Indonesia
NovelToon NovelToon

Iblis Dari Laut

Bab 1. Selalu kerasukan

Gubraaaaaak.

Gubraaaaaak.

"Kenapa rumah nya Bu Ratih berisik seperti itu?" Bu Warti bertanya kepada para tetangga yang sudah berkumpul di depan rumah.

"Saya juga tidak tahu secara pasti tapi kata yang melihat Rion kerasukan kembali." Bu Hasnah menjawab ucapan Bu Warti.

"Ya Allah dia kumat lagi seperti ini, padahal masih siang tapi dia sudah kerasukan setan seperti itu." Bu Warti sampai merinding karena Rion memang terlalu sering kemasukan.

Rion adalah anak nelayan yang selama ini selalu mengurus segala keperluan dia sendiri dan sekarang baru berusia empat belas tahun, sebenarnya Rion masih harus sekolah karena memang usia segitu belum tamat di bidang pendidikan.

Namun karena kondisi dia yang seperti ini membuat Rion tidak bisa lagi bersekolah dengan normal, karena sudah ada empat bulan lebih Rion selalu seperti ini dan nanti akan membuat kehebohan besar bila dia kembali duduk di bangku sekolahan dan pasti banyak teman yang tidak berani untuk berdekatan dengan pemuda tersebut.

Banyak yang mengatakan bahwa sudah sejak dalam kandungan Rion memiliki kutukan jahat sehingga dia tidak pernah bisa lepas dari yang bernama hal gaib atau iblis, selama ini Bu Ratih juga sudah berusaha untuk membuat Rion terbebas dari kutukan iblis dan bisa menjalani hidup secara normal, namun ternyata itu tidak berhasil dan sampai sekarang Rion berusia empat belas tahun.

Sudah banyak uang yang habis karena membayar dukun untuk mengobati Rion yang terlalu saja kerasukan seperti itu, bahkan Rion sendiri sudah merasa sangat bosan karena setelah dirasuki para iblis maka seluruh tubuh akan rasa sangat sakit dan sudah pasti Rion tidak akan sanggup bergerak.

Beberapa kali juga Rion ingin melakukan bunuh diri akibat dia merasa bosan dengan hidup ini yang selalu berurusan dengan hal gaib, mau pagi atau siang dan juga malam iblis itu tidak peduli dan bila memang sudah mood maka dia akan segera merasuki tubuh Rion untuk membuat masalah besar.

"Huahhaaaaaaa....aku mau makan darah!" Rion berteriak keras di atap rumah.

"Ya Allah itu dia sudah di ada di atas sana, Pak RT!" Bu Warti berteriak keras ketika melihat Rion yang ada di atas genteng rumah.

"La Ilaha illallah, bagaimana bisa sekarang dia sudah ada di atas sana!" Bu Hasnah saja sampai begitu takut dan juga merinding.

"Aku mau darah, bila kalian tidak memberikan aku darah bagi maka anak ini yang akan segera mati." iblis yang menguasai tubuh Rion kembali membuat ulah.

"Rion, sadar dan jangan terlalu tinggi memanjat rumah seperti itu." Bu Warti begitu iba melihat anak tersebut.

Namun Rion malah menyeringai sehingga membuat manusia yang ada di sana mendadak saja merasa takut dan juga ngeri, desa mereka agak terpencil karena dekat pulau dan selama ini bila ingin keluar untuk mencari kebutuhan maka mereka akan menggunakan perahu atau kapal atau bahkan bila ada menggunakan speed boat juga.

Sebab bisa di katakan mereka memang tinggal di pulau sehingga agak susah untuk mencari dukun atau bahkan orang yang paham agama untuk mengobati keadaan Rion, tapi selama ini Bu Ratih juga telah berusaha keras agar bisa mendapatkan dukun atau bahkan ustadz untuk mengobati Rion yang tak kunjung sembuh dari gangguan iblis.

Braaaaaak.

