"Selamat pagi, Mas," Sapa Mariza saat suaminya berjalan ke arah meja makan.
Seperti biasa Derriz tak akan pernah menjawab pertanyaannya. Mariza yang sudah terbiasa juga tak pernah banyak protes. Tangannya dengan telaten mengambil sarapan untuk sang suami. Begitupun dengan kopi yang sudah tersedia di meja. Pria berjambang tipis itu tak peduli dengan yang di lakukan istrinya, dia lebih fokus dengan ponsel di tangannya. Memeriksa berkas pekerjaannya.
"Silahkan di makan dulu, Mas!" Mariza menyerahkan piring di depan Derriz.
Tanpa banyak bicara, pria itu memakan makanan yang di berikan istrinya hingga habis. Tanpa banyak protes, karena satu tahun ini dia sudah terbiasa dengan masakan Mariza. Masakan yang membuatnya sudah tak pernah lagi makan di luar. Selalu rutin makan pagi dan malam di rumah. Kecuali untuk beberapa kali dia melewatkannya. Mungkin sekitar dua Minggu ini.
Mariza yang berada di depannya terlihat menatap dalam padanya. Hal itu di sadari oleh Derriz, hal yang jarang di lakukan oleh Mariza selama ini. Karena biasanya istrinya hanya akan curi-curi pandang tanpa berani menatapnya langsung. Tapi kali ini berbeda. Tatapan istrinya malah membuat dia sedikit salah tingkah bahkan tersipu malu. Bukan hanya itu dia malah merasa jantungnya berdetak tak karuan sehingga memalingkan wajahnya berkali-kali.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Derriz setelah menyeruput kopinya.
"Iya mas, sebentar aku bereskan dulu meja makannya. Agar lebih nyaman berbicara, tak akan lama kok, tidak akan membuat kamu terlambat ke kantor," Mariza dengan cepat membereskan meja makan.
Tak lama, istrinya kembali duduk di depan Derriz kemudian menyimpan map coklat di atas meja dan menyerahkannya. Tanpa banyak bertanya Derriz mengambil dan membukanya. Mariza tak menunduk kali ini, namun melihat dengan tenang setiap gerakan dari pria di depannya itu.
Tangan Derriz mengepal dan meremas kertas yang di berikan istrinya. Tatapannya tajam ke arah Mariza seolah siap untuk me-ner-kam kemudian men-ca-bik wanita di depannya. Kenapa Derriz harus marah seperti itu? Seharusnya dia senang karena pada akhirnya Mariza pergi dari hidupnya.
"Apa alasanmu ingin bercerai dariku?"tanya Derriz menahan emosi di dalam hatinya.
"Aku tidak perlu mengatakannya padamu, Mas. Bukankah kamu sendiri sudah tahu sendiri alasannya apa?" jawab Mariza tenang sambil tersenyum menyembunyikan rasa sakit hati dan kecewa dalam hatinya.
Senyum getir dari istrinya mampu menembus jantung Derriz dan membuatnya nyeri. Entah kenapa dia juga tidak tahu dengan yang dia rasakan saat ini. Satu tahun pernikahan tanpa cinta, tanpa kehangatan. Satu atap bersama dengan status suami istri tapi terasa seperti kost-kostan. Mereka tak pernah tidur bersama kecuali terpaksa karena ada kakek Derriz berkunjung.
"Apa kamu ingin membuat kakek memarahi aku karena bercerai denganmu? Apa kamu ingin mem-bu-nuh kakekku Iza? Dasar wanita tak punya perasaan!" Emosi Derriz merasa harga dirinya di injak karena keputusan Mariza yang memilih bercerai darinya tanpa sebab.
Apakah benar karena merasa harga dirinya terinjak karena istrinya berani bercerai darinya. Ataukah karena dia belum siap berpisah dan kehilangan wanita yang sudah menemaninya bersama selama satu tahun ini?
