Tiga minggu kemudian.
Dunia di sini tidak memiliki warna selain putih.
Langit berwarna putih kelabu, tanah tertutup salju setebal lutut yang tak berujung, dan udara dipenuhi kabut beku yang bisa membekukan paru-paru manusia biasa dalam hitungan detik.
Ini adalah Dataran Beku Utara. Wilayah tanpa hukum yang memisahkan Kekaisaran dari Reruntuhan Kuno dan wilayah Sekte Iblis.
KREK... KREK...
Suara langkah kaki berat memecah kesunyian yang mematikan.
Sesosok tubuh berjalan tertatih-tatih menembus badai salju. Dia mengenakan jubah tebal dari kulit serigala abu-abu yang kasar, dengan tudung kepala yang ditarik rendah menutupi wajahnya. Di punggungnya, sebuah benda besar terbungkus kain lusuh menyilang, terlihat seperti peti mati kecil atau senjata raksasa.
Itu adalah Chen Kai.
Atau sekarang, dia menyebut dirinya "Pengembara".
Chen Kai berhenti sejenak. Dia menarik napas dalam-dalam, dan uap panas terlihat keluar dari balik tudungnya, kontras dengan udara dingin.
"Dingin sekali," gumamnya, suaranya parau.
"Darah Nagamu tidak menyukainya," suara Kaisar Yao terdengar di benaknya, sedikit menggigil. "Naga adalah makhluk (Yang). Tempat (Yin) ekstrem ini membuat darahmu gelisah. Kau harus terus mengalirkan Qi apimu atau kau akan membeku dari dalam."
Chen Kai merogoh pinggangnya, mengambil botol labu giok pemberian Tetua Gu, dan meneguk isinya sedikit. Rasa pedas dan panas dari 'Arak Api Merah' membakar tenggorokannya, menyebarkan kehangatan ke seluruh tubuh.
"Masih jauh ke pos terdepan?" tanya Chen Kai.
"Menurut peta yang kau curi dari bandit minggu lalu... seharusnya Kota Batu Hitam ada di balik bukit itu," jawab Yao.
Kota Batu Hitam. Itu adalah pos perdagangan terakhir sebelum masuk ke zona Reruntuhan Kuno yang sesungguhnya. Tempat berkumpulnya para pemburu harta karun, pedagang gelap, buronan, dan pembunuh.
Tiba-tiba, telinga Chen Kai berkedut.
Langkah kakinya berhenti. Dia tidak menoleh, tapi tangan kanannya perlahan bergerak ke balik jubahnya.
GRRRRR...
Dari balik tirai salju putih, sepasang mata biru menyala muncul. Lalu sepasang lagi. Dan lagi.
Dalam sekejap, sepuluh ekor serigala berukuran sebesar anak sapi muncul mengepungnya. Bulu mereka putih menyatu dengan salju, dan gigi mereka transparan seperti es.
Serigala Hantu Salju. Binatang Roh Tingkat Tujuh. Mereka berburu dalam kawanan dan dikenal bisa membekukan mangsanya dengan napas mereka.
"Sepuluh ekor Tingkat Tujuh," gumam Chen Kai datar. "Tiga minggu lalu, ini akan menjadi masalah. Sekarang?"
Serigala pemimpin (Puncak Tingkat Tujuh) melolong dan menerjang.
Chen Kai tidak mencabut pedang di punggungnya.
Dia hanya menghentakkan kaki kanannya.
"Tulang Api: Panas Laten."
WUSH!
Suhu di sekitar Chen Kai melonjak drastis dalam radius lima meter. Salju di bawah kakinya meleleh seketika menjadi uap.
Serigala pemimpin itu terkejut oleh ledakan panas yang tiba-tiba. Gerakannya goyah di udara.
Tangan kanan Chen Kai melesat keluar dari balik jubah. Dia mengenakan sarung tangan kulit biasa di atas 'Cakar Naga Api Merah'-nya untuk menyamarkannya, tapi bentuknya yang besar dan keras tetap terlihat.
BUKK!
Satu pukulan sederhana.
Tinju Chen Kai menghantam moncong serigala itu.
Terdengar suara tulang tengkorak yang remuk. Serigala itu terlempar ke samping, mati seketika tanpa sempat menjerit. Otaknya hancur oleh getaran kekuatan fisik murni Chen Kai.
Sembilan serigala lainnya ragu-ragu. Naluri binatang mereka menjerit bahwa mangsa ini berbahaya.