"AAAAGKKKKK!" Bu Warti berteriak keras karena Rion loncat dari atap dan jatuh di atas tanah.

"Ya Allah kenapa bisa dia loncat dari atas sana?!" Bu Hasnah juga histeris karena mereka sungguh kasihan melihat Rion yang seperti ini.

"Kasihani lah anak manusia ini, kenapa kau menyiksa dia dengan cara yang begitu menyakitkan." Bu Warti menangis dan segera menolong Rion yang terjatuh dari atas genteng rumah.

"Jangan menyentuh Rion sembarangan karena itu jatuh terlalu tinggi, Bu!" Pak RT segera datang dan dia juga bingung harus bagaimana bila sudah bersangkutan dengan iblis.

"Siapa yang bisa memanggil Bu Ratih ini? kasihan kalau dia nanti masih juga tidak tahu bahwa Rion sudah kecelakaan seperti ini." Bu Hasnah begitu panik dan juga ketakutan.

"Dia pasti pulangnya agak lama karena kemarin bilang ikan cukup banyak sehingga menjala cukup lama." gumam Bu RT juga.

"Hati hati mengangkat tubuh Rion." Pak RT berusaha untuk meluruskan tubuh Rian karena bagian kaki sudah patah.

Kraaaaak.

Kraaaaak.

"Allahu Akbar!"

Semua warga berteriak ketakutan ketika tubuh yang barusan jatuh di atas tanah dan kemudian bangkit kembali dengan gerakan yang sangat menakutkan di lengkapi juga dengan suara tulang yang seakan mau patah semua, darah mengucur deras dari luka yang di tembus oleh tulang patah itu sehingga mereka merasa ngilu dan juga takut ketika Rion kembali bangkit dan menatap semua dengan tatapan nyalang.

"Heheeeeee.... bila kalian tidak memberi aku bayi maka anak ini akan segera mati." Rion menatap mereka semua.

"Siapa kau sebenarnya Dan kenapa menyiksa anak yang tidak berdosa?!" Pak RT memberanikan diri untuk bertanya kepada iblis di tubuh Rian.

PLAAAAAAK.

BRAAAAAAK

Bukan nya menjawab pertanyaan Pak RT barusan, Rion malah menampar Pak RT dengan sangat keras sehingga tubuh pria ini terpelanting jauh menabrak tiang rumah dan dia tidak bisa bangkit secepat itu karena memang sudah cukup tua dan hentakan yang di berikan oleh Rion barusan sangat keras sehingga untuk mengatur nafas saja begitu sulit.

Greeeeeep.

"Berikan saja aku bayi, bila kau tidak ingin celaka!" Rion mencekik leher Pak RT.

"Lepaskan suami saya!" Bu RT berusaha untuk menarik tangan anak yang kurus kecil ini.

Sreeeeet.

Braaaaaak.

"Ya Allah Bu RT!"

Semua warga yang ada di sana menjerit keras karena mereka tidak menyangka Rion akan menjadi seberingas itu, akibat hantaman yang di berikan oleh Rion barusan maka tubuh bu RT terpelanting dan sialnya malah tertancap dengan bambu yang baru saja di taruh sana, tentu saja wanita ini tidak bisa lagi bergerak akibat menahan rasa sakit yang tidak terkira pada bagian perut.

"Allahu La ilaha illa huwal hayyul qoyyum.....

"Aaaaaaghhhh!" Rion berteriak dan menutup telinga ketika mendengar ada seseorang yang sudah mulai membaca ayat kursi.

"la takhuduhu sinatu wala naum, lahu maafin samawati wama fil Ard.....

"Hentikan ucapan mu itu, bangsat!" Rion bergulung di atas tanah dan telinga mengucurkan darah segar.

Ustadz Toni masih terus berusaha untuk membaca ayat kursi agar dia bisa mengusir iblis yang ada di tubuh Rion, selama ini memang ustaz Toni yang selalu membantu namun dia tidak bisa menghilangkan secara bersih iblis itu dari tubuh Rion sehingga sang iblis terus saja datang dan masuk dengan sesuka hati.