"Aku tahu tempat dan posisiku di sini, Mas. Biar nanti aku mencari alasan perceraian kita untuk kakek, kalau kedua orang tua mas, pasti akan senang mendengarnya. Mas juga bisa mengatakan kejelekan aku, agar kakek membenciku. Bagi aku tak masalah, yang terpenting kita bercerai seperti yang kamu inginkan selama ini. Toh pernikahan ini juga tak ada artinya Mas. Hanya sebatas pernikahan di atas kertas saja,"jawab Mariza semakin tenang dengan senyum lembut namun menyimpan banyak luka di sana.
Derriz tahu jika luka Mariza di sebabkan oleh dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak bisa mencintai istrinya. Nama Luna tak bisa dia gantikan di dalam sana. Walau Mariza sudah berusaha untuk menarik perhatiannya selama ini. Derriz akui, jika Mariza adalah istri yang baik. Dia selalu bisa mengerjakan tugas rumah dan tugas sebagai istri padahal dia juga bekerja di kantor bersamanya. Gadis itu tak pernah mengeluhkan apapun padanya. Hanya satu kewajiban yang tak bisa dia tunaikan sebagai seorang istri. Karena penolakan Derriz di awal pernikahannya.
"Kenapa kamu malah membuat keputusan sepihak seperti ini? Apa karena aku kurang memberikan uang jatah bulanan untukmu? Apa kamu mau meminta tambahan uang belanja? Tidak dengan hal seperti ini Izha! Cukup kamu katakan saja, dan akan aku berikan lebih banyak!" kesal Derriz dengan jawaban mengambang istrinya.
"Tidak, Mas. Uang belanja darimu jauh lebih dari cukup. Apalagi aku juga punya penghasilan dari hasil aku bekerja," jawab Mariza mulai gugup saat melihat Derriz marah. Mariza tak mengira jika Derriz akan semarah itu kepadanya.
"Lalu kamu bukan uang apa alasanmu ingin bercerai dariku? Bukannya kamu menikah denganku karena mendapat bayaran dari kakekku kan? Apa kamu fikir kakek akan percaya begitu saja jika aku mengatakan keburukanmu selama ini? Bahkan dia akan selalu memujimu! Kau membuatku kesal saja pagi-pagi begini! Jangan bermain-main! Atau kamu sedang merajuk agar aku mulai mencintaimu? Aku tak akan pernah mencintaimu sampai kapanpun!" Suara Derriz mulai meninggi membuat Mariza memejamkan matanya.
"Aku memang mendapatkan uang dari kakek sebelum pernikahan kita. Aku menang wanita matre, Mas ..." jawab Mariza sambil tertawa pelan.
"Sebelumnya, aku memang selalu mengharapkan sedikit perhatian dan cinta darimu selama satu tahun berharap walau hanya sedikit saja. Tapi sekarang tidak lagi, Mas! Karena semuanya sudah percuma. Aku menyerah, Mas. Biar aku yang bicara kepada Kakek nanti. Aku akan mencoba mencari tahu alasan yang tepat agar kakek tidak memarahimu," jawab Mariza.
"Sudahlah! Ini pembicaraan konyol! Aku harus segera pergi bekerja. Kau juga bukan?" Derriz lebih memilih menyudahi pembicaraan itu.
"Lalu bagaimana dengan surat ini? Apa aku yang menyerahkan kepada pengadilan agama, Mas?" tanya Mariza membuat Derriz berbalik dan mengambil berkas itu dengan kesal dan pergi dari sana.
"Mas ..." panggil Mariza lembut dengan sedikit berlari ke arah suaminya.
"Aku belum Salim," jawab Mariza mengulurkan tangannya dan mencium dengan takjim tangan suaminya itu.
Ada sesuatu yang berbeda di rasakan oleh Derriz dari ciuman di punggung tangan dari sang istri. Entah kenapa kali ini malah ada sedikit debaran aneh di sana. Derriz buru-buru menarik tangannya.
"Apa kamu mau berangkat bersama? Kamu bisa telat kalau naik bus!" ajak Derriz.
"Terima kasih, Mas. Tidak usah repot-repot, saya sudah pesan ojek online," jawab Mariza.
"Ya sudah!" ucap Derriz ketus dan pergi dari sana.