"Maju," tantang Chen Kai, uap panas mengepul dari tubuhnya. "Aku butuh uang untuk penginapan."
Kawanan itu menyerang bersamaan.
Chen Kai bergerak. Dia tidak menggunakan 'Langkah Kilat Hantu' sepenuhnya untuk menghemat Qi. Dia hanya menggunakan gerakan efisien, menghindar seminimal mungkin dan memukul sekeras mungkin.
BAM! KRAK! BUG!
Setiap pukulan adalah satu nyawa.
Dua menit kemudian.
Salju putih di sekitarnya kini berlumuran darah merah dan bangkai serigala. Chen Kai berdiri di tengah pembantaian itu, mengambil pisau bedah, dan dengan terampil mengambil Inti Roh dari kepala mereka.
"Sepuluh Inti Tingkat Tujuh. Lumayan untuk makan malam," katanya, menyimpan hasil jarahannya.
Dia melanjutkan perjalanan.
Satu jam kemudian, badai salju mereda sedikit, memperlihatkan sebuah pemandangan yang suram di lembah di bawahnya.
Sebuah kota kecil yang dibangun dari batu vulkanik hitam, dikelilingi oleh tembok tinggi yang dipenuhi paku besi. Asap hitam membumbung dari cerobong-cerobong asap, dan suara keributan samar terdengar dari kejauhan.
Kota Batu Hitam.
Chen Kai menarik tudungnya lebih rendah. "Yao, sembunyikan auraku ke Tingkat Delapan."
"Baiklah. Jangan menarik perhatian. Ingat, di sini tidak ada aturan sekte. Jika kau terlihat lemah, kau dimangsa. Jika kau terlihat terlalu kaya, kau juga dimangsa."
Chen Kai berjalan menuju gerbang kota.
Dua penjaga bertampang sangar dengan kapak besar berdiri di sana. Mereka menatap Chen Kai dengan tatapan menilai.
"Masuk bayar 10 Batu Roh," gerutu salah satu penjaga.
Chen Kai melempar kantong kecil tanpa bicara.
Penjaga itu menangkapnya, menimbangnya, lalu menyeringai. "Silakan masuk, Tuan Pengembara."
Chen Kai melangkah masuk ke jalanan kota yang becek dan bau.
Kota itu padat dan kacau. Bangunan-bangunan batu berhimpitan. Orang-orang dengan berbagai macam senjata dan penampilan berjalan dengan waspada. Ada kultivator iblis dengan aura gelap, pemburu harta karun dengan baju zirah hancur, dan pedagang budak yang menyeret rantai.
Chen Kai masuk ke sebuah kedai minum yang ramai bernama "Taring Beku". Dia butuh informasi.
Dia duduk di sudut gelap, memesan daging panggang dan arak.
Saat dia makan, matanya tertuju pada sebuah papan pengumuman di dinding kedai yang dikerumuni orang.
Di sana, ada beberapa poster buronan.
Dan di tengah-tengahnya, ada poster baru dengan gambar sketsa wajah yang sangat dia kenal.
Gambar wajahnya. Walaupun sketsanya kasar, ciri khasnya tertangkap jelas.
DICARI: CHEN KAI Mantan Murid Sekte Pedang Awan. Tingkat Bahaya: Tinggi. Hadiah: 50.000 Batu Roh (Hidup) / 20.000 Batu Roh (Kepala). Pemberi Tugas: "Klan J".
"Lima puluh ribu," bisik seorang pria berwajah codet di dekat papan itu. "Itu harga untuk kepala Pembangunan Fondasi! Apa yang dilakukan bocah Tingkat Sembilan ini sampai dihargai segitu mahal?"
"Siapa peduli?" sahut temannya. "Kudengar dia lari ke Utara. Jika kita menemukannya, kita kaya mendadak."
Tangan Chen Kai yang memegang gelas arak berhenti di udara.
Klan Jian bergerak cepat. Mereka tidak menggunakan nama klan secara resmi, tapi "Klan J" dan jumlah hadiah itu sudah jelas. Dan yang lebih mengerikan... poster itu sudah sampai di sini, di ujung dunia.
"Mereka memasang jaring di mana-mana," kata Yao. "Kau harus sangat berhati-hati. Jangan gunakan Pedang Meteor Hitam atau Cakar Naga di depan umum kecuali kau berniat membunuh semua saksi."
Chen Kai meletakkan gelasnya. Matanya di balik tudung bersinar dingin.
"Mereka menaikkan hargaku," batin Chen Kai. "Bagus. Itu artinya mereka takut."