Hai ketemu lagi sama Mak NJ ya besti, jangan lupa like dan komen kalian semua di cerita Emak ya.

Bab 2. Ingin darah bayi

"Rioooon, Ya Allah Anak ku!" Bu Ratih datang dan langsung histeris.

Padahal rasa lelah tentu saja bersarang di tubuh karena dia baru saja pulang dari tempat yang selama ini menghasilkan uang untuk mereka makan, ikan yang sudah berhasil mereka tangkap di buang begitu saja karena keadaan anak jauh lebih membuat khawatir karena kaki Rion sudah mengalami patah tulang seperti itu.

Ibu mana yang tidak akan cemas bila melihat kondisi anak menjadi begitu menakutkan karena mendapat pengaruh iblis, rasa nya sejak dulu Rion memang sering mengalami hal buruk yang bersangkutan dengan hal ghaib, sehingga membuat kedua orang tua bingung untuk berbuat apa kepada sang anak.

Mana Rion adalah anak tunggal mereka, walau bukan anak tunggal tapi tetap saja sebagai orang tua tentu tidak bisa melihat anak menderita seperti itu, pasti nya dalam hati begitu nelangsa dan tidak ingin ada yang sampai celaka lagi, ini sudah di tahap yang membuang hati putus asa.

Sudah berbagai macam cara mereka lakukan agar ada kesembuhan untuk Rion, sudah banyak dukun dan juga mereka sudah banyak menghabiskan uang untuk memanggil dukun itu agar Rion bisa selamat dan di keluarkan iblis yang ada di dalam tubuh dia saat ini, tapi usaha itu masih belum menemukan jalan keluar dan hanya menghabiskan uang saja.

Ustad Toni tidak bisa sepenuhnya untuk mengobati Rion karena dia memang sudah mengatakan sejak awal bahwa iblis yang ada di tubuh Rion sangat kuat dan bertekad tidak akan pernah mau keluar dari sana, Dia hanya bisa membantu sebisanya saja dan mungkin setelah di keluarkan maka nanti iblis itu bisa saja masuk kembali.

Bu Ratih bingung harus bagaimana Karena di sini sudah tidak ada lagi dukun yang bisa di percaya karena mereka hanya omong kosong belaka, yang ada justru tubuh Rion kian habis karena ritual yang selalu di adakan dan juga iblis yang selalu saja menyakiti tubuh pemuda kecil ini, bahkan rasa putus asa mulai menghantui hidup Rion karena dia merasa bosan terus saja di rasuki oleh arwah gentayangan.

"Bagaimana dengan nasib anak ku, Ya Allah!" Bu Ratih menangis di tengah halaman.

"Bawa masuk dulu, Bu! hari mau hujan dan seperti nya itu akan ada badai." ajak Pak Bahar.

"Belakangan ini memang selalu awan hitam seperti itu, apa alam juga ikut sedih melihat keadaan Rion." gumam Bu Warti.

"Siapa yang tidak sedih, anak yang tidak tau apa apa malah tidak bisa menjalani hidup dengan normal." sahut Bu Hasnah karena dia juga sangat iba pada Rion yang malang.

"Tolong bantu aku menemukan cara, Hasnah! aku tidak ingin anak ku menderita terus seperti ini." isak Bu Ratih.

"Bila aku tau cara nya maka sudah pasti aku membantu, Ratih." Hasnah berkata dengan air mata menetes.

"Malang sekali nasib anak ku, kenapa dia selalu saja mendapat gangguan iblis?!" pekik Ratih memeluk tubuh Rion yang terbujur.

Kalau sudah di rasuki iblis seperti ini maka sudah pasti Rion akan pingsan tidak sadarkan diri, lama baru bangun dan paling hanya bisa merintih saja karena rasa sakit yang sangat luar biasa pada tubuh ini. apa lagi yang sekarang sampai patah tulang akibat loncat dari atas genteng, pasti Rion akan sangat menderita.