Derriz Dirgantara, 32tahun seorang wakil CEO di perusahaan Dirgantara milik kakeknya. Dia harus menikah dengan Mariza Sarasvati 25tahun. Gadis pilihan kakeknya. Derriz terpaksa menerima pernikahan itu saat sang kakek sakit. Apalagi saat itu dia juga tak bisa menghubungi kekasihnya Luna, yang pergi untuk mengejar karir desainernya di luar negri. Sehingga membuat mereka lost kontak.
Mariza juga bekerja di perusahaan milik Dirgantara sebagai salah satu Desain grafis andalan perusahaan.Entah dari mana dia bisa kenal dengan kakeknya sehingga menikahkan dia dengan dirinya. Hanya saja yang dia tahu jika sebelumnya Mariza menerima sejumlah uang untuk pengobatan ibunya. Pernikahan mereka di rahasiakan dari semua orang di kantor. Karena Derriz tidak mau jika semua orang tahu jika dia sudah menikah, akan tetapi bukan dengan Luna kekasihnya. Melainkan karyawan perusahaan Dirgantara.
"Kenapa cemberut begitu? Masih pagi moodmu jelek gitu! Biasanya juga selalu bersemangat setelah sarapan masakan istri tercinta," ledek Rian yang merupakan Sekretaris dan juga sahabat dari Derriz.
Hanya dia yang tahu pernikahan mereka. Derriz menyerahkan berkas yang tadi di berikan Mariza kepada sahabatnya.
"Apa yang salah? Bukannya memang kamu ingin berpisah dengannya? Ini adalah berita baik untukmu, apalagi Luna juga sudah kembali kan? Jadi apa yang membuatmu marah?" Heran Rian.
"Aku tak bisa menceritakan dia sekarang, Rian!" Jawab Derriz.
"Kenapa? Bukannya kamu juga sudah kembali bersama dengan wanita yang kamu cintai? Lepaskan Mariza, jangan buat dia terus menderita dalam perbaikan itu," ujar Rian.
"Aku tahu Rian! Aku juga ingin berpisah dengan Mariza karena aku tak pernah mencintai dia. Tapi aku tak bisa melepaskan dia sekarang. Apalagi kakek baru saja sembuh, aku tak ingin membuat kakek kembali drop saya mendengar jika aku bercerai dari Mariza dan kembali kepada Luna," jelas Derriz.
"Lalu sampai kapan kamu akan menundanya. Karena kamu juga tak bisa memiliki keduanya. Kamu tak mencintai Mariza, jauh lebih baik melepaskan dia. Biarkan dia juga bebas bersama dengan orang yang akan membahagiakannya. Seperti kamu yang sudah kembali dengan Luna dan bahagia dengan dia," kembali Rian berbicara.
"Apa? Memangnya Mariza punya pacar? Kenapa aku tidak tahu?" Tanya Derriz kaget.
"Iya itu mungkin saja kan? Aku juga tidak tahu sih. Tapi mariza itu adalah gadis yang cantik, pintar dan juga humble. Aku yakin jika banyak pria yang menyukai dia. Makanya kamu lepaskan saja dia. Dan biarkan dia bahagia dengan caranya," jawab Rian.
"Kenapa malah kamu yang terkesan memaksaku melepaskan Mariza? Atau mungkin kamu menyukai dia dan menunggu dia janda sehingga kamu memintaku untuk segera melepaskan gadis itu!" Kesal Derriz.
"Ya kalau memang jodoh kenapa tidak kan? Apalagi dia juga nanti akan menjadi janda masih bersegel. Siapa yang tidak mau coba?"jawab Rian membuat Derriz mantap tajam ke arah temannya itu.
"Pergi sebelum aku benar-benar marah padamu Rian!" Kesal Derriz membuat Rian terkekeh dan pergi dari sana.
"Apa benar Mariza sudah memiliki kekasih? Apakah itu alasannya kenapa dia memilih bercerai dariku dan mengatakan kalau sudah tak mengharapkan cinta atau perhatian dariku lagi? Astaga peduli apa aku ini! Biar saja kalau dia mau suka kepada pria lain. Toh aku juga tak akan pernah mencintai dia. Karena wanita yang selama ini aku cintai adalah Luna. Gadis itu pagi-pagi sudah membuat aku bad mood!"kesal Derriz mulai membuka laptop dan memeriksa pekerjaannya.