Tiba-tiba, pintu kedai terbuka kasar.
Angin dingin dan salju masuk. Sekelompok orang berjubah merah darah melangkah masuk. Aura mereka panas dan amis.
Sekte Darah. (Salah satu sekte aliran sesat di wilayah ini).
Pemimpin mereka, seorang pria kurus dengan mata merah, memegang sebuah artefak berbentuk kompas yang jarumnya berputar liar.
"Kompas Darah bereaksi," desis pemimpin itu, matanya memindai seluruh ruangan kedai. "Ada seseorang dengan darah yang sangat kuat di sini... darah yang 'lezat'."
Jantung Chen Kai berdetak satu ketukan lebih cepat.
Kompas itu menunjuk lurus ke arah sudut tempat dia duduk.
Jarum kompas di tangan pemimpin kelompok Sekte Darah itu bergetar hebat, mengeluarkan bunyi ciit yang menyakitkan telinga. Ujungnya yang runcing dan berkarat menunjuk lurus ke dada Chen Kai, seolah ingin melompat dan menusuk jantungnya.
"Kau..." Pemimpin Sekte Darah itu menyeringai, memperlihatkan gigi yang diasah runcing. Dia melangkah mendekat, sepatu bot kulitnya menghentak lantai kayu yang kotor. "Kau punya bau yang sangat... istimewa."
Suasana di kedai "Taring Beku" yang tadinya ramai seketika hening. Para pemburu harta karun dan buronan lainnya menyingkir ke tepi, memberi ruang. Di Kota Batu Hitam, mencampuri urusan Sekte Darah adalah cara tercepat untuk mati kehabisan darah.
Chen Kai tidak bergerak. Tangan kanannya masih memegang gelas arak, sementara tangan kirinya beristirahat di atas bungkusan kain Pedang Meteor Hitam di sampingnya.
"Aku sedang makan," kata Chen Kai, suaranya rendah dan serak dari balik tudung. "Pergi."
"Pergi?" Pemimpin itu tertawa, diikuti oleh anak buahnya. "Bocah, kau tidak mengerti. Kompas Darah ini tidak pernah salah. Darah di dalam nadimu... itu bukan darah manusia biasa. Itu bahan baku kelas satu untuk 'Pil Darah Suci' kami."
Dia mencabut belati lengkung yang bergerigi dari pinggangnya. Bilahnya berwarna merah tua, jelas beracun atau dikutuk.
"Serahkan dirimu baik-baik, dan aku akan menyedot darahmu dengan cepat," kata pemimpin itu. "Melawan, dan aku akan mengulitimu hidup-hidup untuk memeras setiap tetesnya."
"Yao," panggil Chen Kai dalam hati. "Analisis kekuatan."
"Pemimpin di Puncak Tingkat Delapan. Empat anak buah di Tingkat Tujuh," jawab Kaisar Yao bosan. "Sampah. Tapi hati-hati, teknik darah mereka licik. Jangan biarkan darahmu tersedot, atau mereka bisa melacakmu lebih jauh."
Chen Kai menghela napas panjang. Uap panas keluar dari mulutnya.
"Aku sudah memperingatkanmu," katanya.
"Sombong! Tangkap dia!" teriak pemimpin itu.
Dua anak buah di kiri dan kanan menerjang maju. Tangan mereka bersinar dengan cahaya merah, membentuk cakar energi darah yang berbau amis.
"Teknik Cakar Pengisap Darah!"
Mereka mengincar bahu Chen Kai, berniat melumpuhkannya.
Chen Kai tidak menghindar.
BAM! BAM!
Sebelum cakar mereka menyentuh jubahnya, Chen Kai menghentakkan kedua kakinya ke bawah meja. Meja kayu tebal di depannya terlempar ke atas dengan kekuatan ledakan, menghantam dagu kedua penyerang itu.
Terdengar suara rahang patah yang mengerikan. Kedua kultivator Tingkat Tujuh itu terlempar ke belakang, darah menyembur dari mulut mereka, pingsan seketika.
Meja itu hancur berkeping-keping di udara.
Di balik serpihan kayu yang berterbangan, Chen Kai berdiri.
Dia tidak menarik pedang di punggungnya. Bungkusan kain itu tetap terikat. Sebaliknya, dia menyambar bungkusan pedang besar itu dengan satu tangan dan menggunakannya seperti tongkat pemukul raksasa.
"Mati!" Pemimpin Sekte Darah itu, yang marah melihat anak buahnya tumbang, melesat maju. Belatinya menusuk ke leher Chen Kai dengan kecepatan ular berbisa.