Pak Bahar segera mengangkat tubuh putranya masuk ke dalam rumah karena tidak mungkin dibiarkan di luar begitu saja untuk menuruti rasa tangis di hati Ibu Ratih, ini nanti pasti membutuhkan dukun untuk menyambung tulang yang sudah patah seperti itu karena mereka memang jauh lebih percaya dukun dari pada dengan dokter.

"Ini dukun sangkal Putung nya." Wandi datang karena tadi dia memang memanggil Mbah Kasno.

"Lailahaillallah ini kenapa kok bisa sampai patah seperti ini?" Mbah Kasno melihat keadaan Rion.

"Dia loncat dari atas genteng, Mbah! apa sampean juga punya pengalaman ghaib?" tanya Bu Ratih.

"Anak mu kerasukan lagi?" Mbah Kasno menatap iba pada anak yang pucat itu.

Bu Ratih mengangguk karena memang Rian berulang kali kerasukan seperti itu dan nanti pasti ada saja tragedi yang datang di keluarga mereka, ini malah patah tulang dan ini memang jauh lebih parah dari tragedi yang sebelum nya, dulu tidak sempat sampai seperti ini.

"Apa permintaan dia masih sama?" Mbah Kasno bertanya sambil mengurut kaki Rion.

"Iya, Mbah." Pak RT yang mengangguk karena dia yang menangani tadi ketika Rion sedang kerasukan.

"Iblis nya tentu masih sama dan pasti dia sudah begitu nyaman di tubuh Rion, dia adalah iblis pertama yang masuk di tubuh pemuda ini." jelas Mbah Kasno.

"Apa sampean juga bisa membuang iblis, Mbah?" Pak Bahar penuh harap sekarang.

"Aku tidak sekuat itu, yang ada di tubuh anak mu sangat kuat." jawab Mbah Kasno yang bisa merasakan energi nya.

"Apa salah anak ku sampai dia harus menderita seperti ini?" isak Bu Ratih sangat putus asa.

Mbah Kasno terdiam karena dia juga tidak tahu alasan kenapa iblis ini memilih tubuh Rion, memang pasti ada alasan tertentu sehingga dia tetap saja melekat di tubuh anak ini sejak dulu sampai sekarang dan tidak pernah mau pergi dari tubuh Rion yang malang.

Berbagai macam cara telah di lakukan dan Mbah Kasno juga salah satu orang yang telah berusaha untuk mengobati keadaan Rion, tapi di sini dia menyadari bahwa iblis yang ada di tubuh Rion jauh lebih kuat dari dia sendiri sehingga bila terus dipaksakan maka bisa saja mereka berdua yang akan celaka.

Maka nya sekarang Mbah Kasno tidak pernah mau lagi mencoba untuk mengobati Rion tentang iblis itu karena nanti yang ada mereka tidak bisa selamat dan justru akan semakin memperburuk keadaan, ini lebih baik segera di carikan dukun yang memang paten dan bisa mengobati dengan benar agar iblis tersebut bisa pergi.

"Keadaan nya akan jauh lebih parah bila nanti dia bertambah besar." Mbah Kasno berucap pelan.

"Dia minta bayi, sejak dulu dia selalu saja minta darah bayi." gumam Pak RT.

"Kalian yang memilki bayi, tolong jangan sampai lengah agar tidak ada yang celaka." Bu RT juga memberi pesan pada mereka.

"Benar, takut nya Rion di luar kendali dan dia bisa mencuri bayi." cemas Ningsih yang sedang mengandung tua.

Sekarang kecemasan orang tua yang memiliki bayi jelas akan semakin besar, takut bila Rion akan nekat dan kemudian dia sampai membunuh bayi tidak berdosa karena memang Rion ingin bayi sejak dulu hingga saat ini.