Derriz kembali berusaha fokus bekerja, walau kata-kata Mariza dan Rian silih berganti terlintas di benaknya membuat dia kesal sekali. Sedangkan Mariza bekerja seperti biasa dengan penuh semangat seolah tak pernah terjadi apa-apa padanya. Waktu berlalu begitu cepat bagi Mariza hingga akhirnya jam pulang kantor tiba.
"Mau pulang bareng Zha?" Tanya salah satu teman kantor yang menggunakan motor berhenti di depan Mariza yang sedang berjalan menuju halte bus di depan kantor Dirgantara.
"Terima kasih Mas Yudha, saya naik bus saja. Lagi pula saya tidak buru-buru dan mau ke supermarket dulu," tolak Mariza.
"Yakin gak mau aku antar nih? Aku ganteng loh nggak akan malu-malin, paling motor aku dan ayang akan sedikit membuat aku malu,"tanya Yudha sambil bercanda membuat Mariza terkekeh mendengarnya.
"Mas Yudha ini bisa saja. Bukan Maslaah motor, Mas. Segini juga Alhamdulillah mas punya kendaraan kan? Hanya saja aku harus ke supermarket dulu membeli beberapa kebutuhan rumah," jawab Mariza menolak dengan halus.
Tapi dia juga tidak berbohong. Karena memang harus pergi ke supermarket. Yudha akhirnya mengalah dan tak memaksa Mariza untuk ikut dengannya. Dia pamit melambaikan tangan begitupun dengan Mariza yang membalas lambaian tangan Yudha sambil tersenyum kemudian kembali berjalan menuju halte bus.
Interaksi Mariza dan Yudha di lihat dengan jelas oleh Derriz yang masih berada di tempat parkir. Wajah Derriz terlihat kesal melihat keakraban Mariza dan Yudha. Selama ini dia memang bodo amat dan tak peduli dengan yang di lakukan Mariza. Tapi setelah gadis itu meminta cerai, apalagi temannya juga malah menunggu janda mantan istrinya membuat Derriz sedikit memperhatikan istrinya.
"Ck! Apa pria modelan begitu yang akan kamu pilih nanti setelah bercerai dariku Mariza? Aku yakin kamu tak akan tahan hidup susah dengannya. Kamu itu adalah wanita matre yang selalu meminta banyak uang. Apalagi dari kakek. Entah sudah berapa banyak uang yang kamu terima dari kakek! Kamu fikir bisa mendapatkan pria yang sanggup memberikan uang bulanan besar sepertiku? Sok-sokan mau minta cerai, kalau kamu saja tak akan sanggup hidup susah!" Gerutu Derriz.
Drrrtttt
Drrrtttt
Ponsel Derriz berbunyi, nama 'My love' dari kontaknya memanggil. Orang itu tak lain adalah Luna.
"Iya sayang?" Jawab Derriz lembut kepada wanita itu.
[ ... ]
"Baiklah sayang, aku akan ke sana sekarang," jawab Derriz.
[ ... ]
"Love you too so much," jawab Derriz.
Kemudian menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana menuju apartemen Luna yang dia sewa untuk kekasihnya itu. Bukan pulang ke rumah seperti biasanya. Sudah dua minggu ini Luna kembali dari luar negeri dan hubungan mereka mulai kembali membaik beberapa hari ini. Sehingga Derriz lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Luna setelah pulang bekerja dan akan pulang sedikit larut. Derriz merasa bahagia karena kekasihnya kembali, sekaligus dia juga merasa bingung mengatakan kebenaran baik kepada Luna maupun kepada Mariza. Ada alasan berbeda yang membuat dia masih bungkam saat ini kepada keduanya.