Chen Kai memiringkan kepalanya sedikit. Belati itu meleset satu inci.
Lalu, dia mengayunkan bungkusan Pedang Meteor Hitam secara horizontal.
"Minggir."
BUKK!
Bungkusan berat itu—yang di dalamnya berisi pedang seberat 500 jin—menghantam rusuk pemimpin itu.
Tidak ada teknik Qi yang rumit. Hanya berat mutlak dan kecepatan ayunan yang didukung oleh 'Tulang Api'.
Tulang rusuk pemimpin itu remuk ke dalam. Dia terlempar menyamping seperti boneka kain, menabrak tiang penyangga kedai hingga retak, lalu jatuh ke lantai dengan suara gedebuk basah.
Dua anak buah sisanya membeku. Mata mereka terbelalak ngeri. Bos mereka, seorang Puncak Tingkat Delapan, dipukul jatuh seperti lalat oleh "pengembara" ini hanya dengan satu ayunan bungkusan kain?
Chen Kai melangkah maju, menyeret bungkusan pedangnya di lantai. Suara gesekannya membuat bulu kuduk berdiri.
Dia berhenti di depan pemimpin yang terkapar, yang kini batuk darah dan mencoba merangkak mundur dengan ngeri. Kompas Darah tergeletak pecah di sampingnya.
"Darah siapa yang kau inginkan tadi?" tanya Chen Kai dingin.
"K-Kau..." Pemimpin itu gemetar. "Kau bukan Tingkat Delapan biasa... Kekuatan fisik itu... Siapa kau?!"
Chen Kai tidak menjawab. Dia menginjak dada pemimpin itu, menekannya ke lantai.
"Aku butuh informasi," bisik Chen Kai. "Sekte Darah... apa yang kalian cari di Reruntuhan Utara? Kenapa kalian mengumpulkan darah khusus?"
Pemimpin itu menyeringai lebar, meski darah mengalir dari giginya. "Hehe... kau terlambat... 'Leluhur Darah' sudah bangun... Dia lapar... Klan Jian... mereka menjanjikan 'Darah Naga'..."
Mata Chen Kai menyipit. Klan Jian bekerja sama dengan Sekte Darah?
"Di mana markas kalian?"
"Di neraka!" teriak pemimpin itu.
Tiba-tiba, tubuhnya membengkak dan memerah.
"Mundur! Dia meledakkan diri!" teriak Yao.
Chen Kai melompat mundur dengan 'Langkah Kilat Hantu'.
SPLAT!
Tubuh pemimpin itu meledak menjadi kabut darah yang korosif. Lantai kayu di tempatnya berbaring mendesis dan meleleh. Jika Chen Kai terlambat sedetik saja, dia akan mandi racun.
Suasana kedai hening total. Tidak ada yang berani bernapas.
Chen Kai berdiri di sana, jubahnya sedikit terkena percikan darah yang langsung mendesis dan menguap karena panas tubuhnya. Dia menatap sisa-sisa mayat itu.
"Klan Jian dan Sekte Darah..." gumamnya. "Mereka benar-benar serius."
Dia berbalik menatap pemilik kedai—seorang pria tua botak dengan satu mata yang sedang mengelap gelas dengan tenang, seolah pembunuhan barusan adalah hal biasa.
Chen Kai berjalan ke meja bar, meletakkan kantong berisi 50 Batu Roh.
"Ganti rugi meja," kata Chen Kai. "Dan satu informasi."
Pemilik kedai itu mengambil kantong itu tanpa berkedip. "Informasi apa, Tuan Pengembara?"
"Di mana aku bisa menemukan peta Reruntuhan Kuno yang paling akurat? Bukan peta sampah yang dijual di pasar."
Pemilik kedai menatap Chen Kai dengan mata satu-satunya. Dia menunjuk ke arah pintu belakang yang gelap.
"Pasar Gelap Bawah Tanah. Cari toko bernama 'Mata Seribu'. Bilang 'Si Tua Botak' yang mengirimmu. Tapi hati-hati... harga di sana bukan cuma Batu Roh. Kadang nyawa."
Chen Kai mengangguk.
Dia berbalik dan berjalan keluar dari kedai, meninggalkan ruangan yang penuh dengan mayat dan penjahat yang ketakutan.
Begitu dia keluar ke jalanan bersalju yang dingin, Chen Kai menarik napas dalam-dalam.
