... yang makan dengan tertutup, bahkan hanya Rukayyah saja yang memakai sarung tangan, sedangkan kakak-kakaknya masih normal, cadar saja alis dan Keningnya masih terlihat, berbeda dengan Rukayyah, hanya dua matanya saja yang terlihat.
" kebetulan mah, nanti dia yang akan memasakkan makanan enak untuk kita setiap hari" bisik Patricia senang pada mamanya, dan Selena hanya tersenyum mengangguk mendengar ide putri satu-satunya.
setelah selesai mereka kembali berbincang di ruang tamu ,
" sebelumnya Maafkan saya pak kyai.... karena hari ini juga saya akan membawa menantu saya untuk kembali ke rumah, karena saya tidak bisa meninggalkan perusahaan lebih lama, apalagi setelah kembali ke rumah, saya ada perjalanan bisnis ke luar negeri" tutur Faisal tidak enak hati.
kyai Rahman hanya tersenyum" tidak apa-apa besan, sudah kewajiban Rukayyah untuk mengikuti suaminya kemanapun dia pergi..., saya mendidiknya untuk menjadi seorang istri yang taat kepada suaminya"
" Alhamdulillah, terima kasih atas kebesaran hati anda kyai... insya Allah kami akan menjaga Rukayyah dengan baik seperti anak kami sendiri" ucap tuan Faisal yang di angguki oleh semu orang.
"kalau begitu... Saya permisi untuk mengemasi barang-barang saya" ucap Rukayyah dengan lembut...
Zora ikut berdiri dan mengikuti Rukayyah ke kamarnya.
Rukayyah sedang merapikan beberapa kitab dan pakaian hitamnya ke dalam sebuah koper sederhana.
Zora Masuk, duduk di tepi ranjang dengan wajah cema "Rukayyah..."
Rukayyah Menoleh, tersenyum dari balik cadarnya "Iya, Kak Zora?"
"Kamu... kamu sudah siap akan dibawa ke kota? Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku tahu betul bagaimana Hilman dan lingkungan yang akan kamu hadapi. Aku sangat khawatir." ucap Zora dengan nada penuh kecemasan, Dia sangat menyayangi Adik iparnya itu yang sudah seperti adik kandungnya sendiri.
Zora tidak perlu menjelaskan detailnya, Rukayyah sudah tahu tentang Rubby dan reputasi Hilman.
Rukayyah Menutup koper, lalu duduk di samping Zora menggenggam tangan bumil itu erat. "Aku siap, Kak. Kalau aku tidak siap, aku tidak akan mengiyakan wasiat ini." ucapnya tersenyum.
"Aku tahu, dia adalah pria yang keras dan hatinya milik wanita lain. Tapi aku ke sana bukan untuk merebut hatinya, Kak. Aku ke sana untuk menjalankan tugas dan menunaikan janji." balas Rukayyah menenangkan kakak iparnya yang terlihat sangat cemas itu.
Zora memeluk Rukayyah dengan erat, mengagumi keberanian Rukayyah yang begitu tenang dan logis.
"Jaga dirimu baik-baik, ya. Jangan biarkan mereka menginjak-injakmu. Ingat, kamu tahu banyak hal yang tidak mereka ketahui." bisik Zora pelan
Rukayyah Membalas pelukan Zora "Tentu, Kak Zora. Aku bukan Kakak-kakakku yang lain. Aku tidak akan membiarkan kebohongan mereka menang. Jika mereka ingin bermain licik, aku siap bermain cerdas" jawab Rukayyah tenang.
" aku percaya padamu, semoga Allah selalu melindungi mu " ucap Zora setelah mengurai pelukannya.
lalu Rukayyah mengelus perut buncit kakak iparnya itu..." Tante tinggal ya sayang, kamu baik-baik di rumah, insyaallah Tante akan sering menemuimu, atau kau sendiri yang akan menemui Tante di kota " bisik Rukayyah pada perut kakak iparnya.
" insyaallah Tante" jawab Zora menirukan ucapan anak kecil, membuat mereka berdua tertawa.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!