Derriz pulang hampir jam sepuluh malam. Akhir-akhir ini Derriz sering pulang selarut itu karena menemui Luna. Biasanya Mariza akan menunggunya di ruang tamu sambil menggambar di iPad miliknya. Tumben, kali ini istrinya tak menyambut dia dengan membukakan pintu. Biasanya Mariza akan membukakan pintu saat mendengar deru mobilnya tiba di halaman. setelahnya dia akan bertanya dan memintanya makan malam. Walau pada akhirnya tak di makan oleh suaminya. Karena Derriz sudah kenyang makan malam bersama dengan Luna.
"Tumben dia tak membukakan pintu? Biasanya dia akan sigap menyambut aku pulang, apa dia marah karena aku mengabaikan surat perceraian itu?" ucap Derriz sambil membuka knop pintu.
Tapi ternyata di kunci, tumben. Akhirnya Derriz membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia punya. Hening. Tak ada Mariza di sana, bahkan di meja makan juga bersih tak ada makanan yang terhidang.
"Ck! Wanita matre itu sepertinya benar-benar sedang merajuk! Bodo amat nanti juga dia akan kembali mencoba mengambil perhatianku! Apalagi dia itu selalu boros dengan uang bulanan yang selalu tak pernah cukup untuknya!" ucap Derriz tak peduli dan masuk ke dalam kamarnya.
Lelah dan sangat mengantuk setelah menemani Luna berjalan-jalan di mall. Kakinya juga terasa sakit, berjam-jam berkeliling di sana. Tapi dia bahagia bisa kembali menghabiskan waktu bersama dengan wanita yang di cintainya.
Pagi menjelang, Derriz hampir saja kesiangan pergi ke kantor. Mariza tak membangunkannya, akan tetapi dia masih menyiapkan pakaian kerja untuknya dan sudah mengambil pakaian kotor yang kemarin dia gunakan.
"Astaga! Di saku celanaku masih ada struk pembayaran tas milik Luna! Apa Mariza melihatnya?" ujar Derriz panik dan segera pergi menuju ruang laundry mencari jas miliknya.
Akan tetapi barang yang dia cari tak ada di sana, Derriz akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruang makan. Mariza sudah menyiapkan sarapan untuknya, juga ada sesuatu di sana. Benda yang sedari tadi dia cari ada di bawah gelas kopi miliknya. Derriz mencari keberadaan Mariza tapi gadis itu sudah tak ada di sana, sepertinya dia sudah berangkat ke kantor.
"Jadi Mariza sudah melihatnya? Bagaimana ini? Apa aku jujur saja kepada Mariza? Kalau aku jujur, gadis itu akan semakin menjadi meminta pisah dariku! Apalagi sesuai janjiku kepada dia akan menceraikannya setelah Luna kembali. Jangan sampai dia malah mengatakan kepada Kakek! Apalagi keadaan kakek baru saja membaik!" Derriz panik dan segera menyambar kunci mobil kemudian pergi menuju kantor.
"Tolong panggil staff bagian desain bernama Mariza untuk menghadapku sekarang juga!" ujar Derriz kepada resepsionis tanpa melihat ke arah mereka berdua. Dia buru-buru pergi menuju ke lift.
"Baik, Pak!" jawab mereka sopan.
Derriz tiba di ruangannya dan duduk dengan gelisah menunggu kedatangan istrinya. Entahlah, kenapa dia segugup dan setakut ini. Semua karena kakek. Dia berusaha meyakinkan diri, jika keputusannya sudah benar untuk menahan perceraian dengan Mariza walau Luna sudah kembali. Dia tak bisa melepaskan wanita matre itu saat ini. Tak lama pintu ruangannya di ketuk, Derriz buru-buru duduk dengan setenang mungkin di kursi kebesarannya.
"Masuk!" perintahnya.
"Apa anda memanggil saya Pak Derriz? Ada yang perlu saya kerjakan? Tolong lain kali jika ada tugas, di sampaikan melalui atasan saya saja pak, bukankah dengan begini akan membuat orang lain merasa curiga? Anda sendiri yang mengatakan agar jangan sampai ada yang tahu mengenai hubungan kita," ucap Marisa dengan sangat tenang membuat Derriz tak suka dengan jawabannya apalagi Istrinya berbicara seperti itu.