Perburuannya baru saja dimulai. Dan target pertamanya adalah 'Mata Seribu'.
Pintu masuk ke Pasar Gelap bukanlah sebuah gerbang megah, melainkan sebuah pintu besi berkarat di belakang sebuah rumah jagal yang bau.
Salju di sekitar sini berwarna merah muda, bercampur dengan darah hewan—atau mungkin manusia—yang dibuang sembarangan. Chen Kai mengetuk pintu besi itu dengan pola ritmis: tiga kali keras, dua kali pelan.
Sebuah celah kecil di pintu terbuka. Sepasang mata kuning keruh mengintip keluar.
"Tutup," suara serak terdengar dari dalam.
"Si Tua Botak mengirimku," kata Chen Kai datar.
Hening sejenak. Lalu terdengar suara grendel berat ditarik. Pintu besi itu terbuka perlahan, memperlihatkan lorong batu yang menurun ke dalam kegelapan bumi, diterangi oleh obor-obor yang berkelip lemah.
"Masuk. Jangan buat masalah. Dan jangan tanya asal barang," kata penjaga pintu itu, seorang pria raksasa yang memegang kapak berlumuran darah kering.
Chen Kai melangkah masuk.
Udara di bawah sana lembap dan hangat, berbau dupa murah, keringat, dan logam. Pasar Gelap Kota Batu Hitam ternyata adalah sebuah gua alami raksasa yang telah dimodifikasi menjadi labirin kios dan toko.
Berbeda dengan pasar di atas tanah, di sini tidak ada teriakan pedagang. Transaksi dilakukan dengan bisikan. Orang-orang berjalan dengan mata waspada.
Chen Kai melihat barang-barang yang dijual di kios-kios terbuka: racun dalam botol-botol indah, budak-budak dari berbagai ras yang dirantai, senjata yang jelas-jelas hasil curian dari mayat kultivator, dan bahkan organ tubuh binatang buas langka.
"Tempat ini busuk," komentar Kaisar Yao. "Tapi di tempat busuk inilah informasi paling jujur berada."
Chen Kai mengabaikan tawaran dari pedagang racun dan berjalan lurus menuju pusat pasar. Di sana, terhimpit di antara toko budak dan toko senjata ilegal, berdiri sebuah tenda tua yang terbuat dari kain perca berwarna ungu gelap.
Di atas tenda itu, tergantung sebuah papan kayu lapuk dengan gambar sebuah mata yang terbuka lebar.
"Mata Seribu."
Chen Kai menyibakkan tirai tenda dan masuk.
Bagian dalam tenda itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar—jelas menggunakan teknik perluasan ruang. Rak-rak buku yang tinggi memenuhi dinding, berisi ribuan gulungan peta dan dokumen. Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua kerdil di balik meja bundar yang penuh dengan bola kristal berbagai ukuran.
Pria tua itu mengenakan penutup mata hitam yang menutupi kedua matanya. Dia buta.
"Selamat datang, Tuan Pengembara," suara pria tua itu terdengar seperti gesekan kertas amplas. Dia tidak menoleh, tapi dia tahu Chen Kai ada di sana. "Bau darah di jubahmu masih segar. Darah... anggota Sekte Darah?"
Chen Kai tidak terkejut. "Kau punya hidung yang tajam untuk orang buta, Mata Seribu."
"Mata hanyalah hiasan," kekeh pria tua itu, memperlihatkan gigi emasnya. "Aku melihat dengan getaran. Jadi, apa yang membawa pembunuh Sekte Darah ke gubuk humas ini? Kau ingin menjual informasi? Atau membelinya?"
"Aku butuh peta," kata Chen Kai, duduk di kursi di depan meja itu. "Peta Reruntuhan Kuno Utara. Yang paling detail. Yang menunjukkan lokasi 'Segel Agung'."
Senyum di wajah Mata Seribu menghilang seketika.
Suasana di dalam tenda itu berubah dingin.
"Segel Agung..." bisik Mata Seribu. Dia mengetukkan jari-jarinya yang kurus di atas meja. "Banyak orang mencari tempat itu akhir-akhir ini. Klan Jian... Sekte Darah... dan sekarang kau."
"Kau tahu tempatnya?"
"Tentu saja aku tahu. Aku tahu setiap inci dari Reruntuhan Utara. Tapi informasi tentang Segel Agung... itu mahal. Sangat mahal."
"Sebutkan hargamu," kata Chen Kai.
"Lima ribu Batu Roh," kata Mata Seribu.