Selamat Minggu pagi semua besti, othor mau masak dulu lah.

Bab 3. Kumat lagi

"Ibu!"

Rion sudah sadar dan menatap Bu Ratih dengan pandangan begitu sedih karena bisa di katakan Rion sudah merasa sangat bosan dengan apa yang dia alami belakangan ini, rasa sakit di tubuh dan juga penderitaan yang tiada batas membuat Rion kadang kala gelap mata dan ingin melakukan tindakan bunuh diri untuk menghentikan ini semua.

Yang bisa dia lakukan hanya menangis dan juga menyesal apa yang telah terjadi pada tubuh ini sehingga timbul rasa bersalah di dalam hati Bu Ratih karena dia juga bertanggung jawab penuh atas diri Rion, anak yang telah dia kandung selama sembilan bulan harus menderita dengan berbagai macam rasa sakit.

Setiap habis kerasukan seperti ini maka sudah pasti Rion akan merasakan sakit di sekujur tubuh karena habis untuk menghadapi iblis yang mengendalikan tubuh ini sesuka hati dia, mana lengkap pula dengan patah tulang yang dia alami ketika loncat dari atas genteng akibat tidak dituruti setelah iblis di dalam tubuh Rion menginginkan darah bayi.

Tentu tidak akan ada orang yang mau menuruti permintaan iblis itu karena jelas saja itu adalah pembunuhan yang berkedok pengusiran iblis, lagi pula bayi siapa yang akan dikorbankan karena sudah pasti orang tua bayi akan menolak keinginan itu dengan sekuat tenaga karena rasa sayang yang ada di dalam hati.

Rion sendiri tentu saja tidak akan menerima juga dan pasti akan di landa dengan rasa bersalah yang sangat besar ketika warga ada yang berniat untuk menuruti apa permintaan dia, untungnya semua orang yang ada di pulau ini jarang bermulut nyinyir sehingga mereka semua menaruh iba yang sangat besar terhadap Rion.

Beda lagi bila di kampung biasa Karena sudah pasti Rion akan menjadi perbincangan hangat dan juga ghibah yang tidak akan pernah berhenti, ini untung mereka tinggal di pulau sehingga para tetangga banyak yang menaruh ibadah dan bila Bu Ratih sedang tidak ada di rumah mereka dengan suka rela menjaga Rion.

"Aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini lagi." Rion meringis ketika merasakan sakit yang luar biasa.

"Nak, jangan berbicara seperti itu karena ada ibu di sini." Bu Ratih berusaha untuk tegar.

"Tapi aku hanya membuat susah saja dan aku pun merasa tidak sanggup bila terus seperti ini." Rion menangis karena dia merasa hidup ini sudah tidak berguna.

"Ibu pasti akan berusaha untuk mencari orang yang bisa menyembuhkan mu, tolong jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Ibu." pinta Bu Ratih sambil memegang erat tangan Rion.

"Kamu harus kuat dan bisa melawan iblis yang akan datang itu, Ayah juga pasti akan berusaha agar kamu sehat dan selamat." janji Pak Bahar kepada sang anak.

"Setiap dia masuk ke dalam tubuh ini maka sudah pasti aku tidak akan pernah bisa mengendalikan diri." Rion berkata dengan suara serak.

"Iya, Nak! itu semua bukan salah kamu, Ayah tahu kalau itu bukan salah kamu." Pak Bahar berusaha menguatkan sang putra.

Pucat wajah Rion dan juga bagian bibir terlihat kering seperti pecah-pecah akibat dia mengalami banyak hal yang membuatnya tidak ingin minum air putih sehingga mengalami dehidrasi parah, iblis yang ada di dalam tubuh dia membawa pengaruh yang begitu besar dan bila ada dukun yang berusaha untuk menyembuhkan maka dia akan bersembunyi di dalam jantung.