"Duduklah!" pinta Derriz.
"Apa kamu menemukan struk pembelanjaan di mall ini?" tanya Derriz konyol sudah pasti jawabannya iya.
"Iya pak, karena di rumah hanya ada kita berdua. Apa ada masalah dengan struk itu? Atau mungkin ada struk yang hilang? Sampai anda memanggil saya ke ruangan anda?" tanya Mariza menatap ke arah pria yang menjadi suaminya selama satu tahun itu.
Pertanyaan Mariza membuat dirinya sedikit gugup. Kenapa dia malah menjadi gugup seperti ini? Seolah dia ketahuan selingkuh dari istrinya. Dia tak selingkuh, karena Dirinya dan Luna memanglah pasangan kekasih yang terpaksa harus terpisah sementara waktu. Mariza lah wanita yang sudah menjadi penghalang dan membuat dirinya berada dalam kondisi yang rumit seperti ini. Andai saja tak menikah dengan Mariza, sudah pasti dia akan membawa Luna ke rumah keluarganya.
"Tidak! Aku hanya memastikan saja. Itu aku membeli hadiah untuk ibuku, tas, pakaian dan juga sepatu itu. Makanya aku pulang terlambat. Lalu kenapa kamu tidak menungguku pulang? Tadi pagi juga kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Derriz semakin membuatnya merasa konyol di depan Mariza.
"Kenapa anda menjelaskan kepada saya? Saya rasa, anda tak memiliki kewajiban menjelaskan apapun kepada saya. Lagi pula saya hanya seorang istri di atas kertas, yang sebentar lagi akan menjadi mantan. Tak ada alasan saya untuk menunggu pria yang akan menjadi mantan suami saya. Saya hanya menjalankan tugas dan kewajiban saya untuk memasak sarapan anda. Entah di makan atau tidak. Yang terpenting nantinya tidak akan ada pertanyaan, kemana uang bulanan yang anda berikan,", jawab Mariza semakin tenang. Derriz masih terdiam.
"Maaf Pak, jika tidak ada yang perlu di bicarakan dan saya kerjakan. Saya pamit! Mohon untuk segera di proses berkas perceraian kita," Mariza berdiri dan membungkuk hormat kepada suami sekaligus atasannya kemudian pergi dari sana.
"Hanya aku yang memutuskan kapan kita akan bercerai! Kamu tak punya hak apapun Mariza!" jawab Derriz penuh penekanan.
Langkah Mariza terhenti kemudian berbalik. Tatapan mereka beradu, ada kelelahan di mata Mariza. Matanya sedikit sembab, apa dia menangis setelah melihat struk itu? Kenapa dia harus menangis dan seolah seperti istri tersakiti? Pernikahan mereka hanya di atas kertas seperti yang Mariza katakan. Semua karena keinginan kakeknya.
"Mau sampai kapan kita terus membohongi kakek? Bukankah anda sangat menyayangi kakek? Semakin lama membohonginya, akan semakin membuat dia kecewa. Bukankah anda juga tersik-/sa hidup bersamaku selama ini? Saya sudah siap dengan segala resikonya, Pak. Mari kita bicara kepada Kakek secara gentle jika kita akan berpisah karena saya berse-ling-kuh dan tidak menjadi istri yang baik. Saya akan menyiapkan bukti rekayasa agar anda tak di salahkan dan tak akan mengganggu rencana anda menjadi CEO perusahaan Dirgantara," jelas Mariza setelahnya melangkah pergi.
Karena Derriz bahkan tak bisa membalas ucapan Mariza.
"Apa katanya? Dia akan membuat bukti rekayasa perse-ling-kuh-an dirinya? Apa maksudnya itu? Apa dia akan mencari pacar pura-pura? Astaga kenapa dengan otak wanita itu? Apa dia sudah tak sayang dengan uang belanja yang sangat besar dariku?" kesal Derriz setelah Mariza menutup pintu ruangannya beberapa saat. Bahkan tangannya terkepal kesal.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!