Itu harga yang gila untuk selembar peta. Tapi Chen Kai tidak berkedip. Dia melempar sebuah kantong berat ke atas meja.
"Lima ribu. Pas."
Mata Seribu mengambil kantong itu, menimbangnya, lalu tersenyum lebar lagi. "Senang berbisnis dengan orang yang tegas."
Dia merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah gulungan peta yang terbuat dari kulit binatang purba. Dia melemparkannya ke Chen Kai.
"Peta ini menandai rute aman, sarang binatang buas, dan lokasi reruntuhan istana. Lokasi Segel Agung ditandai dengan tinta merah di sektor terdalam: Lembah Tulang Naga."
Chen Kai membuka peta itu. Detailnya luar biasa. Dia melihat tanda merah di bagian paling utara peta.
"Tapi," lanjut Mata Seribu, nadanya merendah. "Karena kau membayar dengan tunai, aku akan memberimu satu bonus informasi gratis."
"Apa?"
"Jangan pergi ke sana sekarang."
"Kenapa?"
"Karena tempat itu sudah dikepung," kata Mata Seribu. "Klan Jian mengirimkan pasukan elit mereka, 'Penjaga Bayangan', dipimpin oleh seorang Tetua Pembangunan Fondasi. Mereka bekerja sama dengan Sekte Darah. Mereka sedang membangun altar pengorbanan di sana."
"Mereka menunggu sesuatu," Mata Seribu mencondongkan tubuh ke depan, seolah menatap Chen Kai dari balik penutup matanya. "Mereka menunggu 'Kunci' untuk datang. Jika kau pergi ke sana, kau hanya akan mengantar nyawa."
Jantung Chen Kai berdegup kencang. 'Kunci' itu adalah dia. Darahnya.
"Terima kasih atas peringatannya," kata Chen Kai, berdiri. Dia menyimpan peta itu.
"Tunggu," kata Mata Seribu tiba-tiba. "Bolehkah aku... 'melihat'mu sebentar? Hanya rasa penasaran orang tua."
Sebelum Chen Kai bisa menolak, Mata Seribu meletakkan tangannya di atas bola kristal terbesar di meja. Bola itu bersinar.
"Aku melihat takdirmu... kabut tebal... ada naga yang terikat rantai... dan..."
Tiba-tiba, bola kristal itu retak.
PYAR!
Bola itu meledak menjadi debu kaca.
"ARGHHH!" Mata Seribu terlempar ke belakang, jatuh dari kursinya. Darah hitam mengalir dari balik penutup matanya.
"Apa yang kau lakukan?" Chen Kai menyipitkan mata, tangannya siap di gagang pedang.
"P-Panas...!" Mata Seribu menggeliat di lantai, napasnya memburu ketakutan. "Apa... apa yang ada di dalam dirimu?! Itu bukan naga biasa! Itu... itu Kaisar...!"
Dia menunjuk Chen Kai dengan tangan gemetar. "Pergi! Pergi dari sini! Kau... kau adalah bencana berjalan!"
Chen Kai mengerutkan kening. Tampaknya Mutiara Hitam atau Sutra Hati Naga bereaksi terhadap upaya ramalan itu.
"Anggap saja kau tidak melihat apa-apa," kata Chen Kai dingin.
Dia berbalik dan berjalan keluar dari tenda, meninggalkan peramal buta yang ketakutan itu sendirian di kegelapan.
Saat dia kembali ke lorong pasar gelap yang bising, Chen Kai merasa lebih berat.
"Lembah Tulang Naga," batinnya. "Dan pasukan elit Klan Jian sudah menunggu di sana."
"Ini jebakan," kata Kaisar Yao. "Tapi kau harus masuk ke dalamnya. Karena satu-satunya cara untuk mengetahui masa lalumu adalah dengan membuka segel itu sebelum mereka melakukannya."
"Kita tidak akan masuk lewat pintu depan," kata Chen Kai, menyentuh peta di balik jubahnya. "Mata Seribu bilang ada rute aman. Tapi peta ini juga menunjukkan 'Jalan Kematian'—rute bawah tanah yang penuh dengan gas beracun dan binatang buas."
"Kau mau lewat sana?"
"Mereka tidak akan menjaga jalan yang mereka pikir mustahil dilewati," Chen Kai menyeringai tipis di balik tudungnya. "Kita akan menyusup tepat di bawah hidung mereka."
Chen Kai berjalan menuju pintu keluar, siap meninggalkan peradaban terakhir dan melangkah ke alam liar yang mematikan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!