Salah tindakan maka sudah pasti Rion juga akan meninggal dunia, Bu Ratih dan juga Pak Bahar tentu saja tidak bisa merelakan sang anak untuk pergi dari sisi mereka. Rion adalah anak semata wayang dan mereka dulu sangat sulit mendapatkan Rion, sehingga perlu memakan waktu yang begitu lama agar bisa mendapatkan buah hati.

"Ayah akan minta dengan Mbah Kasno supaya kamu bisa selamat dan sekolah seperti dulu lagi." bujuk Pak Bahar.

"Apa mungkin aku masih bisa selamat dan sekolah seperti dulu?" Rion saja merasa ragu dengan diri dia sendiri.

"Pasti bisa, Nak! Ibu yakin kamu pasti bisa dan sanggup melawan iblis yang jahat itu." bujuk Bu Ratih.

"Tapi sudah sangat lama aku seperti ini dan bisa di katakan aku merasa tidak sanggup bila terus seperti ini, Bu!" tangis Rion kian pecah.

"Ya Allah anak ku!" Bu Ratih memeluk erat sang anak agar dia bisa menemukan sedikit kekuatan.

"Huhuhuuuu....aku tidak mau hidup seperti ini." isak Rion membuat Bu Ratih kian merasa bersalah.

"Ada Ibu, Ibu akan selalu menemani kamu Dan berharap agar semoga Tuhan nanti memberikan jalan keluar untuk kita." bujuk Bu Ratih lagi sambil berusaha menahan air mata yang akan jatuh.

Bila Bu Ratih juga menangis maka dapat di pastikan Rion akan semakin merasa terpuruk karena dia merasa Bu Ratih merasa begitu tertekan akan penderitaan yang sedang Rion alami, jadi sebisa mungkin orang tua ini menahan air mata yang siap meluncur karena dia juga merasa sangat sedih atas apa yang di alami oleh sang anak.

"Heheheeeee....

"Rion?!"

"Mati saja kau!" pekik Rion langsung mendorong tubuh Bu Ratih dan naik di atas tubuh sang Ibu.

"Rion, apa yang kamu lakukan?!" Pak Bahar tersentak kaget karena Bu Ratih di cekik.

"Dasar Ibu tidak berguna, kalian hanya bisa melahirkan saja tanpa bisa memahami anak!" teriak Rion dengan mata hitam semua.

"Aagg....le..lepaskan Ibu, Nak." Bu Ratih tidak bisa bernapas karena Rion mencekik dengan sangat kuat.

"Mati, Mati, Mati!" Rion malah loncat di atas tubuh Bu Ratih.

"Jangan seperti itu, Rion!" Pak Bahar menangkap tubuh sang Putra agar tidak semakin menyakiti Bu Ratih.

BRAAAAAAk.

Yang terlempar justru tubuh Pak Bahar itu sendiri dan sungguh di luar nalar karena tubuh sekecil Rion bisa membanting tubuh Pak Bahar yang sangat besar dan juga tinggi, bila tidak dirasuki oleh iblis jahat maka sudah pasti Rion tidak akan sanggup melakukan hal itu kepada sang Ayah.

"Heheeeeee...

Tatapan Rion begitu nyalang kepada semua orang tuanya sehingga membuat Pak Bahar yang baru saja di banting langsung berusaha untuk berdiri tegak agar bisa mencegah Rion yang pasti akan segera kabur, tujuan Rion tentu saja mencari baju yang bisa dia makan atau hisap darahnya.

"Jangan keluar rumah, Rion!" Pak Bahar menahan kaki Rion.

"Lepaskan aku, bajingan!" Rion marah karena di tahan.

Buaaaaaak.

"Aaaaghhh!" Pak Bahar memegang hidung yang langsung berdarah.

"Anak ku!"

Bu Ratih berusaha untuk bangkit juga agar bisa menahan Rion yang akan segera kabur itu, ternyata semua sudah terlambat karena Rion terlebih dahulu menghilang dari pandangan mata dan entah kemana tujuan dia saat ini.

Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!